Hello Mr. Architect #Part 2

Hello Mr

Author: Ahnmr||Cast: Im Yoona (SNSD), Lee Jonghyun (CNBLUE), ??? || Support Cast: Jang Wooyoung (2PM), Seo Juhyun/Seohyun (SNSD), Kim Taeyeon (SNSD)|| Genre: (Masih ditanyakan) ||Rating: Teen||Lenght: Chapter (Insyaallah)||Disclaimer: All cast belong to GOD, i do not own anything, except the ideas.

Iklan|Part 1|

THIS STORY ONLY POSTED IN THIS BLOG, THANKYOU *Bow

Karena Yoona merasa bertanggung jawab, dia membuntuti laki-laki itu masuk ke dalam bus. Laki-laki itu menangis sambil mengelus-elus Snowy yang terbungkus jaket tipis miliknya. Yoona duduk di kursi yang ada di belakangnya. Bagaimanapun juga Yoona merasa bahwa Snowy lebih berarti dari apapun di dunia ini sekarang. Dan dia merasa sangat dekat dengannya walaupun dia hanya seekor anjing yang dirawatnya selama kurang dari seminggu.

Tangisannya tidak sekeras tangisan laki-laki itu, namun perasaannya lebih tercabik-cabik darinya. Pertama Snowy sakit karena dia. Kedua dia merasa sangat-sangat bersalah, karena tidak bisa menjadi seorang ibu yang baik bagi Snowy. Ketiga, dia sakit hati karena di dorong oleh laki-laki itu. Keempat, dia masih mendendam pada laki-laki itu karena telah membuatnya di pecat.

Laki-laki itu buru-buru turun di sebuah tempat praktik dokter hewan dan Yoona berjalan pelan di belakangnya.

“Kenapa kau mengikutiku?” katanya galak. Yoona tidak menghiraukan perkataan laki-laki itu dan tetap berjalan di belakangnya.

Laki-laki itu mendengus dan merangsek masuk ke dalam ruang tunggu. Yoona berhenti di depan pintu dan melihat laki-laki itu berkata sesuatu pada seorang dokter dengan panik.

Yoona menghapus air mata yang mengalir di pipinya dan berjalan masuk ke dalam. Dilihatnya laki-laki itu masih terisak dan duduk diliputi rasa khawatir di sebuah kursi kayu panjang.

Mianhae-yo” kata Yoona pelan-pelan.

Laki-laki itu menyeringai tajam padanya dan membuang pandangan dari Yoona. Hal itu membuat Yoona semakin merasa bersalah. Dia, dengan tidak yakin duduk di sebelah laki-laki itu dan membuang muka. Semakin dia berada di dekat laki-laki itu, dia semakin ingin menggamparnya karena telah tega membuatnya di pecat.

“Apa yang kau lakukan disini?” kata laki-laki itu lebih sarkastis dari sebelumnya.

Yoong menoleh ke arahnya dan mengambil nafas panjang “A,,aku ingin tahu, apakah Snowy baik-baik saja” katanya ragu.

Laki-laki itu tersenyum picik “Snowy? Lancang sekali kau mengubah nama Vanilla, kau pikir kau siapa ha?”

Yoona menangkis kata-kata tajam itu dengan polosnya. “Aku tidak tahu namanya, Wooyoung tidak memberitahu apapun padaku selain menyuruhku untuk mengurusnya, Sungguh”

“Aku tidak ingin mendengar apapun darimu,” kata laki-laki itu dingin. Dia berdiri dan menatap Yoona sengit “Pergi dari sini! Aku tidak ingin melihatmu lagi! Pergi!” bentaknya.

Yoona tersentak, ternyata laki-laki ini lebih buruk dari yang dia bayangkan. Menurut Yoona sifatnya sangat kekanak-kanakan.

“Apakah Snow,, Vanilla akan baik-baik saja?” tanya Yoona.

“Bukan urusanmu, Pergi! Atau aku perlu menyeretmu keluar?”

“Baiklah!,” kata Yoona dengan dada yang meradang, dia tidak bisa lagi menyembunyikan kekesalan dan kemarahannya pada laki-laki itu. Dia berdiri dan menatap laki-laki itu dengan berapi-api “Aku akan pergi, tapi kau perlu tahu satu hal, Tuan! Kau telah membuat hidupku kacau, dan aku tidak akan memaafkanmu”

Jonghyun masih menatap gadis itu dengan kesal, dia tidak mengerti apa yang dikatakannya. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa dia bisa jadi orang yang ‘telah mengacaukan’ hidup gadis itu. Apa ini semua karena aku memarahinya? Batin Jonghyun. Tapi tidak mungkin sesederhana itu. ini pertama kalinya dia melihat gadis itu dan bertemu dengannya. Tapi sikap gadis itu seakan-akan pernah bertemu dengannya.

“Kenapa aku mengacaukan hidupmu?” kata Jonghyun sambil mengerutkan kening.

“Hah, kau sendiri bahkan tidak ingat, betapa egoisnya dirimu” desisnya. Gadis itu akhirnya keluar dari tempat itu dan tidak berbalik lagi untuk sekedar melihatnya.

Jonghyun berkacak pinggang, pandangannya masih mengikuti arah gadis itu pergi. Seumur-umur baru kali ini dia dituntut melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya oleh seseorang yang tidak dia kenal. “Apa yang salah dengan gadis itu?”

Pikiran Jonghyun yang awalnya dipenuhi kekhawatiran akan Vanilla. Kini mulai dipenuhi oleh kebingungannya akan gadis itu. Dia tidak mengenalnya, atau pernah bertemu dengannya sebelum ini. Jadi atas dasar apa gadis itu menuduhnya?

Hyung?” tebak Jonghyun dengan bergumam. Jonghyun mengepalkan tangannya dan menempelkan pada bibirnya. “Mungkin dia”

“Jonghyun-ah!” panggil seseorang berjas putih, yang tak lain dan tak bukan adalah pamannya, Lee Seokjin

Jonghyun menghambur ke arah pamannya dan menanyakan bagaimana keadaan Vanilla “Bagaimana keadaannya?”

“Dia kedinginan, mungkin karena dia tidak terbiasa dimandikan dengan air dingin”jawab Paman Seokjin.

Jonghyun mengintip ke dalam ruang praktik dan melihat anjingnya sedang tertidur pulas di atas meja praktik. “Aku rasa, gadis bodoh itu yang memandikannya dengan air dingin” ungkap Jonghyun.

Paman Seokjin terkekeh , dia menepuk bahu Jonghyun “Jangan begitu, gadis itu sepertinya terlalu menyayangi Vanilla, hanya saja dia tidak mengerti bagaimana cara merawatnya dengan baik”

“Aku tidak peduli, yang jelas, dia telah membuat Vanilla jatuh sakit, padahal dia adalah anjing yang sangat sehat dan aktif jika bersamaku”

Paman Seokjin menghela nafas panjang dan melirik ke arah Jonghyun yang tengah menyaksikan Vanilla dengan kasihan. “Aku mendengar percakapanmu dengan gadis itu tadi” kata Paman Seokjin dengan nada bijaksana.

Jonghyun mengalihkan pandangan pada Paman kesayangannya. “We?” tanya Jonghyun bosan. Dia sudah bisa menebak jika Paman Seokjin akan menceramahinya panjang lebar.

“Aku hanya akan berkata sedikit” Kata Paman Seokjin seakan membaca pikiran Jonghyun. “ ,Gadis itu terdengar benar-benar peduli pada Vanilla”

Bukannya mendengarkan dengan serius, Jonghyun malah sibuk sendiri memperhatikan kuku-kukunya yang panjang dan tidak rapi. Dia baru saja berniat akan memotong kukunya ketika sampai di apartemen.

“Baiklah, kau akan mengerti suatu saat nanti” kata Paman Seokjin mencoba terdengar biasa saja di balik kekesalannya.

“Apa?” tanya Jonghyun yang sepertinya baru sadar.

Paman Seokjin menggeleng, dia menaikkan alis kanannya dan tersenyum kecil pada Jonghyun. “Kurasa, lebih baik Vanilla berada di sini sampai besok, kau pasti lelah setelah dari Busan, Pulanglah! Tak usah terlalu mengkhawatirkan Vanilla”

“Tapi, dia akan baik-baik sajakan?” tanya Jonghyun.

“Kurasa” Ujar Paman Seokjin.

Jonghyun mendesah pelan dan tersenyum ke arah Paman Seokjin. Dia tahu Pamannya baru saja berjanji akan menjaga Vanilla yang sedang sakit. Dia percaya Pamannya dapat diandalkan.

Tas dan barang-barangnya masih berserakan di depan pintu apartemen seperti semula. Jonghyun mengambil Koper dan tas ransel berwarna hitam yang tergeletak tidak jauh dari kopernya. Setelah itu dia membuka pintu apartemennya dengan kunci magnet. Dan pintu itupun terbuka, menyambut Jonghyun dengan bau pengap yang sangat mengganggunya. Namun Air Conditioner-nya segera menyala dengan otomatis, jadi Jonghyun tidak perlu menghadapi pengap lebih lama.

Dia meletakkan barang-barang itu di samping sofa ruang utama apartemennya. Dia langsung menghempaskan diri ke sofa dan mencoba menutup matanya perlahan. Menghilangkan letih dan beban pikirannya untuk sementara agar dia bisa tidur pulas tanpa mimpi buruk.

Hanya Yoona yang mengerti pemandangan apa yang tengah ia saksikan. Anak laki-laki berumur sekitar enam belas tahun itu duduk di luar rumah, memeluk lutut dan terlihat gusar. Rambutnya tertiup angin yang tega membuatnya kedinginan. Padahal dia hanya memakai kaos putih lengan pendek dan celana selutut berwarna khaki.

Yoona tidak tahu bagaimana dia bisa sampai lagi di depan rumahnya. Dia mengintip dari balik tembok rumah tetangganya. Melihat adiknya yang tersiksa karena digigit angin malam.

“Jaebum” panggilnya pelan, sehingga tidak mungkin bagi anak laki-laki itu untuk mendengarnya.

Sudah seminggu semenjak dia tidak pulang, karena takut dimarahi Ayahnya. Dan kini yang harus jadi bayarannya adalah, Jaebum.

Membayangkan bagaimana Ayahnya akan memukulinya lagi, dia jadi takut. Tapi bagaimana dengan Jaebum? Apa Ayahnya menyuruh Jaebum untuk tidur di luar lagi?

Kepala Adiknya itu bergerak, dia merasa seseorang sedang mengawasinya sehingga dia celingukan kesana kemari mencari siapa orang itu. Namun dia tidak menemukan siapapun selain jalanan kecil yang hanya bisa dilewati oleh motor dan pejalan kaki.

Yoona bersembunyi di balik tembok dan menangis lagi. Membayangkan bagaimana dia akan hidup untuk hari-hari selanjutnya saja sudah berat, lalu bagaimana dengan adiknya yang acap kali di siksa oleh Ayahnya hanya karena dia sekolah. Tapi Yoona sendiri takut, itu juga alasan kenapa dia tidak mau pulang.

Sebelum Jaebum menyadari bahwa Yoona ada di sekitar situ, Yoona mengendap-endap pergi diikuti dengan hati yang berat.

“Apa-apaan ini?” kata Jonghyun ketika melihat buku-buku di dalam ransel hitamnya. Sepertinya kemarin tasnya berisi baju-baju kotor. Lalu kenapa sekarang berisi buku-buku?

Jonghyun mendengus dan membanting tas itu ke samping. Pasti tasnya tertukar. Tapi dimana?

Dia mengingat-ingat lagi kapan dia harus melepas tas ransel itu dari tangannya. Taksi? Tidak mungkin barang itu tertinggal di taksi, karena dia sudah menurunkan semua barangnya dari dalam  bagasi taksi. Pikirannya melayang pada kejadian kemarin sore, ketika dia melihat Vanilla terkulai lemas dan dia menjatuhkan semua barangnya.

“dia?”tanya Jonghyun pada dirinya sendiri. Dia berdiri dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja pendek yang berada diantara TV dan Sofa. Dia membuka kontak ponselnya mencari-cari nama Jang Wooyoung diantara banyak nama. Pasti Wooyoung mengenalnya karena tidak mungkin Vanilla ada pada gadis itu begitu saja, itu pasti karena Wooyoung. “Si Pemalas itu,, Sungguh” Jonghyun menggeretakkan giginya karena kesal sembari menelpon Wooyoung.

Dia sedang berada di dalam bus pagi itu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, membuatnya terkejut setengah mati karena dia benar-benar mengantuk.

Yoona mengangkat telepon itu dan menjawabnya dengan malas, “Iya, kenapa lagi Ahjussi?”

“Yoong! Dimana kau? Kenapa kau belum sampai kampus hah?”teriak Wooyoung dari balik telepon.

Matanya masih sayu ,dia mengusap hidungnya untuk menghilangkan ingus yang tiba-tiba mengalir begitu saja. “Kenapa tiba-tiba kau mengkhawatirkanku seperti itu?” tanya Yoona percaya diri.

“Cih, Apa kau sudah melihat isi tasmu? Maaf, apa kau bahkan sadar jika itu bukan tasmu?”

Yoong meraih tas yang ada disampingnya dan memastikannya dengan asal-asalan. “Ya, ini tasku”

“Lihat isinya!” Wooyoung menyuruh.

Yoona masih kesal karena bangun-bangun dia sudah dibentak-bentak oleh teman kurang ajar yang satu itu. Berkali-kali, temannya itu terus merepotkannya dan membuatnya ikut kencan buta tanpa seijin Yoona. Tentu saja tak luput dari partisipasi dua orang lainnya, Seohyun dan Taeyeon yang tak pernah lelah mencarikan Yoona seorang tambatan hati. Tapi semua itu percuma saja, karena Yoona tidak pernah tertarik dengan orang yang baru saja ditemuinya, hanya satu orang yang masih terus melekat dihatinya. Laki-laki yang membuatnya dipecat. Walaupun lama kelamaan perasaannya semakin terkikis akibat sikapnya yang sangat-sangat kasar.

Dengan terpaksa Yoona melihat isi tasnya, bukan buku-buku kuliah yang selalu dibawanya, tapi baju-baju kotor yang dijejalkan seenaknya ke dalam tas sehingga membuatnya terlihat sangat menjijikkan belum lagi baunya yang aneh, antara campuran kentut dan comberan.

“Kau benar, ini bukan tasku, apa kau membawa tasku?,”

Terdengar suara gelak tawa Wooyoung di balik telepon “Heh, Jang Wooyoung, aku serius” Yoona memperingatkan.

“Kau ke kampus saja dulu, tenang, jangan panik, buku-bukumu ada di tangan yang aman”

Wooyoung mematikan teleponnya dan tertawa. Dia melirik ke arah Seohyun dan Taeyeon. “Bagaimana?”

Taeyeon dan Seohyun ikut tertawa karena senang, tanpa usaha keras dari mereka. Takdir sudah memustuskan untuk mempertemukan mereka.

Jonghyun membawa tas itu dan menunggu di halte bus, sebenarnya, jika bukan karena tasnya tertukar, Jonghyun hanya ingin istirahat hari ini. Dan lagi-lagi gadis itulah perusak rencananya. Apa dia memang selalu membawa sial bagi Jonghyun? Dia menggelengkan kepalanya, mencoba menenangkan pikirannya yang semakin menggila.

Bus itu datang, siap mengantar Jonghyun ke kampus lamanya, yang baru saja ditinggalkannya belum ada satu tahun yang lalu. Itulah bagaimana dia mengenal Wooyoung, namun dia tidak ingat dengan siapa saja yang pernah berkenalan dengannya, satu-satunya yang dia ingat adalah Wooyoung, karena mereka dari fakultas yang sama.

Perlu beberapa menit agar dia sampai di kampus itu. Dilihatnya pintu gerbang yang masih berdiri dengan gagahnya, siap menyambut siapa saja yang berani menjejakkan kakinya disana. Kampus itu hanya diperuntukkan bagi siapa saja yang benar-benar serius ingin belajar dan mengais ilmu tanpa sedikitpun berkeluh kesah. Jonghyun tersenyum ketika melihat adik tingkatnya yang tidak sengaja menabraknya dan berjalan begitu saja tanpa ingin meminta maaf. Yang membuatnya tersenyum bukanlah tingkah orang itu, melainkan gayanya. Karena Jonghyun rasa, dia masih bisa dilihat sebagai mahasiswa.

Ketika dia akan memasuki halaman kampus tiba-tiba seseorang dengan tidak sengaja menabraknya, Jonghyun baru saja akan memaafkannya tapi yang dilihatnya adalah gadis kurang ajar yang kemarin. Dia mengenakan pakaian yang sama dengan kemarin, tapi wajahnya terlihat lebih kuyu dan pucat.

“Kau?” Jonghyun mengerutkan dahi.

Gadis itu membuang muka dan berjalan menjauh darinya. Dengan langkah yang dipercepat dia menghilang diantara gerombolan mahasiswi.

“HEI KAU!!!” teriak Jonghyun.

Yoona berdiri menunduk di tengah-tengah Wooyoung, Taeyeon, dan Seohyun. Dia dihakimi layaknya seorang pencuri yang tertangkap basah.

“Aku benar-benar takut untuk bertemu dengannya” Yoona mengajukan pembelaan.

“Tapi kau masih membawa tasnya Yoong, kau harus mengembalikannya” kata Taeyeon seperti seorang ibu kepada anaknya.

“Kenapa tidak Wooyoung saja, dia kan temannya”

Wooyoung pura-pura melihat jam tangannya “Oh, aku ada jam kuliah, aku pergi dulu ya” Dia menghambur pergi, sebenarnya dia hanya ingin kabur saja dari Yoona.

Dia hampir sampai di gedung fakultas arsitektur ketika melihat sekelebat bayangan Jonghyun, teman lamanya yang tiba-tiba muncul dan merepotkan dia. “Oh tidak” gumam Wooyoung sambil berbalik arah.

Terlambat “Wooyoung-ah!” Jonghyun berlari dengan cepat menyusul Wooyoung. Diikuti dengan senyum palsu, Jonghyun langsung merangkul Wooyoung.

“He,,Hei”sapa Wooyoung canggung.

Tiba-tiba ekspresi wajah Jonghyun berubah menjadi wajahnya yang keras nan dingin. Dia setengah mencekik Wooyoung dengan lengannya. “Bisakah kau jelaskan padaku kenapa Vanilla bisa ada pada gadis itu?”

Wooyoung bergidik, dia membuang muka dari Jonghyun karena takut. Jonghyun tahu jika Wooyoung adalah tersangka utama dari sakitnya Vanilla. Dan Jonghyun bisa saja menyalahkan Wooyoung atas kesialan yang dialaminya semenjak kemarin. “Ah, itu, aku sedang sibuk dengan skripsiku, jadi aku menitipkan Vanilla pada temanku”

“Gadis itu?”

“Ya” jawab Wooyoung sambil tersenyum ke arah Jonghyun.

Jonghyun melunak pada Wooyoung dan melepaskan cekikannya dan merangkul Wooyoung dengan biasa “Dimana tasku? Apa benar gadis itu membawanya?”

“Hmm, kurasa dia ada di dekat fakultas sastra, kau tahu?”

“Ayo kita kesana” ajak Jonghyun sambil mendorong Wooyoung.

“A,,aku ada jam kuliah Jong, aku tidak bisa”

“Setidaknya kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan”

Jonghyun menyeringai licik kea rah Wooyoung dan mendorongnya untuk menuntun Jonghyun ke tempat yang mereka tuju.

Mungkin Yoona saja, atau dia memang merasakan bulu kuduknya berdiri ketika melihat sepasang mata tajam itu. Dulu, ketika Yoona hanyalah seorang pelayan café, dia sering melihat laki-laki itu duduk di kursi paling pojok dan terlihat manis dengan rambut hitam disisir rapi dan gaya yang sangat elegan. Tapi laki-laki yang dilihatnya sekarang bisa dikatakan tidak mirip dengan deskripsi itu kecuali wajahnya. Rambutnya agak kemerahan dan terlihat berantakan, bahkan gayanya seperti mahasiswa yang hampir di drop out.

Yoona juga belum lama dipecat, jadi bagaimana laki-laki itu bisa meninggalkan kesan yang sama sekali berbeda dengan laki-laki yang membuatnya dipecat beberapa hari yang lalu?

“Hai,” Yoona kehabisan kata-kata, dia tidak tahu namanya. Dia ingat dua hari yang lalu ketika Wooyoung menyinggung soal tipenya, laki-laki yang sekarang sedang menatapnya dengan tajam itu katanya adalah arsitek, tapi wajahnya menggambarkan seakan-akan dia adalah mahasiswa abadi. “Tuan Arsitek” lanjut Yoona sambil menunduk ketakutan.

“Hmm, mana tasku?” kata laki-laki itu dingin, sambil mengatungkan tangannya di depan Yoona.

Yoona pelan-pelan mendongakkan kepalanya dan menyerahkan tas berisi baju kotor yang dibawanya, pada laki-laki dingin itu. Kemudian laki-laki itu menyerahkan tas Yoona yang berisi buku-buku kuliah.

“Terimakasih” kata laki-laki itu, masih dengan tatapan dinginnya.

“Kau tidak mau minta maaf?” Tanya Yoona dengan kurang ajarnya.

Laki-laki itu menelan ludah dan berkedip-kedip. “Kenapa aku harus minta maaf? Ah, pasti tuduhanmu yang kemarin sore itu, begini ya Nona entahlah, aku tidak pernah merasa menghancurkan hidupmu, aku bahkan tidak pernah bertemu sebelum kemarin itu, aku ini tipe laki-laki yang tidak begitu suka bergaul, aku adalah teman diriku sendiri, mengerti?”

“Haera? Cafe’? Americano?” Yoona menyebut semua itu untuk memancingnya. Namun laki-laki itu malah menatapnya aneh. Tatapannya mengatakan bahwa Yoona ini semacam alien.

“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau katakan” kata laki-laki itu , seraya pergi meninggalkan Yoona bersama tiga temannya yang terpaku melihat sikap Jonghyun yang begitu keras terhadap wanita.

Jonghyun mengernyitkan keningnya sambil memakai tas hitamnya di punggung. Tiga kata yang dikatakan gadis itu seperti ada hubungannya dengan seseorang. Americano  adalah petunjuk terpenting, dan sekarang semua perkiraannya menemui titik terang. Bukan dia orang yang mengacaukan hidup gadis itu, lagipula ia tidak suka minum kopi.

“Kalian kenapa?” Tanya Seohyun.

“Entahlah, laki-laki itu benar-benar membuatku kesal, kapanpun aku melihatnya” jawab Yoona.

“Maafkan aku, Yoong, biasanya Jonghyun adalah orang yang baik, mungkin dia menjadi sensitif jika mengenai anjingnya” ujar Wooyoung yang terlihat kecewa dengan sikap Jonghyun barusan.

“Menurutku dia adalah implikasi dari pria keren” kata Taeyeon sambil tersenyum menggoda kea rah Jonghyun pergi.

“Kim Taeyeon!” Wooyoung memperingatkan.

We-yo?”

Yoona dan Seohyun saling melempar pandangan. Mereka tersenyum satu sama lain dan diam-diam meninggalkan pasangan yang sedang bertengkar itu.

Yoona memandangi flashdisk yang ada ditangannya. Benda itu terlihat seperti flashdisk yang lain. Tapi yang membuatnya berbeda adalah Yoona baru saja mencuri flashdisk itu dari seorang teman Wooyoung yang bernama Jonghyun. Orang itu adalah pemilik Snowy, atau seterusnya akan dipanggil Vanilla. Alasan kenapa dia mencuri benda itu sangatlah sederhana, karena dia kesal. Dia merasa masalah mereka belum selesai, dan laki-laki itu belum minta maaf padanya.

Sore itu, sepulang kuliah, dia berjalan keluar dari area kampus, mencari jajanan murah yang bisa dimakan untuk mengisi perutnya yang benar-benar kosong semenjak kemarin sore. Yoona memasukkan flashdisk itu ke dalam kantong jaket denimnya dan berjalan ke arah penjual burger. Jika saja ada makanan lain Yoona akan memilih yang lain, namun hanya ada burger, dan uangnya tidak cukup untuk membeli makan di kantin, atau restoran-restoran cepat saji yang ada di kanan kiri kampus. Terlalu mahal.

Yoona menghampiri penjual burger kaki lima itu. “Pak, Satu” kata Yoona. Yoona mengocek saku celananya dan menemukan uang 5000 won di kantongnya.

Menit demi menit berlalu dan burger itu pun akhirnya selesai dan ditaruh di dalam sebuah sack burger. “6500 won” kata penjual itu.

Mwo?” kata Yoona terkejut. “Bukan 4500 won?”

“Kata siapa harganya 4500 won?”

“Tapi, tapi ini hanya burger di pinggir jalan, jadi kupikir tidak akan semahal itu ,Pak” Yoona mendebat.

“Apa kau bilang? burger jalanan? Gadis Sialan, berani-beraninya kau menghina kedai burgerku”

Tiba-tiba seseorang menggeser Yoona dan bertanya pada penjual itu “Berapa?” tanyanya.

“6500 won”

Orang itu dengan sombong mengambil dompetnya dan memberikan selembar 10,000 pada penjual berkumis tebal itu. Setelah mendapat kembaliannya orang itu memberikan  sack burger itu pada Yoona. “Kembalikan Flashdisk-ku”

Yoona mendongak dan melihat orang itu lagi. Sial, batin Yoona. Yoona yang pernah menjadi pencopet sekali, menjadikan kabur adalah keahlian yang wajib dikuasainya. Dia berlari meninggalkan Jonghyun. Sayangnya, Yoona terlalu lemas sampai dia tidak bisa berlari terlalu cepat dan tidak terlalu jauh. Wajahnya memucat saat Jonghyun berhasil menangkapnya. “Mana?”

Pandangan Yoona kabur, bayangan laki-laki yang ada di depan matanya itu lama-kelamaan menjadi buram. Kepalanya pusing, rasanya dia ingin muntah. Tapi jika saja keluar, tidak ada apapun yang akan dimuntahkannya kecuali air. Dia tidak kuat lagi menopang tubuhnya, sehingga dia jatuh dan dunianya mati lampu.

Eotteoke?” tanya Jonghyun pada dirinya sendiri. Dia menatap gadis itu, jika saja Jonghyun tidak sigap menangkapnya tadi. Kepalanya bisa terbentur. Orang-orang mulai berkerumun dan hal itu membuat Jonghyun tidak nyaman. Dia mengangkat gadis itu dan berlari ke arah taksi yang kebetulan lewat kemudian memberi tanda taksi itu untuk berhenti.

Sang sopir menurunkan kaca jendelanya dan mengedikkan dagu pada Jonghyun.

“Rumah sakit terdekat!” kata Jonghyun pada sopir taksi itu.

–To Be Continued–

Maaf kalo ntar banyak typo atau bahasa yang kurang pas, soalnya belum di edit, kalo udah sempet, nanti akan di edit.

gimana readers, udah bingung apa belum?

silahkan baca tiap kata dengan seksama,, hehehe

Terimakasih karena sudah membaca. dan jika tidak keberatan maka saya ingin anda memberi support dengan menulis komentar di bawah ini. Tolong kritik dan saran, tapi tolong jangan nge-bash, itu tidak baik

Ahnmr

HIMRASAKI

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

15 thoughts on “Hello Mr. Architect #Part 2”

  1. wow ceritanya semakin menarik..
    alurnya cepet jdi gx bertele2..
    ceritanya lngsung keintinya aq suka..
    jdi yg bca gx bosen..
    cuma satu kurangnya kurang panjang..hehe..
    ditunggu kelnjutannya..

    1. semoga, part 3 ntar nggak membosankan
      maaf, kalo kurang panjang, jujur saya masih anak sekolahan, jadi ya gini ini, disambi sama ngerjain tugas sekolah juga kadang-kadang, #curhat

  2. Yoona kasian banget._.
    Jonghyun aigoo.. Sikapnya itu bikin errr…. (?)-.-
    Oke, aku bingung mau comment apa.. FFnya seru Uli.. Bikin penasaran.. XD
    Ditunggu chapter 3nya ne? Fighting!’-‘)9

      1. Different me 4 ya? Masih proses :$ mungkin bakal di post akhir bulan ini.. Mian lama, soalnya emang jadwal lagi sibuk banget *halah besok malah TO.. *halah curhat-_-V* makanya bakal lama.-.
        Oiya, jangan panggil phynz.-. Itu penname doang.. Boleh manggil Putri atau Ines. Itu baru namaku.. Hehe :$

  3. aku paling suka, waktu jong hyun geser yoona n bayarin burger yoona terus yoona kabur n di tangkep jong hyun, aku bayangin expresi muka mrk , pasti kerennn bgtttt,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s