Girls: Shoes Matter [Part 5]

Girls-3rdposter

Shoes Matter [Yuri]

Author: Ahnmr || Cast: Jessica Jung (SNSD), Lee Donghae (Super Junior), Kwon Yuri (SNSD), Cho Kyuhyun (Super Junior), Im Yoona (SNSD), Lee Jonghyun (CNBlue) || Add. Cast/ Cameo: Kim Woobin, Lee Hongki, Jang Dongwoo, Jun Jeongguk, Park Chanyeol, Ahn Sohee,  || Genre: Life, Comedy, Friendship, Family, Romance || Rating: +15

(Part lainnya)

–ahnmr copyright–

15-04-2013

08.48 AM

Kulihat sepatuku yang sekarang telah berlumur semen basah. Aku menggerak-gerakkan ujungnya sambil memandangnya miris. Baru kemarin sepatuku kesayanganku ini kering. Sembari menunggunya  aku rela memakai sepatu converse-ku yang sudah kekecilan selama 5 hari. Belum ada 5 jam kupakai dan sekarang sepatu ini sudah tak berbentuk.

Ya! Yuri-shit, jangan bilang kau meratapi sepatumu” Teriak Woobin dari kejauhan. Panggilan Shit itu sebenarnya adalah panggilan akrab. Kami sudah saling mengejek semenjak kuliah.

Memangnya salah jika aku meratapi sepatuku. Aku membeli sepatu ini dengan gaji pertamaku. Itulah kenapa sepatu ini sangat berharga bagiku. Tapi sekarang, berkat gundukan kecil semen basah ini, tamat sudah riwayatnya. Warna putihnya tidak akan putih lagi, garis-garis merahnya tidak akan manis lagi. Ini benar-benar menyesakkan dada.

Kurasakan seseorang berdiri di sebelahku. Aku mendongak sekilas dan menangkap wajah Woobin yang angkuh dan menyebalkan. Ia kemudian melemparkan senyum mengejek padaku yang kubalas dengan melengos. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling, mencari-cari sesuatu yang bisa kugunakan untuk membersihkan semen yang membasahi sepatuku. Sesaat kemudian kulihat sebatang ranting di dekat kaki  Woobin. Aku segera meraihnya dan membersihkan semen dari sepatuku dengan ranting itu.

“Ini semua salahmu” Kataku sambil membersihkan sepatuku, aku melirik sengit ke arah Woobin beberapa kali dan Woobin memukul kepalaku –lebih tepatnya topi kontraktor yang kukenakan– dengan gulungan kertas yang sedari tadi dibawanya. Walaupun tidak langsung ke kepalaku, pukulannya cukup keras untuk membuat kepalaku sakit.

“Salahmu sendiri tidak hati-hati”

Aku mendengus dan beranjak dari posisi jongkokku, kulempar ranting ke atas tanah dengan tegas untuk memulai adu mulut bersama Kim Woobin kali ini. “Ya! Kau yang memaksaku kesini, aku tidak pernah berencana untuk pergi ke tempat ini hari ini” Teriakku padanya.

Woobin menghela nafas panjang dan bersidekap. “Ya terserahlah”

“Woobin-shit, ini Nike!! Dan aku membelinya dengan gaji pertamaku!!!!” Teriakku tepat di wajah Woobin.

Ia menyipitkan mata dan mengusap wajahnya dengan lengan baju. “Dasar jorok!”

“Apa? Apanya yang jorok?” Ujarku sambil mengernyitkan dahi. Oke, tatapan ih-joroknya itu benar-benar membuatku kesal. Aku hampir memukul wajahnya ketika menyadari ada seseorang yang berdiri di dekat kami, kemudian ia berujar “Tuan Kim Woobin?”

Pergulatan itu selesai sebelum sempat mencapai klimaks. Woobin membenarkan topi kontraktornya dan tersenyum ke arah orang itu. “Oh, Tuan Cho” Sahut Woobin seraya menjabat tangan pria itu dan berpelukan ala pria –pelukan sekilas, kemudian menepuk-nepuk punggung dan tersenyum satu sama lain.

“Senang bertemu denganmu lagi” Kata Pria itu pada Woobin, namun aku yakin sekali ia juga melirik kearahku saat mengatakannya.

Woobin dan Tuan Cho berbasa-basi seputar bangunan itu. Bangunan itu nantinya akan dijadikan sebuah hotel berbintang lima. Aku tahu persisnya bagaimana. Tapi aku tidak mau repot-repot menjelaskan. Aku sudah lelah berkoar-koar soal bangunan ini. Entah di twitter, di UFO, atau pada Yoona dan Jessica. Aku malas sekali jika harus menjelaskan soal bangunan ini lagi.

“Oh ya, kau belum bertemu dengan arsiteknya bukan? dia Kwon Yuri” Kata Woobin sambil menunjukku. Ia meraih bahuku dan merangkulku agar mendekat. Woobin menepuk-nepuk pundakku dan terkekeh ke arah Tuan Cho.

Ia tersenyum lagi padaku. Senyumnya mengingatkanku pada senyuman Kim Junho yang juga terkesan angkuh –Junho, sialan kau, kenapa kau masih suka berenang bebas dalam pikiranku.

Ia menyodorkan tangannya dan mengedikkan kepalanya ke samping. “Cho Kyuhyun” Katanya.

Tiba-tiba angin bertiup pelan bersamaan dengan nyanyian aneh yang tiba-tiba muncul di kepalaku. Uri Cho Kyuhyun swag dan beatbox berakhir. Tidak mungkin! Apakah dia Cho Kyuhyun yang dimaksud Yoona? Pria yang memegang aib terbesarku itu? Pria sok keren yang ada di warnet waktu itu. Bagaimana caranya ia bertransformasi menjadi seorang pengusaha muda berkharisma seperti ini? Mungkin dia bukan Cho Kyuhyun yang kumaksud, pikirku. Aku yakin di negeri yang seluas ini, pria bernama Cho Kyuhyun tidak hanya satu. Mungkin dia orang lain, aku meyakinkan diriku sendiri.

“Kerja bagus Kwon Yuri, Ayahku puas dengan pekerjaanmu” Katanya. Aku langsung melepas jabatan tangan itu dan menyembunyikan tanganku di belakang punggung.

“Terimakasih”

Kyuhyun melihat ke bawah selama sepersekian detik. Kemudian ia mendongak dan tersenyum pada Woobin. “Aku ingin melihat-lihat, Ayah menyuruhku untuk melihat sejauh apa pembangunannya berkembang”

Woobin melepaskan tangannya dari pundakku dan meninggalkanku begitu saja. Ia dan Kyuhyun berjalan lebih jauh memasuki areal pembangunan sambil membicarakan sesuatu yang tidak ingin kutahu. Aku mendesis dan menunduk, kulihat sepatu Nike-ku yang bentuknya sudah lebih menjijikan dari sepatu lamaku yang ada di gudang bawah tanah rumah busan. Kurasakan cairan semen merembes masuk ke dalam sepatuku. “Kim Woobin, Sialan!” Rutukku.

Ketika aku melirik sekali lagi ke arah mereka berdua. Kulihat Kyuhyun mengangkat salah satu sudut bibirnya, tepat ketika matanya dan mataku bertemu.

10-04-2013

07.47 PM

Author P.O.V

Woobin menyedot cairan berwarna coklat itu sambil menahan tawa, ia melirik skeptis ke arah Kyuhyun dan akhirnya terkekeh. “Kwon Yuri? Kau yakin?”

Kyuhyun menoleh ke luar jendela dan mengangguk. “Namanya Kwon Yuri, aku melihat kartu tanda pengenalnya”

Woobin meletakkan gelas plastiknya di atas meja dan mencondongkan tubuhnya pada Kyuhyun. “Umurnya 25 tahun?”

“89, berarti iya”

“5 Desember?”

Jarak diantara alis Kyuhyun semakin berkurang, bagaimana dia tahu? Pikirnya. Perlu sedikit waktu sampai dia menyadari kejanggalan dalam pertanyaan itu. Akhirnya seulas senyum tercipta di wajahnya. “Kau mengenalnya?”

Woobin memetik jarinya dan tertawa sangat keras. Ia tidak percaya sahabatnya bisa jatuh hati dengan pegawai sekaligus musuh bebuyutannya. Woobin mengakui, Yuri memang sedikit menarik. Namun agak mengherankan jika sahabatnya dapat jatuh cinta pada pandangan pertama. Kyuhyun tidak pernah jatuh cinta sekeras ini selain pada game dan soal matematika. “Dia pegawaiku, dia juga yang mengerjakan desain hotelmu”

“Hah? BENARKAH??!!”

Seluruh pengunjung restoran itu langsung menoleh ke arah mereka. Kyuhyun terlihat tidak peduli, namun Woobin merasa tidak enak. “Calm down kawan, jadi kau bertemu denganku hanya ingin menceritakan hal itu?”

Kyuhyun menggeleng, “Sebenarnya aku ingin membicarakan soal pembangunan itu, tapi ketika melihat soju aku langsung ingat gadis itu, ya sudah kuceritakan saja semuanya padamu”

“Aku tidak habis pikir kau akan menyukai Kwon Yuri bahkan mengenalnya, dia bukan gadis yang mudah didekati asal kau tahu”

“Aku tahu” Kata Kyuhyun sambil meminum air putih setelahnya.

“Lalu?” Woobin menatap Kyuhyun penasaran.

“Dimataku, dia sama menariknya dengan soal matematika, dan bahasa komputer”

15-04-2013

08.05 PM

Back To Yuri’s,,,

Malam itu ada seorang pengantar barang mengenakan baju baseball  Seoul Nexen Heroes datang ke apartemen, aku baru saja mandi dan ingin menonton drama setelahnya. Namun karenanya, aku harus menunda dulu keinginanku.

Kuterima paket berlapiskan kertas coklat darinya. Dia menyuruhku menanda tangani surat terima. Selesai menanda tangani surat terima itu, Si pengantar bertampang manis itu membungkuk dan pergi tanpa mengatakan apapun.

Kupandangi kotak itu dan punggung si pengantar bergantian. Tidak ada apapun, hanya kotak misterius berbalutkan kertas berwarna coklat yang agak tebal. Ada yang aneh disini, mengenai si pengantar itu dan paket ini.

“Apa itu?” Terdengar suara entah dari mana asalnya. Tiba-tiba sebuah kepala menyembul keluar dari balik bahuku. Aku terperanjat dan merapat kedinding. Sial, ternyata itu hanya Yoona. Bukannya minta maaf dia malah tertawa dan berdiri di sebelahku.

Ia dan kacamatanya aliennya selalu membuatku beranggapan bahwa dia lebih cocok dipanggil replika alien daripada Ullzzang. “Entahlah” Jawabku sembari menutup pintu apartemen dengan malas. Aku melangkah ke ruang tengah dan menghenyakkan punggungku diatas sofa.

Kemudian Yoona mengikutiku. Aku mendengus pelan dan menyeringai kearahnya. Namanya saja Yoona, dia tidak akan takluk dengan seringaiku yang kata Jessica lebih mengerikan dari seringai Im Ahjumma. Ia justru melakukan hal yang sama padaku dan menungguku membuka paket itu dengan antusias.

Aku memandangnya kesal. “Kau tidak mau mengerjakan tugasmu?”

Yoona menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya dari kotak yang kubawa. “Sudah selesai” Jawabnya. Aku mengangkat kedua alisku. Yoona? Selesai menyelesaikan tugas? Roh apa yang merasukinya hingga jadi anak rajin seperti ini.

“Im Yoona, hebat sekali kau” Aku memuji sambil mengacak-acak rambutnya.

Ia menepis tanganku dan melotot padaku. “Sudahlah Eonni, cepat buka kotaknya, aku ingin tahu jika itu adalah kiriman dari Ibu” yang dimaksud Ibu oleh Yoona disini adalah Ibuku. Ia memanggil Ibuku dengan sebutan Ibu, agar lebih akrab katanya. Dan memang Ibuku dekat dengan Yoona.

Menyinggung hal mengenai ibu kami, ada sedikit kebetulan aneh yang menurutku terlalu kebetulan. Tanpa kami sadari, Ibuku, Ibu Yoona, dan Ibu Jessica adalah teman SD. Ketika mereka bertemu dan saling bertatap muka. Mereka hanya bisa saling tertawa. Tidak percaya jika anak mereka akan jadi akrab seperti ini.

Eonni, Cepat buka! Cepat buka!” Kata Yoona sambil mengguncang-guncang bahuku. Bukannya aku tidak mau berbagi dengan sahabatku. Aku hanya tidak ingin sahabatku celaka kalau-kalau kotak ini berisi sesuatu yang mengerikan, yang mungkin saja dimaksudkan untuk mengerjaiku.

Ting Tong!

Terdengar suara bel dari pintu. Oh, terimakasih siapapun orang itu. “Yoona buka pintunya!”Aku menyuruhnya.

Yoona terlihat mempertimbangkan. Ia mengetuk-ngetuk dagunya sambil mengarahkan kedua bola matanya ke atas. “Tapi kau harus menungguku ketika akan membukanya” Ujarnya sambil menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya.

Aku hanya tersenyum, bukan berarti aku berkata Iya. Tapi Yoona menganggapnya sebagai iya, dia tersenyum simpul dan melompat dari atas sofa. Kemudian ia berlari ke arah pintu dan membukakan pintunya. Selagi Yoona berbicara dengan orang yang ada di ambang pintu. Aku segera berlari masuk ke kamar dan mengunci pintunya.

Kusandarkan punggungku pada daun pintu dan mengatur nafasku. Hati-hati aku merobek kertas berwarna coklat yang melapisi kotak itu. Kutemukan kotak berwarna jingga dengan lambang Nike diatasnya. Jari-jariku menyentuh pinggiran kotak itu. Aku menggigit bibirku dan pelan-pelan membuka tutup kotaknya. Sebenarnya aku tahu itu kotak sepatu Nike, tapi isinya bisa jadi banyak hal kan? Dan tidak selalu sepatu. Kusiapkan hatiku untuk menerima kejutan terburuk yang bisa saja ada didalamnya. Aku memejamkan mataku dan membuka kotak itu lebih lebar. Kubuka mataku perlahan dan mataku langsung menangkap wujud sepatu dari balik kertas putih transparan.

“KYAAA!!!” Aku berteriak kegirangan. Ini sepatu Nike!!!

Aku segera melompat ke atas ranjang dan mengambil sepasang sepatu itu dari kotaknya. Wujudnya sama persis dengan sepatu Nike-ku yang sudah kubuang ke sampah tadi siang. Kujajal keduanya, dan ukurannya pas sekali di kakiku. Ya Tuhan! Terimakasih atas nikmat yang kau berikan padaku malam ini.

Apa ini dari Woobin? Tumben sekali dia baik. Padahal dia sering sekali menghinaku. Mungkin dia merasa bersalah soal sepatu tadi. Jadi sekarang dia menggantinya. Betapa baiknya, haruskah kubalas dengan sepotong kue? Tidak, tidak. Ucapan terimakasih saja sudah cukup mengingat banyak dosa yang telah ia lakukan padaku.

16-04-2013

06.27 AM

Pagi itu seperti biasa, aku mengupas apel dan memotong-motongnya menjadi beberapa bagian. Aku baru saja selesai melakukan kegiatan yoga dan perlu asupan energi positif.

Tapi ekspresi Yoona pagi itu sama sekali tidak mendukung. Yoona menatap kosong ke arah piring dengan wajah pucat bak orang sakit. Kuletakkan pisauku diatas meja dan menyentuh keningnya…Mm,, Agak hangat.

“Kau sakit, ssaeng?

Yoona menghela nafas panjang dan menggeleng. Berarti ada masalah. Mengenalnya lebih dari lima tahun membuatku paham benar bagaimana sikap dan sifatnya. Yoona itu seperti cuaca. Tidak bisa ditebak. Terkadang dia sangat bersemangat seperti kelinci energizer, terkadang dia sangat murung seperti daun-daun yang berjatuhan di musim gugur. Terkadang dia sangat tegar seperti batu karang, terkadang dia sangat sensitif seperti putri malu.

Eonnie, apa menurutmu aku suka mencampuri urusan orang?”

Ingin sekali aku menjawab ‘Ya’  tapi untuk situasi seperti ini. Ada baiknya untuk tidak mengatakannya dengan lugas. “Sedikit” Jawabku.

Yoona tersenyum tipis dan mengambil tas selempangannya. Ia berdiri dengan lesu dan kulihat piringnya yang masih penuh dengan mie instan buatannya. Yoona sama sekali belum menyentuh makanan itu. Aku khawatir jika maagnya kambuh.

“Kau tidak sarapan, Yoong? nanti kau bisa sakit” Kataku sambil melihat ke arah Yoona.

Yoona berbalik dan tersenyum lebar. “Aku makan di kampus saja, Oh ya Eonni, jangan lupa, besok kamis ulang tahun Jessica Eonni” See, tiba-tiba sikapnya sudah berubah ceria lagi.

I can’t help but smile. “Baiklah, jangan sampai terlambat makan” Ujarku. Besok kamis ulang tahun Jessica ya? Kira-kira hal apa yang bisa membuatnya senang? Diterima di SM? Mm, kurasa itu adalah hal yang mustahil. Kira-kira apa yang sedang diinginkan Jessica? Pic Gitar?

16-04-2013

07.55 PM

Author P.O.V

Gadis berambut hitam itu berjalan memasuki sebuah firma aristektur dengan langkah percaya diri. Wajahnya terlihat cerah. Tak ada awan mendung yang menghiasi wajahnya seperti hari-hari sebelumnya.

Ia melangkah ringan ketika memasuki ruangannya. Beberapa orang menyapanya seperti ,”Pagi!” “Hai, Eonni!” atau “Hai, Noona!”Hanya orang-orang kurang ajar yang berani menyapanya dengan “Pagi, Kwon Ahjussi” Bisa dilihat jika orang-orang kurang ajar itu adalah tangan kanan bos Kim yang juga sama kurang ajarnya. Tapi pagi itu Kwon Yuri tidak berminat untuk merusak suasana hatinya. Alih-alih melirik tajam pada tiga orang itu. Yuri malah tersenyum ke arah mereka dan membalas sapaan mereka dengan penuh keramahan. “Hei, senang sekali melihat kalian pagi ini”

Mereka bertiga, Yongguk, Dongwoo, dan Hongki saling berpandangan. Bingung dengan sikap Yuri yang biasanya keras dan galak mendadak berubah 180o derajat.

“Mana Kim Woobin?” Tanya Yuri pada ketiga orang itu.

“Di ruangannya” Jawab Dongwoo.

Yuri mengangguk dan tersenyum pada Dongwoo. Sontak tubuh Dongwoo langsung merinding. Seluruh kantor tahu jika seorang Kwon Yuri bukanlah makhluk yang murah senyum. Mendapat senyuman manis semacam itu dari Kwon Yuri merupakan keberuntungan yang sangat luar biasa, apalagi bagi rekan pria. Yongguk dan Hongki langsung melemparkan tatapan iri pada Dongwoo yang masih tenggelam dalam dunianya.

Yuri sendiri sudah menaiki tangga menuju ruangan Woobin yang ada di lantai tiga. Sedikit tidak sopan memang ketika tiba-tiba ia merangsek masuk ke ruangannya. Woobin masih menyeduh kopi di mejanya saat Yuri muncul. Ia memandang Yuri dengan sorot mata skeptis.

“Sikap sopan santunmu menguap kemana, heh?” Tanya Woobin.

“Aku hanya ingin berterimakasih, Woobin-shit. Kau yang membelikanku sepatu ini bukan?,” Kata Yuri sambil memamerkan sepatu Nike yang semalam dipaketkan untuknya. “Aku tidak tahu jika kau begitu baik”

Woobin semakin tidak mengerti dengan perkataan rekannya itu. “Ih, sudi amat aku membelikanmu sepatu, bukan aku yang membelikannya” Tukas Woobin.

Kening Yuri berkerut, “Kau yakin?”

Woobin mengangguk. Selama beberapa detik kedua manusia itu sama-sama berpikir. Yuri masih bersikeras meyakinkan dirinya jika sepatu itu adalah pemberian Woobin. Sedangkan Woobin mulai memikirkan soal perkataan Kyuhyun kemarin.

“Aku tidak tahu Yuri­-shit, tapi kurasa,,, there’s something fishy over here”Ujar Woobin sambil tersenyum jahil pada Yuri.

“Woobin-shit, kau mengenalku lebih lama dari siapapun yang di firma ini, jadi katakanlah dengan jujur, kau membelikanku sepatu ini karena Nike­-ku kemarin terkena semen iyakan?”

Woobin mengangkat tangan kanannya dan membentuk isyarat damai. “Sumpah, Yul. Bukan aku”

Yuri mengangguk pasrah dan menundukkan kepalanya. Dia sudah merelakan harga dirinya dengan berterimakasih pada Woobin pagi ini. Tapi ternyata bukan Woobin orangnya. Lalu siapa? Tidak mungkin pekerja dari konstruksi. Yuri tidak mengenal seorangpun yang ada disana.

“Oke” Yuri mengiyakan perkataan Woobin sambil menutup pintu ruangannya

Kakinya melangkah menjauhi ruangan itu dengan lemas. Ia menuruni setiap anak tangga dengan berat. Dilihatnya sepatu Nike yang sekarang dipakainya. Keren, masih berbau toko, suatu keindahan yang tidak bisa ditolak oleh Yuri.

“Maaf sayang, tapi aku tidak bisa memakaimu, kau adalah pemberian orang asing. Pesan ibu, jangan pernah menerima apapun dari orang asing”

15-04-2013

02.30 PM

Kyuhyun’s P.O.V

Aku duduk di kursi di dekat rak sepatu merek Reebok, sedangkan aku menyuruh Chanyeol dan Jeongguk untuk mencarikanku sepatu bermerek Nike di sayap selatan. Aku sedang malas jalan-jalan hari ini. Aku hanya ingin duduk dan memandangi wajah Kwon Yuri yang sekarang sudah jadi wallpaper ponselku. Aku mencuri foto ini dari akun twitternya.

Lewat akun itu, aku bisa memastikan dua hal. Dia maniak twitter, dan dia cantik.

Oke, ini terdengar mengerikan. Aku tidak bermaksud menguntitnya seperti ini, aku hanya mengawasinya, bukan berarti aku bertindak posesif. Naluriku terus memaksaku untuk mengawasinya. Berbekal nama, tanggal lahir, dan informasi dari Woobin aku mulai melakukan observasi terhadap pribadi Kwon Yuri di sosial media beberapa hari lalu.

Dari akun sosial medianya, aku menemukan beberapa penemuan penting. Seperti siapa saja sahabatnya, dimana dia pernah bersekolah, dan apa musik kesukaannya. Tapi yang paling penting adalah, laki-laki bernama Kim Junho. Ada banyak hal mengenai pria ini yang membuatku penasaran. Siapa sebenarnya dia? Apa eksistensinya dalam hidup Yuri? Menurut yang kutilik dari akunnya. Pria bernama Junho ini mempunyai, atau setidaknya pernah mempunyai hubungan serius dengan Yuri. Dan jika tebakanku benar, pria itulah alasan kenapa Yuri mabuk malam itu. Menurut laporan Woobin, Yuri sangat-sangat jarang minum alkohol. Dia hanya minum alkohol jika benar-benar stress.Berarti benar, Yuri baru saja mengalami stress berat karena patah hati.

Hyung!” Buru-buru kumasukkan ponselku ke dalam jas dan menoleh ke arah suara, kulihat Jeongguk membawa sepatu Nike berwarna kuning. Warnanya norak, selera Jeongguk sekali. Aku yakin dia lebih memilih mencari sepatu untuk dirinya sendiri daripada mencari sepatu yang kudeskripsikan sebelumnya. “Bagaimana, keren bukan?” Ujarnya.

“Tidak, kalau suka ambil saja, aku belikan untukmu” kataku.

“Serius, Hyung?”

Aku mengangguk malas. Jeongguk segera menghambur entah kemana. Mungkin meminta nota, aku tidak peduli.

“Dermawan sekali” Kata seseorang. Nada bicaranya aneh, seperti memuji tapi juga seperti mengejek. Aku melirik ke samping, seseorang yang baru saja bicara denganku terlihat familier. “Neo?” Kataku sambil menunjuknya.

“Kita bertemu di lift waktu itu, kau yang mengantarkan tetanggaku bukan?” Katanya.

Aku terkekeh. “Ah, kau, aku ingat aku ingat, bagaimana kabarmu?” Sebenarnya aku bingung, haruskah menanggapinya bagaimana. Daripada diam, lebih baik kutanyakan kabar saja.

Well, lumayan baik. Namaku Lee Donghae jika kau ingin tahu” Katanya sambil menyodorkan tangannya.

“Cho Kyuhyun” Aku pun menjabat tangannya.

“Tadi itu, adikmu?”

“Dia adikku” Jawabku. Padahal sebenarnya Jeongguk hanya satu dari sekian anak buahku.Semua anak buahku adalah adikku, mereka tumbuh menjadi gamers dan progammers handal dalam asuhanku. Beberapa yang sudah kuliah aku biayai kuliahnya di Honggik School of Game atau Program Design, seperti Chanyeol. Tentu saja semua itu tanpa sepengetahuan ayahku. Jika ayah sampai tahu, mati sudah riwayat kami.

Hyung!” Chanyeol memanggilku. Ia membawa sebuah sepatu berwarna putih dengan garis-garis merah. Seperti sepatu bulu tangkis. Tapi itu persis sama dengan milik Yuri yang sudah tidak berbentuk tadi pagi. “Yang ini bukan?”

Aku mengangguk dan meminta sepatu itu dari tangan Chanyeol. “Ini, benar yang ini, berapa ukurannya?”

“40” Jawab Chanyeol.

“Minta yang 39, kurasa ukuran sepatunya berkisar itu” Kataku sambil mengembalikan sepatu itu pada Chanyeol. Chanyeol mengangguk dan pergi lagi.

“Itu tadi juga adikmu?” Tanya Donghae.

“Betul sekali” Kataku. Aku mulai tidak nyaman dengan keramahannya. Walaupun menyenangkan ada teman bicara.  “Jadi, apa yang kau lakukan disini?” Tukasku.

Donghae tersenyum, pandangannya menerawang selama beberapa saat. Lalu ia menoleh ke arahku. “Aku juga berbelanja sepatu”

“Tuan, kami tidak bisa menemukan yang lebih kecil dari ukuran 38” Tetiba seorang perempuan berseragam SPG menghampiri kami sambil membawa sepasang sepatu kets bernuansa feminim.

“Baiklah, 38 juga sepertinya tidak apa-apa” Kata Donghae padanya.

Mataku membulat sempurna. Ukuran sepatunya lebih kecil dari 38? “Kakimu kecil sekali” Aku berkomentar. Donghae terkekeh dan menggeleng. “Itu bukan untukku” sangkalnya.

“Kekasihmu?” Tanyaku penasaran.

“Bukan, tapi aku berharap begitu”

Tiba-tiba aku merasa jika Tuhan sengaja mempertemukanku dengan orang ini, dengan urgensi yang sama juga niat yang sama. “Ya, Donghae-ssi, kurasa kita memiliki kesamaan, aku juga sedang berbelanja sepatu untuk gadis yang kusukai”

“Benarkah? Lalu, kenapa kau malah membeli sepatu bulu tangkis tadi?”

Ternyata bukan hanya aku yang menganggap sepatu itu lebih mirip sepatu bulu tangkis.

16-04-2013

08.19

Back To Yuri’s,,,

Sialan! Sialan! Jika bukan Kim Woobin, lalu siapa?

Aku menenteng sepatu itu di tanganku sambil menunggu bus di halte. Biar saja orang-orang menatapku seolah-olah aku orang gila. Terserah mereka, yang penting aku tetap teguh pada pendirianku. Aku tidak bisa menerima apapun dari orang asing. Rasanya ingin sekali aku membuang sepatu ini, tapi aku kasihan, sepatu keren samacam ini butuh pemilik yang baik dan tempat yang layak.

Sebuah bus berjalan mendekati halte. Aku berdiri dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menuju pintu bus.  Tak kusangka sepatu yang kutenteng malah terjatuh karena seseorang menabrakku. Aku mendongak, melihat apakah masih ada sisa tempat untukku di dalam bus. Busnya penuh, dan penumpang-penumpang yang akan masuk juga tidak kalah banyak. Aku mengambil sepasang sepatu itu dan segera berlari menuju pintu bus. Ketika aku hampir memasuki bus, si sopir bus tiba-tiba menghentikanku.

“Maaf, bu. Tapi kami sudah penuh” Katanya sebelum pintunya tertutup secara otomatis.

Aku hanya bisa melongo. “Ige,,Ige mwoya?!” Kesalku sambil menjejakkan kakiku dengan keras ke atas tanah. Aku memandang ke arah bus itu dengan sengit dan mengumpat-umpat dalam hati. Aku bukannya kesal karena tidak kebagian tempat, tapi karena dipanggil ‘bu’ memangnya aku tampak setua itu. Umurku baru 24 tahun –internasional.

Daripada mempermalukan diri sendiri aku berjalan mundur dan kembali duduk di kursi halte. Aku melihat beberapa taksi melintas. Indahnya jadi orang kaya. Tidak perlu menunggu bus. Jika saja ini awal bulan, aku masih bisa naik taksi tanpa khawatir tagihannya mahal. Tapi sekarang sudah pertengahan bulan dan aku harus mempersiapkan uang untuk pesta ulang tahun Jessica besok kamis.

Sudah lima belas menit dan yang kulakukan hanyalah bengong sambil menghitung paving yang terpasang di trotoar.

“Kau lagi, Eonni

Aku menoleh ke samping. Aku tersentak ke belakang karena kaget dengan apa yang kulihat. Aku bergeser dua jengkal dari tempatnya berdiri dan tersenyum canggung.

Gadis itu tersenyum tipis dan melipat tangannya di depan dada. “Eonni, kau masih ingat terakhir kali kita bertemu?”

“Tidak” Jawabku tanpa berpikir. Sebenarnya aku ingat dia, dia yang mengatakan aku dikuntit. Aku hanya tidak menganggapnya serius. Jessica bilang lebih baik aku menghiraukannya. Katanya gadis itu agak gila.

“Selasa 9 April enam hari yang lalu, 23.43 KST, kau datang menjemput sahabatmu, Jung Sooyeon, benar?” Kurasa dia benar, namun aku tidak benar-benar yakin apakah jamnya benar. Aku tidak memperhatikan jam saat itu.

Kenapa dia berlagak seperti detektif begini? Apa jangan-jangan dia sedang dalam pengintaian dan tanpa sepengetahuanku aku telah tertuduh sebagai pelaku kejahatan. Aku celingukan kesana kemari, mencari-cari mobil polisi yang terparkir. Saat aku melihatnya terparkir tidak jauh dari halte, aku langsung mengangkat kedua tanganku. “Jangan bawa aku, aku tidak tahu apa-apa disini!”

Aku menatap gadis itu ketakutan.  Ia malah mengerjap-ngerjapkan matanya, bingung. “Apa yang kau lakukan? Aku bukan dari badan kepolisian tahu!”

Aku tersenyum canggung dan menurunkan kedua tanganku pelan-pelan. “Kalau begitu,,, bisakah kau jelaskan dulu siapa dirimu?,”

Gadis itu mengangkat sebelah alisnya dan memandangiku sinis. “,Agar aku tidak salah paham lagi” Jelasku.

Kemudian dia menyodorkan tangannya dan tersenyum padaku. Senyumnya lebih terlihat protagonis dibandingkan senyum yang sebelumnya. Lebih terlihat ramah dan mudah didekati. Dengan ragu aku menyambut jabatan tangan itu dan ikut tersenyum.

“Namaku Ahn Sohee, Peramal”

Ha? Di zaman modern begini masih ada saja peramal? Oh, baiklah.

“Kwon Yuri, Arsitek” kataku.

Setelah aku melepaskan jabatan tangan itu, matanya langsung menangkap sesuatu yang ada ditanganku.

Eonnie, Kau tidak akan memakai sepatu itu” Katanya seraya menunjuk sepasang sepatu yang kubawa.

“Tidak”

“Kenapa?”

“Aku tidak bisa menerima pemberian dari orang asing, jadi tidak kupakai, aku takut jika ada sesuatu di dalamnya. Entah benda pelacak atau apa. Bukannya paranoid, aku hanya jaga-jaga saja”

Sohee tersenyum dan mengangguk. Kurasa dia mengerti maksudku. “Ada baiknya berprasangka, tapi jika kau terapkan dalam semua hal justru akan merepotkanmu, Eonni. Terlebih lagi jika prasangka itu adalah prasangka buruk Pesannya.

“Aku hanya menyiapkan untuk yang terburuk” Sergahku halus.

“Namun sepertinya sepatu itu tidak buruk jika kau pakai”

Aku terkekeh dan memeluk sepatu itu. “Aku tahu” Kataku.

Sohee ikut terkekeh. Aku baru memperhatikan jika pakaiannya mirip orang yang sedang olahraga. Apa peramal juga olahraga? Atau dia tidak mempunyai pakaian yang lebih bagus? Biarkan saja Kwon Yuri, kenapa tiba-tiba kau jadi suka mengomentari penampilan orang. Apa karena kau terlalu banyak bergaul dengan Yoona dan Jessica?  Kurasa iya.

“Hah,” Sohee mendesah dan meregangkan sendi-sendinya. Kemudian ia berlari kecil di tempat. “Malam ini sangat cerah ya! Kurasa aku akan melanjutkan lari malamku Eonni

“Oh, kau baru berolahraga?” Aku salah sudah menilai penampilannya.

Sohee mengangguk kemudian melakukan split. Saat melakukan split dia menoleh padaku dan mengerjapkan matanya. “Eonni, kurasa kau akan menghemat uangmu untuk malam ini, kau tidak perlu naik kendaraan umum, ada pangeran yang akan menjemputmu dengan kuda hitam”

Aku mengernyitkan dahi. “Maksudmu?”

Sohee langsung berdiri –dan itu membuatku terkejut, karena biasanya aku tidak bisa melakukannya secepat itu. “Aku pergi, semoga malammu menyenangkan” Kata Sohee sambil berlari kecil ke arah barat.

Aku memandangi Sohee yang berlari semakin jauh dari pandanganku. Pengeran dengan kuda hitam? Apakah aku harus percaya padanya? Dia hanya peramal, peramal hanya suka menebak-nebak tidak jelas, jika saja benar, itu hanya tebakan beruntung. Seperti kata Jessica, gadis itu agak gila. Tidak ada alasan untuk menganggap perkataannya dengan serius.

Tin!Tin!

Suara klakson itu mengagetkanku. Aku mengedarkan pandanganku mencari-cari asal suara itu. Betapa terkejutnya aku ketika melihat seorang pria sedang duduk di atas motor berwarna hitam yang terparkir di depan halte. Ia melepas helm-nya dengan dramatis. Kemudian tersenyum sok padaku.

Kuda hitam? Pangeran? Jadi yang dimaksud Sohee dengan kuda hitam adalah Honda CBR itu, dan yang dia maksud pangeran adalah Cho Kyuhyun?

“Dia?” Gumamku sambil menyipitkan kedua mataku. Sohee, ia benar-benar penebak yang jitu

Kyuhyun’s

Sebenarnya aku mengharapkan reaksi yang lebih indah dari itu. Seperti terkejut ketika melihatku atau,,, yang jelas aku mengharapkan ekspresi cantik. Bukan ekspresi aneh-jelek -menyebalkan macam itu. Aku meletakkan helm-ku pada spion dan berjalan mendekatinya.

“Kwon Yuri, Iyakan?” Kataku sambil memasukkan kedua tanganku ke dalam saku celana.

Yuri menelan ludah dan meringis padaku. Seakan-akan dia takut dengan kedatanganku. “Tuan Cho, apa yang anda lakukan disini?”

Kurasa harus kujawab dengan jujur. “Menjemputmu” Kataku frontal. Aku membuang pandanganku dan membuang nafas, mencoba untuk tidak terlihat gugup. Kulemparkan senyumku padanya dan mengedikkan daguku. “Ayo, kau mau pulang atau tidak?” Aku menawarkan.

Yuri menggeleng dan memeluk sesuatu. Tunggu,, bukankah itu sepatu bulu tangkis yang kubelikan untuknya?

“Kau tidak memakai sepatu itu?” kataku padanya.

Yuri menarik nafas dalam-dalam dan menunduk sebentar, kemudian tersenyum tipis padaku. “Aku tidak bisa memakai pemberian dari orang asing”

Jadi, menurutnya aku orang asing? Kepalaku tertunduk, aku sedang mencoba meresapi pemikirannya. Baiklah, aku menerima fakta itu. Aku hanya orang asing baginya, sedangkan selama beberapa hari terakhir, dia sudah begitu banyak mempengaruhi hidupku “Apa menurutmu aku orang asing?” kataku.

Yuri mengernyitkan keningnya dan menatapku dengan sorot mata menyelidik. “Jadi sepatu ini darimu?”

“Ya, kenapa kau tidak memakainya?”

Back To Yul,,,

Jadi sepatu ini darinya? Apa yang harus kulakukan sekarang? Membuang sepatu ini?

Kupikir aku tidak akan berurusan lagi dengan pria ini setelah semuanya. Tapi sekarang dia malah ada disini, ada didepanku, dengan percaya diri mengatakan bahwa dia menjemputku. Aku sedikit tersanjung ketika mendengarnya berkata menjemputmu. Namun tetap saja, ada sebersit rasa aneh ketika mendengarnya. Bukan dia yang kulihat di dalam benakku. Masih Junho, dan hanya Junho yang ada disana.

“Jawabannya masih sama seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak bisa memakai sesuatu dari orang asing”

Kyuhyun mengangguk dan menatapku datar. “Kau mengenalku, aku mengenalmu. Kurasa kita bukan orang asing lagi. Apa kau lupa jika kita pernah bertemu di warnet sekitar,”

“Dua minggu yang lalu?” Aku memotong dan meliriknya.

“Lima belas hari yang lalu sebenarnya” Dia mengoreksi.

Aku beranjak dari tempat duduk dan menyodorkan sepatu itu padanya. “Aku tidak menginginkan apapun darimu, jadi kau boleh mengambil sepatu ini lagi” Kataku.

Jarak di antara alis Kyuhyun semakain berkurang. Ia melirikku dengan angkuh. Caranya memandangku mengingatkanku pada tatapan Junho. Sejauh ini, banyak hal darinya yang membuatku teringat akan Junho.

Ia mengambil sepatu itu dari tanganku dan memaksaku untuk duduk.

“Maaf,”

“Kwon Yuri, apa susahnya menghargai pemberian orang? Anggap saja dengan menerima sepatu ini, kau sudah menunjukkan rasa terimakasihmu atas hari itu” Katanya sambil memakaikan sepatu itu padaku.

Hari itu, Apakah hari yang dia maksud adalah hari ketika ia menemukanku di jalanan dan mengantarku ke apartemen? Ergh, aku ingin sekali melupakannya. Hari itu adalah hari paling memalukan seumur hidupku. Apakah dia tidak mengerti jika aku sangat ingin melupakannya dan dengan menerima sepatu ini, kejadian itu malah akan terus terngiang-ngiang dikepalaku.

“Tidak bisa Cho Kyuhyun, sesulit itukah dirimu untuk mengerti!” Bentakku sambil mendorong bahunya. Tapi ia tidak bergeming, masih sibuk memakaikan sepatu itu padaku.

“Jika kau tidak ingin menerima sepatu ini, aku bisa menceritakan pada Woobin soal malam itu, aku bahkan bisa mengarang cerita jadi lebih menarik jika kau mau. Aku tahu sejarahmu dan Woobin tidak pernah baik, dia juga suka sekali menyebar rumor dikantormu bukan?” Ia mendongak dan tersenyum licik padaku.

Woobin? Ya Tuhan! Kenapa dia harus mengenal Woobin? Jika Woobin sampai tahu mengenai berita ini dia akan mengejekku habis-habisan. Mengatakanku munafik dan sebagainya. Jika sampai orang-orang di kantor tahu Kwon Yuri mabuk sampai pingsan. Bisa hancur reputasiku sebagai gadis baik-baik pecinta kesehatan. “Woobin tidak akan percaya padamu” Aku mendebatnya.

“Tentu dia akan percaya, aku punya fotomu saat kau mabuk”

Apa? Dia mengambil fotoku saat aku mabuk. Jangan-jangan dia juga telah,,, “YA!!! Apa maksudnya itu?!” Gertakku.

Kyuhyun terkekeh. “Turuti perkataanku jika kau tidak ingin berita itu sampai ke telinga Woobin”

Aku hanya bisa menatapnya kesal. Pria ini super duper kurang ajar. Mengambil fotoku tanpa ijin, mengancamku dengan aib-ku. Apa maunya sih? Dia ingin kutonjok sampai pingsan? Apa dia tidak mengerti situasiku sekarang ini? Kepalaku masih dipenuhi banyak hal. Terutama Junho, dengan melihat wajah pria ini dan menerima kebaikan darinya. Ia jadi semakin mirip dengan Junho. Aku benci itu, aku ingin melepas Junho dari kehidupanku.

Kyuhyun berdiri dan mengulurkan tangannya padaku.“Permintaan pertama mudah kok, Kwon Yuri, ijinkan aku mengantarmu pulang malam ini, bagaimana? Win-win bukan?”

Aku memandang kosong tangan Kyuhyun, lalu tanpa kusadari sebutir air mata jatuh dari pipiku. Aku teringat pertama kali Junho mengulurkan tangannya padaku, ketika aku terjatuh di kereta dan tidak ada yang peduli.

–To Be Continue–

Cuap-cuap  Author:

😥   Entahlah, gue pengen nangis aja, kesel gue

NB: Makasih mau baca, gue nggak mau minta maaf kalo ada typo atau kalimat yang nggak pas dihati, lagi nggak mood banget gue 😦

 

Yang gue coret itu, gue tulis waktu gue lagi stress habis UKK, dan ya~ gue menggantinya jadi seperti ini:

Thx for read, thx for comment

maaf kalo ada typo dsb

himrasaki

ahnmr

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

12 thoughts on “Girls: Shoes Matter [Part 5]”

  1. i like KYURI couple
    gile kyu so sweet banget hahaha
    si kyu ama hae nguntit nie critanya kekeke..
    aku ska sma kyu dipart ini hmm.. prince XP
    lanjut ne thor jangan lama-lama fighting

  2. Ohohoho^ kayaknya aku bakal mulai blajar suka ama couple KyuRi setelah mampir di blog ini dan baca nih ff dehh^
    Ceritanya ringan.. kata2nya jg mudah di mngerti.
    Serius tiap abis satu part, pngen baca part satunya lagi.
    Tp ini msh to be continued yha? Yg Yoong blm ada lg kn?
    Mm.. klo bgitu aku hrs brsabar menanti 😀
    Daebak ceritanya authornim. Lanjutkan!
    Fighting!!^^

  3. Aaakkkkhhh, aku baca ff ini senyum2 sendiri.
    Wow banget, walaupun blm banyak momen nya tp ini KEREN bgt author. Bnrn deh lg komen aja aku msh senyum2 kyk orang gila gini.
    Cpt lanjutin part yuri nya ya thor.
    Yuri eonnie susah amat di deketin nya.
    Padahal Itu yg deketin pangeran epil itu.
    Keep writing author, dtggu lanjutannya

  4. kyuuuuuuuuuu. cinta pada pandangan pertama yg buat dia jd penguntit.

    yg belum ketemu ma sohee yoona nih. gimana nasib jongyoon. huaaa
    makin makin penasaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s