Hello Mr. Architect #Part 7

hello mr architect 4

Author: Ahnmr||Cast: Im Yoona (SNSD), Lee Jonghyun (CNBLUE), (OC) || Support Cast: Jang Wooyoung (2PM), Seo Juhyun/Seohyun (SNSD), Kim Taeyeon (SNSD), Kwon Yuri (SNSD), Lee Juyeon (Afterschool)|| Genre: Mainstream ||Rating: Teen||Lenght: Chapter (Insyaallah)||Disclaimer: All cast belong to GOD, i do not own anything, except the ideas.

iklan | #part 1 | #part 2 | #part 3 | #part4 | #part5 | #part6

–ahnmr copyright–

Wanita itu berambut coklat madu, dia terlihat baru saja berumur dua puluh, namun kenyataannya tahun ini ia sudah menginjak 29, Ia memakai pakaian yang mirip piama. Dia bahkan memakai topi baseball yang sama sekali tidak cocok dengan pakaiannya yang mirip piama. Kurang lebih, penampilannya sangat mengganggu. Tapi, dia sangat percaya diri. Alasannya adalah bahwa dia cantik, memakai apapun akan terlihat cantik.

Ia meniup poninya dan berkacak pinggang di depan bangunan mewah itu.

“Mariott Executive Apartments Hotel,” Katanya dengan logat Busan. “Kaya benar dia” lanjutnya sambil tersenyum percaya diri.

“Tunggu, Ssaeng, Noona disini”

Tidak banyak perbedaan, semuanya masih sama. Warna rambutnya, sorot matanya yang hangat namun penuh misteri. Gaya berpakaiannya yang nggak-banget dan wajah tanpa make up yang masih terlihat segar.

Siapa lagi jika bukan kakak perempuan Jonghyun. Kakak yang selama empat tahun sengaja diacuhkannya. Tiba- tiba datang ke apartemennya dengan seyuman lebar, seakan-akan melupakan fakta bahwa adiknya yang satu itu telah berlaku buruk padanya.

Annyeong!” Sapanya.

Noo, Noona?” tanya Jonghyun.

Plak!

Wanita itu menampar Jonghyun dan tersenyum puas. “Kau benar! Ini Kakakmu Lee Juyeon, kau tidak memintaku masuk?”

Jonghyun masih mengelus-elus pipinya yang kesakitan. Ia barusan pulih kekagetannya dan sekarang terkejut lagi karena tamparan Kakaknya yang sangat menyakitkan.

Tanpa permisi Juyeon merangsek masuk. Setelah melepas sepatunya, ia menghempaskan dirinya ke sofa sambil melepas topi baseball-nya dan membuangnya ke samping sofa. Dia tidak menyadari jika sedari tadi Paman Seokjin juga memperhatikan apa yang terjadi. Juyeon menaikkan kakinya ke atas meja dan melipat tangannya di belakang kepala sambil menyandarkan kepalanya disana.

Noona, bagaimana kau tahu…”

“Temanmu” kata Juyeon seakan-akan mengetahui apa yang akan ditanyakan Jonghyun.

Wanita itu mengambil remote TV dan menyalakannya. Ia mengganti channelnya ke radio. Juyeon mendesah dan memejamkan matanya. Ia tersenyum sambil menggerakkan kepalanya mengikuti alunan lagu.

Noona, kenapa kau apartemenku?” kata Jonghyun sambil mengambil sebuket bunga itu.

Setelah itu Jonghyun meletakkannya di meja makan kecil di dekat pantry. Juyeon terdengar tidak ingin menjawab. Dan hari ini ia merasa sangat konyol. Kenapa juga Kakaknya harus datang di saat seperti ini.

Ya! Kau tidak menyuguhiku minum?”

Terkadang Jonghyun tidak ingin bersyukur mempunyai kakak yang terlalu frontal seperti Juyeon. Ia suka dirinya cool, tapi bukan berarti orang lain juga harus begitu dan sayangnya semua saudaranya mempunyai bawaan sikap cool yang terkadang dibarengi dengan sifat terlalu jujur.

“Apa kau tidak lihat? Kami sedang sibuk disini” Ujar Jonghyun kesal.

Juyeon bangun dari kursi dan berjalan ke dapur. Ia berkacak pinggang sambil mangut-mangut. Pandangannya terhenti saat melihat Paman Seokjin tengah menyiapkan makanan di atas sebuah piring besar.

“Oh,” Pekik Juyeon kemudian ia menoleh ke arah Jonghyun. “Kau punya pelayan? Seolma!”

Jonghyun mengerutkan keningnya dan memandang kakaknya tidak percaya. “Noona, kau benar-benar tidak mengenalnya?”

Juyeon menggeleng dan mendekati Paman Seokjin yang tengah menahan marah karena dibilang pelayan oleh keponakannya sendiri. Setelah itu Juyeon melihat pancake bogahari itu dan menjilat bibirnya.

“Apa itu untukku?” tanyanya pada Jonghyun sambil menunjuk pancake bogahari.

“Tidak! Jangan menyentuhnya!” kata Jonghyun galak. Kemudian ia merapikan mejanya dan menyingkirkan sebuket bunga matahari itu agak jauh. “Oh ya, Noona, Paman bukan pelayanku, dia datang untuk membantuku” Ujar Jonghyun.

“P..Paman?,” Ucap Juyeon terbata. Ia melihat ke arah Paman Seokjin yang berkacamata, dia tersenyum canggung dan membungkuk. “Annyeong-haseyo, Paman masih ingat denganku bukan? Juyeon yang manis” Kata Juyeon dengan nada yang dibuat-buat.

“Haruskah aku mengingatmu? Kau sendiri melupakanku”Kata Paman Seokjin kesal.

“Paman!,” Juyeon langsung memeluk pamannya. “Mianhae, aku tidak melupakan Paman, hanya saja aku banyak pikiran akhir-akhir ini”

Paman Seokjin mendorong Juyeon dan pura-pura marah. Setelah itu mereka melakukan tos spesial mereka dan tertawa terbahak-bahak. Jonghyun menata piring dan sajian makanan di meja dengan rapi, ia menggeleng dan tersenyum.

Noona, kau memilih datang ke sini karena tahu aku tidak mungkin pulang?” tanya Jonghyun.

“Kapan aku menyuruhmu pulang?” Tanya Juyeon.

“Mm, beberapa hari yang lalu” Jawab Jonghyun sambil memiringkan kepalanya.

“Oh, Aku merindukanmu saja, jadi aku mengirimnya seperti itu, lagipula kau tidak berguna banyak jika pulang ke Jepang, kerjaanmu hanya tidur” Jawab Juyeon. Ia memperhatikan benar ekspresi Jonghyun. Dan ketika Jonghyun sudah membuang muka ia segera bernafas lega. Takut-takut Jonghyun menyadarinya berbohong.

Sialan, batin Jonghyun sambil tersenyum tipis. Tak lama terdengar bunyi bel dari pintu. Jonghyun berjalan santai ke arah pintu sedikit berharap jika itu Yoona.

Jonghyun membuka pintu apartemennya dan melihat tiga wajah orang kecapekan campur kelaparan. Jonghyun tersenyum ke arah mereka dan memutar tangannya di depan dada sambil membungkuk.

“Selamat datang” sambutnya. Kemudian dia menegakkan tubuhnya dan menatap Yoona penuh kehangatan.

Annyeong” sapa Yoona.

Annyeong” sapa Yuri diikuti senyum simpul.

Jaebum melipat tangannya di depan dada tanpa mengatakan sepatah katapun. Wajahnya penuh rasa kesal, atau lebih tepatnya cemburu. Dia menyadari bahwa hubungan kakaknya dengan laki-laki sok manis di depannya sudah lebih dari seorang teman.

“Jaebum-ah” Kata Yoona pada Jaebum pelan. Ia melemparkan tatapan aku-akan-membunuhmu-jika-kau-tak-menyapanya yang sukses membuat Jaebum kesal.

Annyeong” Sapaan Jaebum benar-benar tidak terlihat tulus.

Jonghyun mengerti perasaan adik Yoona itu. Ia juga pernah merasakannya ketika Juyeon mempunyai pacar. Mengingat hal itu, dia tersenyum sendiri. Itu momen paling berharga yang dimilikinya, kebersamaannya bersama Minhyun. Sekali dalam hidupnya dimana dia bekerja sama dengan Minhyun untuk menyingkirkan pacar Kakaknya yang sangat menyebalkan.

“Ayo masuk!” ajak Jonghyun.

Jaebum masuk duluan dengan tidak sopan, diikuti Yuri dan terakhir Yoona. Jonghyun tersenyum ke arahnya dan menyenggol bahu Yoona. Yoona tersenyum. Senyuman paling manis yang pernah dilihat Jonghyun darinya.

“Apartemenmu jauh lebih bersih” kata Yoona.

“Tentu saja” Jonghyun membanggakan dirinya.

Noona” Jaebum memanggil Yoona. Bukannya melihat Yoona, Jaebum malah melemparkan pandangan mematikan pada Jonghyun. Jonghyun hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Tidak baik menghindari kontak mata, hal itu akan membuatnya terkesan pengecut di mata adik Yoona.

Yoona mengangguk dan melepas sepatunya. Kemudian ia mengikuti Jaebum dan berjalan di sebelahnya. Jonghyun menegangkan rahangnya dan mengutuk-ngutuk Jaebum di dalam hati.

Ia mendengar Pamannya tengah menyambut ketiga orang itu. Jonghyun yakin Juyeon tidak mengerti situasi yang tengah terjadi, karena dia hanya berdiri seperti sales dan tersenyum ke arah mereka.

Jonghyun berjalan ke arah mereka dan cepat-cepat menarik kursi Yoona ke belakang dan menyuruhnya duduk dengan mengedikkan kepalanya, namun justru Jaebum yang duduk di kursi itu. Yoona yang mengetahui hal itu hanya menggeleng dan tertawa ringan.

“Maafkan kami mejanya tidak begitu besar” kata Paman Seokjin.

Kwenchana, maafkan kami karena telah merepotkan” Sahut Yuri.

Anni,anni silahkan duduk” kata Jonghyun sambil menarik kursi Yuri dan menyuruhnya duduk.

Yoona mendengus, dia sedikit cemburu. Tapi manusia macam apa dia jika cemburu dengan sahabat kecilnya yang sudah dia anggap seperti kakak sendiri. Lagipula, Jonghyun pasti hanya berusaha bersikap sopan.

Juyeon membantu Paman Seokjin menyiapkan makanannya di atas meja. Baru setelah itu, mereka bisa memulai makan malamnya. Jonghyun duduk berhadapan dengan Yoona.

“Ah, aku ingin memperkenalkan kalian dengan keluargaku, pria itu,” kata Jonghyun sambil menunjuk pamannya.

Ya! Apa maksudmu memanggilku pria itu, aku pamanmu” semprot paman Seokjin.

Jonghyun terkekeh, “Seperti yang kalian lihat, dia pamanku, Namanya Lee Seokjin” Kemudian dia melirik Juyeon yang sedang bermain sendok di sebelahnya. “Dan yang seperti kalian lihat. Dia bukan adikku, dia Kakakku, namanya Lee Juyeon, dia baru saja datang,” tanpa diundang. Tambah Jonghyun dalam hati.

“Paman, dia Im Yoona yang kubicarakan, yang di sebelahnya adalah adiknya, namanya Im Jaebum, dan yang disebelahnya, adalah kakaknya, Yuri” kata Jonghyun sok tahu.

Yoona tersenyum, dengan sopan ia memotong perkataan Jonghyun. Dia tidak percaya Jonghyun masih menganggap Yuri adalah kakaknya, mereka tidak mirip. Pikir Yoona.

“Yuri eonni adalah sahabatku, tapi aku menganggapnya seperti kakak sendiri” Yoona mengoreksi.

Ketika mengatakan itu, Jonghyun merasa gagal. Kekasih macam apa dia? Rutuk Jonghyun dalam hati.

“Aku tidak mengerti, jadi kau ini adalah…” Juyeon menaikkan alis kirinya dan melihat Yoona skeptis.

“,,ye?” Yoona ingin menjawab, namun ada Jaebum. Jika Jaebum tahu, Yoona takut adiknya itu akan membencinya. Dia melirik ke arah Yuri yang sedari tersenyum ke arahnya, kemudian dia melirik ke arah Jaebum. Anak itu hanya diam sambil merengut. Ekspresinya mengatakan bahwa dia ingin segera pulang.

“Gadis itu, Naye yeoja-chingu, we?” tanya Jonghyun pada Juyeon.

Wajah Jaebum terlihat semakin keruh. Sedangkan Yoona terlihat panik di tempat duduknya. Ia takut Jaebum membencinya setelah ini.

Yeppeoda, Selamat ya!” kata Juyeon sumringah. Dia mengulurkan tangannya pada Yoona. Hal itu membuat Yoona bingung. Haruskah Yoona menjabatnya, atau tidak?

Ia melirik ke arah Jonghyun. Laki-laki itu memberinya isyarat untuk menjabatnya. Akhirnya Yoona menjabatnya dengan ragu dan tersenyum canggung.

Tiba-tiba Jaebum bangun dari kursinya dan pergi keluar dari apartemen Jonghyun. Jonghyun mengernyitkan keningnya. Yuri dan Yoona berdiri namun Jonghyun segera menahannya.

“Aku saja, silahkan nikmati makan malamnya” kata Jonghyun sambil bangkit dari kursinya.

Dia keluar dari apartemen dan pergi melihat ke lift. Dia melihat anak itu baru saja masuk ke lift. Ia berlari untuk mengejarnya, namun pintu lift itu keburu tertutup. Jonghyun mendesah kesal dan menekan tombol turun. Tiba-tiba lift di sebelahnya terbuka dan Jonghyun segera menaikinya.

Dengan santai ia bersiul dan memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Dia tahu rasa kesal anak itu hanya karena dia takut di tinggal oleh kakaknya. Denting halus menandakan bahwa Jonghyun sudah sampai di lobby. Dia melihat anak itu pergi keluar dari gedung. Jonghyun berjalan santai di belakangnya. Dia tidak ingin terburu-buru menghampiri Jaebum, atau dia bisa saja di pukul habis-habisan. Watak premannya tidak beda jauh dari Yoona.

Seperti yang ia kira, Jaebum tidak pergi jauh dari gedung itu. Ia melihatnya tengah berdiri di dekat jalan raya dan melihat kendaraan berlalu lalang.

Ya! Apa yang kau lakukan di situ?” kata Jonghyun.

Jaebum menoleh sekilas dan langsung membuang pandangannya lagi. Jonghyun berjalan mendekatinya dan berdiri sekitar satu meter dari Jaebum.

“Kau mau makan sesuatu, ini sudah gelap, ada warung kaki lima di dekat di sini” Jonghyun menawari.

Jaebum memberanikan dirinya menghadapi pria sok cool itu. “Aku tidak mau, lupakan!” Ujar Jaebum ketus.

Jonghyun tersenyum tipis dan berdiri di sebelahnya. “Ayolah, aku tahu kau lapar”

Jaebum berjalan lagi menjauhi Jonghyun. Sedangkan Jonghyun masih bersikeras mengikuti anak keras kepala itu. “Jika kau berjalan terus kita akan sampai di warung kaki lima itu” kata Jonghyun.

“Jangan ikuti aku!”

“Aku sih tidak mau, namun kakiku ingin” sahut Jonghyun.

Keras kepala dan keras kepala sama-sama tidak akan menemui titik terang. Salah satu harus ada yang mengalah, akhirnya karena Jaebum sangat sangat kesal ia berhenti dan berbalik untuk melihat pria menyebalkan yang berani merebut Yoona Noona darinya.

“Katakan saja yang ingin kau katakan!” kata Jaebum dengan amarah yang tertahan.

“Hai! Namaku Lee Jonghyun, dan aku ingin bertanya padamu langsung, apakah aku boleh mengencani kakakmu?” kata Jonghyun dengan wajah serius

Jaebum sedikit terkejut, dia pikir Jonghyun akan berbasa-basi lagi. Ternyata tidak, ekspresi wajahnya tidak celelekan seperti tadi. Sekarang dia sadar bahwa laki-laki yang ada di depannya memang benar-benar berani.

“Jangan sekalipun bermimpi!” kata Jaebum ketus.

“Aku pernah mengalami apa yang kau rasakan, kau mungkin tidak akan menerimaku bahkan setelah bertahun-tahun, tapi aku hanya ingin kau mengerti bahwa sikapmu membuat Yoona khawatir, dia sangat menyayangimu, dia bahkan pergi malam-malam hanya untuk melihat keadaanmu saat kau sakit. kau tidak ingin membuatnya bahagia?”

Jaebum terdiam seharusnya dia bisa bersikap lebih bijaksana. Namun dia tidak suka jika kakaknya berkencan dengan orang sepertinya. Apalagi orang itu adalah orang yang derajatnya jauh berbeda dengannya.

“Kau hanya sok tahu” ujar Jaebum dengan nada yang lebih lunak.

“Haruskah kita mengenal lebih jauh? Kkaja, kau ingin makan daging panggang atau apa?” kata Jonghyun sambil tersenyum lebar.

“Aku tidak mau, aku tidak lapar!”

Ternyata perutnya memberontak. Jonghyun mendengar suara gemuruh yang berasal dari perut Jaebum. Dejavu, pikir Jaebum. Dia jadi ingat saat Yoona menolak makanan darinya.

“Sayangnya, perutmu tidak bisa berbohong”

Juyeon terus melihat ke arah jam tangannya sambil menggigit bibirnya. Sedangkan Paman Seokjin dari tadi bingung ingin membangun pembicaraan macam apa, dia cukup khawatir dengan Jonghyun dan Adik Yoona. Mereka terlihat seperti air dan api, tidak bisa akur.

“Oh, ini sudah setengah jam dan mereka belum kembali, aku khawatir” kata Juyeon dengan nada yang lebih terdengar seperti aku lapar.

“Aku akan pergi mencari mereka” Kata Yoona sambil berdiri dari kursi.

Selesai memakai sepatunya ia segera membuka pintunya namun tiba-tiba pintunya terbuka, Jonghyun dan Jaebum sedang tertawa-tawa.

Hyung, lihatlah dia ada di depan kita” kata Jaebum sambil menertawakan Yoona.

Sepertinya tidak hanya Yoona yang terkejut, namun semua orang yang ada di dalam apartemen Jonghyun.

Tisu, bodoh” Kata Jonghyun sambil menirukan nada bicara Yoona.

Yoona mengernyitkan dahi. Perasaannya campur aduk, antara terkejut, senang, bingung, dan konyol. Ia mempunyai memori yang kuat jadi ia tahu bahwa dua orang laki-laki terpenting di depannya sedang menertawakan saat dia muntah karena habis naik lift. Jonghyun pasti bercerita pada Jaebum.

Noona mau pergi kemana?” tanya Jaebum.

“Kau mau pergi kemana?” Jonghyun ganti bertanya.

“Dia pergi mencari kalian berdua, namun sepertinya sudah ketemu” Sahut Juyeon yang berdiri di belakang Yoona.

“Masuk, masuk, kami baru saja baikan, iyakan?” kata Jonghyun pada Jaebum.

Jaebum tersenyum san merangkul Jonghyun. “Tentu saja”

Akhirnya mereka masuk ke dalam apartemen dan berbicara agak banyak. Yoona terlihat lebih sumringah dan suasananya jadi lebih hangat. Walaupun Juyeon banyak bicara suasananya tidak secanggung sebelumnya. Jaebum makan dengan lahap dan Jonghyun mencoba membangun pembicaraan ringan atau lelucon. Paman Seokjin ikut nimbrung. Sedangkan Yuri menyahut beberapa perkataan Juyeon yang terdengar kontroversial. Yoona lebih banyak diam sambil menikmati suasana hangat yang tidak pernah dia rasakan di rumah, sesekali dia menjawab beberapa pertanyaan Juyeon yang asal ceplos.

Setelah makan malam selesai dan membersihkan piring serta semua peralatan makan. Yuri dan Jaebum pergi ke lift. Jaebum tidak mau naik tangga karena dia lelah. Paman Seokjin dan Juyeon menonton pertandingan baseball di TV. Jonghyun dan Yoona masih berbicara di pintu apartemen.

“Terimakasih, maaf..”

“Jangan minta maaf, lagipula seharusnya aku yang berterimakasih karena kau sudah datang”

“Baiklah, aku pergi” Kata Yoona dengan nada preman khasnya. Baru beberapa langkah dia berjalan Jonghyun tiba-tiba menahannya dengan pertanyaan.

“Naik tangga?” tanya Jonghyun.

“Tentu saja, aku tidak bisa naik lift, kau tahu itu”

“Aku akan menemanimu” kata Jonghyun sambil menutup pintu apartemennya dan berlari menyusul Yoona.

“Baiklah” jawab Yoona pendek.

Mereka pergi ke arah tangga darurat dan berjalan bersebelahan. Berkali-kali tangan mereka berbenturan. Dan lagi-lagi mereka bersikap canggung.

“Ini mengganggu” kata Jonghyun sambil meraih tangan kanan Yoona.

Yoona melepas genggaman tangan Jonghyun dan menatapnya sadis. “Siapa bilang boleh memegang tanganku?”

“Aku” kata Jonghyun.

“Cih!” Yoona bersungut-sungut dalam hati dan menjaga jarak dari Jonghyun.

Ya! Kau akan terus menghindariku begini?” Kata Jonghyun kesal.

Ne” jawab Yoona pendek.

“Baiklah, aku akan menurutimu saja” kata Jonghyun seraya melipat tangannya di depan dada.

Yoona melihat air muka Jonghyun yang berlipat-lipat. Yoona menghela nafas dan berjalan mendahului Jonghyun.

“Yoona-ya!” panggil Jonghyun.

“Hmm” sahutnya pendek.

Jonghyun berjalan cepat dan menyusul Yoona. Kemudian dia meraih tangan Yoona dan menggenggamnya erat. “Jangan!” Kata Jonghyun saat Yoona mencoba memberontak.

“Tanganku mudah berkeringat” kata Yoona memperingatkan.

“Biar saja” Ujar Jonghyun.

“Maaf, aku tidak bisa romantis” kata Yoona sambil menunduk.

Gwaenchana, untung saja aku bisa, jadi kita saling melengkapi” Jonghyun tersenyum dan mengkibas-kibaskan tangan Yoona dan tangannya.

“Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa baikan dengan Jaebum? Dia terlihat sangat marah tadi” kata Yoona.

Jonghyun tersenyum sambil membuang muka. “Kau bisa tanyakan pada adikmu yang lucu itu”

“Sayangnya, perutmu tidak bisa berbohong”

Jaebum tersenyum namun ekspresinya berubah lagi jadi eksprsi marah.

“Hyung, aku mencoba bijaksana, aku enam belas tahun dan aku tahu apa yang kulakukan, ini semua semata-mata hanya demi kebahagiaan Noona” kata Jaebum

“Marhae!” kata Jonghyun.

“Kita hanya pura-pura akrab di depan Noona, di luar itu kita orang asing, bagaimana?”

“Aku sudah melakukan hal seperti itu selama bertahun-tahun, kau bisa bilang aku adalah pro” Jonghyun menyombong.

“Tapi ada syaratnya,” Kata Jaebum.

Jonghyun mengedikkan dagunya dan Jaebum tersenyum licik.

“Baiklah, jika kau tidak mau bercerita padaku, akhirnya aku juga akan tahu” Ujar Yoona.

Tidak mungkin, Jonghyun tersenyum sambil menggeleng.

Tiba-tiba Jonghyun ingat jika dia harus memberikan bunga matahari yang dia beli tadi siang. Namun mereka sudah sampai di lantai lima, terlalu melelahkan jika harus kembali.

“Mm, aku besok akan menjemputmu ya, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat”

Yoona menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Jonghyun. “Kemana?”

“Tempat yang jarang kau datangi, sepertinya”

Jonghyun membayangkan tempat itu dan gaya Yoona. Dia menggeleng, Yoona sama sekali tidak pernah ke tempat seperti itu.

Paman Seokjin melihat ada gerak gerik Juyeon yang aneh sejak tadi. Sejak dulu Paman Seokjin menyadari jika Juyeon memang orang yang tidak bisa diam. Namun dia terlihat seperti sedang mencari sesuatu diantara buku-buku arsitektur Jonghyun.

“Ketemu” kata Juyeon.

Paman Seokjin berbalik untuk melihat Juyeon. Dia tengah memegang buku bersampul hitam, Paman Seokjin kenal itu buku siapa, buku itu sama sekali bukan gaya Jonghyun.

“Kau mencari buku Minhyun?” tanya Paman Seokjin.

“Mm,” sahutnya sambil mengangguk bersemangat. “Aku hanya ingin mencari bukti jika mereka masih peduli satu sama lain,” Kemudian Juyeon melihat Paman Seokjin dengan senyum percaya diri.

“Aku ingin membuat mereka akur, Paman mau membantuku?”

sebenernya aku nge-post ini di hari yang sama dengan yang part 6, tapi aku jadwal biar keren gitu… 🙂

Disini saya nggak ngerti sama Yoona. dia itu masih ragu sama dirinya sendiri, that’s why dia menjaga jarak dari Jonghyun, mungkin.

Kira-kira rencana Juyeon berhasil atau nggak, saya belum tahu. dan kayaknya akan ada kesalahpahaman di part depan

maaf kalo ada typo dan kesalahan kata, kalo ada waktu bakal di edit

Terimakasih karena sudah membaca. dan jika tidak keberatan maka saya ingin anda memberi support. Tolong kritik dan saran, tapi tolong jangan nge-bash, itu tidak baik.

Ahnmr

(astaghfirullah, posternya sangat-sangat nggak nyambung -_-)

HIMRASAKI!!

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

26 thoughts on “Hello Mr. Architect #Part 7”

  1. Waduh.. Udah berapa chapter ketinggalan nih-_-a
    Jonghyun pede.. “Gwaenchana, untung saja aku bisa, jadi kita saling melengkapi” itu bikin aku ngakak…. (?)
    Gimana ya usaha Juyeon? Berhasil nggak? Kalo liat Jonghyun mungkin bisa. Tapi gimana sama Minhyun?
    Jaebum-Jonghyun juga nih..
    Intinya aku penasaran.. Wkwkwk XD
    Makin seru! Ditunggu part 8nya Uli! Fighting ya!’O’)9

      1. Yang Girls ya Li? Udah baca coming soonnya.-. Tapi masih ngeblank sama cast castnya /kecuali JongYoon/ .-.
        Sip, bakalan ditunggu kok.. Wkwk semangat ya!’-‘)9

  2. Author niiiiiiimmm, I really like your story. Cepet update yaaaaaa. Aku hampir tiap hari buka page ini nungguin update T____T

  3. dikira bener jonghyun bs melunakan hati jaebum ternyata pura2 aaaaaah

    suka deh ma jonghyun yg jd perhatian. cepetlah yoona jg blg cinta dan menunggu moment2 romantis jongyoon nih

    part berikutnya konflik? woaaaa smoga ga ngebuat hubungan yoona jonghyun renggang. penasaran akut. next chapter ditunggu ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s