Girls: Mannae-eopseo Guy [Part 3]

Girls-3rdposter

Mannae-eopseo Guy [Yoona]

Author: Ahnmr || Cast: Jessica Jung (SNSD), Lee Donghae (Super Junior), Kwon Yuri (SNSD), Cho Kyuhyun (Super Junior), Im Yoona (SNSD), Lee Jonghyun (CNBlue) || Add. Cast: Random || Genre: Life, Comedy, Friendship, Family, Romance || Rating: +15

(Posternya jelek, sori)

(Part lainnya)

–ahnmr copyright–

Aku menggerakkan badanku ke kanan dan ke kiri, aku tidak pernah bisa tidur dengan tenang. Beginilah caraku tidur, beginilah gaya tidurku. Seringnya, aku sudah menemukan diriku tergeletak di atas lantai saat bangun. Aku sendiri lupa bagaimana aku bisa sampai di sana, yang kuingat hanya suara gedebuk keras saat tubuhku terhempas ke lantai.

Seperti pagi ini, aku bangun saat hari masih cukup gelap. Aku memang selalu bangun pagi, itu hanya salah satu dari sedikit kebiasaan baikku.

“Senin, 8 April 2013” Gumamku seraya bangun dari lantai dan merayap mencari sandal rilakuma-ku. Setelah mendapatkannya aku segera memakainya dan keluar dari kamar.

Ruang tengah masih gelap dan aku tidak berniat ingin menyalakan lampunya, lagipula aku masih bisa melihat. Aku meregangkan tubuhku dan melakukan pemanasan kecil. Kemudian aku meneruskan perjalananku ke dapur dan mengambil sebotol air mineral dari kulkas. “Ah,” desahku sembari menutup botol itu dan mengembalikannya ke dalam kulkas.

Selesai mencuci muka dan sikat gigi, aku mengambil jaket dan mengenakan celana training. Lari pagi juga salah satu kebiasaan baik dari sedikit kebiasaan baikku. Sesudah itu aku mengambil sepatu lariku dari rak dan memakainya.

“Fighting!” ujarku pada diriku saat membuka pintu apartemen.

Lorong apartemen sangat sepi seperti biasanya, aku tersenyum. Aku selalu suka pagi hari tanpa gangguan seperti ini. Aku juga tambah senang karena keadaan di apartemen sudah kembali normal, susana kelabu yang sempat menyelimuti kami bertiga telah mengikis, sedikit demi sedikit. Sebaiknya aku harus memulai berlari sebelum matahari muncul.

Aku berlari kecil menuju lift dan menemukan seseorang. Dia tetanggaku, seorang wanita berumur 30-an, single, hidupnya mapan, dan dia sangat seksi. Aku iri dengannya.

Annyeong!” Sapaku sambil membungkuk ke arahnya.

Wanita itu tidak membalas sapaanku, mungkin karena dia mabuk. Dia keluar dari lift dan berjalan sempoyongan. Aku menggeleng dan masuk ke dalam lift. Tiba-tiba aku jadi ingat dengan Yuri. Dia sangat beruntung, Seumur-umur aku tidak pernah mabuk dan diantar pria tampan ke apartemen.

Aku menyeka keringatku sebelum keluar dari dalam lift. Untung saja tadi lift-nya sepi sehingga aku tidak perlu memasang topeng besi, karena bau keringatku yang semakin menjijikkan setelah lari pagi. Detak jantungku masih tidak teratur karena lari pagi yang melelahkan. Jadi aku mengambil nafas panjang dan membuangnya perlahan.

Inhale…

Exhale..

Terdengar suara pintu terbuka. Aku bergidik, kulihat tetanggaku keluar dari apartemennya. Dia adalah seorang pria yang sudah tinggal setahun lebih di samping apartemen kami. Setahuku dia orang yang ramah, dia juga orang yang rajin, dan sebenarnya dia cukup tampan. Kami saling bertegur sapa tapi tidak pernah kenal satu sama lain. Mungkin karena dia seorang work-aholic, sehingga tidak terlalu memikirkan soal kehidupan sosialnya.

Annyeong!” sapaku seperti biasanya.

Annyeong” sahutnya ramah. Hehe, aku jadi membayangkan wajah Jessica minggu lalu. Pasti wajahnya sangat lucu.

Kami –aku, Yuri, dan Jessica- memanggilnya Ahjussi Apartemen Sebelah karena tidak mengetahui namanya. Sesudah menyapanya aku segera berjalan menuju pintu apartemenku.

“Eh, kau dari apartemen sebelahkan?” tanyanya padaku tiba-tiba.

Aku menghentikan langkahku dan berbalik untuk melihatnya. Kemudian aku mengangguk dan mencoba sekeras mungkin untuk terlihat polos dan imut. Lalu Ahjussi apartemen sebelah tersenyum dan memetik jarinya.

“Apa kau sibuk hari ini?”

Aku membesarkan mataku. Apa dia mencoba mengajakku kencan? Secepat ini? Kami bahkan belum saling mengenal. Aku baru benar-benar berbicara padanya hari ini. Apakah dia semacam penggemar rahasiaku?

Aku tersenyum dan menunduku malu-malu. “Sebenarnya hari ini aku ada jam kuliah pagi, tapi aku kosong setelah jam makan siang”

Pria itu menepuk tangannya sekali dan tersenyum puas. Aku tidak mendengar dia bergumam apa, tapi hal itu membuatku tersipu malu.

“Kebetulan sekali, Bolehkah aku tahu namamu? Dan tempat kuliahmu?”

Oh My God! Dia langsung ingin tahu kehidupan pribadiku? Seolma, Pria ini terlalu terburu-buru. Sepertinya aku harus ketus agar tidak dianggap gadis murah.

“Im Yoona, aku kuliah di Chung-ang Jawabku pendek.

Pria itu mengangguk dan melipat tangannya di depan dada. Dia terlihat berpikir sambil mengelus-elus dagunya. “Kebetulan sekali, tapi bukankah Chung-ang cukup jauh dari sini, berarti kau harus berangkat pagi?” ujarnya.

Merasa ada yang ganjil, aku mencoba frontal “Ya, tapi apa tujuanmu menanyakan hal seperti itu padaku?”

Pria itu menggaruk kepalanya dan nyengir lebar “Sebenarnya, aku mempunyai seorang adik, adik sepupu, dia sedang ingin survey tempat kuliah, bisakah kau menemaninya? Tidak harus hari ini jika kau mau,  aku akan tanyakan kapan dia ingin survey” katanya antusias.

Senyum di wajahku luntur seketika, penjelasannya barusan membuatku tertohok. Dia baru saja menyadarkanku bahwa seharusnya aku sadar diri dan tidak jadi terlalu percaya diri.

Aku sibuk dengan pikiranku sendiri ketika pria itu menjelaskan soal kenapa dia tidak bisa menemani sepupunya. Mataku mencoba terlihat antusias, namun di dalam hati, aku tidak peduli. Intinya, dia sedang mencari orang untuk menemani adik sepupunya mencari tempat kuliah. Sh**!

Selesai bicara, laki-laki itu bertanya padaku, “Bagaimana? Kau mau menemani adik sepupuku?”

Aku tidak sepenuhnya mendengarkan. Aku juga tidak menganggap hal ini serius, mana mungkin aku mau ‘menemani’ adik sepupunya mencari tempat kuliah. Itu bukan urusanku. Masih banyak hal yang bisa dilakukan oleh Im Yoona selain menjadi baby sitter, seperti kencan misalnya, belanja, atau hang out bersama teman kuliahku. Tapi, anehnya aku tidak ingin jujur dengan perasaanku kali ini. Alih-alih menggeleng dan menolaknya dengan tegas, aku mengangguk diikuti senyum manis.

“Terimakasih, maaf sudah merepotkanmu” Pria itu membungkuk sedikit dan segera pergi. Mendadak dia berhenti dan berbalik untuk melihatku.

“Namaku Lee Donghae. Maaf,aku lupa memperkenalkan diri, Selamat pagi” katanya.

“Selamat pagi” balasku lemah.

Aku masih berdiri terpaku. Sekarang aku sudah terjebak dengan kebohongan manisku, sudah terjerumus ke dalam jurang yang sangat dalam dan tidak bisa kembali lagi, yang bisa kulakukan sekarang hanya berharap agar sepupu Lee Donghae Ahjussi tidak menyebalkan, atau dia tidak suka denganku sehingga aku tidak perlu repot-repot mengantarnya keliling melihat-lihat Universitas di Seoul.

Aku jadi berpikir siapa sepupunya. Apa pria tidak sopan itu? Kulihat mereka berdua di lift kemarin. Kedua alisku terangkat. Kurasa iya, pria tidak sopan itu adalah sepupunya. Tapi jika kulihat mereka sama sekali tidak mirip. Ah, entahlah. Aku tidak peduli.

Aku mendengus dan kembali ke apartemen. Perutku sudah melilit dan aku harus mendapat asupan karbohidrat secepatnya.

Author P.O.V

Jonghyun bangun dari tempat tidurnya dan masih duduk sambil mengusap mata kirinya. Dia menguap dan mengerjap-ngerjapkan matanya agar pandangannya semakin jelas. Setelah dia merasa benar-benar bangun, dia keluar dari kamar dan berjalan ke dapur untuk minum air putih. Sesudah meminum air putih, dia berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi. Jonghyun membasuh mukanya hingga rambutnya jadi sedikit basah. Kemudian dia menyilakan rambut coklat gelapnya itu sambil melihat wajahnya di kaca dan tersenyum.

“8 April 2013, dan kau tambah tampan” ujarnya pada bayangannya di kaca.

Dia melihat sikat gigi yang di taruh di dalam gelas. Ia lupa lagi jika belum membeli sikat gigi. Jonghyun memutar bola matanya dan berdecak kesal. “Mianhae, Hyung, Aku pakai dulu ya katanya sambil mengambil sikat gigi milik Donghae dan memberi pasta gigi di atas sikat gigi itu.

Setelah menyikat gigi, Jonghyun melakukan sedikit peregangan. Dia melakukan beberapa gerakan yoga dan melatih tendangannya. Maklum, dia atlet judo saat masih SMA. Merasa tubuhnya sudah cukup berkeringat dia menyelesaikan aktivitasnya dan melihat makanan yang sudah di siapkan Donghae di meja makan. Dia juga melihat kertas bertuliskan ‘selamat makan, aku bikin sendiri lho’ dari Donghae dengan emoticon senyum.

“Oh, Hyung menjelma jadi istri yang baik, atau mencoba menjilat Ayahku” Katanya sambil duduk dengan bersemangat. Dia membalik piringnya dan mengambil nasi dalam jumlah sangat banyak ke piringnya. Tak lupa kimchi dan lauk-lauk lainnya. Dia ingin merasakan makanan buatan Donghae karena biasanya Donghae selalu membeli makanan dari luar.

Sesendok pertama rasanya sangat aneh, yang kedua rasanya semakin memuakkan, yang ketiga Jonghyun sampai memuntahkannya di atas piring. Pelajaran yang dia dapat pagi ini adalah, don’t judge a food by it appareance. Sejak pagi itu dia berjanji pada dirinya untuk tidak memakan apapun yang dimasak oleh Donghae.

Jonghyun memutuskan pergi ke kamar untuk mengambil pakaian ganti. Dia akan mandi dan berjalan-jalan ke dunia maya setelahnya. Selama kakak sepupunya belum menemukan Tour Guide untuknya dia tidak akan pergi kemanapun, padahal  ini sudah seminggu semenjak Donghae menjanjikannya tour guide.

Ponsel Jonghyun bergetar di atas meja. Dia melangkah mendekatinya dan mengangkat telepon dari kakak sepupunya itu.

Yoboseyo” sahutnya.

“Hyunnie, aku menemukan tour guide untukmu”

Jonghyun tersenyum kegirangan. “Jinjja?” katanya datar mencoba menyembunyikan kegembiraannya itu. Jika Hae Hyung sudah menemukan tour guide, artinya dia bisa bebas pergi kemanapun dia suka tanpa takut tersesat.

Eoh, katakan padaku kapan kau mau pergi survey!” Kata Donghae dari seberang telepon.

“Hari ini, Aku ingin segera melihat universitas mana yang cocok denganku” kata Jonghyun bohong. Padahal sebenarnya dia hanya ingin jalan-jalan saja.

Well, aku tidak punya nomor telepon tour guide itu, tapi aku tahu alamatnya, kau bisa berkunjung ke apartemen 717, dia tetangga kita” kata Donghae ragu.

“Apartemen 717?” tanya Jonghyun penasaran. Dalam hati dia sedang menebak-nebak. Jika itu apartemen 717, itu artinya adalah apartemen yang ada di samping kiri apartemen kakak sepupunya.

Ne, Dia juga mahasiswi di Chung-ang, jika kau tertarik ke Chung-ang, kau bisa bertanya padanya”

Jonghyun mengangguk paham. “Okay, Gomawo Hyung!”

“Ah, Lebih baik kau segera bersiap-siap jika ingin bertemu dengannya hari ini, dia ada jam kuliah pagi, kau mungkin juga bisa ikut dengannya sekalian jika ingin melihat-lihat Chung-ang, Oh, ya! Namanya Im Yoona” kata Donghae.

Jonghyun tersenyum tipis. “Oke! Aku akan segera bersiap, kkalgae Hyung!” Kata Jonghyun dengan nada malas. Jonghyun mematikan teleponnya dan meloncat kegirangan. Dia meninju tangannya ke udara dan tersenyum penuh kebahagiaan. Akhirnya dia bisa jalan-jalan!

Back To Yoong…

Aku menusuk brokoli itu dengan garpu dan melahapnya malas. Sarapan yang disiapkan Yuri selalu menu vegetarian seperti ini, tidak ada bumbu, tidak ada cita rasa. Hanya sayuran dan hal-hal berbau protein dan vitamin, tidak ada lemak jahat. Huh, padahal lemak jahat itu enak.

“Yoong, kau tidak cepat-cepat? kau bisa ketinggalan bus” kata Yuri sambil memotong apel di depanku.

Jangan bertanya tentang Jessica, dia tidak akan bangun di bawah jam delapan pagi. Itu disebabkan oleh siklus hidupnya yang kurang sehat. Dia bekerja sebagai penyanyi di sebuah cafe’, dan dia selalu pulang di atas jam sebelas malam.

Aku mendengus dan menusuk brokoli lain di piringku. “Jika aku terlambat aku tinggal bilang ‘April Mop’ pada dosenku, dan semuanya selesai” jawabku santai.

“Aissh, Jinjja, April Mop sudah minggu lalu! Cepat selesaikan sarapannya dan sikat gigi, setelah itu berangkat” Ih, apakah Yuri dan Jessica terkena jampi-jampi Ibuku hingga jadi lebih mirip dengannya akhir-akhir ini?

Ngomong-ngomong, Yuri  terlihat agak sumringah hari ini.

Terdengar suara bel pintu. Aku dan Yuri sontak menoleh dan langsung bertatapan. “Tukang susu?” tanya kami bersamaan.

“Aku akan melihat apa tujuannya datang kemari” kata Yuri seraya berdiri dari kursi.

Aku mengangguk dan memakan brokoli-ku lagi, berusaha sekeras mungkin menikmatinya seperti memakan gal-bi.

“…Im Yoona”

Aku tidak begitu tertarik dengan pembicaraan Yuri dan tukang susu awalnya. Tapi ketika namaku disebut-sebut aku jadi penasaran. Aku menyipitkan mataku dan melihat ke arah pintu. Aku menangkap sesosok yang begitu familier.  Jika tidak salah, dia adalah pria tidak sopan itu. Benarkah? Dia kesini? Sepagi ini? Urusan apa?

Selesai dengan sarapan, aku memakai kacamata dan jaket putihku lalu mengambil tas selempenganku dan berjalan ke arah pintu. Yuri masih berdebat dengan pria itu mengenai tidak ada yang bekerja sebagai ‘tour guide’ di apartemen kami.  Tentu saja tidak, karena aku juga tidak merasa pernah menerima pekerjaan sebagai tour guide.

Tebakanku benar, dia pria tidak sopan itu. Dia lebih tinggi dariku sekitar 10 centi atau lebih, wajahnya sinis dan kaku, dia cocok jadi tokoh antagonis di drama. Rambutnya berantakan berwarna coklat gelap, seperti rambut mantan kekasihku. Hanya saja rambutnya yang berantakan itu sangat cocok dengannya, sedangkan mantanku tidak. Untuk kesan pertamaku pagi ini, aku memberinya nilai enam dari sepuluh karena penampilannya yang keren.

“Kau tour guide-ku?” tanyanya padaku tanpa say hello. Oke, berkurang jadi lima setengah.

“Tidak ada yang bekerja sebagai tour guide di sini” kataku.

Pria itu memiringkan kepalanya dan berdecak kesal. “Ini apartemen 717, apa kalian mengerjaiku? Maaf, April Mop sudah berakhir” Ujarnya sok.

Aku memicingkan mataku dan merasa gondokan. Aku dan Yuri saling berpandangan dan memutar bola mata. Aku melihat lagi pria menyebalkan itu. Wajahnya masih datar tanpa ekspresi, dia hanya mengamati kami bergantian.

“Namanya Im Yoona” katanya sambil melihat ke arah Yuri, lalu pandangannya berhenti padaku. “Kau Im Yoona” tebaknya.

Sejak kapan aku jadi tour guide?…Oh, aku mengerti sekarang, yang maksudnya ‘menemani’ itu jadi tour guide begitu? Oh,oh, aku mengerti. Berarti aku harus meminta bayaran pada ahjussi apartemen sebelah setelah ini.

“Dia Im Yoona” kata Yuri sambil mendorongku dari kusen pintu apartemen. Aku melemparkan tatapan membunuh padanya, namun dia segera berlari masuk ke dalam apartemen dan meninggalkanku sendirian menghadapi pria ini.

Aku tersenyum kecil dan merentangkan tanganku. “April Mop” Ujarku diikuti senyuman ala model pasta gigi. Jadi, ini sepupunya. Pertanyaanku sepagian ini sudah terjawab, namun harapanku ternyata tidak terkabul. Kupikir hari lain, atau tidak jadi sama sekali malah ternyata pagi ini, uh sial!

Kkaja” katanya sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana.

“Aku belum memakai sepatu” kataku.

Aku mengambil sepatu  Doc Martens-ku dari rak sepatu dan memakainya dengan terburu-buru. Aku sedang berpikir bagaimana cara jadi tour guide. Aku tidak begitu mengerti bagaimana harus menjelaskan tempat ini, tempat itu. Lagipula, pengetahuan geografiku juga buruk. Aku bukan Yuri yang hafal peta Korea Selatan, aku juga bukan Jessica yang hobi jalan-jalan tidak jelas.

Hurry!” Katanya sambil menarik tanganku. Aku hampir saja jatuh jika tidak menyeimbangkan tubuhku.

Jinjja, apa kau punya sopan santun?” kataku setengah membentak sambil menutup pintu apartemen.

Pria itu menghela nafas dan melirik tajam ke arahku. Tatapannya masih datar, tapi lirikannya tajam. “Sedikit” jawabnya pendek.

Aku bersungut-sungut dalam hati, jika ini adalah test ‘bagaimana cara memperlakukan wanita dengan benar’ aku hanya akan memberikannya nilai nol dari sepuluh.

Biasanya aku bisa jadi muka tebal, tapi kali ini aku malu karena pria ini. Dia terlalu jujur saat mengatakan bau nafasku tidak enak, jadi aku harus menutupinya selama perjalanan ke Chung-ang.

“Di dekat Chung-ang ada dua universitas, Universitas Soong-sil dan Universitas Chong-shin, agak jauh dari sana ke arah selatan, ada Seoul National University, asal kau tahu Universitas itu adalah Universitas favorit. Tapi Chung-ang juga tidak buruk, ranking tiga belas nasional,” kataku pelan sambil menutup mulutku, kemudian aku sedikit mengeraskan suaraku “Seungri dari Big Bang juga mahasiswa disana, Hyun Bin, Kim Beom,”

“Yoona-ssi terlihat banyak tahu ya,” dia memotong “ Aku senang, mempunyai tour guide yang banyak tahu,” katanya sambil tersenyum dan mengerjapkan matanya. “Tapi, bagaimana jika Yoona-ssi diam?” tegurnya halus dengan senyum yang memudar.

Aku mendengus, aku selalu punya firasat mengenai apa yang akan dikatakan laki-laki itu. Dan biasanya yang dilontarkannya tidaklah mengenakkan untuk didengar, jadi sejak awal aku sudah menyiapkan hati. “Geurae?” ujarku sambil tersenyum palsu.  Penilaianku terhadapnya semakin berkurang, dan sekarang tinggal empat dari sepuluh.

“Saat kau kuliah, apa yang harus kulakukan?” tanyanya dengan intonasi malas.

“Entahlah” jawabku ketus.

Dia tidak membalas perkataanku selama beberapa detik. Aku cukup senang membuatnya bingung, apalagi ekspresi berlipat-lipat diwajahnya semakin membuatku merasa menang. Aku suka saat dia merasa kesal. Rasanya dendamku seperti terbalaskan.

“Yoona-ssi, pemarah ya?” katanya sambil melipat petanya dan melihat ke arahku.

Aku meliriknya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Siapa dia? Berani menilaiku seenaknya? Kenal saja tidak! “Tidak” jawabku pendek.

Dia tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Saat aku melihatnya seperti itu, rasanya dunia seperti slow motion, sepertinya dia memang orang yang suka melakukan banyak hal dengan lelet.

“Mm, baguslah” Ujarnya.

Aku mengernyitkan dahi. Pria macam apa sih dia? Cuek iya, perhatian iya, kenapa karakternya membuatku bingung.

Permen mint yang kumakan tidak bisa mengubah persepsi orang-orang tentangku pagi itu. Mereka melihatku dengan ekspresi takjub dan bingung. Mungkin mereka mengira aku bisa move on secepat ini dari Junwon. Padahal sebenarnya aku belum bisa, aku masih sering memikirkan tentang Junwon. Tapi, jika aku bilang pria ini bukanlah kekasih baruku, tidak akan ada yang percaya apalagi Junwon. Ah, biar sajalah. Yang penting aku tidak ada hubungan apa-apa dengan sepupu Lee Donghae ini.

“Tempatnya bagus” Komentar pria itu. Aku berbalik untuk melihat apa yang dia lakukan.

Dia sedang berdiri dan memotret gedung utama Chung-ang dengan kamera LSR Nikon. Kurasa aku bisa meninggalkannya sekarang, dia bisa berkeliling kampus untuk melihat-lihat selagi aku di kelas.

“Im Yoona-ssi, Apakah tidak lebih baik jika aku ke Seoul-Dae (Seoul National University)?” Katanya membuat langkahku terhenti.

Aku tersenyum dan memiringkan kepalaku. “Mm, mungkin” Jawabku sekenanya, aku sedang berpikir. Apa dia menyombong? Atau apa?

“Kudengar Kim Youngsam, Ban Ki Moon, Lee Yoon Woo,Lee Sooman, dan Kim Taehee adalah alumni dari Seoul-Dae, menurutmu bagaimana jika aku di sana? Kurasa alumni dari sana lebih hebat”

Semua orang melihat ke arah kami. Aku berlari mendekatinya dan menepuk bahunya pelan sambil menyembunyikan wajahku di lengannya. “Ya, kau tidak perlu mengatakannya keras-keras” Bisikku mengingatkan. Kurasa dia sedang ingin membalas sesumbarku soal Chung-ang di bus tadi.

Aku tidak mengerti maksudnya saat ia menyebut nama semua orang itu.Satu-satunya yang kutahu hanya pemain IRIS dan Founder SM. Maksudku, aku tahu mereka semua orang hebat, tapi apa dia perlu menyebut mereka semua di sini. Rasanya seperti menjelek-jelekkan Universitasku.

“Bagaimana menurutmu?” tanyanya sambil berbisik di telingaku.

Aku menjauh darinya dan menatapnya kesal. “Ah, MOLLA!!!” Aku berteriak ke arahnya dan pergi meninggalkannya berdiri disana. Tapi sepertinya dia mengejarku. Karena nyatanya dia masih mengikutiku sampai lorong gedung universitas.

Author P.O.V

Jonghyun melihat gadis itu masuk ke ruang kelas dan meninggalkannya begitu saja dengan kebingungan luar biasa.

Semuanya begitu asing baginya. Dia tidak pernah datang ke Universitas ini sebelumnya, jadi dia sedikit takut kalau tersesat. Universitas ini cukup luas dan ada kemungkinan dia akan tersesat lalu ditinggalkan oleh gadis cerewet,sok tahu yang aneh itu.

Ia mengambil ponsel dari saku celananya dan mencoba menghubungi seseorang. Wajahnya terlihat gugup saat menelpon orang itu. Tentu saja itu bukan kakak sepupunya, dia tidak akan segugup itu.

Yoboseyo” katanya.

Terdengar sahutan dari sisi lain telepon. Wajahnya langsung berseri dan terlihat lesung pipit manis di kedua pipinya.

“Miyoung-ssi?” katanya.

Wajah Jonghyun langsung sumringah lagi. Dia bisa mendengar pekikan Miyoung. Saat itu dia sedang mendengar Miyoung yang menanyakan bagaimana keadaannya, bagaimana kabarnya, bagaimana inggris. Lalu tanpa dinyana, seseorang memukul kepala Jonghyun dari belakang.

Dia sedikit tersentak dan kaget.

“Miyoung, aku akan menelponmu lagi” kata Jonghyun sambil mematikan teleponnya.

Ketika dia berbalik ke belakang, dilihatnya seorang Pria tua pendek, berambut putih mengenakan pakaian yang sangat kuno. Jonghyun memperhatikannya dari atas sampai bawah dan melihat Pria itu kesal. Dia Dosen, pikir Jonghyun.

“Apa kau tidak akan masuk kelasku, Ha?!!” Dosen itu menyalak-nyalak.

Jonghyun menelengkan kepalanya dan terlihat menghitung tinggi dosen itu yang tidak sampai sedada Jonghyun. Setelah itu Jonghyun meluruskan kepalanya dan membungkuk ke arah pria itu.

Annyeong-haseyo” sapanya.

Pria itu melihat Jonghyun dengan aneh. Tidak sopan sekali anak ini, pikirnya. “Jika kau tidak masuk ke kelas, aku tidak akan memberimu nilai” kata Dosen itu.

“Tidak apa-apa, Profesor, lagipula saya bukan mahasiswa di sini, sebenarnya saya sedang mencari di mana saya bisa mendapat informasi tentang Universitas Chung-ang”

Jonghyun mengedarkan pandangannya ke setiap sudut lorong dan tersenyum pada Dosen itu. Ia senang ketika menemukan ekspresi kaget-bersalah-bingung di wajah sang dosen.

Dosen itu membesarkan matanya, mulutnya terbuka sedikit dan ia tidak bisa berkata-kata. Setelah disadarkan oleh waktu. Dosen itu tersenyum canggung pada Jonghyun. Ia baru saja sadar jika Jonghyun bukanlah mahasiswa Chung-ang. Dosen itu merasa konyol dan mengulum senyum kecil dibibirnya.

“Ah, ikutlah denganku, aku akan tunjukkan tempatnya”

Jonghyun mengangkat kedua alisnya dan menunduk sekilas. Setelah itu dia mengangguk dan berjalan ke samping dosen itu.

“Bagaimana dengan mahasiswa yang menunggu anda?” tanya Jonghyun.

“Mereka bisa menunggu lebih lama” kata Dosen itu sambil tersenyum tidak enak pada Jonghyun.

Jonghyun melihat brosur itu dan mengipas-ngipaskannya. Setelah itu dia keluar dari sebuah ruangan dan berniat mencari Im Yoona yang entah di mana sekarang.

Dia menarik nafas sejenak dan membuang semua rasa kesal yang tiba-tiba merayapi tubuhnya. Dia seperti seorang perempuan dalam periodenya akhir-akhir ini. Dia jadi lebih sentimental dan lebih mudah marah, mungkin dia masih mengalami jetlag. Tapi rasanya tidak mungkin, dia sudah nyaman berada di Korea.

Jonghyun menggelengkan kepalanya dan melanjutkan perjalanannya mencari Im Yoona, tour guide jadi-jadian yang disewakan Hae Hyung untuknya.

Dia menyadari jika sedari tadi banyak mahasiswi yang melihatnya dan berbisik-bisik tentangnya di belakang. Jonghyun bahkan sempat melirik tajam ke arah mereka karena risih. “What’s with people over here?” gumamnya.

Tiba-tiba ponselnya berdering, dia mengambil ponsel itu dari saku celananya dan menjawab telepon masuk itu. “Yoboseyo” Sahutnya.

Dia mendengarkan orang dari seberan telepon berbicara sambil mengangguk dan tersenyum. “Baiklah, kita bertemu di mana, N Seoul Tower?”

Orang itu membenarkan perkataan Jonghyun. Jonghyun tersenyum sambil mengangguk, kemudian mengakhiri telepon itu. Dia melihat ke sekeliling. Dia rasa, dia bisa berkeliling universitas ini sebentar dan kemudian pergi mencari Im Yoona.

Back To Yoong…

Aku cukup senang karena tidak ada yang bertanya soal laki-laki itu padaku. Hanya saja aku sudah dengar rumor soal ‘Kekasih Baru Yoona Mahasiswa Seoul-Dae’dari Hyoyeon dan Min. Jika itu kenyataan maka aku akan sangat beruntung. Tapi masalahnya itu hanya rumor, aku tidak berpacaran dengan siapapun (10 hari bukanlah waktu yang cepat untuk melupakan Junwon), dan aku hanya kenal beberapa mahasiswa Seoul-Dae, itupun tidak dekat.

“Oh, Im Yoona-ssi” Pria itu melambai ke arahku sambil menyunggingkan bibirnya sedikit.

Aku tersenyum canggung. Aku langsung berlari menuruni tangga untuk menemuinya. Ketika aku berhenti di depannya, tiba-tiba dia memberikanku sebuah brosur.

“Aku tidak butuh ini, aku akan masuk Seoul-Dae” katanya cukup keras.

Orang-orang yang mendengarnya langsung menoleh ke arahku. Termasuk beberapa dosen yang baru saja lewat. Aku tersenyum pada orang-orang dan menarik pria itu menjauh.

“Aku sudah memberitahumu, jangan menyombong keras-keras” Kataku. Sepertinya pria ini tidak peduli jika penilaianku terhadapnya jadi tinggal tiga dari sepuluh.

Pria itu terlihat tidak mengerti, dia menatapku seolah-olah aku baru saja mengoceh dalam bahasa reptilian.

“Kau sudah selesai kan? Karena kau tour guide-ku, bisakah kau merekomendasikan tempat makan siang yang enak? Setelah itu kita ke Seoul-Dae” katanya lagi.

Aku menenggelamkan wajahku pada telapak tangan. Aku bisa dibunuh oleh orang-orang di kampus jika dia terus menyombong soal Seoul-Dae.

“Im Yoona-ssi, apakah N Seoul Tower jauh dari sini?” tanyanya tiba-tiba saat kami sudah dekat dengan dengan Seoul-Dae.

Aku menoleh dan mengangguk. “Tentu saja, Namsan Tower jauh dari sini, ini di selatan Seoul, sedangkan Namsan Tower ada di sentral Seoul, dan jika kita ke Namsan Tower, kita harus naik bus lain, dan setelah itu melewati…” Aku menjelaskan, tapi pria itu malah melengos tidak peduli. Aku jadi merasa kesal karena diabaikan, Hei! Aku mencoba jadi tour guide yang baik, jadi tolong hargai yang sedang berbicara. Kataku dalam hati. “Sebenarnya kau mau ke Seoul-Dae, atau kemana sih?”

“N Seoul Tower” Jawabnya dengan logat british.

Aku memutar bola mataku, “jika waktunya masih cukup kita akan ke Namsan Tower, tapi jika tidak, setelah dari Seoul-Dae, kita pulang, lalu lintas susah di perkirakan sekarang”

Pria itu membuang pandangannya, terlihat bosan dengan semua yang dilihatnya. Aku jadi ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat dia mendorongku ketika aku berbicara dengan sopir taksi dari Incheon dan saat dia mendorongku di depan lift. Hatiku jadi terbakar lagi, dengan sikapnya yang super menyebalkan dan tidak sopan itu seharusnya ada yang memberinya pelajaran. Tapi aku belum tahu, kira-kira apa yang bisa membuat manusia minim ekspresi ini kesal sampai ke ubun-ubun?

Bus itu berhenti di depan sebuah halte, aku melihat dari jendela sopir dan melihat sejauh apa kami dari Seoul-Dae. Masih satu halte lagi.

Kami sampai di dekat gerbang depan Seoul-Dae dengan sedikit memalukan. Bukan kami, hanya aku.

Tanpa sepengetahuanku, tali sepatuku lepas dan aku tidak sengaja menginjaknya saat keluar dari Bus tadi, jadi aku terjatuh dari pintu bus. Refleks, aku menjatuhkan sikutku dulu sehingga sikutku lecet dan mungkin berdarah, untung saja aku sudah melepas jaket putihku dan menaruhnya di dalam tas, jadi aku tidak perlu repot-repot mencucinya karena kotor.

Ada beberapa mahasiswa Seoul-Dae yang melihatku saat terjatuh dan mereka menertawakanku. Bagian menyebalkannya adalah, Pria itu hanya menatapku aneh, tidak tertawa ataupun bergerak untuk menolong. Dia hanya berdiri dalam diam. Aku jadi benar-benar tidak menyukai pria ini, kurasa nilainya sekarang hanya dua dari sepuluh.

Aku mencoba untuk tidak merasa malu, lagipula ini sudah terjadi. Yang memalukan biarlah memalukan. Lihat sisi positifnya! Aku bisa membuat orang-orang tertawa.

Aku bangun dan memperbaiki tali sepatuku. Pria itu berjongkok dan melihat siku tanganku yang berdarah. Dia berkedip dan melayangkan pandangannya padaku.

“Kau harus mencuci lukamu” katanya sambil mengambil sebotol air mineral dari tasnya dan menyodorkannya padaku.

Tanganku otomatis mengambilnya, lalu aku berdiri dan meminumnya dengan perasaan campur aduk. Sebenarnya aku sangat kesal karena dia tidak membantuku tadi. Tapi aku tidak bisa marah begini jika dia terus bersikap baik padaku.

“Terimakasih!” kataku sambil mengembalikan botol minumnya dengan kasar.

Pria itu menggeleng dan menatapku datar. Dasar manusia minim ekspresi! Rasanya ingin ku gampar atau bagaimana agar dia bisa tersenyum atau setidaknya cemberut. Aku melangkah menjauhi pria itu dan berjalan mendekati pintu gerbang Seoul-Dae.

Langkahku terhenti untuk mengamati pintu gerbang Seoul-Dae yang baru benar-benar kuperhatikan.

Gerbang itu tidaklah terlalu mewah seperti milik Chung-ang. Tapi rasanya seperti ada sesuatu di balik gerbang perkasa yang terbuat dari besi berbentuk segitiga itu. Mungkin maksudnya membentuk huruf ‘s’ (korean s = ㅅ)begitu ya. Kan Seoul huruf depannya S.

“Kau mau masuk atau tidak?” tanyaku pada pria minim ekspresi itu.

Berbalik adalah keputusan yang salah, aku tambah kesal saat melihat pria itu tengah memotret gerbang  depan Seoul-Dae. Aku membenarkan kacamataku dan berdehem. Pria itu menghentikan kegiatan memotretnya dan menatapku muram. Caranya memandangku seakan-akan aku adalah benda paling mengganggu di dunia.

“Tidak, aku  sudah pernah masuk ke sana saat aku masih kecil” jawabnya sambil melanjutkan kegiatan memotretnya.

Bahuku lemas dan rahangku refleks mengeraa. Sebisa mungkin aku memaksakan senyum di wajahku yang cantik ini. “Lalu kenapa kita kesini? Apa kau mengerjaiku? Ya! Aku bukan Baby sitter” teriakku kesal.

Ada beberapa mahasiswa yang lewat dan mereka melihatku dengan sorot mata dasar-orang-udik yang sangat menyebalkan. Aku menghiraukan semua itu dan mulai merasakan perih di sikutku. Darah dari luka tadi sudah membasahi kemeja biru pucatku dan itu sungguh menjijikkan.

Ya! Neo!” Aku memanggilnya seraya berlari kecil mendekatinya.

Dia lagi-lagi menoleh malas ke arahku.  “Mwo?” tanyanya.

“Minta air tadi” kataku ketus.

“Ambil!” sahutnya sambil mengedikkan kepalanya ke samping.

HIIH! Tidak peka! Aku pikir dia akan mengambilkan, tapi ternyata… Huh, mulai sekarang aku tidak akan berharap apa-apa darinya. Aku membuka tas ranselnya yang berwarna coklat dan mengambil botol air mineral itu. Aku menyiram airnya ke tangan kiriku, setelah itu aku menepuk-nepuk sikuku dengan tangan kananku agar bersih.

“Apa kau kesulitan?” tanya pria itu sok perhatian.

“Aku bisa melakukannya sendiri” tepat setelah menyelesaikan kalimat itu, botol yang kupegang jatuh, dan isinya tumpah semua.

Pria itu hanya mengamati botol yang kujatuhkan dan wajahku bergantian. Dia masih bertahan dengan ekspresi datarnya. Tak lama, dia memijit keningnya dan menghela nafas. Setelah itu dia tersenyum tipis padaku, saking tipisnya, aku tidak bisa memastikan apakah dia benar-benar tersenyum. “Im Yoona-ssi  selain pemarah, ternyata keras kepala dan ceroboh ya?”

Aku menggeram dan meliriknya tajam. “Ini semua karena kau! tahu tidak?”

Dia menggeleng, setelah itu ia melihat jam tangannya. Aku baru sadar jika dia mengenakan jam dari tadi. “Lebih baik kita mencari hansaplast dan membersihkan lukamu dulu, aku tidak mau disalahkan atas kesialanmu” Mudah sekali dia berbicara. Perkataannya barusan terdengar manis sekaligus sinis.

Kami pergi ke sebuah mini market di dekat Seoul-Dae. Karena kami tidak bisa menemukan alkohol, dia membeli tisu dan air mineral sebagai gantinya. Dia menyuruhku duduk di sebuah kursi panjang di luar mini market setelah mendapat apa yang kami beli.

Ia menuangkan sedikit air ke atas selembar tisu yang masih terlipat. Dia menarik tangan kananku dengan sedikit kasar dan aku menarik lengan kemejaku ke atas. Kemudian dia membersihkan sikuku dengan tisu. Aku tidak ingin bilang jika dia mirip dengan kakakku saat bersikap seperti ini. Mendadak aku jadi merindukan Busan dan suasana keluarga yang hangat.

“Argh” erangku kesakitan. Tadi itu perih.

“Diam” Gertaknya halus.

Aku mendengus dan memandang ke sekeliling. Suasananya tidak seramai di Gangnam, justru itu yang menyenangkan, jauh dari hingar-bingar dan gemerlap dunia di Cheongdam-dong. Jujur saja aku lama-lama muak dengan suasana kota yang selalu ramai, seakan tidak pernah tidur. Tapi tempat ini menawarkan keramaian yang berbeda. Keramaian yang menyenangkan.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah pria minim ekspresi itu. Dia membuang tisu kotor yang telah berlumur darah itu sembarangan. Yaks!

“Kurasa tidak adil, kau tahu namaku, tapi aku tidak tahu namamu” Ceplosku.

Pria itu mengangguk dan mendongakkan kepalanya. “Aku memang bukan orang yang adil” Sahutnya datar.

“Aku serius” kataku setengah mendidih.

Dia menghela nafas. Selesai mengeringkan air yang tadi membasahi lukaku dengan tisu kering dia menatap kedua mataku dengan tajam sampai menembus kacamataku, lalu tatapannya tepat membidik manik mataku. Otomatis yang bisa aku lakukan hanya diam dan memandang matanya.

“Kau pikir aku tidak serius?” katanya sambil mengangkat kedua alisnya dan memasangkan hansaplast ke lukaku.

Hanya aku, atau memang dunia hanya sekecil pupil matanya yang berwarna coklat gelap itu? lalu, sihir apa yang barusan menguapkan rasa kesalku padanya?

“Ta,,ta,,tapi,”

Pria itu melihat jam tangannya lagi dan memainkan rahangnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling daerah itu.

“Yoona-ssi kkaja! Kita ke Namsan Tower” Katanya sambil menarik tanganku.

Di titik itu aku sadar bahwa pria itu sebenarnya tidak benar-benar ingin pergi melihat universitas-universitas di Seoul. Dia hanya mencari tour guide untuk menemaninya keliling Seoul.

“Aku tidak mau, aku hanya bilang menemanimu melihat universitas-universitas di Seoul” aku bersikukuh.

Pria itu memutar bola matanya dan melepaskan cengkraman tangannya dariku. Dia berkacak pinggang dan melihatku penuh rasa kesal. “Kau bilang padaku, atau Hae Hyung?”

Hae Hyung? Jadi dia memanggil Lee Donghae-ssi dengan Hae Hyung? Kyeopta! Aku menambah nilanya jadi tiga dari sepuluh.

Aku tak mau kalah. Aku ikut-ikut berkacak pinggang dan memasang wajah cemberut. “ Lee Donghae-ssi, lagipula kau tidak akan membayarku”

“Tentu saja aku akan membayarmu, itu sudah kewajiban. Tapi tolong, jadilah tour guide seperti yang kuinginkan. Bagaimana jika aku hilang? Bagaimana jika aku tersesat di Seoul gara-gara kau? Bagaimana jika aku sampai di culik? Bagaimana jika aku kecopetan dan tidak punya uang lalu aku terpaksa menggelandang, itupun jika aku menggelandang, bagaimana jika aku sampai melakukan tindak kriminal, apa kau mau tanggu jawab? Ha?”

Ya ampun! Dia benar-benar telah memikirkannya sampai sejauh itu. Visioner sekali dia sampai berpikir melakukan tindak kriminal segala. Wah,wah,wah salut untuknya. Ngomong-ngomong dia terdengar seperti manusia normal barusan. Manusia normal yang punya ekspresi dan bisa marah-marah.

Aku mengangguk diikuti dengusan. Kemudian aku melihat kearahnya dan mendongakkan kepalaku sedikit. “Aku yang menentukan bayarannya” kataku.

Deal!

Aku benar-benar penasaran dengan orang yang akan ditemui oleh pria itu. Sepertinya orang ini sangat spesial dan berarti baginya karena sedari tadi dia tidak bisa berhenti menggosok tangannya saat di dalam taksi. Rambutnya yang notabene berantakan dia rapikan sampai terlihat benar-benar rapi. Ia juga terlihat gugup, saat dia terlihat gugup dia jadi sangat berbeda. Tidak ada kesan jantannya sama sekali.

Aku yang duduk di kursi belakang hanya berkirim pesan dengan Yuri, membicarakan pria itu. Sungguh! Rasanya aku ingin belanja saja bersama Yuri dan Jessica mumpung ini masih awal bulan. Daripada menemaninya jalan ke Namsan Tower tanpa tujuan yang jelas, untukku.

Kami berjalan sekitar 200 meter dari pintu utama Myeongdong di Uniqlo, menyebrang jalan, kemudian naik ke arah Namsan melalui jalan kecil. Selama kami berjalan dia terus-terusan menggosok-gosok tangannya dan mengatur nafasnya seolah-olah dia akan menghadap raja, sesekali ia menoleh ke belakang dan bertanya kemana dia harus pergi selanjutnya padaku. Aku berjalan di belakangnya dalam diam untuk menyimpan energi karena perjalanan ini sangat melelahkan, aku hanya berbicara jika dia bertanya padaku dan menjelaskan sedikit tetang Namsan. Kakiku rasanya seperti di tindih ribuan beton, dan ya! Rasanya sangat melelahkan, tapi aku tidak berani mengeluh.

Akhirnya, dan akhirnya, kami sampai di stasiun kereta gantung. Huh, aku menyeka keringatku, rasanya ingin sujud syukur sesampainya di sana. Tapi dia segera naik ke dalam kereta gantung dan aku harus segera menyusulnya kalau tidak aku harus membayar 10.000 won lagi untuk naik kereta gantung lain, itupun jika aku tidak harus menunggu. Yang membuatku malas adalah menunggunya itu.

Aku duduk dengan sedikit kedinginan di dalam kereta gantung. Aku memang agak lemah dalam cuaca yang dingin. Untung hanya ada aku dan pria itu sehingga aku tidak perlu malu untuk bergetar seperti ini.

“Sebenarnya, kau mau menemui siapa di atas sana?” kataku mencoba terdengar akrab. Hari ini aku memakai kemeja yang cukup tipis karena kupikir aku tidak akan pergi kemana-mana selain kuliah.

It’s none of your business” jawabnya, dia pikir aku tidak tahu artinya? Walaupun aku mahasiswi dengan otak pas-pasan begini, bahasa inggris-ku termasuk di atas rata-rata.

“Baiklah, aku tidak akan menyentuh kehidupan pribadimu lagi” kataku sambil tersenyum tipis.

Aku membuang pandanganku keluar jendela dan melihat pohon mapel yang selalu membuatku terpukau. Seandainya aku kesini saat musim gugur pasti akan lebih menyenangkan. Tiba-tiba aku merasa kedinginan lagi. Oh ya, aku lupa. aku kan membawa jaket. Aku mengambil jaketku dari dalam tas dan memakainya.

Tak lama kemudian kami sampai di Namsan tower, kami sampai di bagian dasar dimana kami bisa menemukan restoran, cafe, dan beberapa toko souvenir. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke toko souvenir. Aku melihat beberapa miniatur Namsan Tower, mirip dengan milikku yang kupajang di kamar, ada banyak gembok. Hehe, gembok-gembok itu pasti untuk menulis harapan. Ketika aku berbalik untuk mamanggil si pria minim ekspresi, dia telah menghilang.

Aku meninggalkan toko souvenir itu dan berlari ke tempat kami datang untuk mencarinya. Kulihat seorang penjaga beseragam di dekat kereta gantung itu, aku rasa aku harus bertanya padanya. Lalu aku berlari ke arahnya dan bertanya tentang pria itu.

“Oh, Ahjussi, apa kau melihat seorang pria, tinggi, memakai jaket berwarna hitam yang ada hoodie abu-abunya, rambutnya berwarna sedikit coklat, wajahnya sedikit seperti orang eropa” kataku menjelaskan.

Sialnya, Ahjussi itu mengerutkan wajahnya dan menggeleng. Aku membungkuk dan berjalan lemas menjauhinya. Sampai aku berhenti di depan bagian gembok harapan. Gembok-gembok itu sangat manis, aku ingat pernah mengunci gembok di sini bersama Seulong Oppa. Itu dulu sekali saat aku masih berumur dua belas tahun. Hehe, bagaimana ya kabar Seulong Oppa di Amerika? Apakah Yoona kecil sudah bisa berjalan? Apa kabar dengan Gayoon Eonni?

Tanpa sadar aku sudah berjalan mendekati ribuan gembok-gembok itu. mencoba mencari apakah harapanku dan Seulong Oppa masih ‘tergantung’ disana. Atau sudah tidak bisa terlihat. Ketika aku meraih salah satu gembok. Terdengar langkah orang mendekatiku.

“Lebih baik kau ke cafe’, kurasa ini akan lama” Dia menyuruhku dengan nada sinis khas miliknya.

Aku menoleh ke samping dengan sedikit mendongakkan kepalaku. Kulihat pria itu tengah mengamati gembok-gembok yang tergantung di depannya. Oh, jadi sekarang dia muncul dan mengusirku? Sungguh tidak tahu diri!

Mencoba terdengar peduli, aku menanyakan,“Bagaimana denganmu?”

Dia menoleh padaku dan mengerjapkan matanya pelan. Setelah itu dia tersenyum tipis. “Jangan pedulikan aku, lagipula kau hanya tour guide” Cara bicaranya sudah berubah manis lagi saat mengucapkan kata-kata sarkastis.

Aku mengangguk. Aku mengerti, aku hanya tour guide, jadi aku tidak perlu peduli dengan kehidupan pribadi dan semua tetek bengek mengenainya. Dia benar, aku hanya tour guide.

Geurae, aku pergi dulu” kataku sambil memaksakan senyum dan melangkah memasuki sebuah cafe.

Ada rasa terpukul dalam benakku saat aku berjalan memasuki cafe’, aku juga tidak tahu kenapa, apa karena aku dibilang hanya tour guide oleh pria itu? Tapi memang benar sih, aku cuma tour guide. Jadi kenapa aku perlu sakit hati? Bodoh! Im Yoona Bodoh!

Selama  aku berada di dalam cafe’ itu, aku hanya duduk sambil menikmati kopi hangat, aku juga bermain dengan ponselku dan membalas pesan dari Yuri, ada juga pesan dari teman-teman kuliahku, tapi aku tidak membalas pesan dari mantanku. Aku heran, kenapa Jessica tidak segera membalas pesanku dari tadi. Oh iya, ini hari senin. Dia ada latihan dengan Kevin dan Eunji.

Satu jam pertama…

Aku berusaha tidak peduli, sesekali aku melihat keadaannya. Dia masih sibuk membaca tulisan orang-orang di gembok-gembok itu. Nilaiku untuknya semakin berkurang dan sekarang jadi tinggal 1 dari sepuluh

Berikutnya…

Aku merasa ada yang salah, hari sudah semakin gelap, matahari mulai mengisyaratkan perpisahan di ufuk barat dan dia belum juga menghampiriku, atau jangan-jangan dia meninggalkanku?

Selesai membayar, aku keluar dari cafe. Langkahku terhenti ketika melihat pria itu sedang berbicara dengan orang yang berpakaian sangat tertutup, ia memakai jaket musim dingin yang tebal, beanie berwarna hitam, dan sepatu boots yang aneh. Dia bahkan pakai kacamata hitam dan masker segala.

Mereka terlihat akrab. Naluriku mengatakan untuk terus melihat mereka berdua karena kurasa ada sesuatu yang luar biasa dengan orang bermasker itu.

Sebelum aku benar-benar mendekat pada mereka. Seorang pria berperawakan tinggi dan tampan berjalan mendekati mereka berdua dan berdiri di samping orang dengan pakaian serba tertutup, aku merasa familier dengannya. Lalu, seseorang bermasker itu memeluk lengan pria yang barusan datang.

Wajah si pria minim ekspresi langsung berubah muram. Dia tersenyum lesu saat menjabat  tangan si pria berpostur atletis. Selesai berjabat tangan, mereka berdua –si pria bertubuh atletis dan seseorang bermasker itu– membungkuk dan pergi meninggalkan si pria minim ekspresi.

Atmosfer di sekitarnya jadi aneh setelah itu dan aku merasa berkewajiban untuk memberinya simpati. Jadi aku masuk lagi ke dalam cafe dengan terburu-buru. Kemudian aku membeli segelas kopi. Setelah itu aku berlari keluar cafe untuk menghampirinya. Dia masih berdiri di tempat yang sama, hanya saja dengan bahu yang lebih lemas.

Dia berjalan ke belakang dan menjatuhkan pantatnya di kursi panjang dengan dramatis. Aku berjalan tenang dan menghampirinya bersama segelas kopi yang kubawa.

“Ini untukmu” kataku sambil menyodorkan gelas itu.

Dia tidak bereaksi apapun, masih mematung dalam dunianya. Ternyata simpatiku barusan tidak membuahkan hasil. Aku duduk disampingnya sambil menekan kakiku ke tanah, berusaha menahan tubuhku agar tidak tergelincir ke arah pria itu. Kursi yang kududuki sekarang didesain jatuh ke tengah. Jadi sebenarnya kursi ini memang diciptakan untuk pasangan. Dan sayangnya aku dan dia bukanlah pasangan.

“Apa kau tidak apa-apa?” tanyaku.

Pria itu menggeleng dan menunduk.

Aku tersenyum miring, Pria ini ternyata baru saja patah hati, jika kulihat dari sikapnya yang mendadak berubah. Dan ketika aku berniat menyodorkan lagi kopi itu padanya, aku langsung menghentikan tanganku.

Aku baru saja menyadari jika pria itu menangis.

–lanjut part selanjutnya ya???–

Oke, gue posting ini karena minggu depan bakal sangat sibuk, dan untung saja aku udah selesai sampe part enam hari ini. Jadi gue nggak perlu repot-repot posting kalo pas ulangan.

Siapa yang nggak tau artinya mannae-eopseo? (elah)

Mannae-Eopseo itu artinya tidak punya manner, alias nggak sopan. Buat yang nggak tau. (Maaf, bukan bermaksud mengejek) Kata-kata itu terdapat di lagu run devil run-nya SoNyuhShiDae, kalo mau denger.

Nah, cerita yang ini aneh ya? iya banget, ini sangat-sangat aneh,  sampe aku nggak mau baca lagi… -_-

Jonghyun disitu emang ngeselin banget, aku tau. Dia emang ngeselin, sampe rasanya pengen aku pites. Yoona juga kayaknya aku hinakan banget disitu. Yah, gimana ya? aku nggak bermaksud bikin Yoona jadi playgirl. Aku hanya menggambarkan bahwa dia itu sadar akan kecantikannya, dan terkadang dia jadi terlalu pede.

Iya, Miyoung yang disitu itu Tiffany. Dan dalam FF yang ini. Nggak ada Idol Group SNSD atau Super Junior, atau 2PM, atau EXO, adanya baru TTS dan Idol group lain yang membernya nggak aku jadiin tokoh di ff ini. Jahat ya? Emang!!! HAHAHAHAHAHAHAHA. Dan cowok bertubuh atletis itu aku bayanginnya Siwon, soalnya ntar KhunFany mau aku jadiin side-story

dan kalo boleh dibilang ini part terpanjang, iya nggak sih? Huh maaf deh. Masalahnya aku waktu nulis diikuti motif pribadi sih, jadi nggak adil. Untuk yang selanjutnya gue bakal mencoba adil

Oke, part depan minta siapa? (Ngapain lo nawarin? Kan udah lo update otomatis?) Ah nggak apa-apa, biar rame… (^0^)

“Terimakasih karena sudah membaca. dan jika tidak keberatan maka saya ingin anda memberi support. Tolong kritik dan saran, tapi tolong jangan nge-bash, itu tidak baik”

btw, gue nggak pernah ngasih disclaimer ya? ya, ntar di kasih

HIMRASAKI

AHNMR

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

12 thoughts on “Girls: Mannae-eopseo Guy [Part 3]”

  1. Mm.. stlh baca part 4-5 dn ngsih jejak dsana,
    akhirny bs ninggal jejak jg dsini^
    Mianhae td cm buka dr hp jd server suka brmslh *apadahh
    Part ini favorit bgd, mgkin krna yoong disni tingkahnya, aiigoo..
    Ngegemesin bgd.. kekekeke^
    Suka bgd pkoknya ama pnggambaran si choding itu disni.
    Somplak.. bikin ngakak gak karuan..:D^
    Daebak… daebak.. lanjutkan ne authornim^
    Karyamu ini bagus bgd..
    Aku trs mnunggu klnjutannya.. Fighting!!^^

  2. kisah jongyoon dimulaikah. ahaha.
    watak jongyun yg minim ekspresi buat greget minta ampun. suka suka suka.

    jd makin penasaran sih tiap partnya.
    keep writing dan ditunggu ampe tamat ini cerita hihi

  3. koplak bgt bahasanya.. tapi keselll bgt ya klo jdi Yoong ngadepin abg jong..
    abg jong dingin dan seenaknya bgt ya… dan Yoong emg hrus extra sabar ngadepinnya..
    oh ya tdi gw komen d part 2 tpi kok ga bisa ya, sekalian dsni aja ya..
    hduhhh Yul eonni ksian, parah bgt patah hatinya.. untung ketemu Kyu yg lgi ga evil… klo ga hbislah dia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s