Hello Mr. Architect #Part 4

hello mr. architect

Author: Ahnmr||Credit Poster: @nisaknugroho||Cast: Im Yoona (SNSD), Lee Jonghyun (CNBLUE), (OC) || Support Cast: Jang Wooyoung (2PM), Seo Juhyun/Seohyun (SNSD), Kim Taeyeon (SNSD), Kwon Yuri (SNSD)|| Genre: (Masih ditanyakan) ||Rating: Teen||Lenght: Chapter (Insyaallah)||Disclaimer: All cast belong to GOD, i do not own anything, except the ideas.

iklan | #part 1 | #part 2 | #part 3

–ahnmr copyright–

Seharusnya Yoona tidak usah menyinggung akan hal itu. Sepertinya dia baru saja memberikan ide pada laki-laki itu. Senyuman jahat di wajah Jonghyun tak kunjung hilang, dan sudah satu menit semenjak Yoona menumbuhkan ide di pikiran Jonghyun.

“Kemari” ajak Jonghyun.

Yoona menghilangkan jarak antara alisnya dan bergerak mundur. “Apa yang coba kau lakukan?” kata Yoona was was.

Jonghyun memutar bola matanya dan memandang Yoona kesal. “Ya ampun, siapa sih yang mau macam-macam denganmu, aku cuma mau menunjukkanmu apartemenku” Ujar Jonghyun meyakinkan Yoona.

Dengan ragu Yoona mengintip ke dalam Apartemen Jonghyun. Rahangnya hampir lepas saat melihat betapa kotornya Apartemen Jonghyun. “Apa-apaan ini?” tanya Yoona terkejut. Perlahan dia melangkahkan kakinya menuju apartemen Jonghyun. Dia pikir laki-laki seperti Jonghyun hanya berantakan diluarnya saja, namun ternyata Yoona menilainya terlalu baik.

“Kau ingin aku membersihkan semua ini?” kata Yoona sambil melemparkan tanda tanya pada Jonghyun. Dan Jonghyun hanya mengangguk, masih sambil memeluk plastik berisi kaos pemberian Yoona. “Kau gila?” umpat Yoona.

“Tidak hanya itu, ini hanya ruang utama, dapur, kamar mandi, baju-bajuku, kamarku, dan kamar Vanilla, pokoknya semua, aku ingin kau membersihkan semua itu, mudahkan?”

Mulut Yoona membentuk ‘a’ yang sangat lebar. Yoona memang sering bersih-bersih saat di rumah. Dia juga menyadari jika rumahnya itu terlihat kumuh dari luar, itupun juga karena rumah tetangganya yang lain juga semodel. Namun ini adalah apartemen mewah, jadi Yoona sangat terkejut mengetahui apartemen Jonghyun yang benar-benar mirip kapal pecah.

Jonghyun memiringkan kepalanya, masih menunggu jawaban Yoona. Lagi-lagi Yoona mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. “Ini akan jadi pekerjaan yang sangat berat” katanya.

“Aku anggap kau bisa melakukan semuanya, kutinggal ya, aku ingin membeli makanan” kata Jonghyun sambil pergi menuju kamarnya untuk mengambil jaket dan dompet lalu meninggalkan Yoona yang masih terus berpikir dari mana dia akan mulai, sedangkan tas ranselnya terasa semakin berat.

Jonghyun keluar dari apartemennya diikuti senyuman jahat.

Jonghyun terlihat sedang memilih sereal mana yang akan dia beli. Biasanya dia tidak suka sereal jagung, namun bungkusnya terlihat menarik karena ada hadiah action figure-nya. Tapi bagaimana jika tidak enak? Padahal sereal bintang yang ada ditangan kanannya itu selalu menjadi favorit Jonghyun sejak kecil. Jonghyun mengedikkan bahu dan menaruh keduanya di troli. Dia berjalan lagi dan melihat cumi-cumi berjejeran lucu. Dia mengambil kaitnya satu dan melihatnya lekat-lekat. Cumi-cumi itu sungguh lucu pikirnya, lebih lucu lagi jika cumi itu berada di atas meja dan dihidangkan bersama makanan lain.

Ahjussi”panggil seorang gadis kecil dengan ragu. Jonghyun menoleh dan menunduk, dilihatnya gadis kecil yang memanggilnya dengan tatapan cuek.

Gadis itu terlihat bingung. Namun Jonghyun kurang sensitif untuk bisa melihat kebingungan yang terlukis di wajahnya. “Kau kenapa anak kecil?” tanya Jonghyun mencoba terdengar perhatian. Jonghyun merasa familier dengan gadis ini, namun dia lupa pernah bertemu dimana. Sepertinya dalam suatu acara penting.

Bukannya menjawab, gadis itu malah menangis. Jonghyun gelagapan, dia tidak melakukan apa-apa. Lalu kenapa tiba-tiba dia menangis? Jonghyun segera membekap mulut gadis kecil itu. “Jangan menangis. nanti orang-orang pikir aku penculik, diam!” kata Jonghyun pada gadis itu sambil setengah berdiri. “Kau kenapa?” tanya Jonghyun lagi.

Eomma, aku ingin bertemu Eomma

Eomma? kau tersesat?” Gadis itu mengangguk “ baiklah aku akan membantumu mencari Eomma

Jonghyun meninggalkan trolinya dan menggendong gadis kecil itu ke pusat informasi. Disana, Jonghyun berbicara pada petugas bahwa dia menemukan seorang gadis kecil yang tersesat. Setelah mengumumkan ciri-ciri gadis itu, Jonghyun duduk di kursi bersama gadis kecil itu. Sebenarnya jika bisa ditinggal, Jonghyun ingin langsung pergi. Tapi gadis itu terus menangis sesenggukan, membuatnya harus menghabiskan waktu lebih lama dari yang dibutuhkannya ketika pergi ke supermarket.

“Siapa namamu adik kecil?” tanya Jonghyun dengan lebih ramah kali ini. Gadis itu masih sesenggukan dan tidak mau bicara. Jonghyun mendengus. Dia sudah tahu jika gadis itu tidak ingin bicara.

Sekitar beberapa menit setelah itu, seorang ibu-ibu dengan mata sembab dan wajah khawatir masuk ke dalam ruangan. “Hyejin!” pekiknya heboh. Gadis kecil yang ada di pangkuan Jonghyun langsung menghambur ke arah wanita yang memanggilnya Hyejin itu. “Eomma!”pekik gadis itu juga.

Jonghyun menghembuskan nafas lega. Setelah itu dia langsung berdiri dan tersenyum ke arah ibu dan anak yang sedang berpelukan itu. Ibu itu melirik ke arah Jonghyun dengan mata yang sembab. Dia mengucapkan banyak terimakasih padanya. Namun dibalik senyumnya, Jonghyun merasa familier dengan wajah ibu itu. Tiba-tiba suatu kilatan di otaknya membuatnya ingat.

“Nyonya Gu?” tanya Jonghyun tidak yakin.

Wanita paruh baya itu mengerjapkan matanya “Jonghyun-ssi?” Tanya Nyonya Gu menerka-nerka.

“Iya, saya Lee Jonghyun, senang bertemu dengan anda lagi” kata Jonghyun sambil membungkuk.

Jjinjja Gomawo, Jonghyun-ssi” kata Nyonya Gu sambil membungkuk juga.

“Untung putri anda baik-baik saja, pantas saja tadi saya merasa familier dengan wajahnya, saya rasa dia mengenal saya”

Hyejin di pelukan Ibunya tersipu malu dan bersembunyi di balik leher ibunya. “Dia pasti mengingatmu saat pesta waktu itu.  Jongmal Gamsahamnida, Jonghyun­-ssi” kata Nyonya Gu.

Jonghyun menggeleng sambil tersenyum. “Saya senang Hyejin baik-baik saja,” Jonghyun melihat ke arah jam dinding yang ada ruangan itu. “Saya rasa saya harus pergi, Annyeong” kata Jonghyun sambil melambai pada Hyejin dan membungkuk pada Nyonya Gu.

Sebelum Jonghyun keluar dari ruangan itu, Hyejin turun dari gendongan ibunya dan menarik tangan Jonghyun. Hyejin memberikan sebungkus permen cacing warna-warni. Kemudian Jonghyun tersenyum dan mengangguk pada Hyejin “Gomawo” ujarnya.

Dengan jijik Yoona memasukan semua pakaian kotor Jonghyun ke dalam mesin cuci. Setahu Yoona laki-laki itu memang makhluk yang lebih jorok dibanding perempuan. Namun Jaebum dan Ayahnya tidak sejorok ini. Setidaknya baju kotor tidak pernah ditumpuk sampai berbau busuk. Yoona menghela nafas. Dia jadi teringat lagi pada Jaebum, hatinya terasa sakit jika memikirkan bagaimana nasib adiknya sekarang. Apa Ayahnya juga memaksa Jaebum bekerja? Lalu apa yang akan dilakukan Ayahnya jika tiba-tiba Yoona pulang?

Suara bel membangunkan Yoona dari lamunannya. Yoona berjalan ke arah pintu apartemen dan memasang ekspresi wajah kesal agar Jonghyun tahu betapa beratnya membersihkan apartemen Jonghyun yang lebih mirip sarang tikus itu. Lalu Yoona membuka pintu, dilihatnya Jonghyun dengan wajah cueknya yang ajeg.

“Sudah selesai?” tanya Jonghyun.

“Apa kau tidak sadar diri? Bagaimana aku bisa menyelesaikan semua ini hanya dalam waktu dua jam?” teriak Yoona seperti ibu-ibu depresi pada Jonghyun.

Jonghyun masuk ke dalam apartemennya tanpa membalas perkataan Yoona. Dia langsung berjalan ke dapur dan meletakkan belanjaannya di atas meja. Sedangkan Yoona mengikuti Jonghyun dengan langkah kesal. Kemudian Jonghyun mengeluarkan belanjaannya satu persatu. Mulai dari sereal-seral itu, lalu sayur-mayur, telur, beberapa mie instan, daging, cumi-cumi, ikan makerel, dan permen cacing yang diberikan Hyejin padanya.

“Kau mau makan malam?” tawar Jonghyun pada Yoona sambil tersenyum tanpa dosa.

Yoona terkejut, dia heran. Bagaimana bisa Jonghyun mempunyai selera makan di tempat kotor seperti ini. “Bukankah lebih baik, kau membersihkan tempat tinggalmu dulu?”

Jonghyun hanya berkedip sekilas dan membiarkan Yoona mengoceh tentang apartemennya yang kotor, seperti kapal pecah, seperti sarang tikus, inilah, itulah. Jonghyun muak mendengarnya dan berjalan ke arah Yoona lalu menyentuh keningnya dengan jari telunjuk. Hal itu berhasil membuat Yoona diam, atau lebih tepatnya syok. “Aku lelah dengan semua ocehanmu, Nona, bisakah kau berhenti mengeluhkan soal apartemenku dan melanjutkan pekerjaanmu?”

Yoona menatap kedua mata tajam Jonghyun. Ada yang aneh, seharusnya detak jantung Yoona berdegup kencang karena dia menyukainya. Namun perasaan yang datang kali ini berbeda. Perasaannya tidak sama seperti saat dia melihatnya duduk di cafe sambil melihat ke laptopnya. “Baiklah” kata Yoona, dia membuang pandangan dari Jonghyun dan berjalan menjauh. “Jonghyun-ssi, dimana kau meletakkan penghisap debumu?” tanya Yoona.

“Di kamarku” jawab Jonghyun. Kemudian laki-laki itu berjalan ke dapur. Panci, sendok, garpu, piring, mangkuk, benda-benda yang hanya dicucinya ketika dia akan memakainya. Kini sudah tersusun rapi di tempat asal mereka. Jonghyun sangat senang. Jika saja gadis itu bisa jadi pembantunya, dia tidak akan repot-repot mencuci dan membersihakan semua tetek bengek ini.

“Tunggu,” Jonghyun baru saja mendapat ide paling cemerlang dalam hidupnya. Dia memetik jarinya dan mulai memasak sebisanya untuk makan malam.

Yoona sudah membuang semua sampah yang ada di dekitar ruang TV. Dia sekarang tengah membersihkan karpet abu-abu yang entah kapan terakhir kali Jonghyun membersihkannya.

Di saat Yoona sibuk membersihkan apartemen yang super kotor itu. Dengan santai Jonghyun berjalan dari dapur dan menjatuhkan dirinya di sofa dan menaruh kakinya di atas meja pendek yang ada di antara sofa dan TV. Dia membawa semangkuk mie instan dan terlihat memamerkannya pada Yoona.

“Kau ini kenapa sih?” kata Yoona kesal.

Jonghyun hanya diam sambil meraih remote TV. Dia menyalakan TV plasma berspeaker besar itu dan mencari berita. Hal itu yang selalu dicarinya jika sudah memegang remote. Jarang-jarang dia melihat acara musik atau hal-hal berbau bocah lainnya. Tiba-tiba dia teringat permen cacing yang diberikan Hyejin padanya. Setelah meletakkan makanannya di atas meja pendek itu, Jonghyun langsung berlari ke dapur dan mengambil permen cacing itu. Kemudian dia berlari ke arah Yoona, menyodorkan sebungkus permen kenyal berbentuk cacing.

“Kau mau tidak?” tanya Jonghyun dengan ekspresi dingin.

Yoona melirik ke arah Jonghyun, “Mm, tidak, terimakasih” Tolak Yoona dengan sopan.

“Ayolah, Yoona-ssi, anggap ini sebagai hadiah cuma-cuma dariku”  kata Jonghyun sambil menaikkan kedua alisnya.

Yoona mengambilnya dengan hati-hati. Dia sebenarnya masih meragukan kebaikan laki-laki itu. karena di balik sorot tersembunyi hal-hal yang Yoona tidak mengerti. Semacam teka-teki tanpa petunjuk yang hanya akan menemui jalan buntu. “Kau kenapa?” tanya Jonghyun sambil mendekatkan wajahnya pada Yoona.

Sontak, Yoona mundur ke belakang dan menunduk. Jonghyun terkekeh pelan dan kembali ke sofa untuk melanjutkan makan sorenya yang tertunda.

“Aku sedang berpikir tentang caramu membayarku , Nona Im Yoona” kata Jonghyun sambil melahap sesumpit  mie.

“Jangan bilang kau tertarik menjadikanku pembantu” kata Yoona.

Jonghyun tersenyum penuh kemenangan. “Oh, kau cukup cerdas untuk membaca pikiranku, Yoona-ssi” Jonghyun berbalik untuk melihat Yoona. Dari punggung sofa dia bisa melihat Yoona tengah bersungut-sungut. “Apa kau lapar?” tanya Jonghyun dengan mulut yang masih penuh.

Yoona menoleh ke arah Jonghyun dan menggeleng. Tapi perutnya benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama. Terdengar gemuruh keras dari perutnya. Sial, rutuk Yoona pada dirinya sendiri.

Jonghyun tertawa sangat keras. Sampai-sampai Yoona salah tingkah. “Sepertinya perutmu berkata jujur” kata Jonghyun masih diikuti gelak tawa.

Yoona bersikeras untuk menahan rasa laparnya. Namun Jonghyun keras kepala ingin membuatkan makan untuk gadis itu. Dia takut jika gadis itu pingsan lagi seperti beberapa hari yang lalu.

Setelah menghabiskan satu mangkuk mie-nya. Jonghyun pergi ke dapur dan membuatkan Yoona sereal. Sebenarnya tidak cocok untuk makan sore seperti ini. Namun dia tidak bisa membuat makanan yang ribet. Dan Jonghyun pikir, mie instan tidak baik untuk tubuh gadis ini sekarang.

Saat Jonghyun berada di dapur, sebuah telepon masuk ke ponsel Yoona. Yoona menghentikan aktivitasnya dan mengambil ponselnya dari saku celana.

Yeoboseyo” Sahut Yoona.

“Yoong, kemana saja kau?” semprot seseorang dari ujung telepon.

“Oh, sabar Seo, aku sedang mengerjakan sesuatu, aku akan segera pulang, jangan khawatir” kata Yoona meyakinkan Seohyun.

“Baiklah, tapi jangan terlalu malam, kau membuat kami semua khawatir” kata Seohyun.

Apa maksudnya kami? Pikir Yoona. “Kami?” Yoona bertanya pada Seohyun.

“Pokoknya kau pulang ke rumahku secepatnya ya!”

Belum sempat Yoona membalas perkataan Seohyun. Teleponnya sudah dimatikan, terkadang sahabatnya yang satu itu memang sangat menyebalkan. Lagaknya seperti seorang ibu yang overprotektif terhadap anak-anaknya.

Jonghyun mengambil gagang penyedot debu itu dari tangan Yoona. Sudah berkali-kali Jonghyun mengejutkan Yoona hari ini. Kemudian Jonghyun menyandarkan penyedot debu itu ke dinding dan menyodorkan Yoona semangkuk sereal jagung.

“Makanan apa ini?” kata Yoona sambil mengambil mangkuk itu dari tangan Jonghyun. Jonghyun mempersilahkan Yoona duduk di sofa sambil menahan tawa.

Yoona pun duduk di sofa, diikuti Jonghyun yang duduk agak jauh darinya. Dia memainkan action figure hadiah dari sereal itu. Tapi sebenarnya dia tidak benar-benar memainkan action figure itu. Dia tengah memperhatikan Yoona lewat ekor matanya.

“Tuan Arsitek, aku bertanya padamu” kata Yoona.

Jonghyun menoleh dramatis ke arah Yoona. “Itu? itu sereal jagung, kau tidak pernah memakannya?” kata Jonghyun dengan nada yang sedikit meremehkan.

“Sejak kecil, aku hanya makan makanan sederhana, paling mewah hanya bulgogi” kata Yoona sambil tersenyum mengingat masa kecilnya.

Air muka Jonghyun berubah serius. Baru sekali ini di bertemu dengan gadis macam ini. Gadis-gadis di masa lalunya selalu berasal dari golongan yang sama dengannya. Tempatnya dulu bersekolah adalah sekolah asrama yang elit. Dia juga tidak pintar bergaul saat kuliah, paling hanya Wooyoung dan beberapa orang. Dia tidak pernah benar-benar berkomunikasi dengan seseorang seperti Yoona, gadis sederhana yang cuek dengan pendapat orang lain tentangnya

“Yoona-ssi, makanlah dengan baik”

Ucapan Jonghyun itu diikuti dengan senyuman tipis penuh arti. “Jika kau sudah selesai makan nanti, aku akan mengantarkanmu pulang, bagaimana?” kata Jonghyun.

Yoona menoleh pelan “Tidak usah” katanya ketus.

“Tenang saja, aku ini majikan yang baik kok” kata Jonghyun.

“Majikan?”

“Mmm, mulai hari ini kau resmi jadi pembantuku” Jonghyun tersenyum licik dan bersidekap sambil mengarahkan pandangannya ke berita di TV.

Seohyun duduk gelisah di depan rumahnya, menunggu Yoona yang tak kunjung datang. Sebenarnya dia khawatir bukan karena itu. Dia khawatir jika tetangga Yoona yang waktu itu menyeret Yoona pulang dan memberitahu Yoona tentang segalanya. Dia juga takut kalau-kalau Yoona pingsan lagi.

“Juhyun jangan Khawatir, Yoona itu bukan gadis yang ceroboh” kata Ibu Seohyun sambil menepuk pundaknya.

“Iya, Bu” sahut Seohyun sambil mendongak dan tersenyum pada Ibunya. Dia berdiri dan mengikuti Ibunya masuk ke dalam rumah.

Yoona mengikuti Jonghyun masuk ke dalam lift, dia sebenarnya pusing dan merasa mual jika ada di dalam lift. Tapi dia tidak mau dibilang norak oleh Jonghyun.

Dari tempatnya berdiri Jonghyun bisa melihat gelagat aneh dari Yoona. Namun Jonghyun hanya mengedikkan bahu dan mencoba tidak peduli pada gadis itu. Tapi hati kecilnya terus berteriak-teriak pada Jonghyun untuk memperhatikan gadis itu. Kenapa? Pikir Jonghyun sambil mengelus-elus dadanya yang mendadak merasa aneh. Jonghyun melirik lagi pada Yoona, wajahnya pucat dan dia terus menelan ludah. “Kau tidak apa-apa?” tanya Jonghyun.

“Mmmm” jawab Yoona sambil mengangguk.

“Aku benar-benar bertanya padamu, Yoona-ssi, jawab aku dengan jujur” kata Jonghyun kesal.

Yoona melirik tajam ke arah Jonghyun, jika saja tatapan bisa membunuh mungkin Jonghyun bisa mati saat itu juga. “Aku tidak apa-apa, tida usah mengkhawatirkan aku”

“Kau ini gadis yang keras kepala” Jonghyun mencibir.

Lampu di lift menerangi tulisan B1, yang artinya mereka ada di basement 1. Yoona langsung berlari keluar ketika pintu lift-nya terbuka. Dia kebingungan mencari tempat sampah, dan saat dia melihatnya Yoona langsung berlari kesana dan muntah-muntah ke dalam tempat sampah itu. Jonghyun berlari mendekati Yoona dan bingung mau melakukan apa, dia ingin menepuk-nepuk punggung Yoona. Namun dia ragu.

“Kau tidak apa-apa?” kata Jonghyun khawatir. Yoona mengangguk dan mengatungkan tangan. “Mwo?” kata Jonghyun.

“Tisu, bodoh” umpat Yoona.

Jonghyun mengacak-acak rambutnya dan berlari ke mobilnya, mobil Jonghyun terparkir di pojokkan. Dia sudah lama sekali tidak memakai mobilnya itu. Karena dia lebih suka naik kendaraan umum. Dia cepat-cepat membuka mobilnya dan mengambil satu pack tisu. Kemudian dia berlari lagi pada Yoona. Menyodorkan tisu itu dan Yoona mengambil sangat banyak. Lalu dia mengelap wajahnya dengan tisu itu.

“Sebenarnya kau ini kenapa?” tanya Jonghyun lagi.

Yoona menoleh ke arah Jonghyun dan mengerutkan wajahnya karena pusing. “Aku tidak tahan naik lift, Maaf, aku memang udik” kata Yoona.

Jonghyun tersenyum geli, ternyata hanya karena itu. “Kenapa kau tidak bilang? Kalau kau tadi bilang kita bisa lewat tangga” kata Jonghyun masih diikuti tawa geli.

Yoona cemberut, dia menunduk karena kesal. Ini yang dia tidak suka. Jonghyun pasti akan mengejeknya walaupun secara tersirat. Hal itu membuat Yoona merasa dirinya sangat udik dan norak.

Suasana parkiran cukup sepi malam itu. Jam yang ada di ponsel Jonghyun menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit saat Jonghyun melihatnya. “Mmm, Kkaja, ini sudah malam, kau juga sudah disuruh pulang kan?”

Yoona mengangguk. Jonghyun menarik lengan Yoona agar mengikutinya ke mobil Jonghyun. Detak jantung Jonghyun jadi tidak teratur. Ada perasaan asing yang tiba-tiba menyambangi hatinya. Dia juga pernah merasakan itu sebelumnya, namun itu dulu. Sudah sangat-sangat lama semenjak dia merasakan hal itu. Sedangkan Yoona di belakang Jonghyun hanya terdiam, dia masih berputar sendiri dalam pikirannya. Dia sedang memikirkan semua perbedaan yang dia rasakan mengenai Jonghyun dan laki-laki yang ada di cafe itu. Mereka adalah satu orang, tapi sangat berbeda.

Ketika Yoona melihat mobil Jonghyun dia jadi tambah ragu. Mobil miliknya seharusnya adalah mobil mewah berwarna hitam yang mulus bukan mobil berwarna silver yang pintunya penyok seperti itu.

“Kenapa? Kau tidak suka mobilku?” tanya Jonghyun. Ternyata sedari tadi dia memperhatikan ekspresi wajah Yoona yang terlihat miris dengan keadaan mobil Jonghyun.

“Kemana mobil hitammu yang waktu itu?”tanya Yoona bingung.

Jonghyun bergidik. Dia lupa jika dia bukanlah Minhyun, dia adalah Jonghyun dan Jonghyun tidak memiliki mobil Lexus hitam seperti Minhyun. “Aku mengembalikannya pada Ayahku, dan membeli mobil bekas itu dengan uangku sendiri” kata Jonghyun dengan ekspresi bangga yang dibuat-buat. Ada benarnya perkataan Jonghyun, dia memang membeli mobil itu dengan uangnya sendiri.

Yoona tersenyum dan manggut-manggut. Hebat juga ternyata orang ini, pikirnya. “Masuk! Kau sudah membuang waktuku, aku juga belum sempat mandi gara-gara kau” kata Jonghyun sambil masuk ke mobil. Yoona mendengus dan membuka pintu mobil Jonghyun. Saat dia masuk, dia dikejutkan lagi dengan betapa bersihnya mobil Jonghyun, berbeda sekali dengan keadaan apartemen Jonghyun yang seperti sarang tikus.

“Kau ini orang yang susah ditebak ya” kata Yoona sambil melihat-lihat mobil Jonghyun yang sangat bersih.

“Kau terkejut lagikan? Aku ini memang orang yang seperti ini” kata Jonghyun sambil menarik kerah bajunya dan tersenyum congkak.

“Eh, Tuan Arsitek, aku ingin minum, kau ada minum tidak?”

Jongyun melirik kesal ke arah Yoona. “Bilang saja, jika kau mau aku membelikanmu minum”

“Begitu juga tidak apa-apa sih” kata Yoona sambil bermain-main bandul boneka rilakuma yang ada di kaca tengah.

“Yoona-ssi, aku mulai suka jika kau memanggilku Tuan Arsitek, aku jadi merasa benar-benar menjadi majikanmu”

“Aku belum bilang setuju” Yoona memperingatkan.

“Ya terserah aku saja kalau begitu” Jonghyun tersenyum ke arah Yoona dan menyalakan mesin mobilnya.

Seorang perempuan berkulit agak gelap tengah berdiri bersama seorang anak laki-laki berpostur tubuh kurus dan tinggi. Anak itu menyesap rokok, dan langsung menghempaskannya ke tanah ketika mendengar nama kakaknya di sebut oleh perempuan itu.

“Jadi, Noona sempat sakit?” katanya khawatir. Anak laki-laki bernama Jaebum itu menggeretakkan giginya.

Perempuan itu mengangguk, kemudian meneruskan ceritanya. “Kurasa, temannya belum menyampaikan apapun pada Yoona, karena dia tak kunjung pulang”

Jaebum berjongkok dan menenggelamkan kepalanya dalam telapak tangannya. “Noona, tidak akan pulang, dia tidak ingin bertemu lagi denganku ataupun Ayah, memang sudah sepantasnya begitu” kata Jaebum.

“Jaebum-ah,” Yuri membelai pelan bahu Jaebum. “Yoona pasti pulang, dia pasti akan pulang untukmu, percayalah padaku, asal kau juga terus berdo’a agar dia pulang, agar dia bisa menjagamu, tapi selama Yoona pergi, kau harus bisa menjaga dirimu sendiri”

“Dia berjanji Noona!” teriak Jaebum pada Yuri.

Yuri menelan ludah dan mencari-cari kata yang tepat untuk menenangkan Jaebum. Dia menatap miris anak itu. Dia masih kelas 11 dan harus menghadapi hidup yang sulit. Ibunya menjadi gila saat umurnya masih sangat belia, dan Ayah yang terus memaksanya bekerja untuk mendapat uang, jika tidak maka dia akan disiksa, dan sekarang kakaknya pergi. Yuri duduk disamping Jaebum “Yoona sangat merindukanmu, aku bisa jamin”kata Yuri pada Jaebum.

Jaebum menoleh ke arah Yuri dengan tangisan yang tertahan. “Dia pasti ingin kau jadi anak yang baik, jangan seperti ini”Lanjut Yuri.

Jonghyun dan Yoona sibuk dengan pikiran mereka masing-masing saat berada di mobil. Yoona sedang serius memikirkan Jaebum, dia ingin pulang tapi dia masih takut. Dia takut dia akan disiksa oleh Ayahnya lagi. Tapi Jaebum? Bagaimana hidupnya tanpa Yoona? Padahal dia sudah berjanji pada Jaebum dan dirinya sendiri jika dia akan selalu menjaga Jaebum.

Jonghyun melihat sesuatu yang lain dipikirannya. Dia rindu pada Vanilla dan semua ceramah Paman Seokjin yang menyebalkan. Mungkin dia harus berbaikan dengan Pamannya itu setelah ini. Kemudian dia melirik ke arah Yoona yang membuang pandangan darinya. Gadis itu, datang tiba-tiba dan membuatnya jatuh kembali ke dalam masa lalu yang hampir dia lupakan. Karenanya dia mengerti bagaimana dunia itu bisa begitu sempit.

Yoona meminum lagi air mineral dari botol. Tadi Jonghyun berbaik hati membelikannya air mineral saat dia berhenti di pom bensin. Sebenarnya Yoona juga tidak enak dengan semua orang yang ada di sekitarnya. Sepertinya kedatangannya hanya merepotkan orang lain dan tidak bisa membuat orang lain bahagia.

“Yoona-ssi, kemana arah jalannya?” kata Jonghyun memecahkan lamunan Yoona.

Yoona menoleh untuk melihat Jonghyun sekilas, lalu pandangannya langsung menuju jalan yang ada di depannya. “itu ada perempatan, belok ke kiri”Jawab Yoona sekilas, lalu dia kembali pada lamunannya.

“Jangan bersedih” kata Jonghyun tiba-tiba.

Yoona hanya menghela nafas dan mengedikkan bahu. Dia sedang tidak ingin peduli dengan apa yang dikatakan Jonghyun. Jonghyun melihat Yoona lewat ekor matanya dan dia ikut menghela nafas. Mungkin dia lelah, pikir Jonghyun.

“Kemana lagi ini?” tanya Jonghyun

“Nanti ada jalan kecil, lewat sana, rumah nomor 10” Yoona menjelaskan sekenanya.

“Oke” sahut Jonghyun tanpa semangat.

Akhirnya mereka sampai, dan sebelum Yoona keluar dari mobil, Jonghyun menarik lengannya dan tersenyum “Pinjam ponselmu” kata Jonghyun.

Yoona mengernyitkan kening “Untuk apa?”

“Untuk makan, Ya tidaklah, mana-mana, berikan padaku!”kata Jonghyun memaksa.

Yoona mengeluarkan ponsel dari saku jaket denimnya dan memberikannya pada Jonghyun. Jonghyun melihat ponsel Yoona yang kelewat jadul. Dia ingin tertawa tapi dia menahannya, dia tahu kondisi ekonomi Yoona dan dia tidak ingin membuat itu sebagai bahan lelucon baginya lagi.

“Sudah?” kata Yoona kesal.

“Keluarlah! Ponselmu akan kubawa, agar aku bisa memastikan besok kau tidak mangkir dari pekerjaan” Jonghyun memasukkan ponsel Yoona ke dalam saku celananya. “Oh, iya, satu lagi, bisa tidak sih kau tidak bergaya seperti backpacker?” tanya Jonghyun.

Yoona menggeleng dan mengatungkan tangannya pada Jonghyun “kembalikan ponselku”katanya.

“Jangan harap, sudah sudah keluar sana!”kata Jonghyun sambil mendorong Yoona keluar dari mobilnya.

“Jonghyun­-ssi!” keluh Yoona. Yoona akhirnya keluar dari mobil karena didorong-dorong oleh Jonghyun. Dia menatap Jonghyun marah. “KEMBALIKAN! SIAPA BILANG AKU INGIN JADI PEMBANTUMU?” teriak Yoona pada Jonghyun.

“Kau ini berisik sekali, dah!” Jonghyun menarik pintu mobilnya dan menutupnya dari dalam.

Yoona hanya bisa berdiri seperti orang bodoh ketika melihat mobil itu melaju. “Lee Jonghyun, Sialan!!!” umpatnya dalam hati, dalam kenyataan dia hanya bisa menggenggam tangannya sampai kram dan menjejak-jejakkan kakinya kesal.

“Yoong!!” Seohyun keluar dari rumahnya dan langsung berlari ke arah Yoona yang marah-marah itu. dia memeluk Yoona penuh kelegaan.

“Kau kenapa Seo?”tanya Yoona bingung.

“Kupikir kau pergi entah kemana”kata Seohyun sambil memeluk Yoona.

“Ya ampun, keep it cool, Seo” kata Yoona sok berbahasa inggris.

“Aku dari tadi menunggumu di ruang tamu sambil membaca, ketika mendengar kau berteriak, aku langsung keluar rumah” Seohyun menceritakannya dengan lucu. Hal itu membuat Yoona tertawa lebar.

“Ya sudah, ayo masuk, maaf ya, membuatmu khawatir” kata Yoona sambil merangkul Seohyun dan berjalan masuk ke rumah.

“Ngomong-ngomong, siapa Jonghyun?” tanya Seohyun “Jonghyun, temannya Wooyoung itu?” lanjutnya dengan ekspresi kesal.

Yoona mengangguk dan menatap Seohyun datar. “Bagaimana dia bisa mengantarmu pulang?” kata Seohyun terkejut.

“Mmm, aku ceritakan di kamar deh” Yoona tersenyum ke arah Seohyun dan mengerling.

Jonghyun tidak tahu apakah Paman Seokjin juga marah padanya. Yang penting malam itu dia ingin meminta maaf dan mengambil Vanilla. Dia rindu pada anjingnya itu. Jonghyun mengetuk pintu depan rumah Paman Seokjin dengan sangat keras.

“Paman!” teriak Jonghyun dari sana.

Tidak sopan benar anak ini, batin Paman Seokjin ketika dia berjalan membuka pintu itu. Jonghyun tersenyum ke arah Pamannya dan memeluk Pamannya. “Maafkan aku Paman” kata Jonghyun.

Paman Seokjin tersenyum bijaksana. “Aku juga, seharusnya aku tidak mengatakannya”

Jonghyun melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar ke arah Paman yang sudah dianggapnya seperti Ayah sendiri. “Paman, ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu”

Paman Seokjin merangkul Jonghyun dan mengajaknya masuk. Mereka berjalan ke dapur, dan hati Jonghyun sangat gembira karena Vanilla langsung berlari ke arahnya dan menggonggong seperti biasanya. “Sayang, kau baik-baik saja?”tanya Jonghyun pada Vanilla sambil membelai bulu-bulu Vanilla yang lembut. Paman Seokjin seperti biasa membuat kopi untuk dirinya sendiri dan membuat susu coklat untuk Jonghyun. Dia tahu keponakannya yang satu itu tidak suka kopi.

“Kau mau menceritakan tentang apa?” kata Paman Seokjin sambil meletakkan gelas-gelas itu di atas meja.

Jonghyun menyuruh Vanilla untuk duduk di depannya dan langsung menoleh ke arah Paman Seokjin sambil tersenyum. “Akhir-akhir ini aku merasa hidupku terasa lebih hidup, Paman” kata Jonghyun seraya mengambil gelas berisi susu coklat dan meminumnya sedikit.

“Kenapa? Kau menemukan sesuatu yang luar biasa?”

Pandangan Jonghyun menerawang. Dia melihat seseorang dalam pikirannya “Mmm, kurasa iya, kurasa memang luar biasa”

Paman Seokjin tersenyum geli “Kau jatuh cinta?”

Jonghyun menoleh ke arah Paman Seokjin dan menggeleng “Entahlah, kau tahu aku bukan orang yang begitu mudah jatuh cinta seperti Minhyun, Paman”

“Lalu kau sebut apa perasaan yang kau rasakan sekarang?”

Jonghyun mengedikkan bahu dan menyeruput susu coklatnya sambil tersenyum.

“Dia membuatku jadi pembantunya” kata Yoona sambil mengerjakan tugasnya. Seohyun tengkurap di tempat tidur sembari mendengarkan cerita Yoona dan memakan permen cacing milik Yoona. “Dan sekarang dia membawa ponselku”

“Huh, iyakan dia itu menyebalkan dan kurang ajar, kenapa sih kau dekat-dekat dengannya” Kata Seohyun dengan mulut penuh.

Yoona menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Seohyun. “Itu dia, aku juga tidak tahu kenapa, aku masih bingung dengannya Seo. Mm,, kau masih ingat tentang laki-laki yang kulihat di cafe tempat aku bekerja dulu?”

Seohyun mengingat-ingat cerita Yoona dan mengangguk. “Dia adalah laki-laki itu” kata Yoona. Membuat Seohyun terkejut dan tersenyum lebar. Bahkan Seohyun berteriak-teriak heboh tanpa suara. “Jadi itu alasanmu?” tanya Seohyun.

“Hmm, kurasa, tapi ada yang aneh soal dia, dan menurutku benar-benar aneh, dia adalah orang yang sama, tapi ketika aku melihatnya saat aku pergi ke apartemennya untuk mengembalikan Snowy, yang kulihat bukanlah orang yang sama namun mereka sama Seo, tapi berbeda, aduh aku jadi bingung sendiri”

“Mungkin mereka kembar, siapa tahu” Ujar Seohyun asal.

“Mungkin, tapi kurasa tidak, karena dia tidak pernah bilang begitu, Ah! Mungkin Wooyoung tahu, aku harus bertanya padanya besok”

Jonghyun sedang tiduran di sofa sambil membaca pesan di ponsel monokrom Yoona ketika sebuah telepon masuk ke ponsel miliknya. Jonghyun tersenyum lebar ketika melihat nama itu terpampang di layar. Dia berdiri dan mengangkat telepon itu.

“Selamat malam, Pak Gu Yeongseok” kata Jonghyun.

“Lee Jonghyun, Maaf menelpon malam-malam seperti ini, kudengar tadi kau membantu putri kecilku”

Jonghyun terkekeh,”Tadi itu bukan apa-apa, Pak” kata Jonghyun merendah.

“Begini, aku ingin mengucapkan terimakasih padamu, namun kurasa tidak cukup hanya menggunakan kata-kata, jadi bagaimana jika kita besok kita semua makan malam? Kebetulan aku juga sedang ingin mendiskusikan resort baruku di Jeju bersamamu”

Jonghyun mengepalkan tangannya dan bergumam ‘Yes’ tanpa suara. “Oh, tentu saja, Pak, dengan senang hati” Jawab Jonghyun.

“Baiklah, aku akan mengirim pesan untuk tempat dan waktunya besok, Jongmal Gamsahamnida, Jonghyun-ssi

“Aaa, Ne, Itu tadi bukan apa-apa, Pak” Jonghyun merendah lagi.

“Baiklah, selamat malam maaf mengganggu” kata Pak Gu sambil mematikan teleponnya.

Jonghyun tersenyum dan menonjok-nonjokkan tangannya. Lalu dia melompat dan menjatuhkan dirinya di sofa. Kemudian dia menghela nafas “Hah, aku beruntung sekali hari ini”

Yoona diantar Wooyoung dan Taeyeon ke apartemen Jonghyun. Bukan diantar sebenarnya, tapi Yoona nebeng. Sekaligus mau mengawasi mereka berdua, siapa tahu Yoona menangkap adegan romantis yang dilakukan oleh mereka berdua. “Kenapa kalian diam saja?” Tanya Yoona yang ada di jok belakang.

Taeyeon dan Wooyoung saling berpandangan. Mereka sebenarnya kesal juga kenapa harus ada makhluk itu juga di mobil Wooyoung. “Kau pikir siapa penyebabnya?” kata Wooyoung sambil menyeringai ke arah Yoona.

“Aku? Ya, Maaf” kata Yoona sambil nyengir kuda. “Aku pergi dulu” kata Yoona sambil membuka pintu mobilnya.

“Yoong!”panggil Taeyeon.

“Hmm?” Yoona mengedikkan dagu.

“Hati-hati ya” Taeyeon tersenyum bersahaja.

Yoona malah terkekeh, dia mengangguk dan akhirnya keluar dari mobil. Kemudian dia berdiri di depan pintu masuk apartemen yang luas itu. Sebelum masuk dia menyempatkan diri untuk melambaikan tangannya pada Taeyeon yang melambai padanya lewat kaca mobil. Yoona tersenyum dan segera berlari memasuki apartemen mewah itu. Dia melihat lift dengan tatapan miris dan segera mengedarkan pandangannya ke arah pintu masuk tangga darurat.

Jonghyun sibuk menyetrika kemeja putih yang akan dipakainya untuk menemui Tuan Gu Yeongseok. Dia melihat ke arah jam tangannya ini sudah pukul lima lewat lima belas menit dan Yoona belum juga datang. Seharusnya dia datang sekita satu jam yang lalu. Dia dari tadi sudah merecoki ponsel Wooyoung dengan pesan menyuruh Yoona untuk secepatnya pergi ke apartemen Jonghyun.

“Apa dia tidak menyampaikannya?”keluh Jonghyun kesal.

Vanilla bergelung manja di dekat Jonghyun. Dan Jonghyun tersenyum ke arahnya, namun tentu saja dia masih sibuk dengan kemeja berwarna putih yang di setrikanya.

Yoona berjalan santai melangkahi tangga demi tangga, padahal masih enam lantai lagi yang harus dia lalui. Dia melihat ke arah jam tangannya. Sebenarnya dia bisa menundanya sampai kapan saja, bahkan dia ingin tidak datang. Tapi dari tadi Wooyoung terus menyuruh Yoona untuk datang ke tempat Jonghyun. Karena kesal akhirnya dia ikut masuk ke dalam mobil Wooyoung sekaligus mengawasi kedua sahabatnya, Wooyoung dan Taeyeon.

Tadi siang dia juga sudah sempat bertanya pada Wooyoung soal intuisinya mengena kembaran Jonghyun. Dan jawaban yang keluar dari Wooyoung masih membuat Yoona ragu, Woo bilang Jonghyun hanya mempunyai satu kakak perempuan dan satu adik perempuan, dia tidak pernah dengar soal kembaran Jonghyun, Yoong ingin percaya namun hatinya berkata tidak. Padahal Wooyoung menjawabnya dengan yakin, bahkan Seohyun percaya.

“Haruskah aku bertanya padanya sendiri?” pikir Yoona, Yoona menggeleng dan meneruskan langkahnya menuju lantai 11.

Dia sampai di depan pintu kamar 1115 dan memencet bel-nya dengan lemas. Dia lelah sekali hari ini, dan rasanya dia hanya ingin tidur.

Jonghyun membuka pintu kamarnya dan langsung menarik Yoona masuk. Yoona terkejut setengah mati, karena cara Jonghyun menarik Yoona benar-benar kasar.

“Kau ini kenapa?”kata Yoona sambil cemberut.

“Kau ini yang kenapa, kenapa baru datang sekarang?”

“Aku sibuk, tugas kuliahku juga banyak, dan aku bahkan belum bilang iya untuk jadi pembantumu” Yoona membela diri.

“Cukup!” kata Jonghyun sambil melepaskan genggaman tangannya.

Yoona mendongak dan menatap Jonghyun marah. “Mwo?”

Jonghyun membuang pandangannya sekilas lalu memandang Yoona penuh teka-teki “Maaf,” kata Jonghyun. “Mmmm, aku ingin kau membantuku menata penampilanku, aku ada makan malam dengan orang penting malam ini” kata Jonghyun dengan kalimat yang lebih sopan dan tekanan yang lebih lembut.

Yoona mengerutkan dahinya. Emosinya berubah cepat sekali, batin Yoona. “Kau? Aku bahkan tidak pintar menata penampilanku sendiri” kata Yoona sambil tersenyum getir.

Jonghyun mendesah dan menatap Yoona kesal “Ayolah! Kau kan perempuan, setidaknya kau tahu yang cocok untukku, Ppalli!” Jonghyun menyuruh Yoona untuk mengikutinya ke sebuah ruangan kecil. Terlihat banyak baju berjajar disana, kebanyakan kemeja dan kaos oblong, tapi ada juga beberapa jas, dan rompi. “Aku tadi sudah menyetrika kemejaku, kau tahu jariku kena setrika nih!” Jonghyun menunjukkan jari telunjuk yang memerah pada Yoona

“Itu sih bukan urusanku ya” kata Yoona cuek.

“Eh, tolong setrikakan celanaku, di kamar Vanilla, cepat!” kata Jonghyun pada Yoona seenak jidat.

Yoona mendengus dan keluar dari ruangan kecil itu, katanya tadi disuruh membantu menata penampilannya. Yoona jadi lupa jika dia tadi ingin menanyakan pada Jonghyun soal kemungkinan dia memiliki kembaran. Namun sekarang Yoona benar-benar malas berbicara dengan laki-laki itu. Selama beberapa menit ini, perasaanya sudah di bolak-balik, di permainkan seperti rubik. Kenapa Jonghyun selalu seperti itu? Selalu saja membuat Yoona terkejut dengan semua hal yang dilakukannya.

Yoona melangkahkan kakinya memasuki kamar Vanilla yang pintunya terbuka lebar. Ketika pertama kali dia memasuki ruangan itu, hanya ada meja setrika, lalu alat-alat kerja Jonghyun, sepertinya itu ruang kerja Jonghyun, dan tempat tidur anjing yang kosong. Namun sekarang dia bisa melihat Vanilla tengah tertidur di atas kasurnya yang nyaman. Yoona ingin memekik karena tidak tahan dengan kelucuan Vanilla. Dia rindu pada anjing berbulu putih itu. “Neomu kyeopta” pekik Yoona pelan. Dia melangkah mendekati setrikaan itu dan melihat celana lusuh tergantung di dekatnya. “Ya, Ampun” kata Yoona sambil mengambil celana Jonghyun dari hanger dan meletakkannya dia atas meja setrika. Dia menyetrikanya dengan hati-hati, namun juga dipenuhi rasa kesal mengingat wajah Jonghyun yang sangat-sangat menyebalkan.

“Yoona-ssi!” Jonghyun mengagetkan Yoona. Membuat Yoona terlonjak dan memekik sekilas.

“Jonghyun!!” kata Yoona sambil menggeretakkan giginya dan meremas-remas tangannya.

Jonghyun tertawa terbahak-bahak dan pergi. Yoona mengerjapkan matanya dan menghela nafas. Dia melanjutkan kegiatan menyetrika sampai celana itu benar-benar klimis.

Gadis itu berjalan dengan langkah congkak, dia merasa dirinya bak diva dimana saja. Dia berjalan bersama koper dan tas jinjing kecil di tangan kanannya. Beberapa bodyguard berjalan mengiringinya. Beberapa orang memandangnya takjub, beberapa lagi ada yang tidak suka. Tapi ada juga yang mengejarnya, mereka adalah wartawan dari majalah dan berita.

“Nona Maeda, mobil anda sudah menunggu” kata seorang wanita dengan bahasa Jepang.

Gadis itu hanya mengangguk sekilas dan berjalan cepat keluar dari bandara.

“Artis muda Jepang, Mizuki Maeda telah tiba di bandara Incheon, kedatangannya ke Korea kali ini untuk syuting film bersama aktor Lee Min Ho, film ini kabarnya akan mengambil setting di Jepang dan Korea, kisahnya diangkat dari Novel Populer karya Lee Min Hyeon,

Jonghyun yang melihat berita itu hanya mendengus pelan. Dia kenal dengan gadis itu, gadis itu adalah putri teman Ayahnya. Dulu Ayahnya berencana menjodohkan mereka, tapi Jonghyun menolaknya mentah-mentah dia tidak suka gadis manja sepertinya. Untung saja Ayah dan Ibunya tidak memaksa. Jadi Jonghyun tidak perlu repot-repot menghadapinya lagi. Sudah hampir 5 tahun semenjak mereka terakhir bertemu, dan melihatnya di TV hari ini memunculkan rasa mual aneh di perut Jonghyun.

Dia bingung kenapa dari tadi dasi yang dipakainya tidak pernah benar. Dia melirik ke arah Yoona yang sibuk bermain bersama Vanilla di atas karpet. “duduk!” kata Yoona memerintah Vanilla. Vanilla menurut dan duduk di depan Yoona.

“Heh, Im Yoona, Sini!” kata Jonghyun.

Yoona mendengus dan berdiri, lalu berjalan mendekati Jonghyun. “Mwo?” kata Yoona.

Jonghyun memutar bola matanya dan menunjukkan ikatan dasinya yang tidak benar. Yoona cemberut dan melepaskan ikatan ruwet itu. Untung saja Yoona terbiasa memakaikan dasi untuk Jaebum, sehingga dia tidak kesulitan memasangkan itu untuk Jonghyun. Diam-diam Jonghyun tersenyum ketika Yoona masih fokus dengan dasinya. Dan saat Yoona menarik dasinya ke atas Jonghyun sengaja mendekatkan wajahnya pada Yoona.

“eh” Yoona bahkan bisa merasakan bau nafas mint Jonghyun. “Kau habis sikat gigi ya?” tanya Yoona sambil membuang pandangan.

“Tentu saja”kata Jonghyun bangga. Dia mengambil kunci mobil bututnya yang tergantung di gantungan jaket yang ada di dekat kamar mandi. “Yoona-ssi, aku titip Vanilla ya, dan ingat! Jangan pulang sebelum aku pulang, mengerti!”

“Maksudmu, bahkan jika kau tidak pulang?” tanya Yoona.

“Aku pasti pulang, tapi Pokoknya kau tidak boleh pulang ya! Kasihan Vanilla jika dia sendirian” kata Jonghyun memohon pada Yoona.

“Hmm, oke” kata Yoona, lalu dia ingat sesuatu “Mana ponselku?”

Jonghyun bergidik. Dimana kira-kira ponsel Yoona? Dia lupa dimana meletakkannya. Setelah dia membaca semua pesan yang ada di ponsel Yoona dia meletakkannya di … Jonghyun kemudian memandang Yoona.

“Kau cari sendiri ya, aku terburu-buru” Jonghyun segera berlari keluar dari Apartemennya dan menaiki lift, sehingga tidak ada kesempatan bagi Yoona untuk menangkap Jonghyun. Gadis itu menahan kekesalannya dan hanya bisa pasrah ketika menutup pintu Apartemen Jonghyun. Lalu dia menoleh pada Vanilla yang terlihat bingung.

“Kau lihat! Ayahmu itu tidak bertanggung jawab!” kata Yoona sambil menunjuk pintu apartemen Jonghyun.

Setelah itu Yoona mengambil tas ransel hitamanya yang tersandar pada sofa. Yoona mengambil laptopnya dan menyalakannya. Waktunya mengerjakan tugas!

Yoona terbangun ketika seseorang memencet belnya berkali-kali seperti orang yang tidak sabaran. Vanilla tergeletak di pelukan Yoona. Dengan hati-hati Yoona meletakkan Vanilla di atas sofa. Setelah itu dia berjalan gontai. Bukankah seharusnya Jonghyun bisa membukanya sendiri, batin Yoona. Jonghyun tahu password apartemennya jadi dia tidak perlu memencet bel segala.

Yoona membuka pintu apartemen. Dan lagi-lagi terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Hehehe,, karena saya libur, jadi post-nya cepet, panjang pula (posternya juga baru lho!, yang bikin kakak saya). maaf kalo di part kali ini isinya terlihat monoton, karena author pengen fokus ke *aduh ngantuk* fokus ke DeerBurning moment nya.

Maap ya kalo ntar banyak Typo atau kesalahan kata, bikinnya pas ngatuk soalnya. ntar kalo sempet bakal di edit

Terimakasih karena sudah membaca. dan jika tidak keberatan maka saya ingin anda memberi support. Tolong kritik dan saran, tapi tolong jangan nge-bash, itu tidak baik

Ahnmr

HIMRASAKI

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

22 thoughts on “Hello Mr. Architect #Part 4”

  1. Annyeong aku readers baru ^0^ !!
    Na… Derisna Imnida 😉 call me calistha
    FFmu daebak !?! Cepat lanjutin yah ? Feelnya dapet.
    Ffnya seperti drakor yg sering aku tonton !!
    Keep writing and HWAITING 😉 🙂

  2. Yoonanya suka Minhyun, Jonghyunnya suka Yoona.. ._____.
    Nggak papa deh fokus ke deerburning, suka kok.. Nyiahahaha XD
    Itu yang dateng Mizuki Maeda? *soktau*
    Oke, ditunggu kelanjutannya ya chingu! Fighting!’-‘)9

  3. siapa yg datang ke apartemen jonghyun? jangan2 si gadis jepang itu heooool huffft

    ini kapan jongyoon saling jatuh cintana? udh penasaran akut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s