Silent [Scenario]

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu
Kepada api yang menjadikannya abu…

-Sapardi Djoko Darmono

A Story of A Guy

Jadi begitulah semuanya berawal, hanya karena cinta menyapamu pertama kali. Matamu dapat berbinar-binar ketika melihatnya berbicara dan tersenyum ke arahmu. Mungkin salah jika kau memintanya lebih dari sekedar teman. Karena dia telah terikat dengan yang lain. Tapi apakah salah jika kau hanya ingin mencintainya? Mencintainya dengan sederhana.

Pagi itu kau bangun dengan badan yang lelah. Tadi malam kau baru saja menyelesaikan semua pekerjaanmu yang melelahkan. Kau bangun dari tempat tidurmu dan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh tubuhmu, sikat gigi dan mencuci muka. Kau melihat kerutan tipis di pelipismu lewat kaca dan menyentuhnya. Mungkin begini akibatnya jika kau terlalu memikirkan semua mengenai pekerjaan yang selalu menyibukkanmu. Mungkin itu juga penyebabnya kau tidak pernah punya waktu untuk mengurus masalah hatimu sendiri.

Kau mendengus dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan sederhana untuk dirimu sendiri. Kau tahu hari ini kau harus berkutat lagi pada pekerjaanmu yang melelahkan. Tapi memang itu konsekuensinya. Kau tidak bisa mengelak dari takdir. Sebenarnya kau ingin menyalahkan Ayahmu atas semua omong kosong itu. Karenanya, kau tidak bisa mengejar impianmu menjadi seorang pelukis. Kau terjebak dalam dilema dan akhirnya memutuskan untuk menuruti saja apa kata Ayahmu dan meneruskan apa yang telah dikerjakan Ayahmu selama bertahun-tahun.

Setelah menyelesaikan kegiatan pagi yang monoton. Kau memakai jas kerjamu dan mengambil tas kerjamu di kamar, baru setelah itu kau keluar dari apartemenmu dan berjalan ke lift. Pagi itu masih sepi, entah kau yang terlalu rajin. Atau memang kau terlalu rajin.

Denting halus membangunkanmu dari lamunan kosong tidak berarti. Kau berjalan masuk ke dalam lift dan bermaksud menutup pintunya. Namun sebuah tangan menghentikanmu melakukannya. Kau bisa melihat jari-jarinya yang lentik dan sebuah cat kuku berwarna ungu muda berkelap-kelip norak.

“Hei” sapanya ramah. Kau selalu diam jika bertemu dengan rekan kerjamu yang satu itu. Perempuan berpenampilan biasa yang selalu bisa membuatmu menatapnya begitu lama. “Aku berusaha untuk bangun pagi hari ini, aku sedang berusaha untuk tidak terlambat” Suaranya renyah, kau senang sekali mendengarnya berbicara. Dan hal itu juga yang membuatmu hanya bisa tersenyum tipis.

“Baguslah” Tukasmu pendek. Kau tahu kau gugup berada di dekatnya dan yang kau lakukan untuk menutupinya adalah dengan bersikap dingin.

“Bos, aku senang bertemu denganmu, itu artinya aku sama rajinnya denganmu” Kali ini dia berharap kau melihatnya. Namun pandanganmu selalu tertuju pada angka lift. Kau sendiri bisa mendengar nada bangga dalam kalimat itu. Kau tahu dia berharap kau memberikan suatu penghargaan atas usahanya pagi itu.

“Ya, selamat” Sahutmu pendek. Kau melirik sekilas ke arahnya dan kembali pada dirimu.

Lift berhenti di lantai satu. Kau melihat perempuan itu tersenyum ke arahmu lewat ekor matamu. “Aku duluan” katanya seraya melambaikan tangan padamu. Kau hanya mengangguk dan menutup pintu lift ketika perempuan itu benar-benar sudah keluar.

Pintu tertutup, kau menarik nafas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan. Rasanya seperti baru saja naik roller coaster. Kau berharap dia tidak menyadari jika sedari tadi jantungmu berdegup kencang.

Kau sampai di kantor dan bertransformasi lagi menjadi atasan berkepala dingin dan pendiam. Kau tidak banyak bicara. Namun sekali kau berbicara, siapapun akan memandangmu dan tidak akan pernah mengalihkan pandangannya sampai kau selesai bicara. Mungkin itulah yang orang-orang katakan soal karisma. Kau adalah pria berkarisma yang bisa membuat wanita manapun jatuh hati. Namun hanya dengan seringaimu saja kau bisa mengusir banyak orang dari sekitarmu. Sebegitu mempesona dan menakutkannya dirimu di depan karyawanmu sendiri. Tapi hanya di depannya, di depan gadis itu kau bisa menjadi laki-laki kikuk dan canggung.

“Aku sudah selesai, Pak!” katanya sambil meletakkan laporan-laporan itu di depan mejamu. Dia tersenyum ke arahmu dan membungkuk.

Sebelum kau masuk ke perusahaan ini, kau mengenalnya sebagai orang yang benar-benar asing. Kau tersesat waktu itu, kau baru saja pulang dari kuliahmu di Inggris. Dan tidak tahu soal apapun mengenai perusahaan Ayahmu. Bahkan letak ruangan Ayahmu di kantor perusahaannya yang luas. Kau memakai pakaian layaknya mahasiswa sambil menggendong tas punggung lusuh. Kau duduk di antara calon pegawai baru. Semuanya melihatmu dengan tatapan meremehkan kecuali dia.

Dia mengulurkan tangannya padamu dan tersenyum “Namaku ­­­________ , Kau?” Tanyanya ramah.

“_________ “ Jawabmu tanpa mengalihkan sedikitpun pandanganmu darinya.

“Kurasa kita bisa jadi teman baik, Semoga berhasil” katanya sambil mengepalkan tangan kirinya dan memberi isyarat padamu untuk terus berjuang. Kau sendiri hanya bisa tersenyum canggung.

Kau tidak sadar jika dari tadi ada seorang pria tua tengah memperhatikanmu. Dia tidak begitu tua mungkin sudah berkepala lima, tapi kau sendiri juga tidak yakin.

“________ , Apa yang kau lakukan disini?” dia memanggilmu dan tersenyum ke arahmu, kau sendiri lupa siapa pria tua yang memanggilmu. Namun kau bangun dari tempat dudukmu dan berjalan mendekatinya.

Semua orang yang duduk di kursi tunggu untuk wawancara itu memandangmu takjub. Mereka terkejut ketika orang itu memanggil namamu. Bahkan perempuan bernama ­­­­­­_________ itu.

Dan sekarang dia adalah bawahanmu, kau atasannya. Kau tidak bisa mengelak jika semenjak hari itu kau menyukainya. Kau menagih simpati padanya.

“Kau boleh pergi, kerja bagus” katamu sambil mengambil kumpulan laporan itu. Sekali lagi dia membungkuk dan tersenyum ceria. Kau mencoba untuk tetap terlihat dingin, tapi kau tidak bisa memungkiri jika jantungmu berdegup lebih kencang bahkan setelah dia pergi dari ruang kerjamu.

Sederhana saja jika ini hanya masalah materi. Kau bisa memilikinya dengan apapun yang kau punya. Kau sempurna di mata kebanyakan orang. Namun kau sendiri tahu dimana letak kekuranganmu. Tidak ada manusia yang sempurna dan itu fakta. Kau sendiri juga tidak bisa menyalahkan keadaan. Bukan salah siapapun jika gadis itu telah memiliki kekasih.

Begitu banyak wanita yang merayu dan ingin mendapatkanmu. Bahkan mereka bisa dibilang ‘lebih’ dari orang yang kau cintai. Tapi kau telah menetapkan hatimu dan tidak ada yang bisa lagi mengubahnya kecuali Tuhan. Kau terlanjur jatuh terlalu dalam padanya.

Hilang sudah kesempatan bagimu untuk mendapatkannya. Mungkin mudah saja bagimu untuk merayunya dan membuatnya jatuh ke dalam pelukanmu. Tapi kau ingat akan sesuatu, kau adalah laki-laki terhormat yang akan selalu menjaga harga dirinya. Bukan pria yang selalu mengandalkan materi untuk mendapatkan hati gadis pujaannya.

Kau keluar dari ruanganmu untuk pergi makan siang sendirian. Kau melihat karyawan-karyawanmu menyapamu dan kau hanya balas mengangguk atau membungkuk sekilas.

Langkahmu terhenti ketika melihatnya. Jemari tangannya yang lentik itu bertaut dengan pria lain. Hal itu tentu saja menyakitkan untukmu. Kau bahkan bisa merasakannya merayapi tiap inci tubuhmu. Namun semua akan pudar seperti tisu yang tenggelam di lautan begitu kau melihat senyum menghiasi wajahnya. Kau suka melihatnya bahagia, dan saat melihatnya bahagia seperti itu kau merasa sudah sangat kenyang dan tidak merasa ingin makan siang lagi hari ini.

Kau hanya bisa mengulum senyum getir kala melihatnya. Kau ingin berterimakasih padanya karena telah mengenalkanmu pada cinta. Kau ingin berterimakasih padanya karena telah mengajarimu cara mencintai dengan sederhana.

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

4 thoughts on “Silent [Scenario]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s