Girls: Game and Soju [Part 2]

Girls-3rdposter

Game and Soju [Yuri]

Author: Ahnmr || Cast: Jessica Jung (SNSD), Lee Donghae (Super Junior), Kwon Yuri (SNSD), Cho Kyuhyun (Super Junior), Im Yoona (SNSD), Lee Jonghyun (CNBlue) || Add. Cast: Park Chanyeol || Genre: Life, Comedy, Friendship, Family, Romance || Rating: +15

(Posternya jelek, sori)

(Part lainnya)

–ahnmr copyright–

Hari ini aku ingin mencoba beberapa tips dari teman kecilku, Kiseop. Dia pernah bilang padaku games dapat menenangkan pikiran, dapat membuatku merasa melupakan dunia untuk sesaat, dan yang paling penting dapat membuatku bahagia. Karena karaoke sama sekali tidak dapat membantuku melupakan Junho, langkah selanjutnya adalah nekat bermain game di warnet.

Aku masuk ke warnet (warung internet) itu dengan kaos buluk dan hot pants serta stocking celana berwarna hitam yang kukenakan hanya untuk mengingatkanku bahwa aku masih cukup fashionable. Ternyata caraku berpakaian mengejutkan penjaga warnet yang notabene adalah seorang lelaki. Dia melihatku takjub dan tidak melepaskan pandangannya dariku, bahkan setelah aku duduk di sebuah komputer yang ada di belakang.

Tempatku duduk tidak paling pojok. Namun cukup terselubung.

Layar komputer itu gepeng, sehingga tampilannya aneh. Aku sedikit canggung awalnya karena aku tidak pernah membuka komputer dengan susana seberisik ini. Dan yang paling membuatku bingung adalah sistem billing. Jujur aku tidak pernah ke warnet, ini yang pertama kalinya. Dan semuanya membuatku bingung.

Aku memundurkan kursiku dan melihat ke sekeliling warnet yang remang-remang itu. Bisa kubilang akulah satu-satunya wanita yang ada di tempat ini, di sebelahku kiriku ada seorang anak kecil berumur sekitar 11 tahun, ia memakai kacamata dan tidak berkedip sekalipun saat menatap layar komputer. Dasar bocah! Aku jadi ingat Kiseop, dia bisa menghabiskan seharian penuh di warnet  ketika hari libur hanya untuk bermain game online. Anak itu sepertinya terlalu asyik, jadi lebih baik aku tidak mengganggunya.

Kemudian aku berpaling ke seorang pria dengan kaos abu-abu yang ada di sebelah kiriku. Dia juga tidak mengalihkan pandangannya dari monitor sedikitpun, tangannya menegang, rahangnya mengeras seperti orang depresi. Dia memakai headset, dan terlihat panik dengan situasi yang terjadi pada permainannya. Karena aku orang yang mudah penasaran, aku mengintip sedikit. Dia tengah bermain game tidak jelas yang kutahu bernama Starcraft. Kiseop sering memainkannya dulu, karena itu aku tahu.

Ribuan laba-laba menginvasi salah satu gedung yang ada di permainan itu, sebenarnya aku tidak mengerti apakah itu benar laba-laba, otakku menangkapnya sebagai laba-laba menggelikan. Kemudian aku melemparkan pandanganku pada pria itu. Dia cukup dewasa untuk memainkan permainan semacam ini apalagi sampai bereaksi berlebihan. Dia menekan tombol keyboard dan mousenya dengan sangat cepat, dia juga memberikan tekanan yang kelewat keras terhadap mouse itu, aku takut mouse itu akan rusak.

“Aissh, *$##%k” umpatnya sambil menyandar ke kursi dan menyingkirkan mouse yang tadi digenggamnya begitu erat.

Aku mengangkat alis kiriku, mencoba menangkap nalar pria itu. Dia pikir ini warnet neneknya, bisa-bisanya dia bersikap seenaknya seperti itu?

Aku masih memandang pria itu dengan sejuta pertanyaan. Dia tidak mempedulikan aku dan kembali fokus pada game-nya. Kurasa barusan dia kalah, lalu apa gunanya bermain lagi?

Ahjussi!” Kataku, di titik ini aku merasa jika aku lebih muda darinya, karena memanggil Oppa terdengar murahan, aku memilih memanggilnya Ahjussi.

Pria itu menoleh ke arahku dengan kesal. Ia mengedikkan dagunya dan kembali lagi pada pada layar komputer.

“Aku tidak mengerti tentang ini” kataku sambil menunjuk layar komputerku.

Sumpah.., percuma saja berbicara dengan orang semacam ini. Seperti pengalaman yang pernah kudapat. Orang yang sedang fokus dengan permainannya sama sekali tidak bisa di ganggu. Mereka cenderung bersikap dingin pada orang yang dianggapnya mengganggu, dan berharap dalam hati orang itu segera pergi. Dari yang kusimpulkan sih begitu ya.

Aku menekan pilihan di billing dengan asal. Segera setelah aku masuk ke desktop. Aku hanya diam, seharusnya bisa terkoneksi, namun tidak ada sambungan ke internet. Sebenarnya, tadi aku mode apa sih? Ini pertama kalinya aku pergi ke warnet, Ayah, Ibu, dan Kakak laki-lakiku selalu melarangku bermain ke warnet, karena mereka bilang warnet adalah tempat yang kurang bermanfaat. Karena selalu dilarang, aku jadi terbiasa. Dan saat aku dihadapkan pada komputer warnet aku jadi merasa canggung.

Agar rasa canggungku hilang, aku asal memilih sebuah ikon tangan zombie mencekal bunga. Ternyata ikon itu membawaku pada sebuah permainan tentang tanaman yang berperang dengan zombie. Aku baru tahu ada permainan konyol seperti ini. Saat membaca judulnya kupikir ini adalah permainan tidak mutu dan membosankan. Kesalahpahaman ini sama halnya dengan kesalahpahaman orang-orang tentang permainan fruit ninja yang begitu-begitu saja. Tapi nyatanya, kedua permainan yang membuat banyak orang salah paham ini sungguh mengasyikkan dan membuat ketagihan. Aku sendiri sampai tidak bisa menghitung sudah berapa lama aku duduk di warnet itu. Bahkan hingga anak kecil yang ada di sampingku itu sudah pulang, dan walaupun dia sedikit terkejut saat melihatku. Aku tidak peduli, My head is still on the game.

“Sia-sia” kata seseorang.

Awalnya kupikir perkataan itu tidak ditujukan padaku, jadi aku tidak menoleh sedikitpun dari permainan.

“Hei, Nona! Kau sungguh hanya bermain Plant vs Zombie dari tadi?” tanya seseorang. Aku menoleh dan melihat pria yang kupanggil Ahjussi tadi menatap layar monitorku dengan miris.

“Kau bicara padaku?” tanyaku dengan muka sayu.

Pria itu hanya mengerjapkan kedua matanya dan menghela nafas. Mungkin dia baru saja berpikir bahwa aku ini gadis yang bodoh. “Kau pikir ada perempuan lain selain dirimu di sini?” katanya sarkastis.

Aku melihat ke sekeliling, dan memang akulah satu-satunya perempuan di sini. “Jangan ganggu aku” kataku. Aku berpaling darinya dan kembali mencurahkan perhatianku ke permainan.

“Hei, Nona! Kau baru saja memasukkan dirimu ke sarang penyamun, lebih baik kau pulang, sebelum hari jadi lebih gelap” katanya dengan gaya sok gentleman.

“Aisshh!! Jjinjja, Jangan ganggu aku! Jika kau menggangguku aku bisa melayangkan bogem mentah padamu” kataku marah. Aku marah bukan karena dia mengganggu gadis patah hati sepertiku sebenarnya. Tapi gara-gara pria ini aku kalah! Padahal aku hampir naik level.

“Apa kau sungguh tidak tahu siapa aku? Berarti kau memang orang baru,” katanya sok. “Guys!” Ujarnya. Tak lama kemudian berkumpulah tiga orang remaja, salah satu dari mereka bukan remaja, Dia penjaga warnet yang tadi. “Perkenalkan siapa aku, pada Nona ini” Dia menyuruh tiga orang laki-laki itu.

Si penjaga warnet berdehem dan mulai beat boxing. Seorang remaja yang berumur sekitar enam belas tahun mulai menyanyi rap, dan yang di sampingnya juga melakukan beat boxing. Kurang lebih liriknya mengatakan betapa hebat, betapa keren, dan betapa tampannya pria itu yang kurasa kurang pas dengan kenyataan. Malah kurasa pria itu tidak lebih dari pria sok keren yang otoriter.

Lalu, lagunya berakhir seperti ini.

Uri, Cho~ Kyuhyun, Swag”  Bagian itu membuatku ingin mual, apalagi saat bagian swag.

Aku hanya melihat orang-orang itu dengan aneh. Ya, aneh! Ini benar-benar menggelikan dan membuat mual. Lagipula apakah dia perlu memperkenalkan diri seperti itu pada orang-orang?

“Baiklah, aku pergi! Pengusiranmu sungguh menarik, Tuan” kataku sambil berdiri dan mengambil dompetku. Aku memberikan selembar uang lima puluh ribu won pada si penjaga warnet dan pergi begitu saja.

Author’s P.O.V

Kyuhyun sedang berpikir. Kenapa gadis itu justru marah, apa caranya salah? Dia rasa dia sudah bersikap cukup imut dan lembut dengan menyuruhnya pulang sebelum hari semakin gelap. Lalu ia sudah memperkenalkan diri dengan cara hebat. Jadi dia tidak mengerti letak cacatnya dimana.

“Chanyeol-ah!” Kyuhyun memanggil si penjaga warnet dan menyuruhnya mendekat. “Apa nama user-nya?” tanyanya setengah berbisik.

Chanyeol langsung berlari ke meja jaga dan melihat laporan komputer 16. Dia ingin tertawa, tapi bagaimanapun juga dia harus melaporkannya pada Bos Kyuhyun. Setelah itu dia langsung berlari ke tempat dimana Kyuhyun duduk dengan antusias. “AAA, dia bahkan belum mematikannya” jelas Chanyeol.

“AAA? Huh, kenapa bukan namanya, kenapa AAA?” Kesalnya.

Kyuhyun berdiri dan mengenakan kemeja kotak-kotak yang tersampir pada kursinya tanpa sempat mematikan komputer yang telah dipakainya. “Jaga warnet-nya baik-baik, jangan sampai Ayahku tahu aku kesini. Aku pergi dulu ya, aku akan meminta nomornya, dia tipeku” katanya pada Chanyeol. Kemudian dia melirik ke arah dua orang remaja yang menjadi anak buah kesayangannya. Yang berbadan gempal bernama Ilhoon, yang kurus kering dan mirip tiang listrik bernama Junhong.

“Kalian, bermainlah dengan baik, jangan lewat jam sepuluh malam, Fighting!” kata Kyuhyun diikuti senyuman dan bergegas keluar dari warnet itu.

Back To Yul…

Malam ini sangat dingin. Aku terus memeluk bahuku dan mengelus-elus lenganku dari tadi. Aku menyusuri trotoar dan berjalan entah kemana. Jess dan Yoong pasti khawatir, aku tidak bilang apa-apa pada mereka, bahkan aku meninggalkan ponselku di kamar. Yang kubawa sekarang hanya diriku dan dompetku.

Aku tengah sakit. Itulah kenapa aku seperti ini. Kupikir 7 bulan yang lalu aku telah menemukan belahan jiwaku. Tapi ternyata itu salah. Aku bodoh telah percaya pada cinta sejati. Cinta sejati hanya ada di negeri dongeng, dan aku bodoh karena membiarkan diriku diperdaya olehnya dan pada akhirnya dia meninggalkanku tanpa alasan yang jelas.

Aigoo, kenapa aku seperti ini?” tanyaku pada langit.

Aku menyunggingkan bibirku sedikit. Bukan karena aku bahagia, tapi aku ingin membahagiakan diriku. Senyum dapat membantuku merasa lebih baik bahkan ketika aku terjebak dalam kondisi terburuk.

i’m singing my blue~

Aku bernyanyi sepanjang perjalanan menuju entahlah. Hingga aku terhenti di sebuah kedai kecil di pinggir Gangnam. Kakiku lelah berjalan dan aku memutuskan untuk singgah sejenak sembari menikmati soju.

Tiba-tiba aku terpikirkan soal Jessica dan Yoona. Apa mereka mencariku? Mmm, kurasa tidak. Mereka pasti hanya menebak-nebak kemana aku pergi.

Aku meminum segelas kecil soju dan melihat jalan raya yang masih ramai. Melihat kendaraan berlalu lalang hanya membuat pusing, tapi terkadang menyenangkan. Rasanya seperti ikut terbawa laju mobil itu, lalu mendadak terbawa ke masa lalu.

Hah, masa lalu. Rasanya aku ingin kembali ke saat pertama kali bertemu dengan Jess dan Yoong. Aku berharap kami bertemu dengan cara lebih menyenangkan. Tidak jadi sekumpulan orang patah hati seperti saat itu. Namun, karena hari itu kami bisa bangkit. Atau setidaknya merasa lebih baik.

Senyum terkembang di wajahku ketika mengingat ekspresi Yoona saat menceritakan betapa keras usahanya demi menyatakan perasaannya pada cinta pertamanya- yang Yoona sendiri tidak pernah tahu namanya hingga sekarang. Lalu cerita Jessica mengenai harga diri dan pria yang menolaknya. Itu lucu, sekaligus menyakitkan.

Berbicara tentang hal menyakitkan, banyak hal yang menyakitkan terjadi dalam hidupku. Sebelum aku bertemu dengan Jessica dan Yoona aku hanya seorang wallflower, orang-orang terabaikan yang tercantum sebagai orang tidak penting di dalam buku tahunan. Temanku hanyalah Kiseop, tapi dia juga sering menduakanku dengan game online. Aku sering sakit hati karenanya, tapi bukan salah Kiseop juga, dia sering mengajakku ke warnet. Tapi, Ayah dan Ibu selalu melarangku. Mereka bilang warnet adalah tempat yang sudah banyak berkurang manfaatnya.

Kehidupan cintaku sering berakhir tidak baik. Dulu aku pernah menyukai Kiseop, namun perasaanku menghilang seiring waktu berjalan. Yang kedua adalah ketika kami-aku, Jessica, dan Yoona- baru saja pindah ke Seoul. Aku bertemu dengan seorang pria, pria itu sangat tampan dan dia sangat ramah. Sayangnya hubungan itu harus berakhir karena berbeda keyakinan. Yang ketiga adalah Kim Junho, aku baru saja selesai membicarakannya tadi. Dialah orang yang membuatku jadi zombie seperti ini.

Selesai menikmati satu botol soju. Aku berjalan kembali ke arah aku datang. Jika aku berjalan semakin jauh, aku takut tersesat.

Langkah demi langkah. Aku tak kunjung merasa lebih baik. Bayangan Junho masih terus berterbangan di atas kepalaku. Semua kenangan tentangnya masih tergambar jelas. Kepalaku bahkan pusing sampai-sampai rasanya ingin terjatuh. Mungkin efek dari soju.

“Kwon Yuri, Saranghae”

Ilusi itu. Rasanya ingin kuremukan, jika tidak bisa maka aku ingin meremukan kepalaku agar tidak memikirkannya. Kim Junho, kenapa dia harus jadi seorang pria yang sangat kucintai? Aku membencinya, aku sangat membencinya karena telah membuatku seperti ini.

Aku menyentuh keningku dan merasa tambah pusing. Kurasa aku terlalu lelah karena sudah bermain komputer seharian.

Aku menertawakan diriku sendiri. Seharusnya aku tidak minum minuman beralkohol. Itu bisa merusak otakku. Sia-sia sudah perjuangan menjaga tubuhku agar tetap sehat jika aku tetap minum soju.

Dunia di sekitarku mendadak buram, semuanya berputar dan aku merasa tubuhku bergetar. Kakiku lemas dan aku tidak kuat lagi menahan beban tubuhku. Aku memijit keningku dan menggeleng, aku berusaha keras untuk melihat ke depan, tapi tetap saja buram. Kurasa kekuatanku sudah habis saat itu.

Yang kuingat hanya cahaya dari lampu jalan, dan rasa sakit saat tubuhku menyentuh tanah

Author P.O.V

Kyuhyun terkejut ketika melihat tubuh gadis yang dikuntitnya sedari tadi jatuh ke tanah.

Matanya melebar dan dia hanya bisa menelan ludah. Gadis itu pasti tidak kuat minum soju. Itulah kenapa dia jatuh dan meracau seperti itu. Tanpa pikir panjang, Kyuhyun segera berlari mendekatinya.

Dia menggoyangkan tubuh gadis itu, tapi ia justru berbalik ke samping dan melihat ke arah Kyuhyun sambil tersenyum.

“Junho-ah, kau datang?” tanyanya pada Kyuhyun.

Kyuhyun mengernyitkan keningnya. “Eh?” gumam Kyuhyun sambil menarik tangan gadis itu agar berdiri. Ketika menariknya, gadis itu malah menamparnya dan rewel seperti anak kecil.

Dia marah-marah dan mengutuk-ngutuk Kyuhyun dengan nama Junho. Dia bilang jika Junho sangat kejam, Junho bodoh, parahnya dia mengatakan Junho tidak ada bedanya dengan ******.

Mungkin ini adalah malam tersial Kyuhyun. Niatnya ingin meminta nomor telepon gadis itu. Namun karena dia terlalu gugup dia malah mengikutinya, sepanjang perjalanannya malam itu, gadis yang sekarang tergeletak tak berdaya di depannya menyuguhkan lagu-lagu pengantar bunuh diri yang sangat mengganggu. Dan sekarang, ia dihadapkan pada gadis patah hati yang sedang mabuk. Seharusnya tadi dia tidak usah terpukau olehnya. Jadi dia tidak akan menguntitnya dan jadi sesial ini.

Sekarang sudah terlambat untuk kabur. Banyak pejalan kaki yang melihat ke arah Kyuhyun dan gadis itu dengan tatapan ingin tahu. Kyuhyun jadi tidak enak meninggalkan gadis ini di sini. Bisa-bisa terjadi sesuatu yag lebih buruk.

“Junho-ah, kenapa kau meninggalkanku?” tanya gadis itu pada Kyuhyun.

“Aku tidak meninggalkanmu” kata Kyuhyun panik. Dia sedang berpikir akan di apakan gadis ini.

“Itulah kenapa kau di sini? Untukku?” tanyanya lagi.

Kyuhyun mengangguk “Kita pulang oke? Ayo! Kita pulang!” ajak Kyuhyun sambil membantu gadis itu duduk.

Setelah gadis itu duduk ia menatap Kyuhyun dengan mata sayu. Matanya sembab dan nafasnya berbau alkohol. Kyuhyun memundurkan kepalanya dan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah gadis itu agar baunya  hilang.

“Kau mau menggendongku? Seperti waktu itu?” pinta gadis itu pada Kyuhyun.

Waktu itu kapan? Pikir Kyuhyun. Sebenarnya Kyuhyun bisa saja mengambil keuntungan dari gadis mabuk ini sekarang. Tapi hati kecil Kyuhyun mengatakan padanya untuk tidak macam-macam. Dia hanyalah seorang gadis lemah dengan harapan pupus. Tidak tahu diri sekali jika Kyuhyun memanfaatkannya.

Kyuhyun menatap gadis itu miris. Jadi beginilah orang frustasi karena cinta? Dia jadi tidak tertarik untuk jatuh cinta lagi. “Hmm” Sahutnya pasrah sambil menyentuh bahu gadis itu

Gadis itu menyentuh wajah Kyuhyun sambil tersenyum. Lalu tiba-tiba dia pingsan.

Kyuhyun’s

Barusan itu apa? Kenapa dia menyentuh pipiku?

Rasanya aku tidak ingin percaya, tapi dia memang menyentuhku dengan tangannya, aku bisa merasakan kapalan  di sisi kiri jari telunjuknya, dan bau alkohol yang mungkin tumpah ditangan kanannya. Gadis ini, kenapa dia jadi seperti ini? Apakah pria bernama Junho itu yang membuatnya seperti ini? Jika aku bertemu dengannya, aku akan memukul wajahnya karena telah membuatku kesialan.

Aku menggelengkan kepalaku lalu kembali fokus dengan masalah ini. Sekarang aku jadi bingung harus mengangkatnya di bagian mana. Aku takut kalau aku mengangkatnya di bagian yang salah, dia akan menamparku seperti tadi. Tamparannya terlalu kuat untuk ukuran… wanita.

Mataku, aduh mataku! Hentikan Kyuhyun, hentikan memikirkan hal-hal kotor dan tidak pantas. Jadilah dewasa Cho Kyuhyun! Ya Tuhan! Ampuni aku! Aku menoleh ke sekitar untuk mengalihkan pikiranku sekaligus mencari taksi. Kenapa tidak ada satupun taksi yang melintas? Ck, masa iya tidak ada taksi?

Tak lama setelah aku membatin. Terlihat sebuah taksi dari arah timur.

Aku berlari ke pinggir trotoar dan melambai ke arah taksi itu. Kemudian aku menghampiri gadis itu dan mengangkatnya dengan sekuat tenaga. Ternyata dia berat juga, tidak seperti perkiraanku. Setelah taksi itu berhenti, aku berusaha sekeras mungkin untuk membuka pintunya. Karena susah jika aku harus mengangkat orang seperti ini sambil membuka pintu mobil. Sopir taksi itu juga tidak sensitif sekali. Dia tidak membantuku dan malah duduk diam di dalam taksi. Jika saja ini taksi milik perusahaan ayahku. Akan kupastikan dia di pecat besok.

Akhirnya aku berhasil mendudukkan gadis itu di dalam taksi. Dan saat aku hampir naik, terdengar suara benda terjatuh. Aku melongok ke bawah dan melihat sebuah dompet berbentuk kepala teddy bear di atas aspal. Aku tersenyum tipis dan mengambilnya. Kurasa dompet itu milik gadis ini.

Setelah aku duduk di dalam taksi dan menutup pintunya aku melihat isi dompet itu. Ada banyak ATM dan lembaran uang di dalamnya jadi kurasa dia adalah orang kaya. Lalu ada kartu member butik dan kartu tanda pengenal. Aku tertarik dan membacanya, lagipula aku tidak tahu alamat gadis ini. Jadi mungkin aku bisa tahu lewat tanda pengenal ini.

“Kemana, Pak?”

Apa? Sopir itu memanggilku pak? Apakah aku terlihat setua itu? Ergh.

“Sebentar…” kataku. Aku melihat alamatnya dari tanda pengenal itu. Oh jadi rumahnya di dekat Dosan Park, tidak begitu jauh dari rumahku. Aku mengangguk dan mengatakan alamatnya pada si sopir tidak peka.

Kemudian aku membaca lagi tanda pengenalnya. Dari yang kubaca, namanya Kwon Yuri. Dan pekerjaannya wiraswasta. Pengusaha? Mm, entahlah. Yang jelas dia bukan pegawai pemerintah. Setelah itu jenis kelaminnya perempuan, kurasa aku tahu itu tanpa harus membaca tanda pengenalnya. Lalu, dia masih single. Baguslah.

Aku melirik ke arah gadis itu, dan dia masih tertidur pulas sambil menyandarkan kepalanya ke jendela taksi. Mulutnya terbuka dan nafasnya berat. Aku terkekeh pelan dan mengembalikan tanda pengenalnya ke dalam dompet teddy bear itu. Sebelum aku memasukan kartu tanda pengenal itu, aku menemukan sesuatu yang menarik perhatian lagi. Aku mengambil kartu itu dan membacanya. Kartu anggota perpustakaan? Dia suka membaca, dan menurut perkiraanku dia suka menulis. Kesimpulanku, gadis bernama Kwon Yuri ini adalah penulis.

Lagi-lagi mataku bergerak bebas dan meliriknya. Aduh! Berhentilah berpikir yang tidak-tidak Cho Kyuhyun!

Aku memasukkan kartu tanda pengenal yang tadi belum sempat kukembalikan ke dalam dompet.

Akhirnya kami sampai di alamat itu. Sopir taksi itu bilang ini memang alamat yang benar. Dan sekarang aku berdiri di depan sebuah apartemen di daerah Dosan-daero. Apartemen itu bukan jenis apartemen-apartemen murah. Malah jika kubilang apartemen ini jenis-jenis apartemen mahal, namun bukan yang termasuk apartemen mewah. Well, jika saja orangtuaku membolehkan. Mungkin aku sudah pindah ke apartemen seperti ini dari dulu. Tapi mereka terlalu mengkhawatirkanku, jadi mereka menyuruhku untuk tinggal di rumah saja.

Gadis itu masih tertidur pulas di punggungku. Jika bisa, aku ingin menghilangkan bau alkohol dari tubuhnya. Karena lama-lama bau itu membuatku pusing.

Aku melangkah memasuki gedung itu dengan canggung. Lagipula, siapa yang tidak canggung jika memasuki sebuah apartemen yang tidak pernah kau masuki dengan seseorang yang tidak kau kenal di punggungmu. Dan lagi, dia mabuk. Agar akrab, Aku menganggap diriku sebagai penghuni apartemen ini dan masuk ke dalam lift dengan sok tahu. Masalahnya sekarang, aku tidak tahu tepatnya, dimana gadis ini tinggal. Masa iya aku harus memencet tiap pintu apartemen dan menanyakan apakah gadis itu tinggal di sana? Tidak mungkin kan?

Di dalam lift itu ada aku, gadis ini, dan dua orang pria yang tidak kukenal. Yang satu lebih tinggi dariku sedikit, yang satu lagi lebih pendek dariku sedikit. Mereka sedang membicarakan sesuatu mengenai universitas-universitas di Korea. Mereka juga sepertinya tidak peduli dengan aku yang ada di belakang mereka.

Aku memberanikan diri untuk bertanya dan berdehem. “Permisi, apa kalian mengenal gadis ini?”

Dua orang itu menghentikan pembicaraannya dan menoleh ke arahku. “Nugu?” kata orang yang lebih pendek dariku.

“Gadis ini” kataku sambil mengedikkan bahu kananku, tempat dimana kepala gadis itu bersandar.

“Aku tidak mengenalnya” kata orang yang lebih tinggi dariku dengan sinis. Dia terlihat cuek, dan merasa sangat terganggu akan keberadaanku. Berbeda dengan orang yang lebih pendek dariku. Dia terlihat peduli dengan apa yang kutanyakan.

“Aku mengenalnya, dia tinggal di apartemen yang ada di sebelahku” katanya.

Jongmal?” Senang akhirnya menemukan seseorang yang bisa membantuku.

Orang yang lebih pendek dariku itu mengangguk dan tersenyum. “Asal kau tahu saja, mereka… eh maksudku, gadis itu dan dua orang temannya. Memang terkenal sebagai pembuat onar di apartemen ini, jadi jika kau bertanya pada siapapun tentang mereka di apartemen ini mereka akan tahu, anak ini…” katanya sambil menyentuh bahu orang yang lebih tinggi dariku. “Dia adalah anak baru, jadi dia tidak tahu, maafkan sikapnya barusan” Lanjutnya.

Aku mengangguk dan tersenyum ke arahnya. Sedangkan orang yang lebih tinggi dariku mendengus kesal.

Lift itu berhenti di lantai tujuh dan orang yang lebih pendek dariku menunjukkan apartemen gadis itu, Apartemen 717. Angka itu akan jadi angka favoritku mulai sekarang, angka itu akan jadi angka keramatku.

Setelah itu aku –berusaha keras untuk –membungkuk dan berterimakasih pada mereka sambil tersenyum, baru kemudian mereka berdua memasuki apartemen.

Dengan jantung yang berdebar-debar. Aku menekan bel apartemen gadis itu dan berharap ada yang membukanya. Karena dari yang kusimpulkan dari pernyataan orang yang lebih pendek dariku tadi. Gadis ini mempunyai dua orang teman yang mungkin juga tinggal bersamanya.

Seseorang membuka pintu itu. Dia adalah seorang gadis yang tingginya tidak lebih dari telingaku, dia memakai kacamata, kaos berwarna biru dengan gambar ikon Samsung Lions. Wajahnya mengatakan bahwa dia khawatir. Dia sepertinya juga takut. Namun aku tidak bisa meyakini analisisku sendiri.

Nuguseyo?” Ujarnya cemas.

“Ah, Cho Kyuhyun-imnida, aku menemukannya tergeletak di jalan, sepertinya dia mabuk…” memang, dia memang mabuk “Aku merasa kasihan padanya, jadi aku membantunya”

“Oh, Gamsahamnida Ahjussi, maaf merepotkanmu, bisakah kau membawanya masuk?” kata gadis berkacamata itu. Lagi-lagi aku di panggil ahjussi, memangnya aku setua itu? Ya ampun!! Aku masih 26 tahun.

Aku mengangguk dan tersenyum canggung. Setelah melepas sepatuku –yang butuh usaha keras –gadis berkacamata itu menyuruhku untuk meletakkan gadis itu di atas sofa. Kurasa juga lebih baik begitu.

Sesudahnya, aku membungkuk ke arah si gadis berkacamata. Dia tersenyum ke arahku sambil melemparkan pandangan penuh terimakasih.

Jongmal Gamsahamnida Ahjussi” katanya.

“Jangan panggil aku Ahjussi, Kyuhyun saja” kataku.

Setelah itu, aku membungkuk ke arahnya dan pamit pulang.

Saat aku turun dengan lift, aku merogoh kantong kemeja kotak-kotakku. Memastikan benda yang baru saja kucuri dari gadis itu tetap aman disana. Aku mengeluarkannya dari sana dan melihatnya penuh kemenangan. Kartu Anggota Perpustakaan, Aku harap benda ini akan menjadi tiketku untuk bertemu denganmu.

Lagi.

Author P.O.V

Donghae menepuk bahu Jonghyun dengan wajah tegas. Mereka baru saja selesai membicarakan soal ‘tidak mencari masalah’ Jonghyun tidak suka diceramahi sebenarnya, dia individu bebas yang tidak suka terikat dengan keteraturan. Namun dia iyakan saja perkataan kakak sepupunya itu agar tidak mendengar ocehan kakak sepupunya lebih panjang.

Jonghyun melepas jaketnya dan melemparkannya ke atas sofa, dia berjalan ke depan kulkas dan mengambil sebotol air mineral, lalu meminumnya.

“Kau benar-benar ingin di-transfer ke universitas di korea?” tanya Donghae seraya duduk di atas sofa dan melempar jaket Jonghyun ke samping.

Jonghyun mengangguk dan melirik ke arah Donghae. Setelah selesai minum, dia menutup botolnya dan menaruhnya di dalam kulkas. Dia berjalan mendekati Donghae dan berkacak pinggang.

“Tapi aku ingin melakukan survey dulu, aku tidak terburu-buru Hyung, kau mau menemaniku kan?” katanya penuh harap di dalam hati.

Wajah Donghae berubah jadi tidak enak, dia ingin menemani adik sepupunya itu, namun dia sangat sibuk untuk sebulan kedepan. Dia menggaruk-garuk tengkuknya dan melihat Jonghyun dengan wajah tidak enak.

Mian, Hyunnie. Aku tidak bisa, aku baru saja dapat proyek jadi kurasa aku tidak bisa”

Seakan sudah tahu jawabannya, Jonghyun mengangguk. Dia tidak tersenyum, hanya mengangguk. “Aku tahu, kalau begitu, beri aku tour guide, aku sudah tidak hafal daerah di Seoul” katanya malas.

“Aka kuusahakan” kata Donghae sambil tersenyum canggung. Mana ada tour guide yang mau memandu satu orang saja? kalau adapun pasti sangat mahal, pikirnya menimbang-nimbang.

Tanpa mengatakan apapun, Jonghyun pergi ke kamarnya dan menutup pintunya dengan lemah. Sesampainya di kamar, ia merebahkan dirinya ke atas kasur. Pikirannya melayang pada hari-harinya di Daegu saat masih kecil. Kemudian dia mengambil sebuah foto dari saku celananya dan mengamatinya sambil tersenyum.

“Kau bilang mau menemuiku” gumamnya.

–tu bi kontinyu ya??? #mukaimut–

Gaje? Iya dong gaje,, fanfiction itu kan isinya biasanya gaje.. namanya aja fanfiction, fiksi yang dibuat oleh fans (semacam gue yang fans labil)

Maaf ya, di sini lebih banyak pake POV Kyuhyun dan author, mungkn ada yang ngerasa kalo yuri-nya kurang greget.Sebenernya gue hanya mencari yang pas aja… masa iya gue mau pake POV Yuri terus,,, lah ntar ceritanya jadi tambah gaje gegera pake POV orang mabuk!

Enough,,, nggak banyak yang akan gue bahas di chapter ini,, karena Yuri lagi patah hati banget, kasian dia, do’a-kan dia biar cepet move on, oke? #authorgila-_-

Oke,,, siapkan hatimu karena di chapter selanjutnya uri-alligator akan dihadapkan pada orang ngeselin bin bikin-deg-deg-an bernama Lee Jonghyun

silahkan yang mau kepo,, tanya di kolom yang sudah di sediakan wordpress oke…?

“Terimakasih karena sudah membaca. dan jika tidak keberatan maka saya ingin anda memberi support. Tolong kritik dan saran, tapi tolong jangan nge-bash, itu tidak baik”

NB: Author lagi mau les,, jadi belum sempet ngedit ini,, maaf

himrasaki

ahnmr

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

17 thoughts on “Girls: Game and Soju [Part 2]”

  1. Nggak kok Li.. FFnya bagus, cuma TBCnya itu kenapa mepet(?) disitu…. Dikirain masih lanjut *jegerrr
    Ciaelah abang Kyuhyun jatuh cinta pada pandangan pertama.. Walopun kurang srek sama KyuRi, tapi karna ceritanya enjoying sih di srek-srekin(?) ajalah.. XD
    Eoh? Chapter 3nya udah keluar ya? Sip sip.. Mungkin besok kubaca..
    Lagi UKK ya Li? Semangat ya! Fighting!’O’)9

    1. di part selanjutnya insyallah to be continue-nya (aku nggak mau pake tbc cause itu nama penyakit :D) bakal di jauhin kok,, biasanya aku kalo nge-post keburu-buru. Timing-nya laways nggak tepat dengan kedatangan guru les, that’s why

  2. Kyuri yhaa? Rrr.. udaa kebiasaan baca SeoKyu jd agak aneh aja..
    Kekeke^
    Tp gpp ceritanya asik jd pnasaran bgd pngen baca trus.
    HaeSica ihh gak sabar pngen liat moment mereka:D
    Yoong abis ini kaan??
    Kaboor dlu dahh ya saya authornim^
    Hwaiitiingg!!^^

  3. Aku kira ceritanya pov jessica saja ternyata eh ternyata otp favoritku full disini 😀
    Readers baru imnida, mi am komennya gak di part satu soalnya yurinya dikit, jeongmal moan authornim tapi like bgt ma ceritanya 3 pasangan deng masing2 porsi cerita yang adil, salut bgt ma authornya 🙂 keep writing ya bangapseumida….^^

  4. kyuhyun dipairing ma yuri? kyaaaaa. kocak deh karakter ktuhun gak jauh ma aslinya.

    dan itu jonghyun pny cinta pertama wkt kecil kah??? nugu??? *kepo

    makin penasaran aja

  5. Eh.. baru nyadar ini part 2
    Hehe.. btw nasib yong..gue banget
    ‘Suka tanpa tahu namanya’
    Ah.. kyuri sweet
    suka ama ide crita dan gaya penulisan’aa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s