Hello Mr. Architect #Part 3

Hello Mr

Author: Ahnmr||Cast: Im Yoona (SNSD), Lee Jonghyun (CNBLUE), (OC) || Support Cast: Jang Wooyoung (2PM), Seo Juhyun/Seohyun (SNSD), Kim Taeyeon (SNSD), Kwon Yuri (SNSD)|| Genre: (Masih ditanyakan) ||Rating: Teen||Lenght: Chapter (Insyaallah)||Disclaimer: All cast belong to GOD, i do not own anything, except the ideas.

iklan | #part 1 | #part 2 |

–ahnmr copyright–

Gelap, semuanya gelap.

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Tidak ada apapun kecuali gelap.

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Naluriku mengatakan bahwa aku harus berjalan melewati pintu itu, dan melihat apa yang tengah terjadi. Aku sendiri bingung kenapa aku bisa terjaga di tempat seperti ini.

Kemudian aku berlari melewati pintu itu, kulihat sebuah rumah yang terasa familier bagiku, namun aku tidak tahu dimana dan kapan aku pernah melihatnya. Rumah itu kumuh, kotor, dan berantakan. Dan yang kulihat semuanya berwarna hitam putih, seperti film lama. Tiba-tiba seorang wanita berjalan menembus badanku. Aku membelalak ke arahnya, wajahnya terlihat gelisah dan sangat sedih. Dia terlihat menangis, namun aku tidak mendengar apapun selain detak jantungku sendiri. Wanita itu menoleh ke arahku, namun wajahnya tidak memandang padaku, tetapi pada sesuatu yang ada di belakangku. Aku mengikuti arah pandangnya, dan kulihat seorang pria dengan wajah penuh penyesalan tengah menggendong bayi kecil lucu yang tertidur pulas dalam pelukannya. Pria itu mengatakan sesuatu pada wanita yang ada disampingku, namun aku tidak mendengar apapun. Aku mundur beberapa langkah dan kulihat wanita itu menggeleng. Dia keluar dari rumah dan pergi entah kemana.

Pria itu menjatuhkan dirinya dan tak kuasa menahan tangis, namun dia menggigit bibirnya, mencoba untuk tidak membuat bayi yang ada dalam pelukannya menangis. Aku mendekati pria itu dan berlutut, aku melihat ke arah si bayi kecil. Dan aku merasa sangat mengenalnya seperti aku mengenal diriku sendiri.

“Yoona-ah!” Panggil Taeyeon pelan sambil menepuk tangan Yoona perlahan. Wooyoung yang ada di sebelahnya terlihat sedang menghubungi seseorang. Dan laki-laki bermata tajam itu berdiri tidak jauh dari sana, dia memperhatikan Yoona dengan tatapan tidak menentu. Entah dia merasa simpati atau justru tidak peduli. Tapi pancaran matanya mengatakan bahwa dia tidak senang.

Seorang dokter memberitahu Jonghyun bahwa gadis itu perlu dirawat beberapa hari sampai kondisinya membaik. Dia mengalami malnutrisi karena makan secara tidak teratur dan tidak sehat. Awalnya Jonghyun pikir gadis itu terkejut karena melihatnya, tapi ternyata bukan.Dia bisa bernafas lega, Dia takut jika Wooyoung atau Taeyeon menyalahkannya.

“Yoona-ah” kata Taeyeon lagi.

Wooyoung terlihat sibuk dengan teleponnya yang tidak segera tersambung, sehingga dia memutuskan untuk keluar dari kamar. “Aku keluar dulu, Taeyeon, Jong”katanya.

Jonghyun mengangguk. Setelah Wooyoung keluar, Jonghyun berjalan beberapa langkah mendekati Yoona. Dia menyandarkan punggungnya ke tembok yang berlawanan dengan Taeyeon, dan menatap Gadis pingsan itu.

“Apa dia menyimpan uangnya untuk shopping daripada makan?” kata Jonghyun dengan nada meremehkan.

Taeyeon melirik tajam ke arah Jonghyun, dia melupakan fakta bahwa laki-laki itu keren. Yang dia pikirkan sekarang adalah sahabat sekaligus adik kecilnya sedang terbaring lemah dan tidak sadarkan diri. Lalu laki-laki itu seenaknya menilai Yoona.

“Aku tahu kau itu kaya, Tuan Arsitek dan gadis ini tidak, jadi berhentilah melihatnya serendah itu, Yoona bukanlah gadis manja seperti yang kau pikirkan, dia selalu bisa bertahan untuk dirinya sendiri, bahkan keluarganya, kau mengerti?”

Jonghyun terpaku, dia menelan ludah dan membuang muka dengan konyol. Dia sedang berpikir untuk membalas perkataan Taeyeon. Namun yang ada dia malah mati kutu. “Aku punya nama, jangan panggil aku Tuan arsitek” gumamnya pelan.

Tiba-tiba Wooyoung masuk dan berjalan cepat ke arah Taeyeon. “Aku sudah menghubungi Seohyun, dia sedang dalam perjalanan”

“Kau tidak menghubungi keluarganya?” tanya Jonghyun sambil menunjuk Yoona.

Wooyoung dan Taeyeon saling berpandangan. Dan mereka hanya terdiam tanpa memberitahu apapun pada Jonghyun. “Hei, setidaknya kalian menghubungi Ayah, atau Ibunya, kalian ini kenapa?” kata Jonghyun bingung.

“Kau tidak tahu, Jong” bentak Wooyoung, “Lebih baik tidak menguhubungi mereka, kau mengerti?” lanjutnya.

“Tidak, aku tidak mengerti” Jonghyun menggeleng, dan menunduk kesal.

Wooyoung mendesah. Dia melirik ke arah Taeyeon dan saling melempar pandangan. Lalu dia memandang Jonghyun.

Jonghyun duduk di sebuah kursi panjang yang ada di luar rumah sakit, dia tidak mengerti kenapa Wooyoung menyuruhnya untuk segera pulang. Dia kesal, rasanya seperti tidak dihargai. Tak lama kemudian ponselnya bergetar. Dia mengambilnya dari kantong celananya. Setelah mengusap layar ponselnya, matanya memandang ke arah layar. Dia membaca sebuah pesan singkat dari seseorang yang telah lama tidak ditemuinya. Pesan itu hanya berbunyi:

Pulanglah!

Pendek dan tidak terdengar ramah. Dan kata-kata itu terus berputar di kepala Jonghyun. Pesan itu berasal dari kakak perempuannya yang sudah lebih dari 4 tahun tidak pernah ditemuinya, jika bertemu pun Jonghyun tidak pernah bertegur sapa. Atau lebih tepatnya, Jonghyun menghiraukan sapaan kakaknya. Hal itu tentu saja tidak terjadi pada saudara kembarnya. Dia selalu menjadi makhluk manis pemalu yang sopan kepada semua orang, menurut Jonghyun. Tapi mereka semua tidak tahu betapa busuknya dia. Hanya Jonghyun yang tahu.

We?” gumam Jonghyun sambil mematikan ponselnya. Kemudian memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana dan berdiri, lalu dia pergi ke sebuah halte bus. Dia ingin pergi bertemu dengan Vanilla malam itu juga, entah Paman Seokjin sudah tidur atau belum. Dia tidak peduli. Dia hanya merasa dia perlu untuk menenangkan dirinya sekarang.

Seohyun merasakan jari-jari Yoona bergerak ketika dia sedang membaca sebuah buku novel. Seohyun melirik Yoona dan langsung menutup bukunya. Kemudian dia langsung meraih tangan sahabatnya itu. “Yoona-ah!” panggil Seohyun pelan.

Yoona bisa mendengar panggilan itu, dan dia berusaha keras untuk membuka matanya agar bisa melihat wajah Seohyun. Sedikit demi sedikit pandangannya semakin jelas, cahaya lampu yang terang sempat menusuk matanya, namun dia langsung menoleh ke arah Seohyun dengan perlahan.

“Seo?”ucapnya parau.

“Yoona-ah” kata Seohyun sambil menatapnya haru. Yoona tersenyum kecil, dia merasa sangat senang akhirnya dia bisa kembali pada kenyataan. Karena alam bawah sadarnya lebih membingungkan dan membuat stres dibandingkan kenyataan yang dihadapinya.

“Dimana aku?” tanya Yoona.

“Hmm, kau tadi pingsan Yoong, seseorang membawamu ke rumah sakit” kata Seohyun.

Yoona mengingat lagi detik-detik ketika dia berlari menghindar dari Tuan Arsitek dingin itu. Dan ketika sebuah tangan yang kasar meraih lengannya. Dia berbalik dan melihat sepasang mata tajam menatapnya kesal, dan saat laki-laki itu mengatakan sesuatu, Yoona sudah sangat lemas. Dia tidak mendengar apapun, pandangannya kabur dan dia terjatuh.

“Tuan Arsitek itu, kemana dia?” tanya Yoona.

Seohyun menghela nafas dan mengedikkan bahu “Sepertinya dia pulang, aku tidak peduli” kata Seohyun datar.

Yoona mengerti, Seohyun tidak suka laki-laki kasar itu. “Yoong, seseorang menemuiku tadi” kata Seohyun serius. Dengan kekuatan yang belum stabil Yoona memandang Seohyun penuh perhatian.

Nugu?”

“Dia bertanya tentangmu, seorang wanita dengan rambut hitam bergelombang, kulitnya sedikit coklat, pakaiannya juga sepertimu, cara bicaranya sedikit kasar, tapi sorot matanya serius walaupun dia bersikap ramah tamah padaku” kata Seohyun dengan lagak berpikir.

“Mungkin dia adalah Yuri Eonni, dia tetanggaku” jawab Yoona dengan pandangan menerawang.

“Mmm, dia bilang padaku agar kau segera pulang dan,” perkataan Seohyun masih menggantung. Seohyun menyadari jika Yoona sudah terlihat muak mendengar kata pulang.Jadi dia menghentikan kalimatnya, dan membiarkannya menggantung.

Yoona membuang pandangannya dari Seohyun, kata pulang membuatnya semakin rindu pada Jaebum namun dia tidak ingin bertemu Ayahnya. Walaupun di dalam hati kecilnya, Yoona juga rindu pada Ayahnya yang dulu. Sebelum kasus pencurian yang dilakukan Ayahnya dan Ibu Jaebum jadi gila.

“Jangan dipikirkan,  Sembuhkan dirimu dulu, lalu kita bisa bertemu di kampus lagi” kata Seohyun menyemangati Yoona.

Yoona tersenyum ke arah Seohyun dan mengangguk.

“Seo,” kata Yoona. Seohyun mengedikkan dagu pada Yoona. “,Bisakah kau membantuku ke kamar mandi?”

Sudah kesekian kalinya Jonghyun bertamu ke rumah Paman Seokjin malam-malam seperti itu. Dengan mata yang berat dan bersungut-sungut. Paman Seokjin membuka pintu depan. Dilihatnya wajah Jonghyun yang tersenyum tanpa dosa ke arahnya.

Annyeong” kata Jonghyun datar.

Paman Seokjin mengangguk dan membiarkan Jonghyun masuk. Jonghyun berjalan menuju sebuah tempat tidur anjing yang ada di dekat dapur dan langsung duduk bersila di depannya lalu melihat Vanilla yang sedang tenggelam dalam mimpinya.

“Kenapa lagi?” tanya Paman Seokjin sambil berjalan ke dapur untuk membuat kopi.

Jonghyun terdiam,  dia masih belum ingin menceritakan hal itu pada Pamannya. Sampai Paman kesayangannya itu selesai membuat kopi dan duduk di kursi dapur dan menyeruput kopinya tanpa peduli apakah Jonghyun ingin atau tidak. Jonghyun masih duduk menghadap ke arah Vanilla dan terdiam.

Noona menyuruhku pulang ke Jepang, lagi” akhirnya Jonghyun angkat bicara.

Paman Seokjin menghela nafas dan melirik ke arah Jonghyun. “Kau tahu jika ada panggilan seperti itu, artinya ada masalah di Jepang, dan hanya kau yang bisa menyelesaikannya”

“Kenapa aku? Bukankah Minhyun lebih bisa diandalkan, lagipula mereka tidak terlalu memperhatikanku, mereka selalu bilang aku adalah kebalikan Minhyun, aku bukan orang yang mereka inginkan, Paman!” Cerocos Jonghyun.

Bukannya simpati, Paman Seokjin malah terkekeh pelan. Dia berdiri sambil menyeruput kopi hitamnya. “Minhyun? Kau masih saja hidup dalam bayang-bayangnya? Kenapa kau tidak pernah membiarkan dirimu menjadi Jonghyun? Kau Lee Jonghyun, kau berbeda dengan Minhyun. Kau berpikir logis, dia Delusional. Tapi dia selalu jadi dirinya, sendiri. Dan kau, kau menghabiskan hidupmu meniru apapun yang dia lakukan, apa kau tidak bosan?” Ceramah kilat itu membuat Jonghyun gerah. Bukan hanya gerah tapi telinganya juga ikut sakit

“Aku bosan mendengar semua ceramahmu, Paman!” Bentak Jonghyun. Dia berdiri dan menatap marah Pamannya. Subjek mengenai Minhyun adalah subjek yang paling sensitif bagi Jonghyun. “Dan satu lagi, aku tidak meniru Minhyun” kata Jonghyun.

Jonghyun berjalan keluar dari rumah Paman Seokjin dengan hati berapi-api. Bukannya mendapat dukungan, dia malah dibanding-bandingkan dengan kembaran yang selalu dibencinya.

Dia hanya duduk di kursi halte, memandangi jalan raya dan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang. Hal itu selalu membuat Jonghyun tenang. Lebih tenang lagi jika dia bisa membawa Vanilla dipelukannya. Jonghyun menghela nafas dan menggembungkan pipinya, lalu dia memejamkan matanya dan mendongak ke arah langit malam yang dipenuhi bintang-bintang. Dia sedang berdo’a, berharap agar hari-harinya menjadi lebih baik.

Ponselnya bergetar, membuat Jonghyun kaget, dia pikir terjadi sesuatu pada kakinya. Dia mengambil ponselnya dan membuka pesan itu, dari Wooyoung.

Yoona sudah sadar, Gomawo, sudah membantu anak itu, dia pasti sangat berterimakasih padamu

Jonghyun mengangguk dan mematikan ponselnya. Dia bersyukur gadis itu sudah sadar. Itu artinya dia bisa menagih berapa hutang yang harus dibayar gadis itu dan menjelaskan soal kembarannya. Atau tidak.

Yoona bangun ketika mendengar suara seseorang tengah bersiul. Yoona menyipitkan matanya dan mengubah posisinya menjadi setengah duduk.

Laki-laki itu menghentikan kegiatan bersih-bersihnya dan menyunggingkan bibir sedikit ketika gadis itu bangun dan melihat ke arahnya. “Selamat Pagi” sapa Jonghyun.

Gadis itu hanya membalas sapaannya dengan mengerjapkan mata seakan-akan dia tidak peduli. Dan itu membuat Jonghyun merasa benar-benar dongkol. Kenapa juga dia menyapa gadis yang secara sengaja membuat hidupnya repot? Jonghyun menggeleng, dia tidak boleh bersikap jahat pada gadis itu sekarang. Jika dalam perang, maka dia akan menang secara tidak adil.

“Gomawo” celetuk Yoona.

Jonghyun mengangguk dan berjalan mendekati sebuah vas bunga yang ada di samping tempat tidur Yoona. Dia memperhatikan bunga-bunga itu, sepertinya mereka baru saja diganti, karena terlihat masih sangat segar, tidak seperti kemarin sore.

“ Tuan Arsitek, bukankah kau seharusnya bekerja?” kata Yoona.

Jonghyun menggigit bibirnya dan menoleh ke arah Yoona. “Aku malas” jawabnya asal.

Jawaban macam apa itu? Pikir Yoona. Gadis itu mengangguk dan mengalihkan pandangannya ke arah bunga berwarna kuning yang ada di depan laki-laki itu. “Jika saja bunga itu adalah bunga matahari” gumamnya.

Jonghyun mendengarnya, tapi dia pura-pura tidak peduli. Kemudian Jonghyun berjalan ke arah jendela, membukanya agak lebar agar udara pagi bisa masuk dan membuat Yoona merasa lebih baik.

“Oh, ya Nona! Lain kali jangan panggil aku Tuan Arsitek, Aku punya nama” kata Jonghyun tanpa melihat ke arah Yoona.

Jonghyun. Yoona tahu jika namanya adalah Jonghyun. Dia tidak ingin dibilang sok dekat jika memanggilnya Jonghyun. Jadi Yoona memanggilnya Tuan Arsitek.

“Namaku Lee Jonghyun, jadi panggil aku Jonghyun” Lanjutnya sambil melihat ke arah Yoona

“Aku Im Yoona” kata Yoona.

Laki-laki bernama Lee Jonghyun itu terkekeh dan mengangguk “Aku sudah tahu”

Yoona tersipu malu, namun dia segera menyembunyikannya dengan menggembungkan pipinya. Setelah itu Jonghyun duduk di kursi yang ada di dekat tempat  tidur Yoona dan menariknya agak jauh.  Kemudian dia menaruh kakinya di atas tempat tidur Yoona, seperti seorang Bos kurang ajar.

“Oh ya, Nona, kau pernah mengatakan soal Cafe’ dan Americano, Matchi?” tanya Jonghyun sambil bersidekap.

Yoona mengangguk dan menatap laki-laki itu penuh kebingungan.

“Kau melihatku? Bisakah kau deskripsikan bagaimana aku waktu itu?”

Yoona mengerutkan dahi, dia bingung. Bagaimana laki-laki yang sama bisa mengajukan pertanyaan seperti itu padanya. Aneh! Pikir Yoona.

“Pertanyaanmu sangat aneh, Apa kau amnesia?” kata Yoona.

Jonghyun mengangguk dan menoleh ke arah Yoona, melemparkan tatapan teduh yang aneh. “Anni, tapi kurasa yang kau lihat waktu itu bukan…”

Yoona masih menunggu Jonghyun melanjutkan perkataannya, tapi Jonghyun justru terpaku dan membeku seperti patung es. Mulutnya bergetar ketika ia akan mengatakan hal itu. Namun dia ingat akan sesuatu yang dikatakan oleh kakak kembarnya. “Kita tidak saling mengenal, aku tidak akan mengakuimu jika kau tidak mengakuiku juga”

Hal itu membuat Jonghyun tidak pernah membeberkan perihal Minhyun pada siapapun. Namun dunia ini sangat sempit. Siapa yang tahu gadis yang sekarang tengah terbaring lemah di depannya itu melihat kakaknya dan sekarang mengira dia sebagai kakaknya juga.

“Dia adalah aku, maafkan aku” kata Jonghyun sambil menatap serius Yoona.

Yoona ragu dengan yang dikatakan laki-laki itu. Apakah dia meminta maaf dengan tulus, atau karena Yoona memaksanya, atau karena hal lain?

“Mmm,, ada satu hal lagi Yoona-ssi, bagaimana caramu membayarku?”

Gadis itu memakai pakaian sederhana, celana jeans, kaos putih, dan jaket hoodie berwarna merah hati merek abal dan sudah sangat lusuh. Dia berdiri di depan Universitas dimana Yoona menimba ilmu.

Ya, dia adalah Yuri Eonni yang dibicarakan Yoona. Dan Seohyun melihatnya saat dia akan memasuki kampus. Gadis itu terlihat sebaya dengannya, namun wajahnya keras dan terlihat lebih tua dari umurnya. Caranya berpakaian menunjukkan bahwa dia berasal dari lingkungan Yoona tinggal. Seohyun merasa jika berurusan dengan orang itu dia akan terkena masalah. Jadi dia memutuskan untuk menghindar dengan menutupi wajahnya dengan tas selempangannya.

Yuri langsung tahu. Bagaimana tidak? Cara Seohyun malah menarik perhatian. Yuri tersenyum dan berlari kecil menghampiri Seohyun. “Hei, Kau! Temannya Yoona” kata Yuri mencoba terdengar ramah.

Seohyun menurunkan tas jinjingnya itu dan tersenyum canggung ke arah Yuri. “Oh, hei” balasnya.

“Aku mau bertanya, bukankah Yoona itu masuk ke jurusan ekonomi?” tanyanya.

Seohyun mengangguk takut-takut. Walaupun gaya tetangga Yoona itu bisa dibilang sama saja dengan Yoona. Namun auranya benar-benar berbeda. Jika Yoona bisa memancarkan aura bersahabat dan ceria. Gadis ini berbeda. Auranya kuat dan tidak cocok untuk melakukan hal-hal yang imut-imut seperti Yoona. Intinya auranya seperti seorang jagal. “Oh, ya, kau sudah menyampaikan pesanku kemarin?”

Seohyun mengangguk lagi, kali ini dia mengangguk dengan lebih yakin. Namun Yuri bisa membaca keraguan dalam diri gadis berpenampilan manis itu. Menurutnya, dia sama sekali tidak pintar berbohong. “Oh, baiklah, terimakasih” kata Yuri dengan tatapan menyelidik pada Seohyun.

Taeyeon, Seohyun dan Ibu Seohyun membantu Yoona saat dia harus pergi dari rumah sakit itu. Kondisi Yoona memang sudah membaik, dia bahkan sudah bisa memancarkan senyum cerah di wajahnya. Namun Taeyeon dan Seohyun tahu bahwa Yoona belum sesehat kelihatannya.

“Ayahku sudah menunggu di tempat parkir, jadi kau tidak perlu buru-buru, Yoong” kata Seohyun.

Yoona mengangguk malu. Ibu Seohyun menepuk-nepuk bahu Yoona pelan. Dia tersenyum pada Yoona dan mengatakan “Setelah ini, kau harus makan dengan baik, jangan sampai jatuh sakit lagi”

Hal itu membuat Yoona ingin menangis. Seumur hidup, tidak pernah Yoona diperhatikan dengan baik seperti itu oleh ibunya. Ibunya menjadi gila saat Yoona berumur 8 tahun. Dan selama delapan tahun dia hidup sebelum itu. Ibunya memperlakukan Yoona layaknya pembantu. Dia memperlakukan Yoona dan Jaebum dengan sangat berbeda. Tapi bagaimanapun juga dia adalah Ibu Yoona, dan Yoona tidak pernah mendendam. Saat Ibunya menjadi gila dan dibawa ke rumah sakit jiwa. Yoona tidak bisa menangis seperti adik laki-lakinya. Yang dia lakukan adalah memeluk Jaebum dan mencoba menenangkannya, dia merasa bersalah pada Jaebum sehingga dia berjanji akan menjaga Jaebum seperti Ibunya menjaga Jaebum. Namun sekarang, dia meninggalkan adiknya sendirian. Hanya demi menghindar dari amukan Ayahnya.

Tak terasa, Yoong sudah menangis dalam pelukan Ibu Seohyun. Taeyeon dan Seohyun yang melihat hal itu langsung berpandangan. Mereka tahu bagaimana perasaan Yoona.

“Menangislah! Keluarkan semuanya” kata Ibu Seohyun pada Yoona.

Taeyeon dan Seohyun keluar dari ruangan itu membawa tas ransel hitam Yoona yang isinya entah apa. Namun sangat berat, bahkan mereka harus membawanya berdua. “Gila, tas ini benar-benar berat, hebat sekali Yoong bisa membawa tas ini setiap hari” kata Taeyeon tidak percaya.

“Tidak heran bagaimana dia bisa mengalahkan Wooyoung dalam adu panco” kata Seohyun.

Mereka berdua tertawa, namun tawa itu terhenti ketika melihat seorang Jonghyun berdiri terpaku melihat mereka berdua. Jonghyun menaikkan alis kirinya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Taeyeon tanpa basa-basi.

“Aku?” Jonghyun mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menangkis pertanyaan tajam Taeyeon. Dia tidak ingin terdengar konyol dengan mengatakan bahwa dia ingin menjemput Yoona juga. “Aku, aku ingin membesuk saudaraku, kebetulan dia juga di rawat di rumah sakit yang sama dengan teman kalian itu”

Taeyeon dan Seohyun saling melempar pandangan. Akhirnya mereka berjalan lagi tanpa memberitahu apapun pada Jonghyun. Taeyeon dan Seohyun menyesali perbuatan mereka telah mencoba menjodoh-jodohkan Yoona dengan teman Wooyoung yang bernama Jonghyun itu. Nyatanya, mereka sama sekali tidak cocok dari sisi manapun. Lagipula, mereka berdua tidak rela jika sahabatnya bersama orang yang kasar dan dingin sepertinya.

Jonghyun menggeleng, dia benar-benar berusaha memaafkan kedua teman Yoona yang menurutnya lebih kurang ajar dari Yoona.Lalu dia melanjutkan perjalanannya  menuju kamar Yoona, namun langkahnya terhenti ketika dia mendengar isak tangis seseorang dari kamar itu. Tentu saja itu Yoona, pikir Jonghyun. Dia mengintip sedikit dan melihat Yoona penuh rasa iba. Seandainya saja dia tahu apa yang sedang dialami gadis itu sebenarnya, mungkin dia bisa membantu.

Jonghyun pergi meninggalkan tempat itu. Tanpa mengatakan sepatah katapun.

“Sumpah, Yoong, tasmu benar-benar berat, kau isi dengan apa ha? Batu?” tanya Taeyeon sambil mencomot kripik kentang setelah itu.

Yoona menaikkan kedua alisnya sambil mengerjakan tugas-tugas kuliahnya yang terabaikan selama dia sakit. “Ya, kau tahu sendirikan, hanya buku-buku dan baju-baju” jawabnya setengah fokus.

Seohyun dari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri, dia belum menyampaikan amanah yang diberikan oleh tetangga Yoona itu. Hal itu penting, namun dia tidak ingin membebani Yoona. Yoona baru saja sembuh bahkan dia belum benar-benar sembuh. Seohyun menggeliat gelisah di tempatnya duduk. Lalu dia melirik ke arah Yoona. Gadis itu masih sibuk dengan tugas kuliahnya, Seohyun menghela nafas. Tidak mungkin baginya bisa menjalani hidup sekeras Yoona. Nilai mata kuliah yang tidak boleh di bawah B, harus menjadi tulang punggung keluarga, dan harus menerima kenyataan bahwa dia bukan orang yang berada.

“Kau kenapa Seo?” kata Yoona, memergoki Seohyun tengah melamun.

“Tidak, tidak, aku sedang memikirkan tugasku”

“Beh, tugas atau asisten dosen tampan yang itu” kata Taeyeon menggoda.

Seohyun menggeleng dan tersenyum. “Dosen apa?” tanya Yoona penasaran.

“Tidak tahu, tanya saja padanya” kata Taeyeon sambil menunjuk Seohyun dengan kemasan kripik kentang.

“Siapa?” tanya Yoona pada Seohyun.

Seohyun menggeleng lagi, dia tidak ingin banyak bicara malam itu. Dia takut keceplosan, karena itu adalah kebiasaan yang sangat sulit untuk dihilangkan. Dia cenderung menjadi pribadi yang terlalu jujur.

Terdengar ringtone ponsel Taeyeon yang benar-benar jadul. “H.O.T? Candy?” kata Yoona mengejek. Taeyeon memutar matanya tidak peduli. Setelah itu dia mengangkat teleponnya, terengar suara seorang laki-laki yang terdengar familier.

“Oh, oke Oppa” Jawab Taeyeon sambil tersenyum sumringah.

“Wooyoung?” tanya Yoona. Taeyeon tersenyum sambil menggerakkan alisnya naik turun. Seohyun ikut tertawa bersama Yoona. Ternyata benar dugaan mereka selama ini.

“Aku pulang dulu ya,” kata Taeyeon sambil mengambil tasnya.

“Iya, hati-hati” Seohyun dan Yoona menyahut.

Setelah Taeyeon keluar dari kamar Seohyun. Yoona langsung fokus lagi pada tugasnya. Saat itulah Seohyun mulai ragu, apakah yang dilakukannya benar?

Yoona sendiri sebenarnya juga tidak fokus. Tiba-tiba perkataan Jonghyun waktu itu berputar di otaknya lagi. ”,bagaimana caramu membayarku?

Eotteoke?” tanya Yoona pada dirinya sendiri.

Mwo?”

Anni” Ujar Yoona sambil menggeleng dan pura-pura fokus pada pekerjaannya, padahal dia jelas-jelas sedang memikirkan apa yang akan dilakukannya.

Cahaya-cahaya dari lampu mobil itu seperti kilatan-kilatan masa lalu bagi Jonghyun. Banyak hal yang membuatnya teringat akan masa lalunya akhir-akhir ini. Tentu saja ini semua karena gadis bernama Im Yoona yang mengira dia adalah kakaknya. Padahal sudah tiga tahun dia tidak mendengar apapun tentang Minhyun, kecuali mungkin buku roman karangannya. Jonghyun menghela nafas panjang lalu menghembuskannya keras. Malam ini dia mendapat pesan lagi dari kakak perempuannya. Lebih panjang dari yang kemarin, namun tetap tidak menarik. Jika Jonghyun pulang, lalu apa? Paling dia hanya disuruh berkutat dengan angka-angka dan data-data perusahaan. Sejak dulu dia tidak pernah tertarik meneruskan perusahaan Ayahnya. Itu semua ambisi Minhyun, itu juga kenapa Minhyun memaksa dirinya sendiri memasuki fakultas ekonomi. Padahal dia tahu jika dia berbakat menjadi penulis.

“Kau membuang-buang waktumu, Hyung” kata Jonghyun sebelum mereka berpisah menjalani hidup mereka sendiri di Seoul.

Minhyun melirik tajam, jika saja tatapan bisa membunuh. Maka Jonghyun bisa mati saat itu juga. “Kau tahu apa, ha?” hardiknya.

Jonghyun menggeleng dan menunduk. Dia tidak mau berdebat lagi dengan kakak kembarnya yang pemarah itu. Dia membenarkan tas ranselnya, lalu membungkuk sekilas ke arah Minhyun. Dan pergi.

Detik demi detik berlalu. Jonghyun masih terpaku di belakang jendela apartemennya yang lebar. Apartemen tempatnya tinggal itu memang luas. Dulu dia bingung mau memenuhinya dengan apa, namun sekarang tidak lagi. Barang-barangnya cukup banyak, apalagi jika bukan untuk menggambar sketsa-sketsa bangunan. Mata Jonghyun mulai menyipit, kemudian dia menguap. Hari ini walaupun yang dilakukannya hanya menggambar, dia cukup lelah juga. Jonghyun melangkahkan kakinya ke kamar, dia tidak bisa tidur di sofa lagi malam ini, karena ruang TV sudah cukup kotor, jadi Jonghyun tidak berniat tidur disana.

Yoona malu jika harus meminjam uang pada Seohyun. Namun Seohyun merasa tidak keberatan sama sekali. Dia sangat tahu dan benar-benar paham jika temannya itu tengah dirundung kesulitan. Lewat uang pinjaman itu Yoona berhasil membeli kaos oblong murah dan bisa mencapai apartemen Jonghyun. Sebenarnya dia ragu ketika menaiki tangga ke lantai sebelas. Dia tidak yakin apakah dia memberikan bayaran yang setimpal pada Jonghyun. Karena Jonghyun adalah orang kaya dan dia bisa membeli kaos semacam itu kapan saja dia mau.

Dia menekan bel pintu apartemen 1115. Apartemen Jonghyun. Setengah merasa bersyukur Yoona memasuki apartemen itu, karena siang itu udara sedikit tidak bersahabat dan jika Yoona terlalu lama terkena sinar matahari langsung mungkin dia bisa dehidrasi.

Belum ada jawaban setelah beberapa menit berlalu. Yoona menekan belnya lagi, jika kali ini tidak ada jawaban dia akan kembali dan pulang. Benar, tidak ada orang. Berarti dia akan pulang. Baru berjalan beberapa langkah Yoona mendengar suara pintu dibuka.

“Kau?” kata orang itu.

Yonna berbalik dan melihat Jonghyun dengan wajah mengantuk, gaya rambut yang berantakan, kaos putih yang sudah sobek dan celana pendek khaki selutut. Yoona mengerjapkan mata. Ini benar-benar bukan Lee Jonghyun yang dilihatnya di cafe. Lee Jonghyun yang ini lebih mirip gembel.

“Oh, Jonghyun-ssi”kata Yoona menyahut.

Jonghyun menguap dan cemberut “Kenapa kau kesini?”tanyanya dingin.

Yoona berjalan selangkah mendekatinya dan memberikan kaos oblong terbungkus plastik itu. Jonghyun mengucek matanya dan setengah keluar dari apartemennya. “Untukku?” tanyanya seperti tidak percaya.

“,,Ya” jawab Yoona ragu. Dia pikir Jonghyun akan menertawakan atau mencelanya namun laki-laki itu justru tersenyum takjub.

“Terimakasih, aku tidak pernah diberi hadiah seperti ini semenjak satu tahun yang lalu”katanya sambil menerima pemberian sederhana Yoona itu.

“Itu artinya, urusan kita selesaikan?” Tanya Yoona penuh harap.

Jonghyun kembali ke ekspresinya yang ajeg. Dia menatap Yoona cuek. Dia berpikir-pikir seraya menggaruk-garuk lehernya. “Belum, sebenarnya aku sedang memikirkan tentang hal lain”

Yoona mengerutkan dahi. Jonghyun tersenyum licik sambil memeluk bungkusan plastik yang diberikan Yoona padanya.

Annyeong, maaf post-nya lama. maklum author masih anak sekolahan, jadi di sambi ngerjain tugas. oh ya maaf ini cerita semakin gaje.

Jika ada salah perkataan maupun typo, ya maap. Saya Khilaf. sauatu saat akan di perbaiki.

Terimakasih karena sudah membaca. dan jika tidak keberatan maka saya ingin anda memberi support dengan menulis komentar di bawah ini. Tolong kritik dan saran, tapi tolong jangan nge-bash, itu tidak baik

Ahnmr

HIMRASAKI

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

27 thoughts on “Hello Mr. Architect #Part 3”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s