A Girl In Apartemen 301 (2/2)

A Girl In Apartmen 301

|Author: Aulia Nur Afifah/Ahnmr|Cast: Han Seungyun (Lunafly), Bae Suji (Miss A)|Genre: Drama|Rating:Teen|Lenght: Two Shoot|Tujuan:Cerita ini dibuat untuk mengerjakan tugas Bahasa Indonesia yang ditugaskan oleh Ibu Endang, selaku pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Saya ucapkan maaf dan terimakasih apabila ada banyak kesalahan kata dan pengaturan EYD yang tidak tepat dikarenakan saya menggunakan format fanfiction yang dimana adalah jenis sastra baru yang berkembang dikalangan penulis muda#abaikan|Disclaimer: Cerita ini terinspirasi sama ‘Flower Boy Next Door’

this story posted in this blog and readfanfiction

http://ahnminra.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif

“Bae Suji!” teriak seseorang dari pintu. Suji kenal suara itu, itu adalah suara Pak Nam si satpam. Tapi bagaimana dia tahu namanya, setahu Suji hanya tetangganya, Han Seungyun yang tahu bahwa namanya adalah Bae Suji. Setiap orang di apartemen memanggilnya Apartemen 301. Mungkin Seungyun sudah ember ke yang lain, batin Suji.

Suji melemparkan ponselnya ke kasur seraya berjalan menuju pintu apartemennya. Dia membuka pintu itu sedikit dan mengintip Pak Nam dan Seungyun yang sedang berdiri di depan apartemennya. Suji langsung bergerak mundur, dia terkejut karena ada Seungyun. Tidak biasanya dia sudah pulang sore itu.

“Hei, kami datang untuk mengajakmu” kata Seungyun.

“Ya, lagipula kau juga tidak pernah ikut” Seungyun menginjak kaki Pak Nam dan tersenyum ke arah Suji.

“Jadi bagaimana, kau ikut pertemuan sore ini?”

Suji menunduk dan menggeleng kecil. Dia bisa ,tapi tidak ingin. “Aku sibuk” katanya sambil menutup pintu apartemennya. Dengan sigap Seungyun mengganjalnya dengan kakinya. “Ayolah, hanya kali ini” katanya.

Suji terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa, keringat mulai bercucuran di keningnya karena gugup. “Baiklah, kali ini saja” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Seungyun dan Pak Nam melakukan tos. Mereka akhirnya bisa mengajak gadis itu untuk bersosialisasi. Sebenarnya jika mereka mencoba untuk mengenal gadis itu, mereka bisa.

Suji keluar dari apartemennya dan berjalan menunduk dibelakang Pak Nam dan Seungyun. Mereka berdua tahu jika gadis ini merasa canggung dan gugup. Bertemu dengan orang-orang mungkin adalah kesulitan terbesarnya.

“Suji-ah, tenang saja, orang-orang di apartemen pasti bersemangat untuk bertemu denganmu” Akhirnya. Tambah Seungyun dalam hati.

Suji hanya mengangguk ,mengiyakan pernyataan Seungyun yang terdengar asal barusan. Suji berusaha berpikir realistis sekarang. Siapa sih yang mau bertemu dengannya? Dia sama sekali tidak menarik dari sisi manapun.

Mereka sampai di ruang pertemuan yang dilaksanakan di Apartemen Pak Koo ,selaku penghuni terlama apartemen ini. Apartemen ini bukanlah apartemen mewah seperti yang sekarang banyak dibangun di Seoul, apartemen ini hanyalah apartemen tua yang masih berdiri kokoh diantara apartemen-apartemen mewah itu.

Ketika mereka memasuki apartemen Pak Koo orang-orang sedang memperdebatkan sesuatu yang terdengar seperti demo.

“Tapi kita tidak bisa seperti ini, jika apartemen ini dihancurkan, kemana kita akan pergi?” kata seorang ibu yang terlihat berumur sekitar 40-an.

“Aku tahu, tapi ini sudah surat perintah yang kedua” kata Pak Koo dengan ekspresi gelisah. Dia sedang terjebak antara dua pilihan sulit dalam hidupnya. Diantara lain dia sangat mencintai apartemen ini, diantara lain dia harus pergi karena bangunan ini akan dihancurkan. Semua orang di apartemen itu sadar dan tahu –kecuali ,mungkin Suji- jika apartemen itu sudah udzur.

Pak Nam berdehem untuk menenangkan suasana. Ruangan jadi hening seketika dan setiap pasang mata langsung fokus kearah tiga orang itu, Pak Nam, Seungyun, dan Suji. Terlebih Suji, karena mereka sama sekali belum pernah bertemu dengan Suji. Paling hanya berpapasan dengannya tanpa bertegur sapa.

Annyeong!” celelek Pak Nam.

“Kalian terlambat, duduklah, kalau bisa” kata Pak Koo.

Mereka bertiga berjalan merapat ke ujung yang masih kosong. Suji bingung karena dia sangat gugup berada diantara orang-orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Seungyun yang melihat hal itu melirik ke arah Suji dan menarik lengannya agar berdiri di dekatnya. Detak jantung Suji mulai tidak teratur lagi. Jika saja tidak banyak orang, mungkin Suji akan pingsan saat itu juga.

“Hei, sepertinya tadi ada penghuni baru, kenapa tidak menyuruhnya berkenalan dulu” celetuk seseorang.

“Dia bukan penghuni baru, dia penghuni apartemen 301” kata Pak Nam.

“Tidak ada salahnya jika menyuruhnya berkenalankan?”Sahut Pak Koo.

Suji langsung bergidik, pura-pura tidak dengar dan membuang pandang dari orang-orang itu. Seungyun tersenyum geli dan mencolek pundak Suji lalu mengedikkan dagu ke arahnya.

“Aku tidak bisa,” kata Suji lirih. Seungyun masih tersenyum ke arahnya dan mengangguk. “Baiklah” kata Suji.

“Hei Apartemen 301, apa kau mau memperkenalkan dirimu?” tanya Pak Nam.

Suji menunduk dan perlahan mendongakkan kepalanya, melihat ke arah orang-orang yang ada diruangan itu. Dia selalu kesal jika jadi pusat perhatian karena selalu mual setelah itu.

“Bae Suji-imnida, Aku tinggal di apartemen 301, senang bertemu kalian???” katanya ragu sambil meringis.

Bukannya dimarahi seperti dalam bayangan Suji. Mereka semua malah tertawa, bahkan Seungyun yang ada di samping Suji. Dia terlihat tertawa paling keras diantara yang lain. “Suji-ah kau sangat lucu” celetuk Seungyun disela tawanya.

Karena situasi jadi tidak serius Pak Koo segera mengendalikan hal itu dengan membawa lagi topik utama.

“Cukup,” kata Pak Koo “Kurasa kita harus melakukan protes” katanya.

“Demo!” celetuk seseorang. “Iya, betul, kita harus melakukan demo” tambah yang lain.

Kemudian ruangan itu jadi riuh dan ramai, semuanya –kecuali Suji- ingin melakukan demo agar Apartemen itu tidak digusur.

“Baiklah, kita akan melakukannya” kata Pak Koo denga mata yang berapi-api “Hidup,” Pak Koo terlihat sedang memikirkan lanjutannya,”Kita!!, Hidup ,Kita!!!” teriaknya.

“HIDUP ,KITA!!!” diikuti yang lain.

Seungyun dan Suji berjalan di lorong apartemen menuju ke apartemen mereka masing-masing. Seungyun terlihat bersemangat untuk demo itu, tapi Suji. Dia terlihat sibuk sendiri dengan perasaannya yang sedari tadi serasa ingin meledak seperti kembang api.

“Suji-ah,” kata Seungyun “Apa kau akan ikut saat demo nanti? Sepertinya akan seru” tambahnya.

Suji menoleh ke arah Seungyun dan menggeleng, “Aku tidak tahu” jawabnya.

“Aku bertanya-tanya dari dulu, apa yang membuatmu mengunci dirimu di dalam apartemen? Apa tidak membosankan?” serbunya.

Suji tersenyum dan menggeleng “Sebenarnya, aku terlalu takut untuk menghadapi kenyataan” kata Suji jujur.

“Kenapa? kau terkenal, penulis muda sukses yang artinya kau cukup kaya, dan kau cantik, kau bisa memiliki yang lebih baik dari semua ini, bahkan kau bisa tinggal di tempat yang lebih baik dari apartemen ini”

Suji menunduk terdiam, ekspresinya datar. Dia tidak pernah berpikir soal semua itu, dia baru sadar bahwa dia sudah tenggelam terlalu dalam dunia imajinasinya. “Aku lebih senang seperti ini” katanya seraya menoleh ke arah Seungyun. Laki-laki itulah alasan dia bertahan disini, alasan kenapa dia bertahan di dalam menaranya.

“Kau itu aneh” ujar Seungyun.

Mereka hanya terdiam sampai mereka sampai di depan pintu apartemen masing-masing. Suji melirik ke arah Seungyun, dan menangkap basah Seungyun yang juga sedang melirik ke arahnya. Mereka saling tersenyum dan segera masuk ke dalam Apartemen.

“Maksud Ibu bagaimana?”

“,,,,,,”

“Aku baru saja beberapa tahun di Seoul, aku masih ingin berada di jalan ini”

“,,,,,,”

“Beri aku satu bulan, dan aku akan memutuskan apakah aku akan pergi ke Australia atau tidak”

“,,,,,,”

“Apa, Tunanganku? Sejak kapan aku punya tunangan?”

“,,,,,,”

“Ibu!Ibu! IBU!!!!”

Suji memperhatikan ikat kepala berwarna merah yang dipakainya. Dia meniup-niup poninya yang menutupi tulisan ‘JANGAN AMBIL RUMAH KAMI’ yang tertulis dengan tinta putih di atas ikat kepala berwarna merah itu.

“Semuanya berkumpul!” kata Pak Koo lewat megaphone besar yang dibawa ditangan kanannya.

Semua masyarakat yang tinggal di apartemen itu berkumpul didepan perusahaan yang berniat akan menggusur apartemen itu. Halaman kantor itu cukup luas, cukup luas untuk menanggung para pendemo itu.

Suji berjalan dengan canggung mendekati kerumunan itu, walaupun dia pikir dia sudah berada diantara kerumunan itu, dia benar-benar menjaga jarak dengan berdiri sekitar satu meter dibelakang mereka. Suji tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.

“Suji!” Seungyun berlari ke arah Suji dan memberikan sesuatu seperti light stick kepadanya.

“Untuk apa?” kata Suji dengan nada bicaranya yang halus dan pelan seperti biasanya. Padahal dia sudah mengenal Seungyun lebih dari seminggu, namun dia masih terus terlihat canggung.

“Pegang saja, kau tidak perlu alasan untuk memegang benda itu” kata Seungyun sambil menyodorkan benda itu.

“Ah, oke” Suji pun mengambil benda itu dari tangan Seungyun.

Pak Koo berdiri di atas sebuah tempat berbentuk kotak untuk botol minuman soda. Dia terlihat sangat antusias dan bersemangat seperti yang lain. Dan hal itu membuat Suji pusing, dia tidak terbiasa dengan keriuhan seperti ini. Suji bergerak mengikuti Seungyun dengan malas, ketika Pak Koo meneriakkan kata-kata seperti , “Jangan Ambil Rumah Kami!!!” dan sebagainya, lalu diikuti argumen panjang tentang ‘kenapa apartemen kami tidak boleh dihancurkan’

Suji hanya mengikuti orang-orang saat berteriak “Jangan Ambil Rumah Kami” keriuhan sesaat itu berhenti ketika terdengar suara sirene polisi dari kejauhan. Mereka sedikit terkejut, tapi beberapa ada yang tidak peduli dan meminta Pak Koo untuk meneruskan demo.

Suji khawatir dan berlari menjauh dari kerumunan itu. Dia bersembunyi di balik semak-semak dan melepaskan atribut demonya. Dia mengintip sedikit dan melihat Pak Koo, Pak Nam, dan beberapa orang-orang yang bertanggung jawab atas demo ini digiring masuk ke dalam mobil polisi. Suji langsung berbalik dan terlihat ketakutan.

“Apa-apaan ini?” gumamnya. Dia berlari dari tempat itu dan meninggalkan atributnya disana.

Seungyun panik, dia mencari-cari Suji, tapi tidak bisa menemukannya dimanapun, dia takut jika Suji pergi jauh-jauh dari tempat itu karena Suji bisa saja tidak tahu jalan pulang. Seungyun berlari keluar dari halaman perusahaan itu dan berlari ke trotoar. Dia berlari ke sana kemari untuk menemukan Suji, dia merasa bertanggung jawab kalau-kalau saja Suji hilang.

“Suji! Bae Suji!” teriak Seungyun, dia tidak malu sekalipun pejalan kaki menganggapnya gila. Yang dipikirkannya sekarang adalah, dimana Bae Suji?

Seungyun menangkap sesuatu, dia melihat sebuah atribut demo terserak di trotoar. Dia segera berlari ke tempat itu dan mengambilnya. “Suji?” katanya sambil mengernyitkan dahi.

“Seungyun!” teriak seorang ibu-ibu. Seungyun berbalik dan menghampiri ibu itu. Ibu itu tidak lain dan tidak bukan adalah istri Pak Nam yang sudah Seungyun anggap seperti Ibunya sendiri.

“Kenapa?” kata Seungyun.

“Apa yang terjadi kenapa Sawon di bawa ke kantor polisi?”tanya Bu Nam panik.

“Kurasa kita belum memiliki ijin,” Seungyun ragu dengan perkataannya sendiri.

“Bisakah kau kesana dan melihat apa yang terjadi, aku sangat khawatir jika mereka harus dipenjara, bagaimana nanti dengan anak-anak kami, bagaimana,,”

“Tenang ,Bi!,” potong Seungyun. “Aku akan kesana, tapi,,” Suji? , batin Seungyun. “Baiklah”

Suji duduk di halte itu, dia merogoh kantong mantelnya dan hanya bisa menemukan uang receh. Dia menghela nafas dan menyandarkan kepalanya di tiang halte. Hari semakin gelap dan Suji tidak tahu dia ada dimana dan dia tidak punya cukup uang untuk pulang. Yang dibawanya hanyalah light stick warna merah yang diberikan Seungyun tadi siang.

“Bisakah kau membawaku pulang?” kata Suji pada benda itu, seakan-akan benda  itu hidup.

Dia menggelengkan light stick-nya. Tak lama kemudian terdengar gemuruh dari perut Suji. Dia belum makan apa-apa semenjak tadi siang. Suji menutup matanya karena ingin menangis. Dia mulai berpikir bahwa dia tidak bisa pulang. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari halte itu dan kembali ke tempat demo tadi siang, siapa tahu dia bisa menemukan seorang tetangganya.

Suji berjalan gontai sambil menyalakan light stick merahnya. Suji sudah sesenggukan karena tidak tahu jalan pulang. Lagaknya seperti anak kecil yang tersesat jauh dari rumahnya.

“Seharusnya aku tidak usah ikut” sesalnya sambil sesenggukan.

Tidak ada siapa-siapa, kosong. Tangisan Suji bertambah keras, dia takut tersesat sendirian di jalanan. Mengingatkannya pada kenangan buruk yang terjadi padanya saat dia masih kecil. Dulu dia pernah tersesat di pasar dan yang dilakukannya hanya duduk dipojokan berjam-jam sambil menangis. Dia baru saja ditemukan ketika seseorang yang baik hati membawanya ke petugas keamanan dan mengumumkan bahwa dia tersesat. Akhirnya Ibunya datang dengan berlinang air mata, Ibu Suji pikir dia diculik.

Mengingat hal itu Suji duduk di trotoar dan memeluk lututnya. Orang-orang yang berlalu-lalang di depan Suji berpkir jika Suji adalah pengemis, jadi ada beberapa yang menjatuhkan uang untuk Suji. Tapi Suji tidak peduli, dia tetap larut dalam tangisannya. Berharap seseorang yang baik akan membawanya kembali pulang.

“Bae Suji!,” teriak seseorang. Orang itu berlari dan memeluk Suji. “Kau tidak apa-apa?” katanya.

Suji mendongakkan kepalanya dan melihat Seungyun memeluknya. Bukannya diam, tangisan Suji semakin meledak-ledak membuat Seungyun semakin bingung. “Jangan menangis, aku ada disini” kata Seungyun menenangkan Suji. Disela-sela tangisan Suji, perutnya terus rewel. Perutnya terus meraung-raung untuk diisi. Bahkan Seungyun mendengar gemuruh diperut Suji itu, dan Seungyun tertawa.

“Kau lapar? Kau belum makan apa-apa dari tadi siang?” tanya Seungyun.

Suji menggeleng, membenarkan perkataan Seungyun. “Baiklah, Mungkin seharusnya kita makan dulu,” tawar Seungyun “Ayo” ajaknya sambil meraih tangan Suji dan mengajaknya berdiri. Kemudian Suji mengikuti arah Seungyun pergi dengan canggung. Dia masih sesenggukan, dan malu karena menangis di depan Seungyun.

“Aku tidak bisa minum alkohol” kata Suji.

“Kita sama, aku juga tidak kuat minum alkohol” Kata Seungyun diikuti gelak tawa.

Suji ikut tertawa kecil. Dia masih memegangi light stick-nya, bahkan tangannya sampai berkeringat. Setelah itu pesanan mereka datang, rabokki serta teh gingseng hangat yang cocok sekali untuk menghangatkan tubuh dimalam yang dingin seperti ini.

“Makanlah! Kau kan lapar sekali” kata Seungyun sambil menyodorkan rabokki ke arah Suji.

Suji mengangguk sambil tersenyum kecil. Dalam hatinya dia senang sekali, ini pertama kalinya dia makan di warung tenda pinggiran di Seoul. Seungyun mengambil sumpit dan memakan rabokki itu lebih lahap dari Suji yang lebih kelaparan darinya. “Kau tahu makanan ini tidak  sepopuler seperti flour ddeokbokki atau rice ddeokbokki, tapi cukup mengenyangkan bukan?”

“Ya” Suji mengiyakan sambil menghapus kuah rabokki dari bibirnya menggunakan tisu.

“Aku tadi ke kantor polisi, saat kita berdemo tadi belum memiliki ijin, Pak Nam lupa mengirimnya pada polisi” Seungyun bercerita soal tadi.

“Lalu bagaimana dengan apartemennya?” tanya Suji.

“Tidak ada harapan untuk bertahan di apartemen itu, kita semua diberi waktu 3 bulan untuk pindah sebelum apartemen itu dihancurkan,” Seungyun menghela nafas “Aku tidak tahu apakah aku bisa pergi dari sana”

Sebenarnya Suji juga tidak mau membayangkan bagaimana jika dia pindah dari sana. Tempat itu, pertama kalinya dia bisa membeli apartemen sendiri, dengan uang dari jerih payahnya sendiri. Dia tidak ingin kehilangan rumahnya, dan jika dia pindah maka dia tidak tahu apakah dia akan bisa melihat laki-laki itu lagi.

“Tidak ada pilihan lain” komentar Suji akhirnya.

“Aku tahu” kata Seungyun dengan nada gelisah. “Ah memikirkan hal itu, aku jadi tidak selera makan” tambahnya.

“Maaf” gumam Suji lirih, berharap Seungyun tidak mendengarnya.

“Tidak, tidak, itu bukan salahmu, maafkan aku” ujar Seungyun.

Seungyun melihat Suji yang bergeliat tidak nyaman di kursi itu. Suji mengunyah makanannya dengan sangat pelan dan hati-hati. Seungyun mulai berpikir tentang gadis itu semenjak melihatnya di depan lift. Dia tidak pernah melihat makhluk seperti itu sebelumnya. Sikap anehnya, Cantiknya yang berat, dan cara bicaranya yang membuat siapa saja ingin menggamparnya. Tapi dia harus menghapus bersih perasaan itu dari benaknya, tidak ada kesempatan bagi gadis manapun sekarang. Sudah terlanjur ada gadis yang memasuki kehidupan Seungyun  tanpa permisi. Seungyun tidak mengenal gadis itu, tapi orangtuanya sudah berjanji pada sahabat Ayahnya, jika Seungyun akan menikah dengan anak mereka. Tidak pernah terlintas di pikiran Seungyun untuk berani melawan orangtuanya. Tapi untuk hal ini, dia sangat ingin memberontak dan tidak pernah kembali ke Gwangju hanya untuk pertunangan bodoh yang tidak pernah diinginkannya.

“Seungyun –ah,”Kata Suji, Suji tersenyum ke arah Seungyun dan meletakkan sumpitnya. Seungyun menaikkan alisnya “Ada sesuatu yang harus kuberi tahu padamu” lanjutnya.

“Aku juga, tapi kau dulu” kata Seungyun.

“Mmm, kau dulu saja kalau begitu”

“Baiklah, aku sebenarnya sedang dirundung masalah” katanya. Suji terdiam dan mendengarkan cerita Seungyun “Ibuku memintaku pulang, dan tidak kembali ke Seoul lagi” Seungyun mengalihkan pandangan dari Suji. Suji yang mendengar hal itu langsung membelalak.

“Kenapa?”

“Orangtuaku ingin aku kuliah di Australia, dan yang lebih kubenci lagi adalah, Orangtuaku mencoba menjodohkanku, tapi aku tidak bisa menolak, Aku tidak bisa menolak perintah Ibuku seumur hidup, ini adalah hal terberat bagiku, padahal sudah ada gadis lain,” kata Seungyun sambil  menatap teh gingsengnya. Seungyun melirik ke arah Suji , dia takut jika gadis itu salah paham“Bukan kau tentu saja” katanya berbohong.

Suji menelan ludah, dia baru saja berharap jika gadis itu adalah dia. “Aku rasa, kau tidak bisa melawannya jika begitu” kata Suji getir.

“Ah, aku baru saja berpikir untuk kabur kau tahu” kata Seungyun sambil tersenyum.

“Kurasa ,aku harus pergi” kata Suji tiba-tiba.

“Bukankah kau tidak tahu jalan pulang?” kata Seungyun.

“Mmm,, apartemennya tidak jauh dari sini bukan?” tanya Suji bingung.

“Tunggu aku, aku akan antar kau pulang”

Suji mendengus, dia merasa baru saja gagal melakukan hal-hal dramatis seperti yang dia bayangkan dalam drama-dramanya.

Setelah Seungyun membayar, dia langsung berlari ke arah Suji.

Suji memandangi barang-barang yang berserakan di kamarnya. Dia mulai mengeluarkan kardus-kardus yang terlipat rapi di bawah kasurnya, dia ingin segera pindah dari tempat ini. Dia benar-benar sakit hati dengan perkataan Seungyun tadi. Dia baru saja akan mengatakan padanya, jika selama ini dia benar-benar mencintai Seungyun. Suji selama ini berpikir jika Seungyun baik padanya karena dia juga merasakan hal yang sama. Ternyata cinta itu lebih rumit dari yang bisa dibayangkan Suji. Tidak mudah ditebak dan sifatnya aneh.

Kardus-kardus itu dibuat lagi menjadi kotak-kotak yang bisa dibuat untuk mengangkut barang-barang Suji. Dia akan pindah, dia benar-benar akan pergi agar bisa melupakan laki-laki itu.

Suji menelpon Pak Kim untuk mencarikannya apartemen bagus di Seoul pagi itu. dengan senang hati Pak Kim bisa melakukannya.

“Jadi kau akan pindah? Berita bagus” kata Pak Kim lewat telepon.

“Saya rasa apartemen ini terlalu kumuh dan tidak layak untuk saya pak, jadi saya berniat untuk pindah” kata Suji sambil tersenyum.

Seharian itu Suji mem-packing barang-barangnya dengan rasa kesal bercampur sedih. Entah kenapa rasanya seperti baru saja ditolak mentah-mentah, padahal Suji belum mengatakan sepatah katapun mengenai perasaannya pada Seungyun.

Seungyun menatap pintu kamar Suji sore itu, dia baru saja pulang dari lokasi syuting. Dan melihat pintu itu dengan tatapan gelisah. Perasaannya campur aduk, dia bingung dengan apa yang sedang terjadi padanya. Dia mengalihkan pandangannya pada kotak susu yang ada di depan pintu Apartemen Suji.

“Apa gadis itu,,” Seungyun menggelengkan kepalanya dan segera masuk ke dalam apartemennya.

Suji hampir selesai mem-packing semua barangnya saat dia melihat teropong kuning yang berdiri tegak di atas rak buku itu. Dia mengambilnya dan menatap teropong itu dengan seksama.

“Satu tahun ya?” gumamnya sambil tersenyum.

Suji mengembalikan lagi teropong itu ke atas rak buku. Dia melihat sticky notes yang tertempel di pinggir jendela kamarnya. Tertulis, 서렁해 Han Seungyun, Suji ingin sekali melepas kertas itu dari sana namun dia tidak ingin, akhirnya dia membiarkan kedua benda itu disana. Teropong dan kertas itu.

Suji mengangkat barang-barangnya ke mobil box itu saat semua warga apartemen tua itu tertidur. Suji sengaja agar orang-orang tidak tahu, lagipula dia juga tidak ingin bertemu dengan orang-orang.

Dan Suji berdiri terpaku didepan pintu apartemen Seungyun. Dia menimbang-nimbang apakah dia akan memberikan kunci apartemennya pada Seungyun atau tidak. Jika dia memberikan kunci itu maka Seungyun akan tahu jika Suji menyukainya selama ini. Jika tidak, maka perasaan itu hanya akan tersimpan rapat di dalam hati dan pikiran Suji, selamanya.

“Aku harus melupakannya” gumam Suji.

Dengan ragu Suji menggantungkan kunci apartemennya di gagang pintu apartemen Seungyun. Dan setelah itu dia berlari menuju lift.

Seungyun tidak menyadari jika ada kunci yang tergantung di depan apartemennya pagi itu karena dia terburu-buru mengejar bus-nya atau dia akan terlambat. Dia baru sadar ketika dia pulang dari tempat syuting. Dia melihat gantungan kunci lumba-lumba itu.

“Kunci Suji” gumamnya.

Dia menoleh ke arah pintu apartemen Suji dan melihat tiga kotak susu di depan pintu apartemennya. “Dia tidak mengambilnya lagi?”

Seungyun mengambil kunci itu dan berjalan ke depan pintu apartemen Suji. Dia mengetuk pintu itu seperti biasanya. Namun tidak ada jawaban. Lalu dia mengetuknya lagi sampai berkali-kali dan tidak ada jawaban.

“Bae Suji!” panggilnya berkali-kali sampai dia membuat dirinya sendiri kesal.

Dia menatap kunci yang ada ditangannya. “BAE SUJI!!!” teriaknya. Dia membuka pintu itu dengan kunci itu ,dan menemukan ruangan kosong, tidak ada apapun. Hanya apartemen kosong.

“Bae Suji?” kata Seungyun.

Dia mencari-cari Suji, tapi yang ditemukannya hanyalah ruangan kosong tidak ada apa-apa. Apartemen itu benar-benar sudah dikosongkan.

Seungyun menangkap suatu benda berwarna kuning di dekat jendela. Lalu dia berjalan mendekati benda itu, teropong. Seungyun tidak mengerti kenapa Suji meninggalkan benda ini disini. Teropong itu lucu menurutnya. Dia bermain-main dengan teropong itu sampai dia menyadari sesuatu. Jika dia melihat keluar dari jendela itu, dan mengarahkannya ke bawah sedikit, dia akan melihat tempat pemberhentian bus, tempat dimana dia biasa menunggu bus.

Dia meletakkan teropong itu kembali dan melihat sebuah kertas tertempel di pinggir jendela, sebuah sticky notes berwarna kuning.

Seungyun mengernyitkan dahi, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.

“Bae Suji, maafkan aku, Nado Saraghae-ya” kata Seungyun sambil bersandar pada dinding dan menghela nafas.

-e?n?d?-

sebenernya oneshoot tapi kepanjangan, ya udah deh di buat twoshoot.

gimana gaje ya? ya udah maap

HIMRASAKI!!!

karena blog saya di hack, maka saya memindahkan semua konten di blog lam saya ke blog baru ini

Im still ahnmr i used to be

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

4 thoughts on “A Girl In Apartemen 301 (2/2)”

  1. Leh? Udah END toh?? ._.
    Nggak Happy Ending deh..
    Awalnya aku kira mereka bakal bersatu.
    Dan Seungyun lebih milih suzy dari pada tunangannya. Tapi bagaimana lagi?
    Ada After Story-nya kah?? Berharap bakal Happy Ending u,u
    Good job deh thor! Ditunggu karya lainnya!

    1. pengennya sih gitu, kawan. tapi udah males bikinnya… lagipula Suji orangnya susah dilacak dan tertutup karakternya disitu,, susah buat yun ketemu dia lagi, kecuali kalo dia kerja di drama yang dikerjain Suji lagi

  2. uwahh…seruuu..^^
    Tuh kan..Suzy udh pergi.,Seunghyun kasihan 😦
    yaa..dijodohin 😦
    bagus thor^^

    Fighting buat FF Author yg lain^^ 🙂

  3. sequelnya tak adakah??
    siapa yg jadi tunangan suzy??terus kenapa harus ke australi??
    dan seunghyun siapa tunangannya?
    dia juga akan kuliah ke australi ya?
    coba ada sequelnya py gak apa deh
    fighting ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s