Something Gone and The One Who Find The Way

Something Gone and The One Who Find The Way

Author: Ahnmr & Quiterie || Main Cast: EXO’s DO & IU aka Lee Ji Eun || Sub-Cast: You will find him/her by yourself || Genre: Life || Rating : General|| Lenght: — ||

Disclaimer :

first project by Ahnmr & Quiterie

-Ahnmr & Quiterie copyright-

Seoul, Monday

14.30

Aku duduk di kursi kereta, menghadap ke arah jendela sambil mendengar sebuah lagu yang mengingatkanku pada hari-hariku di SMA. Ditemani angin yang berhembus dari luar jendela saat kereta baru berangkat, Suara klakson kereta yang terkadang mengagetkan, Dan obrolan orang lain yang ada di gerbong.

Lagu itu, mengingatkanku tentang Jieun. Yang telah terlalu sabar untuk menerima keangkuhanku. Mendengar setiap kata-kataku yang lebih sering menyakiti hatinya.

Ego menang hari itu, dan cinta seakan-akan hilang tersapu angin.

Aku menggelengkan kepala dan tersenyum getir. Tuhan, aku bahkan telah terlalu sombong untuk mengakui jika aku benar-benar menyesal dan menginginkannya lagi untuk berada disisiku.

“Bolehkah aku duduk disini, kursi lain sudah penuh” kata seseorang. Aku menoleh ke arahnya dan mengangguk. Dia tidak terlalu pendek namun juga tidak terlalu tinggi. Memakai kacamata klasik berwarna hitam, jaket denim, dan topi merah dikepalanya. Dia duduk didepanku sambil melihat ke luar jendela seperti yang kulakukan.

Topi merah itu…

Seperti topi kesayangan milik Jieun.

“Hei, dimana kau beli topi seperti itu?” kataku.

Dia menoleh kearahku dan menunjuk dirinya sendiri, menanyakan apakah aku berbicara padanya. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.

“Well, aku tidak membelinya, aku dapat dari sepupuku, kenapa?” Tanyanya tanpa ragu.

Aku menghela nafas ”Topi itu mirip sekali dengan milik,,” aku tidak tahu kata-kata apa yang tepat untuk mendiskripsikannya, aku ingin mengatakan orang yang kucintai. Tapi itu terdengar seperti aku sedang menggoda gadis itu. Jika aku bilang itu mirip dengan milik mantan pacarku, sebenarnya Jieun tidak pernah jadi pacarku secara resmi. Apalagi jika aku berkata sahabatku, aku tidak pernah benar-benar akrab dengan Jieun. Dan sebenarnya, dulu aku jarang sekali memperdulikan Jieun. jadi aku berkata “,,seseorang yang selalu menggangguku”

Gadis itu sepertinya tertarik dengan kata-kataku. Jadi dia terlihat lebih antusias mendengar ceritaku.

“Well, memang biasanya seperti itu, orang yang mengganggu itu lebih mudah diingat” katanya sambil tersenyum.

Busan, Tuesday

19.05

Aku bersiap-siap untuk pergi ke sebuah Restoran di Busan. Sebenarnya aku pergi untuk perjalanan bisnis tadi pagi. Dan kebetulan sekali malam ini ada reuni SMA. Sebenarnya aku enggan untuk ikut. Tapi bagaimana lagi, aku tidak ingin melewatkan momen berharga bersama teman-teman lamaku. Aku sangat rindu pada mereka. Terutama Jinyoung, temanku sejak kecil. Dan kudengar sekarang dia menjadi pengacara terkenal.

~

Restaurant

19.35

Aku datang dan melihat Jinyoung disana meminum segelas Soju. Dia melambai ke arahku dan memberi isyarat untuk duduk di sebelahnya. Tanpa basa-basi lagi aku berlari ke arahnya dan memeluk Jinyoung layaknya dua orang sahabat yang sudah berpisah beratus-ratus tahun. Well, sebenarnya kami juga sudah tidak bertemu selama 15 tahun. Dan sekarang wajah babyface-nya itu jadi sedikit aneh karena dia mempunyai jambang tipis disekitar wajahnya.

Ya, Jinyoung-ah, kau terlihat sangat dewasa” kataku.

“Kau seperti seorang Ahjussi, memakai kacamata”

“Kita berdua memang seharusnya dipanggil Ahjussi” Kataku sambil menepuk bahu Jinyoung.

“Duduk-duduk!” Dia menyuruhku duduk disebelahnya.

Aku membungkuk pada semua orang yang ada di sekeliling meja besar itu dan duduk disebelah Jinyoung. Aku sedikit terkejut melihat semua orang yang duduk disana. Ada Park Chanyeol, si kapten basket yang sangat suka nge-rap, ada Baekhyun si tukang ngorok, ada Soojung Miss comel, dan ada banyak orang disana, aku tidak menyangka bisa bertemu dengan orang-orang itu lagi. Aku yakin mereka akan kesal melihatku. Tapi nyatanya mereka tetap menyambutku dengan hangat.

“Hei Kyungsoo, kudengar sekarang kau menjalankan sebuah perusahaan di Seoul?” kata Chanyeol.

“Ya, begitulah, kau sendiri, kudengar kau menjadi seorang detektif swasta?” aku balik bertanya.

“Itu bukan pekerjaan yang mudah asal kau tahu, tapi itu pekerjaan yang mengasyikkan” Sahut Chanyeol sambil tertawa seperti biasanya.

Lalu Chanyeol mengambil sebotol soju dan menuangkannya ke gelas kecil yang ada diatas meja. Tiba-tiba Jinyoung berbisik padaku.

“Chanyeol sudah menikah” Katanya.

Aku mengangkat alisku dan menoleh ke arah Jinyoung. Dia mengangguk yakin dan mendekatkan wajahnya pada telingaku “,dengan Miss Comel” tambahnya. Yang membuatku terkejut adalah, setahuku, dari dulu Miss Comel dan Chanyeol tidak pernah akur. Chanyeol sendiri adalah orang yang keras kepala dan Miss Comel adalah orang yang terlalu banyak komentar. Dia sama keras kepalanya dengan Chanyeol. Jadi kupikir, jika mereka bersama tidak akan semudah itu menjalani hidup.

“Eh, kau tahu Jieun?” tiba-tiba Jinyoung menanyakan nama itu padaku. Jieun ya? aku tidak tahu apa yang terjadi padanya sekarang, aku tidak pernah dengar hal tentangnya.

“Ya, gadis yang suka pakai topi preman berwarna merah itukan?”

“Bilang saja mantan pacarmu, kami semua juga tahu” tukas Jinyoung sambil sedikit tertawa.

“Dia menikah dengan seorang pengusaha kaya di Busan”

What a relief, ternyata dia sudah menikah sekarang. Dan kuharap orang yang dinikahinya adalah seorang laki-laki tua gendut yang rambutnya putih semua dan tidak setampan aku.

“Dia akan datang tunggu saja” kata Jinyoung.

Jujur saja,aku berharap Jieun tidak datang. Atau setidaknya, dia datang tapi sudah melupakan semua itu.

“Kyungsoo-ah, berapa umurmu?” Hei,hei Jongin bertanya seperti itu padaku untuk mengejek atau memang benar-benar bertanya.

“Kenapa bertanya begitu?” kataku.

“Kau terlihat sangat tua” jawabnya diikuti dengan tawa seluruh orang yang melingkari meja itu.

“Baru 33, aku masih muda bukan?”

“Jangan hiraukan, kami hanya bercanda, apa kau single?” tanya Sunyoung.

“Ah, tidak, aku bertunangan” jawabku bohong.

“HUUUU~”sorak mereka semua.

“Hei,hei lihat siapa yang datang!” teriak Yoseop norak.

Aku langsung menoleh dan melihat ke arah yang ditunjuk Yoseop. Aku harus mengakuinya sejak lama, jika Jieun memang cantik. Dan sekarang dia bahkan terlihat lebih cantik, ditambah lagi dia sangat anggun. Apa aku benar-benar harus mengatakannya.

“Dia sangat cantik” gumamku pelan, tapi sayang sekali Kyungsoo, sahabatmu mendengarmu.

“Menyesal kau sekarang?”

“Tidak” Jawabku mencoba menutupi apa yang kukatakan tadi.

Untuk apa disesali? Dulu aku memang tidak mencintainya ketika ia mencintaiku, dan sekarang ketika posisinya sudah berbalik, apa yang perlu kulakukan? Menyesal? Kurasa tidak, aku justru bahagia karena dia sudah menjadi Nyonya kaya sekarang. Terlebih lagi dia telah bertemu dengan seseorang yang tulus mencintainya. Kurasa aku tidak perlu menyesal.

Cukuplah bagiku menjadi batu lompatan baginya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Aku menelan ludah ketika ia tersenyum padaku. Senyuman lemah yang mendadak membuatku lengah dengan pertahanan yang telah kubuat sedari tadi agar tidak menyesali hari-hari itu.

“Hai” Sapanya lirih padaku. Dia kemudian tersenyum pada orang-orang dan duduk dikursi yang ada di depanku. Beruntungnya menjadi orang yang bisa menyanding wanita ini, pikirku.

Aku melirik ke arah Jinyoung yang sekarang sudah sibuk lagi dengan guyonan yang diciptakan Chanyeol dan yang lainnya. Jadi, sedari tadi aku telah terpaku di dalam duniaku, karena Jieun.

“Senang bertemu denganmu lagi” Kataku pada Jieun dengan canggung.

Jieun mengangguk malu dan tersenyum.

Apa yang terjadi padanya? Lee Jieun yang dulu begitu hiperaktif seperti kelinci energizer yang rasanya tidak bisa dijinakan. Sekarang dia telah bertransformasi menjadi wanita dewasa yang lemah lembut. “Kau terlihat sangat berbeda” Katanya.

“Karena kacamata ini” Ujarku sambil menunjuk kacamata yang kukenakan.

Jieun terkekeh pelan dan melemparkan pandangan pada keriuhan yang ada disamping kananku. Sekarang orang-orang mulai melakukan permainan konyol. Mereka melakukan sebuah permainan dengan memutarkan botol soju dan menanyakan pertanyaan pada orang yang dituju oleh mulut botol. Jika orang itu tidak ingin menjawab dia wajib minum dua gelas soju.

Setelah cukup lama memperhatikan, tiba-tiba aku ditarik mengikuti permainan oleh Jinyoung. Dia menyuruhku memutar botolnya dan botol itu terhenti pada Miss Comel.

“Cepat kau tanyakan sesuatu padanya!” Kata Chanyeol dengan suara khasnya.

Aku menyipitkan mataku dan melirik jahil pada Miss Comel. “Apa kau punya kekasih gelap sekarang?”

Miss Comel melirikku tajam dan mendesis. “Tentu saja ada” Jawabnya. Kami semua langsung tersentak kaget. Sedangkan yang terlihat paling terpukul adalah Chanyeol. Wajahnya yang tadi begitu cerah seakan-akan tidak ada apapun yang bisa membuatnya sedih, berubah jadi muram. “Namanya Park Do-Bi”

“Heissh,,” Semua orang langsung menghela nafas lega. Beberapa ada yang melempari Miss Comel dengan tisu. Tak terkecuali Chanyeol. Miss Comel terkekeh sendiri dan mencium suaminya yang sedikit sinting itu.

Permainan dimulai lagi, kali ini Miss Comel yang memutar botol itu. Hatiku berdebar-debar ketika botol itu hampir berhenti padaku. Nyatanya, botol itu justru berhenti pada Jongdae, yang dari tadi hanya mengikuti orang-orang tertawa kesana kemari. Ia terlihat kaget, dan Miss Comel menanyakan sesuatu padanya yang tidak begitu kupedulikan.

Aku melemparkan pandanganku pada Jieun yang ikut tertawa karena tingkah mereka. Beberapa saat kemudian ia sudah terlihat sibuk bercerita dengan Suji. I’m wondering, apa yang sebenarnya tengah mereka bicarakan, kehidupan mereka yang sekarang, kekasih mereka, keluarga mereka, atau masa lalu mereka. Masa lalu, aku selalu berharap jika saja mereka membicarakan masa lalu akulah yang dibicarakan Jieun. Tapi kurasa aku terlalu percaya diri.

Untuk apa aku berharap Jieun mengingatku, padahal aku sendiri tidak ingin ia mengingatku dulu. “Ya! Kyungsoo! Kau ditunjuk botolnya sekarang” Teriak Chanyeol padaku.

Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan orang linglung. Kulihat botol yang tadi. Benar, mulut botol itu mengarah padaku. Sedangkan Jongdae terlihat begitu senang ketika aku mendapatkannya. “Aku akan mengajukan pertanyaan padamu, “ Ujar Jongdae.

Dia dulu terkenal karena cerdik. Selain cerdik dia juga licik. Tak heran dia bisa jadi wartawan yang begitu hebat hingga mendapat informasi eksklusif yang selalu dibayar mahal oleh atasannya. Aku cukup dekat dengannya karena dia adalah relasiku yang penting. “Mengingat kau mempunyai hubungan spesial dengan Uri-Jieun di masa lalu, masihkah kau menyimpan perasaan padanya?” See, aku tahu cepat atau lambat pertanyaan itu akan ditujukan padaku. Oleh siapapun yang sekarang melingkar di meja ini. Suasana jadi senyap. Termasuk Jieun sendiri yang tadi sibuk bercerita dengan Suji.

Mendadak semua orang menatapku penuh harap. Apa yang mereka harapkan dari perjaka tua ini? Mengakui perasaan menyesalnya pada seseorang yang telah bersuami. Bukankah itu sama saja sia-sia. Sama sia-sianya seperti menyadari perasaan sayangku pada Jieun saat kelulusan dan aku harus pergi ke Seoul. Aku tersenyum dan memandang wajah orang-orang satu persatu, pandanganku berhenti pada Jieun selama beberapa detik.

Aku menghela nafas dan mengerjapkan mataku. “Ya, sebagai teman” Jawabku seraya tersenyum tipis pada Jieun.

Aku tidak mengerti kenapa mereka bertepuk tangan. Apakah mereka bertepuk tangan atas keberanianku berkata jujur, atau mengejekku, atau sekedar meramaikan suasana.

Setelah pertanyaan sejuta dollar itu. Permainan tidak berlanjut, seakan-akan jawabanku adalah finish dari permainan ini dari tadi. Semua orang sibuk dengan pembicaraan mereka masing-masing setelah itu. Sedangkan aku dan Jinyoung sedang membahas tentang teman-teman yang tidak bisa datang. Ia juga bercerita soal teman-teman yang nasibnya kurang beruntung. Aku turut menyesal atas mereka. Dan aku mulai bersyukur atas kehidupanku yang masih bisa dibilang lebih beruntung dari mereka.

Sekitar pukul sepuluh lebih. Orang-orang mulai pamit pulang. Kepulangan Chanyeol dan Miss Comel membuat banyak orang ikut-ikut ingin pulang. Aku sendiri masih asyik bercerita dengan Jinyoung sehingga aku tidak ingin cepat-cepat pulang. Lagipula, aku ingin menikmati waktu dimana aku masih bisa mendapati Jieun dan senyumnya yang kalem. Tapi jauh di dalam benakku. Aku lebih merindukan senyuman lebarnya yang entah kenapa selalu membuat hari-hariku terasa menyenangkan, walaupun aku tidak ingin mengakuinya.

Masih terus berputar pertanyaan seputar bodohnya aku karena tidak bisa mencintai Jieun saat itu. Apakah aku sebegitu egosentrisnya sehingga tidak bisa melirik orang yang sangat mencintaiku. Ataukah aku sudah dilenakan dengan torehan nilai akademis dan non-akademisku yang begitu indah untuk dilewatkan. Butakah aku saat itu untuk melihat sejenak cinta Jieun yang dilimpahkan untukku tanpa henti. Masih kuingat bagaimana dia repot-repot membuat spanduk untuk mendukungku saat aku akan mengikuti olimpiade matematika, masih kuingat bagaimana dia memberiku lucky charm sebelum aku berangkat mengikuti pameran karya ilmiah di Daegu, masih kuingat bagaimana dia begitu sabar saat menungguku pulang dari rapat organisasi setiap hari Jum’at dan Senin. Jika kupikir aku sudah keterlaluan, betapa dalam luka yang telah kubuat untuknya selama dua tahun itu.

Aku hanya menganggapnya memalukan, mengganggu, bodoh. Sudah banyak orang yang mengingatkanku untuk menganggap Jieun seperti dia menganggapku. Aku tidak pernah mengakuinya sebagai pacarku dulu. Dia sendiri yang mendeklarasikan diri sebagai pacarku pada semua orang. Itulah yang membuatku sedikit jengkel padanya. Aku tidak ingin membuang-buang waktuku untuk sekedar bermain-main dengan gadis yang tingkat kelabilannya melebihi pasien rumah sakit jiwa. Saat itu aku hanya fokus terhadap keinginanku menjadi orang sukses, aku tidak pernah peduli dengan hal-hal disekitarku selain nilai dan nilai.

Tapi begitu Jieun menyerah mencintaiku, rasanya sangat perih. Melihatnya lagi seperti membuka luka lama yang telah sekian lama tertutup. Perasaan menyesal itu kini sudah genap dan berubah menjadi cinta baru yang entah kenapa begitu aneh untuk diungkapkan sekarang. Sudah terlambat, dan seperti yang kukatakan tadi, sia-sia.

Aku menanggapi cerita Jinyoung dengan anggukan dan sekedar bahasa sederhana seperti, hmm, ya, dan tidak, atau tidak tahu. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri.

Jieun sedang berbicara dengan ponselnya ketika aku meliriknya. Dia pasti sedang menelpon suaminya. Hmm, kurasa aku tidak perlu berharap lagi. Akan kusingkirkan perasaan kotor itu jauh-jauh. Aku harus mengerti jika aku tidak bisa mencintainya. Semuanya sudah terlambat. Aku akan menganggapnya hilang dari hidupku mulai sekarang.

Aku pura-pura menguap dan melihat Jinyoung dengan wajah mengantuk, “Jinyoung-ah, kurasa aku akan kembali ke hotel” Kataku padanya.

“Kau sudah mau pulang, ini baru setengah sebelas?” kata Jinyoung.

Jieun langsung berdiri dari kursinya setelah selesai dengan panggilan teleponnya. Aku terpaku selama sepersekian detik ketika melihatnya. “Teman-teman aku akan pulang dulu” Katanya sambil membungkuk.

Di saat-saat itu, entah kenapa aku yakin sekali Jieun ingin mengatakan sesuatu padaku lewat sorot matanya. Tapi, pikiranku terus berbisik jika itu hanyalah ilusi. Ya, ilusi yang diciptakan oleh perasaan sialan ini.

Jinyoung tersenyum licik padaku. “Oh, aku mengerti sekarang, baiklah, tidak apa-apa Tuan Do, kau boleh menyusulnya, tapi asal kau tahu saja, mengganggu istri orang itu tidak baik”

Aku tersenyum pada Jinyoung dan membenarkan kacamataku.

Outside of The Restaurant

22.37

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru trotoar. Mencari-cari Jieun. I have no idea why i looking for her. Mungkin karena aku belum siap untuk berpisah dengannya lagi. Ketika tak kutemukan sosok Jieun. Aku tersenyum getir dan mulai meyakinkan diriku sendiri untuk tidak usah berharap yang aneh-aneh pada istri orang.

“Kyungsoo-ssi”

Aku berbalik ke belakang dan melihat Jieun tersenyum ke arahku. Kuperhatikan gaunnya yang sederhana namun elegan. Sejenak aku merasa baru saja tersambar petir. Ketika aku mendengar suara klaskson mobil dari jalan raya aku langsung bangun lagi ke alam sadarku.

“Oh, Jieun-ssi, Kau tidak pulang?”

“Suamiku masih dalam perjalanan” Katanya seolah-olah pamer padaku bahwa dia bisa hidup tanpaku. Baiklah, aku memang tidak pantas untuk mengucapkan kata-kata ‘dia tidak bisa hidup tanpaku’ tapi aku benar-benar merasa seperti itu mengingat bagaimana pengorbanan yang ia lakukan untukku dulu.

“Senang bertemu, dan berpisah lagi denganmu, kurasa” Kataku ragu. Aku baru saja akan menuruni tangga menuju trotoar ketika Jieun memanggilku setengah berteriak. “Kyungsoo-ssi!!!” Panggilnya.

Aku menoleh ke belakang dan melihatnya tersenyum muram. “Aku ingin berterimakasih padamu karena kau pernah mengijinkanku untuk mencintaimu, walaupun aku tahu itu berat untukmu”

Aku terkekeh dan mengangguk, “Aku seharusnya yang berterimakasih padamu karena telah begitu sabar meladeni sikapku yang angkuh, egois, dan tak tahu diri, aku juga minta maaf soal itu” Ucapku sehati-hat mungkin. Aku sedikit takut jika lidahku tergelincir dan mengatakan ‘aku mencintaimu’. Aku masih ingat benar pesan Jinyoung tadi, untuk tidak mengganggu istri orang. Tapi, kata-kata itu terus meronta-ronta dan memberontak pada pengendalianku. Mereka seakan-akan sudah merangkak dan siap dikeluarkan dari lidahku.

“Kurasa aku bisa benar-benar melepaskanmu sekarang” Ujarnya lega.

Aku mengangguk dan memasukkan tanganku ke dalam saku mantel. Bersiap-siap dalam hati untuk mengungkapkan perasaan sialan itu. “Jieun-ssi, aku tidak bermaksud membuatmu meragu, tapi kau telah membuatku jatuh cinta sejak lama, dan aku juga akan melepaskanmu hari ini” Setelah mengatakan itu, aku langsung berlari dan mencegat taksi untuk kembali ke hotel.

Hatiku benar-benar telah lega. Beban yang begitu berat telah hilang, sekarang aku siap menghadapi semuanya tanpa rasa bersalah dan bayang-bayang masa lalu.

Busan Station

Hari itu stasiun begitu sibuk. Hiruk-pikuk stasiun sedikit membuatku pusing. Sehingga ketika aku masuk ke dalam kereta yang ingin kulakukan hanyalah tidur. Semua hal mengenai bisnis, dan masa lalu seakan tak ingin membuatku istirahat siang itu. Alih-alih bisa memejamkan mata dan bermimpi indah, aku malah melamunkan hari-hari bersama teman-teman SMA-ku.

“Hei” Aku mengalihkan pandanganku dari jendela ke arah suara itu.

Topi merah, jaket denim, kacamata klasik berwarna hitam. Dia gadis yang sama seperti beberapa hari yang lalu. Aku tersenyum padanya dan mempersilahkannya duduk di kursi kosong yang ada didepanku. “Kurasa kebetulan sekali jika kita bertemu disini lagi” Katanya.

Kebetulan, aku tidak pernah percaya kebetulan. Hidup kita telah digariskan, dan aku yakin bertemu dengannya lagi di kereta ini bukanlah suatu kebetulan. Melainkan takdir yang telah direncanakan Tuhan untukku.

“Kurasa,” Sahutku.

“Aku masih penasaran dengan orang yang mengganggumu itu” Kata gadis itu dengan mata-mata berbinar-binar ingin tahu.

“Orang itu sudah menghilang dari hidupku, aku tidak ingin membahasnya lagi”

Gadis itu terlihat menyesal telah mengatakan hal itu padaku. Ia mengangguk-angguk dengan senyum muram. Kemudian ia terdiam sejenak. Beberapa saat kemudian ia memulai suatu topik pembicaraan yang membuatku selalu ingin menggubrisnya.

Ia ceria seperti Jieun, begitu cerah, begitu bersemangat, dan senyumnya begitu hangat. Ada suatu hal yang membuatku tertarik padanya, selain keceriwisan dan sikapnya yang selalu ingin tahu ketika aku keceplosan bercerita soal keluargaku atau masa laluku.

Tidak terasa kami sudah bercerita sangat lama, kami bahkan masih berceloteh seru ketika hampir memasuki wilayah Seoul.

Perpisahan untuk yang kedua kalinya selama seminggu ini bersama dengan dua orang yang tiba-tiba memengaruhi hidupku terasa begitu menyedihkan. Namun yang pertama telah kuputuskan untuk menghilang, dan yang satu ini. Aku tidak ingin melepasnya.

Saat kami turun dari kereta yang kulakukan hanya bisa tersenyum padanya. Sebaliknya pun begitu, “Aku pergi dulu” Katanya.

“Tunggu!” Kataku sambil meraih tangannya. Dia berbalik dan mengangkat kedua alisnya, “Ya?” Sahutnya.

“Bolehkah aku tahu namamu?”

— ??? —

Ini sebenernya postingan lama bikinnya, nih kalo nggak percaya

capture-20130604-195932

tadi tuh baru di benerin dan ditambah-tambahin, gue sedikit terinspirasi dengan curhatan gue mengenai eunhyuk-iu itu yah, hmmm.

Entah ini ide dari mana juga gue nggak tau, kayaknya gegara nonton reply 1997, terus habis itu nonton perahu kertas dan yang lainnya…

kata kak quiterie (hah apa? kak?) ini ff terbaik gue (#bangga #ditimpuk pake sandal #dibanggal tikus, hei, hei, hei stop, oke!!) kata dia sih, kalo buat gue ff ini itu semacam memorabilia unyu couple gue (sekarang bernama candy-candy couple. Dicetuskan oleh quiterie)  :’) yah, mereka itu nggak real banget, gue juga nggak tau kenapa sampe sekarang masih mikir kalo mereka itu cocok. Dan tanpa gue sangka-sangka, sosok kyungsoo itu emang sedikit mirip dengan apa yang gue gambarkan disini, hahaha :’)

Maaf kalo nggak suka couple-nya, kebanyakan dari kamu, kamu, kamu, kamu, mungkin lebih milih couple yang lain :’)

Cukup deh cuap-cuap gue ini, makasih lho udah baca, nggak berharap banyak yang baca sih sebenernya :’),,, oh ya ini kan open ending,,, jadi boleh diterusin, asal lapor dulu ke gue @aulianafifah dan @savirraqaini, soalnya biar bisa memastikan, bagian ini itu-nya, nggak ada imbalan apa-apa, selain self-pleasure, Sorry 🙂

Himrasaki

Ahnmr

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

4 thoughts on “Something Gone and The One Who Find The Way”

  1. This is so nicely written 🙂 🙂
    AKU DUKUNG SIAPAPUN-IU!!! Walaupun D.O.-IU ini gak pernah kepikiran tp kebayang kok gimana pas mereka pacaran dulu (?) Plotnya rapi, diksinya bagus. Aku suka judulnya btw.

    Authornya kelahiran 97 ya? *ketauan habis kepo* Hebat, udah bisa nulis kayak gini. Terus nulis ya, jgn pernah berhenti belajar. Hwaiting ^0^9

    Oh, dan salam kenal 🙂 🙂

    1. makasih ya kakak/chingu nggak pernah nyangka ada yang mau baca ff ini,,, hahaha crack banget soalnya couple ini. Tapi nggak selalu kok,, bahasa yang aku pake agak bagus kalo pas nulis itu ada feel-nya aja,,

      Iya 97-line masih muda #mukaimut. Ya, saya juga selalu berusaha untuk berkembang kok, Hahahaha,,, Hwaiting juga!!!

      Salam kenal, oh ya saya udah baca ff anda yang berbahasa inggris, yang judulnya a pair of wings… bagus ya. Bahasa inggris-nya udah bagus banget 😀

  2. Dan aku sudah pernah baca ini. entah, dimana. aku lupa. dan, aku sudah ninggalin komentar disitu, kalo nggak salah. terus, ada cerita lain dari ini. si topi merah itu sepupunya Jieun, kalo nggak salah. Entahlah, pedih banget soalnya di cerita lain itu si Jieun udah married sama wooyoung. Terus, diendingnya sitopi merah itu tukeran nomor hp sama kyungsoo. Aaaaa~ saking pedihnya gua sampek bener-bener inget-_- setelah itu.. gua nggak mau nyari ff itu lagi kecuali jika jieun mau selingkuh sama kyungsoo. Hahaha

    1. ff ini sebenernya proyek berdua sama author quiteriee yang kebetulan adalah kakak kelasku pas smp. dia bikin lanjutannya. Tapi point dari ff yang aku bikin ini adalah bagaimana kyungsoo itu bisa bangun dari rasa bersalahnya… aku sebenernya juga sempet pengen iu akhirnya selingkuh sama kyungsoo. But, i don’t want to make her look bad… meski cinta itu adalah sesuatu yang kuat, kita nggak boleh membuatnya sebagai alasan dari sesuatu yang nggak benar. Karena sebenernya cinta itu cuma muslihat alam agar manusia dapat melanjutkan hidup dan memiliki keturunan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s