Capung Biru #1

The Blue Dragonfly (Capung Biru)

Ahnminra Presented:

Capung Biru (The Blue Dragonfly)

Cast: Nichkhun B. Horvejkul, Tiffany Hwang, Choi Siwon, Kim Taeyeon, Im Yoona|Genre:Friendship, Romance, Drama|Rating: PG -13|Lenght: Chapter| Disclaimer: Terinpirasi dari film Perahu kertas , Manga dan Film ‘Kimi Ni Todoke’ ,Sebuah sore dikala mendung saat aku duduk bersama ‘mbak ninik’ di asrama ,  Sekawanan capung merah yang bermain-main diluar kelas seraya menemani mendung dalam penantiannya pada hujan, dan seekor Capung Biru yang pernah melintas didepan mataku.


“Kak, Lihatlah! Ada capung berwarna biru” kataku sambil menunjuk sebuah capung berwarna biru yang berterbangan diantara capung merah. Dia terlihat bingung dan canggung untuk mendekati capung lainnya.

Kakak menoleh ke arahku dan mengedikkan dagunya, menanyakan padaku dimana capung itu dalam diam. Aku baru saja akan menunjuk capung itu,namun capung itu sudah raib. Entah dia terjatuh karena tertabrak capung lain, atau pergi karena merasa terabaikan.

 “Capung itu sudah pergi”  kataku kecewa. Aku ingin memiliki capung itu,aku ingin memeliharanya ,menjadi temannya. Tapi, kenapa dia malah pergi?

Kakak berlutut dan menyentuh kedua pundakku dengan kedua tangannya.Dia tersenyum ke arahku. Dia tidak peduli jika celana jeansnya kotor terkena tanah. “Kakak akan mencarikannya untukmu, jangan menangis ya?”

Aku memandang kakakku skeptis, ekspresi kakakku masih belum berubah. Dia memandangku penuh rasa optimis. Namun dalam hati aku tidak percaya, kakak tidak mungkin mendapatkan capung itu. Capung itu pasti sudah pergi jauh dan tidak akan kembali ,karena disini bukanlah tempatnya. Disini adalah teritori capung merah, dan bukan biru.

“Apakah kakak benar-benar akan mencarikanku capung itu?” kataku.

“Percayalah pada kakak, kakak pasti dapat”

http://ahnminra.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif

Dia terbang hinggap dari batang ke batang lain. Aku berusaha menyentuhnya namun dia berhasil kabur secepat golden snitch1. Aku memperhatikannya terbang kesana kemari dan hinggap di rerumputan yang tumbuh dipinggiran halaman sekolah Aku melangkahkan kakiku dengan perlahan ke arahnya. Kali ini aku harus bisa mendapatkannya, Harus!

Pelan-pelan, aku mendekatkan tanganku ke sayap capung itu. Aku lupa fakta bahwa capung biru itu pintar dan sigap. Sebelum aku berhasil menangkapnya, dia kabur lagi dan terbang ke halaman sekolah, aku mengejarnya dan berharap bisa mendapatkannya kali ini. Namun sayang, seseorang menangkapnya dengan sigap. Aku ingin berteriak ke arahnya, menuduhnya telah melakukan sesuatu yang kejam pada capung itu, padahal sebenarnya aku hanya ingin menyalahkannya karena telah mengambil kesempatanku. Alih-alih aku memarah-marahinya, yang terjadi padaku adalah: Membatu, dan mataku merekam gerakannya seperti slow motion.

Gadis  itu membuka telungkup tangannya dan menangkap bokong capung itu seakan-akan dia mengambil sejumput garam. Lalu dia melihat capung berwarna biru itu seperti melihat berlian paling berharga di dunia. Aku baru saja sadar jika dia menyakiti capung itu, dan menegurnya seperti seorang kakak kelas yang galak.

“Apa yang kau lakukan? lepaskan dia!” kataku sarkastis sambil berjalan ke arah gadis itu.

Gadis itu mengacuhkanku dan berkonsentrasi pada capung biru yang sayapnya dijepit dengan telunjuk dan ibu jarinya itu.

Areumdapda2” katanya datar dan perlahan ,dengan aksen amerika.

Aku tidak bisa melihat wajahnya karena rambut coklat kemerahannya itu menutupi wajahnya dari samping, apalagi poninya yang hampir menutupi matanya membuatku tambah penasaran siapa sebenarnya penjahat ini.

Ya!3, lepaskan capung itu!” kataku dengan nada yang lebih sarkastis.

Gadis itu menoleh dengan dramatis ke arahku, caranya menengok mengingatkanku pada Sadako di film The Ring. Awalnya aku sedikit merinding melihatnya, tapi aku mencoba untuk tidak takut. Dia menatapku tanpa ekspresi, menyodorkanku capung biru itu dan berkata “,Dia tersesat”

Aku mengernyitkan dahi dan tersenyum mengejek padanya “Memangnya apa yang kau tahu? Capung biru itukan memang,,,”

“Lihatlah! Dia sendirian” Sanggahnya sembari menatap sedih capung itu.

“Kalau begitu, lepaskan dia!” kataku mencoba menahan emosi karena tingkahnya yang agak aneh dan cara bicaranya yang terdengar ngawur.

“Dia akan kesepian lagi” katanya sambil menatapku sayu.

Aku menghela nafas dan berkacak pinggang. Dia melihatku seakan-akan aku akan bereaksi pada perkataannya yang terdengar seperti omongan bocah itu.  “Dia memang hidup sendirian, dia berbeda, dia unik” kataku.

Gadis itu tersenyum ke arah capung biru itu dan meniup-niupnya. Aku melihat capung itu miris, kasihan sekali dia, aku tidak tega melihatnya seperti itu “Lepaskan! Biarkan dia terbang, jangan meniupnya seperti itu, kau menyakitinya” kataku khawatir.

“Oh, Sorry little buddy, i’ll let you go” kata gadis itu pada capung biru seraya melepaskannya ke rerumputan. Aku tidak yakin apakah capung itu masih bisa terbang, tapi semoga saja dia bisa. Tak lama kemudian, aku melihat capung itu terbang tinggi ke arah matahari aku memandangnya dengan setengah memejamkan mata karena kesilauan.

Awan kelabu telah menjauh, digantikan dengan awan putih yang jarang-jarang dan sinar matahari yang menyinari halaman sekolah. Aku ingin berterimakasih pada gadis itu karena telah melepaskan capung itu, namun dia sudah terlanjur pergi. Dia berjalan memunggungiku dan memasukkan tangannya ke kantong blazer seragam. Cara berjalannya saja seperti tarian Gangnam Style. Aku benar-benar tidak mengerti, Apakah dia idiot atau semacamnya?

Gadis itu masuk ke dalam gedung dan menabrak seseorang yang kuyakin adalah Siwon. Siwon menatapnya jijik dan terlihat membersihkan Blazer seragamnya. Ia  tidak menghiraukan saat gadis itu menunduk –meminta maaf, mungkin- ke arahnya. Setelah itu Siwon segera berlari ke arahku, dan memandangku takjub.

“Khun-ah! Apa yang kau lakukan disini, hah? Apa yang kau lakukan bersama gadis itu? Dia itu idiot” kata Siwon dengan ekspresi apa-kau-gila?.

Mwo4?”

“Yoong, bilang padaku, gadis itu memang sedikit sinting, dia memperkenalkan dirinya sebagai ‘Jenderal Perempuan dari Jupiter’ atau apalah, aku juga lupa, pokoknya semacam itu,” kata Siwon sambil bergaya saat mengatakan ‘Jenderal Perempuan dari Jupiter’, Siwon melanjutkan ceritanya lagi sambil mengajakku ke kelas “,Yoong juga bilang padaku jika gadis itu adalah murid pindahan dari Amerika, Namanya Tiifany Hwang, dia pindah semenjak kemarin, dan kudengar dia suka pergi kemana-mana sendirian seperti seorang cenayang atau semacamnya, gosipnya dia memang cenayang,”

Aku mencoba menahan tawa saat Siwon mengatakan hal itu. Tuduhan itu terlalu berlebihan, aku tidak yakin jika gadis bernama Tiifany Hwang itu adalah cenayang, lagian dia lebih terlihat seperti bocah kesepian yang susah bergaul ketimbang cenayang. “,mmm, Kata Yoong, dia juga anak yang pemalas, dia selalu tidur di kelas,”

“Sepertinya kau tahu banyak tentangnya, Kenapa? Kau naksir ya?” kataku menggoda.

YaNeo mitcheotda5?!! Gadis sinting seperti itu bukan levelku” Ujarnya seraya menonjok bahuku.

Aku hanya tersenyum tipis dan menyapa orang-orang yang lewat. Well, Siwon sudah tidak cerewet lagi ketika kami memasuki gedung. Dia kembali menjadi Siwon yang berwibawa ,sopan dan disegani saat ada orang-orang. Bisa kubilang hidupnya tidak santai. Menjadi seseorang yang harus sempurna memang tidak enak. Dia adalah anak dari keluarga kaya, dia tampan,religius, dan disukai guru karena pintar dan sopan. Dia disebut sebagai pangeran di sekolah kami. Memang layak jika dia dipanggil seperti itu, dia sudah memenuhi kriteria sebagai seorang pangeran.Dan karena dia adalah pangeran, pangeran harus menjaga image agar terlihat baik dihadapan semua orang dan jika tertangkap melakukan hal buruk ,hancur sudah riwayat mereka. Itulah hal yang dialami temanku ini, jadi dia menganggap bahwa hidupnya selalu diawasi oleh kamera-kamera pengintai dan paparazzi.  Repot memang.

“Khun, aku ke toilet dulu ya, kau duluan sana!” Siwon memegangi perutnya dan lari terbirit-birit ke kamar mandi laki-laki. Aku hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. Sudah rutinitas jika setelah makan siang Siwon akan plesir ke kamar mandi.

Kelas sudah ramai, itu artinya sebentar lagi akan terdengar bunyi nyaring dari sebuah alat berwarna merah yang mirip kipas angin mungil itu, dan artinya jam pelajaran terakhir akan dimulai, Lalu, jika tebakanku salah. Maka Siwon akan dihukum. Tapi biar sajalah, dia selalu punya mulut manis untuk menjilat para guru. Dan menurutku itu bukan suatu hal yang buruk. Itu adalah bakat alami yang dimiliki Siwon. Tidak ada salahnya jika dimanfaatkan pada saat genting, misalnya seperti saat akan dihukum seorang guru.

Siwon tersenyum ke arah Pak Kim dan mengangguk sambil berkata “Iya, Pak” berkali-kali jika Pak Kim selesai dengan ceramahnya pada Siwon.

“Baiklah, kau boleh duduk” kata Pak Kim sambil menyuruh Siwon kembali ke tempat duduknya yang ada di sebelah tempat dudukku.

Anak itu meringis ke arahku dan menggerakkan alisnya naik turun beberapa kali sebelum menjatuhkan pantatnya di kursi.

“Kau harusnya dapat oscar” Kataku pada Siwon tanpa suara.

Siwon tersenyum geli dan mengatakan “Aku tahu” tanpa suara.

Aku kembali fokus pada materi yang disampaikan Pak Kim tentang Masyarakat Suku Aztec dan teknologi apa saja yang sudah berkembang pada masa itu. Cukup membosankan sampai aku melihat beberapa orang di kelas terjatuh ke dalam dunia mimpi, dan berakhir jadi bahan tertawaan satu kelas karena Pak Kim membuat mereka sebagai lelucon yang sebenarnya tidak lucu.

Akhirnya pelajaran itu berakhir dan aku harus segera pergi ke tempat les setelah ini. Huh, melelahkan juga mempunyai jadwal padat, Apalagi jika berlangsung setiap hari.

“Khun, Apa kau pergi ke tempat les hari ini?” kata Siwon dari tempat duduknya.

Aku mengangguk sambil memasukkan bukuku ke dalam tas. Siwon berdiri dari tempat duduknya dan menepuk pundakku “Aku duluan ya” katanya. Sekali lagi aku mengangguk dan menutup resleting tas ranselku.

Sore itu aku berdiri didepan bangunan bergaya modern dengan cat berwarna krem-oranye, yang tidak lain dan tidak bukan adalah tempat les-ku. Aku belajar bahasa korea disana karena sebenarnya aku bukan orang Korea tulen. Aku seorang imigran, Ayahku pindah ke Korea karena peluang bisnis disini lebih besar, dan Ibu, Ibu membantu Ayah dikantor sebagai seorang Manager. Jadi kami sepakat pindah ke Korea dan akan kembali ke Thailand entah kapan.

Aku yakin Ayah atau Ibu tidak akan sempat menjemputku hari ini, mana mungkin. Mereka bahkan hampir tidak punya waktu untuk bicara padaku. Jadi, aku menyandarkan kepalaku pada tiang tanda pemberhentian bus itu, menghela nafas dan melihat ke arah jam tangan.

“Kenapa busnya belum datang juga?” gumamku.

Aku menatap ke arah langit sambil mengingat-ngingat lagi siapa diriku dulunya. Aku dulu hanya anak kecil , seorang Horvejkul kecil yang tidak mengerti apapun tentang dunia yang luas dan menakjubkan ini. Hanya orang yang tidak bersyukur yang menganggap bahwa dunia ini mengerikan. Dulu ,aku sering mendengar kakakku, Nichchan mengutuk-ngutuk dunianya yang tidak adil. Entah apa yang merasuki pikirannya. Tapi dia jadi sering beradu mulut dengan Ayah dan akhirnya pergi dari rumah dan entah pergi kemana. Aku merindukannya, saudara perempuanku yang lainpun juga begitu. Kami semua merindukan Kak Nichchan dan semua cerita tentangnya. Aku juga selalu ingat akan janji Kak Nichchan padaku, dan dia belum sempat menepatinya sampai sekarang.

“Tuan Capung!” celetuk seseorang.

Aku tidak yakin jika orang itu memanggilku jadi aku diam saja dan mencoba berenang lagi dalam lamunanku.

“Tuan Capung, Hei!”

Aku menoleh ke arah suara itu dan melihat penampakan si gadis idiot tadi siang. Aku menaikkan alis kiriku dan mencoba menghiraukannya.

“Kau menghiraukanku? Baiklah Tuan Capung aku akan menyapamu dengan sopan” Gadis itu berjalan ke arahku dan membungkukan badannya. “Annyeong Haseyo6

Aku mendongakkan kepalaku sedikit dan mencoba terlihat congkak didepannya. Aku harus menunjukkan padanya jika dia tidak boleh mendekatiku atau aku akan ketularan idiot sepertinya. Aku melirik ke arahnya sebentar dan melihatnya masih menatap ke arahku dengan datar.

“Bukankah seharusnya kau juga membalas sapaanku, Tuan Capung?” kata gadis itu sambil memiringkan kepala ke kanan.

Aku menarik nafasku dan berbalik ke arahnya “Namaku bukan Tuan Capung, jadi jangan panggil aku Tuan Capung” kataku ketus.

Gadis itu meluruskan kepalanya dan manggut-manggut, “Baiklah, Tuan Capung Biru, bagaimana?” Dia melebarkan matanya dan melemparkan tatapan meminta jawaban padaku.

Aku menyipitkan mataku -yang notabene sudah sipit- sambil menggeleng miris. Berputar-putar pertanyaan seputar kewarasan gadis ini dikepalaku. Namun apa boleh buat, aku harus menjawabnya agar gadis ini cepat-cepat pergi dari sini.

Sunbae7, akukan kakak kelasmu jadi kau harus memanggilku Sunbae

Gadis itu menggeleng sambil mengerucutkan bibirnya “Jelek, tidak keren” jawabnya datar.

“Setidaknya itu lebih baik ketimbang Tuang Capung, Lalu jelaskan padaku atas dasar apa kau memanggilku Tuan Capung?”

Aku menatap gadis itu penuh dengan kekesalan. Rasanya lelah juga meladeni orang keras kepala seperti dia. Gadis itu tampak berpikir soal argumen apa yang akan dia sampaikan padaku, namun sebuah bus sedang bergerak kearahku. Dan aku merasa bersyukur karena akhirnya bisa lepas dari gadis idiot itu.

“Karena kau sangat menyukai capung” jawabnya enteng sambil tersenyum.

Lagi-lagi aku terpaku. Matanya tersenyum dengan indah. Aneh, kenapa aku bisa terpukau olehnya?

Suara klakson bus itu membuyarkan semua perasaan asing ini. “Aku tidak suka capung, jadi jj,jangan panggil aku Tuan Capung, mengerti?”kataku tergagap

“Tidak, aku tidak mengerti” katanya dengan tegas sambil bersidekap untuk menunjukkan betapa kukuhnya dia.

“Terserahlah!”

Aku segera masuk ke dalam bus dan mencoba untuk mengistirahatkan egoku. Tadi itu benar-benar menyebalkan. Kenapa tuhan mempertemukanku dengan orang labil semacam itu? Dan kenapa tingkat stress-nya bahkan melebihi Siwon?

Siang itu aku dan Siwon berjalan ke ruang ganti untuk berganti seragam baseball. Kalau boleh jujur sebenarnya aku tidak suka bermain baseball, tapi Ayah memaksaku untuk mengikutinya daripada aku mengikuti klub musik. Ayah bilang musik itu dapat meracuni pikiranku.

Kami melewati ruang seni rupa dan klub musik yang bersebelahan. Sebersit rasa iri tertoreh di dalam dadaku saat mengintip beberapa anak berlatih musik. Bagaimana rasanya menyentuh tut,tut piano itu dan bagaimana rasanya memainkan biola?

Siwon menepuk pundakku dan membuatku kaget “Kau kenapa?” katanya.

Aku menggelengkan kepalaku dan berkata “Tidak ada” sambil tersenyum kearahnya.

Siwon mengangguk sekali dan berjalan meninggalkanku. Sekali lagi aku mengintip ke dalam ruangan itu, namun aku disambut dengan tatapan sengit oleh anak-anal klub musik. Tanpa permisi, mereka membanting pintunya di depanku.

Sebelum aku melanjutkan langkahku ke ruang ganti. Aku mendengar sayup-sayup orang berbicara, aku menoleh ke belakang dan melihat Kim Taeyeon , anak kelas 10 yang sok itu sedang berjalan bersama si gadis idiot sambil menjelaskan apa-apa saja yang ada disekitarnya. Seperti biasanya gayanya yang sok itu membuatku gerah, jadi aku memutuskan untuk segera pergi ke ruang ganti.

“TUAN CAPUNG!!!”

Aku menghentikan langkahku, otakku sedang memutuskan haruskah aku berbalik atau tidak? Tidak, aku tidak akan berbalik, aku harus pergi ke ruang ganti, Sekarang Juga!

Aku segera melangkahkan kakiku dengan tegas ke arah ruang ganti. Menghiraukan panggilan si gadis idiot itu. Biar saja, aku tidak mau menanggung malu dengan panggilan ‘Tuan Capung’, maksudku. Aku adalah Nichkhun Buck Horvejkul, dan tidak ada yang pernah atau berani memanggilku aneh-aneh seperti itu. Gadis ini mungkin benar-benar tidak tahu siapa aku dan dengan siapa dia berurusan.

++

“Apa kau tadi memanggil orang itu?” kata Taeyeon dengan takjub.

“Apakah dia selalu seperti itu? Selalu menghiraukan orang-orang?” Tanya Tiffany.

Taeyeon menghela nafas dan membetulkan kacamatanya. “Tiffany Hwang, aku merasa bersalah tidak memberitahumu sejak awal,”

Tiffany memiringkan kepalanya ke kiri dan menggembungkan pipinya. “,Dia itu teman dekatnya Kak Siwon yang kemarin, jadi lebih baik kau jangan memanggilnya sembarangan” kata Taeyeon memperingatkan.

Tiffany benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan Taeyeon. Dia meluruskan kepalanya dan pura-pura paham, namun dalam hati dia benar-benar tidak bisa menerima peringatan itu.

“Namun, aku tetap akan memanggilnya Tuan Capung, itu cocok untuknya,” kata Tiffany sambil tersenyum percaya diri. “Oh ya, katanya kau mau menunjukkanku lapangan Baseball” kata Tiffany penuh semangat.

Taeyeon menggeleng kesal dan membenarkan kacamatanya sekali lagi. “Baiklah aku akan menunjukkannya padamu”

-To Be Continued-

1 =  Sebuah bola dalam permainan quidditch(Harry potter) yang sangat cepat

2 =  Sangat indah

3 =  Hei!

4 =  Apa?

5 =  Hei! Kau gila?

6 =  Halo

7 =  Kakak kelas atau Mas, versi perempuannya atau Mbak jadi Hoobae

“Udah merasa bingung? kalo bingung, maka readers adalah manusia yang masih normal, emang sengaja aku bikin bingung soalnya. Mungkin di bagian awal akan bingung, itu cewek apa cowok, but akhirnya, readers ngerti kan?

Oke, jadi di chapter pertama ini saya cuma mau menyampaikan awal pertemuan Tuan Capung (Nichkhun) sama Tiffany, dan sedikit tentang kehidupan Nichkhun yang terlihat sempurna, tapi sebenernya nggak juga. konfliknya belum keliatan, karena rencana akan dibikin di part 3

Mohon dukungannya dengan meninggalkan jejak seperti komentar, kritik, atau saran, tapi Plis! jangan nge-bash!

Terimakasih telah membaca FF random ini”

Himrasaki!!

13 Januari 2012

FF ini terpaksa aku post di blog baruku ini, karena blog lamaku ahnminra.wordpress.com di hack sama orang. semoga dia diampuni oleh yang maha kuasa

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

8 thoughts on “Capung Biru #1”

  1. yah… terlanjur ngikut suasana cerita + penasaran ceritanya tor 😦 masak dibiarin gitu aja? ane selalu setia menunggu lanjutan ceritanya kok tor 😀 Semangat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s