Hello Mr. Architect # Part 5

hello mr. architect

Author: Ahnmr||Credit Poster: @nisaknugroho||Cast: Im Yoona (SNSD), Lee Jonghyun (CNBLUE), (OC) || Support Cast: Jang Wooyoung (2PM), Seo Juhyun/Seohyun (SNSD), Kim Taeyeon (SNSD), Kwon Yuri (SNSD)|| Genre: (Masih ditanyakan) ||Rating: Teen||Lenght: Chapter (Insyaallah)||Disclaimer: All cast belong to GOD, i do not own anything, except the ideas.

iklan | #part 1 | #part 2 | #part 3 | #part4

–ahnmr copyright–

Eonni?” Kata Yoona sambil menyipit-nyipitkan matanya. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri apakah yang dilihatnya itu benar-benar nyata atau hanya sekedar mimpi.

Gadis dengan jaket hoodie berwarna merah hati itu tersenyum ke arah Yoona sambil menggaruk kepalanya. Namun ekspresinya langsung berubah serius ketika dia mengingat apa tujuannya ke tempat itu.

“Jangan tanya padaku bagaimana aku bisa menemukanmu dan datang ke tempat ini malam-malam begini” katanya.

Yoona menggeleng. Pikirannya belum begitu segar jadi dia tidak mengerti apa yang dikatakan Yuri padanya. “Aku tidak mengerti”

“Sesuatu terjadi pada Jaebum, dan kau harus pergi ke rumah sakit sekarang, eoh?” katanya sambil menarik tangan Yoona keluar dari apartemen. Yoona bangun sepenuhnya ketika mendengar nama Jaebum disebut.

“Apa Jaebum?” tanya Yoona kaget.

Yuri tidak menghiraukan pertanyaan Yoona dan menarik tangan Yoona lalu berjalan mendekati lift. Dia benar-benar tidak percaya akan melakukan ini demi sahabat kecilnya.

Eonni, Jangan naik lift, Aku tidak kuat” kata Yoona.

Yuri memutar bola matanya dan mendengus kesal, udik benar anak ini. Batinnya. “Baiklah”

Aku, selalu akulah kambing hitamnya. Saat kami masih kecil, Minhyun menghancurkan pesta ulang tahun perusahaan dan aku yang mengajukan diri untuk disalahkan karena Minhyun terus menangis, semenjak hari itu Minhyun menganggap akulah tempat pembuangan kesalahannya dan di mata keluargaku akulah kebalikan Minhyun. Semacam kembaran jahat yang ingin sekali menghancurkan hidup saudaranya yang lain.

Mereka pikir selama ini akulah penyebab semua masalah yang dialami keluargaku. Bahkan saat kami bersekolah aku tidak pernah dipanggil Jonghyun, melainkan Kembaran Minhyun. Aku selalu hidup dalam bayang-bayang Minhyun sampai aku bertemu dengan Paman Seokjin, Pamanku yang tinggal di Korea. Pertama kali dia datang ke Jepang adalah saat ulang tahun Ibuku yang ke-39. Ya,Paman adalah adik ibuku. Hanya dia satu-satunya orang yang benar-benar memahamiku. Dialah orang yang membuatku jatuh cinta pada seni. Dia orang yang membuka mata hatiku untuk melihat betapa indahnya dunia ini.

Aku pikir aku cukup dewasa ketika memutuskan untuk kembali ke tempat asalku, Korea. Aku ingin belajar disana, aku juga ingin lepas dari semua penilaian buruk orang-orang terhadapku. Awalnya Ayahku menyuruhku untuk kuliah di Universitas Tokyo. Tapi aku menolak, akulah yang ingin belajar bukan Ayahku, aku juga bilang bahwa aku ingin menentukan sendiri masa depanku. Semenjak hari itu Ayah tidak terlalu peduli padaku, Ayah cenderung melepaskanku.

Kupikir hanya aku yang akan pergi, namun aku salah besar. Kembaranku,Lee Minhyun juga memaksa untuk pergi ke Korea. Aku tidak mengerti kenapa, aku juga tidak ingin bertanya kenapa.

“Kita tidak saling mengenal, aku tidak akan mengakuimu jika kau tidak mengakuiku juga”

Sinar matahari bersinar cerah menembus kaca mobil Jonghyun. Dia menguap dan menghalangi sinar matahari yang menyilaukan dengan tangannya. Semalam dia terlalu mabuk, jadi dia memutuskan untuk menepi dan tidur di dalam mobil. Dia melihat jam tangannya.

“Ha? Jam 8?” Jonghyun membelalak, setelah itu dia segera menyalakan mobilnya dan melaju menuju Apartemen.

Jalanan sudah cukup ramai ketika Jonghyun mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan kota. Yoona pasti sangat kesal, Pikirnya. Beberapa menit setelah itu Jonghyun membelokkan mobilnya ke Apartemen dan masuk ke parkiran. Dia sungguh-sungguh menyesal karena membuat Yoona menunggu terlalu lama. Tapi, apakah Yoona benar-benar masih berada di apartemennya?

“Uh!” Jonghyun keluar dari mobil dan setengah berlari menuju lift. Dia menunggu beberapa menit sampai lift-nya turun dan masuk dengan terburu-buru sampai-sampai dia menabrak bahu seseorang pria kekar yang keluar dari lift. “Mian!” Jonghyun membungkuk sekilas padanya dan segera menutup pintu lift. Dia menekan angka 11 setelahnya. Lalu melihat jam tangannya.

Ppalli!” Jonghyun mengeluh pada lift yang lelet itu.

Ketika dia sampai di lantai 11. Jonghyun kaget menemui pintu apartemennya yang terbuka sedikit, seperti ditinggalkan dengan terburu-buru. Dia mengintip ke dalam dan melihat Vanilla tertidur di sofa serta sebuah Laptop dalam kondisi sleep.

“Apa-apaan ini?” gumamnya.

Dia masuk ke dalam apartemennya dengan langkah yang tenang. Tiba-tiba perasaan khawatir merasuk lewat pori-pori tubuhnya dan membuatnya merinding. “Kemana Yoona?” keluhnya sambil menggaruk-garuk kepala.

“Yoona-ssi?” panggil Jonghyun sambil berjalan memasuki kamarnya. Namun Yoona tidak ada di sana. Dia mengintip ke arah kamar mandi. Namun tidak ada seorangpun yang memakai kamar mandinya. Kepalanya masih pusing karena alkohol semalam, setidaknya dia harus memakan haejangguk dulu untuk membuatnya pulih. “Sial!” Umpatnya pada dirinya sendiri sambil meremas-remas kepalanya.

Jonghyun mengambil ponselnya dan mencari-cari nomor ponsel Yoona. Walaupun pandangannya sudah tidak kabur, namun tetap saja dia belum bisa begitu fokus dengan semua yang ada dipikirannya. Setelah berusaha keras, Jonghyun menemukan nomor telepon Yoona. Dengan perasaan yang tidak menentu dia menelpon nomor itu.

Detik demi detik Jonghyun menunggu. Berharap Yoona akan segera mengangkat teleponnya, namun belum ada jawaban. Tidak jauh dari tempat Jonghyun berdiri, Vanilla melompat dari sofa dan berlari ketakutan, kemudian dia menyalak-nyalak pada sofa itu. Jonghyun menoleh pada sofa abu-abunya dan merasa ada yang aneh. Vanilla tidak akan seperti itu pada benda diam. Atau jangan-jangan ada kutu busuk di sofanya. Tidak-tidak! Batin Jonghyun kesal. Dia segera berlari dan memastikan apakah benar ada kutu busuk di sofanya seperti yang dia perkiraan. Dia mencari ke sela-sela sofa namun tidak menemukan sesuatu yang berbentuk seperti kutu busuk. Yang ditemukannya malah ponsel berwarna hitam pudar yang casing-nya hampir rusak.

“Apakah dia benar-benar mencarinya? Sumpah! Aku ingin mencengkram wajahnya dan mengatakan bahwa dia bodoh! Im Yoona, Pabo!” teriak Jonghyun sambil meremas ponsel Yoona di tangannya.

Saking kesalnya akhirnya Jonghyun merebahkan diri di sofa dan memukul keningnya pelan. “Kau benar-benar membuatku khawatir, Sial, dimana kau?” kata Jonghyun setengah mengantuk. Kemudian pandangannya mengabur da dia menguap lalu bergumam. “Pasti dia akan kembali nanti”

Yuri baru saja kembali dari membeli makanan kecil ketika melihat Yoona tengah tertidur di samping adik laki-laki kesayangannya, Jaebum. Dulu sekali, Yoona juga pernah seperti itu ketika Yuri sakit dan Jaebum rela pergi melewati hujan hanya untuk memberi tahu kakak Yuri jika Yuri sakit.

Yuri mengusap air matanya. Dia merindukan masa kecilnya bersama mereka berdua, namun semenjak ibu Yoona dan Jaebum menjadi gila, hidup mereka menjadi sangat rumit. Ayahnya menjadi lebih pemarah dan mudah melayangkan tangannya pada Yoona dan Jaebum. Lebih parah lagi memaksa Yoona menjadi tulang punggung keluarga. Tidak heran wajah Yoona terlihat lebih tua dari gadis seumurannya.

Eonni” kata Yoona sambil mengulet.

Yuri melangkah mendekati troli makanan dan meletakkan bungkusan makanan kecil itu di atasnya. “Jika kau mengantuk tidur saja”kata Yuri.

Yoona tersenyum getir dan menggeleng. “Aku tidak mau” Kemudian dia mengerjapkan matanya. Hal itu membuat Yuri tersenyum geli. Anak itu selalu saja bersikap sok kuat.

“Jangan terlalu memikirkan Jaebum, dia sudah dewasa” kata Yuri mengingatkan Yoona.

Yoona memikirkan perkataan Yuri barusan. Yoona juga merasa jika selama ini dia menganggap Jaebum seperti adik kecil yang lemah. Sampai – sampai dia lupa bahwa adiknya itu sudah tumbuh besar. Yoona menatap wajah adiknya yang penuh memar itu. Betapa bodohnya dia, batinnya.

“Sudah-sudah tidak usah menangis lagi, ini semua salahnya sendiri”

“Aku tidak menangis” kata Yoona sok menahan tangisnya yang semakin deras. Yuri yang berdiri di sampingnya hanya terkekeh.

“Oh ya, siapa tunanganmu itu?” kata Yuri mencoba mencairkan suasana.

Yoona bergidik, kemudian melemparkan tatapan menyelidik pada Yuri dengan matanya yang sembab. “Tunangan?” tanya Yoona bingung.

“Begini biar aku jelaskan. Sebenarnya aku kenal seorang dokter disini, dia,” Yuri terlihat sedang berpikir  ”dia adalah teman dekatku, dia juga dokter yang merawatmu ketika kau sakit. Karena dia sangat dekat denganku, jadi kami sering berbagi cerita, kemudian dia bercerita tentangmu, kau adalah pasien pertamanya semenjak dia masuk ke rumah sakit ini, dan saat dia menyebut namamu, aku langsung menyadarinya dan mengatakan padanya jika kau adalah teman kecilku, aku bertanya padanya apakah dia tahu apa-apa tentangmu, namun dia malah menjelaskan tentang bagaimana sakitnya dirimu, dia juga menolak memberitahuku alamatmu karena dia bilang itu adalah rahasia pasien. Dia bersikeras tidak memberitahuku Yoong, padahal aku sudah memaksanya”

“Ketika Jaebum habis dipukuli teman-temannya sampai pingsan kemarin itu, aku langsung menelpon Ky,, temanku itu dan dia membawa Jaebum ke rumah sakit, dia bilang Jaebum perlu dirawat. Aku langsung berpikir tentangmu,karena kurasa kau harus tahu. Aku memohon padanya untuk memberitahuku alamatmu, dia ragu, namun akhirnya dia tetap mencarikan data tentangmu dan memberiku alamat apartemenmu itu.Kemudian dia juga memberitahuku jika orang yang mengantarmu ke rumah sakit dan membayarkan semua biaya administrasimu waktu itu adalah tunanganmu, jadi kupikir,,”

Eonnie, dia bukan tunanganku” potong Yoona.

“Lalu?”

Jonghyun, bagaimana dia bisa mengaku-ngaku seperti itu. Pikir Yoona. Dia menatap Yuri ragu. Dia juga bingung mau mengatakan bagaimana. Secara teknis, Jonghyun bukan siapa-siapanya. Yoona juga belum ingin menganggapnya teman atau lebih. Jadi, selama ini Jonghyun itu siapanya? Majikannya?

Yoona mengerutkan dahi dan mengatakan “Dia majikanku” kata Yoona ragu, dia membuang pandangan dan berpikir lagi, apakah yang dikatakannya itu benar.

Yuri tambah bingung lagi. Dia terkejut dengan pernyataan Yoona barusan. Karena jika dia mempunyai majikan itu artinya. “Kau pembantu?” tanya Yuri.

“Aku sendiri juga tidak yakin. Ceritanya panjang, aku tidak bisa menceritakan padamu sekarang” kata Yoona pada Yuri tanpa melihat ke arahnya. “Ini jam berapa?” lanjutnya.

“sekitar jam 8, mungkin lebih, kenapa?”

Yoona kaget, dia pikir ini masih setengah tujuh atau kurang. Tapi ternyata sudah hampir jam sembilan. “Aku harus presentasi tugas!”

Jonghyun bangun dengan malas dan membuka pintu apartemennya. Dia mengacak-acak rambutnya dan tersenyum kecut ketika melihat wajah kuyu menyebalkan gadis itu.

Annyeong!” kata gadis itu sok ramah.

Jonghyun mendengus kesal. “Kemana saja kau, ha?” semprotnya. Yoona langsung mengipas-ngipas nafas berbau alkohol yang keluar dari mulut Jonghyun dan membuang muka. Dia berusaha menarik udara segar sebanyak mungkin. Baru kemudian dia melemparkan tatapan membunuh yang tidak kalah mematikan dari Jonghyun.

“Ya ampun! Minggir! Aku ingin mengambil tasku” kata Yoona sambil mendorong Jonghyun ke samping. Dia benar-benar terburu-buru karena hari ini Yoona ada presentasi tugas. Jika dia sampai terlambat dia bisa ditinggal oleh kelompoknya.

“Setidaknya kau harus menjelaskan padaku kemana saja kau pergi tadi, aku sangat khawatir” kata Jonghyun pada Yoona.

Yoona bergidik. Dia bingung, haruskah dia merasa tersanjung? Atau sebaliknya. Yoona buru-buru memasukkan laptopnya ke dalam tas. Namun Jonghyun langsung mengambil tas Yoona dan memeluknya. “Kau tidak boleh pergi! Kenapa kau tidak bisa menemukan ponselmu semalam? Kemana saja kau? Apakah kau sudah sarapan? Apa kau tidak mau membersihkan diri dulu? Im Yoona kau harus menjawabku, aku khawatir” Jonghyun membombardir Yoona dengan pertanyaan-pertanyaan. Namun Yoona hanya menanggapinya dengan wajah datar.

“Kau mabuk, Tuan Arsitek! Sekarang, kembalikan tasku!”

“Kau mau pergi kemana?”

“Kuliah, aku masih mahasiswa, ingat?”

“Baiklah, Mahasiswa! Sekarang lebih baik kau membersihkan diri, baumu itu membuatku ingin muntah tahu tidak” kata Jonghyun menyindir.

Yoona membaui ketiaknya. Dia mencoba menahan baunya yang benar-benar tidak enak, apalagi dia berkeringat banyak setelah berlari menaiki tangga dari lantai 1 sampai lantai 11, jadi, yaks. “Kembalikan tasku!” kata Yoona sambil mencoba merebut tasnya.

“Oke” Jonghyun menyandarkan tas Yoona di belakang sofa. Dan merentangkan tangannya. “Kau urus dirimu dulu, aku akan buatkan sarapan kilat untukmu, dan aku akan mengantarmu ke kampus”

Yoona meletakkan laptopnya di atas sofa. Dia mengernyitkan dahi dan melemparkan tatapan menyelidik pada Jonghyun. Dia masih ragu dengan kebaikan Jonghyun.

“Aku juga ingin bertemu Wooyoung kok, aku baik karena ada alasannya tahu” kata Jonghyun beralasan, padahal itu hanya alasan yang dibuat-buat saja.

“Aku tahu, terimakasih atas semua kebaikanmu” kata Yoona seraya mengambil tasnya yang ada di belakang sofa.

“Ck, kau mau langsung pergi lagi?” tebak Jonghyun.

“Kau ini bagaimana sih, katanya kau menyuruhku,,” Yoona mengedikkan kepalanya ke arah kamar mandi.

Jonghyun memutar bola matanya dan mengangguk. “Bilang saja mau mandi sepertinya susah sekali, kau pikir aku akan mengintipmu begitu?”

Anni” Yoona mendengus dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi sambil tersenyum geli.

“Cepat!!! Aku hampir terlambat!!” teriak Yoona pada Jonghyun di dalam mobil.

Jonghyun hanya bisa bersungut-sungut dalam hati. Seharusnya dia tidak usah menawarkan diri tadi. Dia bingung kenapa tiba-tiba dia berkata seperti itu. Mendadak pikirannya jadi tak terkontrol, mungkin karena dia terpengaruh alkohol. Tapi dia rasa saat dia bangun untuk membuka pintu tadi pikirannya sudah benar-benar segar.

“Seharusnya kau tidak usah mandi, kau mandi lama sekali Tuan Arsitek!!” kata Yoona bersungut-sungut di kursinya.

“Lebih lama lagi karena naik tangga” gumam Jonghyun yang masih fokus menyetir. Aku juga belum sempat sarapan, tambahnya dalam hati

“Jadi kau mengataiku udik begitu? Baiklah, aku berhenti jadi pembantu, lagipula kau tidak membayarku” kata Yoona.

Jonghyun menyeringai ke arah Yoona. “Berhenti saja jika kau mau, aku juga tidak memohon padamu kok” kata Jonghyun cuek.

Geurae!” kata Yoona setuju.

“Oke!” kata Jonghyun tak kalah sengit dari Yoona.

“Tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu”

Jonghyun mengedikkan dagu sambil membelokkan mobilnya.

“Apa kau merasa pernah mengaku-ngaku menjadi tunanganku?”

Deg! Jonghyun menunjukkan wajah poker face-nya dan bersiul. Yoona yang kesal dengan sikap cuek Jonghyun akhirnya mengetok-ngetok kepala Jonghyun. “Ya! Kau ini, aku bertanya padamu!” teriak Yoona tepat di telinga Jonghyun.

“Hei, aku menyetir!” kata Jonghyun memberitahu sembari mengelus-elus bagian kepalanya yang sakit.

“Aku juga tahu” kata Yoona ketus.

“Begini, dari mana kau tahu?” Jonghyun melirik sekilas pada Yoona.

“Bukan urusanmu, jawab pertanyaanku tadi”

“Sumpah! Kau ini seperti preman ya, perempuan bisa halus sedikit tidak sih” keluh Jonghyun.

“Berisik, jawab pertanyaanku” Kata Yoona dengan lebih kasar.

Jonghyun memutar bola matanya dan menepi dari jalanan. “Kau yang berisik, turun sekarang!” katanya.

“Turun bagaimana? Memangnya kita sudah sampai?” Kata Yoona kesal.

Jonghyun menunjuk gerbang kampus dengan perasaan gondok. Yoona tersenyum lebar ke arah Jonghyun dan membungkuk. “Gomawo” katanya dengan nada imut yang dibuat-buat.

Jonghyun menggeliat tidak nyaman di kursinya. “Jangan berbicara seperti tikus padaku” katanya kesal.

“Baiklah, Gomawo!” Yoona langsung keluar dari mobil Jonghyun dan menutup pintunya dengan kasar. Dia lupa sesuatu, ada sesuatu lagi yang ingin dia tanyakan. Namun dia tak kunjung bisa menangkapnya dari lautan memori. Kembaran itu, iya!

Yoona berbalik, namun mobil Jonghyun sudah tidak ada.

Jonghyun memakan haejangguk di sebuah rumah makan kecil sederhana yang banyak dikunjungi oleh supir taksi. Dia tengah menikmati sarapannya ketika sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Dia mencoba mengesampingkan pesan itu dan menikmati haejangguknya. Pagi ini, tiba-tiba dia jadi tidak semangat lagi. Dia tidak ingin mengakui jika dia mencintai gadis itu. Gadis bernama Im Yoona yang tiba-tiba datang ke dalam hidupnya dan membuatnya kelimpungan.

Jonghyun adalah orang yang skeptis dengan kebetulan. Dia tidak percaya dengan kebetulan, karena setiap kebetulan itu pasti ada alasan dan penyebabnya. Tapi gadis itu kasus kebetulan yang aneh, menurut Jonghyun. Dia heran bagaimana gadis itu tidak curiga mengenai semua perbedaan yang ada dalam dirinya dan Minhyun. Mungkin dia curiga namun tidak begitu peduli.

Jonghyun segera menghabiskan sarapannya dan membuka pesan yang datang ke ponselnya. Dari Tuan Gu. Jonghyun menelan ludah, seharusnya dia membuka pesan itu dari tadi.

Jangan lupa untuk melihat kotak suratmu.

Jonghyun tersenyum kecil dan mengangguk. Setelah itu dia memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana. Dia jadi tidak sabar akan ada kejutan apa lagi. Tapi dia ingat dia juga harus segera mengerjakan desainnya. Dan entah kenapa dia jadi tidak bersemangat lagi jika mengingat gadis bernama Im Yoona itu. Jujur saja, dia menyesal telah mengatakan padanya untuk berhenti. Padahal dia benar-benar menyukai jika gadis itu disana bersamanya. Rasanya dia tidak kesepian lagi.

“Aku rasa aku harus minta maaf, seperti seorang pria” Jonghyun menarik kerah bajunya dan berdiri dari meja itu, lalu membayar sarapannya. Dia keluar dari rumah makan itu dan berjalan ke mobilnya.

Jonghyun cukup puas dengan sketsanya. Cukup keren dan spesial, pikirnya. Desain interior ruangan VVIP untuk resort Tuan Gu sudah ada. Jonghyun ingin menghadirkan suasana tradisional dengan elegan dan berkelas. Sehingga terasa sangat Jeju.

“Berkelas,,”ucapnya lagi. Dia tersenyum puas dan melihat jam tangannya. “Apa dia sudah pulang?” tanyanya pada diri sendiri.

“Vanilla!” panggil Jonghyun. Vanilla yang tengah malas-malasan di atas tempat tidurnya langsung berjalan ke arah Jonghyun. Jonghyun menunduk dan mengambilnya, lalu memeluk dan membelai bulu putihnya yang halus. “Ayah akan pergi lagi, menjemput Eomma, kurasa” katanya pada Vanilla sambil cekikan sendiri.

Dia bangun dari kursinya dan menyuruh Vanilla untuk kembali ke tempat tidurnya. Setelah pamit pada Vanilla. Jonghyun keluar dari apartemen, dia rasa dia ingin naik bus saja.

Yoona hampir saja terlambat tadi. Teman-temannya khawatir dan beberapa menyalahkan Yoona. Namun Taeyeon langsung bisa meredakan semua itu dan presentasi berjalan lancar sesuai rencana. Setelah prensentasi Yoona melanjutkan kelas yang lain.

Sebelum dia pergi ke rumah sakit. Dia bertemu Taeyeon, Seohyun ,dan Wooyoung. Seohyun memarahinya karena telah membuatnya super khawatir. Yoona hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya yang benar-benar mirip seperti seorang nenek-nenek tengah memarahi cucunya. Yoona dan Seohyun berjalan ke halte bus. Sedangkan Wooyoung dan Taeyeon pergi ke parkiran setelah mereka berpisah.

Dua gadis cantik itu berdiri menunggu bus seperti mahasiswa yang lain. Beberapa menyapa mereka, beberapa tidak.

“Jadi kau tidur di apartemen orang itu?” tanya Seohyun lagi.

“Ketiduran Seo, aku harus bilang berapa kali?” kata Yoona kesal.

“Baiklah, dan dia tidak ada di rumah, oke”

Sebuah bus datang, dan Seohyun melambaikan tangannya pada Yoona. “Dah! Annyeong!” kata Seohyun. Mendadak semua orang naik ke bus,halte langsung sepi dan hanya tersisa Yoona seorang.

“Dah! Hati-hati ya!” kata Yoona pada Seohyun.

Seohyun naik ke dalam bus yang berdesakan itu dan masih sempat-sempatnya melambaikan tangannya ke arah Yoona.

Yoona tersenyum geli melihat Seohyun digeser-geser oleh orang-orang.

“Kau disitu rupanya”

Yoona menoleh ke sumber suara. Dilihatnya si Tuan Arsitek yang super duper menyebalkan tengah tersenyum padanya sambil mengemut permen loli.

“Kenapa kau ke sini?” tanya Yoona ketus.

“Mencarimu” jawabnya. Jonghyun tersenyum tipis dan berjalan mendekati Yoona. “Aku mencarimu kemana-mana, aku datang untuk meminta maaf seperti seorang pria” katanya.

“Aku tersanjung” Yoona mencibir.

“Oh, Kau harus! Karena aku membawakanmu ini!” Jonghyun menunjukkan sebatang permen loli pada Yoona. Membuat Yoona menahan tawanya.

“Yang benar saja” katanya sambil mengambil permen itu dari tangan Jonghyun.

Jonghyun tersenyum dan mengambil permen loli dari mulutnya. “Aku ingin memberimu tawaran, tawaran sederhana, sekaligus ingin meminta maaf” katanya.

Yoona membuka bungkus permen loli itu dan menaikkan alisnya ke arah Jonghyun. “Jadilah pembantuku lagi, Kumohon!” Jonghyun langsung berlutut di depan Yoona dan akting memelas.

Yoona terkejut, sumpah! Dia tidak mengerti apa yang terjadi dengan laki-laki yang ada di depannya. “Hei, hei! Berdirilah! Kau membuatku malu”

“Oke, oke” Jonghyun berdiri dan tersenyum pada Yoona. “Jadi bagaimana?”

Shireo! Aku tidak mau” kata Yoona sambil mengemut permen loli-nya.

“Kumohon, aku perlu kau untuk menjaga Vanilla saat aku tidak ada, menyetrikakan bajuku, membersihkan apartemenku, dan menemaniku saat aku kesepian” kata Jonghyun serius.

Yoona menatapnya skeptis. Apakah dia harus menerimanya? “Shireo!” kata Yoona tegas.

“Aku juga membutuhkanmu, disini!” kata Jonghyun sambil menunjuk hatinya.

Yoona menahan tawanya. Dia ingin tertawa saat itu juga, ketika melihat ekspresi wajah Jonghyun. “Sumpah, Lee Jonghyun kurasa kau masih mabuk, oh ya, Bus-nya hampir datang” kata Yoona sambil menunjuk sebuah bus.

“Im Yoona, aku serius!” kata Jonghyun sambil meraih tangan Yoona. Yoona melihat tatapan mata Jonghyun, dia terlihat begitu serius ketika mengatakannya. Namun Yoona sangat ingin menghiraukan itu. Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakan hal seperti itu. Pikirannya masih dipenuhi banyak hal.

“Mmmm,, Kurasa sekarang bukan waktu yang tepat” kata Yoona.

Wae?” ekspresi Jonghyun langsung berubah. “Apa aktingku jelek?” tanya Jonghyun.

“Kau hanya akting?”

“Mmm, tapi kau malah menatapku seperti itu, aku jadi takut jika kau menganggapnya betulan” kata Jonghyun.

Yoona menghela nafas. Dia baru saja menggantungkan harapannya pada Jonghyun. Dia pikir laki-laki itu benar-benar menyukainya. Tapi ternyata semua itu hanya akting belaka. Lagi-lagi dia hanya dipermainkan oleh seorang Lee Jonghyun. Tukang akting ulung yang selalu bisa membolak-balik perasaannya seperti sebuah rubik.

“Dah!” kata Yoona sambil melepas genggaman tangan Jonghyun ketika bus itu sampai. Yoona masuk ke dalam bus. Diikuti Jonghyun yang mengekor di belakangnya.

Yoona duduk di dekat jendela dan Jonghyun duduk di sebelahnya. Sepertinya Yoona tidak sadar, atau dia menghiraukan Jonghyun saking kesalnya. Perempuan mana yang mau perasaannya dipermainkan seperti itu.

“Kau mau kemana?”tanya Jonghyun.

“Rumah sakit” jawab Yoona ketus. Jonghyun langsung sadar jika Yoona marah besar padanya.

“Maafkan aku,” kata Jonghyun lemas. Kemudian Yoona menoleh ke arahnya.

“Jangan pernah memainkan hati wanita seperti itu lagi, itu benar-benar menyakitkan tahu tidak” kata Yoona dengan nada menggurui.

Jonghyun hanya mengangguk dan menatap Yoona penuh rasa bersalah. “Jongmal Mianhae, Yoona-ssi” kata Jonghyun.

Yoona tersenyum dan mengangguk. Walaupun sebenarnya dia masih benar-benar kesal.

Jonghyun masih berjalan di belakang Yoona ketika mereka sampai di rumah sakit. Dia ingin bertanya pada Yoona, untuk apa dia ke rumah sakit. Namun dia masih benar-benar tidak enak. Sebenarnya tadi saat di halte, dia benar-benar serius. Hanya saja dia takut jika Yoona tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya. “Im Yoona, kenapa kau ke rumah sakit?” tanya Jonghyun akhirnya”

“Menjenguk seseorang, kau benar-benar mau ikut?” tanya Yoona sambil menaiki tangga.

“Hmmm, tapi apa kau benar-benar telah memaafkanku?”

“Aku selalu memaafkanmu kok” kata Yoona sambil terkekeh.

Jonghyun tersenyum kecil. Jika dia ingat-ingat, dia memang melakukan banyak kesalahan pada gadis itu. “Siapa yang sakit?”

“Aku ingin kau berkenalan dengannya” kata Yoona.

Akhirnya mereka sampai di lantai 3. Mereka menuju sebuah kamar yang dipintunya tertulis Im Jaebum. Jonghyun mengernyitkan dahi.

“Im Jaebum?” gumamnya pelan.

Yoona masuk dengan mengendap-endap, membuat Jonghyun ikut-ikut  mengendap-endap seperti Yoona.

Noona?” kata seseorang.

Jonghyun mendengar suara laki-laki dan dia langsung mengintip. Dilihatnya seorang laki-laki tengah berpelukan dengan Yoona. Hal itu membuat Jonghyun patah hati. Jadi sebenarnya siapa Im Jaebum itu? tanyanya dalam hati.

“Jaebum-ah, Noona ingin memperkenalkanmu pada teman Noona” kata Yoona pada Jaebum.

Oh, hanya adik, kata Jonghyun dalam hati. Dia akhirnya bisa bernafas lega dan mengembangkan senyumnya ke arah anak laki-laki itu.

Annyeong!” Sapa Jonghyun. Bukannya di sambut baik. Jaebum malah menatapnya dingin.

“Kau hanya temannya Noona, kan?” tanya Jaebum.

Jonghyun mengangguk takut. Dia rasa Yoona sekeluarga itu memang seperti preman begitu.

“Hei, jangan begitu, orang itu sudah sangat baik pada Noona

“Syukurlah, Apa Noona benar-benar disini semalaman?” tanya Jaebum. “Yuri Noona memberitahuku” lanjutnya.

Yoona hanya tersenyum dan mengangguk. Jonghyun dari tadi memperhatikan mereka berdua. Akur sekali, pikirnya. Jika saja dia dan saudara-saudaranya seperti itu. Mungkin tidak perlu ada pertikaian antara Jonghyun-Minhyun seperti dulu. Lalu mendengar perkataan Jaebum barusan dia jadi menyesal memarah-marahi Yoona tadi pagi. Jadi semalaman dia disini untuk menjaga adiknya. Jonghyun jadi benar-benar merasa bersalah pada Yoona. Dia sungguh-sungguh seenaknya pada gadis yang dicintainya.

“Kurasa aku harus pergi” kata Jonghyun.

Yoona langsung mengalihkan pandangannya pada Jonghyun. “Secepat itu?”

“Mmm,, aku meninggalkan Vanilla di apartemen, jadi aku tidak boleh pergi lama-lama”

“Oke” jawab Yoona akhirnya.

Jonghyun membungkuk dan keluar dari ruangan itu.

Jonghyun berkali-kali membaca undangan itu. Undangan pesta ulang tahun perusahaan Sekang Corp. milik Tuan Gu dan itu diadakan hari sabtu besok. Berarti masih 4 hari lagi, pikir Jonghyun. Dia sudah menyelesaikan sketsanya, lalu sekarang apa? Belanja Tuksedo? Itu bukan Jonghyun banget.

Dia merindukan Yoona. Tiba-tiba apartemennya jadi sepi dan kotor lagi. Dia tidak bisa seperti ini, sebenarnya dia sangat kesepian. Dan sekarang Vanilla tidak bisa mengobati rasa rindunya.

“Ayah tidak berhasil menjemput Ibumu, nak!” kata Jonghyun pada Vanilla sambil menyodorkan roti. “Seharusnya aku bilang saja jika aku menyukainya, apa susahnya ya?”

Vanilla sibuk bermain dengan seekor semut yang berjalan di karpet.

“Aku ada ide”

Tok!Tok!Tok!

Yuri benar-benar kesal pada Yoona karenasemenjak dia masuk ke kamar mandi mengerjainya dengan membuat ketukan palsu sebanyak tujuh kali. “Yoong jangan melakukan itu lagi!” teriak Yuri.

“Aku tidak melakukannya, sungguh!” sahut Yoona

Tok!Tok!Tok!

“Yoong!”

Eonni, aku benar-benar tidak melakukannya” Yoona membela diri.

Yuri mendengus dan berjalan ke arah pintu. Dia membuka pintu dan menemukan seorang pria tampan tengah tersenyum padanya.

“Oh, maaf mengganggu, namaku Lee Jonghyun, aku temannya Yoona, kudengar adiknya sakit, jadi aku datang untuk menjenguknya” kata Jonghyun.

“Masuklah,” kata Yuri.

Untung saja Jaebum sedang tertidur jadi Jonghyun tidak perlu repot menahan rasa takut bertemu Jaebum.  Yuri menyuruh Jonghyun duduk di kursi.

“Kondisinya sudah stabil,” Yuri menjelaskan kondisi Jaebum. Lalu dia menoleh ke arah Jonghyun “ jadi kau ini temannya Yoona, jurusan apa?” tanya Yuri.

“Arsitektur” jawab Jonghyun.

Terdengar suara kamar mandi terbuka. Dan Yoona keluar dengan rambut yang basah dan itu membuat Jonghyun hampir meleleh di tempat.

“Eh, Yoong, temanmu datang” kata Yuri pada Yoona. Yoona mengintip dari belakang Yuri dan tersenyum geli ketika melihat Jonghyun.

“Oh, Kau, kenapa lagi kesini?” tanya Yoona. Yuri menyingkir dan membuka ponselnya. dia bergumam “Halo?” dan keluar dari ruangan.

Jonghyun masih terpaku di atas kursinya saat melihat Yoona. Yoona mengangkat alisnya “Kau kenapa?”

“Aku ingin bicara padamu sebentar” kata Jonghyun.

“Tentang pembantu itu, aku sudah menolaknya mentah-mentah, aku bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik daripada itu”

“Bukan, ikutlah denganku” kata Jonghyun sambil berdiri.

Yoona mundur selangkah. “Kemana?”

“Keluar, sebentar saja, ya?” kata Jonghyun memohon.

“Sebentar, oke” kata Yoona.

Jonghyun langsung menarik tangan Yoona. Yoona terkejut kemudian dia buru-buru melemparkan handuknya ke atas kursi. Saat mereka keluar dari ruangan itu, Yoona melihat Yuri tengah berbicara pada seseorang di telepon. “Eonni, aku titip Jaebum sebentar” kata Yoona terburu-buru.

“Kita mau kemana?” tanya Yoona.

“Sudah ikut saja, aku tidak macam-macam kok”

Jonghyun mengajak Yoona ke parkiran dan masuk ke mobil Jonghyun. Jonghyun menyuruh Yoona untuk duduk dengan tenang dan mengencangkan sabuk pengamannya.

“Kita mau kemana?”

“Aku memberikanmu dua pilihan, aku atau Vanilla”

“Apa maksudnya itu?”

“Pilih saja salah satu”

“Aku” kata Yoona.

“Baiklah, sekarang kau ikut aku, jangan protes atau menggerutu, karena kau baru saja menentukan pilhanmu”

“Sungai Han?”

“Jembatan Banpo” kata Jonghyun mengoreksi.

“Kenapa kita kesini? Tunggu, Tunggu, kau,,” Yoona menoleh ke arah Jonghyun.

Jonghyun tersenyum ketika melihat air mancur pelangi yang keluar . “190 ton air, setiap menitnya” kata Jonghyun.

Yoona terdiam ketika melihat Jonghyun tersenyum damai seperti itu. “Kau lihat pelangi itu, itu seperti hidupku, sekarang” lanjut Jonghyun.

“Aku benar-benar menyukaimu Im Yoona, aku tidak bohong tadi siang, aku benar-benar serius, kau membuat hari-hariku berwarna, tidak hanya hitam dan putih seperti dulu” kata Jonghyun.

Yoona menampar pipinya. Dia ingin memastikan bahwa yang dialaminya sekarang bukanlah mimpi. Sakit, berati dia tidak bermimpi. “Kau serius?”

Jonghyun menarik Yoona dalam pelukannya dan mengecup bibir Yoona perlahan.

“Tidak percaya?” kata Jonghyun pada Yoona.

“Kau habis sikat gigi ya?” kata Yoona. Dia benar-benar tidak bisa berkata-kata, jadi yang bisa keluar dari mulutnya hanyalah itu. Mendadak dia jadi gugup, bahkan jika dibiarkan dia bisa lupa jika namanya adalah Im Yoona.

Jonghyun tersenyum geli. “Ya Ampun, kau ini aneh sekali sih, kau benar-benar merusak momen indah yang sudah susah-susah kubangun” kata Jonghyun kesal.

“Maaf, jadi selama ini kau,,” belum selesai Yoona berbicara, Jonghyun sudah membungkam Yoona dengan kecupan mautnya. Jonghyun sendiri tidak tahu apakah Yoona akan menyukainya atau tidak.

Malam itu langit cerah dipenuhi bintang-bintang, dihiasi dengan air mancur pelangi dari Banpo Bridge, Mereka menjadi saksi bahwa Jonghyun mengatakan,,

Chagi-ya, kau jadi pembantuku lagi bagaimana?” Kata Jonghyun sambil berpose manis.

Yoona cemberut dan memukul bahu Jonghyun “Ya! Kita baru saja jadi sepasang kekasih, dan sekarang kau,,” Yoona memukuli Jonghyun.

Jonghyun berlari menghindarinya, dan malam itu momen indah itu berakhir dengan kejar-kejaran ala kucing dan tikus.

“Aku hanya tidak senang jika dia bahagia, seharusnya dia tidak usah lahir” kata laki-laki dengan tuksedo hitam.

“Kau tidak boleh berbicara seperti itu Oppa, dia itu saudaramu”

“Aku heran, kenapa semua orang selalu mengatakan jika Jonghyun lebih baik dari aku, jelas-jelas aku yang lebih mampu, tapi kenapa ayah selalu memilihnya untuk memimpin perusahaan?”

“Mungkin Jonghyun memang lebih baik” kata gadis itu.

Minhyun menghempaskan gelasnya ke lantai dan berjalan ke arah gadis itu dengan marah. “Jika kau mengatakan seperti itu lagi, aku bisa membunuhmu Mizu, aku tidak bohong”

Gadis yang dipanggil Mizu itu memandang Minhyun penuh ketakutan. Setelah itu Minhyun segera pergi dari tempat itu dan membanting pintu hotel itu sekeras mungkin.

“Come down Minhyun, come down” kata Minhyun pada dirinya sendiri.

Beberapa saat setelah dia keluar dari lift ponselnya bergetar. Terlihat sebuah pesan dan dia segera membukanya.

Minhyun, kakak berada di apartemenmu

Let’s go to the Minhyun World,,

Yah, aku juga nggak bisa menjelaskan bagaimana aku bisa update secepat ini, tidak selama yang kuperkiran. well,, maaf kalo pendek banget, awalnya nggak mau kayak gini juga ceritanya, tapi aku membiarkannya mengalir seperti air di sungai han dan membiarkan Jonghyun dan Yoona jadian dulu,, setelah itu aku akan bikin mereka bener-bener patah hati #evilsmirk

maaf kalo ada typo dan kesalahan kata, kalo ada waktu bakal di edit

Terimakasih karena sudah membaca. dan jika tidak keberatan maka saya ingin anda memberi support. Tolong kritik dan saran, tapi tolong jangan nge-bash, itu tidak baik

Ahnmr

HIMRASAKI

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

28 thoughts on “Hello Mr. Architect # Part 5”

  1. Hallo… aku reader baru nih. Maaf br bs comment di part ini
    Ceritanya serrruuuu bgt. Lucu juga. Suka ngakak sendiri pas baca bagian udiknya Yoona. Wkwkwkwk…
    Kharakter Jonghyun yg aneh bin ajaib jg ngebuat cerita ini makin unik. Aku suka kharakter Jonghyun disini. Hahaha…
    Jalan ceritanya mengalir dgn sukses. Ngebuat aku yg lagi keasikan baca tiba2 komentar “lho, koq udh bersambung aja?” Sangking menikmati alur cerita yg author buat…
    Keep writing ya. Ditunggu kelanjutannya 😀

    1. Oke makasih lo chingu udah suka sama ff ini,, jadi semangat lagi nih bikinnya.
      makasih supportnya,, pokoknya makasih banget deh ya,,
      (author lagi terbang ini pas nulis, terbang di langit naik elang pake balon warna pink gede banget)

  2. Hallo,author, q readers baru nie.
    yoonjong couple lucu buat ngakak #kadang2 sih.(hehehehe)

    wah,kembaran jonghyun mulai muncul nie.
    konflik baru pasti!!! (sok tahu)
    part selanjutnya ditunggu.. 🙂

  3. hehe.. aku juga reader baru eonn,
    aku suka ff yang pairingnya jonghyun sama yoona,, 🙂
    eonni part selanjutnya di tunggu,
    ganbatte eonni chan. hehe

  4. anyeong author…!
    aku sebenernya bukan reader baru, aku udah ngikutin ceritanya dari awal tapi baru comment sekarang… Hehehehe
    pertama baca ceritanya ga punya pikiran sama sekali kalo jonghyun bakal punya kembaran.. Ternyata eh ternyata… Hehe
    Keren thor ff nya, alurnya jg menarik.. Daebak author nim!

    Ga pa pa sih jongyoon dibikin patah hati asal nanti balikan lagi… Hehehe

    Ditunggu update nya ya thor..
    Hwaiting!

    1. annyeong juga readers
      nggak apa-apa kok,, hehehe

      ntar aku juga nggak tau apakah mereka akan balikan, asal emaknya Yoona ngijinin aja, mereka ntar aku bikin balikan lagi, hahahaha

      silahkan di tunggu,, hehehe

  5. maaf baru komen disini, suka sama ceritanya, mengalir dengan indah 🙂
    Tetap Semangat 🙂
    Terus Berkarya 🙂
    Terima Kasih 🙂

  6. Halo salam kenal….. Ak reader baru…
    Maaf bru bisa koment skrg..cerita x seru… Yoongie udik banget dsni, naek lift ajah mpe mntah2…hahahahaha….
    Next part x jgn lama2 yach…

    1. Salam kenal juga, hehe. makasih udah jadi reader
      nggak apa-apa, lagian bukan kewajiban kok. iya emang, aku lagi seneng bayangin Yoona yang udik, aku suka orang udik, karena aku sendiri udik. Hahahaha 😀

      untuk next part,, mungkin habis ujian kenaikan kelas,, who knows

  7. kyaaaa jadian. tapi yoona blm tau siapa sebenernya jonghyun. dan berharap gak akan apa2 nantinya. ga suka ma minhyun deh arogan heoooool mau menang aja.

    yoona jonghyu harus bahagia jgn terpisahkan plisssss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s