It’s Time To Start

It's Time To Start

Author: Ahnmr || Cast: Jang Wooyoung (2PM), Kim Taeyeon (SNSD), Nichkhun Horvejkul (2PM), Tiffany Hwang (SNSD)|| Genre: Friendship, Romance || Rating : Umum ||Lenght: Two Shoot || Disclaimer : Gue terinspirasi apa ya? Anggep aja gu terinspirasi banyak hal. Oh yah, Cast punya yang punya ya, bukan punya gue. Catat itu~

(Jangan pedulikan posternya, ceritanya nggak nyambung sama poster, ciyus #pasang muka imut)

–ahnmr copyright–

Ia menghela nafas dang melihat ke sekeliling halte, tidak mungkin Nichkhun sampai tepat waktu. Dia selalu punya beribu alasan tidak berkualitas untuk datang lebih siang dan Wooyoung mulai tidak menyukai itu. Sebagai mahasiswa teladan dia tidak bisa membiarkan dirinya terlambat karena si pemalas itu.

Plak!

Seseorang menepuk bahunya dengan sangat keras. “Maaf, tadi aku harus ke kamar mandi” Kata Nichkhun sambil meringis. Dia terlihat seperti habis lari ribuan kilometer, rambutnya berantakan, keringatnya bercucuran, nafasnya tersengal-sengal. Ia terlihat sangat buruk.

“Tidak usah membuat alasan palsu. Aku tahu kau menunggunya, agar kalian bisa naik lift yang sama, iyakan?” Kata Wooyoung sambil memijit-mijit bahunya yang mungkin sudah kemerah-merahan.

Bingo! Nichkhun tersenyum canggung. Ia membusungkan dadanya dan menggeleng. Ia menolak memberitahu Wooyoung jika perkataannya benar. Seolah-olah tahu apa yang dipikirkan Nichkhun, Wooyoung terkekeh dan membenarkan tas punggungnya. Ia tidak jadi kesal, melihat Nichkhun ia jadi ingat pada dirinya sendiri.

“Kau harus bicara padanya, Man! Ajak dia kencan atau apa, jangan menunggu atau kau tidak akan pernah mendapat kesempatan” Sepertiku, tambah Wooyoung dalam hati.

Wooyoung tersenyum getir dan membuang pandangan ke atas tanah. Tanpa sadar ia membuka luka lamanya kembali. Dia pikir setelah kelulusan ia tidak akan pernah memikirkan gadis itu lagi. Namun perkiraannya salah. Perasaan itu justru semakin membengkak dalam hatinya. Seperti infeksi yang tak dapat diobati.

Tiba-tiba Nichkhun menepuk bahu Wooyoung dan bertanya, “Jangan sedih, ada banyak wanita lain diluar sana, lupakan saja dia”

Wooyoung melirik tajam ke arah Nichkhun “Apa maksudmu?” Wooyoung tidak pernah bercerita pada Nichkhun soal gadis itu, jadi dari mana Nichkhun tahu? Apa dia hanya sok tahu?

“Kau menyukai gadis itukan” Tuduh Nichkhun diikuti senyum menyebalkan.

Wooyoung mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti jalan pikir Nichkhun. “Berhentilah sok tahu, Khun! Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan”

Taeyeon menguap dan membenarkan letak headphone kuning itu di kepalanya. Ia melihat keluar jendela bus sambil mendengus. Dia tidak peduli jika ada penumpang lain yang akan naik. Dia mengantuk dan ingin tidur, ia lelah setelah semalaman mengerjakan tugas –sebisanya- dan mengepak semua barang-barangnya karena akan pindah dari apartemen lamanya.

Kabarnya apartemen lama Taeyeon akan digusur karena sudah terlalu tua dan akan dibangun kompleks apartemen baru. Demi keselamatan seluruh penghuninya, mereka diberi waktu untuk pindah sebelum bangunan itu diruntuhkan. Penghuni setia apartemen itu sedang merencanakan demo, Taeyeon sebagai orang yang tidak mau repot lebih memilih untuk pindah saja daripada mempermalukan diri sendiri, atau begitulah pikirnya

Akhirnya dia memutuskan untuk pindah dan menerima tawaran teman kuliahnya, Tiffany, untuk tinggal di apartemennya di dekat Grand Mart di dekat Hongdae. Agak jauh sebenarnya, namun dapat dikatakan dekat jika dilihat dari peta.

“Tunggu, ini dimana?” Gumam Taeyeon ketika ia baru saja sadar dia harus berhenti didepan Apartemen 107. Dengan gelagat orang bingung, Taeyeon mengalihkan pandangannya ke sisi kanan bus. Bus-nya sudah berjalan lagi, tulisan Apartemen 107 itu semakin jauh darinya. Taeyeon membesarkan matanya dan melepaskan Headphone-nya. Dia menekan bel bus agar berhenti sebelum berjalan lebih jauh.

“Pak, Berhenti!” Pekik Taeyeon seraya berdiri dan keluar dari kursinya. Bus itu mengerem mendadak membuat Taeyeon terhuyung ke depan dan terjatuh. ia mendongakkan kepalanya sambil meringis ke arah semua orang yang melihatnya heran.

Setelah ia bangkit, ia langsung berlari ke pintu depan bus karena malu. Setelah turun dari bus ia tersenyum simpul ke arah sopir bus yang menatapnya kesal. Kemudian Taeyeon melambaikan tangan padanya. “Mianhae!” Teriaknya. Dengan acuh, sopir itu menutup pintu  bus dan langsung bergegas mengemudikan bus-nya.

Ekspresi Taeyeon yang semula manis langsung berubah kecut. Ia mendesis pada sopir bus itu dan berjalan menyusuri trotoar menuju Apartemen 107.

Taeyeon membenarkan tas punggung Domo-nya dan menggerakan-gerakkan kedua tangannya, merasa ada yang aneh. Dasar Bodoh! Rutuknya dalam hati.

“PAK, TUNGGU!!!  KARDUS  DAN KOPERKU TERTINGGAL DI BUS” Teriaknya sambil berlari mengejar bus itu. Walaupun kedengarannya percuma, Taeyeon tidak peduli. Hanya itu yang terpikir di kepalanya sekarang.

“Kau ini ya! Untung saja aku belum jadi berangkat ke Chuncheon, kenapa tidak bilang jika ingin datang hari ini” Kata Tiffany cepat, ia membawakan kardus Taeyeon sambil memasuki lift. Sedangkan tersangka utama pembuat keributan hari ini hanya diam sambil menarik koper dan membawa tas punggung di satu tangannya.

Keringat menghiasi wajah Taeyeon. Wajahnya kuyu setelah mengejar bus, untung saja dia bertemu Tiffany yang memberikan tumpangan dan membantu mengejar bus itu. Jika tidak ia harus mengucapkan selamat tinggal kepada semua koleksi kartu permainan aikatsu magic chef kesayangannya.

“Sebenarnya aku ingin memberimu kejutan” Jawab Taeyeon asal.

Ia menyandarkan punggungnya pada dinding lift dan mendongakkan kepalanya. Tiffany menekan tombol angka 16 dan mundur beberapa langkah untuk berdiri di samping Taeyeon. Matanya menyelidik ke arah Taeyeon. Ia yakin sahabatnya itu kelelahan dan susah tidur, melihat peluh disekitar hidungnya juga kantung matanya yang semakin hari semakin tebal.

Ya! Kim Taeyeon, kenapa sih kau tidak naik taksi saja, kenapa naik bus?” tanya Tiffany.

Bagi orang yang pertama kali mengenal Tiffany, mungkin mereka akan kesal mendengar nada bicaranya yang terdengar meremehkan. Namun tidak bagi Taeyeon, ia kenal betul sifat dan sikap gadis manja ini. Dia mengerti nada bicara itu tidak bermaksud mengejeknya, begitulah cara bicara Tiffany, itu sudah kebiasaan. “Aku mencoba menghemat uang” Jawab Taeyeon pendek.

“Lalu kenapa kau tidak menelponku?” Tanya Tiffany tajam.

“Ponselku mati”

Taeyeon merogoh saku celananya dan memperlihatkan smartphone-nya yang mati. Ia memang gadis yang tidak pernah merencanakan apapun dalam jangka panjang. Pikirannya cenderung praktis dan cepat berubah-ubah. Bahkan, kepindahannya hari ini baru direncanakan kemarin sore ketika ia berdiskusi dengan Tiffany mengenai uang sewa apartemen.

Tiffany berdecak dan menggeleng ke arah Taeyeon. Ia selalu heran dengan gadis yang satu ini, sifat cerobohnya tidak ketulungan. “Baiklah, setelah ini kau bisa istirahat di apartemenku, kau pakai kamar kosong yang ada di sebelah kamar mandi, oke? Aku akan pulang besok. Jadi tolong jaga apartemennya baik-baik” Kata Tiffany ekstra cepat.

Taeyeon mengerjapkan matanya dua kali dan mengangkat alis kirinya. “Jadi, kau meninggalkanku sendirian?”

“Ya, mau bagaimana lagi? Ayahku ulang tahun hari ini, karena itu aku harus kembal ke Chuncheon, besoknya aku langsung berangkat kuliah, jadi mungkin sore sampai aku datang ke apartemen”

“Memangnya kau tidak ada jadwal kuliah hari ini?”

“Tidak, kau?”

“Nanti sore” Kata Taeyeon lemas.

Fany mengangguk dan mengulum senyum. “Kau memang tidak merencanakan soal hari ini ya?”

Denting bel lift memperingatkan mereka untuk segera keluar. Taeyeon hanya meringis sambil mengangkat kedua tangannya ketika keluar dari lift. Sekali lagi Tiffany menggeleng dan tersenyum miris melihat cara hidup sahabatnya itu. Dia jadi ragu pergi jauh-jauh dari apartemen, dengan Taeyeon sebagai penjaganya.

Ada yang aneh soal Wooyoung semenjak tadi pagi, dan Nichkhun menyadari itu. Untuk pria sensitif sepertinya. Tidak susah untuk menyadari perubahan atmosfer disekitarnya, apalagi Wooyoung. Sahabatnya yang biasanya rajin dan perhatian pada dosen, berubah jadi acuh.

Well, tidak sepenuhnya acuh.

Sesekali ia memandang papan tulis, lalu kembali pada bukunya dan menggambar sesuatu. Dari tempat duduknya, Nichkhun bisa melihat jika Wooyoung sedang menggambar doodle. Tidak biasanya anak itu seperti itu, tidak pernah sekalipun Nichkhun melihat Wooyoung melewatkan catatan yang diberikan Dosen. Bahkan –ketika Wooyoung mencatat, ia juga menambahkan sidenote seperti Kata Dosen: blah blah,,, yang membuat mahasiswa pemalas seperti Nichkhun frustasi mengetahuinya.

Tapi hari ini berbeda, ada sesuatu yang mengganggu pikiran sahabatnya itu, dan Nichkhun curiga jika Wooyoung menyukai orang yang sama dengannya.

“Apa benar dia terganggu karena itu?” Gumam Nickhun sambil mengetuk-ngetuk pulpennya pada permukaan meja.

Nichkhun hanya bisa menerka-nerka, dia tidak tahu jika Wooyoung sebenarnya sedang merayakan selebrasi yang dia namakan Hei-Cinta-Pertamaku-Aku-Mengingatmu-Lagi. Ini adalah akibat dari menyimpan perasaan dan tidak pernah membiarkan perasaan itu pergi. Selama dua tahun ini Wooyoung cenderung hidup bersama kenangan itu. Dia tidak sepenuhnya bisa melupakan Taeyeon, sampai terkadang ia menyesal telah menjadikan gadis itu sebagai objek cinta pertamanya. Rasanya ia ingin marah pada dirinya sendiri karena tiap ada kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya dia malah menghindar, atau bersikap sinis.

[Flashback]

“Wooyoungie! Wooyoungie!”

Wooyoung menghiraukan panggilan itu dan terus berjalan menuju kelasnya. Ia sangat tidak ingin bertemu dengan Taeyeon. Dia adalah perusak mood-nya,tapi  anehnya dalam waktu yang sama dia juga alasan kenapa dia selalu bersemangat pergi ke sekolah.

Gadis itu berlari dan merangkul Wooyoung. Seketika, jantung Wooyoung berdegup kencang. Ia menyukai hal ini, namun bodoh jika dia menganggapnya lebih. Gadis ini sudah memiliki kekasih –seorang anak SMP- yang sangat keren jika dibandingkan dengan Wooyoung. Dia tidak mungkin memiliki perasaan yang sama dengan Wooyoung.

Menurut Wooyoung, dirinya adalah seorang pengecut kelas kakap yang hanya bisa mengamati gadis yang dicintainya dari jauh, lalu menganggap perasaan itu hanya tipu muslihat alam, dan mengatakan pada dirinya sendiri jika dia harus membuat dirinya sendiri membenci gadis itu, atau sebaliknya.

“Bisakah kau tidak menggangguku” Ujar Wooyoung ketus  sambil menepis tangan Taeyeon yang melingkar di bahunya.

Taeyeon menanggapi reaksi itu dengan tertawa dan mengalungkan tangan kanannya pada bahu Wooyoung lagi, seolah tidak ada sesuatu yang bisa membuatnya membenci laki-laki menyebalkan ini. “Ya! Kicheol selalu membicarakanmu semenjak kunjungan terakhirmu waktu itu” Katanya sambil tersenyum cerah ke arah Wooyoung.

Ada sebersit rasa senang yang tertoreh di dalam hatinya. Iblis kecil kurang ajar itu masih mengingatnya. Itu artinya, dia menyukai Wooyoung. Namun Wooyoung tidak bisa memungkiri jika ia lebih menginginkan kata-kata itu berbunyi seperti “,,Ya! Aku menyukaimu” dari Taeyeon.

“Sampaikan salamku padanya” Kata Wooyoung sembari menahan senyum.

“Tentu saja,”

Beberapa meter sebelum mencapai kelas, Taeyeon melepaskan rangkulan itu dan mengusap-usap telapak tangannya ”Oh ya, ingat puisi waktu itu?”

Wooyoung hanya mengerjapkan matanya sekali pada Taeyeon, mengisyaratkan kata ‘iya’ darinya. Hal itu membuat Taeyeon menyunggingkan senyum dibibirnya. “Kita dapat nilai tinggi dari Pak Oh, dan puisi itu akan dipajang ketika kelulusan nanti”

Wooyoung menyembunyikan keterkejutannya dan membuang pandangan dari Taeyeon. Dalam hati dia membatin, bagaimana gadis ini belum menyadari jika puisi itu tertulis untuknya, puisi itu mengenainya, dan dialah orang yang menyebabkan terciptanya puisi itu. “Kau yakin?” Tanya Wooyoung dengan mimik serius.

Taeyeon tersenyum lebar dan mengangguk dengan bersemangat. “Ngomong-ngomong, saat menulis puisi itu kau sedang jatuh cinta dengan siapa? Puisi itu benar-benar menusuk di dalam hati, kau tahu”

Pertanyaan satu juta dollar bagi Wooyoung. Jika dia menjawab pertanyaan itu maka semuanya akan berakhir, cintanya, rahasianya, semuanya. Dia tidak bisa dan tidak ingin mengungkapkan perasaannya pada siapa saja, terlebih pada si pemberi inspirasi itu sendiri. Dia belum siap, situasinya terlalu rumit –atau dia sendiri yang membuatnya rumit.

“Bukan siapa-siapa” Jawab Wooyoung. Kemudian dia segera melangkahkan kakinya memasuki kelas, menghela nafas panjang dan melepaskan sesak  didadanya.

[Flashback end]

Semenjak dari bus tadi ia terlihat sibuk dengan Ipad-nya. Bahkan setelah ia memasuki kompleks apartemennya dan menunggu lift. Ia masih men-scroll layar Ipad-nya ke bawah, setelah itu menekan tombol panah ke atas. Lalu tiba-tiba pintu lift terbuka, memaksanya untuk berpaling dari layar Ipad sejenak.

Kemudian dia memasuki lift dan mengamati lagi bursa lowongan kerja di internet. Sebenarnya masih lama sampai dia lulus kuliah. Mungkin sekitar beberapa semester lagi. Tapi Wooyoung sudah memikirkan masa depannya untuk sekarang. Dia tidak ingin keteteran seperti orang-orang jaman sekarang. Sebelum dia lulus, dia sudah harus bisa memastikan dimana dia akan melanjutkan hidupnya.

Ia mengalihkan pandangan dari Ipad dan menekan tombol angka 16. Setelah itu ia sibuk membaca lowongan-lowongan kerja di halaman internet lagi. Ada beberapa yang menarik perhatiannya, namun belum ada yang cocok dengan pengalaman kerjanya. Ia ingin bekerja sebagai arsitektur perusahaan, namun dari tadi dia belum melihat yang seperti itu.

Lift berhenti di lantai enam belas, Wooyoung melihat sekilas angka yang tertera di lift. Kemudian dia keluar dari lift dan fokus lagi pada Ipad-nya. Baru beberapa langkah keluar dari lift seseorang tidak sengaja menabrak bahunya. Wooyoung berbalik untuk melihat orang ceroboh itu. Lalu dia melihat sekelebat orang berambut pirang madu, mengenakan headphone kuning memasuki lift. Wooyoung menelengkan kepalanya, merasa famillier. Headphone itu, seperti milik orang ceroboh yang tadi terjatuh di bus tadi pagi.

Wooyoung mengedikkan bahunya dan melanjutkan perjalanan ke apartemen.

“Kurang ajar” Rutuk Taeyeon di dalam lift.

Ia tidak menyangka jika harinya harus se-menyebalkan ini. Seakan-akan waktu tidak mengijinkannya untuk istirahat. Perasaan dia baru tidur untuk beberapa menit saja, namun tiba-tiba waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 KST. Seharusnya dia sudah duduk manis di kelasnya. Tapi sekarang dia masih berdiri lift, menunggunya sampai berhenti di lobby. Mungkin jika dia sampai disana dia akan dihukum sejadi-jadinya.

Tapi, perkiraan Taeyeon salah. Profesor Park sedang dalam suasana hati yang baik sore itu. Dia menghabiskan waktu selama dua jam untuk menceritakan soal masa muda bersama suaminya. Mereka baru saja rujuk, dan akan menikah lagi besok Jum’at.

Akhirnya Taeyeon bisa bernafas lega, tidak ada pikiran berat sore itu. Tidak ada tugas  yang harus dikumpulkan sore itu. Hanya saja dia mendapat tugas membuat makalah untuk mata kuliah sejarah. Sejarah, kenapa Taeyeon sangat membenci mata kuliah itu sekarang? Oh koreksi, dia memang selalu tidak menyukainya sejak sekolah dasar dulu.

Ia keluar dari kampus dengan wajah cerah. Bertemu dengan teman-teman dan bergosip selalu membuatnya lebih senang. Namun tanpa Tiffany, tidak akan semenyenangkan biasanya. Ia menyebrangi jalan raya dan berlari ke halte. Hidupnya sekarang berubah drastis, tidak ada Kicheol, iblis kecilnya. Tidak ada dapur roti ‘Bong’ yang siap menyambutnya. Parahnya, dia tidak mempunyai seseorang untuk…

Ia baru saja memikirkannya ketika datang sepasang kekasih –yang terlihat sangat mesra- duduk di kursi halte. Tepatnya disamping Taeyeon. Taeyeon menelan ludah, 3 tahun semenjak dia putus dari anak SMP itu. Dan semenjak itu juga dia tidak pernah tertarik lagi untuk memulai hubungan dengan pria manapun. Ia sempat memikirkan laki-laki sinis yang selalu dielu-elukan Kicheol. Ia sudah tahu jika laki-laki itu menyukainya. Ia sering memancingnya untuk mengatakan hal itu pada Taeyeon, namun dia tidak pernah berhasil. Pria itu kelewat tertutup, dia benar-benar pintar menjaga perasaannya. Tapi puisinya waktu itu adalah kecerobohan terbesar yang pernah dibuatnya. Mungkin dia berpikir jika Taeyeon tidak tahu, namun sebenarnya Taeyeon tahu. Dia hanya pura tidak tahu saja agar laki-laki itu merasa nyaman.

“Kau pengecut, kau tahu” Gumam Taeyeon seraya mendongak untuk melihat langit malam yang begitu cerah.

[Flashback]

Wooyoung mengasingkan dirinya ke lorong ketika semua murid kelas akhir sedang melakukan ucapan perpisahan pada teman-teman dekatnya di gedung olahraga. Dari tadi ia mencari-cari puisi yang dibicarakan Taeyeon. Namun sepanjang perjalanannya dia tidak menemukannya dimanapun.

Ia berjalan cepat sambil membawa  setangkai bunga mawar seperti yang dibawa murid lain di tangan kanannya. Di tangan kirinya terdapat buku hasil belajar yang tidak pernah ia pedulikan keberadaannya. Namun akhir-akhir ini jadi penting sekali.

Ia bisa bernafas lega ketika melihat puisi yang tertoreh dengan spidol warna-warni serta hiasan norak disekitarnya terpajang di tempat biasanya orang memasang majalah dinding. Tapi sekarang, tempat itu hanya berisi puisi kelompoknya. Wooyoung tersenyum tipis dan mengangguk, lalu memejamkan matanya dan menarik nafas. Ia tengah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan gadis itu setelahnya sampai di Seoul.

“Hei”

Wooyoung tersentak kaget. Ia menoleh ke samping kanannya dan melihat gadis itu berdiri disampingya. Memamerkan gigi-giginya yang putih. “Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Wooyoung refleks. Ia berusaha keras menyembunyikan keterkejutannya dengan bersikap sinis.

“Mencarimu, kau sendiri?”

“Menjauh dari keramaian” Jawaban bodoh Wooyoung, teriak hati kecilnya.

Taeyeon mendengus dan mengarahkan pandangannya pada puisi itu. Selesai membacanya ia tersenyum dan melayangkan pandangannya pada Wooyoung yang masih berdiri kaku disampingnya. “Aku masih sering bertanya-tanya mengenai orang itu” kata Taeyeon.

Mendadak bulu kuduk Wooyoung berdiri, mendengar pertanyaan itu terasa ditembak ribuan peluru riffle. Wooyoung menelan ludah dan berpaling dari tatapan Taeyeon yang selalu membuatnya luluh. Apakah ia harus mengatakannya saat itu? Wooyoung bertanya pada dirinya. Ia sempat berfantasi mengenai hal-hal romantis, seperti memegang tanganTaeyeon dan mengatakan bahwa jawabannya ada didepannya, atau mencium Taeyeon lalu mengatakan bahwa Taeyeon adalah jawabannya. Tapi dia terlalu pengecut untuk melakukan hal-hal itu.

“Haruskah aku mengatakannya sekarang?” Tanyanya dalam hati.

“,,, Bisa jadi ini kesempatan terakhirku”

Wooyoung hanya menatap Taeyeon selama beberapa menit. Hingga akhirnya pertahanannya pecah. Ia menelan ludah dan memejamkan matanya selama sepersekian detik. “Apa yang akan kau lakukan jika aku menjawabnya?” Tanyanya pada Taeyeon dengan gugup.

Taeyeon berkedip dua kali dan bergidik. Ia menggigit bibirnya dan menatap Wooyoung lagi. “Aku hanya ingin tahu” Jika dia tidak mempunyai gengsi, dia akan mengatakan bahwa dia mulai memikirkan Wooyoung saat itu.

“Jawabannya bukan siapa-siapa” Kata Wooyoung. Ia menelan ludah lagi dan berjalan meninggalkan Taeyeon bersama pertanyaan retorisnya. Dari dulu Taeyeon selalu tahu, dia selalu tahu jawabannya.

 “,Orang itu adalah aku” Kata Taeyeon sambil tersenyum kecut.

Nichkhun mematut dirinya di depan kaca, hari ini dia akan mengajak gadis itu bicara. Dia sudah memenuhi ruang tengah dengan aroma Fahrenheit Men. Membuat Wooyoung yang sedang membaca koran mengkibas-kibaskan tangannya di depan hidung. Dia tidak suka bau mencekat seperti itu, bau wangi yang terlalu wangi seperti itu selalu membuatnya pusing.

Ya! Berangkat sana! Kau sudah oke, kok! Gadis itu pasti akan jatuh pingsan dihadapanmu, aku yakin”

Nichkhun melirik Wooyoung tajam. Ia berdehem sangat keras sampai terbatuk-batuk “Terimakasih masukannya” Balas Nichkhun cuek. Ia membenarkan kerah bajunya dan mengambil tas yang tersandar pada betisnya. “, Aku berangkat”

“Ya, belajar yang rajin Khun!” Teriak Wooyoung dari dalam apartemen.

Nichkhun mendengus dan menutup pintunya dengan wajah kesal. Apa maksudnya Wooyoung barusan? Apa itu strateginya untuk menjatuhkan nama Nichkhun? Berteriak jika Nichkhun adalah mahasiswa pemalas agar setiap tetangga apartemennya tahu?

Terdengar suara pintu terbuka, sedangkan Nichkhun masih sibuk dengan pemikirannya sendiri dari tadi. Ia masih terus berpikir jika Wooyoung diam-diam juga menyukai gadis yang disukainya. Jika di pikir lagi, buktinya sudah cukup banyak. Wooyoung sering mengingatkan Nichkhun untuk berbicara pada gadis itu, tapi setelah itu wajahnya langsung muram, lalu tadi mempermalukannya. Apa maksudnya semua ini?

“Selamat pagi!”

Nichkhun bangun dari lamunannya dan mengalihkan pandangannya ke arah suara itu. Dilihatnya wajah yang selalu menghampiri tidurnya setiap malam. Tulang pipinya yang tinggi, senyuman yang dapat menciptakan semacam percikan kembang api di dalam dadanya. “Ha,Hai” Jawab Nichkhun gugup.

“Kau berangkat pagi, hari ini?” Tanyanya dengan suara renyah yang bisa membuat rahang Nichkhun bergetar.

“Yy,ya, kau juga?”

Gadis itu menggeleng dan tersenyum lagi. “Aku hanya ingin belanja, kau mau ke lift?”

Nichkhun mengangguk, semakin lama dia mendengar suara itu, getaran itu sampai ke kakinya. Dia menelan ludah dan memberanikan diri untuk tersenyum.

“Aku ikut ya?” Katanya diikuti kedipan mata yang siap membuat Nichkhun meleleh kapan saja.

Nichkhun berdiri di lift sambil sesekali mencuri pandangan ke arah gadis itu. Ia ingin memulai pembicaraan seperti ‘hei, namaku Nichkhun, kau?’ tapi obrolan itu serasa tidak perlu setelah gadis itu mengajaknya bicara duluan. Dengan nada bicara ramah dan kedipan mata itu juga.

“Eh,”

Gadis itu menoleh pada Nichkhun dan tersenyum lagi, kali ini dari sudut pandang Nichkhun. Ia bisa melihat lesung pipit indah yang tercipta diwajahnya yang tirus. Untuk kesekian kalinya Nichkhun menelan ludah. Dia bisa keracunan air ludah jika terus-terusan berada di dekat gadis ini. “Namaku Nichkhun, Nichkhun Horvejkul, Kita sudah lama menjadi tetangga jadi kurasa…”

“Tiffany Hwang, Hwang Miyoung” Tiffany memotong, ia menjabat tangan Nichkhun dan tidak segera melepaskannya. Nafas Nichkhun tercekat, dia tidak pernah menjabat tangan sehalus itu.

“Tiffany.. Miyoung, nama yang bagus” Kata Nichkhun sambil menggaruk tengkuknya dengan tangan kirinya yang masih kosong.

Mereka saling tersenyum dan tidak sadar jika pintu lift-nya sudah terbuka.

“Kau tidak akan percaya!” Kata Nichkhun sepulangnya dari kuliah.

Wooyoung mengangguk sambil membaca buku novel mengenai politik. Nichkhun sibuk mondar-mondar di depannya sambil mengepalkan tangannya dan mencium jari telunjuknya seperti pemain sepak bola. “Dia memberikan nomornya padaku dan mengajakku kencan”

Gadis itu? Wooyoung menghentikan bacaannya dan melihat ke arah Nichkhun dengan kening berkerut. “Dia yang mengajakmu?” Tanya Wooyoung tidak percaya, dalam hati dia juga menambahkan,  perempuan macam apa itu?

Nichkhun mengusap hidungnya dengan lagak tengil. Kemudian dia melihat Wooyoung dengan wajah sombong. “Hmm, kau tidak suka?”

Wooyoung menggeleng, dia hanya sedang berpikir. Hebat sekali gadis itu, dia bahkan memiliki keberanian sebesar itu. Wooyoung yang notabene seorang laki-laki malah bersikap pengecut dengan membiarkan perasaan itu tersimpan rapat dalam hatinya dan sekarang dia tidak tahu Taeyeon ada dimana. Jika dia bertemu dengannya lagi, dia berjanji akan mengatakan soal perasaannya.

“Selamat ya!” Wooyoung mendongak ke arah Nichkhun dan tersenyum tipis.

Air muka Nichkhun berubah jadi tidak enak. Apa dia baru saja melukai perasaan sahabatnya? “Tidak usah khawatir, sebenarnya aku tidak berani sendiri, jadi aku akan mengajakmu, dan dia akan mengajak temannya”

“Oh begitu?” Kata Wooyoung sambil pura-pura membaca lagi novel tadi. Dia menghela nafas, ingin rasanya ia mengatakan pada Nichkhun jika dia belum bisa melupakan cinta pertamanya.

“Kau ikut, oke?”

Wooyoung mengangguk dan tersenyum kecil pada Nichkhun.

“,, ini seperti semacam double date” Jelas Tiffany.

Taeyeon tersenyum lebar dan mengguncang tubuh Tiffany. “Kau serius, temannya tampan tidak?”

Tiffany mengelus-elus dagunya dan pura-pura berpikir. Dia membenarkan kacamata komputernya, lalu memeluk bantal. “Mereka berdua tampan, keren, tapi teman Nichkhun pembawaannya lebih cuek”

Taeyeon mendengus, ia paling sebal jika harus berurusan dengan pria cuek. “Dia cuek? aku tidak jadi ikut ah” Kata Taeyeon sambil turun dari kasur Tiffany.

“Taeyeon-ah, tolonglah, kau tahu kan aku rela merelakan harga diriku demi mengajak pria itu kencan, kau tahu bagaimana malunya itu?”

Taeyeon yang sudah berdiri di ambang pintu mengangguk. “Tahu” Jawabnya.

Tiffany memasang wajah memelas pada Taeyeon. “Temani aku ya? Aku nanti akan membantumu mengerjakan tugas sejarah deh, aku janji!” Kata Tiffany sambil membuat tanda peace.

Mengerjakan tugas sejarah? Tawaran yang menggiurkan, pikir Taeyeon sambil tersenyum licik. Taeyeon memasang wajah manis dan mengangguk. Kemudian dia keluar dari kamar Tiffany dan bersungut-sungut dalam hati. Ia berjalan ke kamar seraya memikirkan pria cuek macam apa yang akan dihadapinya kali ini? Apakah pria cuek semacam sopir bus yang dulu itu? Apakah pria cuek semacam kakaknya? Apakah pria cuek samacam ayahnya? Apakah pria cuek semacam Kicheol, yang juga jorok? Apakah pria cuek pengecut semacam Jang Wooyoung? Apakah pria cuek romantis seperti Gu Jun-Pyo Boys Before Flower?

Taeyeon menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan memeluk gulingnya. “Semuanya akan terjawab lusa”

Nichkhun sangat bersemangat hari itu. Dia bahkan sudah berkali-kali melakukan pemanasan di apartemen, sekarang dia hanya tinggal menunggu Tiffany. Bersama sepeda sewaan di dekat parkiran mobil yang ada di World Cup Stadium Park ia berharap Wooyoung sama sekali tidak masalah jika ia pergi kencan dengan TiffanyIa masih berpikir Wooyoung menyimpan perasaan pada Tiffany.

Wooyoung menunggu dengan malas sambil duduk di atas rerumputan. Dia memarkir sepeda sewaannya tidak jauh dari tempatnya duduk. Ia mengamati Nichkhun dari kejauhah. Ia jengah melihat wajah Nichkhun yang tak hentinya tersenyum semenjak dua hari yang lalu.

Tak lama setelah itu, sebuah mobil Kia Picanto berwarna silver berhenti di parkiran. Seorang gadis berambut hitam keluar dari kursi kemudi. Itu adalah gadis yang dikagumi Nichkhun selama dua tahun, gadis bernama Tiffany Hwang yang juga adalah tetangganya. Wooyoung berdiri dengan malas. ia berjalan mendekati sepedanya, kemudian menaikinya dan mengayuhnya mendekati Nichkhun. Setidaknya dia harus menyapa gadis itu, untuk formalitas.

Ia berhenti di dekat Nichkhun dan melambai ke arah Tiffany. “Annyeong” Sapanya pada Tiffany.

Nichkhun yang masih menganggap Wooyoung menyimpan perasaan pada Tiffany, meliriknya tajam. Ia kemudian tersenyum lebar pada Tiffany. “Miyoung-ah, kau mau naik sepeda bersamaku, atau kau mau kutemani menyewa sepeda di sebelah sana?” Tanya Nichkhun sambil menunjuk persewaan sepeda.

Tiffany terkekeh dan menepuk bahu Nichkhun, “Bagaimana jika menemaniku ke sana saja, aku ingin naik sepeda yang berwarna merah”

“Kau suka warna merah?” Tanya Nichkhun, sok kaget.

“Pink sebenarnya, tapi karena tidak ada, aku lebih memilih merah daripada putih” Jawab Tiffany, sedikit membuat Nichkhun kecewa.

“Fany-ah!

Sontak ketiga orang itu langsung memusatkan perhatian pada satu suara. Suara nyaring seorang gadis yang tidak asing di telinga Wooyoung.

“Apa?” Sahut Tiffany kesal. Karena Taeyeon baru saja mengganggu acara mendekati Nichkhun yang sudah ia rencanakan sejak kemarin.

Satu detik,,,

Dua Detik,,,

Taeyeon tak kunjung menyahut. Tiffany berbalik dan menemukan pandangan sahabatnya terpaku pada satu arah. Nichkhun yang sudah menyadari dulu apa yang terjadi mengamati Wooyoung yang matanya juga menatap ke satu arah. Nichkhun melihat teman Tiffany dan Wooyoung bergantian, dia tersenyum kecil dan mengarahkan pandangannya pada Tiffany yang juga tertawa mengetahui hal itu.

“Taeyeon-ah! Kau kenapa?” Kata Tiffany sambil menepuk bahu Taeyeon pelan-pelan.

Taeyeon gelagapan, dia melihat ke arah Tiffany dan mengerjapkan matanya beberapa kali. “Mm, eh, ini botol minummu” Kata Taeyeon sambil menyerahkan tumbler berwarna pink pada Tiffany.

Tiffany menahan senyum sambil mengambil tumbler itu dari tangan Taeyeon yang bergetar. Tiffany kemudian menarik tangan Taeyeon dan membawanya mendekat ke arah dua pria yang sedari tadi menunggu mereka.

“Ini temanku, namanya Kim Taeyeon” Kata Tiffany sambil merangkul Taeyeon dan tersenyum ke arah Nichkhun dan Wooyoung.

Wooyoung tidak bisa mengalihkan  pandangannya dari Taeyeon sedari tadi. Bibirnya terkatup, matanya berkaca-kaca, rasanya seperti mimpi bisa melihatnya lagi.

“Hai” Kata Taeyeon canggung, ia melambaikan tangan sebisanya pada dua orang itu.

Nichkhun kemudian menepuk punggung Wooyoung, menyadarkannya dari fantasinya mengenai Taeyeon dari tadi. Wooyoung mengerjap-ngerjapkan matanya dan meringis pada kedua gadis itu. Namun pandangannya tetap tidak bisa lepas dari Taeyeon. “Namaku Jang Wooyoung, School Of Architecture, Hong-Dae” Katanya.

“Salam kenal,aku Nichkhun Horvejkul, aku di fakultas yang sama dengan Wooyoung” Nichkhun memperkenalkan diri dengan lebih lepas karena dia sudah mengenal Tiffany. Dia juga tidak merasa canggung dengan Taeyeon, karena gadis itu sama sekali tidak melihatnya dari tadi. Pandangannya masih melekat pada Wooyoung.

“Nichkhun, Kkaja” Kata Tiffany mengajak Nichkhun, dia duduk di kursi belakang Nichkhun dan mereka pergi ke tempat persewaan sepeda.

Hanya tersisa Wooyoung dan Taeyeon yang masih terpaku dalam pikiran dan kenangan masing-masing. Kenangan Wooyoung mengenai Taeyeon, bahwa Taeyeon adalah cinta pertamanya. Dan kenangan Taeyeon mengenai Wooyoung, bahwa dia adalah idola Kicheol dan laki-laki cuek paling pengecut yang pernah dikenalnya.

“Arsitek, huh?” Taeyeon memecah keheningan diantara mereka.

Wooyoung tersenyum dan mengangguk. Dia mengayuh sepedanya mendekati Taeyeon dan mengulurkan tangannya. “Senang bertemu denganmu lagi” Ujar Wooyoung.

Taeyeon menyambut uluran tangan itu dan tersipu. Tiba-tiba dia ingat pertanyaan yang selalu ditanyakannya pada Wooyoung ketika mereka SMA. Tapi sebelum dia menanyakan hal itu, Wooyoung melepaskan genggaman tangannya dari Taeyeon. Membuat Taeyeon malu, karena dia menggenggamnya erat tadi.

Lalu dia tersenyum, senyuman yang sama sekali berbeda dengan senyum sinis yang sering diberikannya pada Taeyeon dulu. “Kau mau naik sepeda bersamaku?” Wooyoung menawari.

Taeyeon mengangguk dan duduk di kursi yang ada di belakang. Mereka hanya diam, tidak berisik seperti Nichkhun dan Tiffany, mereka tertawa-tawa tidak jelas. Nichkhun mengajari Tiffany naik sepeda, dan Tiffany menertawakan kekonyolannya, semua itu terlihat serasi. Sedangkan Wooyoung dan Taeyeon menikmati momen mereka yang melankolis dalam diam.

Hanya diam yang bisa menjelaskan rasa rindu di dalam dada Taeyeon. Walaupun dia tidak pernah berharap akan bertemu pria ini lagi, ia sempat menanam biji untuk pria itu di dalam hatinya. Ia juga pernah mengharapkan pria itu mengungkapkan perasaannya padanya, namun hal itu tidak pernah terjadi. Pria ini pengecut, dan Taeyeon mengakui bahwa dirinya sendiri juga seorang pengecut.

“Taeyeon-ssi, bagaimana kabar Kicheol?” Kata Wooyoung dengan terengah-engah, ia sudah tidak ingat kapan terakhir kali ia naik sepeda. Mmm, dia bohong, dia ingat. Bahkan tidak pernah melupakannya.

“Kicheol? Dia sudah kelas 3 SD, “ dia juga sering membicarakan tentangmu. Tambah Taeyeon dalam hati. “Kau tidak ingin bertanya tentangku?” Kata Taeyeon.

“Banyak” Jawab Wooyoung singkat sambil tersenyum. Taeyeon yang ada dibelakangnya ikut tersenyum. Jang Wooyoung yang dulu sinis dan super duper cuek di hadapannya, telah bertransformasi menjadi pria manis yang pemalu sekarang.

Setelah itu mereka mulai membicarakan tentang kuliah mereka. Menceritakan soal kabar keluarga mereka. Wooyoung sempat menanyakan mimpi Taeyeon soal meneruskan usaha Roti ‘Bong’ keluarganya. Dia bilang dia akan melakukannya setelah kuliah, dia juga sempat mengatakan bahwa dia merindukan Busan, dan segalah hal tentang tempat itu. Wooyoung berbeda dengan Taeyeon, dia malah senang di Seoul. Mempunyai banyak teman, memiliki pencapaian yang jelas. Namun sejauh ini mereka masih belum bisa berkata jujur mengenai sesuatu yang membuat mereka terpaku tadi.

Wooyoung, yang tertegun karena melihat cinta pertamanya,

Dan Taeyeon, yang cintanya berakhir sebelum sempat berbuah,

Wooyoung mengayuh sepedanya, mereka terdiam lagi. Sama-sama menikmati keheningan dan suara angin yang menerpa disekitar mereka.

Wooyoung menyerahkan tumblernya pada Taeyeon. Taeyeon mengambilnya dan menegaknya separuh. Setelah itu dia memberikannya pada Wooyoung yang mandi keringat. Kasihan juga melihat pria itu menjadi ojek sepeda untuknya dari tadi.

Setelah menutup tumblernya, Wooyoung duduk di samping Taeyeon. Ia duduk tiga jengkal dari Taeyeon, mencoba mengendalikan perasaannya yang sedari tadi ingin meledak. Dia merasa seperti pria paling bahagia di dunia sekarang.

“Wooyoungie”

“Taeyeon-ssi”

Kata mereka bersamaan. “Kau dulu saja” kata Taeyeon.

Wooyoung mengerjapkan matanya dan menatap Taeyeon lekat-lekat. Dia memberikan seulas senyum pada Taeyeon, dan menggenggam tumblernya erat-erat. Ia semakin tidak bisa mengendalikan perasaannya, tapi sebagai pria terhormat dengan kemampuan bahasa yang baik, ia harus memulai kalimat itu dengan kata-kata yang berkesan. “Aku sering berjanji pada diriku sendiri mengenai ini itu, dan aku selalu menepatinya,”

Taeyeon memeluk lututnya dan menjadikannya tumpuan kepala. Wajahnya melihat ke arah Wooyoung, memberikan perhatian penuh pada apa yang akan dikatakan pria itu.

“Ada satu hal yang belum kutepati,” Wooyoung mengikuti gerakan Taeyeon sebelumnya, dan sekarang mereka saling bertatapan. “Aku ingin mengatakan perasaanku padamu ketika diberi kesempatan untuk bertemu denganmu lagi, dan aku akan mengatakannya padamu sekarang,”

“Sebenarnya aku menyukaimu, sangat menyukaimu, maafkan aku baru memberitahumu sekarang, aku terlalu pengecut untuk mengatakannya”

Taeyeon meraih tangan Wooyoung dan tersenyum. “Aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk pengakuan itu”

“Kau tahu?”

“Semenjak aku benar-benar memperhatikan puisi itu, ya,aku tahu. Itulah kenapa aku selalu memancingmu untuk memberitahuku siapa orang itu, aku tahu jawabannya adalah aku sedari dulu”

Wooyoung tersenyum, menertawakan dirinya sendiri. Lalu apa yang ditakutkannya dulu, dihajar anak SMP kekasih Taeyeon waktu itu? Ditolak? Harga dirinya berkurang?

Well, sekarang setelah semuanya terbongkar, kau ingin memulai sesuatu?”

“Sesuatu?”

Wooyoung mengangguk dan memijit jari-jari tangan Taeyeon dengan lembut. “Kupikir hari ini adalah hari yang baik untuk memulai suatu hal yang baru”

Apa ya? Gue cuma pengen bikin ff happy ending,, dan berharap gue juga

huh, maap kalo banyak typo, author bikin sambil di kejar Bu Diarti

maaf ya yang nggak suka Woo-Tae,, hehehe.. i just think that they were UNYU,

“Terimakasih karena sudah membaca. dan jika tidak keberatan maka saya ingin anda memberi support. Tolong kritik dan saran, tapi tolong jangan nge-bash, itu tidak baik”

HIMRASAKI

-Ahnmr

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

4 thoughts on “It’s Time To Start”

  1. aaaaa~ bagus! though, I am changtaeng shipper, aku setuju sama kamu. mereka unyu.
    overall bagus sih. ada bberapa typo dan ejaan yg salah, terus entah kenapa aku malah ngerasa yang lebih hidup disini Khunfany daripada Wootae. iya ga sih?
    sering-sering bikin yang ringan gini aja Li. kamu cocok sama genre bgini, apalagi sama gaya bercerita kamu.
    fighting yaaa~

    1. ya makasih kakak!! dapet c ya?
      iya,, masalahnya aku juga sambil di kejar buat belajar ulangan karawitan waktu ngerjain nih cerita,, aku juga mikir gitu sih,, masalahnya waktu aku bikin khunfany feel-ku lagi ada banget!!!
      aku pengen berkembang ih, pengen coba-coba genre lain, sebenernya aku pinter bikin fantasi lho mbak, yang peri-peri gitu (?)
      Oke, sip!! ini fighting kok

      1. Mmm . . . B+.
        Yaudah dibikin gih. aku juga (dulu) punya project mau bikin fantasi. it related to Olympus Gods and Godesses. tapi terbengkalai. Well, ditunggu peri-perimu yaaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s