Hello Mr. Architect #Part 1

Hello Mr

Author: Ahnmr||Cast: Im Yoona (SNSD), Lee Jonghyun (CNBLUE), ??? || Support Cast: Jang Wooyoung (2PM), Seo Juhyun/Seohyun (SNSD), Kim Taeyeon (SNSD)|| Genre: (Masih ditanyakan) ||Rating: Teen||Lenght: Chapter (Insyaallah)||Disclaimer: All cast belong to GOD, i do not own anything, except the ideas.

iklan|

THIS STORY ONLY POSTED IN THIS BLOG, THANKYOU *Bow

Seorang laki-laki berlari tergopoh-gopoh ke arah kampus sambil membawa seekor anjing berbulu putih seperti salju di pelukannya. Kacamatanya hampir terjatuh namun dia selalu menjaga kacamatanya agar tidak jatuh. Dia terlihat sangat kesal dan kerepotan dengan anjing yang dibawanya, untung saja anjing itu tidak rewel seperti ketika pertama kali temannya membawa anjing itu padanya. Kali pertama dia berusaha bersahabat dengan anjing itu, dia selalu menyalak-nyalak padanya dan sama sekali tidak mau didekati, tapi ternyata setelah di beri makanan dia langsung mau menempel padanya. Tapi dia jadi sama sekali tidak bisa ditinggalkan, itulah yang membuat laki-laki itu bingung. Padahal untuk beberapa minggu ini dia selalu sibuk dan menghabiskan sebagian besar waktunya di kampus.

“Wooyoung-ah!” teriak seseorang. Wooyoung langsung menoleh dan melihat seorang gadis dengan gaya yang sangat sederhana – kaos putih dengan jaket denim yang lengannya sedikit robek, dan celana jeans. Gadis itu berjalan santai seraya mengembangkan senyum kearahnya.

“Yoong, kemana saja kau?” kata Wooyoung kesal.

“Aku baru bangun, saat melihat pesan darimu aku langsung berlari ke sini, kenapa?” kata Yoona santai. Gadis itu selalu terlihat santai dan hidup tanpa beban. Sehingga tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya kehidupannya lebih rumit dari yang nampak. Yang mereka tahu Yoong adalah gadis yang ceria. Yoong itu seperti preman. Dan Yoong adalah wanita yang tidak bisa dilihat sebagai wanita.

“Kau tidur di kampus lagi?” tanya Wooyoung dengan tatapan miris. Yoona mengangguk dengan tatapan datar, kemudian dia mengedikkan dagu, memberikan pertanyaan balik pada Wooyoung yang artinya ‘kenapa?’

“Aku sampai tidak yakin kalau kau ini perempuan Yoong” kata Wooyoung menyindir, masih dengan tatapan miris. “Ah, baiklah aku langsung saja,”

“Oh,” pekik Yoona “Anjing itu lucu sekali, Omo! Dia sangat menggemaskan,” kata Yoona sambil mengelus-elus kepala anjing yang tertidur itu. “Dari mana kau dapat anjing lucu ini?” kata Yoona tanpa mengalihkan pandangan dari makhluk paling lucu dan imut yang pernah dilihatnya.

“Ini bukan anjingku, ini anjing temanku” kata Wooyoung dengan lebih enteng, karena dari tadi sepertinya dia terlihat sangat terbebani.

“Lalu, bagaimana bisa ada padamu? Setahuku, kau sama sekali tidak suka memelihara makhluk hidup” Yoong melirik Wooyoung sebentar dan langsung mengalihkan pandangannya kepada anjing berbulu putih itu.

“Itu dia masalahnya, aku tidak bisa mengurus makhluk semacam ini, aku sama sekali tidak cocok untuk pekerjaan semacam ini,” kata Wooyoung tanpa koma “Maukah kau mengurusnya? Hanya seminggu saja, minggu ini aku sedang mengerjakan skripsi, jadi akan sangat sibuk, tolong ya? tolong ya?” pinta Wooyoung sambil menyodorkan anjing itu pada Yoona.

Yoona mengangkat alisnya ,kemudian melirik tajam ke arah Wooyoung. Wooyoung mengartikan ekspresi wajah itu sebagai ‘tidak’ dan dia pun langsung mendengus dan berdecak kesal.

We-yo?” tanya Yoona. Wooyoung menggeleng dan hampir melangkah pergi saat Yoona berkata “Baiklah, Siapa sih yang mau menolak makhluk selucu itu?” kata Yoona sambil tersenyum menyebalkan.

Sore itu Jonghyun merebahkan dirinya diatas sofa hotel. Dia harus meninggalkan Seoul selama seminggu penuh untuk pekerjaannya di Busan. Dan yang mengesalkan baginya, di sini sangat membosankan dan menjenuhkan. Walaupun di luar hotel banyak sekali jajanan-jajanan yang menggiurkan. Tapi itu tidak membuat dia ingin keluar, dia sangat lelah karena seharian dia harus kesana kemari untuk melihat bangunan yang di desainnya dikerjakan dengan sempurna. Memastikan ini itu, dan mengkoreksi yang salah. Dan yang membuatnya lebih kesal lagi, dia harus berpisah dengan satu-satunya sumber kesenangannya.

“Apa kau baik-baik saja?” gumam Jonghyun. Dia mencoba menahan tangisannya, sehingga tenggorokannya sangat sakit.

Jonghyun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari-cari sesuatu yang bisa dikerjakannya. Dan dia menangkap sebuah buku yang tergeletak di atas meja yang ada di dekat kasur hotel. Jonghyun bangun dari sofa itu dan berjalan mendekati buku itu. Dia ingat tadi siang rekannya memberikan buku itu padanya. Katanya buku itu sangat bagus, tapi Jonghyun sudah tahu apa isi buku itu, bahkan sebelum dia membacanya. Dia tahu siapa penulis buku itu, bahkan dia mengenalnya, dulu.

Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Dia mengambil buku itu dan membaca sinopsisnya sambil tertawa.

“Huh, terlalu berlebihan” cibirnya.

Dan dia duduk di sana, di taman yang berada tidak jauh dari kampus. Yoona bingung, dia tidak berani pulang dan dia tidak tahu cara mengurus anjing itu. Semenjak dia di pecat dari pekerjaannya ,dia seperti kehilangan tujuan hidup. Dia tidak berani pulang karena jika dia pulang, maka Ayahnya akan memukulnya. Dan jika dia tidak pulang, dia tidak tahu mau diapakan Anjing itu. Uangnya tinggal beberapa won saja dan itu hanya cukup untuk jatah sarapan seminggu. Jika dibagi dengan jatah makan anjing itu juga, Yoona tidak tahu akan sekurus apa tubuhnya nanti.

“Huh, Wooyoung bahkan tidak memberitahuku siapa namamu, bisakah kau memberitahuku namamu?” tanya Yoona pada anjing putih itu yang tertidur pulas di pangkuannya.

Sore itu, dia duduk di kursi taman sambil membelai bulu anjing itu dengan kasih sayang. Yoona tersenyum tipis dan menghela nafas. “Snowy? Wah, bagus sekali, nama itu cocok untukmu” Yoona terdengar seperti orang gila, karena dia berbicara sendiri. Jawaban tadi muncul dalam benaknya, dan kenyataannya Yoona hanya mengarang percakapan dengan Anjing pemalas itu.

Tiba-tiba Yoona ingat ketika dia tidak sengaja menumpahkan kopi pada seorang perempuan kaya di kafe itu. Rasanya dia ingin marah-marah sekarang. Hanya karena masalah sepele seperti itu dia sampai di pecat. Apa mereka tidak berpikir bagaimana sulitnya bertahan hidup bagi orang yang tidak berada sepertinya? Andai mereka merasakan apa yang dirasakan Yoona, mungkin mereka tidak akan tega membuatnya dipecat. Dia ingin menyalahkan perempuan itu, laki-laki manis berlesung pipit indah itu, dan manajernya. Tapi hatinya tidak sekotor itu untuk bisa menyalahkan orang lain, dengan lapang dada dia menerimanya, walaupun awalnya dia sangat-sangat tidak rela.

“Guk!Guk!” Yoona terbangun dari lamunannya, Tiba-tiba Snowy melompat dari pangkuan Yoona dan berlari ke arah seorang gadis kecil.

“Snowy!” teriak Yoona sambil berlari mengejar Snowy. Snowy menggonggong manja ke arah seorang gadis kecil dengan baju berwarna pink, dan celana panjang berwarn putih. Gadis kecil itu tertawa dan melompat-lompat di depan Snowy, sedangkan Snowy menggerakan kepalanya mengikuti gadis itu. Hal itu membuat Yoona tersenyum simpul, namun dia ingat bahwa anjing itu adalah amanah dari teman Wooyoung, jadi dia harus menjaganya agar tidak hilang. “Snowy” panggil Yoona melemah. Yoona segera berjongkok dan menggendong Snowy.

Eonni, apa itu anjingmu? Kenapa kau mengambilnya” tanya gadis itu.

“Ini anjing temanku, tapi aku bertugas menjaganya, jadi aku harus menjaganya agar tidak hilang” kata Yoona sambil tersenyum manis ke arah gadis itu.

Air muka gadis itu berubah. Dia cemberut dan pipinya memerah, tiba-tiba gadis kecil itu menangis dan Yoona menelan ludah. Dia benar-benar merasa bersalah membuat gadis itu menangis.

Mianhae-yo, Aku benar minta maaf tapi ini bukan anjingku, dan aku harus menjaganya” kata Yoona membela diri.

Sambil menggendong Snowy, Yoona menepuk-nepuk lengan gadis itu pelan agar dia tidak menangis.

“Gu Hyejin? Kenapa kau menangis?” tanya seorang ibu-ibu yang berumur sekitar akhir 40-an, ke arah gadis itu.

Eonni itu mengambil anjingku” kata Gadis kecil bernama Hyejin itu. Yoona yang serasa dituntut sebagai terdakwa hanya bisa terpaku sambil mendongak melihat ke arah Ibu itu dan Si kecil Hyejin.

“Tapi itu memang anjing miliki kakak itu, Hyejin” kata Ibu itu.

Ibu itu melihat ke arah Yoona dan tiba-tiba dia terpaku untuk sesaat. Yoona yang tidak mengerti melihat takut-takut pada ibu itu. Ibu itu membungkuk dan tersenyum ke arah Yoona.

“Maafkan anak saya, Anda pasti bisa memakluminya, dia hanya anak kecil” kata Ibu itu.

Yoona mengangguk sambil tersenyum. “Tidak apa-apa, Saya mengerti bagaimana perasaannya” kata Yoona.

“Ayo Hyejin! Kita pulang sebelum hari bertambah gelap” kata Ibu itu dengan senyum bersahaja yang menenangkan.

“Snowy! Katakan ‘Dah’ pada Hyejin” kata Yoona sambil mengangkat tangan Snowy dan melambaikannya pada Hyejin. Hyejin tersenyum getir dan mengikuti langkah Ibunya.

Yoona berdiri dari posisi jongkoknya dan membelai Snowy. “Seandainya aku punya ibu seperti itu, pasti akan sangat menyenangkan” Kata Yoona berharap.

Seohyun menemukan Yoona tertidur di kampus lagi, tepatnya di auditorium yang esoknya akan dibuat sebagai latihan teater. Dia bermain bersama Snowy selagi Yoona tidur. Dan hebatnya, Yoona sama sekali tidak bangun karena keramaian itu.

“Guk!Guk!” Gonggong Snowy. Seohyun senang jika mendengar gonggongan itu. “Tangkap!” kata Seohyun.

Mendengar itu, perlahan kelopak mata Yoona terbuka. Dilihatnya Seohyun sedang bermain lempar tongkat bersama Snowy, dan kegembiraan itu terlihat tidak bisa diganggu gugat. Yoona menguap dan bangun dari posisi tidurnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk membuat otot lehernya enak.

“Si pemalas sudah bangun” kata Seohyun pada Yoona.

Yoona mengangguk dan menggaruk-garuk lehernya, dia masih sangat mengantuk setelah mengerjakan tugasnya semalaman di tempat ini. Sudah sekitar tiga hari dia selalu tidur disini, dan sudah banyak yang tahu, tapi tidak ada yang tega mengusirnya, atau berbaik hati mengajaknya menginap di rumah mereka.

“Yoong, kau mandi gih, berapa hari kau tidak mandi?” tanya Seohyun.

“Aku mandi setiap hari tahu, ini, aku baru saja mau mandi, aku titip Snowy ya?” kata Yoona sambil mengambil tas selempangannya yang semalaman dibuatnya untuk bantal.

“Baiklah, tapi cepat ya!”

“Iya” jawab Yoona setengah mengantuk. Dia turun dari panggung dan berjalan ke kamar mandi khusus yang terletak di dekat rumah penjaga kampus.

Yoona merantai anjing itu di rumah anjing yang ada di dekat pos satpam. Karena Satpam sudah berbaik hati membiarkannya tidur di ruang teater, jadi, untuk anjing tidak, karena itu akan mengganggu kegiatan di kampus. Yoona tidak rela jika harus berpisah dengan Snowy, karena anjing itu sangat menggemaskan dan tanpa diminta dia adalah teman terbaik Yoona untuk beberapa hari ini.

Bbali Ga!” usir Satpam itu ketika Yoona memberi salam perpisahan pada Snowy.

“Iya ,Pak! Sabar” Sergah Yoona kesal.

Yoona tersenyum pada Snowy dan melemparkan tatapan kesal pada Satpam cerewet itu, baru setelah itu dia menghambur pada Seohyun yang sedari tadi menunggu di sana sambil membaca karya sastra lama, yang Yoona tidak mengerti.

“Sudah?” tanya Seohyun.

Yoona mengangguk bahagia, hari ini terasa lebih mudah dan indah dari biasanya. Dan hari ini entah kenapa, Yoona bisa tersenyum dengan lebih ringan.

Hari kelima ,malam itu Jonghyun pergi ke jalanan Busan dan mencicipi beberapa kuliner populer yang ada di sana. Walaupun banyak sekali pilihan dia lebih memilih makan usus babi, Itu saja dan dia merasa sudah kenyang. Jonghyun bahkan mengakui bahwa beberapa hari ini dia merasa sangat puas walaupun sebenarnya dia sedang mengalami homesick. Mengingat Homesick dia jadi ingat tentang buku yang dibacanya di kamar hotel. Buku novel dari rekannya yang katanya sangat bagus itu. Namun saat dia membacanya, serasa perutnya di kocok dan sama sekali tidak romantis seperti yang dikatakan rekannya.

“Aku sudah membaca buku itu, Junho-ah” kata Jonghyun pada Junho yang tengah menikmati supnya.

“Bagaimana? Bahasanya bagus bukan? Alurnya mengalir dengan apik, dan kudengar itu diambil dari kisah nyata” kata Junho dengan gaya berlebihannya.

“Ya, aku tahu jika itu di ambil dari kisah nyata, tapi bukankah menurutmu itu berlebihan?” tanya Jonghyun mencoba menanamkan pemikirannya pada Junho.

“Tidak ,ah! Malah menurutku ceritanya sangat keren, walaupun itu adalah novel percintaan” kata Junho, meyakinkan Jonghyun.

“Cerita aslinya tidak seseperti itu, ceritanya lebih sederhana dan realistis,”

“Cara bicaramu seperti tahu cerita aslinya saja” cibir Junho.

“Aku memang tahu” kata Jonghyun diikuti senyum picik.

Istri penjaga kampus merasa kasihan pada Yoona, karena tiap-tiap hari melihatnya di kampus, tinggal di kampus, mandi di kampus. Dia mulai berpikir jika Yoona adalah Tunawisma. Pemikiran itu ada benarnya, secara teknis Yoona tengah jadi seorang tunawisma, namun itu hanya sementara. Sampai dia dapat pekerjaan magang lagi dan berani pulang ke rumah.

Bu Yun, Istri penjaga kampus alias ibu-ibu yang berjualan di kantin itu mendekati Yoona yang sedang makan dengan santai seperti biasanya bersama teman-temannya, Wooyoung, Seohyun, dan Taeyeon. Kebetulan Yoona duduk di pinggir sehingga Bu Yun dapat memberikan Yoona sebungkus makanan.

Kejadian itu sangat cepat, sehingga Yoona harus celingukan kesana kemari untuk melihat siapa orang yang meninggalkan makanan itu di sana. Akhirnya Yoona berdiri dan mengacungkan bungkusan makanan itu di udara.

“SIAPA YANG MENJATUHKAN MAKANAN INI DI MEJAKU?” tanya Yoona dengan lantang.

Tidak ada yang menghiraukan Yoona, Taeyeon yang malu akan hal itu langsung menarik jaket Yoona dan menyuruhnya duduk.

“Yoong, itu tidak dijatuhkan, itu untukmu” katanya jengkel. Yoona mengerutkan dahi dan menoleh ke arahnya.

“Siapa yang tega memberikanku ini? aku bukan pengemis” kata Yoona kesal.

Taeyeon mendesah kesal, dia tidak mengerti jalan pikiran Yoona. Semua orang tahu jika Yoona bukanlah orang kaya, hal itu bisa terlihat dari caranya berpakaian. Dan Taeyeon sebagai teman dekatnya tahu jika Yoong baru saja dipecat dari pekerjaannya dan tidak diberi pesangon yang layak oleh bosnya. Seharusnya dia bersyukur jika ada seseorang yang berbaik hati memberi makanan padanya. Dan Yoona tidak boleh menolak rejeki itu.

“Sudah terima saja, mungkin dia tahu kau sedang kesulitan” imbuh Wooyoung sembari membenarkan kacamatanya.

“Iya ,Yoong” kata Seohyun.

Yoona mengangguk dan meletakkan makanan itu di meja.

“Mungkin aku akan memberikannya pada anjing itu, dia hanya makan sedikit beberapa hari ini, oh ya Wooyoung-ah, anjing itu benar-benar pemalas, dia hanya tidur setiap saat” kata Yoona pada Wooyoung.

Sambil menelan makanannya Wooyoung mengangguk ke arah Yoona. Dia membenarkan perkataan itu. “Mungkin karena kau jarang bermain dengannya” katanya.

“Ck, jadi jika aku mengajaknya bermain lebih sering, dia akan lebih aktif?”

“Mungkin”

Taeyeon yang tidak mengerti apa percakapan itu tiba-tiba nimbrung, tidak mau kalah “Anjing apa?”

“Anjing temanku, dia menitipkannya padaku karena dia harus pergi keluar kota, tapi kau tahu sendirikan, jika aku tidak bisa merawat piaraan seperti itu, jadi kutitipkan saja pada orang ini,” Wooyoung mengedikkan dagunya pada Yoona sambil membersihkan mulutnya dengan tissue. “Oh iya Yoong, orang itu akan kembali besok, bisakah kau kembalikan padanya, aku ada pertemuan dengan dosen pembimbing besok” Kata Wooyoung dengan mudahnya.

“Aku tidak tahu alamat, ataupun orangnya, bisa-bisa dia pikir aku adalah penculik anjing” Tolak Yoona mentah-mentah.

“Ayolah Yoong, kau pasti suka, dia arsitek lho” Kata Wooyoung mengiming-imingi.

“Memangnya kenapa kalau arsitek, aku tidak peduli”

Seohyun yang mendengar pernyataan Yoona barusan, terkekeh geli. “Benarkah kau tidak peduli? Lalu kenapa kau pernah bilang padaku jika kau tergila-gila pada arsitek?” Seohyun mengejek.

“Aku tidak pernah bilang begitu” Yoona membela diri.

“Jelaskan padaku, kenapa kau menulis tipe laki-laki yang kau suka haruslah arsitek?”kata Taeyeon sambil tersenyum menggoda pada Yoona.

“Kenapa kalian memojokkanku seperti itu? Ini semua karena Wooyoung” kata Yoona menyalahkan.

Wooyoung merogoh kantong kemejanya dan mengeluarkan sesuatu dari sana, sebuah kertas bertuliskan sebuah alamat.

“Ini alamatnya, dan jika kau masuk ke dalam gedung apartemen itu, sembunyikan anjing itu, jangan sampai ada yang tahu ,oke?”

“Tunggu, aku belum berkata iya”

“Ya Sudahlah Yoong, siapa tahu dia tampan” imbuh Taeyeon sambil menyenggol bahu Yoona.

Wooyoung dan Seohyun ikut tertawa melihat pipi Yoona yang tiba-tiba memerah. Selama sepersekian detik Wooyoung mencuri pandangan ke arah Taeyeon , dia tersenyum manis dan tertawa lagi ketika Yoona mulai bertingkah konyol pada Taeyeon.

Akhirnya, dengan segala upaya, Yoona berhasil menyelundup ke dalam apartemen mewah itu bersama Snowy. Yoona yang seumur-umur baru pergi ke sana sekali ,terkagum-kagum. Bahkan dia pusing ketika menaiki lift, sehingga dia turun di lantai lima, dan meneruskan ke lantai sebelas dengan menaiki tangga. Sekalipun itu melelahkan, Yoona tampak lebih baik ketimbang saat dia menaiki lift. Setiap Yoona berhasil menaiki satu lantai, dia memastikan keadaan snowy yang ditaruhnya di dalam tas punggung.

Yoona menghela nafas panjang ketika dia sampai di lantai sebelas. Dia terengah-engah dan berjalan loyo ketika keluar dari pintu tangga darurat. Dia melihat ke sekeliling memastikan bahwa tidak ada orang yang lewat. Setelah itu dia mengendap-endap ke arah pintu nomor 1115. Kemudian dia menaruh tas punggung itu di depan dadanya dan berdiri merapat ke tembok. Dia membuka resleting tasnya lebih lebar, dan menyapa Snowy yang memandangnya dengan tatapan memelas.

“Snowy? Kau kenapa?”

“Aku sudah berada di depan apartemenmu, aku juga sudah membawa Vanilla ke sana” kata Wooyoung berbohong lewat telepon.

Jonghyun tersenyum sambil berjalan bersama kopernya ke arah lift. “Terimakasih, maafkan aku ya, karena sudah merepotkanmu” kata Jonghyun dengan hati yang sangat gembira.

“Tidak masalah” sahut Wooyoung. Wooyoung terkikik pelan di balik telepon dan segera mematikan teleponnya.

Yoona sesenggukan dia tidak tahu apa yang terjadi pada Snowy, tiba-tiba saja Snowy bersin-bersin. Dia takut jika terjadi sesuatu pada Snowy. Snowy terkulai lemas di pangkuannya. Dan yang bisa dilakukan Yoona hanya menangis dan menyesali dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Snowy dengan baik.

Terdengar suara pintu lift terbuka. Yoona semakin khawatir. Bagaimana jika itu petugas keamanan, batinnya. Tapi rasa khawatir itu tidak lebih besar dibandingkan rasa khawatirnya pada Snowy.

Langkah kaki itu terasa semakin dekat dan tangis Yoona semakin deras. Dan Yoona melihat sepatu kets dan koper berwarna hitam.

“Apa yang kau lakukan pada Vanilla-ku?” kata orang itu.

Yoona mendongakkan kepalanya dan melihat wajah yang sangat familier baginya. Namun dia terlihat sangat berbeda. Laki-laki itu menatap nanar Snowy ,dia menjatuhkan barang bawaannya dan berjongkok mengambil  Snowy lalu mendorong Yoona hingga terjatuh. Dia menangis sesenggukan sambil memeluk Snowy.

“Vanilla!Vanilla!” katanya parau.

Kemudia laki-laki itu melirik tajam ke arah Yoona. “Apa yang kau lakukan pada Vanilla?” katanya.

Yoona terdiam, dan bingung. Dia masih sesenggukan dan merasa sangat kesal.

Laki-laki itu,,,

,,adalah laki-laki yang membuatnya di pecat.

— To Be Continued —

Gampang ditebak ya? hehehe,,

maafkan segala typo dan kesalahan penataan tulisan, jika sempat maka akan di edit.

Terimakasih karena sudah membaca. dan jika tidak keberatan maka saya ingin anda memberi support dengan menulis komentar di bawah ini. Tolong kritik dan saran, tapi tolong jangan nge-bash, itu tidak baik

HIMRASAKI.

Ahnmr

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

15 thoughts on “Hello Mr. Architect #Part 1”

  1. waii… penasaran XD
    Apalagi disini Jonghyun yang bikin Yoona dipecat dan *as usual* sikapnya Jonghyun dingin.. wkwk
    Oke, ditunggu chapter duanya ya uli.. Fighting!’O’)9

  2. wooyong kurang ajar. aaaaa yoona jd dimarahin ini pst. yoona udh ngerawat snowy terus malah disuru anterin ke yg punya. dikasi apa kek terus buat yoona kasian dia huhu

    dan jonghyun …. disini karakternya lagi2 dingin ma yoona ya hiks

    penasarann…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s