Love Story Compilation (?) # Flashfiction

(sedang diusahakan ada posternya)

Author: Ahnmr || Cast: Kim Taeyeon, Kim Hyeoyeon, Jessica Jung, Tiffany Hwang, Kwon Yuri, Lee Sunkyu, Seo Juhyun, Choi Sooyoung, Im Yoona || Add Cast: Siapa coba? || Genre : Obviously Romance || Rating: Remaja ||Lenght: Ada 9 Flashfiction|| Disclaimer : Cast belong to GOD, ideas belong to me.

-ahnmr copyright-

Jessica Jung

Hanya perasaanku atau memang pria itu yang duduk di pojok itu mencuri pandangan ke arahku. Setidaknya sudah lima kali aku mengangkapnya basah memandangku selama beberapa menit ini. Seharusnya aku merasa tidak nyaman karena serasa di kuntit. Tapi dia sangat tampan dan aku bisa bilang sangat tampan, aku bukan orang yang bisa mengatakan hal itu dengan mudah.

Aku menyeruput kopi dan melihat lagi desain-desain baju yang dikirimkan adikku padaku semalam. Lumayan bagus, namun aku merasa ada sesuatu yang kurang. Seperti ada beberapa hal yang seharusnya tidak usah ada disana tapi malah ada.

“Annyeong” sapa seorang pelayan kafe. Dia tersenyum sambil memberikan secarik kertas padaku. “Anda mendapatkannya dari Tuan yang duduk di sebelah sana” Pelayang itu melanjutkan sambil menunjuk seorang pria yang duduk di pojokan itu.

Dia terlihat tersenyum padaku sambil mengangguk. Aku tersipu malu dan kembali melihat ke arah si pelayan. “Terimakasih” kataku seraya mengambil kertas itu dari Pelayan itu.

Hai, Namaku Lee Donghae, Siapa Namamu?

“Siapa Namamu?”

Aku mendongak dan melihat wajah pria itu. Tiba-tiba dia sudah duduk tepat di depanku sambil tersenyum cerah. Rasanya aku ingin pingsan saja sekarang.

-:-:-:-

Kim Taeyeon

Hal pertama yang selalu kupikirkan setiap aku bangun selama tiga hari terakhir ini adalah Wooyoung, hanya dia yang ada di pikiranku. Aku masih ragu, apa dia benar-benar marah padaku karena aku mengatakannya bodoh? Hanya karena hal itu dia marah padaku, dasar kekanak-kanakan. Padahal aku juga sering memanggilnya begitu deh.

Aku menghempaskan diriku di atas kursi sambil memakan sarapanku yang sudah siap sedia di depan meja makan.

“Kau kenapa?” tanya Kakakku.

Aku hanya menggeleng dan memakan makananku dengan kesal. Aku benar-benar tidak mood untuk melakukan apapun hari ini. Apalagi untuk pergi kerja hari ini. Karena jika aku pergi kerja, pasti aku akan bertemu dengannya dan dia akan terus menghindar dariku.

Lihat, dia benar-benar menghindar dariku. Lagaknya benar-benar menyebalkan. Jadi karena kami sedang marahan dia berhak mendekati wanita lain, begitu? Huh! Bodohnya aku, aku cemburu pada pria kekanak-kanakan itu. Pria aneh yang terobsesi pada es krim.

“Kau kenapa?” pertanyaan itu lagi. Aku sudah menghitung sepuluh orang lebih yang bertanya seperti itu padaku hari ini dan aku menjawabnya dengan gelengan, yang itu artinya aku sedang tidak ingin di ganggu.

Aku pergi dari tempat itu dan memilih makan siang sendirian di luar. Jujur, hatiku benar-benar panas jika melihat Wooyoung hari ini. Aku tahu memang seharusnya aku yang meminta maaf. Tapi aku gengsi.

Aku kembali ke kantor saat acara musik itu akan dimulai. Wooyoung sebagai penanggung jawab selalu ada di belakang panggung dan memastikan semuanya bekerja dengan baik. Dan seharusnya sekarang aku berada di dekatnya menjadi asisten.

Dengan terpaksa aku berjalan ke arahnya dan mengambil headset dari seorang temanku. Dia hanya melirikku sekilas dan terdiam lagi. Membuatku jadi benar-benar malas ingin berbicara padanya.

“Kau nanti ikut denganku ya” katanya tanpa melihat ke arahku.

Aku hanya terdiam mencoba untuk tidak menghiraukan perkataannya barusan. Walaupun sebenarnya dalam hati aku sangat bersemangat.

Selesai acara itu aku benar-benar menunggunya di luar kantor. Aku tahu dia tidak pernah suka naik mobil karena tidak mau membuang-buang energi. Jadi setiap kami pergi keluar selalu jalan kaki sampai terkadang kaki kami pegal, dan dia akan menggendongku.

Tiba-tiba Wooyoung berlari dari dalam kantor dan meraih tanganku dia menarikku sambil berlari. Aku tidak tahu kemana dia pergi, namun dia mengajakku naik bus. Aku tidak ingin bertanya karena aku terpaku melihat senyum cerahnya di dalam bus.

Kami turun di sebuah taman dan dia mengajakku ke tengah-tengah taman. Terlihat teman-teman kami disana, bahkan aku melihat Kakakku diantara mereka memegang banner besar  bertuliskan HAPPY BIRTHDAY. Aku meloncat-loncat tidak jelas karena merasa konyol hari ini.

Bodohnya aku, hari ini adalah ulang tahunku. Kenapa aku sampai lupa. Aku tersenyum lebar ke arah mereka semua. Lalu melihat ke arah Wooyoung yang tersenyum geli melihat reaksiku.

“Selamat ulang tahun, aku mencintaimu Kim Taeyeon!” kata Wooyoung sambil memelukku

-:-:-:-

Kim Hyeoyeon

Aku membawa kardus-kardus itu ke dalam kantor dengan berat hati. Sial benar aku, bisa-bisanya berkata iya dengan sangat mudah. Jika saja aku tahu aku hanya akan dijadikan kuli seperti ini, aku akan menolaknya dari awal.

Ketika sampai di dalam kantornya aku langsung menjatuhkan kardus itu tepat di atas mejanya. Aku tidak peduli jika ada yang rusak. Karena dia jelas-jelas telah merusak hariku.

“Aku muak dengan semua ini, kenapa kau selalu memperlakukanku seenaknya?” kataku kesal.

Pria menyebalkan itu malah tersenyum geli. Dia menggangguk lalu menoleh ke arahku.

“Kerja hebat, aku mempunyai hadiah untukmu”

Dia berjalan ke arahku diikuti senyum jahil. Dia menyembunyikan tangannya di belakang. Cih! Aku kesal dengannya. Paling dia memberiku hadiah cicak atau kecoak lagi. Aku membuang muka dan menunjukkan wajah bosanku padanya.

“Lihatlah!” Dia menyuruhku.

Aku melihat ke arah sebuah kotak berwarna merah yang dibawanya. Dia tersenyum ke arahku dan membukanya dengan tangan kirinya. Yang membuatku terkejut lagi adalah dia berlutut di depanku dan mengatakan.

“Marry me! Eoh?”

-:-:-:-

Choi Sooyoung

Wanita yang hidup terlalu mapan itu akan susah mendapatkan jodoh. Begitu kata teman-temanku, namun aku tahu selama ini mereka hanya mencoba membuatku takut. Takut untuk berambisi lebih besar. Namun terkadang kata-kata itu ada benarnya. Sudah dua tahun yang lalu semenjak kencan terakhirku. Dan sampai detik ini belum ada satupun pria yang mengajakku kencan lagi. Hampa memang, dan itu terasa sangat tidak enak.

Aku tidak sengaja tertidur di dalam pesawat dalam perjalanan pulang dari Amerika. Aku heran dengan diriku sendiri. Ini pertama kalinya aku naik pesawat dengan kelas ekonomi dan aku bisa tertidur. Padahal biasanya aku tidak bisa tertidur.

“Kau sudah bangun”

Aku menoleh ke samping dan melihat wajah itu. Wajahnya sangat familier bagiku. Namun aku tidak bisa mengingatnya.

“Go Kyungpyo, ingat? Kita teman satu SMA” katanya.

“Oh, maaf aku lupa”

Pria itu tertawa dan membuatku bingung. Kyungpyo? Aku puya teman bernama Kyungpyo? Tapi kurasa bukan. Dia bukan itu.

“Bakpao, mereka memanggilku seperti itu dulu, kau mungkin tidak ingat aku, namun aku selalu mengingatmu” Jelasnya.

Aku tersenyum. Sekarang aku ingat jika pria yang ada di depanku ini adalah temanku yang gendut. Dia selalu terdiam di meja dan tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang padanya. Namun dia tidak mirip seperti itu. Bakpao itu dulu gendut sekali, tapi sekarang aku bisa melihat rahangnya yang keras dan tidak ada kantung lemak yang ada di bawah dagunya.

“Aku ingat sekarang” kataku canggung.

Aku tidak berbicara padanya sampai pesawat turun di Incheon. Dia juga dari tadi hanya tersenyum ke arahku. Jadi intinya aku bingung mau berkata apa pada pria itu.

Dia menunggu taksi sedangkan aku berdiri sambil menunggu jemputanku datang. Dia memanggilku dan tersenyum ke arahku.

“Eh, Bolehkah aku meminta nomormu”

Aku mengernyitkan dahi dan berjalan selangkah lebih dekat. “Untuk apa?” tanyaku.

“Siapa tahu jika kau ingin makan malam bersamaku, aku bisa mengajakmu” katanya sambil tersenyum.

Aku tersipu malu dan menunduk untuk menyembunyikan pipiku yang bersemu merah.

-:-:-:-

Lee Sunkyu

Aku senang melihat anak-anak itu bermain dan tertawa seakan-akan dunia ini hanyalah milik mereka sendiri. Hal itu juga yang membuatku suka menjadi guru TK. Walaupun terkadang menjengkelkan namun aku lebih bahagia seperti ini.

Aku memang suka membagikan makan siangku pada anak-anak agar mereka senang. Senyum mereka membuatku jadi tidak lapar lagi. Namun tentu saja perutku ingin aku makan namun aku terus mencoba menahannya, agar mereka tidak menyesal telah memakan makananku.

“Lee Sonsaengniem” panggil seseorang.

Aku menoleh ke arah seorang pria yang mengenakan baju polisi. Dia tersenyum ke arahku sambil membawakan sekotak makanan. Aku mengernyitkan dahi, aku tidak mengenalnya namun merasa mengenalnya.

Nuguseyo?” kataku mencoba sopan.

Dia duduk di sebelahku dan menunjuk seorang anak perempuan dengan rambut di kepang dua. Anak itu bernama Seoyeon. Dia salah satu murid favoritku.

“Dia keponakanku” katanya. Kemudian dia tersenyum ke arahku. “Kau lupa padaku?” tanyanya.

“Aku memang tidak tahu” kataku.

“Beberapa hari yang lalu kita bertemu di kereta, kau yang menjatuhkan dompetmu di kereta, aku orang yang menemukan dompetmu dan mengembalikannya padamu” Ketika dia selesai menceritakan itu. Pikiranku langsung terbang pada hari dimana aku menjatuhkan dompetku di kereta. Aku sangat khawatir jika dompet itu hilang, namun akhirnya seseorang menemukannya dan mengembalikannya padaku. Aku tidak tahu jika orang itu adalah Paman Seoyeon.

“Ah,, kau orang itu, Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus berterimakasih, aku juga minta maaf karena sudah lupa”

“Terimalah ini,” katanya sambil menyodorkan kotak makanan itu padaku “Ibu Seoyeon membuatkannya untukku, namun kurasa kau lebih lapar iyakan? Aku melihatmu membagikan makananmu pada anak-anak itu tadi”

“Bagaimana denganmu?” tanyaku.

“Tidak usah, lagian kantorku dekat sini, jadi aku bisa makan bersama teman-temanku”

“Jangan, makanlah denganku” kataku.

Pria itu tersenyum dan mengangguk. Mungkinkah ini kebetulan?

-:-:-:-

Tiffany Hwang

Sudah hampir pukul tujuh ketika aku menghabiskan jus tomatku, dan dia belum juga datang. Harus kubilang menjadi kekasih seorang wartawan itu tidak enak. Terkadang kencan harus dibatalkan karena mendadak ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Well, sepertinya kencan kami telah tertunda setengah jam. Dan aku dengan setia masih menantinya disini. Tempat pertama kali kami bertemu.

Aku melihat ke arah kue yang sudah susah-susah kubuat dari rumah. Kue itu memang sederhana, sesederhana cara kami merayakan hari jadi yang sudah menginjak usia 4 tahun ini.

Ponselku bergetar dan terlihat satu pesan. Aku membukanya dengan malas. Pesan itu dari Khun dan berbunyi “Tutup Matamu!”

Aku melihat ke sekelilingku dan menutup mataku.

Terdengar sayup-sayup orang-orang berhamburan. Lalu tak lama kemudian terdengar bunyi gitar dan perkusi.

“Buka Matamu!” terdengar suara Khun di depanku. Aku membuka mataku dan melihatnya membawa kue ku yang sudah diberi lilin angka empat. Dia menyanyikan lagu Stand By Me yang di aransemen sendiri. Di belakangnya kulihat ada beberapa teman kami dan keluarga kami kemudian ada banner besar bertuliskan.

‘MENIKAHLAH DENGANKU’ dengan bahasa Korea, Inggris, dan Thailand.

Khun menaruh kue itu di atas meja dan merentangkan tangannya.

“Ya atau Tidak?” tanyanya.

Aku mengangguk sambil menangis terharus, kemudian aku menghambur ke arahnya dan memeluknya.

-:-:-:-

Seo Juhyun

Sore itu aku sedang berjalan di perpustakaan untuk mencari buku referensi mata kuliah saat melihatnya. Dia sedang membaca buku dengan tenang. Aku tidak bisa bilang dia tampan, namun aku bisa bilang jika dia sangat menawan. Caranya membuka tiap lembar buku membuatku terdiam beberapa saat. Tidak biasanya aku terpaku hanya karena memandang seorang pria.

Dia menoleh ke arahku secara tiba-tiba dan itu membuatku kaget. Aku langsung salah tingkah dan menjatuhkan semua buku-buku yang kubawa. Kurasa ini sangat memalukan karena aku langsung merasakan semua mata yang ada di ruangan itu mencari-cari sumber keberisikan yang terjadi, alias aku.

Seseorang datang dan membantuku memunguti bukuku. Dia kemudian memberikan buku-buku itu padaku dan tersenyum.

“Lain kali hati-hati ya” katanya.

Aku langsung terpaku. Kurasa pria itu tau jika aku memperhatikannya sedari tadi. Karena caranya tersenyum padaku terasa berbeda. Aku hanya mengangguk mengambil buku-buku itu dari tangannya.

Gomawo” kataku.

“Sama-sama”

Aku langsung pergi ke meja penjaga perpustakaan. Jantungku berdetak lebih kencang dan aku tidak bisa berhenti tersenyum karenanya.

-:-:-:-

Kwon Yuri

Menjadi istri seorang casanova itu memang susah. Setiap detik hatimu tidak pernah tenang karena memikirkan bagaimana suamimu akan berkelakuan dengan perempuan lain di luar sana. Susah juga untuk menanamkan kepercayaan padanya, karena di luar sana pasti banyak perempuan yang akan menggodanya. Seperti sekarang, hatiku tidak tenang. Karena sudah pukul 12 malam dan dia belum pulang, sedangkan anakku sudah tertidur pulas di ranjangnya.

Aku memeluk ponselku sambil melihat keluar jendela, hujan deras mengguyur kota tanpa belas kasihan. Namun bukan itu yang kukhawatirkan, Tapi suamiku yang tak kunjung pulang. Seharusnya mobilnya sudah terparkir di dalam garasi sekarang. Dan dia sudah tertidur pulas bersamaku di kamar, dia berjanji akan pulang sebelum makan malam. Tapi kenapa dia belum pulang?

Akhir-akhir ini hubungan kami memang tidak begitu baik karena dia terus disibukkan oleh pekerjaan sedangkan aku dan anakku ingin menghabiskan waktu bersamanya. Dia memang tidak pernah bermain tangan namun caranya diam membuatku merasa bahwa dia tidak mencintaiku lagi. Berbeda seperti 3 tahun yang lalu. Tiada hari tanpa kata ‘Saranghaeyo’, namun sekarang sepertinya dia hemat sekali dalam mengeluarkan kata-kata.

Kulihat cahaya lampu mobil dari luar gerbang. Seorang satpam membukakan pintu untuknya. Dan aku langsung menenangkan diri, mencoba untuk tidak meluapkan semua kekesalanku padanya sekarang.

Terdengar suara pintu terbuka, dan kulihat dia dengan wajah yang kuyu dan lelah. Dia menatapku datar sambil menghempaskan tas kerjanya ke atas sofa.

“Kau belum tidur?” tanyanya lirih.

Aku hanya menggeleng dan berjalan perlahan mendekatinya. Aku melepaskan dasi dan jas yang membuatnya gerah dan melemparkannya ke atas sofa.

“Bagaimana di kantor hari ini? Apa ada sesuatu yang membuatmu kesal?” kataku sambil memandang wajahnya yang lelah.

“Cukup menyenangkan, tapi sangat melelahkan, bisakah kau menyiapkanku air panas, aku ingin mandi” katanya seraya melepas kaos kakinya.

Aku menghela nafas dan mengangguk. Dia benar-benar bukan laki-laki yang sensitif. “Cho Kyuhyun, aku ingin mengatakan sesuatu padamu” kataku.

Dia berbalik dan mengernyitkan dahi. “Katakanlah!” katanya sambil mengedikkan bahu.

“Apa kau masih mencintaiku, mencintai anak kita, keluarga kita? Bisakah kau menyisakan waktu sedikit untuk kita semua?” kataku dengan marah yang tertahan.

Dia berkacak pinggang dan menatapku dalam-dalam. Caranya menatapku membuatku takut. Aku takut jika dia marah. Namun detik demi detik berlalu dan dia masih belum mengatakan sepatah katapun. “Apa aku perlu mengatakannya?” Dia malah balik bertanya.

“Aku perlu tahu” jawabku ketus.

Kyuhyun mengangguk dan menciumku. Namun aku mendorongnya, dan menatapnya nanar. “Jawaban Cho Kyuhyun, Apa kau mencintaiku?”

“Kau sudah tahu jawabannya”

-:-:-:-

Im Yoona

Perempuan sepertiku seharusnya tidak cocok dengan laki-laki super duper cuek sepertinya. Namun aku heran dengan diriku sendiri bagaimana bisa bertahan bersamanya selama lebih dari tiga tahun. Dia itu aneh menurutku, Koreksi, menurut semua orang.

Pekerjaannya saat siang hari adalah mahasiswa rajin yang disukai semua dosen. Pekerjaannya pada malam hari adalah anak band yang tidur jam tiga di pagi hari. Aku terkadang bingung dengan caranya me-manage semua itu. Aku yang selama ini menjadi mahasiswi baik yang tidak neko-neko tidak pernah menjadi se-luar biasa dia.

Kami berjalan sambil menikmati suasana malam. Dia menggendong gitarnya dan memandang langit dengan begitu bahagia. Entah kenapa walaupun kami saling bergandengan tangan, hatiku tidak terasa terikat dengannya. Aku melihat ke arahnya dan dia masih tersenyum melihat bintang malam yang berkelap-kelip dengan indah. Aku harus bilang cara kami berpacaran itu sangat aneh.

Harus kubilang aneh, semenjak kami berpacaran dia tidak pernah melakukan kontak fisik selain bergandengan tangan. Harus kubilang aneh karena dia tidak pernah mengatakan jika dia mencintaiku tapi hanya menyukaiku. Harus kubilang aneh, karena hubungan kami lurus-lurus saja.

“Jonghyun­-ah, pernahkah kau merasa aneh?” kataku.

“Aneh bagaimana?” tanyanya sambil menoleh ke arahku.

“Kurasa kita harus berpisah, hanya untuk beberapa waktu” kataku sambil menghentikan langkah kami.

“Kenapa? Kau tidak suka denganku lagi?” tanyanya.

“Aku tidak tahu, karena itu, kita berdua harus mencari tahu tentang hal itu” kataku. Berbicara pada laki-laki itu seperti berbicara pada robot.

“Aku tidak mengerti maksudmu” katanya.

“Kita harus berpisah Jonghyun-ah, mulai detik ini” kataku kesal sambil melepaskan genggaman tanganku dari genggaman tangannya.

Jonghyun menatapku bingung, dia menunduk dan menjejak-jejakkan kakinya. “Bisakah kau beri tahu alasannya padaku?”

Aku mencoba memutar otakku, mencoba mencari kata-kata yang tepat. Tapi bukan itu yang kuperlukan jika berbicara dengan Jonghyun. Berbicara padanya harus dengan hati, atau kau akan cepat marah.

“Karena aku terlalu mencintaimu, itulah kenapa. Aku hanya tidak tahu apakah kau juga merasakan hal yang sama padaku”

Jonghyun terkekeh dan memasukkan tangannya ke dalam saku celana. “Maafkan aku, tapi aku tahu kau pasti kesal padaku,”

Aku melihatnya penuh kebingungan dan mengedikkan bahu.

“Ada alasan kenapa aku melakukan tindakan yang tidak terlalu jauh padamu, karena kau sangat berharga bagiku, dan aku tidak ingin membuatmu merasa seperti wanita rendahan, maafkan aku jika terdengar kolot, tapi bagiku wanita itu seperti berlian, dan bagiku kau seperti itu. Kau bagaikan berlian yang tidak boleh tergores. Terkadang aku takut, karena aku bisa saja menjadi belati untukmu, itulah kenapa aku selalu menahan untuk melakukan rayuan padamu, tapi aku ingin mengatakan jika Aku sangat, sangat mencintaimu, dan aku ingin kau tetap menjadi berlian indah yang tidak tergores, aku ingin menjadi pelindung bagimu”

Aku terdiam, aku tidak tahu jika dia berpikir sejauh itu. Jadi selama ini aku menilai Jonghyun salah. Dia bukan lelaki aneh, tapi lelaki yang benar-benar gentle dan menjaga martabat wanita.

“Aku sangat, sangat mencintaimu Im Yoona, maafkan aku jika itu adalah kesalahan” katanya sambil tersenyum getir.

Aku langsung menangis dan memeluknya. “Jongmal Mianhae, Jonghyun-ah!” kataku.

Jonghyun balas memelukku dan membelai rambutku. “Tidak apa-apa, itu hanya salah paham”

Saranghae

Nado

-:-:-:-

Gue akan sedikit berkomentar,, kumpulan flashfict ini flash begitu saja di otak gue, jadi jangan cari sambungannya antar cerita satu dan yang lain. karena emang nggak nyambung

ceritanya memang gaje semua, jadi tolong maafkan. jika readers pengen tau kelanjutannya silahkan kembangkan sendiri dalam pikiran masing-masing. tapi beberapa cerita memang nggak berkembang.

eh, btw, maaf kalo couple-nya nggak sesuai harapan. tapi beberapa ada yang gue bebasin untuk berkhayal kok.

“gue bikin cerita-cerita ini gegara hari ini gue lagi falling hard for GG, nggak tau kenapa,,”

thanks for read,, I Love You,, Muach!!

Ahnmr

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

5 thoughts on “Love Story Compilation (?) # Flashfiction”

  1. aaaaah suka banget >,< ko bisa si kepikiran yg kaya gini. kereeeeeeeen!
    paling suka partnya Yoona *tetep*. tapi part member lain juga keren!
    semangat ya authornim bikin ff yang lebih lebih lebih banyak lagi 😀

    1. aku nggak tau chingu, aku kyuri shippers baru soalnya. hehehe : )
      aku suka baca wild orchid punya hyeah kim, tapi aku yakin chingu sendiri udah baca, hehe

      rencananya ini mau hiatus dulu,, tapi tetep berkarya kok,, FIGTHING!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s