Hello Mr. Architect #Part 6

 hello mr. architect

Author: Ahnmr||Credit Poster: @nisaknugroho||Cast: Im Yoona (SNSD), Lee Jonghyun (CNBLUE), (OC) || Support Cast: Jang Wooyoung (2PM), Seo Juhyun/Seohyun (SNSD), Kim Taeyeon (SNSD), Kwon Yuri (SNSD), Im Jaebum|| Genre: (Masih ditanyakan) ||Rating: Teen||Lenght: Chapter (Insyaallah)||Disclaimer: All cast belong to GOD, i do not own anything, except the ideas.

iklan | #part 1 | #part 2 | #part 3 | #part4 | #part5

–ahnmr copyright–

Yoona melamun sambil menatap ke arah laptopnya. Dia memutar-mutar batang permen lolipop yang diberikan Jonghyun tadi siang sambil terdiam. Dia harus menginap di rumah sakit lagi hari ini, selain dia tidak enak karena membuat Seohyun khawatir terus. Dia juga ingin menjaga adik laki-laki kesayangannya.

Beberapa jam yang lalu Yuri mendadak harus pergi karena ada keperluan mendesak, membuat Yoona benar-benar merasa kesepian sekarang. Entah kenapa Yoona hanya bisa menggigit bibirnya sambil mengetik tugas tanpa tahu apa yang sebenarnya dia ketik. Pikirannya masih melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu. Uh, dia sangat malu sampai-sampai tidak bisa berkata apa-apa ketika Jonghyun mengantarnya kembali ke rumah sakit. Yoona langsung berlari keluar dari mobil, meninggalkan Jonghyun dengan sejuta pertanyaan. Sebenarnya dia merasa konyol juga karena setelah ciuman itu dia jadi sangat gugup dan mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya keluar dari mulutnya.

Ponselnya bergetar lagi untuk yang kesekian kalinya. Yoona langsung tahu jika itu dari Jonghyun. Tiba-tiba Yoona menjatuhkan kepalanya ke atas keyboard laptopnya dan mendesah keras.

“Oh, Jebal! Jangan hubungi aku sekarang” keluhnya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Dia tidak kuat jika mengingat itu lagi. Itu semua sangat mengejutkan. Yoona tidak pernah terlibat hubungan serius seperti ini sebelumnya. Jika boleh jujur, ini adalah yang pertama baginya.

Yoona mengambil ponselnya dengan tangannya yang panjang dan melihat pesan-pesan dari Jonghyun.

Kau ini sebenarnya kenapa, kenapa tiba-tiba meninggalkanku?

Kau marah ya?

Aku minta maaf

Oke, selamat tidur!

Aku ingin mengajakmu makan malam di apartemenku, kau boleh mengajak adikmu, atau kakakmu. Aku akan memasak pancake bogahari. Kau mau aku memasak apa lagi? Kau datang ya! Aku juga ingin kau bertemu dengan seseorang.

Yoona mangut-mangut seraya tersenyum simpul. Kemudian melihat ke arah Jaebum. Adiknya terlihat menggeliat tidak nyaman di tempat tidurnya. Dia terlihat berusaha keras memejamkan matanya dan Yoona bisa melihat jelas jika Jaebum belum tertidur dari tadi. Kemudian Yoona berjalan mendekati Jaebum dan duduk di sebuah kursi yang ada di samping ranjangnya.

“Jaebum-ah, kau tidak apa-apa?”

Akhirnya Jaebum menyerah juga dan berbalik untuk melihat kakaknya. Dia melihat kakaknya penuh kesedihan. Ada suasana kelam di matanya. Hal itu membuat Yoona sedikit khawatir. Dia takut jika Jaebum sedih.

Noona, aku merindukan Ibu” ujarnya.

Yoona mengangguk dan memaksakan senyuman di wajahnya. Ingatan Ibu bagi seorang Yoona tidak pernah baik. Ibunya memperlakukan Yoona tidak jauh berbeda dari Ayahnya, dia selalu bersikap seakan-akan Yoona adalah parasit yang harus disingkirkan. Hal itu selalu membuat Yoona bingung dan tidak mengerti kenapa dunia bisa jadi begitu tidak adil padanya. Terkadang dia berpikir jika Ibunya bukanlah Ibu kandungnya, tapi itu pemikiran yang bodoh.

Dia ingin bersyukur ketika Ibunya jadi gila dan harus dibawa ke Rumah Sakit Jiwa. Namun rasanya hal itu tidak pantas. Bagaimanapun juga dia adalah Ibu Yoona, dia adalah Ibu yang melahirkannya dan Jaebum. Dialah orang yang berjasa merawatnya hingga saat itu.

“Kau mau menjenguk Ibu?” tanya Yoona pada Jaebum.

Jaebum mengangguk. Dia sangat merindukan Ibunya, rengkuhan Ibunya ketika Jaebum kedinginan, Sentuhan tangannya ketika Jaebum kesakitan. Jaebum sangat ingin bertemu dengan Ibunya.

Yoona tersenyum dan melemparkan tatapan teduh pada Jaebum. “Baiklah, besok sebelum kau pulang ke rumah, kita pergi. Oke?”

Jaebum melihat ada yang aneh dari sorot mata Kakaknya. Jaebum tidak bisa menebak apa itu, dari dulu dia tidak bisa membaca pikiran Kakaknya.

Noona, tidak apa-apa?” Jaebum ganti bertanya pada Yoona.

Yoona menggeleng seraya menaikkan selimut Jaebum. “Aku tidak apa-apa, aku ini perempuan dewasa, Jae. Tidak usah mengkhawatirkan aku, Kakakmu ini kan manusia super” Kata Yoona sambil mengepalkan kedua tangannya dan memamerkan otot lengannya yang sama-sekali-tidak-besar-besar-amat-cenderung-ceking.

Hal itu sukses membuat Jaebum tertawa ringan. Yoona senang akhirnya dia bisa membuat Jaebum tertawa. Beberapa hari ini Jaebum terus bersikap sedikit acuh padanya.

“Aku senang Noona sudah benar-benar kembali” kata Jaebum.

“Tidurlah, Noona akan mengerjakan tugas” Yoona mengakhiri percakapan itu. Jaebum mengangguk dan membenarkan posisi tidurnya. Kali ini dia sudah bisa benar-benar tidur.

Yoona menatap adiknya yang sudah jatuh ke dalam dunia mimpi. Hari ini dia sangat senang, dia ingin menikmati perasaan itu dulu sebelum hari esok datang. Sebenarnya dia tidak ingin pergi ke rumah sakit jiwa tempat Ibunya ditampung. Dia takut melihat wajah Ibunya.

Jonghyun menatap pemandangan jalan raya dari apartemennya sambil menyesap susu coklat hangat. Ia sangat bersyukur pada Tuhan karena mengijinkannya untuk bertemu dan mengenal gadis bernama Im Yoona. Gadis udik yang membuatnya sadar betapa sempitnya dunia ini, gadis yang membuatnya sadar, bahwa sekeras apapun usahanya menjadi orang lain, Lee Jonghyun tetaplah Lee Jonghyun. Bukan Lee Jonghyun yang lain.

Ponselnya berdering, Jonghyun menghela nafas dan mengangkat telepon itu.

“Yonghwa Hyung?” tanyanya pada dirinya sendiri.  “Yoboseyo?” sahutnya.

“Lee Jonghyun, maaf mengganggumu malam-malam seperti ini, namun aku ingin melihatmu besok di kantor, berhentilah jadi pemalas dan komitmenlah pada pekerjaanmu, apa libur dua hari tidak cukup?” Kata Yonghwa setengah marah-marah.

Arasseo, aku datang” Ujar Jonghyun dengan malas.

Tanpa basa-basi lagi, Yonghwa langsung menutup teleponnya. Jonghyun menatap layar teleponnya sambil tersenyum tipis. Kemudian ia menyesap susu coklatnya dan bergumam, “Kau tidak tahu jika aku membawa banyak keberuntungan”

Yonghwa menatap Jonghyun penuh rasa takjub, tak hanya Yonghwa namun Junho yang tidak berurusan dengan Jonghyun juga ikut takjub. Ia menatap desain Jonghyun dan Jonghyun bergantian, dan Jonghyun tersenyum sok cool, sambil melemparkan tatapan aku-memang-hebat ke arah Junho dan Yonghwa.

Seolma, Jadi selama ini kau mengerjakan desain resort itu?” tanya Yonghwa.

Jonghyun mengangguk dengan angkuh. Junho menepuk-nepuk bahu Jonghyun sambil tersenyum lebar. “Daebak,daebak

“Jadi, Hyung,” kata Jonghyun pada dua orang itu. “Jangan menganggapku remeh lagi, oke?”

Kakinya tak sabar ingin pergi dari ruangan itu. Namun Yonghwa menghentikannya. Yonghwa memaksakan senyum lebar di wajahnya dan mengatakan “Jangan lupa mengikuti rapat besok,oke?” pada Jonghyun.

Ternyata usahanya itu hanya di balas dengan anggukan malas. Kemudian Jonghyun berjalan keluar dengan gayanya yang dingin dan tidak punya sopan santun. Yonghwa dan Junho hanya mengamati langkahnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Walaupun mereka sudah mengenal dan menjadi rekan kerja Jonghyun selama setahun lebih. Mereka tetap belum bisa menerima sikap Jonghyun yang begitu acuh dan terkesan tidak bertanggung jawab.

Yang mereka bingung. Laki-laki itu selalu mempunyai kejutan. Dan mereka mengakui semenjak Jonghyun masuk ke perusahaan arsitektur itu. Mereka jadi mempunyai lebih banyak klien, dari awal mereka tidak meragukan kemampuan arsitektur Jonghyun. Dia cerdas dan selalu mempunyai ide brilian. Namun melihat sikapnya, banyak orang yang tidak yakin dengan relasi yang akan dihasilkannya.

“Aku merasa kesal, namun aku berterimakasih, menurutmu aku harus bagaimana?” tanya Yonghwa pada Junho.

“Dia pernah bilang, tidak apa-apa jika kau mau membencinya. Eh, Tadi dia kemana?”

“Entahlah, kenapa kau tanya aku?” Kata Yonghwa agak ketus.

Junho mendengus dan keluar dari ruangan Yonghwa, kemudian ia pergi mencari Jonghyun. Ternyata dia sudah duduk di meja kerjanya, terlihat sibuk menggambar dengan pensil kayu di atas buku sketsa. Junho mangut-mangut dan melangkah mendekati meja Jonghyun. Kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan tersenyum ke arah Jonghyun.

“Sudah sibuk lagi? We? Sepertinya kau terlihat sangat rajin hari ini?”

Jonghyun mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari buku sketsa. Setelah itu dia meletakkan pensil kayunya dan melirik ke arah Junho sambil tersenyum tipis.

“Dengan kata lain kau bilang aku pemalas, begitu?”

“Ya, tapi aku juga memujimu, kau terlihat keluar dari jalur orbitmu beberapa senti” Kata Junho menjelaskan.

“Terimakasih” Balas Jonghyun pendek.

Junho mendengus pelan, dia sudah mulai panas dengan sikap acuh Jonghyun. “Kemarin seorang klien mencarimu, dia meninggalkan kartu nama ini” kata Junho seraya merogoh saku jaketnya dan menunjukkannya pada Jonghyun. Kemudian dia menyodorkan kartu nama itu padanya.

Ternyata hal itu sukses mendapat perhatian Jonghyun. Jonghyun meninggalkan pekerjaannya untuk sejenak dan menerima kartu itu dari Junho. Mendadak wajahnya pucat pasi, dan tidak bisa berkata-kata. Setelah itu ia melihat Junho dan tersenyum. “Gamsahamnida, Hyung” Kata Jonghyun.

Kkalgae, semoga harimu menyenangkan” Junho melambai pada Jonghyun dan pergi dari ruangan itu dengan setengah berlari.

Jonghyun membaca lagi kartu nama itu. Dia tidak menyangka kakaknya tahu bahwa dia bekerja di sini. Jonghyun meletakkan kartu itu di atas mejanya. Setelah itu dia menyandarkan punggungnya ke kursi  dan mememejamkan matanya.

“Aisshh,, Apa yang akan dia lakukan?”

“Tenang saja, lagipula aku sedang tidak banyak kerjaan hari ini, aku tunggu kalian di sini saja” Yuri berbicara dari dalam mobil pick-up putihnya. Yoona dan Jaebum membungkuk dan tersenyum ke arah Yuri setelah itu.

Yoona melihat ke arah Jaebum sebentar dan menyuruhnya untuk menunggu. Kemudian dia mendekati Yuri dan berbicara dengannya lewat jendela mobil.

Eonni, soal rumah sakit, berapa biaya yang harus kuganti?” tanya Yoona.

Yuri tersenyum dan menghela nafas. Dia melihat Yoona dan menggeleng. “Kau pikirkan itu nanti saja, lebih baik kau menemani Jaebum dulu, lihat!” Yuri menunjuk Jaebum yang berdiri dengan ekspresi gelisah. “Dia menunggumu” lanjut Yuri.

Yoona mengangguk dan menelan ludah. Dia berbalik dan menghampiri Jaebum, lalu merangkulnya. Dia mengusap-usap bahu Jaebum sambil tersenyum tipis ke arah adiknya itu. Jaebum saat itu mengerti jika tubuh kakaknya bergetar. Kakaknya takut.

Akhirnya, setelah melalu proses yang panjang. Mereka dapat menemui Ibunya, ditemani seorang perawat wanita gendut yang galak.

Wanita paruh baya itu tengah duduk diam sambil menatap kosong pemandangan yang ada di depannya. Kantung matanya besar, menyiratkan bahwa dia kurang tidur. Sekali lagi Yoona menelan ludah. Perasaan

Tanpa aba-aba, Jaebum berjalan ke arah Ibunya dengan cepat. Pelan-pelan ia berlutut di samping ibunya dan berbisik “Eomma” . Seketika wajah Ibu Jaebum berubah, seperti orang yang baru saja mendapatkan kembali kesadarannya. Perlahan ia menoleh dan melihat wajah Jaebum yang sembab karena menahan tangis.

Saat itu Yoona ragu, haruskah dia terharu? Jika iya, dia tidak merasa mempunyai alasan untuk itu. jika tidak, dia merasa seperti anak yang tidak berbakti. Jadi dia hanya terdiam, berdiri di samping perawat gendut itu dan melihat Jaebum memeluk ibunya. Ibunya memeluk Jaebum namun dengan wajah yang datar, tanpa emosi.

“Anda tidak ingin kesana?” Tanya perawat itu.

Yoona menggeleng dan tersenyum muram. “Tidak” jawabnya.

Perawat gendut itu mengangguk paham. Dia bisa membaca ekspresi tegang yang menggelayut di wajah gadis itu. Bahkan atmosfer di sekitarnya sangat kelabu.

Laki-laki berambut coklat kemerahan itu melihat-lihat bunga yang ada di depannya sambil tersenyum. Ia mengambil kamera dari dalam tas selempangannya dan memotretnya. Setelah itu dia berjalan masuk ke dalam toko bunga dan di sapa oleh seorang nenek tua yang terlihat ramah.

“Selamat datang di toko bunga kami”

Jonghyun tersenyum sambil membungkuk sekilas pada Nenek itu.

Beruntung dia adalah laki-laki perhatian dan mempunyai memori yang kuat. Ia masih ingat Yoona pernah mengatakan bahwa dia menyukai bunga matahar.“Oh, Apa disini ada bunga matahari?”

“Untuk apa? Biasanya kami menggunakannya untuk karangan bunga”

Jonghyun terkekeh “Mmm, aku ingin membuatnya sebagai,,” Hadiah, peliharaan, apa? “Hiasan di,” kamar, dapur,Aisshh  “Ruang tamu” Jonghyun tersenyum seusai menyelesaikan kalimatnya. Dia tidak mengerti kenapa dia gugup.

Darawa” Kata nenek itu sambil menyuruh Jonghyun mengikutinya. Jonghyun mengikuti Nenek itu ke belakang toko bunga.Dia menemukan dirinya berada di dalam rumah kaca yang luas, berisi berbagai jenis bunga, warna-warni dan itu benar-benar indah. Jonghyun mengambil gambar dengan kameranya, dan tersenyum sambil mengedarkan pandangannya ke tiap sudut.

Ada hal lain yang sebenarnya dia ingat. Saat di Jepang, Paman Seokjin pernah mengajaknya ke sebuah rumah kaca seperti ini. Awalnya ia bosan namun lama-kelamaan ia paham bagaimana bunga bisa membuat suasana hatinya lebih cerah. Saat melihat bunga, semua beban pikirannya seakan-akan hilang. Semenjak hari itu, ia selalu ingin mempunyai rumah dengan taman bunga yang luas.

“Apa kau mendengarkan?” tanya nenek itu.

Jongyun mengerjapkan matanya dan tersenyum lagi ke arah nenek itu. “Ne” sahutnya.

“Aku baru saja menyuruh pekerjaku untuk memotong beberapa untukmu, apa kau yakin akan membuatnya sebagai hiasan untuk ruang tamu?” Kata nenek itu sambil tersenyum penuh misteri.

“Ha? Ye? Ah, iya, saya yakin” kata Jonghyun ragu. Dia rasa nenek itu memahami keraguan yang menjalari saraf wajahnya. Hingga yang Jonghyun bisa lakukan adalah tersenyum canggung.

“Kau tahu apa arti dari bunga matahari?”

Jonghyun menggeleng. Kemudian terlihat senyuman di wajah nenek itu. “Artinya adalah ketegaran dalam kesendirian, kau tidak terlihat seperti itu” Lanjut nenek itu.

Jonghyun memiringkan kepalanya dan mengerutkan kening. “Begitu?”

“Kau sepertinya terkejut, apa kau berniat memberikannya pada orang lain? Beritahu saja aku, aku akan memberikanmu bunga itu dengan gratis” kata nenek itu sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

“Hmm, ya, dia kekasihku, dia pernah bilang padaku jika dia menyukai bunga matahari”

“Kau tahu, kekasihmu mungkin seperti bunga matahari”

 Yoona membiarkan Jaebum bersandar pada bahunya, sekalipun Jaebum ngiler, Yoona tidak akan peduli. Dia sangat merindukan adiknya dan sangat menyayanginya. Satu-satunya laki-laki yang sangat dicintainya sebelum Jonghyun masuk ke dalam hidupnya.

Mengingat hari itu, rasanya Yoona ingin terbang ke langit. Hari itu adalah hari pertama dia bekerja, dan laki-laki itu memasang senyum sambil memesan segelas americano. Lesung pipit yang manis. Dan nada bicaranya yang halus. Yoona tidak pernah melupakan itu.

Cinta pada pandangan pertama? Jelas bukan. Yoona hanya kagum saja awalnya, namun melihatnya dari hari ke hari. Menumbuhkan perasaan asing dalam benaknya.  Dia sadar bahwa dia jatuh cinta pada laki-laki itu. Di samping itu dia juga mengerti, tidak mungkin bagi gadis sepertinya bisa bersama dengan laki-laki sepertinya. Beharap pun jangan.

Namun nasib berkata lain, Tuhan menyayanginya dan mempertemukannya lagi dalam situasi canggung yang sangat berbeda. Bertemu dengannya lagi adalah hal yang paling membuat Yoona khawatir. Terutama semenjak dia di pecat. Yoona ingin menyalahkannya, namun secara teknis itu salah Yoona sendiri. Sekeras apapun Yoona mencoba menghindar dari perasaannya, perasaan itu tetap muncul dan menariknya kembali untuk mencintainya.

Hanya saja itu semua tidak masuk akal. Seharusnya Yoona merasakan letupan di dadanya, tiap kali ia memikirkan laki-laki itu, tiap kali laki-laki itu tersenyum padanya. Tapi anehnya perasaan itu seperti baru saja datang. Seakan-akan mengganti tempat dimana perasaannya yang dulu bersarang. Lalu perasaannya yang dulu seperti menolak dan memunculkan keraguan dalam dadanya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Yuri.

Yoona menggeleng. Sekalipun ia melamun, ia tidak pergi terlalu jauh. “Gwaenchana” balasnya.

“Wajahmu pucat, kau seperti baru saja melihat hantu” kata Yuri.

“Kau selalu tahu eonni  aku takut pada apa” kata Yoona mengingatkan.

Yuri tersenyum geli. Dia ingat ketika mereka pulang dari sekolah. Saat itu Yuri kelas 4 SD dan Yoona kelas 3. Mereka masih seru bermain di bukit dekat kampung mereka. Tiba-tiba ada orang gila berlari mengejar mereka. Semenjak itu ia selalu takut bertemu dengan orang gila. Yuri malah tambah tertawa ketika mengingat ekspresi Yoona yang begitu konyol,saat itu Yoona sampai menangis saking takutnya. Tapi, sesampainya di rumah. Yoona malah di pukul dengan sapu oleh Ibunya. Yuri tidak mengerti kenapa Ibunya melakukan hal itu. Seketika senyum di wajah Yuri menghilang. Dia rasa ketakutan Yoona tidak sesederhana itu.

“Kau mau makan? Ini belum jam makan malam sih, tapi ini sudah gelap” Ajak Yuri.

Makan malam di apartemenku

Mendadak Yoona ingat. “Eonni, putar balik, kita ke pergi ke Mariott, Ppalli” Kata Yoona sambil mendorong-dorong Yuri.

Ya!!! Aku menyetir, ada apa?”

“Aku ada janji,” jawab Yoona.

“Ah, majikanmu itu? we, we? Kau kemarin pergi kencan dengannya, dan sekarang dia mengajakmu makan malam, begitu?

Geureohke anniye-yo, dia mengajak kita makan malam” Yoona mengatakan dengan tekanan pada kata kita.

“Kita?”

Eonni, Jebal! Berhentilah menggodaku soal dia,” Yuri meliriknya dan tersenyum jahil “Atau Jaebum akan tahu” kata Yoona sambil berbisik.

Yuri mengangguk-angguk. Dia memutar mobilnya agak jauh dan bergegas menuju apartemen majikan Yoona.

Jonghyun bertugas memasak di dapur. Sedangkan pamannya bertanggung jawab dengan dekorasi.

Paman Seokjin sudah berada di apartemen Jonghyun sebelum dia datang. Pamannya itu tidak melakukan apa-apa selain menonton TV dan hal itu membuat Jonghyun sedikit gondokan. Tapi karena hari ini semuanya harus sempurna. Ia menahan amarahnya dan menyapu bersih semua kotoran di apartemennya dengan sedikit bantuan dari Pamannya.

Setelah itu ia memasak pancake bogahari seperti yang kemarin ia janjikan pada Yoona. Dia cukup mahir dalam memasak jadi tidak perlu khawatir. Yang sekarang dikhawatirkannya adalah, Apakah Yoona datang atau tidak. Karena dia tidak menjawab telepon ataupun membalasan pesan darinya semenjak kemarin. Apa Yoona membencinya karena mencuri ciuman darinya?

“Tidak mungkin, dia menyukainya” kata Jonghyun sambil tersenyum.

“Jong, mau kau apakan bunga mataharinya?” Kata Paman Seokjin sambil berjalan mendekatinya.

“Taruh saja di kamarku” Jawabnya.

“Oh ya, kira-kira jam berapa dia sampai? Aku tidak sabar melihat orang yang berhasil mencuri hatimu”

Molla, mungkin sedikit terlambat, adiknya di rumah sakit, dia juga masih mahasiswi, jadi kurasa dia sangat sangat sibuk”

Ting! Tong!

Jonghyun menghentikan kegiatan memasaknya dan menoleh ke arah Paman Seokjin. “Aku akan membukanya, berikan bunganya padaku” kata Jonghyun.

Paman Seokjin melihatnya bingung. Tanpa basa-basi Jonghyun langsung mengambil sebuket bunga matahari itu dan menghambur ke arah pintu apartemen. Dia memasang senyum lebar, berharap bahwa itu Yoona, sendirian, dengan wajah yang lelah. Sehingga dia bisa memeluknya dan menyambutnya dengan hangat lalu memberikan bunga itu.

“Norak!” kata Paman Seokjin.

Jonghyun memutar bola matanya, menghiraukan ejekan pamannya itu. Ia berdehem, membetulkan kerah kemejanya dan membuka pintunya.

Konyol,

Bodoh,

Terkejut adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan ekspresi Jonghyun. Ia menjatuhkan bunganya dan hanya bisa membuka mulutnya selebar huruf o.

I’m Back!

Terimakasih sudah sabar menanti, semoga kalian dapat pahala

Thank you for all your support, Maaf udah hiatus dengan alasan tidak bertanggung jawab. dan lagi, update-nya dikit,, sorry,sorry.

Saya sangat kecewa dengan diri saya karena belum bisa merealisasikan dunia Minhyun, susah dia itu. Saya belum paham karakter dia sepenuhnya selain dia tertutup dan fake.

maaf kalo ada typo dan kesalahan kata, kalo ada waktu bakal di edit

Terimakasih karena sudah membaca. dan jika tidak keberatan maka saya ingin anda memberi support. Tolong kritik dan saran, tapi tolong jangan nge-bash, itu tidak baik

Btw, ada beberapa kalimat di part sebelumnya yang saya ganti, biar lebih pas dan mantap : )

gue suka banget sama emoticon ini (^0^)9

Ahnmr

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

19 thoughts on “Hello Mr. Architect #Part 6”

  1. iya…..beneran lama postingnya,but it’s ok yang penting ceritanya tetep lanjut sampai selesai. Semangat terus buat nulis and semoga selalu sehat….thank’s

  2. akhr’y part 6 d post jG 🙂 …!!? bgus n kRen ko thor…! kiRa2 s’pa ya yG dTang k apartMent jOnghyun aaaahhh pNzarn…! Next part jnGn Lma2 😉

  3. eiii…. comeback jga nih dee.. :p
    keren.keren…
    kka bleh tbak gga? Psti yang dteng noonanya Jonghyun oppa sama kembarannya ya? Ato cma kmbarannya aja? hihihi.. ditunggu klnjuttannya yya. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s