Girls: Fortune Teller [Part 4]

Girls-3rdposter

Fortune Teller [Jessica]

Author: Ahnmr || Cast: Jessica Jung (SNSD), Lee Donghae (Super Junior), Kwon Yuri (SNSD), Cho Kyuhyun (Super Junior), Im Yoona (SNSD), Lee Jonghyun (CNBlue) || Add. Cast: Ok Taecyeon, Kevin Woo, Jang Eunji, Ahn Sohee || Genre: Life, Comedy, Friendship, Family, Romance || Rating: +15

(Posternya jelek, sori)

–ahnmr copyright–

(Part lainnya)

Aku melemparkan pandanganku ke kamar Yuri segera setelah keluar dari kamar. Mataku yang belum bisa melek total itu menangkap bayangan Yuri sedang berdandan di kamarnya. Dia tengah memakai lipstik sambil tersenyum pada refleksi dirinya di kaca.

“Sarapan hari ini, Kau atau Yoona yang buat?” tanyaku setengah mengantuk.

“Aku” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari kaca.

Aku menguap dan berjalan ke dapur. Jika Yuri yang menyiapkan sarapan hari ini, sudah bisa di pastikan jika meja hanya akan berisi sayuran dan makanan tanpa kolesterol. Yuri mengagung-agungkan hidup sehat dan ideal. Jadi terkadang dia menjadi manusia yang sangat membosankan dan monoton. Tapi aku lebih baik makan sarapan yang disiapkan Yuri sih, daripada Yoona. Jika Yoona yang menyiapkan sarapan hari ini sudah pasti rasanya akan hancur. Sekalipun enak, itu adalah makanan instan.

Setelah meminum air putih, aku mengambil beberapa potong brokoli dari atas piring utama. Mereka terlihat sangat segar, namun tetap saja tidak terlalu membangkitkan selera. Jika bukan karena kewajiban, aku tidak akan sarapan. Ini semua demi mempertahankan bentuk tubuh ideal dan berpenampilan menarik seperti Yuri. Sica Fighting!

Dengan sedikit memaksa aku memasukkan tiap potong brokoli itu ke mulutku. Sebenarnya aku tidak terlalu suka memakan sayuran, tapi aku harus bersyukur. Paling tidak bukan Yoona yang membuat sarapan.

“Kau tidak segera berangkat?” kataku pada Yuri ketika dia baru saja keluar dari kamarnya.

Yuri tersenyum ke arahku. “Aku baru saja akan berangkat” jawabnya.

Tiba-tiba dia berlari mendekatiku dan duduk dengan kemrungsung di kursi yang ada di depanku. Alisku berkedut beberapa kali sampai aku bisa fokus dan melihatnya dengan tatapan datar orang mengantuk.

Mwo?” tanyaku malas, Yuri tidak akan bicara sebelum aku bereaksi.

“Apa kau bisa tebak apa yang terjadi pagi ini?” Katanya sambil memasang ekspresi imut yang memuakkan. Dia sama sekali tidak bisa imut.

Aku malas menjawab pertanyaannya karena masih agak mengantuk, lagipula otakku belum siap dengan kuis dadakan di pagi hari.

Aku mengunyah brokoli memuakkan itu dan menelannya sambil menggeliat tidak nyaman, aku harus bisa menahannya sekalipun tidak suka. “Tukang susu itu datang lagi? Berita lama”

Yuri menggebrak meja dan menggeleng. Aku bisa jantungan jika dia menggebraknya lebih keras lagi. Aku mendelik padanya, mencoba membuatnya takut dan ingat bahwa meja ini tidaklah gratis. Tapi dia tidak takut, dia justru terlihat senyum-senyum sendiri seperti orang gila.

“Sejak kapan Yoona bekerja jadi tour guide? Dia tidak pernah bercerita padaku” tanya Yuri, seolah-olah aku tahu.

Heh?! Sejak kapan anak itu bekerja jadi tour guide? Peta Seoul saja tidak hafal, apalagi sejarah Korea. Bahasa inggris-nya juga biasa saja, jauh dari levelku. Nekat sekali dia bekerja jadi tour guide, tapi bukankah dia masih kuliah? Jadi kurasa tidak mungkin jika dia jadi tour guide hanya sebagai part-time job.  Pekerjaan itu bisa makan waktu seharian. “Sejak kapan dia jadi tour guide?” tanyaku kaget. Aduh bodoh! Yuri saja bertanya padaku, kenapa aku malah balik tanya?

Ya! Aku bertanya padamu, kenapa kau malah bertanya padaku?,” Semprotnya.

Aku memutar bola mataku dan menusuk brokoli di atas piringku dengan garpu. Yuri berdehem dan melemparkan pandangannya ke arah jendela, dia tersenyum dan membayangkan sesuatu. “Tadi pagi ada orang yang mencari Yoona, dia pikir Yoona adalah tour guide, tapi bukan itu titik beratnya. Pria itu sangat tampan, wajahnya seperti orang eropa, pokoknya dia sangat keren”

Aku mengangguk, tidak begitu tertarik dengan Yuri dan fantasinya. “Lalu?” Ujarku.

“Aku tidak tahu, hanya saja dia akan sangat lucu jika bersama Yoona”

Agar Yuri tidak meras kuacuhkan, aku mengangguk sambil mengunyah brokoli. Aku heran. Bukankah Yuri wanita dewasa? Kupikir mencomblang-comblangkan orang adalah kegiatan penuh imajinasi dan tidak realistis. Serius, Yuri adalah orang paling rasional dan skeptis di apartemen ini. Aku tidak mengeti nalarnya kemana ketika ia membicarakan hal ini.

You? Playing Cupid? Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, memangnya kau tidak ingin memulai suatu hubungan. Ah, mungkin kau bisa memulai dengan pria yang mengantarmu waktu mabuk itu, siapa namanya?Cibirku mengingat pembicaraan Yoona mengenai pria yang mengantar Yuri ke apartemen saat dia mabuk. Gadis bernama Kwon Yuri ini, walaupun bisa dibilang sebagai wanita yang menarik, dia tidak punya banyak teman pria karena pribadinya yang tertutup dan keras. Jadi agak mencurigakan ketika ada pria tidak dikenal yang mengantarkannya ke apartemen dalam keadaan mabuk.

Ya! Aku tidak mengenalnya, aku bahkan tidak tahu pria mana yang kau maksud” katanya galak.

Kurasa Yoona benar. Yuri tidak akan mau mengakui kejadian minggu lalu. Yuri pasti sangat malu. Tentu saja, dia selalu menceramahiku dan Yoona untuk tidak minum alkohol lebih dari dua gelas. Tapi dia sendiri justru minum alkohol sampai pingsan dan diantar pria tidak dikenal.

Pria yang mengantar Yuri itu, Aku sendiri belum pernah melihatnya secara langsung. Namun menurut deskripsi Yoona. Pria itu cukup tampan walaupun penampilannya ‘sangat sederhana’.

“Baiklah, mengelak saja terus” kataku.

Sejurus itu Yuri mendelik padaku, namun wajahnya langsung berubah santai lagi. Seakan-akan siap untuk memberikan sangkalan yang tepat mengenai kejadian itu. “Aku tidak mengerti Jessica, Pria itu aku bahkan… ah entahlah, aku berangkat, jaga rumah baik-baik” Aku menahan senyum ketika Yuri keceplosan. Aku yakin dia ingat, dia sepenuhnya tahu mengenai pria itu. Atau bahkan mengenalnya.

“Ya,ya, ya, pergilah! Bekerja yang rajin yeobo” candaku.

Yeobo! Jangan lupa menelpon orang untuk memperbaiki kamar mandi” Tukasnya.

Ya! Aku lupa, aku harus segera menelpon tukang reparasi kamar mandi.

Seperti biasa. Aku membersihkan apartemen. Begini-begini saja pekerjaanku saat semua orang tidak ada di rumah. Seperti ibu rumah tangga depresi yang ditinggal suaminya pergi bekerja dan anaknya pergi ke sekolah. Seringnya aku mengumpamakan Yuri sebagai peran Ayah karena dialah satu-satunya orang yang bekerja sebagai pegawai tetap di antara kami. Yuri bekerja di sebuah perusahaan arsitektur entah sebagai apa, tapi dia sangat (sok) sibuk dan kadang belum pulang ketika aku berangkat kerja. Sedangkan Yoona, dia yang mengambil peran anak di antara kami karena sifatnya yang kekanak-kanakan. Lagipula dialah satu-satunya yang masih pergi kuliah, bukan karena dia mahasiswi abadi, tapi karena dia memang lebih muda dari kami satu tahun dan sedikit pemalas.

Aku jadi ingat dengan ibuku, dua hari yang lalu ibu menelponku dari Amerika dan bertanya tentang keadaanku. Aku tidak bisa bohong padanya bagaimanapun juga. Jadi aku jujur saja tentang semua hal. Lalu aku diceramahi panjang lebar dan ibu juga menyuruhku untuk mencari pekerjaan tetap. Jadi kujawab“Tentu saja, aku akan ikut audisi di SM besok sabtu”

Berbicara tentang SM, SM adalah agensi hiburan terbesar di Korea, agensi dari Taetiseo. Aku sudah berkali-kali di tolak. Tapi aku tidak pernah menyerah karena aku yakin suatu hari nanti juri-juri itu akan luluh. Mereka sampai bosan melihatku datang ke audisi dan mereka pernah menyuruhku pergi bahkan sebelum aku mulai bernyanyi.Mungkin aku di tolak karena terlalu tua. Jujur, aku tidak mau percaya itu. Bakat tidak pernah menua bukan?

Soal Ibuku lagi, Ibu pikir aku terlalu delusional karena percaya suatu hari nanti aku akan jadi penyanyi. Ia tidak percaya padaku dan menyuruhku untuk membuka online shop, untungnya besar dan caranya mudah, kata Ibuku. Jadi, aku iyakan saja.

Tapi sampai hari ini aku belum berniat untuk membuka online shop.Terlalu repot dan penuh kontroversi menurutku. Bagaimana jika aku tertuduh melakukan penipuan, yang sesungguhnya tidak kulakukan? Ah, itu berbahaya.

Selesai bersih-bersih apartemen, mencuci baju di laundry yang ada di lantai satu, juga membersihkan diri. Aku keluar dari apartemen untuk mencari inspirasi dan udara segar, mmm karena ini hari senin, aku juga ada jadwal latihan di studio bersama Kevin dan Eunji.

Untuk sekarang ini pekerjaanku adalah musisi dan penyanyi. Terkadang aku menyanyikan lagu-laguku saat di Cafe, atau terkadang mengamen di pinggir jalan –dengan terhormat tentu saja. Terkadang aku juga meng-upload videoku ke youtube, terkadang aku juga meng-cover beberapa lagu milik musisi lain. By the way aku lumayan terkenal di Youtube. Penggemarku juga tidak sedikit,itulah yang membuatku heran kenapa SM tidak juga menerima gadis bernama Jessica Jung Sooyeon ini.

Cafe’  itu bernama Prim’s Cafe. Tempatnya mungil dan cukup menyenangkan, dindingnya berwarna kuning di sisi kiri dan krem di sisi kanan. Meja-meja tertata rapi, beberapa ada yang tertempel di dinding, beberapa ada yang tidak, seperti tempat yang sekarang kududuki. Meja kayu tempat gelasku berdiri tidaklah spesial, mirip dengan meja-meja kayu lain, tapi hal itu justru membuatku nyaman, kursinya pun nyaman. Terasa empuk karena ada bantalan berwarna merah diatasnya. Selebihnya desain cafe ini sangat homy tidak membuatku terasa asing, walaupun ini pertama kalinya aku datang ke tempat ini, aku langsung merasa akrab.

Selain lagu mengenai musim semi yang mengalun dari speaker cafe’, suasana cafe’ ini sangat tenang. Berbeda dengan suasana di luar. Suara klakson mobil, mesin kendaraan, suara langkah tergesa-gesa. Di pagi yang cerah seperti ini, hal-hal semacam itu hanya akan merusak mood.

Tiba-tiba rasa iri yang menyergapku ketika melihat seorang wanita dengan baju kantor berlari dari arah barat. Aku tersenyum getir. Pasti, Ibu ingin aku bekerja sepertinya. Di kantor, memakai baju yang rapi, terlihat berpendidikan dan tidak liar seperti ini.

Aku mendengus pelan. Kusesap secangkir moccachino agar pikiran barusan lenyap. Seharusnya aku bersyukur, bisa jadi duniaku lebih menyenangkan daripada dia. Duniaku yang sederhana, yang santai, dunia penuh impian dan harapan yang sedang kuusahakan untuk terwujud.

Aku tersenyum pada bayanganku yang terpantul lewat cangkir. “Sica, impianmu pasti akan terwujud” Ujarku. Sesaat kemudian aku mulai menulis lirik lagi buku catatanku. Lirik yang kubuat biasanya tidak banyak, hanya terdiri dari sepuluh sampai dua puluh bait. Aku memikirkan benar-benar kalimat apa yang seharusnya kuletakkan disetiap bait, berusaha agar kalimat itu bisa menyampaikan isi hatiku dan memiliki rima.

Setelah menulis satu kalimat untuk bait kedua, aku membaca lagi tiap kalimat dari bait pertama hingga bait yang baru saja kutulis. Aku tersenyum puas, tidak buruk.

Kusapukan pandangan ke seluruh sudut cafe’. Lalu aku menangkap  sepasang mata cerah berbinar, ia membawa koran di tangan kirinya dan segelas kopi di tangan kanannya. Ia berjalan ke arahku dan menempatkan dirinya di kursi yang ada didepanku.

Annyeong” sapanya.

Aku bangun dari duniaku dan otomatis membeku. Kualihkan perhatianku sepenuhnya pada orang yang barusan menyapa. Ia, si Ahjussi apartemen sebelah. Penampilannya sangat rapi, rambutnya di sisir ke atas, mengenakan jas perlente dan kemeja dalam putih. Nafasku tercekat, kenapa aku harus bertemu dengannya? Di tempat senyaman ini? Aku masih belum siap bertemu dengannya.

“Kau suka kesini?” tanyanya sok akrab.

Aku menggeleng. Faktanya, aku memang tidak pernah punya cafe favorit. Aku selalu berpindah-pindah tiap kali minum kopi di pagi hari. Tadinya aku ingin memfavoritkan cafe’ ini, namun karena keberadaannya. Aku mengurungkan niat itu.

“Kadang” jawabku pendek sambil meminum minumanku cepat-cepat.

Pria itu tersenyum dan meletakkan koran yang dibawanya di atas meja. Dia memangku kepalanya di atas punggung tangannya dan tersenyum sambil melihat keluar jendela.

Ia menyindir seraya meminum kopi “Apa kamar mandimu sudah diperbaiki?”, begitu. Aku hanya bisa diam saat Ia mendesah pelan dan pandangannya terarah padaku. Ia mengangkat kedua alisnya, seperti menuntut jawaban dariku. Padahal aku sama sekali tidak berminat untuk menjawabnya. Akan sangat memalukan jika kujawab belum. Kamar mandiku sudah rusak semenjak seminggu yang lalu. Hanya pemalas seperti aku yang bisa menunda selama itu.

“Sudah” Aku berbohong. Well, sepertinya akhir-akhir ini tukang ledeng sedang banyak pekerjaan. Jadi, kamar mandiku akan diperbaikinya besok.

“Bagus,” Sahutnya sambil mengangguk. Kemudian dia mengambil koran yang ada di depanku dan membacanya lagi. Apa pedulinya sih dengan kamar mandiku, sampai bertanya-tanya segala. Jujur saja aku tidak suka orang yang sok akrab sepertinya.

Si Ahjussi membaca koran dan mulai menulis lagi. Baiklah, sampai mana aku tadi? Ini menyedihkan, aku lupa apa yang akan kutulis. Akan kuingat-ingat lagi. Every leaf of… Sial! Aku lupa, ini semua karena dia. Kudongakkan kepalaku. Kudapati Ahjussi apartemen sebelah masih sibuk dengan koran dan kopinya. Dilihat sekilas, ia sama sekali tidak berdosa. Tapi dialah penyebab amnesia sementaraku saat ini. Ia membuatku lupa dengan apa yang akan kutuliskan. Penghancur konsentrasi! Dasar! Aku akan mengusirnya.

Neo,” kataku canggung. Eh, aku jadi tidak tega menyuruhnya pergi saat memandang wajah polos-tidak-berdosanya.

Pria itu melirikku dari balik koran dan mengangkat kedua alisnya. Aku tidak tahu akan mengatakannya bagaimana. Wajahnya selalu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang benar-benar sudah kulupakan, namun bayangannya muncul lagi tiap aku melihat pria ini. Aku menggeleng dan memutuskan untuk tidak berbicara lebih lanjut dengannya.

“Mm, kurasa kita harus bersikap lebih akrab, kita sudah menjadi tetangga kurang lebih satu tahun, dan aneh rasanya jika kita tidak saling mengenal” katanya.

Geurae?” sahutku tidak antusias.

“Namaku Lee Donghae, dan kau?” tanyanya.

“Sica Jung” jawabku. Aku bergidik. Kenapa aku menjawab Sica Jung instead of Jessica Jung? Padahal kan Sica adalah kecilku saat tinggal di Amerika.

Mulut pria itu membentuk ‘O’, dia mengangguk dan tersenyum tipis. “Sica, nama yang lucu” aku tidak perlu komentar murahannya, aku hanya ingin dia pergi meninggalkanku.

Selama beberapa menit aku jadi benar-benar kaku dan tidak bisa bergerak bebas. Genggamanku pada pensil semakin erat dan tanganku jadi agak berkeringat, ini semua dikarenakan pria ini. Jika bisa, aku ingin menghiraukannya dan menganggap pria ini sebagai bayangan. Namun entah bagaimana caranya dia selalu membuatku gugup.

Saat aku mendongak lagi, Si Ahjussi Apartemen sebelah sedang melipat koran yang tadi ia baca dan melihat ke arah Jam dinding cafe’. Lalu air mukanya mendadak berubah muram. Setelah itu dia melihat ke arahku. “Aku harus pergi dulu, Coffe break time sudah selesai, Dah” Tutur katanya halus dan berkharisma, membuatku kadang harus mengingat bagaimana caranya bernafas. Dia juga sopan dan rapi. Mungkin dia kebalikan dari Jessica Jung yang lagaknya seperti preman ini.

Aku tersenyum tipis dan membiarkan dia pergi. Bagus, memang sedari tadi aku ingin dia cepat-cepat pergi. Aku tidak mau harga diriku perlahan terkikis tiap kali bertemu dengannya.

Ada yang aneh mengenainya ketika aku menatap punggungnya yang semakin menjauh. Kami tidak pernah berbicara seakrab ini sebelumnya. Gelagatnya seperti sudah pernah mengenalku sebelum ini.

Apa jangan-jangan?… Kurasa tidak. Mereka tidak mirip. Lee Donghae Ahjussi itu jauh lebih tampan dari pria penggemar ikan yang kukuntit saat aku kelas 2 SMA.

Setelah pergi dari cafe’ itu aku berjalan-jalan ke sekitar Seonnung-ro. Yah, jalan-jalan sendirian itu memang tidak menyenangkan, selain aku tidak bawa banyak uang, aku juga tidak bisa bergosip ria bersama Yuri ataupun Yoona, padahal aku sudah sering seperti ini. Aku tidak mengerti kenapa aku selalu merindukan waktu-waktu bersama Yuri dan Yoona.

Pagi ini. Aku berhenti lagi di pertigaan itu seperti tiga hari sebelumnya. Ada seorang –pengemis berkedok– peramal baru di dekat sini, dia adalah peramal jalanan dan tempat praktiknya ada di pinggir trotoar, tepatnya di depan sebuah toko benda antik. Dia hanya menyiapkan meja kecil dan kursi, lalu ada sebuah kaleng kecil di atas meja yang biasanya orang-orang akan meninggalkan uang didalamnya.

Aku berdiri diantara kerumunan itu lagi seperti hari-hari yang sebelumnya. Tapi bukan berarti aku suka diramal. Sebenarnya aku suka melihat orang diramal karena aku suka memperhatikan hal-hal konyol. Hal-hal konyol dapat menginspirasiku. Kebanyakan lagu-laguku bercerita tentang hal-hal konyol. Aku berniat membuat lagu soal orang-orang bodoh yang tertipu oleh peramal jalanan semacam gadis itu.

“Agassi” Gadis itu memanggilku. Awalnya aku terkejut dan sedikit takut karena gayanya mengingatkanku pada wanita gypsy yang kutemui di Fifth Ave saat aku berumur tujuh tahun.

“Aku?” kataku tidak yakin.

“Ya, Kau kemarilah” Katanya sambil tersenyum.

Aku membelah kerumunan untuk menemuinya. Aku berdiri di hadapan meja ramal itu dan dia menyuruhku untuk meletakkan tanganku di atas meja. Setelah itu dia menyentuh garis tanganku dan memejamkan matanya.

Aku mengangkat alis kiriku dan melemparkan tatapan skeptis padanya. Sedari tadi yang kuperhatikan bukanlah apa yang tengah dia lakukan, melainkan kalung berbandul tulang kadal dan hawa angker yang bergumul disekitarnya. Belum ada beberapa menit aku sudah merinding dibuatnya.

“Kau sudah selesai?” Kataku.

Gadis itu tidak bergeming, sepertinya dia masih sibuk berkomunikasi dengan ‘tuan’nya atau apa aku juga tidak tahu, pokoknya aku ingin segera pergi ke studio untuk berlatih bersama Kevin dan Eunji.

“Kau akan bertemu dengan orang yang berarti dimasa lalumu, dan akan dihadapkan pada suatu masalah yang pelik karenanya” kata peramal bermata kucing itu dengan mimik bijak.

“Ah, Geurae? Wow!” Aku pura-pura terkejut dan tertawa kegirangan. Aku tidak mengerti kenapa aku tertawa kegirangan padahal aku akan dihadapkan pada suatu masalah yang pelik, seperti kata gadis itu.

Aku melihat ke arahnya lagi untuk berterimakasih, tapi dia justru melirikku tajam. Mungkin dia sadar jika aku hanya menganggap perkataannya sebagai guyonan.

“Lebih baik, kau segera pergi ke studio, atau sesuatu yang buruk akan menimpa teman-temanmu” Dia menambahkan getaran misterius ditiap kata-katanya. Aku menelan ludah dan mengambil beberapa lembar uang dari saku jaket tipisku, lalu segera menaruh lembaran uang itu ke sebuah kaleng yang ada di atas meja ramal miliknya. Mendadak gadis itu menghentikan tanganku sambil tersenyum angker. “Tidak, aku akan dapat bayaran lain” Ujarnya.

“Ba..baiklah” kataku tergagap.

Sepertinya ini adalah efek dari perkataan peramal itu. Aku jadi sedikit terburu-buru memasuki studio musik milik Kevin. Tepat saat membuka pintu studio, kulihat Kevin hampir menyentuh kenop pintu. Kevin dan Eunji melihatku dengan ekspresi jess-kau-datang-terlalu-pagi, mungkin kedatanganku memang sedikit mengejutkan, biasanya aku datang lebih siang dari ini.

“Kalian mau pergi kemana?” Kataku ngos-ngosan. Aku tadi sedikit berlari karena takut perkataan peramal itu benar.

Kevin dan Eunji memandangku dengan wajah skeptis, mereka saling melemparkan pandangan dan mengedikkan bahu. “Kami mau pergi membeli makanan ringan, kau mau?” Tanya Eunji.

“Ah, tentu saja” Kataku sambil memaksakan senyuman.

Kevin ganti bertanya padaku. “Kau mau apa? Pocky? Soy Joy?”

“Soy Joy, yang ungu” jawabku pendek sambil berjalan masuk ke dalam studio dan meletakkan tas punggungku di sofa merah. Kevin dan Eunji melihatku dengan tatapan menyelidik. Ketika aku melirik ke arah mereka, mereka langsung menggeleng dan keluar dari studio.

Entah kenapa aku jadi sangat khawatir. Apa ini gara-gara perkataan gadis peramal itu ya? Aku  tidak mungkin percaya dengan perkataannya, tapi kenapa perasaanku jadi tidak tenang begini?

Aku menunggu Kevin dan Eunji sambil memainkan gitar dan memetik kunci-kunci random selama lima belas menit. Tak lama setelah aku mulai merasa tenang, pintu studio terbuka dan kulihat Eunji masuk sambil membawa satu kantong plastik penuh makanan ringan. Kevin mengikuti di belakangnya sambil tersenyum lega. Eunji sendiri jika kuperhatikan wajahnya masih syok karena sesuatu.

“Kau tidak akan percaya, Jess,” Kata Kevin sambil menelan ludah dan tersenyum penuh rasa syukur. “Tadi itu benar-benar mengejutkan, jika kita berangkat lebih awal beberapa detik saja…” jelasnya.

“,Kami bisa tertimpa baliho besar” Eunji memotong kalimat Kevin. Setelah itu mereka tertawa.

Aku ikut tertawa bersama mereka. Tapi dalam hati aku sangat takut, bulu kudukku berdiri, mataku berkedut. Apakah ini ada kaitannya dengan perkataan peramal tadi? Bagaimana jika aku tadi terlambat beberapa menit saja dan mereka sudah terlanjur pergi. Apakah mereka bisa tertimpa baliho itu?

Aku pulang sekitar jam tujuh kurang lima belas menit dari studio. Biasanya kami bisa berlatih sampai berjam-jam dan jadi lupa waktu. Untung saja aku ingat untuk menyiapkan makan malam. Jika tidak, mungkin aku bisa langsung pergi ke cafe’.

Aku sampai di apartemen dua puluh menit setelah itu, aku melangkah gontai ke dalam lift, mencoba melupakan perkataan peramal tadi pagi. Saat aku akan menekan tombol panah yang berhadapan, seseorang menahan pintunya dan masuk. Orang itu tersenyum jahil kearahku dan berdiri di sampingku. Siapa lagi jika bukan Ahjussi Apartemen Sebelah. Seharusnya aku tadi menutup saja pintunya dan tidak membiarkan dia masuk ke dalam lift, harga diriku belum siap untuk bertemu dengannya.

“Kita bertemu lagi” katanya sumringah.

Aku tersenyum tipis dan mengangguk.

“Sica-ssi, baru pulang ya?” Pertanyaan retoris. Cibirku dalam hati. Tunggu, kenapa dia memanggilku Sica? Itukan nama kecilku. Oh, iya aku lupa. Tadi pagi aku memperkenalkan diriku sebegai Sica Jung padanya.

Ne” Jawabku pendek lalu  Ahjussi itu mengangguk pasrah.

Kurasa tadi pagi dia juga sudah memperkenalkan dirinya padaku. Tapi aku lupa. Seingatku nama marganya Lee, lalu namanya… aku lupa. Pokoknya ada huruf ‘h’ dan ‘e’… ah entahlah, aku tidak terlalu memperhatikannya tadi.

Terdengar denting halus dari lift yang artinya kami sudah sampai di lantai tujuh. Aku buru-buru keluar untuk menghindarinya. Karena tiap melihat wajahnya aku ingin ke kamar mandi. Namun apa yang kudapat? Ketika aku akan berbelok menuju apartemenku, Aku melihat Taecyeon tengah menyandarkan punggungnya pada pintu apartemen. Aku melotot karena kaget, apa yang dia lakukan disini? Sepertinya minggu lalu aku sudah meluruskan semua padanya. Bahwa aku, Jessica Jung Sooyeon tidak ingin menemui, berbicara dan melihat wajahnya lagi.

Aku menghempaskan punggungku ke dinding dengan lagak kaget. Tidak, tidak. Aku harus menyingkirkan dia dari sana bagaimanapun caranya. Aku muak dikuntit olehnya beberapa hari ini. Dia tidak berhenti menelpon dan mengirim pesan padaku. Kupikir hari ini dia sudah menyerah, tapi ternyata dia malah berdiri di sana. Bisakah dia tidak menggangguku lagi? Aku sudah muak memikirkan laki-laki bernama Ok Taecyeon.

Aku menoleh ke samping, kulihat Ahjussi apartemen sebelah sedang membenarkan tali sepatunya. Aku mengendap-endap mendekatinya dan berdiri dengan gugup di sampingnya.

Sesaat setelah dia berdiri aku memasang senyum termanis untuknya. Aku tidak yakin dengan yang kulakukan. Sepertinya pria itu juga merasa tidak nyaman dengan sikapku.

“Ada yang salah?” Tanyanya ramah seperti biasanya.

Aku mengatur nafasku dan melihat kearahnya dengan serius. “Aku butuh bantuanmu” kataku.

Pria itu melipat tangannya di depan dada dan mengelus-elus dagunya. “Soal apa? Aku tidak pintar soal memperbaiki kamar mandi, tapi aku akan berusaha” katanya diikuti senyum simpul yang menyebalkan. Kenapa dia harus menyinggung hal itu sekarang?

Aku mengangkat satu dudut bibirku dan pura-pura menanggapi candaannya. “Ini bukan soal kamar mandi,” kataku sambil mengubah ekspresiku jadi serius lagi.

Pria itu menyipitkan matanya dan mencondongkan kepalanya sedikit padaku. Aku mundur sejengkal dan berdehem pelan. “Aku butuh bantuan, untuk mengusir seseorang”

Tapi bagaimana cara mengusir Taecyeon? Jika mengusirnya dengan cara kasar, pria ini tidak mungkin menang adu fisik dengannya. Dia jauh lebih besar dan kekar darinya. Sebenarnya aku bisa saja memanggil satpam dan mengusirnya. Tapi atas tuduhan apa aku mengusir Taecyeon? Dia tidak membuat keributan. Lagipula Taecyeon pasti bisa melawan Satpam bertampang sangar itu dengan uang. Aku mendesah dan melihat lagi wajah Si Ahjussi Apartemen Sebelah dengan berat hati. Kurasa dia memang harus adu fisik dengan Taecyeon. Tapi aku takut harus berurusan dengan rumah sakit. Apalagi jika harus berurusan dengan hukum atas kasus penganiayaan.

“Aku bisa mengusir seseorang, asalkan berat badan orang itu tidak lebih dari 50 Kg” Ujar pria itu tiba-tiba.

Aduh! Iyakan, dia tidak akan kuat adu fisik dengan Taecyeon. Taecyeon itu berat badannya tidak beda jauh dari petinju semacam Muhamamad Ali. Postur tubuhnya saja seperti John Cena (WWE). Ergh, apakah aku harus memberitahu Ahjussi Apartemen Sebelah soal Taecyeon? Siapa tahu dia mau membantuku setelah melihatnya.

“Bagaimana dengan orang itu?” kataku sambil menunjuk ke belakang.

Pria itu mengintip dari balik dinding. Dan sejurus itu matanya terbelalak. Dia melihatku dengan tampang ketakutan seraya menggelengkan kepalanya dan menjauh dariku.

“Kau gila? Tidak!” katanya sembari membentuk tanda cross dengan kedua tangannya.

Ya! Aku…” Aku membuang pandanganku dan mengalirkan semua energi negatifku ke telapak kaki. Setelah menghentakkan kakiku dengan sedikit keras, aku melihatnya dengan ekspresi berlipat-lipat. “Aku depresi karena dia, aku ingin bebas darinya, aku tidak tahu bagaimana caranya agar dia pergi dari hidupku. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana, aku hanya ingin dia berhenti mengejar-ngejarku, dan kau tahu tidak? Aku ingin pergi ke kamar mandi” bisikku marah-marah. Lega rasanya bisa mengeluarkan kata-kata itu dari tadi, walaupun pelan.

Pria itu melihatku miris dan mengatur nafasnya. Dia mengalihkan pandangannya dariku dan melihat sebuah tanaman yang ada di dekat lift.“Aku punya ide,” Pria itu memetik jarinya dan tersenyum percaya diri. “Butuh sedikit usaha, tapi jitu”

Aku menghilangkan jarak diantara alisku dan melihatnya penuh perhatian. “Seperti?”

“Kita bisa pura-pura sehabis pergi berkencan, dengan begitu dia pikir kita adalah sepasang kekasih, dan dia akan terpukul, bagaimana menurutmu?” katanya.

Kesimpulanku, dia adalah manusia yang cerdas, dia hebat, dia bisa membaca situasi dengan akurat. Well, Ini bisa jadi seperti balas dendam juga pada Taecyeon.

“Oke, Apa kau bisa akting?” Tanyaku ragu.

“Lumayan, aku dulu pernah bergabung dalam sebuah kelompok teater” Ujarnya bangga.

Cih! Memangnya dia saja, aku dulu juga pernah bergabung dalam kelompok teater. Bahkan aku pernah menampilkan peran utama Legally Blonde saat kuliah.

“Baiklah, lakukan dengan baik” Pesanku.

Dia mengangguk dan membungkuk dalam. Setelah itu dia menyodorkan tangannya padaku. Aku memicingkan mata dan menggeleng. “Mwo?

“Kita habis pulang kencan, kita harus bergandengan tangan, kau pernah akting tidak sih?” tanyanya kesal.

Aku terkekeh dan menatapnya remeh. “Ya, aku pernah memerankan peran utama Legally Blonde saat kuliah, kau pikir aku tidak bisa akting, aku dulu juga pernah masuk ke kelompok teater. Bukan kau saja” Aku menyombong. Kurasa aku memang harus menyombong pada orang yang secara tersirat telah menyombong padaku.

“Lakukan kalau begitu” katanya sambil menyodorkan tangannya lagi.

Aku berdecak dan meraih tangannya. Mendadak aku jadi berkeringat, aku sangat gugup. Lebih gugup daripada saat aku meminjam kamar mandinya, dan ketika dia menghampiriku tadi pagi.

“Lebih baik kau mengikuti aktingku” kataku padanya dengan sarkastis.

“Aku tidak akan mengikutimu jika situasinya diluar kendali” katanya serius.

Aku mendengus dan memutar bola mataku. Tentu saja dia harus seperti itu, kenapa dia harus lapor segala? “Baiklah” Sahutku ketus.

Hana..Dul..Set Action!” Bisiknya sambil memetik jari. Pria ini hobi sekali memetik jari, itu mulai menyebalkan.

Aku memasang mindset sebagai seseorang yang habis pulang kencan. Jadi seharusnya kami penuh cinta dan harapan, tapi kenapa aku sangat gugup? Bahkan aku bisa merasakan tanganku berkeringat.

Kami berbelok ke kiri dan aku memasang senyum paling cerah yang bisa kuusahakan.

“Bersandarlah pada lenganku” bisik Si Ahjussi Apartemen Sebelah sambil tersenyum manis.

Senyumnya memang manis, tapi memuakkan. Apalagi jika dia sampai meringis. Ergh.

Aku menyandarkan kepalaku pada lengannya yang… hei! Keras dan bergelombang, dia berotot.

Aku menyandarkan kepalaku pada lengannya seperti instruksi. “Bersikaplah normal, dia melihat ke arah kita” bisiknya lagi.

“Aku akan berbicara padanya jika kita sudah cukup dekat dengan pintu apartemenku” kataku.

“Baiklah, sekitar 30 langkah ke depan” Ujarnya.

“Katakan sesuatu padaku” kataku sambil mencengkram lengannya kuat-kuat.

“Seperti?”

Katanya dia tadi orang teater, masa membuat dialog romantis saja tidak bisa. “Kata-kata manis” Jawabku.

Tiba-tiba dia merangkulku dan merapatkan tubuhku padanya. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan menarik nafas dalam-dalam. Ini semuanya hanya akting, seharusnya aku sudah terbiasa dengan adegan seperti ini.

“Begini bagaimana, aku tidak bisa membuat kata-kata romantis?” bisiknya.

Aku menelan ludah, jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Perasaan ini hanya perasaan gugup biasa bukan? Perasaan gugup seorang perempuan pada laki-laki yang ada di dekatnya. Ini normal.

“Oke, berapa langkah?” tanyaku.

“9..8..7,mungkin” katanya sambil mengedikkan bahu.

Oke, aku akan menghitung. Selama tiga langkah ke depan aku sibuk memenenangkan perasaanku karena gugup, tiga langkah setelahnya aku mempersiapkan diriku untuk menyapa Taecyeon sesadis mungkin.

Tap!

“Taecyeon?” Sapaku seperti tokoh antagonis.

Taecyeon mengerutkan keningnya  dan melihatku serta Ahjussi Apartemen Sebelah bergantian. Lalu dia menatapku tajam, matanya berapi-api. Dia marah, itu bagus.

“Jess, kau bermain di belakangku?” He? Apa? Dia justru bertanya begitu padaku? Ya ampun, tipikal keluarga Yoona. Muka tebal.

“Bermain di belakangmu? Memangnya kau siapa bertanya begitu?” Tanyaku dengan gaya menantang.

“Jess, Kau tidak memutuskanku sepihak kan? aku ingin menjelaskan semuanya, yang kau lihat waktu itu hanya salah paham, aku dijebak” Terangnya frustasi sambil melemparkan tatapan membunuh pada Ahjussi Apartemen Sebelah.

Kali ini aku malah tambah tidak percaya. Bagaimana bisa aku salah paham? Aku bersikeras bahwa yang kulihat waktu itu memang benar adanya dan Taecyeon memang telah mengkhianatiku.

“Tapi kau dijebak dengan suka rela, iya kan? Sudahlah, Aku tahu semua tentangmu, aku tahu kau sudah bosan denganku, aku tahu semuanya, aku tahu! Jika kita tidak bisa lagi saling mendukung lebih baik kita jalani hidup masing-masing. Carilah wanita lain yang bisa kau kencani dan permainkan, aku akan mencari pria untukku” Kataku setengah berteriak dan mata yang mulai berair. Ya ampun, aktingku hebat sekali. Sorakku dalam hati.

Wajah Taecyeon langsung pucat pasi. Dia menundukkan wajahnya dan rahangnya menegang. Alih-alih memandangku dengan berani dan mengakui bahwa yang kukatan adalah benar dia malah melemparkan tatapan tajam pada Si Ahjussii Apartemen Sebelah yang baru saja kuingat namanya.

“Berani-beraninya kau!” Taecyeon memasang ancang-ancang untuk memukul Donghae, tapi aku langsung memblokir di depannya dan pukulan itu malah mengenai wajahku. Sumpah! Tadi itu menyakitkan. Pukulannya sangat kuat sampai-sampai aku terhuyung dan terjatuh.

“Sica!”

“Jess!”

Aku menyipitkan mataku, kulihat wajah Donghae Ahjussi dan Taecyeon. Mereka melihatku dengan raut wajah khawatir.

“Jess, maafkan aku, aku tidak sengaja” kata Taecyeon sambil mencoba menyentuh wajahku.

Tapi Donghae Ahjussi malah mendorongnya sampai terjatuh. “Ini salahmu, Bodoh!” katanya pada Taecyeon. “Pergi!” Tambahnya.

“Jess!! Kudengar suara teriakan Yuri diikuti suara hentakan kaki orang berlari di lorong.

Aku menoleh ke samping dan melihat sepatu Converse Yuri yang mulai terlihat buram.

Aku mengompres mataku dengan botol air dingin dan masih sesenggukan karena kesakitan serta terlukai oleh kenyataan yang kejam. Aku Jessica Jung, seharusnya jadi gadis tahan banting yang mandiri. Putri dari Ayah paling hebat dan Ibu paling oke di dunia, kenapa begini saja menangis?

Aku duduk di sofa ditemani pria itu, Donghae Ahjussi. Yuri sedang berbicara dengan Taecyeon di luar apartemen. Kurasa Yuri sedang menceramahi Taecyeon, atau mungkin bercerita soal Jessica Jung yang sedang tidak ingin di ganggu oleh mantan keras kepala.

“Apa kau benar tidak apa-apa dengan ini? Seharusnya kau tidak usah berusaha melindungiku tadi. Aku laki-laki, aku bisa menahan pukulan lemah seperti itu” Kata Donghae.

Lemah katanya. Lalu jelaskan bagaimana pukulan itu bisa sampai membuat mataku biru!”Paling tidak kau bisa berterimakasih padaku, setidaknya bukan kau yang dipukul” kataku setengah terisak.

Mian, Lagipula kau duluan yang sebenarnya minta bantuan padaku, kurasa dengan begini kita impas” Ujarnya sambil melihat ke arah meja yang ada di depan sofa.

“Tidak, ini beda” Kataku kesal. Aku bertanya-tanya pada diriku kenapa aku tidak bisa menghentikan nada bicara sarkastis-ku padanya. Mungkin karena aku merasa pria itu asing.

Mian” Ujarnya lemah sambil menunduk.

Yuri menutup pintu apartemennya dan berjalan kearah kami. Dia melepas nafas panjang dan menggeleng padaku. “Jess, aku sudah menjelaskan padanya, untuk beberapa hari kau akan merasa tenang” Katanya.

Gomawo” Aku tidak tahu kata mana lagi yang tepat untuk diucapkan.

Donghae berdiri, lalu ia membungkuk padaku dan Yuri. “Kurasa aku harus kembali ke apartemenku,” katanya sambil tersenyum. Dia melihatku dengan sedikit rasa malu dan tersenyum tipis “Cepat sembuh”

“Apa kau mau makan malam bersama kami?” Kata Yuri padanya. Yuri langsun memasang wajah ramah maksimal. Ya ampun, apakah dia perlu seperti itu pada laki-laki seperti Donghae?

Donghae menggeleng dan merapatkan bibirnya. “Tidak usah, lagipula apartemenku hanya disebelah, terimakasih tawarannya”

Oh, begitu ya. Jadi pria bernama Lee Donghae ini punya kepribadian yang berubah-ubah, terkadang dia jadi jahil dan banyak bicara tapi mendadak bisa berubah jadi orang yang penuh kharisma dan bijak. Aneh.

Setelah Donghae keluar dari apartemen, Yuri berlari kearah sofa dan duduk di sebelahku. Dia melemparkan tatapan menyelidik padaku dan tersenyum cerah. “Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanyanya dengan mata berbinar.

Aku mendesis dan meninggalkannya ke tempat menyepi a.k.a  kamar mandi.

Cafe’ lumayan penuh malam itu, namun aku tidak begitu bersemangat ketika naik ke panggung. Mataku masih bengkak dan aku harus menutupi mataku dengan kain kassa sehingga bentuk wajahku terlihat seperti bajak laut, kata Kevin.

Dengan penuh penghayatan aku menyanyikan lagu-lagu sendu di Cafe’. Aku tidak peduli jika ada yang menertawakan bentuk wajahku sekarang. Toh, Manajer membayarku karena suaraku bukan karena penampilanku. Selesai menyanyikan lagu dari Autumn Vacation. Aku melebarkan pandanganku dan melihat seisi cafe’ untuk menenangkan pikiranku.

Lalu aku melihat orang itu, gadis peramal yang tadi siang. Dia melambai ke arahku sambil tersenyum misterius.Ya ampun, apa yang dia lakukan disini? Penampilannya sangat berbeda dari yang tadi pagi. Dia terlihat terlalu normal bagiku. Tidak kulihat satupun atribut angker menempel pada dirinya, yang kulihat hanyalah gadis biasa dengan senyuman normal. Tidak ada kesan bahwa dia peramal jalanan yang sangat menakutkan. Kemudian dia menyesap kopinya. Walaupun dia terlihat normal, hawa angker disekitarnya terasa belum kunjung hilang. Badanku masih panas dingin jika melihatnya.

“Jess, kau mau melanjutkan atau tidak?” tanya Kevin padaku. Aku melihat ke arahnya dan mengangguk linglung.

Aku melihat lagi ke arah pengunjung dan berdehem. “The next song is, Big Baby Driver – Spring Love You The Best, Cover” kataku.

Kevin memetik gitarnya sebagai pembuka dan Eunji mulai memainkan silofon sebagai pelaras suasana. Kemudian aku memainkan kunci-kunci dasar dan mulai menghayati lagu ini seperti yang kulatih tadi siang.

I wish I had someone who suddenly arrive
And show me how the flowers grow and come out in winter field
I wish I had someone new tender to my heart
Someone who will share me precious time

Someday you will find me in the hands of wind
Somehow you will lead me to the warmer nights
Someday you will find me in the hands of wind
Somehow you will lead me to the warmer nights

If I had pretty spring at the corner of my heart
I will say goodbye to winter land, you so cruel the winter wind
and I will check the through the phone, the number is 131
Don’t you know the truth is in fine weather

(I love you best)
(I love you best)

Eunji menarik nafas dan mulai jadi backing vocal.
Someday you (I love you best) will find me in the hands of wind
Somehow you (I love you best) will lead me to the warmer nights
Someday you (I love you best) will find me in the hands of wind
Somehow you (I love you best) will lead me to the warmer nights

 

Selesai menyanyikan lagu itu aku membuka mataku dan mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru cafe’. Aku mengerjapkan mata kananku pelan, kulihat semua pengunjung cafe’ terdiam dan menatapku. Omo, apa aku sebagus itu?

Terdengar tepukan dari belakang, dan orang yang bertepuk tangan itu adalah si gadis peramal. Baru kemudian diikuti tepuk tangan pengunjung cafe’ yang lain. Aku mencoba menghiraukan gadis itu tapi matanya seperti mencoba mengatakan sesuatu padaku.

Aku menelpon Yuri dan menyuruhnya pergi ke cafe’ untuk menjemputku. Aku benar-benar takut karena gadis itu tidak segera pergi dan malah menunggu hingga penampilanku selesai. Yuri bilang dia akan pergi kesini secepatnya. Sudah lima belas menit yang lalu dia mengatakan itu. Tapi kenapa dia tidak kunjung datang? Jalanan juga sudah lumayan lengang –tidak padat merayap maksudku, ini Gangnam, Gangnam tidak pernah tidur– malam itu dan menggunakan alasan macet adalah pemikiran yang bodoh.

Aku mengendap-endap keluar dari Cafe’ lewat pintu belakang. Junhee, salah seorang pelayan di cafe’ itu memberitahuku jika gadis peramal itu masih duduk dikursinya yang tadi.

Dengan perasaan was-was aku keluar lewat pintu belakang dan berjalan menuju trotoar untuk mencegat taksi karena Yuri tak kunjung datang. Ketika aku hampir melambaikan tanganku pada sebuah taksi. Seseorang meraih tanganku dan menarikku ke belakang.

Eonni, Kita bertemu lagi” katanya sambil tersenyum angker padaku.

Yuri’s

Aku melihat keluar jendela dan melihat Jessica hampir melambaikan tangannya pada taksi yang kutumpangi. Seseorang meraih tangan Jessica dan menariknya ke belakang. Aku membelalak. Apa yang terjadi? Apa Jessica di tuduh merebut kekasih orang lagi?

“Pak, tolong berhenti di depan Cafe’ itu” kataku pada Sopir taksi itu dengan perasaan khawatir.

Setelah taksi itu berhenti aku segera berlari keluar dari taksi dan bermaksud melerai mereka berdua jika nanti sampai jambak-jambakan. Tapi yang kulihat justru Jessica dengan wajah pucat, tersenyum canggung ke arahku.

“Hei” sapanya dengan nada bergetar.

“Apa yang terjadi?” kataku padanya. Mataku menangkap seorang gadis dengan mata kucing sedang berdiri disampingnya.

Gadis itu memandangku dan Jessica bergantian. Ia mengangkat kedua alisnya dan mengibas-ngibaskan beberapa lembar uang ke wajahnya. “Tidak perlu takut, Eonni. kau tidak akan bertemu denganku lagi,” Katanya pada Jessica dengan raut wajah mirip rentenir.

Lalu gadis aneh itu melirikku. “Eonni, kau tahu tidak?”

Aku menggeleng sebagai sebuah jawaban. Gadis itu tersenyum tipis dan menunjuk satu arah dibelakangku. “Kau dikuntit”

–udah gue jauhin jarak to be continue-nya, (^_^)–

Seminggu setelah tes ternyata nggak bikin gue bebas dari tanggung jawab sekolah. Alhamdulillah gue nggak ada yang remidi, dan luar biasanya nilai bahasa jawa gue dapet 81 !!!!! Nggak nyangkan banget gue,, padahal gue nggak ngerti wangsalan, parikan, dsb. Terimakasih Ya Allah!! Terimakasih juga sama semua orang yang ngedukung gue.

Oh ya, maaf banget ya… gue jarang update. Lah, mau gimana waktu mau nge-jadwal pulsa internet malah habis. Ya sudahlah, gue tunggu sampe hari ini.

Beberapa hari terakhir, gue lagi gila banget ya sama anak-anak Bangtan a.k.a BTS. Gue lagi jatuh cinta banget sama V and the way he garuk-garuk ketek

Ah, apa deh! Ya udah, cukup segini aja cuap-cuap gue kali ini. Gue minta maaf yang sebesar-besarnya ya xxinggoo!!

Semoga part kali ini agak nyenengin (^0^)

Sori kalo ada banyak TYPO dan KESALAHAN KALIMAT, maklum kepala masih nggak sante.

“Terimakasih karena sudah membaca. dan jika tidak keberatan maka saya ingin anda memberi support. Tolong kritik dan saran, tapi tolong jangan nge-bash, itu tidak baik”

(^0^)9

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

12 thoughts on “Girls: Fortune Teller [Part 4]”

      1. Ow iyadeh ;;)

        Terus dilanjutkan yaa, jgn lamalama 😀
        Kalo blh aku req ff HaeSica genre school-life or marriage-life yg happy end. Hehe, kalo gak sempet jg gapapa :))

  1. Wahh kereenn. Kereenn.. HaeSica-nyaa kereenn^
    Aishh si okcat maen fisik mulu nih bwaannya.. kena deh babh jessie-_-
    Part sblmnya gbs komen.. aissh.. pdhl itu bgiannya baby yoong..
    Ntr deh bk pke laptop biar bs ninggal jejak dsana, kekeke..
    Authornim saya lanjut lg, ne?
    Ceritanya daebak!! Author jjang!!^

  2. Bid, ini akuu.. Kmu tau kann? Ahh tau nggk yaaa.. Aku masih stia buka2 blog mu lhoo bid.. Slalu smangat yaaa bid.. 🙂

  3. gadis peramal itu bener smua kejadiannya. dan yuri lg dkuntit ma kyuhyun yak haha

    ini donghae temen skolah sica ya yg dia blg itu ikan aaaaa penasaran lg kan

    keep writing chingu

  4. kemrungsung
    Apa tuh?
    Keknya gue perneh dnger..
    well.. gue terpukau ama gaya lu, sob!
    I’d have enjoyed!
    Ok. Thanks!
    Weh..gue pen kenalan ama lu .. haha..
    Abisnya.. feel yg lu ciptain ngena banget!
    Jackpot, sob!
    Keep writing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s