A Girl In Apartment 301 (1/2)

 A Girl In Apartmen 301

|Author: Aulia Nur Afifah/Ahnmr|Cast: Han Seungyun (Lunafly), Bae Suji (Miss A)|Genre: Drama|Rating:Teen|Lenght: Two Shoot|Tujuan:Cerita ini dibuat untuk mengerjakan tugas Bahasa Indonesia yang ditugaskan oleh Ibu Endang, selaku pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Saya ucapkan maaf dan terimakasih apabila ada banyak kesalahan kata dan pengaturan EYD yang tidak tepat dikarenakan saya menggunakan format fanfiction yang dimana adalah jenis sastra baru yang berkembang dikalangan penulis muda|Disclaimer: Cerita ini terinspirasi sama ‘Flower Boy Next Door’

This story has posted in this blog and readfanfiction

Dan dia berada disana seperti hari-hari sebelumnya. Selalu terlihat gelisah tiap kali melihat jam tangannya dan terkesan dikejar oleh waktu. Rambutnya selalu berantakan, menandakan bahwa dia tidak terlalu peduli dengan dirinya sendiri dan dia selalu berpakaian sangat santai, mungkin dia berpikir bahwa penampilan bukanlah segalanya. Tidak mudah untuk bisa menghiraukan sebuah tas kecil berwarna coklat lusuh yang selalu tergantung di bahu kanannya. Tas itu terlihat cocok dengan penampilannya yang sedikit berantakan itu. Kemudian ketika jam sudah menunjukkan pukul tujuh tepat. Dia akan segera menaiki bus yang menyambanginya setiap pagi ditempat itu.

Gadis itu menghela nafas ketika laki-laki itu sudah pergi bersama bus yang ditumpanginya.  Kemudian dia meletakkan teropong kuningnya diatas rak buku yang menempel di dinding. Dengan langkah gontai dia berjalan menuju dapur apartemennya yang sempit dan memanaskan segelas susu hangat. Dia melihat catatan-catatan kecil yang tertempel di dinding dapur dan membacanya satu per satu. Kurang lebih catatan-catatan itu adalah semua ide untuk naskah drama yang ditulisnya.

“,,dia tidak akan pernah tahu” gumamnya ketika membaca salah satu catatan itu.

Sambil meminum susu hangatnya, dia berjalan ke ruang tengah yang telah dia sulap menjadi ruang kerja. Ruangan itu dipenuhi dengan lembaran naskahnya yang salah, beberapa surat tagihan listrik, dan surat-surat lain. Di tempat yang sedikit merapat ke dinding. Terdapat satu set komputer, lengkap dengan webcam dan headset. Gadis itu meletakkan gelas itu diatas meja, tepatnya di atas sebuah kertas yang terserak diatas meja. Komputer itu belum dimatikannya sejak tadi malam karena dia terlalu malas untuk mematikannya.

Dia mengarahkan mouse ke arah file documents berjudul Rain Coat, setelah itu dia membukanya dan mulai melanjutkan naskah drama ketiganya itu. Ditengah-tengah pekerjaannya terdengar sebuah nada dering yang berasal dari ponselnya. Suaranya tidak jauh, namun ponsel  itu tidak terlihat. Gadis itu celingukan mencari asal suara, sampai-sampai dia berjalan kesana kemari, menyingkap kertas-kertas yang terserak, dan membuka laci mejanya. Akhirnya dia menemukan ponsel itu, ponsel itu tergeletak di dalam laci. Gadis itu segera mengambilnya dan mengangkat telepon itu.

“Iya?”

“,,,,,,”

“Jangan, aku tidak bisa kesana,kirim langsung saja ke apartemenku,”

“,,,,,,”

“Jadi kau tidak bisa mengirimkannya ke apartemenku?”

“,,,,,,,,”

“Oke, aku mengerti, terimakasih”

Dia meletakkan ponselnya di samping komputer dan mendengus. Dia kesal jika harus keluar dari apartemennya. Bertemu dengan orang-orang adalah hal terberat baginya. Selama 3 tahun terakhir dia telah mengunci dirinya di dalam apartemen dan hanya keluar sesekali ketika dia merasa ingin, atau jika terpaksa. Seperti sekarang, dia terpaksa keluar dari apartemennya dan harus pergi ke pos satpam untuk mengambil sebuah mantel yang dibelinya dari internet beberapa hari yang lalu.

Sebelum benar-benar keluar dari apartemennya ,gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa tidak ada orang yang akan berpapasan dengannya. Setelah menutup pintu apartemennya dia berjalan dengan langkah kecil tapi cepat ke arah lift. Untung saja lift itu sepi, sehingga dia tidak perlu menaiki tangga hanya untuk menghindari orang-orang.

Ketika dia sampai di lantai satu dia segera berlari kecil keluar dari gedung apartemen menuju ke pos satpam. Terlihat seseorang sedang berdiri di dekat pos satpam membawa sesuatu yang terbungkus kertas coklat.

“Oh, Apartemen 301, tumben sekali kau keluar” kata Satpam tua itu dari dalam pos. Gadis itu hanya membalasnya dengan mengangguk ragu.

Dia melihat ke arah bungkusan coklat yang dipegang oleh seorang pengantar dan mengambilnya dari tangan si pengantar. “Kau bisa tanda tangan disini” katanya pada gadis itu.

Gadis itu menanda tangani dengan asal dan segera berlari masuk ke gedung apartemen.

“Ada apa dengannya?” gumam pengantar itu.

“Dia memang seperti itu, tidak ada satupun orang di apartemen yang tahu namanya, kami memanggilnya Apartemen 301, dia hampir tidak pernah keluar dari apartemennya semenjak dia datang, dia juga tidak pernah berbicara pada siapapun” sahut sang satpam tiba-tiba.

“Aneh” cibir si pengantar, dia kemudian tersenyum ke arah pak satpam dan segera pergi untuk mengantar paket lainnya.

Setelah pengantar itu pergi. Satpam itu menghela nafas dan mengangkat kakinya ke atas meja. Dia menguap, baru beberapa menit saja dia sudah mengantuk, lalu perlahan matanya menutup diikuti dengan dengkuran yang cukup keras.

Dia mendesah pelan ketika melihat mantel berwarna kuning yang ada ditangannya. Setelah memasangkannya pada hanger dia menggantungnya di lemari pakaian. Mantel itu memang terlihat biasa namun dia sangat menyukainya, terutama karena musim gugur akan segera datang dan dia ingin memakainya jika sewaktu-waktu dia ingin pergi ke taman.

Detik demi detik berlalu, menit demi menit berlalu hingga berganti jam dan dia masih duduk di depan komputer memandangi berkas Rain Coat. Daripada dia terdiam akhirnya dia pergi ke kamar dan mengambil kertas lipat,gunting ,dan lem. Dia mulai membuat sesuatu yang random, aneh dan tidak penting, pada akhirnya nanti, dia hanya akan membuat bentuk salju yang berjejeran lalu menempelnya di dinding seperti  yang lain. Tapi ketika dia akan mengoleskan lem pada karya asal-asalannya itu, lemnya habis dan dia terpaksa membelinya di toko.

“Uh, sepertinya aku harus keluar, lagi” gumamnya sambil mendengus.

Satpam itu masih tertidur ketika laki-laki dengan dengan tampang kusut itu menggedor-gedor pintu pos satpam dengan sangat keras. Sontak, Satpam itu terbangun dengan gelagapan, dia pikir terjadi suatu ledakan tapi yang dilihatnya adalah seorang laki-laki muda bertampang kusut dengan gaya yang cukup berantakan menggedor-gedor pintunya.

“Apa-apaan ini!” gumam Satpam itu kesal. Dia membuka pintunya dan menatap dingin pemuda itu. “Apa?” katanya.

“Heh Pak! Kau adalah penjaga keamanan di sekitar sini jadi jangan lalai dengan perkerjaanmu, siapa yang tahu dengan kelalaianmu itu kau bisa membahayakan orang lain, atau bahkan dirimu sendiri” katanya sambil tersenyum.

Satpam itu terlihat ikut tersenyum ke arahnya dan akhirnya mereka tertawa. “Kau sudah kembali?”

“Iya, aku disuruh pulang karena menghancurkan settingnya tadi” katanya seraya merangsek masuk ke dalam pos satpam dan mengambil koran dari meja.

“Lalu bagaimana? Kau masih bisa bekerja besok?” kata Satpam itu.

“Syukurlah kalau begitu,” ujar pemuda bernama Seungyun itu sambil tersenyum penuh arti ke arah si Satpam.

Satpam itu tersenyum ke arahnya dan duduk di kursinya. Seungyun bersandar ke dinding sambil larut dengan berita-berita yang terpapar di koran. Satpam itu mengamati hal-hal yang terjadi di sekitarnya dan menyeruput kopinya yang sudah mulai mendingin.

“Paman, aku pergi dulu ya, ada beberapa hal yang harus kulakukan”

“Baiklah, hati-hati!”

Seungyun melemparkan koran itu pada si satpam dan berjalan keluar dari pos satpam itu. Kemudian dia melangkahkan kaki dengan santai ke gedung apartemen dan menaiki lift menuju apartemennya yang terletak di lantai 3.

Ketika pintu lift itu terbuka, dia melihat seorang gadis dengan tampang polos dan pucat. Gadis itu terbelalak ketika melihat Seungyun, yang membuat Seungyun lebih bingung lagi adalah gadis itu segera berlari ke arah tangga darurat.

Alis Seungyun bertaut, dia keluar dari lift dengan rasa bingung yang luar biasa. Dia merasa tidak pernah melihatnya selama 3 tahun dia tinggal di apartemen itu. Mungkin dia adalah gadis apartemen 301 yang sering dibicarakan orang-orang, batin Seungyun. Dia mengedikkan bahunya dan segera berjalan ke apartemennya.

Dia meletakkan lem itu di meja kasir dan menunduk tiap kali ada orang yang melihatnya, bahkan dia menunduk ketika dia berbicara dengan kasir itu.

“Berapa?” katanya dengan sangat lirih. Sampai-sampai kasir itu tidak bisa mendengarnya.

“Iya?”

“Berapa harga lem itu?”katanya dengan lebih keras.

“Hanya 5 sen”

Gadis itu mengambil uang 1 won dari kantong celananya dan memberikannya pada kasir yang memandangnya dengan aneh. Kasir itu sedang berpikir tentang gaya gadis ini yang menurutnya sangat tidak modis.

“Terimakasih” kata gadis itu canggung.

Suara alarm membangunkannya. Dia terlelap di dalam sebuah kantong tidur yang melilitnya sampai ke atas. Dengan mata yang masih terpejam dia mengeluarkan kepalanya dan menoleh kesana kemari, mencari-cari alarm jam itu. Kemudian dia melompat dengan kantong tidur itu dan mematikan alarm yang berdiri di atas meja kecil yang ada di dekat kasurnya. Dia tidak tidur di kasur tadi malam karena kemarin dia sudah tidur disana. Ketika melihat jam menunjukkan pukul enam dia segera melompat-lompat dengan kantong tidur itu dan berjalan keluar untuk mengambil kotak susu yang selalu ditinggalkan oleh seseorang setiap pagi di depan semua apartemen. Dia mencoba meraih-raih kotak susu itu dengan tangannya, hari ini orang itu meletakkannya terlalu jauh.

“Oh,”celetuk seseorang “Apa yang kau lakukan?” katanya.

Gadis itu mendongakkan kepalanya dan melihat laki-laki yang selalu ada di ujung jalan itu, laki-laki yang kemarin dilihatnya di dalam lift, dan ternyata dia adalah seseorang yang selama ini tinggal disampingnya.

“mmm, tidak ada” Gadis itu langsung cepat-cepat mengambil kotak susu itu dan masuk ke kamarnya. Dia membanting pintunya dan bersandar pada pintu itu. Jantungnya berdegup kencang, sangat kencang sampai dia menepuk dadanya pelan-pelan agar tidak terdengar begitu keras.

Eotteoke?Eotteoke?” tanyanya pada diri sendiri.

Beberapa saat setelah itu pintu apartemennya diketuk. Dia langsung bergidik, dia bahkan belum sempat menaruh kotak susu itu di dapur. Selang beberapa detik terdengar ketukan lagi, dia segera menutup telinganya berpura-pura tidak mendengar apa yang dia dengar. Namun tidak bisa dipungkiri lagi, dia bisa mendengar dan dia wajib membuka pintu itu. Faktanya dia adalah gadis penyendiri yang mempunyai penyakit SocialAwkward akut, tapi dia bukan gadis yang tidak punya sopan santun.

Dia berbalik dan membuka pintu itu sedikit, dilihatnya laki-laki itu, laki-laki yang selalu dilihatnya lewat teropong kuning yang dimenangkannya dalam sebuah permainan keberuntungan.

“Sepertinya kau menjatuhkan benda ini kemarin” kata laki-laki itu sambil menunjukkan sebuah gantungan kunci berbentuk lumba-lumba silver.

Gadis itu tertegun melihat benda yang sama persis dengan gantungan kunci apartemennya, ada di tangan laki-laki itu. Laki-laki itu adalah laki-laki yang selalu dikaguminya semenjak dia melihatnya di taman pada musim gugur tahun lalu.

“Ya, itu milikku” katanya sembari mengambil gantungan kuncinya dari tangan laki-laki itu.

Laki-laki itu tersenyum dan memasukkan tangannya ke dalam kantong mantel berwarna abu-abu lusuhnya. Sedangkan gadis itu masih larut dalam keterkejutannya.

“Aku pikir kau seharusnya  mengatakan terimakasih” sindir laki-laki itu.

Gadis itu menunduk dan mengatakan,”terimakasih” dengan lirih.

“Namaku Han Seungyun, seperti yang kau lihat, aku adalah tetanggamu, tapi kita tidak pernah saling mengenal, bolehkah aku tahu namamu, paling tidak” kata laki-laki bernama Seungyun itu.

Lidahnya kelu ketika dia hanya ingin mengucapkan namanya, dia sudah terbiasa mengetik namanya selama beberapa tahun terakhir. “Bae,,” Laki-laki itu menaikkan alis kirinya ketika gadis itu sudah mengucapkan nama marganya “ Bae Suji-imnida”lanjut gadis itu.

“Bae Suji? Berarti aku bisa memanggilmu Suji mulai sekarang” kata laki-laki itu diikuti dengan senyum penuh arti khasnya.

“I,,Iya” ucapnya terbata ,dengan senyuman tipis yang terlihat canggung.

“Baiklah, Bae Suji! Aku pergi dulu, senang berkenalan denganmu” Segera setelah laki-laki itu pergi. Gadis itu, Suji membanting pintu kamarnya dan bersandar pada pintu itu lagi. Senyuman lebar menghiasi wajahnya, dia sangat-sangat senang karena setelah satu tahun menjadi pengagum rahasia akhirnya dia tahu siapa nama laki-laki itu.

Seungyun berjalan keluar dari halaman apartemen bersama satpam yang sering dipanggil dengan Pak Nam oleh orang-orang di apartemen. Mereka terlihat sedang membicarakan topik santai seperti sepak bola, dan Girl Group seperti SoNyuhShiDae atau Wonder Girls. Kurang lebih, mereka terlihat ceria pagi itu.

“Paman,”kata Seungyun sebelum Pak Nam masuk ke dalam ruang kerjanya alias pos satpam. Pak Nam mengedikkan dagu pada Seungyun sambil membuka pintu pos satpam itu. “Aku tahu nama gadis yang ada di apartemen 301 itu”

“Siapa?”

“Bae Suji, dia adalah penulis naskah drama terkenal dan misterius, dia adalah penulis drama Shut Up Your Mouth dan High Heels, kau tidak tahu?”

“Maksudmu drama yang dibintangi oleh Park Shin Hye itu?” tanya Pak Nam dengan penuh semangat.

“Tidak hanya Park Shin Hye, Yoon Shi Yoon juga bermain di drama High Heels” kata Seungyun membenarkan.

“Bagaimana kau tahu itu?”

“Aku bekerja di sebagai assistant director di drama itu, dan dia, Bae Suji, comeback dengan drama baru, judulnya Rain Coat, kemarin aku dan kru akan syuting episode pertamanya, tapi tertunda karena aku” kata Seungyun diikuti tawa kecut.

“Bukan itu, maksudku, bagaimana kau bisa tahu namanya?”

“Aku bertanya padanya”

Suji masih berkutat pada teropongnya ketika laki-laki itu, Han Seungyun. Berdiri di tempat yang sama sedang menunggu bus yang akan menjemputnya pukul tujuh tepat. Suji sangat bahagia hari ini, dan begitu banyak inspirasi yang tiba-tiba menghampiri otaknya. Setelah bus itu membawa Seungyun pergi. Suji segera pergi ke depan komputernya dan bekerja lagi. Namun sebelum itu ,dia menunjuk dua foto kecil yang tertempel di dinding. Foto itu adalah foto pemain dramanya

“Aku akan membuat hari kalian bahagia” katanya sambil menyalakan komputer itu.

Drama Rain Coat yang dibuatnya adalah drama Romance-Comedy ketiganya. Dia memang spesialis dalam genre itu, dan rumah produksi manapun pasti akan membayar banyak untuk karya besarnya. Drama pertamanya yang berjudul Shut Up Your Mouthberhasil mengangkat nama aktor Park Chanyeol dan Jung Soojung dari rookie menuju Pro, drama keduanya berjudul High Heels tak kalah sukses dari yang pertama, kali ini mengusung nama Yoon Shi Yoon dan Park Shin Hye ,drama itu berhasil mengangkat nama mereka menjadi pemenang di Korean Drama Award 2011 sebagai Best Couple Award. Tak hanya itu, keuntungannya yang sangat besar membuat dia sangat terkenal, namun misterius.

Ketika dia sudah menulis sekitar 10 lembar, terdengar panggilan dari ponselnya. Dia membuka lacinya dan mengambil ponselnya. Setelah itu dia langsung mengangkatnya, karena telepon itu penting sekali. Telepon itu berasal dari produser Rain Coat, Kim Seungwoo.

“Iya, Pak?” sahut Suji.

“,,,,,,”

“Kenapa?”

“,,,,,,”

“Tapi saya sedang menulis untuk episode 15, Pak” kata Suji.

“,,,,,,”

“Saya tidak sedang berbohong, saya tidak suka berbohong”

“,,,,,,”

“Saya harus kesana? Untuk apa?”

“,,,,,,”

“Maafkan saya pak, saya tidak bisa”

“,,,,,,”

“Tidak,Pak! Saya tidak perlu dijemput, saya memang sedang tidak ingin pergi”

“,,,,,,”

“Jangan, Pak! Baiklah, tapi saya akan pergi sendiri, Bapak kirim saja alamatnya pada saya”

Hari sudah semakin dingin, itu artinya musim gugur akan segera datang. Suji memakai mantel kuning barunya dan memakai tas selempangan kecil, yang didalamnya berisi ponsel ,notes ,dan pulpen. Agar dia dapat menuliskan ide yang datang sewaktu-waktu.

Dia senyum-senyum sendiri ketika dia berdiri di tempat yang sama dimana Han Seungyun juga menunggu bus. Hari ini dia akan pergi ke Gyeonggi-Do untuk melihat syuting episode pertama. Sebenarnya dia tidak suka pergi jauh-jauh dari sarangnya. Tapi daripada dia dipecat dan diganti oleh penulis lain, dia lebih memilih untuk datang.

Ketika dia sampai ditempat syuting, dilihatnya orang-orang sedang sibuk kesana kemari menyiapkan ini itu. Dia berjalan ke arah seorang pria paruh baya dengan mantel bulu, pria itu berdiri berdekatan dengan seorang wanita yang terlihat sebaya dengannya dan seorang gadis kecil, yang mungkin berumur sekitar 10 tahun.

Son,,saengniem” sapanya pada pria bernama Kim Seungwoo itu.

“Ini dia ,Bae Suji” kata Pak Kim pada istrinya.

“Dia cantik sekali, senang bertemu denganmu” kata Bu Kim.

“Kakak sangat cantik” celetuk putri Pak Kim.

Suji balas tersenyum dan membungkuk pada mereka. “Make-up mu terlihat natural sekali” kata Bu Kim memuji. Suji tersipu dan berkata,”Se,,benarnya, saya ti,,dak memakai make-up

Hal itu membuat Bu Kim sedikit terkejut, karena biasanya gadis seusianya sangat suka memakai make-up untuk menarik perhatian para pria. Tapi dia tidak? Dan itu sungguh aneh untuk Bu Kim.

“Suji-ah, Sutradara Jung ingin menemuimu, dia ingin kau melihat syuting hari ini, jadi sebaiknya kau menghampirinya” Ujar Pak Kim.

“B,,baiklah, Pak!” kata Suji sambil membungkuk lagi ke arah mereka dan pergi ke arah Sutradara Jung yang sedang duduk sambil berteriak kepada aktor-aktor itu.

Para kru melihat Suji dengan sebelah mata, dan itu membuat Suji menundukan kepala lebih dalam dari biasanya. Dia kemudian berjalan ke dekat Sutradara Jung yang tengah serius menatap sebuah benda seperti televisi kecil yang ada didepannya.

“Jung Sonsaengniem” kata Suji ragu.

“DIAM!!!!” bentak sutradara itu sampai membuat Suji mengkeret.

“Saya, Bae Suji”kata Suji.

Sang Sutradara menoleh ke kanan dan melihat Suji sedang membungkuk ke arahnya.

“Oh! Suji-ah” kata Sutradara itu kaget.

Setiap kru dan orang-orang yang ada ditempat itu menoleh ke arah Suji. Suji yang merasa canggung dengan semua perhatian itu langsung menunduk lebih dalam. Dia tidak suka menjadi pusat perhatian. Dia sudah terbiasa menjadi orang yang tertutup dan suka menjadi misterius. Tapi kata misterius itu benar-benar jauh dari deskripsi seorang Bae Suji yang terlihat sangat manis di depan orang-orang yang ada disana. Terdengar bisik-bisik diantara para kru.

“Dia Bae Suji? Kukira dia adalah aktris rookie”

“Dia tidak terlihat misterius”

“Kukira Bae Suji adalah seorang wanita tua, tapi ternyata dia masih sangat muda”

“Wah! Dia jauh lebih cantik dari yang kubayangkan”

Bisik-bisik para kru itu membuat Seungyun yang sedang sibuk membetulkan sound system jadi penasaran. Dia langsung menghampiri seorang kru dan menanyakan apa yang tengah terjadi. Kru itu awalnya terhipnotis dengan kedatangan Bae Suji. Namun ketika Seungyun menepuk pundaknya dengan cukup keras, dia jadi sadar.

“Kenapa?” tanya Seungyun padanya.

“Penulis drama ini Bae Suji, untuk pertama kalinya datang ke tempat syuting drama”

“Bae Suji? He?”Seungyun tambah tidak percaya. Karena setahu dia Bae Suji bukanlah orang yang suka pergi dari apartemennya jauh-jauh. Padahal jika ada pertemuan penghuni apartemen atau pertemuan lain dia tidak pernah datang.

Seungyun pura-pura menjauh dari kru itu dan berlari mendekat ke arah Sutradara Jung. Dia melihat Suji tersenyum canggung ke arah semua orang. Dia juga melihat pemeran utama drama itu juga terpukau melihat Suji.

“Han Seungyun! HAN SEUNGYUN!!!” teriak Sutradara Jung.

Seungyun segera berlari lebih dekat ke arah Sutradara Jung. Dia membungkuk dan berpura-pura tidak mengenal Suji. Sedangkan Suji sendiri terkejut ketika mendengar Sutradara Jung meneriakkan nama Han Seungyun. Suji tidak percaya jika dia akan bertemu lagi dengannya, dan saat dia melihat Seungyun berlari ke arah Sutradara Jung dia benar-benar yakin jika laki-laki itu adalah Han Seungyun yang dikaguminya.

“Ambilkan kursi untuk Bae Suji dan Kopi untuknya”

“Sa,,Saya tidak minum kopi” kata Suji.

Seungyun yang mendengar hal itu langsung melirik ke arahnya dan mengerling. “Aku,, lebih suka air putih” kata Suji dengan ekspresi tertegun.

“Baiklah, kau ambilkan air putih untuknya, CEPAT!!” kata Sutradara Jung pada Seungyun.

Seungyun mencoba menahan tawa karena melihat ekspresi Suji barusan.

Suji duduk disana dengan canggung karena Sutradara Jung yang terus marah-marah pada aktornya yang Suji tahu bernama Park Jinyoung, laki-laki itu mungkin lebih tua darinya satu tahun namun sikapnya sangat kekanak-kanakan dia sering melakukan kesalahan ketika dia mengucapkan dialog-dialog sarkastis pada aktris yang bernama Kang Jiyoung.

“Aku tidak bisa” kata Jinyoung memelas, pada Sutradara Jung.

“Jangan buat dia berkata sesarkatis itu”kata Suji pada Sutradara Jung.

“Kenapa? Dia kan membencinya?”tanya Sutradara Jung.

“Secara praktik iya, tapi dalam hati Minhyuk, dia sedikit bersimpati dengan Daae, jadi dia mengatakannya dengan dingin” kata Suji menjelaskan karakter tokoh-tokoh yang ada dalam dramanya.

“Aku harus mengucapkannya dengan dingin, bukan jahat?” Tanya Jinyoung.

“Aku bilang apa, kau seharusnya jadi lebih dingin” cibir Jiyoung.

“Aishh, diamlah, jangan merusak chemistry kita dalam drama ini” kata Jinyoung pada Jiyoung.

Suji tersenyum. Dia tidak pernah menjadi orang yang didengar sebelumnya. Dia cukup senang karena ada orang yang mau mendengarnya.

Suji berada ditempat itu sampai syutingnya selesai. Matahari sudah condong ke barat ketika Suji berjalan ke pemberhentian bus, dia menolak pulang bersama para kru karena dia tidak nyaman berada bersama orang lain, dia lebih nyaman jika sendiri. Saat itulah Seungyun datang bersama penampilannya yang berantakan dan berdiri disamping Suji.

“Kau keluar dari apartemen” sindirnya, laki-laki ini hobi sekali menyindir.

Suji hanya terdiam saking gugupnya. Sedangkan Seungyun terlihat sedang menunggu reaksi gadis ini. Namun reaksi Suji tidak seheboh yang diinginkan Seungyun, gadis itu hanya terdiam dan mencoba menghindar darinya. Saat mereka menaiki bus, Suji mencoba duduk sejauh mungkin dari Seungyun, dia merasa dia mungkin bisa pingsan jika terlalu lama berdekatan dengan laki-laki itu.

“Oh Apartemen 301, kau keluar lagi” Sapa Pak Nam ketika Suji berlari kecil menuju gedung apartemen. Seungyun yang berjalan santai di belakang gadis itu berhenti sebentar didepan pos satpam dan menoleh ke arah Pak Nam.

“Kurasa dia tidak suka jika kau memanggilnya begitu, panggil dia Suji” kata Seungyun.

“Maaf, aku sudah terbiasa, lain kali aku akan memanggilnya Suji, tapi akhir-akhir ini, dia terliat sering keluar dari apartemen, apa kau merasa begitu?”

“Entahlah, aku tidak peduli” Seungyun menghelas nafas dan berjalan menjauh dari pos satpam itu.

Suji menggantungkan mantel kuningnya di gantungan didekat kamar mandi. Dia menghempaskan dirinya ke atas kasur. Dan menatap langit-langit kamarnya.

“,,tapi dia mengerti” gumamnya.

Suji mengambil ponsel yang ada di dalam tas selempangannya dan melihat satu pesan. Tidak biasanya dia mendapat pesan di jam-jam seperti ini. Dia membukanya dan ternyata itu adalah pesan penyemangat dari Ibunya yang tinggal di Busan. Mengingat Busan ,Suji jadi rindu dengan keluarganya, tapi ketika mengingat masa sekolahnya, rasanya seperti membuka luka lama yang hampir sembuh. Suji bukanlah anak yang menonjol dan cenderung menjadi kambing hitam di sekolahnya. Karena dia bukan orang kaya,dia sering dituduh melakukan pencurian. Karena dia tidak menarik, dia sering jadi bahan ejekan temannya. Hal itu membuatnya takut untuk bersosialisasi.

“Semangat, Bae Suji!!” katanya pada diri sendiri.

Dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke ruang kerjanya. Dia menyalakan komputer dan melanjutkan lagi naskah Rain Coat episode 15.

Jika saja Seungyun tahu mungkin dia tidak akan berdiri disana setiap hari. Seungyun bukanlah orang yang suka di kuntit diam-diam. Namun sayangnya dia tidak tahu, jadi dia tidak perlu merasa khawatir. Pagi itu dia berdiri ditempat yang sama dengan jaket yang dilapisi mantel abu-abunya. Dia merasa kedinginan hari ini. Mungkin hari ini adalah hari pertama musim gugur, daun-daun mulai jatuh dari pohonnya menghiasi jalanan yang masih lengang.

Seperti biasa Suji meletakkan kembali teropong itu ketika Seungyun sudah pergi bersama busnya. Kaca jendelanya berembun pagi itu dan dia menuliskan nama laki-laki itu disana. Senang rasanya dia bisa mengetahui nama itu, walaupun hanya sekedar tahu.

Kehidupan Suji cenderung membosankan untuk diketahui orang lain. Hidupnya hanya berkutat pada komputer dan imajinasi ,kurang lebih. Dan pikirannya cenderung delusional. Dia menganggap bahwa dunia nyata hanya akan menghancurkan imajinasinya, hal itulah yang membuat Suji mengunci dirinya di apartemen.

Sore itu Suji hanya rebahan di atas kasur sambil memainkan permainan di ponselnya, dan tiba-tiba terdengar suara dari speaker yang ada di langit-langit. Suji bergidik dia sudah tahu akan ada pengumuman apa.

“Bagi semua penghuni apartemen, diharap berkumpul pada pertemuan sore ini, dan bagi yang tidak berkumpul, akan diberi sanksi, peringatan bagi siapa saja yang tidak pernah datang ke pertemuan, akan diusir dari apartemen”

Suji mendengus dan kembali fokus pada permainan yang ada di ponselnya. Buktinya dia sudah sering tidak datang namun dia tidak pernah diusir. Sekitar 10 menit kemudian, terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Suji pura-pura tidak dengar dan sok fokus pada permainannya.

“Bae Suji!” teriak seseorang dari pintu,,,,

-To Be Continued-

maaf  ini sebenernya tugas sekolah,, hahahaha

jika menemukan nama sehun disitu tolong diganti jadi seungyun, oke?

30 1 2012

karena blog saya di hack, maka saya memindahkan semua konten lama blog saya ke blog saya yang baru ini, maaf

Saya bukan plagiat, it’s still ahnmr i used to be

oh ya tambahan, maafkan posternya yang nggak banget

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

5 thoughts on “A Girl In Apartment 301 (1/2)”

  1. Waahh keren-keren.. Ini tugas sekolah ya?
    Cast sebenarnya siapa ya? #kepo
    Hahah.. Suka sama jalan ceritanya,
    Penulisan kata-katanya juga bagus. So far, aku tidak menemukan typo. Good job!
    Padahal selama ini aku selalu baca FF dengan Cast kesukaanku. Tp kali ini aku baca FF yang Castnya jauh dari kesukaanku. Bukannya ga suka Suzy (dia bias ku d Miss A), tapi aku ga tau seungyun itu yang maana. -_-

    1. han seungyun a.k.a Yun itu member lunafly, tau lunafly nggak? itu band korea baru kok,, tapi suka aja, aku rasa band itu bakal jadi besar nantinya

  2. wahhh…Suzy misterius..
    bagus lo thor^^
    aku suka bca ff yg maincast’a Suzy..
    dan ff ini bagus..ceritanya seru…saya jdi ngebayangin..wihhh… 🙂 bagus..itu yg ngetuk pintu si Seunghyun ya?
    eciee,,suzy yg cinta seunghyun..
    fighting thor^^ 🙂

  3. wahhh…Suzy misterius..
    bagus lo thor^^
    aku suka bca ff yg maincast’a Suzy..
    dan ff ini bagus..ceritanya seru…saya jdi ngebayangin..wihhh… 🙂 bagus..itu yg ngetuk pintu si Seunghyun ya? atau satpam-nya?
    eciee,,suzy yg cinta seunghyun..
    fighting thor^^ 🙂

  4. suzy seorang anti sosial sebagai penulis drama muda yg sukses dan cantik!!
    tapi dia suka seunghyun diem2,,heemm cidaha!
    fighting ya

    o iya,,aku reader baru salam kenal ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s