Girls: Broken Hearted People [Part 1]

Girls-3rdposter

Broken Hearted People [Jessica]

Author: Ahnmr || Cast: Jessica Jung (SNSD), Lee Donghae (Super Junior), Kwon Yuri (SNSD), Cho Kyuhyun (Super Junior), Im Yoona (SNSD), Lee Jonghyun (CNBlue) || Add. Cast: Ok Taecyeon || Genre: Life, Friendship, Family, Romance || Rating: +15

(Posternya jelek, sori)

(Part lainnya)

–ahnmr copyright–

Di antara kami bertiga, akulah yang paling mudah jatuh cinta. Aku juga yang paling tidak mudah patah hati. Itulah kenapa pagi ini aku jadi yang paling normal diantara kami bertiga.

Aku membaca buku dengan gaya sok intelek di hari minggu yang cerah itu. Sedangkan Yoona, dia sudah mengurung dirinya selama tiga hari dan keluar dari kamar hanya untuk pergi kuliah dan pergi ke kamar mandi. Lebih parah lagi Yuri. Semenjak putus dari kekasihnya tiga bulan yang lalu, sepulangnya dari kantor dia ber-karaoke tidak jelas di kamarnya dan mengeraskan volumenya sampai maksimal (Soal mesin karaoke itu, kami memenangkannya dari sebuah kuis setahun yang lalu). Setelah itu ia akan menyanyikan lagu-lagu yang malah membuatnya semakin larut dalam kesedihannya. Tentu saja itu membuat telingaku sakit dan yang lebih menyebalkankan adalah, aku harus menjelaskan pada setiap tetanggaku yang protes jika Yuri sedang depresi. Aku bahkan mengarang cerita, jika Yuri diganggu dia bisa bunuh diri.

Yoona keluar dari kamarnya mengenakan piama Hello Kitty pagi itu. Astaga, piama itu. Piama buluk itu seperti pakaian wajib ketika Yoona patah hati. Baginya, Hello Kitty adalah simbol patah hati, tapi sebenarnya itu hanya pertanda jika dia belum bisa melupakan cinta pertamanya waktu itu. Pria yang menolaknya seperti undian gagal beberapa tahun yang lalu.

Kulihat wajahnya yang masih sembab. Hidungnya merah seperti orang flu, matanya jadi lebih sipit dari biasanya , rambutnya juga kusut seperti singa, itu artinya dia sudah melalui tahap paling parah, dan dalam beberapa jam, dia akan bersikap seperti Yoona yang biasa, Yoona yang cerewet, yang sok tahu, dan sok imut.

Dia berjalan masuk ke kamar mandi hingga tanpa melirikku sedikitpun. Mungkin bagi orang patah hati dunianya serasa hancur, itulah kenapa pandangan mereka jadi kabur. Sehingga melupakan sahabatnya yang sedari tadi memperhatikan dia berjalan.

Terdengar suara pintu di tutup pelan. Aku menoleh ke asal suara itu, dan terlihat Yuri baru saja keluar dari kamarnya dengan penampilannya yang benar-benar berantakan dan… Tunggu. Apa? Dia pakai baju pesta? Jadi kegilaannya sudah naik level sekarang.

“Kau mau kemana?”

“Kamar mandi” jawabnya pendek.

Dia berjalan dengan langkah gontai, kepalanya menengadah dan matanya terpejam. Huh, Stress! Semua ini membuatku ikutan stress. Sebagai orang paling tua di apartemen ini, aku berkewajiban menjaga dan bertanggung jawab atas mereka berdua. Bagaimana jika Ahjumma Im dan Ahjumma Kwon sampai tahu anak perempuan mereka jadi seperti ini? Pasti aku yang disalahkan. Pasti!

Mendadak ponselku bergetar. Aku meletakkan buku novelku di atas meja dan melihat ada pesan masuk,

… dari Taecyeon.

Cih! Kenapa dia masih mengirim pesan padaku? Bukankah kami sudah berpisah sejak lama. Tiga hari yang lalu bisa kubilang lama kan?

Aku membuka pesan itu dan membacanya dengan malas.

Jess, aku perlu bertemu denganmu

Oh, jadi sekarang dia ingin bicara padaku? Kira-kira apa? Menjelaskan alasan kenapa dia bermesraan dengan gadis itu? Sungguh tidak tahu malu. Seperti itu masih berani bicara padaku.

Akhirnya aku menghiraukan pesan itu dan melemparkan ponselku ke samping sofa.

“Yoong !! Ppalli!!” teriak Yuri di depan pintu kamar mandi sambil menggedor pintunya keras-keras.

Uh, jika aku mempunyai uang lebih. Aku akan membeli rumah untuk kami dan membeli yang kamar mandinya ada tiga. Jadi, jika satu rusak masih ada dua kamar mandi lagi yang bisa digunakan, sehingga kami tidak perlu mengantri dan menggedor-gedor pintu segala. Sayangnya, uang patungan kami, di tambah sumbangan dari orangtua dan saudara kami hanya cukup untuk membeli apartemen ini. Apartemen ini saja sebenarnya untuk dua orang dan kamar Yoona hanya kamar tambahan.

YA!!! Aku perlu ketenangan di sini” teriak Yoona dari dalam kamar mandi.

Uh-oh, kenapa sekarang aku jadi ikut-ikutan kebelet. Aduh, kenapa harus sekarang? Ya Tuhan selamatkan aku. Jangan biarkan aku ikut jatuh ke dalam jurang masalah.

Oh…

Aduh, sudah di ujung tanduk. Aku segera berlari ke kamar mandi dan berdiri di belakang Yuri. Melihatnya dengan pakaian pesta super seksi seperti itu benar-benar menyakiti mata. Apa dia segila itu sampai-sampai harus bersolek di dalam rumah. Rasanya aku ingin menghentikan mulutku untuk berkomentar, namun tidak bisa. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku, tanpa rencana, tanpa di sengaja.

“Aku tidak habis pikir, Kwon Yuri. Kau berpakaian seperti itu di dalam rumah, kau minum paracetamol berapa butir semalam? ” kataku sambil menatapnya miris.

Yuri melemparkan tatapan membunuh padaku. Koreksi, tatapan membunuh yang depresi. Bagaimana ya? Pokoknya antara ingin membunuh dan depresi.

“Kau kesini untuk membuat suasana hatiku lebih buruk atau apa?”

Aku menggigit bibir karena menahan kantung kemihku agar tidak bocor sekaligus takut dengan seringai Yuri yang benar-benar sadis. Oh, dia cocok sekali jadi tokoh antagonis dalam drama.

“Aku, hanya… “ Ini sangat menggangguku, rasanya aku tidak bisa tahan lagi. “YOONA!! PPALLI!!!”  Teriakku.

Yuri langsung ikut menggedor-gedor pintu dengan lebih ekstrem, ia sampai mencakar-cakar daun pintu itu dan menendangnya dengan tendangan khas taekwondo.

“FIGHTING!!!!!” Teriak Yoona dari dalam, bagian itulah yang tidak kumengerti. Baru kali ini aku tahu orang berteriak seperti itu pada pengantri anarkis.

Pintu itu terbuka, mataku berbinar-binar seperti baru saja melihat harta karun paling berharga di dunia. Aku dan Yuri berebut masuk, namun karena badanku lebih pendek dan kecil aku berhasil di dorong keluar oleh Yuri. Kurang ajar, mana sopan santun anak itu. Aku lebih tua darinya, seharusnya dia mendahulukanku.

Eonni, aku berhasil melupakan semuanya,” kata Yoona sambil mengepalkan tangannya dan melihatku penuh tekad.

Bohong, mana mungkin dia bisa melupakan Junwon secepat itu, tapi dilihat dari wajahnya dia sudah terlihat baik-baik saja. Mungkin dia sudah mendapatkan pengganti, baguslah! Artinya aku tidak perlu bohong kalau saja Ahjumma Im menelponku dan menanyakan keadaan Yoona. Tapi kurasa Yoona memang bisa saja move on secepat itu, Maksudku, dia adalah yang paling cepat mendapat teman laki-laki di antara kami, jadi tidak heran jika dia bisa move on dengan… Cepat.

Oh tidak, aku hampir saja mengompol. Aku harus ke kamar mandi secepatnya.

Eonni, kau tidak apa-apa?”

“Apa aku sungguh terlihat tidak apa-apa, Yoong? ini sudah di ujung tanduk” kataku sambil meremas celanaku.

Yoona adalah orang yang mudah panik. Jika ada orang panik dia akan ikut panik seperti orang itu, atau bahkan lebih panik. “Oh, Eonni,  kau harus segera pergi ke kamar mandi, tidak mungkin sekarang, Yuri Eonni pasti lama, uh, Eotteoke?” tanyanya pada dirinya sendiri. Ia menjambak rambutnya yang kusut dengan frustasi.

“Pispot, pispot!” kataku. Bodoh, kami bahkan tidak mempunyai pispot. Lagipula pispot itu untuk bayi.

“Apa kau tidak bisa menahannya lebih lama?”

Aku menggeleng dengan wajah memelas.

“Baiklah, kita ke apartemen sebelah” kata Yoona sambil menarik lenganku.

Ya! Kau gila! Ke apartemen tetangga? Mau taruh di mana wajahku?” tanyaku.

“Lalu mau di taruh mana ***** mu itu? ha?” kata Yoona mengingatkan.

Aku mendengus dan berpikir dua kali. Uh, aku lebih baik mati saja dari pada seperti ini. “YURII!!!!!” teriakku. Yoona memegang kedua bahuku dan menuntunku keluar apartemen. Apa maksudnya ini? Tanyaku dalam hati sambil melotot ke arah Yoona.

Andwae!!!!” kataku sambil memberontak. Oh ya, aku lupa jika Yoona adalah yang paling kuat diantara kami bertiga, percuma memberontak.  Karena kekuatannya itu, sesekali ia beralih profesi dari mahasiswi menjadi jasa kuli gratis.

Yoona sepertinya memang ingin mempermalukanku. Dia menekan bel pintu tetangga kami dan berlari meninggalkanku. Ia berhasil masuk ke apartemen dan membanting pintu sekeras mungkin. Jantungku berdegup kencang, antara ingin ke kamar mandi, kesal pada Yoona, takut jika pemilik apartemen ini benar-benar akan membuka pintunya, dan aku bingung akan memberikan alasan apa.

Kakiku bergetar, aku berusaha sekeras mungkin untuk menahannya. Terdengar suara orang membuka kenop pintu. Aku mencoba terlihat senormal mungkin, namun bagaimana bisa aku bertahan agar tidak mengompol?

Seseorang membuka pintu itu, tepatnya seorang pria. Kami memanggilnya Ahjussi Apartemen Sebelah. Aku memang sering berpapasan dengannya, di lift, di depan apartemen, atau di lorong. Tapi ada perasaan familier aneh tiap kali aku bertemu dengannya. Rasanya aku pernah mengenalnya, tapi aku lupa dimana dan kapan.

Di samping hal itu, Perasaan kebelet pipis ini semakin menyiksa. Aku tidak peduli lagi dengan pria itu. Aku hanya ingin pergi ke kamar mandi. Aku mengurangi basa-basi dan memaksakan senyum di wajahku.

“Eh, Annyeong” kataku.

Pria itu mengangguk dan membalas senyumanku. Matanya terlihat sedang menganalisa apa yang tengah dilihatnya. “Annyeong” sahutnya canggung.

“K..kamar mandi di apartemenku rusak, jadi,” Itu tidak sepenuhnya bohong, kamar mandi yang ada dikamarku memang rusak. “Bolehkah aku pinjam,” lanjutku sambil menahan pipisku.

“Tentu saja, tidak masalah. Kamar mandinya ada di sana” katanya sambil menunjuk pintu kamar mandi.

Aku mengangguk dan merangsek masuk ke apartemennya. Aku tidak sempat melihat-lihat secara detil apartemen itu. Namun dari apa yang kulihat apartemennya cukup rapi dan tidak banyak perbedaan dengan apartemen kami. Tanpa pikir panjang aku masuk ke kamar mandi dan mencari kloset.

Aku membungkuk pada laki-laki itu dan tersenyum canggung. Ini sangat memalukan, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan selain terimakasih dan minta maaf. Segera setelah dia membalas senyumku aku berlari ke depan pintu apartemen dan menekan passwordnya. Aku ingin membunuh Yoona.

Itu dia, sedang memakan sesuatu di meja makan. Aku melihatnya dengan berapi-api. Bisa-bisanya dia makan setelah mempermalukanku seperti itu.

Ya!” Kataku sambil melangkah kesal ke arah meja makan.

Dia melongok dan tersenyum polos padaku. “Oh, Eonni! Bagaimana keadaanmu sekarang? Baikan?”

Oh hebat sekali dia. Masih bisa tersenyum seperti itu dan memakan sayurnya dengan lahap.

“Aku akan membunuhmu” kataku sambil duduk di kursi yang ada di depannya dan melotot padanya.

Yoona tertawa lebar. Ugh, terkadang sulit mempercayai Yoona sebagai seorang sahabat. Sahabat mana sih yang rela mempermalukan sahabatnya seperti itu. Aku masih menatapnya sadis, aku belum ingin memaafkannya. Aku masih malu dengan kejadian pagi ini.

“Jangan marah, Lagipula besok April Mop aku mendahului sehari tidak apa-apa kan? Makanlah!” kata Yoona sambil menunjuk wajahku dengan sendok yang digunakannya. Aku menaikkan alis kiriku dan menatapnya dingin. “Baiklah, aku habiskan semuanya, nih!” kata Yoona

Tiba-tiba pikiranku melayang ke kejadian ketika pria itu membuka kenop pintu. Matanya mengatakan jika dia pernah mengenalku, aku juga merasa seperti itu. Tapi aku benar-benar lupa dimana aku pernah bertemu dengannya dan kapan, aku memang orang dengan memori yang buruk, itulah kenapa catatan sangat penting bagiku. Dan itulah alasan kenapa aku tidak begitu mengingat banyak dari masa laluku, kecuali yang memang sangat ingin kuingat.

“Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu, kira-kira apa itu?” kata Yoona dengan nada lawak.

Aku menggeleng dan menumpukan dagu ke kedua telapak tanganku. “Ck, aku kesal pada diriku sendiri” keluhku.

Yoona terlihat sedikit terkejut, Apakah kalimatku tidak masuk akal? Oh ya, mungkin. Tidak biasanya aku kesal pada diriku sendiri, dan itu mungkin mengejutkan bagi Yoona. Aku memang orang yang kelewat narsis, jadi aku selalu mengutamakan diriku di atas orang lain. Mendengar aku kesal pada diriku sendiri mungkin seperti mendengar ‘Bumi itu kotak’.

We?” tanya Yoona pendek. Dia memasukkan sesuap nasi ke mulutnya dan melihatku penuh tanda tanya.

Aku menghela nafas dan melupakan masalah ‘malu’ tadi, kemudian melihat ke arah sup yang dimakan Yoona. “Aku kesal karena aku orang yang pelupa” kataku.

Yoona mengangguk sambil mengunyah makanannya. Sepertinya dia baik-baik saja dengan nasib yang kualami. Kemudian dia memetik jarinya dan melihatku penuh antusias. “Ponselmu tadi berbunyi beberapa kali,ada lima lebih pesan masuk, dan beberapa missed call,karena itu mengganggu, aku terpaksa membacanya”

Sepertinya aku memang harus menegakkan peraturan soal sopan santun di apartemen ini. “Aisshh, jinjja” kesalku.

“Semuanya dari Taecyeon Oppa, dia bilang ingin menemuimu, di Mango Six saat jam makan siang” Yoona memberitahuku seolah-seolah itu adalah hal terpenting di dunia. Dan ngomong-ngomong, dia benar-benar terlihat telah pulih dari patah hatinya. Ini bisa dibilang yang paling cepat dan paling tidak berkesan yang pernah kulihat. Apakah dia hanya mempermainkan Junwon? Lalu kenapa dia sampai mengurung dirinya selama tiga hari?

“Terserah dia sajalah, aku juga tidak akan datang”

“Ah, Eonni, Kenapa? Dia terlihat tulus padamu, dia juga tampan, chaebol pula, nilai plus-nya dia sepupuku, kau tidak serius putus dengannya kan?” tanya Yoona.

“Tulus katamu? Sejak kapan laki-laki sepertinya bisa mencintai seseorang dengan tulus?” Elakku. Dan Tentu saja yang kukatakan itu terbukti.

“Tapi dia terlihat seperti itu, Dari semua pria yang pernah berkencan denganmu sih, kulihat seperti itu” kata Yoona.

“Ck, jika kau menyebut namanya lagi di bawah plafon apartemen ini, aku akan mengusirmu” kataku galak.

Air muka Yoona langsung berubah takut. “Tapi, Eonni,” Dia terlihat tidak bisa berkata-kata. “Arasseo, arasseo” Ujarnya pasrah sambil tersenyum kecil padaku.

“Yuri belum keluar?” tanyaku ketika baru saja ingat.

Yoona menggeleng. “Dia sudah keluar tepat ketika aku masuk tadi” jawabnya polos.

Aku tersenyum jahat dan menggeretakkan jari-jariku. “Oh, jadi tadi itu maksudnya apa?”

Yoona meletakkan sendoknya dan terdiam. Dia berdehem dan mendongakkan kepalanya ke arah plafon. Kemudian dia mengedarkan pandangannya ke sekitar dapur dan tiba-tiba berlari masuk ke kamarnya.

Ya! Im Yoona!! Sialan kau! Kau Mau Aku Membunuhmu???!!!!”

Issh!!! Sia-sia saja memarahi anak itu. Dia itu muka tebal, tidak sensitif dan terlalu santai. Terkadang susah sekali untuk bicara serius padanya.

Gwaenchana ~ , GwaenchaNA ~, GwaenCHANAAAA,”

Aku menepuk keningku dan menyandarkan punggungku ke kursi. Yuri sudah kembali ke mode karaokean-tidak-jelas. Rasanya aku ingin keluar dari apartemen ini dan bersantai entah dimana, pokoknya tidak di apartemen dan tidak ke Mango Six. Tidak hari ini. Aku tidak ingin bertemu Taecyeon bagaimanapun juga.

Salon adalah tempat terbaik untuk bersantai dan melupakan beban tentang pria. Tapi ke salon sendirian benar-benar tidak menyenangkan. Biasanya aku akan mengajak Yuri, dan baru setelah itu Yoona. Tapi  tidak mungkin untuk mengajak Yuri hari ini, dia masih kritis. Sedangkan Yoona, aku rasa aku masih marah padanya. Dan kalau dia tidak minta maaf duluan aku tidak mau mengajaknya bicara. Tapi ini membosankan, sedari tadi aku hanya menekan tombol di remote dan mengganti-ganti channel TV. Sambil membayangkan kepalaku dipijit oleh Eonni-eonni yang bekerja di salon.

Eonni!” Yoona mengagetkanku. Dia terkekeh sebentar dan melompat ke atas sofa. “Mianhae soal yang tadi itu, tadi itu 100% iseng, lagipula besok kan April mop”

Aku mengangguk dan tidak menanggapi Yoona serius. Yoona merengut dan menarik lengan bajuku. “Jangan menggangguku” kataku.

Yoona tersenyum dan memelukku. “Aku senang kau mau bicara padaku” katanya.

Aku ikut tersenyum geli dan mendorongnya. “Aku sudah memaafkanmu, tapi bukan berarti aku tidak marah, aku masih marah tahu!” kataku dengan marah yang dibuat-buat.

“Oke, aku mengerti” katanya sambil membuat tanda oke dengan jarinya.

“Kau mau pergi ke salon?” tanyaku sambil mengamati rambut coklat terangnya yang kusut.

Dia mengikuti arah pandangku. Setelah itu ia memegang-megang ujung rambutnya sambil cemberut.

“Ide bagus. Kita ajak Yuri Eonni juga ya?” katanya.

Hampir saja dia berdiri dari sofa dan berlari ke kamar Yuri. Jika aku tidak menarik lengannya, Yuri bisa marah-marah dan memecahkan sesuatu di apartemen, tidak. Aku menggeleng pada Yoona.

“Ah, Ne, aku mengerti. Jadi hanya kau dan aku, kita meninggalkan Yuri Eonni sendirian di sini?” tanyanya seperti tidak kenal Yuri saja. Padahal kami sudah tinggal seatap kurang lebih tiga tahun. Tapi memang sih, Yuri jarang patah hati hingga seperti itu. Dia susah jatuh cinta. Setahuku dia baru patah hati dua kali, saat pertama kali kami bertemu. Dan kemarin itu? Apa tiga kali ya?  Errghh. Aku lupa.

“Mm” sahutku seraya mengangguk.

“Baiklah, aku akan siap-siap dulu, jam berapa sekarang?” tanya Yoona.

Aku melihat ke arah jam dinding. “Sepuluh kurang lima menit” Jawabku. Ih, anak itu! Apa dia tidak bisa melihat sendiri?

“Tunggu aku ya Eonni sayang” katanya sambil memelukku. Apakah ini efek dari patah hati kali ini? Karena ini sedikit menggelikan bagiku, Yoona bukan makhluk yang hobi memeluk.

Author P.O.V

Pria itu mengacak-acak rambutnya dan memandang ke sekeliling bandara. Ia celingukan mencari seseorang. Seperti yang terlihat, ia sama sekali tidak bisa menemukan sosok itu. Ia kembali melihat sepotong kertas kecil yang sedari tadi di pegangnya. Ia melipat kertas itu dan memasukkannya  ke dalam saku celana. Dia juga mencari benda lain, ponselnya.

Setelah mendapatkan ponsel itu, ia menyalakan ponselnya dan menunggu beberapa saat sampai benar-benar menyala. Tanpa mengulur waktu lebih lama, ia langsung mencari-cari nama kontak itu dan langsung menelponnya sambil berjalan agar tidak menghalangi orang-orang yang mau lewat.

It’s me, I’ve been waiting for you, where are you?” katanya dengan logat british, ia lelah dan tidak suka berdiri lama-lama.

Pria itu berhenti sejenak dan mendengarkan jawaban dari orang yang di telponnya. “Ah, Geurom. Okay, i’ll go catch a cab, just send me the right address and your apartment password”

Pria itu menutup teleponnya dengan sedikit kasar. Dia memang terbiasa tidak sopan seperti itu. Dia juga bukan tipikal yang suka berbasa-basi.

Dia keluar dari bandara dan melambaikan tangannya pada sebuah taksi. Taksi itu berjalan mendekatinya. Dia menyapa sopir taksi dengan senyuman tipis, tanpa dibumbui kata-kata ataupun gerak tubuh yang lain. Ia menaruh koper dan semua barang-barangnya di bagasi. Tak berapa lama, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dia mengangguk kecil dan masuk ke dalam taksi.

Ahjussi, bisakah kau pergi ke Seoul, tepatnya alamat ini” Ujar pria itu pada sang sopir sambil menunjukkan pesan yang barusan di terimanya.

“Tentu saja” kata sopir itu dengan bersemangat. Saat itu masih terbilang cukup pagi dan normal saja jika sopir itu masih bersemangat.

Pria berambut coklat gelap itu mengangguk dan tersenyum pada sopir itu. Ia langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan bersandar ke pintu.

Segera setelah taksi itu berangkat, ia memakai kacamata hitam untuk menghalangi sinar matahari yang akan mengganggu tidurnya. Lama-lama matanya ikut terpejam seiring taksi berjalan menjauhi area  bandara. Dia benar-benar lelah setelah perjalanan panjang semalam, dia ingin memejamkan matanya untuk beberapa saat dan berniat akan bangun lagi ketika ia sudah sampai di Seoul.

Back To Jess..

Aku sudah berdandan dan menghabiskan satu acara TV saat Yoona keluar dari kamarnya dengan penampilan yang dimaksudkan untuk membuatnya terlihat cantik. Tapi tetap saja, rambutnya yang kusut masih belum bisa teratasi. Aku memberinya saran untuk memakai topi. Dia menerima saranku dan memakai Beanie pink kesayangannya. Terkadang aku iri, sehancur-hancurnya penampilan Yoona, dia masih terlihat cantik walaupun sedikit.

“Aku siap! Aku siap!” katanya dengan lagak konyol Spongebob.

Kkaja” kataku dari luar apartemen. Yoona berlari kecil mendahuluiku. Setelah aku menutup pintunya, aku langsung menyusul Yoona dan masuk ke dalam lift.

Tidak ada gunanya berlama-lama marah padanya, entah bagaimana caranya. Dia selalu bisa membuatku peduli padanya dan menanggapi semua perkataannya. Pada akhirnya aku tertawa karena gurauannya soal security guard apartemen bertampang sangar itu.

Beruntung kami tidak perlu repot-repot memanggil taksi. Keluar dari gedung apartemen, sebuah taksi langsung berhenti di depan kami. Aku dan Yoona saling berpandangan dan tersenyum.

“Kita memang beruntung bukan?”kata Yoona.

“Kau benar” aku mengiyakan.

Yoona berbicara pada sopir taksi yang baru saja menurunkan jendela mobilnya. Kulihat sopir itu tersenyum sambil mengangguk. Tiba-tiba seseorang membuka pintu penumpang dari dalam. Aku terkejut dan mundur sedikit.

Seorang pria keluar dari taksi itu, penampilannya sangat berantakan, ia mengenakan kacamata hitam yang membuatnya tampak lebih keren. Dia berjalan ke belakang taksi dan mengambil beberapa barang dari bagasi. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikannya karena dia sangat eye candy. Setelah mengambil barang-barangnya dia lewat di depanku dan memaksa Yoona untuk menyingkir dari hadapan sang sopir dengan sedikit mendorongnya ke samping.

Aku langsung menyadari perubahan ekspresi di wajah Yoona. Ia terlihat sedang mengumpat-ngumpat pria itu dalam hati. Setelah laki-laki itu selesai dengan urusannya, ia pergi tanpa mengatakan apapun. Sungguh tidak sopan. Setidaknya dia harus minta maaf. Pikirku

Mannae eopseo!” teriak Yoona pada pria itu sambil menjejakkan kakinya keras ke atas tanah.

Pria itu menoleh sekilas dan langsung melanjutkan perjalanannya memasuki gedung apartemen.

“Sudahlah, Ayo! Keburu siang” kataku sambil menariknya masuk ke dalam taksi.

Saat kami masuk ke dalam taksi Yoona masih bersungut-sungut soal pria tadi. Ia bahkan sempat mengumpat dengan kata-kata kasar. Dan itu membuatku malu saat mengetahui sopir taksi itu menertawakan kami.

“Pria @$%^*#, dasar a$#^@%” Umpat Yoona.

Aku menghela nafas panjang dan memarahinya dengan menjitak kepala Yoona. “Ya! Kau ini perempuan, jaga mulutmu!” kataku sambil menjitaknya lagi.

“Aisshh, Jinjja, kau tidak ada bedanya dengan Ibuku” kata Yoona sambil melirik tajam ke arahku.

“Jika tidak ada bedanya, aku tidak akan mengajakmu ke salon” belaku. Enak saja, aku tidak ingin disamakan dengan Im Ahjumma yang galaknya minta ampun itu. Hii, membayangkan wajahnya saja aku ngeri.

“Ah, Molla!” Yoona cemberut dan melipat tangannya di depan dada. Sunguh kekanak-kanakan, itulah kenapa dia cepat putus. Dia terlalu cepat marah dan jarang menganggap serius segala hal. Hmm, satu lagi, dia jarang melakukan sesuatu dengan tulus.

Seingatku dia selalu bilang ‘Aku tulus kali ini’ tiap kali mendapat kekasih baru. Namun tunggu saja seminggu atau paling lama 3 bulan, ia pasti sudah putus dan mengurung dirinya di kamar, mencoba menyalahkan dunia karena tidak adil padanya. Padahal –menurut observasiku dan Yuri- dia sendiri yang menyebabkan hubungan itu berakhir.

“Baiklah, baiklah! Marah saja” kataku. Yoona tidak melirikku sedikitpun, ia masih larut dengan dirinya sendiri. Aku jadi bingung, kenapa dia malah balik marah padaku? Ah, biar saja beberapa menit lagi dia pasti sudah bisa bergurau.

Eonni, eonni, baju couple itu menggelikan! Lihatlah!” katanya sambil menunjuk sepasang kekasih  memakai baju couple berwarna kuning. Si pria berperawakan gendut dan pendek, sedangkan si perempuan berpostur bak model. Aku ingin tertawa tapi tidak tega, tidak seharusnya kami menertawakan hal seperti itu. Namun mau bagaimana lagi? Itu menggelikan.

Ternyata tidak perlu beberapa menit, cukup sesuatu yang dapat membuatnya geli.

Setelah wajah, rambut, dan kulitku dimanjakan, perutku sepertinya juga minta di manjakan dengan makanan-makanan enak. Tapi lidahku tidak mau bekerja sama, aku kehilangan selera makanku sejak kejadian memalukan tadi pagi. Sedangkan dari tadi Yoona sudah melirik restoran yang berjejeran di sepanjang jalanan Apgeujong yang seolah-olah mengantri untuk di datangi.

Mango Six

Hanya itu yang tercancang di pikiranku sedari tadi. Sepertinya ada sesuatu yang harus kulakukan di sana, tapi aku tidak bisa mengingatnya. Jujur aku sangat haus dan tidak ingin makan makanan berat, jadi minum di Mango Six adalah pilihan paling tepat. Lagipula, tinggal jalan beberapa meter lagi.

“Yoong, kita ke Mango Six ya?” kataku.

Ekspresinya berubah bingung. “Kau yakin?” tanya Yoona.

“Iya, memangnya kenapa?”

Yoona mlirik ke kanan ataa, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Aku memang pelupa namun aku pintar menduga-duga. Lewat garis wajahnya aku bisa menyimpulkan jika memang ada sesuatu di Mango Six.

“Oh, baiklah, kita ke Mango Six, kajja, kajja” kata Yoona bersemangat.

Yoona menarik lenganku dan mengajakku berlari masuk ke tempat itu. Aku sih senang-senang saja, tapi aku masih merasa linglung. Tempat itu masih sama, tidak ada yang berubah –tentu saja Jess, terakhir kali kau kesana kan tiga hari yang lalu- Masih ramai, penataan tempatnya masih sama, bahkan masih saja mengingatkanku pada… Taecyeon.

Aku bergidik, Yoona masih berbicara pada seorang pelayan saat aku mulai sadar. “Mango Coconut, tiga” katanya sambil tersenyum ke arah pelayan itu. Aku segera menarik tangannya, namun dia menepis tanganku.

Ya, kita harus pergi, aku tidak ingin ke sini” kataku.

Aku baru saja ingat tentang pertemuan siang ini dengan Taecyeon. Aku tidak ingin bertemu dengannya, aku harus pergi sekarang sebelum dia datang. Akhirnya karena Yoona bersikeras untuk tidak pergi, aku memutuskan untuk pergi keluar dan menunggunya di luar Mango Six. Setidaknya hal itu dapat memudahkanku untuk kabur kalau-kalau Taecyeon datang.

Eonni!” Yoona berlari menuruni tangga sambil membawa minuman itu.

“Jess, kau datang” Aku menoleh ke asal suara itu. Kulihat Taecyeon sedang berjalan ke arahku.

Aku langsung membuang muka dan melayangkan pandanganku pada Yoona. “Yoong, kita pulang, kasihan Yuri sendirian di rumah” kataku sambil menarik lengannya. Aku terus berjalan dan pura-pura tidak peduli jika Yoona masih menoleh ke belakang dan entah mengatakan apa pada sepupu sialannya itu.

Eonni, Kau tidak ingin mendengar penjelasan Taecyeon Oppa?” katanya, dia sepertinya pasrah saja dengan tangannya. Padahal aku menggenggamnya sangat erat, saking eratnya tanganku sendiri sampai sakit.

“Kita pulang” tegasku.

Yoona’s

Huh, aku menyesal mengenalkan Taecyeon pada Jess. Dari awal aku sudah menduga jika akhirnya akan seperti ini. Mereka itu seperti garis sejajar yang selalu berjalan lurus dan sulit untuk bertemu. Mereka berkepribadian bebas dan mudah bosan. Taecyeon yang selalu jenuh dengan sikap acuh Jessica, dan Jessica yang selalu kesal dengan sikap Taecyeon yang terlalu santai. Pada akhirnya pasangan seperti Jessica dan Taecyeon hanya akan saling menyakiti. Tapi, kenapa aku malah mengenalkan mereka ya? Mungkin saat itu aku ketularan virus Yuri yang suka menjodoh-jodohkan orang seenak jidat.

Jessica hanya diam saja di taksi. Selain dia masih marah karena kukerjai tadi pagi, sepertinya dia jadi tambah marah karena bertemu dengan Taecyeon. Salah sendiri jadi pelupa, seharusnya dia bisa me-maintain memori di kepalanya dengan lebih baik, atau dia bisa membuat reminder. Dari dulu kurasa dia selalu seperti itu jika sedang stress. Menjadi sangat pelupa, bahkan pada hal-hal kecil.

Eonni, kau mau?” kataku sambil menyodorkan satu gelas Mango Six padanya.

Dia menerimanya dan tersenyum padaku. Jess tidak segera meminumnya, dia hanya memeganginya dan melihat keluar jendela.

Aku menyayangi Jessica seperti menyayangi kakakku sendiri. Aku benar-benar paham bagaimana watak dan kepribadiannya. Dibalik sifatnya yang acuh itu sebenarnya ia sangat rapuh, ia adalah orang sensitif yang sok kuat. Aku selalu dibuat bingung soal kepribadiannya yang rumit. seperti sekarang ini, aku tahu sepertinya masalah Jessica dengan Taecyeon tidak sesederhana itu.

Jess selalu mengatakan bahwa dia tidak mudah patah hati. Itu ada benarnya, dia orang yang cepat ‘kagum’ saat melihat pria tampan. Namun dia bukan orang yang cepat jatuh cinta sepertiku.

Sebenarnya aku sedikit sangsi ketika ia mengatakan tidak apa-apa sepulangnya dari kantor Taecyeon beberapa hari yang lalu. Wajahnya keruh, hidungnya memerah, dan matanya berkaca-kaca. Namun aku tidak ingin ikut campur, saat itu aku juga baru saja putus dari Junwon. Hah, pria itu. Aku tahu aku hanya dipermainkan olehnya, tapi biar sajalah. Menambah koleksi.

Jessica menyandarkan punggungnya ke jok mobil dan aku meletakkan kepalaku di bahunya. Aku merasakan kepalanya menoleh ke arahku. Setelah itu dia meletakkan kepalanya di atas kepalaku.

Eonni, mian” kataku.

“Untuk apa?” tanyanya seolah tidak ada apapun yang terjadi.

“Tadi” jawabku pendek sambil menghembuskan nafas pelan.

“Apakah Yuri tidak apa-apa? Ditinggalkan seperti ini” tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan.

Aku menggeleng pelan dan melihat ke jalan raya.

Author’s P.O.V

Pria itu mengangkat kakinya ke atas meja sambil mengganti-ganti channel TV ditemani sebungkus cemilan rumput laut. Ia tidak sadar jika seseorang tengah memperhatikan perilakunya yang tidak sopan itu.

Annyeong” Sapa orang itu padanya.

Orang yang di sapanya menoleh sekilas dan kembali melihat ke arah TV sambil berkata, “Hyung, kau sudah datang? Cepat sekali?” dari caranya menjawab dia sama sekali tidak terkejut.

Orang yang dipanggilnya ‘Hyung’ itu berjalan ke arahnya dan memperhatikan sepupunya yang kurang ajar dari samping sofa. Perasaannya campur aduk antara senang dan kesal atas sikap anak itu. Ternyata sepupu kecilnya itu kini sudah dewasa, terakhir ia melihatnya adalah saat anak itu pergi ke Inggris enam belas tahun yang lalu.

“Hyunnie, kau sudah besar sekarang?” Nada bicaranya berubah seolah-olah ia berbicara pada anak kecil.

Hyunnie menoleh padanya dengan sorot mata cuek. Ia mengangkat alis kirinya dan mengacuhkan sepupunya itu. “Aku sudah 23 tahun sekarang, jangan menggunakan nada itu padaku” katanya

“Kau kan tetap adik kecilku, aku empat tahun lebih tua darimu” katanya sambil tersenyum.

Pria yang duduk di sofa itu tersenyum tipis dan menundukkan kepalanya. Tiba-tiba ia ingat sesuatu, ia kemudian mendongak untuk melihat kakak sepupunya. “Aku heran Hyung, bagaimana kau bisa tahan dengan tetangga yang berisik seperti di samping itu?” Ujarnya sambil menuding ke arah apartemen di sebelah kanannya.

Kakak sepupunya hanya mengedikkan bahu sambil tersenyum bijaksana. “Kenapa tidak? Mereka tidak begitu mengganggu bagiku”

“Tidak begitu mengganggu? Are you insane, they’re totally a mess! As you see, i can’t sleep, even when that noise is already gone , like an hour ago”  Teriak Hyunnie dengan wajah merah padam.

“Kau akan terbiasa, Nak! Aku sendiri perlu setiap hari untuk terbiasa dengan mereka” katanya sambil mengingat hari kepindahannya ke Seoul.

Hyunnie memicingkan matanya. Dia tidak mengerti jalan pikiran sepupunya itu.

Back To Jess…

Aku meletakkan gelas plastik Mango Six itu di atas pantri sambil melamun dan membayangkan wajah Taecyeon tadi. Rasanya dia bukan yang salah di sini, apa dia memang tidak salah? Tapi penglihatanku waktu itu tidak mungkin salah, yang kulihat waktu itu memang Taecyeon dan seorang wanita. Dan kejadian itu masih terus berputar di otakku. Jika aku bisa, aku ingin melupakannya seperti aku melupakan ajakannya tadi pagi. Lalu semuanya akan jadi normal.

Yoona berjalan keluar dari kamar Yuri dengan wajah cemas. Ia masih membawa gelas yang seharusnya sudah di berikan pada Yuri sekarang.

Eo,,eonni,” Ucapnya terbata.

Merasa ada yang salah aku berlari kecil mendekatinya. “Yuri Eonni, tidak ada dikamar” jelasnya.

Aku langsung menghela nafas lega, kukira ada sesuatu.

“Ya biar saja, paling dia ke club, jika dia butuh kita, dia akan menelpon. Tenang saja, oke?”

“Masalahnya, dia tidak membawa ponsel,” kata Yoona sambil menunjukkan ponsel berwarna putih milik Yuri. Dia terdiam sejenak dan melihat kearah jam dinding. “lagipula, club mana yang buka pada jam seperti ini?” tambahnya.

Aku mendengus dan menggeleng. Anak itu, kenapa menghilang begini sih? Apa dia sedang merencanakan kejutan April Mop? Jika iya, ini sama sekali tidak lucu.

–To Be Continued–

Apa ya? Apa ya? Apa ya?!!!! (^0^)

Well, gue seneng aja akhirnya bisa realease cerita ini,, semuanya OTP gue. Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha

cerita awalnya gimana? Gaje? Iya Ulik! Banget!!! Gaje Banget!!!

Mungkin beberapa ada yang tanya, mana JongYoon-nya? Hei sabar people,, gue  juga pengen bereksplorasi dengan OTP (crack) gue yang lain. Untuk mengeksplorasi itu, gue ingin menghadirkan sebuah ff ringan yang bisa dinikmati dengan detak jantung normal (maksud lo?) maksud gue, ceritanya nggak bikin deg-dega-an kayak cerita horor gitu. Ya maaf kalo ntar ceritanya aneh. Gue baru belajar

Sedikit penjelasan,, cerita ini bersetting ketika mereka bertiga (Yoona, Jessica, Yuri) udah di Seoul (mereka awalnya dari Busan getoh). Setting-nya sekitar beberapa tahun setelah mereka lulus SMA, dan setelah Yuri dan Jessica lulus kuliah. Yoona belum, soalnya dia paling kecil dan dia semacam mahasiswi pemalas. Oke, abaikan.

(Yang nggak ngerti awal ceritanya,, bisa dibayangkan sendiri oke? atau mungkin baca kaming sun yang gue bikin, tapi gue nggak janji lo bakal ngerti, sedikit petunjuk aja yah, soal kaming sun itu,, cuma ada satu tokoh cowok disitu yang berhubungan dengan mereka sampe masa depan)

Di cerita ini gue pengen melihat sendiri apakah ilmu gue sudah bertambah. (Ciah, Ilmu, ilmu hitam maksud lo?)

Dan,, mmm apa lagi ya,, gue kalo udah kayak gini bingung mau nulis apa lagi. Ya udah, ditunggu next part, oke? #mukamelas

Oh ya,, ada yang ngarep KhunFany ya? Maap banget ya,, sori… gue lagi nggak ada feel sama mereka. Ntar kalo libur insyaallah deh ya #Hmmmeringis

Dan cerita yang lain…. #pasangwajahinnocent

‘Kalo ada typo tolong diingatkan,, itu udah gue review berkali-kali, tapi yang namanya manusia pasti ada khilaf-nya jadi mohon diingatkan kalo ada sesuatu yang nggak pas’

“Terimakasih karena sudah membaca. dan jika tidak keberatan maka saya ingin anda memberi support. Tolong kritik dan saran, tapi tolong jangan nge-bash, itu tidak baik”

Bonus gambar:

tumblr_mn203qnYVx1s1txx5o1_500

Buat JongYoon (hard) Shipers tuh, gambar ini moodbooster banget!!!

Oh ya,,, buat temen gue yang berulang tahun hari ini, FF ini di buat karena ada lo :

hbd

HAPPY BIRTHDAY YA!!! BAROKALLAH!!! (dari anak tengaran)

Himrasaki

Ahnmr

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

20 thoughts on “Girls: Broken Hearted People [Part 1]”

    1. dilanjut kok,, tapi insyaallah habis tes,, soalnya banyak kerjaan kakak, ada naskah teater yang belum selesai, dan banyak hal lain #malahcurhat

  1. Akhirnya di post jugaaa… XD
    Wah YoonYulSic ‘-‘ dikira tadi ada KhunFany sih.. Wkwk.-.
    Seru kok Li.. Ngakak.. XD
    Jessica bisa segitu lupanya–‘
    Itu yang disamping apartmen YoonYulSic itu Donghae? Terus yang dateng siapa? Jonghyun? Kyuhyun? Sama sama Hyun-,-a tapi menurutku Jonghyun ‘-‘a
    Yang dibawah ituuuu… AAAAAA.. Kayak nggak edit masaaa.. Keren banget.. Pengen mereka bisa kayak gitu realnya.. *plak XD
    Oiya Li, aku juga nemu pic DeerBurning pegangan tangan di airport.. Sekilas tuh bener bener real.. Editnya jago banget *-*
    Oiya, ditunggu chapter selanjutnya ya Li! Sama Mr. Architect juga! Oke? Paiting!’O’)9

    1. Iya, do’ain mr architect-nya cepet selese ya.. hiks, hiks,,
      aku tau itu yang bikin fotonya, aku follow tumblr-nya, kalo nggak salah itu yang bikin thecrackedship.tumblr.com dia kayaknya juga yang bikin thread deerburning di soompi

      Hahaha, makasih lho udah baca,, nggak ngarep banyak sih sama cerita ini sebenernya,, aku cuma mau belajar lewat ff ini dan mau liat sejauh apa aku berkembang, mau diperbaikin di alur dan penokohan dulu kalo aku. soalnya sering rancu disitu, dari segi bahasa juga masih biasa aja, nggak sebagus punya penulis ff lain. hahaha,, aku sadar i’m just a beginner

      1. Amin.. XD
        Oh? Keren banget sih itu editnya.. Serasa real gitu.-.
        Hehe, sebenernya sih FF Uli udah bagus.. Tapi aku suka alesannya.. Semoga makin baik lagi nulisnya ya Li!
        Aku juga masih beginner kok.___.b

      2. always kok,, aku do’ain siapa aja yang mau lulusan,, hahaha.. semoga lulus dengan memuaskan ya,, diterima di tempat yang kamu pengenin,, yang cocok buat kamu

  2. Ini cewek2 yg lagi patah hati ya end nya harus kyuri dan haesica ya hehehe fotonya kok cuma jonghyun kyuri ama haesica nya mana hehehe

  3. Annyeonghaseyo.. new riders imnida..^
    Kyaaa YoonYulSic yhaa? Couple fav di soshi ♡
    Itu yul lg patah hati sgitu amat, kekeke^
    Lucu+seru nih ffnya.
    Boleh izin baca next nya ya authornim..
    Gomapsemnida^

  4. lagi searching ff jongyoon terus ketemu ini langsung aja baca. dan ini part awal masi menerka1 ceritanya. tp udh kebayang gimana 3 gadis yg hidup mandiri d seoul dengan segala kisah cintanya hihi
    jadi penasaran jongyoon sih

    nice story ga terlalu berat. sukaaaa 🙂

  5. wahh daebak.. bahasanya enak dibaca, dan mudah ngebayanginnya.. gw ketawa2 gaje terus pas awal2, koplak bgt cara nyampeinnya..
    ga kebayang kalo mereka beneran kayak gitu.. mereka b3 itu biasku, dari Yuri, Jessica, dan Yoona.. couplenya juga suka tapi ga terlalu sama KyuRi.. tuk Yuri gw blom bisa ngebayangin couplenya, gw kepikir dia sama abg Jongsuk..
    good job bgt deh..

  6. Aa.. gue baca part 2 baru ke 1 (oke gue lg gesrek)
    Btw gue suka gaya lu.. comedinya gak tersirat scr lgsg tp cukup menghibur
    Mana otp nye gue banget >o<
    Ok? Semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s