Couldn’t Even Start

Could Not Even Start

Author: Ahnmr || Cast: Jang Wooyoung (2PM), Kim Taeyeon (SNSD)|| Genre: Romance, School Life (Summer) || Rating : 15 ke atas||Lenght: Two Shoot || Disclaimer : Terinspirasi dari sebuah episode dalam hidup author (apaan coba?), dramanya Yoon Shi Yoon–Roti, Cinta, dan Mimpi, sama lagunya Jang Wooyoung, terus makasih sama Dewik, udah ngasih ide 😀

(Jangan pedulikan posternya, ceritanya nggak nyambung sama poster, ciyus #pasang muka imut)

–ahnmr copyright–

Wooyoung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia lelah setelah sepagian membantu Ayahnya mengangkat barang-barang ke atas mobil. Rencananya barang-barang itu akan dikirimkan ke lembaga sosial. Ia menghela nafas panjang dan menghembuskannya keras, menyeka keringatnya dan langsung merentangkan tubuhnya agar tidak kepanasan. Ia meraih remote AC dan menurunkan suhunya, siang ini terlalu panas untuk sekedar pergi keluar. Dia hanya ingin di rumah, membaca buku ditemani segelas es limun.

Hah,es limun. Wooyoung menjilat bibirnya ketika membayangkan embun yang tercipta dipermukaan gelas. kemudian embun itu menetes hingga jatuh ke atas meja. “Es limun,,” Erangnya.

Eomma!” Wooyoung memanggil Ibunya seraya bangun dari kasurnya. Ia mengacak-acak rambutnya dan memakai sandal ruangan. Ia baru saja berdiri ketika ponselnya bergetar di atas meja belajar. Wooyoung mengalihkan pandangannya pada ponsel itu, lalu menelengkan kepalanya ketika melihat nomor tidak dikenal menelponnya.

Tidak biasanya Wooyoung mendapat telepon, apalagi dari nomor tidak dikenal. Dia tersenyum kecil dan mengambil ponselnya, lalu mengangkat telepon itu. “Yoboseyo?”

YA! WOOYOUNG-SSI!!!” Teriak seseorang dari sisi lain telepon.

Sontak Wooyoung menjauhkan ponsel itu dari telinganya, ia mengelus-elus telinganya, kemudian berhati-hati mendekatkan ponselnya ke telinga. “Nugu-seyo” Katanya kalem.

“Ini Taeyeon!!! Dimana kau, HA?!!”

Taeyeon adalah teman sekelasnya yang terkenal otoriter dan suka bersikap seenaknya, tapi dia sangat atraktif bagi anak laki-laki kebanyakan, bahkan Wooyoung sendiri. Tapi dia lebih memilih untuk diam dan –terlihat– tidak mempedulikan apapun yang berkaitan dengan gadis itu. Lagipula bodoh jika ia berharap Taeyeon akan melihatnya, dia adalah satu dari sekian laki-laki yang menagih simpati pada Taeyeon. “Di rumah, kenapa?”

Ya! Kau lupa? Hari ini kita akan mengerjakan tugas kelompok, yang lain sudah berada disini semenjak,,,” Taeyeon menghentikan kalimatnya, sedangkan Wooyoung masih mendengarkan “dua jam yang lalu”

Wooyoung mengerutkan kening dan menggaruk tengkuknya. “Kau tidak pernah bilang akan mengerjakan tugas kelompok hari ini” Wooyoung membela diri.

“Beraninya kau bilang begitu!!!”

Sebenarnya Wooyoung ingat betul kapan dia akan mengerjakan tugas kelompok. Dia hanya tidak ingin kalah berdebat dengan gadis berisik itu. Lagipula dia tidak suka kalah debat. Dan lagi, dia memang tidak ingin keluar rumah, apalagi pergi ke rumah gadis itu. Dia tidak ingin menyiksa dirinya dengan panas-panasan di luar rumah “Mm, memangnya ada siapa saja disana?”

“Kau bahkan lupa siapa saja yang ada di kelompok kita?” Teriak Taeyeon lagi, Wooyoung menjauhkan ponselnya lagi dan menyesal telah bertanya pada Taeyeon soal itu.

Wooyoung mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya, “Baiklah aku akan ke sana, tapi buatkan aku es limun, atau aku tidak akan bekerja sama sekali”

“Baiklah, namamu tidak akan kucantumkan dalam tugas ini” Taeyeon benar-benar kesal dengan sikap Wooyoung, biasanya tidak sulit baginya untuk mengatur anak laki-laki dikelasnya, tapi Wooyoung tidak, dia bahkan sangat jarang berbicara dengannya. Mungkin hari itu adalah hari tersial bagi Taeyeon ketika Pak Oh membaginya ke dalam kelompok yang mana di dalamnya terdapat laki-laki bernama Jang Wooyoung. Laki-laki paling cuek, dan sayangnya paling pintar dikelas.

Mata Wooyoung membesar, jantungnya langsung berdegup kencang. Semua hal yang berhubungan dengan nilai membuatnya khawatir, dia tidak akan membiarkan rata-rata nilainya berkurang karena tugas sialan ini. “Oke, oke! Tunggu aku akan segera kesana”

“Cepat!” Teriak Taeyeon lagi.

Wooyoung segera memutuskan telepon itu dan bergegas kelaur dari kamar. Ia menuruni tangga dengan kecepatan super dan berlari ke dapur untuk mencari kunci sepeda motor. Ibu Wooyoung yang sedang memasak jadi ikut kebingungan melihat sikap putranya.

Eomma, mana kunci motornya?” Tanya Wooyoung sembari mencari-cari kuncinya di gantungan celemek.

“Beberapa menit yang lalu Seyoung mengambilnya, kurasa dia tadi pergi ke rumah temannya”

“Apa? Lalu, aku harus naik apa? Eomma, aku juga harus pergi ke rumah temanku, ada tugas kelompok yang harus kukerjakan” Kata Wooyoung dengan wajah memelas.

Ibu Wooyoung mengedikkan bahunya, “Kau bisa naik sepeda gunung milik Ayah”

“Hah, Serius?”

Wooyoung serius, dia menaiki sepedanya melintasi tiga puluh blok selama  satu jam untuk mencapai rumah Taeyeon. Rumah Taeyeon terdapat di daerah yang jalannya cukup menanjak, sehingga perlu tenaga ekstra untuk benar-benar sampai disana. Dan yang lebih menyebalkan adalah, rumah Taeyeon terdapat di puncak jalan itu. Itu juga kenapa toko roti milik keluarga Taeyeon bernama Toko Roti ‘Bong’ yang artinya puncak.

Karena sudah tidak kuat, Wooyoung memilih untuk menuntun sepedanya. Beberapa saat setelah Wooyoung turun dari sepedanya, tercium bau menggelitik dari toko roti yang terletak beberapa meter di depannya, Wooyoung mengendus-endus bau itu. Dia menutup matanya dan mencium bau itu hingga menyisip jauh ke dalam jiwa. Perutnya yang keroncongan menambah rasa syahdu ketika bau itu menusuk hidungnya. Dia belum sempat makan apa-apa sejak tadi pagi. Ini semua karena Ayahnya menyuruhnya kerja rodi.

Akhirnya ia sampai di tempat itu. Toko Roti Bong. Toko Roti paling enak dan terkenal di distrik mereka. Roti di tempat ini terkenal dari rasanya yang unik dan seleksi pegawai yang benar-benar ketat agar kualitas rasanya tetap terjaga. Wooyoung berhenti sebentar di depan toko itu sambil celingukan, ia agak bingung awalnya. Taeyeon bilang rumahnya ada disini, tapi yang dilihatnya tidak lain hanyalah toko roti dengan konsep mirip cafe’, dindingnya terbuat dari batu bata merah yang tidak di cat membuatnya terlihat semakin vintage, kemudian terdapat semak hijau yang dipangkas rapi di depan toko itu. Wooyoung menyeka keringatnya sambil memarkir sepedanya di sebelah sebuah sepeda yang terparkir di depan toko itu. Ia mengintip ke dalam toko dari jendela besar yang mengijinkan orang dari luar melihat ke dalam.

Wooyoung memasuki toko itu sambil celingukan mencari Taeyeon atau siapapun dari teman sekelas yang dikenalnya. Tapi dia tidak mengenal siapapun dari orang-orang yang menata roti-roti di rak makanan, kasir, atau pelanggan yang berdatangan. Wooyoung tidak menangkap wajah yang dikenalnya. Wooyoung berkacak pinggang dan mendengus kesal.

Ya! Kau” Seseorang memukul bahunya, memaksanya untuk berbalik.

Wooyoung berbalik sambil meringis kesakitan, dia tambah kesal ketika melihat Taeyeon sedang tersenyum simpul. Ia mengenakan pakaian ala chef, lengkap dengan topi berwarna putih yang tinggi menjulang. “Apa yang kau lakukan disini, ini rumahmu?” tanya Wooyoung skeptis sambil melihat ke sekeliling toko itu.

Tanpa mempedulikan pertanyaan Wooyoung, Taeyeon menyindirnya “Kupikir kau tidak akan datang, aku sudah benar-benar memutuskan untuk tidak mencatumkan namamu” Kemudian Taeyeon bersungut-sungut sambil melepas topi chef dan apron yang dikenakannya lalu memberikannya pada seorang pekerja yang lewat, pekerja itu memakai seragam yang serupa dengan milik Taeyeon. Berwarna putih dengan garis merah di setiap ujungnya. Namum milik Taeyeon berbeda, didada kirinya tersemat nama Taeyeon berwarna merah dan sebuah bintang berwarna kuning dibawahnya.

“Kau bekerja disini?” Wooyoung bertanya lagi, melupakan pertanyaan seputar bintang yang terletak dibawah bordiran nama Taeyeon.

Taeyeon mengangguk sambil mengawasi pekerja-pekerjanya. “Aku bekerja di sini setiap musim panas, hanya untuk membiasakan diri, aku akan meneruskan usaha ini ketika sudah dewasa” Katanya diikuti senyum bangga.

Wooyoung membuang pandangannya, lalu memasukkan tangannya ke saku celana. “Mana tugasnya?” Wooyoung tidak ingin basa-basi lagi.

“Ikut aku,” Kata Taeyeon dengan nada santai dan akrab. Nada bicara itu yang selalu membuat Wooyoung iri. Dia selalu ingin bisa berbicara dengan santai, dengan tidak kaku dan canggung. Dia selalu ingin seperti itu. Disukai banyak orang, mempunyai banyak teman, dan mudah bersikap ramah. “Aku akan menjawab pertanyaanmu yang pertama” Lanjut Taeyeon.

Wooyoung mangangkat alisnya sedikit, kemudian mengikuti Taeyeon keluar dari toko. Mereka menyebrangi jalan kecil yang memisahkan toko roti itu dengan sebuah bangunan tingkat dua berwarna coklat. Bangunan itu lebih kecil dari toko roti yang ada di depannya, bangunan itu adalah rumah Taeyeon. “Ini rumahku” kata Taeyeon sambil berbalik untuk tersenyum pada Wooyoung.

Hati Wooyoung berdesir, sekarang ia mengaku kalah pada hati kecilnya. Gadis yang sekarang berdiri di depannya memang sangat manis, dia selalu membuat Wooyoung kagum. Cara berjalannya, cara bicaranya, senyumnya, tahi lalat kecil yang ada di sisi kanan dagunya, semuanya. Bahkan Wooyoung selalu merindukan waktu dimana gadis itu menulis sesuatu di papan tulis, atau menghapus coretan di papan tulis. Wooyoung selalu menyukai saat-saat ia bisa memandang gadis itu hanya untuk dirinya sendiri.

Tapi hati dan pikirannya selalu berlainan arah. Alih-alih membalas senyum Taeyeon, Wooyoung malah melengos dan menghela nafas. Seakan-akan memberi isyarat bahwa dia sama sekali tidak tertarik dengan semua hal yang berkaitan dengan Taeyeon. Dan sesungguhnya hal itu membuat Taeyeon sedikit sakit hati, setidaknya Wooyoung bisa tersenyum atau bagaimana.  “Baiklah, masuk” Taeyeon membukakan pintu rumahnya dan mempersilahkan Wooyoung masuk.

Rumah Taeyeon memang sederhana, tidak lebih bagus dari rumah Wooyoung. Namun Wooyoung suka suasananya. Kebetulan cuaca diluar sangat panas, dan rumah ini seperti menawarkan tempat berteduh yang elok dan menyegarkan.

“Oh, Jadi ini pacar barumu Noona?” Celetuk seorang anak kecil berkacamata, ia hanya memakai kaos dalam dan celana dalam yang membuatnya terlihat jorok. Ia duduk di depan TV sembari menikmati semangka merah.

Wooyoung sempat terkejut saat mendengar perkataan anak itu. Perasaannya jadi tidak menentu. Apa dia benar-benar terlihat seperti seorang pacar Taeyeon? Dia sedikit tersanjung, setidaknya ada yang melihatnya pantas bersama Taeyeon.

Taeyeon memicingkan matanya dan mendesis. “Apa semua teman laki-laki di SMA-ku terlihat seperti pacarku, ha!? Berhentilah bertanya seperti itu tiap ada temanku yang datang” Ujar Taeyeon kesal sambil melepas sandalnya dan melangkah memasuki ruang keluarga.

Wooyoung tidak jadi tersanjung, dia bisa mengartikan dialog barusan jika semua teman laki-laki Taeyeon yang mampir ke rumahnya selalu dipikir anak itu sebagai pacar Taeyeon. “Oh ya, Wooyoung-ssi, kau bisa duduk disini, kau boleh mengambil semangka itu jika kau mau, aku akan mengambil tugasnya di kamar” kata Taeyeon.

“Mana yang lain?”

“Sudah pulang satu jam yang lalu” Jawab Taeyeon ketus.

Wooyoung mengangguk canggung. Dia melangkah ke dalam ruang keluarga dan masih berdiri mematung disana setelah Taeyeon naik ke kamarnya, pandangannya tertuju pada anak kecil berkacamata yang tengah menilainya dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Jadi kau berencana memacari kakakku?” katanya pada Wooyoung.

Pacar? Kata-kata itu hanya hadir sesekali di pikiran Wooyoung. Dia tidak pernah berpikir keras akan hal itu. Ia tidak suka ketika perkataan anak kecil itu malah menimbulkan gagasan baru dalam otaknya dan dia mulai tidak menyukai fakta bahwa ia menginginkan Taeyeon. “Entahlah” Jawab Wooyoung dengan lagak cuek. Padahal barusan perasaanya dibuat kocar kacir.

“Baguslah” Ceplos anak itu tanpa memikirkan efek yang ditimbulkan kata itu pada Wooyoung.

Rahang Wooyoung menegang, ingin rasanya dia memotong lidah anak itu agar menjaga mulutnya. Wajahnya memerah, ia sangat marah entah kenapa. Mungkin karena dia telah disadarkan oleh anak kecil itu bahwa dia tidak pantas bersama Taeyeon.

Beberapa saat setelah itu terdengar derap langkah dari tangga, sudah pasti itu Taeyeon.

“Ini” Taeyeon turun dari tangga dan memamerkan sebuah kertas karton ekstra besar dengan hiasan indah di sekelilingnya. Namun yang aneh adalah, tidak ada apapun di tengahnya. Seharusnya ada puisi dengan huruf besar-besar ditengahnya. “Kau tidak duduk dari tadi?” Tanya Taeyeon. Seperti tahu siapa penyebabnya, dia mendelik kearah Kicheol, adik laki-lakinya yang sangat menyebalkan dan sok tahu.

Wooyoung mengedikkan bahu dan menghampiri Taeyeon untuk mengambil kertas karton itu. Menghitung dari tinggi badan Taeyeon, ia mengerti jika gadis itu kesusahan membawanya. “Biarkan aku membawanya” Wooyoung mencoba mengambil alih atas kertas itu. Tangannya tidak sengaja menyentuh jari Taeyeon dan sebuah aliran aneh menjalari tubuhnya. Ia bergidik dan menelan ludah, mencoba mengenyahkan perasaan itu. Wooyoung diam selama sepersekian detik, sampai Taeyeon memaksanya untuk berjalan mundur. “Biar aku yang membawanya ke sana, kau kan cerdas, jadi teman-teman memasrahkan puisinya padamu, kami tidak bermaksud jahat, kami hanya bersikap adil, lagian kami sudah mengerjakan hiasannya selama dua jam tadi”

Terdengar tawa mengejek dari dekat TV, yang tidak lain dan tidak bukan berasal dari Kicheol “Hahaha, Bohong! Dia hanya mengerjakannya selama tiga puluh menit, selebihnya mereka malah makan-makan dan bergosip”

“Sekarang sudah pintar bicara ya?” Sindir Taeyeon dengan wajah lucu. Membuat Wooyoung tersenyum tipis ketika melihat cekcok antar kakak adik itu. Mengingatkannya pada dirinya dan kedua kakaknya. Taeyeon mengarahkan pandangannya pada Wooyoung, ia sempat melihat Wooyoung tersenyum. Itu adalah momen berharga, dia jarang melihatnya tersenyum entah itu saat di kelas atau dimanapun. “Wooyoung-ssi, tidak apa-apakan jika kau yang membuat puisi dan kau juga menulisnya disini, tenang saja aku punya spidol warna” Kata Taeyeon sambil menunjukkan empat spidol: warna hitam, hijau, merah, dan biru.

“Oke” Jawab Wooyoung pendek sambil meraih keempat spidol itu dari genggaman Taeyeon.

Wooyoung kelimpungan menghadapi dirinya sendiri selama dua jam. Dia tidak bisa menghindari perasaan aneh tiap Taeyeon ada di dekatnya. Untung saja ada Kicheol yang selalu datang untuk merusuh, sehingga Wooyoung tidak perlu repot-repot untuk menghindari Taeyeon. Karena begitu Kicheol datang Taeyeon akan sibuk mengurusi Kicheol dan membiarkan Wooyoung dengan pekerjaannya.

Sekarang Wooyoung hanya tinggal menebalkan tiap hurufnya, puisi yang dibuatnya hanya 8 bait. Ia tidak bisa membuatnya lebih panjang lagi atau Taeyeon akan mulai merasa jika puisi itu tentang dirinya. Wooyoung tidak ingin mengakui pada siapapun jika Taeyeon adalah inspirasinya.

Ia selesai menebalkan huruf-huruf itu dengan spidol tepat pukul tiga sore, Taeyeon menyuguhinya roti dan es limun seperti yang diinginkannya tadi untuk makan siang –yang sebenarnya sudah sangat terlambat. Wooyoung meminum es limun itu hingga tandas dan mendesah. Setelah itu dia memperhatikan pekerjaannya.

“Wah” Taeyeon bertepuk tangan sambil memperhatikan pekerjaan itu juga. Dia membaca puisinya dari awal sampai akhir, lalu matanya berbinar-binar dan tatapannya langsung menusuk Wooyoung yang sedang bersantai menikmati rasa limun yang masih tersisa dimulutnya. “Kau sedang jatuh cinta ya? Puisi ini sangat indah, wah” Taeyeon bertepuk tangan lagi. Sedangkan Wooyoug mencoba menenangkan dirinya sendiri. Takut jika Taeyeon curiga.

Lalu tiba-tiba Kicheol menyembul dari balik punggung Taeyeon dan duduk di pangkuan Taeyeon. Membuat degup jantung Wooyoung kembali normal “Murahan” Komentarnya.

Wooyoung tidak ingin peduli dengan omongan anak kecil itu, dia hanya anak kecil dia katakan apa yang dia mau. Pikir Wooyoung positif. Taeyeon berbeda dengan Wooyoung, dia tidak bisa jadi secuek Wooyoung. Dengan kejam ia menjitak kepala Kicheol, seharusnya Kicheol menangis. Tapi anak itu hanya meringis kesakitan sambil mengelus-elus bagian kepalanya yang dijitak Taeyeon.

“Hei, dia hanya anak kecil” Kata Wooyoung.

“Dengarkan kata Hyung, Noona, aku hanya anak kecil” Kicheol mengkibas-kibaskan kaos dalamnya pada Taeyeon.

“Ih, ya ampun kau jorok sekali sih” Kata Taeyeon sambil memicingkan matanya, lalu dia tersenyum pada Kicheol dan menggelitiki perutnya.

Wooyoung tersenyum lagi. Ia suka melihat Taeyeon tersenyum lebar seperti itu, poninya yang terjatuh ke bawah saat menatap Kicheol, membuatnya terlihat benar-benar cantik. Degup jantung Wooyoung bertambah cepat. Untuk menormalkannya kembali, Wooyoung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Lalu matanya menangkap jam dinding, sudah pukul tiga sore, dia tidak sadar jika ia harus segera pulang. Kemudian Wooyoung berdehem untuk menarik perhatian Taeyeon yang masih sibuk bercengkrama dengan Kicheol. “Oh, Taeyeon-ssi, kurasa aku harus pulang” Katanya.

Taeyeon mengernyitkan dahi dan memasang wajah cemberut, “Kau sudah mau pulang?”

“Ini sudah sore” Wooyoung menunjuk jam.

“Yah,” Kata Taeyeon dan Kicheol serempak. “Ya sudahlah, aku antarkan kau sampai depan, kau naik apa tadi?” Taeyeon mengangkat Kicheol dari pangkuannya dan menyuruhnya duduk disamping.

“Sepeda” Jawab Wooyoung pendek.

Lagi-lagi Taeyeon terkejut, dia tidak tahu jika pengorbanan Wooyoung sebesar itu hanya demi nilai sastra –karena Taeyeon juga sebenarnya, namun Taeyeon tidak tahu. Taeyeon berdiri diikuti Wooyoung. Kemudian Kicheol mengekor di belakang Wooyoung dan meraih tangan Wooyoung. “Ya, Hyung, ternyata kau baik ya”

Wooyoung tersenyum dan mengacak-acak rambut Kicheol.

Taeyeon menggandeng tangan Kicheol sambil melambaikan tangannya pada Wooyoung. Ada perasaan senang yang merayapi tiap inci sarafnya, bentuk kristal perasaannya pada Taeyeon semakin kompleks. Mulai sekarang ia tidak akan ragu lagi untuk tersenyum pada gadis itu, tidak akan lagi merasa canggung jika ingin bicara padanya.

Dia hampir mengayuh sepedanya ketika sebuah motor sport berhenti di depan rumah Taeyeon. Mata Taeyeon langsung beralih pada orang yang mengendarainya. Orang itu melepas helm-nya dan tersenyum pada Taeyeon. Wooyoung melihat Kicheol cemberut dan melipat tangannya di depan dada, anak itu langsung berlari masuk ke dalam rumah dan membiarkan Taeyeon dengan laki-laki itu.

Wajah laki-laki itu sangat familier bagi Wooyoung, dia rasa dia pernah melihatnya.

“Kau belum siap? Kau bilang mau pergi ke festival bersamaku” kata laki-laki itu.

Taeyeon tersenyum dan meraih tangan laki-laki itu, kemudian mengayun-ayunkannya. “Aku tidak menyuruhmu datang sekarang, ini masih sore, hei anak kecil tidak boleh naik motor” Katanya manja.

“Heissh, aku bukan anak kecil, aku datang lebih awal karena khawatir, kau bermain dibelakangku, iyakan?, dengan Kicheol” Laki-laki itu mencuil hidung Taeyeon dan terkekeh pelan.

“Kau cemburu pada Kicheol? Ya, Choi Minho!”

Choi Minho?

Wooyoung ingat, dia adalah seorang pemain basket dari SMP yang ada didekat sekolahnya. Wooyoung ingat pernah berhadapan dengannya saat masih kelas sepuluh, saat ia masih punya banyak waktu untuk mengikuti banyak kegiatan.

Ketika Wooyoung menoleh sekali lagi untuk melihat Taeyeon sebelum dia pulang, dia melihatnya mencium laki-laki itu.

Hatinya hancur berkeping-keping, menghancurkan harapan yang baru saja ditanamkannya pada gadis itu. Sekarang  Wooyoung mengerti, dia sudah kalah sejak awal. Itulah kenapa Taeyeon kebal dengan semua rayuan pria dikelasnya. Taeyeon sudah berada di genggaman seorang bocah ingusan.

Wooyoung mendengus dan tersenyum kecut. Ia memperingatkan dirinya untuk tidak usah berharap lagi pada Taeyeon, atau pada akhirnya dia akan selalu sakit. Ia mengayuh sepedanya menuruni  jalanan curam itu,

Entah membiarkan angin menghapus perasaannya,

Entah membiarkan angin menyegarkan pikirannya,

Hanya Wooyoung yang tahu.

–end for this

Cerita ini di bikin pas pelajaran Pkn,, gaje banget sumprit, cerita ini juga terinspirasi sama kisah hidup author sendiri, cuma author yang jadi wooyoung-nya. dan cerita sesungguhnya nggak se-frontal ini.

maaf ya yang nggak suka Woo-Tae,, hehehe.. i just think that they were UNYU,

“Terimakasih karena sudah membaca. dan jika tidak keberatan maka saya ingin anda memberi support. Tolong kritik dan saran, tapi tolong jangan nge-bash, itu tidak baik”

-Ahnmr

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

2 thoughts on “Couldn’t Even Start”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s