Girls: Dizzy, Dizzy, Dizzy [Part 6]

Girls-3rdposter

Dizzy, Dizzy, Dizzy [Yoona]

Author: Ahnmr || Cast: Jessica Jung (SNSD), Lee Donghae (Super Junior), Kwon Yuri (SNSD), Cho Kyuhyun (Super Junior), Im Yoona (SNSD), Lee Jonghyun (CNBlue) || Add. Cast/ Cameo: Ok Taecyeon, Tiffany Hwang, Kim Taeyeon, Seo Juhyun  || Genre: Life, Comedy, Friendship, Family, Romance || Rating: +15

(Tampilan bacanya nggak enak, Sori,, WordPress mungkin lagi error, gue juga nggak tahu,,, maaf atas ketidaknyamanannya)

(Part lainnya)

–ahnmr copyright–

Taecyeon bilang akan menjemputku siang ini. Jadi, aku menunggunya sambil bermain Fruit Ninja di kursi dekat gerbang kampus. Sebenarnya aku tahu jika dia tidak benar-benar ingin menjemputku. Ada sesuatu mengenai Jessica dan ulang tahun yang menggelitik urat saraf Taecyeon sehingga membuatnya mendadak bersikap baik.

“Hei, Mulut besar!”
Aku tahu itu Taecyeon, siapa lagi yang akan memanggilku mulut besar selain Taecyeon dan Seulong Oppa. Aku menghiraukannya dan memfokuskan perhatianku pada permainan. Sia-sia bila aku melewatkan kesempatan ini, tinggal beberapa detik lagi sampai aku berhasil memotong 250 buah.
Jari-jariku masih sibuk menggesek-gesek layar ponsel ketika sebuah bayangan tinggi besar menghalangi kilauan cahaya matahari yang menyinariku. “Im Yoona, aku datang kesini bukan untuk membuang-buang waktu, cepat masuk mobil!”
Permainan itu akhirnya selesai. Dan aku gagal memecahkan rekorku sendiri akibat sepupu sialan yang posesif terhadap mantannya ini. “Kemana etikamu Ok Taecyeon?” Sindirku sambil memasukkan ponsel ke dalam tas.
“Hah apa?”
“Taecyeon Oppa” Ucapku dengan berat hati. Ia kesal jika aku tidak memanggilnya dengan Oppa. Aku tidak mengerti kenapa dia minta dipanggil Oppa padahal kami sudah dewasa, seharusnya memanggil nama bukan masalah besar.
“Anak baik, cepat masuk mobil” Katanya sambil mengacak-acak rambutku.
“YA!!,” Aku menepis tangannya dan beranjak dari posisi dudukku. “Aku bukan anak kecil” Teriakku di depan wajahnya. Setelah itu aku segera berjalan memasuki mobil. Apa yang sebenarnya terjadi pada kepalaku? Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang hobi menyentuhnya, Apakah karena rambutku bagus? Kurasa hal itu tidak perlu ditanyakan, rambutku memang bagus. Tapi tetap saja menyebalkan. Bisa-bisa rambutku terkontaminasi zat-zat berbahaya dari tangan mereka.
Aku menghempaskan punggungku ke jok mobil dan memeluk tas selempanganku. Kuhela nafas panjang dan kuarahkan pandanganku ke jalanan. Masih melekat erat dipikiranku kalimat yang diucapkan Lee Jonghyun semalam. Kalimat yang seharusnya tidak dikatakan kepada wanita berhati rapuh sepertiku.
Rapuh? Oke, aku hanya melebih-lebihkan. Aku bukan wanita berhati rapuh. Namun aku merasa begitu rapuh setelah mendengarnya. Semua itu dimulai ketika aku bertanya padanya mengenai apa yang membuatnya jadi begitu dingin. Awalnya dia pura-pura tidak dengar dan tetap melanjutkan langkah menuju apartemennya. Namun ketika aku menyinggung mengenai kejadian di Namsan Tower. Dia malah menyumpah serapahiku, lebih dari 10 kali kudengar dia mengatakan ‘jangan mencampuri urusanku’ sampai kemudian dia menceritakan sederet keburukanku dimatanya.
Hal itulah yang menggangguku seharian. Baru kali ini seseorang terang-terangan mencecarku dan itu benar-benar menyakitkan -ternyata. Di sisi lain, sebenarnya aku harus berterimakasih juga padanya, berkat Jonghyun aku jadi sadar bahwa Im Yoona ini tidaklah se-amazing yang dikatakan orang-orang. Im Yoona yang kata orang mirip bidadari itu tidak lebih dari gadis bodoh dan banyak bicara di mata seorang pria bernama Lee Jonghyun.
Lee Jonghyun, Lee Jonghyun, Lee Jonghyun. Nama itu selalu menjadi perusak mood nomor satu tiap kali aku mendengarnya. Sialan! Tidak tahu diri! Menyebalkan!! Ergh, kurasa aku akan menyerah berhadapan dengannya sekarang. Kurasa dia memang bukan orang yang suka berteman. Aku tidak akan mempedulikannya lagi.
Taecyeon masuk ke dalam mobil dan terkekeh saat melihat tingkahku. Mungkin dia pikir aku lucu, cih. Kurasa semua hal dimatanya terlihat lucu. “Kau kenapa?” Tanyanya masih sambil terkekeh.
“Datang bulan” Kataku kesal.
“Pantas, galak sekali kau hari ini” Ujarnya seraya menyalakan mesin mobil.
Aku meliriknya sengit. “Kau benar-benar menganggapku datang bulan? Kau tidak ingin bertanya apakah aku ada masalah?” Memang susah mendapati pria yang sensitif di dunia ini. Dari dua puluh empat pria yang pernah kukencani, hanya satu dari mereka yang benar-benar sensitif. Selain itu…brrrrpp.
Mobil sudah masuk ke jalanan ketika lagu Bon Iver memenuhi atmosfer mobil. Taecyeon melirikku sekilas sambil mengetuk-ngetukkan jarinya pada setir mobil. “Baiklah, apa yang sebenarnya terjadi?”
Aku tersenyum dan berdehem sebelum memulai ceritaku. “Jadi..”
“Oh ya, apakah Jessica baik-baik saja? Apakah matanya masih lebam?”
“Masih, tapi,” Kurasa pembicaraan ini tadinya tidak mengarah kesini. “Ya! Aku ingin bercerita dulu” Teriakku sambil menonjok lengannya.
Taecyeon tertawa dan membalasku. “Iya-iya mulut besar, oh ya, kau lapar tidak? Aku ingin mengajakmu ke tempat spesial” Katanya sambil tersenyum dan memamerkan gigi-giginya yang agak tonggos.
“Baiklah, tapi kau yang bayar, aku mahasiswi melarat asal kau tahu”
“Tapi kau harus menceritakan padaku bagaimana kabar Jessica semenjak terakhir kali aku melihatnya”
“Oke”

Ige mwoya?” Keluhku, ketika yang kutemukan bukannya restoran elit di daerah Myeongdong melainkan mini market biasa di pinggir jalan. Taecyeon mendorong punggungku dan menyuruhku masuk ke dalam mini market itu sambil tertawa jahat. Menurutku ini sama sekali tidak sebanding dengan informasi tentang Jessica yang telah kubeberkan padanya selama perjalanan tadi. Huh, aku menyesal telah memberitahunya banyak.
Dari segi mana tempat ini spesial? Di dekat apartemenku saja ada yang lebih bagus. Ya ampun ini hanya berapa ratus meter dari Myeongdong, di sekeliling kami ada restoran-restoran yang menawarkan hidangan lezat, cafe’-cafe’ dengan menu enak, dan butik-butik terkenal dengan style terbaru -ini memang tidak ada hubungannya dengan makanan tapi aku tetap harus menyebutnya. Paling tidak dia bisa mengajakku ke KFC daripada mini market.
Entah berapa lama aku berdiri membelakangi pintu mini market sampai Taecyeon menyodorkan mie cup padaku, dan bukannya tersenyum atau tambah senang, aku justru kesal karena kepulan asap mie yang panas didepan mataku.

Tanpa rasa bersalah atau tidak enak, Taecyeon menyuruhku mengambil mie itu dan mengedikkan dagunya ke arah meja. Meja itu terpasang menempel ke dinding etalase. Jadi, jika kau duduk disana, kau bisa melihat orang-orang berlalu lalang di trotoar sambil menikmati mie cup. Kupandangi mie itu dan Taecyeon bergantian. Kedua alisku masih bertaut dan tak ada alasan yang cukup baik untuk membuat mereka terpisah.
Kuraih mie itu dari tangannya dengan perasaan gondok. Dengan langkah gontai aku berjalan ke meja yang ditunjuknya. Tak lama kemudian ia menyusulku dan duduk di kursi yang ada di sebelahku. “Ini tempat favoritku jika sedang stres”
“Itu bukan urusanku” Aku membuang muka. Jika pikiranku sedang jernih, mungkin aku akan bertanya apakah Taecyeon sedang stress hari ini.
“Oke, oke, aku tahu kau pasti tidak menyukainya, maaf. To the point, sebenarnya kau ini kenapa?” Tanyanya.
Awalnya aku ingin memulai pembicaraan ini dengan menjambak atau memukuli Taecyeon. Namun aku urung saat ingat akan ancaman Taecyeon mengenai Aku-akan-mengadukan-pada-Ibumu-soal-seluk-beluk-kehidupanmu-di-Seoul-jika-kau-berani-mencari-masalah-denganku. Yang mengerikan adalah jika Taecyeon sampai melaporkan pada Ibuku kemana sebagian besar jatah bulananku pergi. Namun yang paling mengerikan dari yang mengerikan adalah jika ia melaporkan berapa jumlah pria yang pernah kukencani. Jika Ibu tahu aku pernah berkencan -dan dalam jumlah yang sebanyak itu. Aku yakin beliau akan memingitku di Busan. Ibu tidak memperbolehkanku berkencan sebelum aku benar-benar yakin akan menikah.
Beh, pemikiran tradisional.
Aku berdehem dan meletakkan mie itu diatas meja. “Ada sesuatu yang menggangguku seharian, aku tahu mungkin aku terlalu pemikir, tapi aku benar-benar sakit hati” kataku memulai pembicaraan itu dengan ekspresi sememelas mungkin.
Pikiranku langsung melayang ke kejadian tadi malam. Aku dan Yuri baru saja akan membuka sebuah paket berwarna coklat saat terdengar bel dari pintu utama. Yuri menyuruhku membuka pintu, padahal aku malas sekali. Tapi tak apalah, siapa tahu itu adalah Tuan Lee Jonghyun dan tugasku yang sudah selesai. Dan dugaanku benar, itu adalah Jonghyun dan tugas kuliahku yang sudah selesai.
“Hei! Lalu? Aku masih mendengarkan disini” Taecyeon menggertakku.
Aku menggeleng dan tersenyum ke arah sepupuku itu. “Baru-baru ini aku bekerja sebagai tour guide, aku mempunyai klien, dia kurang ajar, tidak tahu diuntung, suka memaksa, tidak peka, dan… ergh, dia adalah perusak suasana nomor satu di dunia. Awalnya dia terlihat seperti itu, namun akhir-akhir ini aku mengerti jika sebenarnya hatinya mudah terluka. Semenjak kami pulang dari Namsan Tower, dia sering murung, perlahan sikap kurang ajarnya itu memang berkurang, tapi dia jadi lebih banyak diam dan termenung. Aku tahu sebenarnya dia orang yang baik, hanya saja dia terlalu tertutup. Aku ingin memperhatikannya, tapi aku jadi takut gara-gara kemarin malam”
“Ia mengembalikan tugasku yang ia kerjakan sebagai bayaran atas jasaku. Ia terlihat murung seperti biasanya, sebagai Yoona yang perhatian aku merasa wajib untuk bertanya mengenai keadaannya, namun ia tak menjawab, Ketika aku menyindir tentang kejadian di hari pertama -kami pergi ke Namsan Tower, ia melirik tajam ke arahku dan… menyalak padaku. Aku tidak mengerti letak kesalahanku dimana, apakah aku benar-benar salah, atau dia saja yang memang sangat sentimentil, dia bahkan mengataiku bodoh. Ya, aku tahu aku bodoh, jadi kurasa dia tidak perlu memperjelas hal itu” Cerocosku tanpa jeda.
Taecyeon menghentikan kegiatannya dan menunjukku dengan garpu plastik, siap memberi nasehat. “Mungkin dia memang tidak ingin diperhatikan, dan seharusnya kau tahu itu. Aku yakin jika dia sampai menyalak padamu seperti yang kubayangkan, kau tidak hanya sekali dua kali menanyakan hal itu padanya, atau jangan-jangan kau melukai harga dirinya dengan pertanyaanmu”
Aku mencebik sekilas dan menggigit bibir bawahku. “Iya sih, kau paham aku kan Oppa,” Kataku dengan tekanan kesal pada kata Oppa. “aku orang yang mudah penasaran, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut campur masalah orang. Klien-ku itu benar-benar sok misterius, dia saja tidak pernah memberitahu namanya padaku, aku tahu namanya dari sepupunya yang memintaku untuk jadi tour guide pribadi klienku itu. Dan sebenarnya pertanyaan yang kutanyakan tidak begitu tajam, aku hanya bertanya siapa orang yang ia temui di Namsan waktu itu, dia terlihat seperti beruang himalaya karena pakaiannya sangat tertutup, begitu kataku”
Taecyeon mangut-mangut sambil memakan mienya. Seusai menelannya ia melihat ke arahku dengan sorot mata serius. “Mungkin ia kesal karena kau mengatai orang yang ditemuinya mirip beruang himalaya, siapa tahu. Dan orang yang tertutup seperti klienmu itu, mungkin dulunya ia pernah memiliki kehidupan yang tidak menyenangkan, jadi dia sengaja membuat dinding di sekelilingnya”
Alis kiriku naik, Jonghyun dan kehidupan yang tidak menyenangkan terdengar jauh dari realita. Jam tangan SWATCH, kaos Armani , sepatu Kickers dan semua yang menempel pada dirinya terlihat mahal dan jauh dari kata tidak menyenangkan. Kecuali gaya berantakan khas anak band-nya itu. “Sepertinya tidak, hidupnya terlihat menyenangkan, dia juga cerdas, dan sejujurnya dia tidak jelek. Jadi, seharusnya tidak ada alasan untuk membuatnya sedih” Aku menyelesaikan kalimatku sambil berpikir-pikir lagi apakah yang kukatakan ini benar, atau justru sebaliknya.
“Kau tidak tahu apa arti kebahagiaan Yoong, lagipula kekayaan, kecerdasan, dan ketampanan bukan tolak ukur kebahagiaan seseorang, kau tidak tahukan apa yang disembunyikan dibalik semua itu”
Dengan kata lain, Taecyeon mengatakan bahwa ada banyak rahasia di balik pribadi sok misterius semacam Lee Jonghyun. Sosoknya yang selalu muncul berwajah datar dan terlihat lebih tua daripada umurnya itu memang mengindikasikan jika dia pernah melewati kehidupan yang tidak menyenangkan. Aku tertunduk, di luar Jonghyun, perkataan Taecyeon juga sempat menohok pemikiranku. Aku adalah satu dari sekian manusia yang masih menilai kebahagiaan dari segi materi. “Jadi, harus kuapakan klien-ku itu, aku yang salah, atau dia yang salah?” Ujarku sambil mendongakkan kepalaku dari atas meja ke arah jendela.
Aku memutar-mutar garpu plastikku sampai membuat gulungan mie besar melingkar di sekeliling garpu. Dan Taecyeon masih diam, mungkin memikirkan jawaban sok bijak lainnya. Lulusan fakultas psikologi seperti Taecyeon seharusnya bisa menjawab dengan cepat. Tapi entahlah, mungkin karena ia lebih sering berkutat dengan kurva dan laporan keuangan perusahaan, kemampuan itu jadi kurang terasah. “Kalian berdua salah, kau salah karena pemilihan katamu tidak tepat, dan dia… apa dia menghinamu?”
“Dia mengatakanku bodoh, idiot, tidak tahu diri, lancang, gila, berisik, sok tahu..”
“Cukup. Kupikir ada baiknya jika kau meminta maaf dahulu, daripada hubunganmu dan klienmu berakhir tidak baik”
“Begitu,” Aku yang harus mengalah huh? Baiklah. Im Yoona mengalah pada laki-laki, sepertinya pertama kali terjadi di tahun 2013. Revolusi yang benar-benar mengesankan, dan yang membuatku bisa seperti itu hanya laki-laki cengeng bernama Lee Jonghyun. “Kurasa saranmu cukup menarik” Setelah menutup diskusi itu dengan kalimat pendekku barusan. Aku melahap gulungan mie di garpuku tadi.
Lalu Taecyeon mengacak-acak rambutku lagi dan terkekeh. “Nah, sekarang tugasku mendengarkanmu sudah selesai, sebagai gantinya kau harus menemaniku membeli kado untuk Jessica setelah ini, aku harus memberi kejutan paling spesial dipesta ulang tahunnya”
Aku bergidik ke arah Taecyeon ketika sebersit ingatan melintas di otakku. Tiga hari yang lalu Jessica mengatakan sesuatu soal rencana membunuh Taecyeon jika dia berani datang ke pesta ulang tahunnya.

Seperti dulu, Taecyeon meninggalkanku lagi di halte bus di daerah Itaewon, dia bilang ada urusan mendadak di daerah Mapo, jadi dia tak sempat mengantarku pulang -dari lubuk hati yang paling dalam aku tahu itu hanya alasan untuk kepentingan pribadi. Setelah seharian menyewa jasaku untuk memilihkan hadiah yang harus ia belikan untuk Jessica, juga mendengarkan keluh kesahnya tentang pegawai-pegawainya di kantor. Sekarang, perwujudan rasa terimakasih itu adalah dengan meninggalkanku tanpa rasa tanggung jawab di halte. Apakah dia tidak memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa diterima sepupunya yang cantik ini? Ini sama saja dengan menitipkanku pada sopir bus. Memangnya sopir bus punya jaminan asuransi jika ada yang menculikku?
Aku takut ditinggalkan sendirian malam-malam begini. Mana ponselku sudah mati. Uangku hanya cukup untuk naik bus. Sial benar nasibku ditangan Taecyeon.
Aku merengus, mengasihani diri sendiri tidak akan menyelesaikan masalah. Lebih baik aku melakukan sesuatu yang lebih bermutu. Seperti berbicara pada Moon Chaewon yang sedang mengiklankan soju di sisi kanan halte dan berkonsultasi mengenai cara meminta maaf pada Lee Jonghyun dengan mengesankan.
Tapi lama-lama aku bosan, wajah Moon Chaewon di iklan soju itu juga semakin memuakan, senyumnya seakan-akan menyiratkan ejekan karena tak ada bus yang kunjung datang. Aku mencibirnya dan membuang pandangan ke jalan raya. Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kota, sejauh mata memandang yang kutangkap hanya ruko-ruko yang sudah mulai tutup, juga gedung perkantoran, tidak ada yang menarik. Aku menggeleng dan menoleh ke samping. Tidak banyak orang berlalu lalang, mobil-mobil juga tidak banyak yang melewati tempat ini. Suasananya berbeda sekali dengan Jung-gu atau Gangnam-gu.
Lalu mataku menangkap seorang pria dengan penampilan berantakan berjalan dari selatan ke utara. Mataku langsung awas dan tubuhku merinding. Aku takut jika itu penjahat. Ia mengenakan kaos lengan panjang berwarna jingga yang cukup mencolok sehingga aku dapat melihatnya dari kegelapan. Kaos itu mirip dengan kaos yang dipakai Jonghyun ketika kami pergi ke Universitas Kyunghee beberapa hari yang lalu hanya saja lebih lusuh. Caranya berjalan sedikit pincang dan gestur tubuhnya menampakan aura bingung layaknya orang tersesat. Semakin kuperhatikan, orang itu memang tidak asing.
Ketika ia berjalan melintasi halte, aku jadi benar-benar familier dengan wajah itu. Apa dia Jonghyun? Jika iya, kemana tas kulit coklatnya? Jika itu Jonghyun, haruskah aku menghampirinya? Dia sudah menghinaku semalam, berteriak padaku, dan terang-terangan mengatakan tidak membutuhkanku lagi. Lagipula aku juga tidak ingin membuang-buang waktu untuk menjadi tour guide pribadinya, cih. Tapi, bagaimana jika itu memang Jonghyun, Lee Jonghyun si klien sialan? Setahuku, Apgeujong ke arah selatan dan bukannya utara. Jonghyun pernah mengatakan padaku jika sama sekali tidak hafal daerah di Seoul. Aku memperhatikannya lagi dari atas sampai bawah. Kurasa itu memang Lee Jonghyun.
Setelah cukup yakin dengan analisisku sendiri, kuberanikan diri untuk berjalan mendekatinya. Aku menelan ludah ketika sampai beberapa meter di belakangnya, bajunya lusuh sekali, ada yang sobek juga, mirip preman. Kuharap ini benar-benar Lee Jonghyun. Dengan mengucap perlindungan pada Tuhan, aku menepuk pundaknya. “Lee Jonghyun?” Sapaku. Ketika orang itu berbalik, yang kutemukan memang Lee Jonghyun. Lalu, apa yang ia lakukan di Itaewon sendirian? Berjalan-jalan tidak jelas seperti orang hilang.
Jonghyun menatapku selama sepersekian detik, wajahnya lebam, bibirnya sedikit sobek, ergh penampilannya buruk sekali, seperti habis berkelahi. Tiba-tiba ia memelukku dan menangis. “You don’t know what i’ve been through all this day Yoona, i’ve been tricked, i’ve been rob off. What it’s left for me is just this, where have you been all this day?
Hatiku mencelos, bukan karena ceritanya, tapi karena dia memelukku. Seharian ini aku menjelek-jelekkannya di depan Taecyeon. Mengatainya cengeng, manja, dan kurang ajar, sialan, tidak punya ekspresi. Bukankah ironis, setelah begitu banyak dosa yang kubuat tanpa sepengetahuan Jonghyun. Sekarang ia malah memelukku. Dan entah kenapa, pelukan ini menciptakan percikan aneh di dalam lambungku. Seharusnya aku marah sekali padanya, tapi pelukannya barusan mengubah persepsiku.
Aku menepuk-nepuk punggungnya dan tersenyum canggung. “Eh, aku…aku” Mendadak aku jadi kikuk begini. Kemana Im Yoona yang biasanya?
I really glad to see you, Aku tidak tahu harus bagaimana jika kau tidak ada”
Ia melepaskan pelukan itu namun masih mencengkram pundakku. Lalu ia tersenyum konyol. Saat dia tersenyum padaku seperti itu, duniaku serasa bergerak lebih lambat. Aku masih membatu, kecuali mataku. Aku jadi sadar betapa manisnya Lee Jonghyun jika menampakan lesung pipitnya, matanya yang berkaca-kaca sehabis menangis juga membuatnya terlihat lebih menarik dan lucu untuk diperhatikan, Tunggu… Apa yang barusan merasuki otakku? Aku segera menggelengkan kepalaku dan kembali ke dunia nyata. “Apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku galak.
“Aku pergi ke Universitas Dongguk tadi” Jawabnya polos. Ini Lee Jonghyun bukan sih? Kenapa dia berbeda sekali dari Lee Jonghyun semalam.
“Dasar bodoh, kenapa pergi sendiri? Kau bilang kau buta soal Seoul. Lalu sekarang, kenapa kau tidak ke kantor polisi?” kataku.
“Aku tidak tahu dimana kantor polisinya”
“Kau kan membawa peta!!!” Semprotku.
Ia mengerutkan dahinya. Sontak ekspresinya berubah jadi Lee Jonghyun reguler, yang tanpa ekspresi itu, yang dingin itu. “I lost everything, bertahan hidup sampai detik ini saja aku sudah merasa sangat bersyukur”
Aku tertawa jahat di dalam hati. Kurasa dia baru saja mendapat ganjaran setelah menyakiti hatiku semalam. Betapa leganya, rasanya Tuhan begitu adil padaku karena telah menghukum Jonghyun dengan tragedi ini. “Baiklah, aku akan mengantarmu ke kantor polisi, besok lagi jangan pergi sendirian jika ingin pergi ke tempat yang asing bagimu. Kau bisa menghubungiku. Repotkan kalau sudah begini” Kataku sambil menggulung lengan sweater-ku sampai diatas siku seperti ibu-ibu yang siap memukul anaknya yang kelewat bandel.
Jonghyun hanya diam dan menunduk. Sesekali mengusap wajahnya yang tadi berlinang air mata dan menahan sesenggukan. Dasar cengeng, cibirku dalam hati.
“Sudah jangan menangis!” Kataku sambil menepuk-nepuk bahunya.
“Aku tidak menangis! Aku hanya kelilipan!”
Masih bisa menyangkal? Astaga, pria ini? Sungguh!

Kami diantar polisi sampai ke apartemen malam itu. Untung saja Jonghyun berhasil mendapat surat-surat pentingnya tadi -passport, kartu tanda pengenal, dan visa. Aku tidak tahu akan serumit apa andai dia juga kehilangan surat-surat itu. Urusannya juga harus sampai ke duta besar segala kata pak polisi.
Ia tidak mengatakan apapun di lift. Hanya diam sambil menatap lantai. Mungkin dia lelah, aku dengar saat dia menceritakan bagaimana dia mengejar penipu tadi siang. Sungguh sial nasibnya hari ini. Bukannya berhasil menangkap penipu itu, ia malah bertemu segerombol preman. Raib sudah semua harta yang ia bawa.
Mian” Katanya tiba-tiba.
Aku menoleh kearahnya, mencoba menyembunyikan keterkejutanku. Sedari tadi aku masih memikirkan bagaimana cara meminta maaf padanya dengan mengesankan, tapi Jonghyun justru mendahuluiku. Tidak sehebat permintaan maaf yang kurencanakan untuknya. Namun mendengarnya mengatakan ‘Mian‘ terasa lebih baik. Dari yang kulihat, ia adalah orang yang menjunjung tinggi harga dirinya. Mengucapkan kata maaf, pasti sama sulitnya dengan mengingat berapa kali ia melukai hatiku.
“Bolehkah aku bertanya sesuatu?” Tanyaku.
Jonghyun mengangguk kecil sebagai jawaban. Ada banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin kutanyakan padanya, namun ada satu pertanyaan yang sejak awal ingin kutanyakan padanya. Pertanyaan yang tertunda karena gengsi, “Bolehkah aku menjadi temanmu?” Akhirnya, aku bisa melepaskan kata-kata itu. Ketika kulihat ekspresi wajahnya berubah dingin lagi, aku menambahkan “Mungkin” dalam kalimatku, takut-takut jika salah bicara.
Aku sudah menyiapkan diri untuk yang terburuk. Namun Jonghyun hanya diam. Detik demi detik berlalu, ia tak kunjung menjawab pertanyaanku. Sampai akhirnya kami tiba di lantai tujuh, dan dia masuk ke dalam apartemennya.
Aku tidak bisa marah lagi kali ini, mungkin ia butuh waktu untuk menerimaku sebagai teman. Seperti kata Taecyeon “,dia sengaja membuat dinding di sekelilingnya” Aku masih bertanya-tanya pada diriku, apakah aku akan menjadi bom yang akan menghancurkan dinding itu, atau hanya angin yang sempat menyentuhnya, namun tak pernah berhasil dihiraukannya.
Entahlah, mungkin aku akan mengurus masalah perasaan ini dulu. Aku tidak percaya perasaanku berhasil diputar balikan lagi oleh Lee Jonghyun.

Seusai membasuh diri, aku bergabung dengan Yuri dan Jessica diruang tengah. Mereka berdua duduk diatas karpet sambil memakai kutek dan bercerita soal sesuatu yang berhubungan dengan warnet dan sepatu Nike -yang kutahu sama sekali tidak ada hubungannya. Aku tidak tahu apa tepatnya yang mereka bicarakan karena aku baru saja bergabung.
“Alien sudah datang” Sambut Jessica sambil bergeser ke tengah dan tersenyum jahil padaku.
Aku mendengus dan melompat ke atas sofa. Jessica pikir dia bukan alien, kami bertigakan alien dari Busan. “Eonni-deul, aku tidak ingin seperti ini” Kataku sambil memutar kepalaku layaknya baling-baling helikopter.
“Kenapa?” Tanya mereka bersamaan.
Aku mengambil bantal kecil diatas sofa dan memeluknya. “Ini soal sepupu tetangga sebelah kita, aku benar-benar bingung dibuatnya, perasaanku dibolak-balik seperti mesin cuci, aku kesal, aku lelah hidup seperti ini”
“Oh, pria keren itu? Kenapa? Kau tidak ingin jadi tour guide-nya lagi? Biar aku saja” Kata Yuri sambil menunjuk dirinya.
“Heissh, urus dulu pria Nike-mu itu” Kata Jessica sambil menendang pantat Yuri. Lalu dia melihat ke arahku. “Kau kenapa? Apa dia memukulmu, memalakmu, menyiksamu atau apa?”
“Tidak, dia memelukku”
“APA!!??” Pekik mereka berdua.
Air muka mereka berubah. Yuri semacam menahan tawa. Sedangkan Jessica,… ia terlihat seratus persen terkejut. “Aku, aku mencoba menganggapnya biasa saja dengan bersikap galak. Tapi tetap saja, aku tidak bisa menganggap hal itu biasa saja” Kataku.
“Setelah semua siksaan batin yang ia berikan padamu, ia memelukmu, dan sekarang apa?” Kata Jessica dengan sarkastis. Aku tahu dia yang paling expert mengenai hubungan percintaan. Jadi, dia selalu awas tiap kali kami -aku dan Yuri- dekat dengan pria. Bukan karena apa-apa, kami sahabat dan sudah seharusnya kami saling melindungi. Dan karena Jessica adalah yang paling tua diantara kami, dia yang paling bertanggung jawab. Posisinya jadi semacam kakak dan bos dalam waktu yang bersamaan. Tapi sedikit mengganggu jika dia mulai melakukan observasi.
Yuri meniup-niup kukunya dan tersenyum ke arahku. “Ada baiknya kau tidak menganggapnya berlebihan dulu Yoong, mungkin itu hanya kebiasaan. Dia dari Inggris bukan? Kurasa yang namanya berpelukan itu sudah biasa”
Jessica mengangguk, membenarkan perkataan Yuri. “Dia ada benarnya, Yoong”, setelah itu ia meniup kuku tangannya.
Yuri benar. Mungkin di Inggris itu sudah biasa, tapi tetap saja. Hatiku merasa aneh, aku yakin aku tidak bisa bersikap ‘biasa saja’ padanya setelah ini. Lee Jonghyun benar-benar membuatku gila. Aku benci padanya.

Untuk pertama kalinya, aku tidak lari pagi karena terlalu stress memikirkan pelukan Lee Jonghyun semalam. Aku berharap itu hanya mimpi, tapi itu benar-benar terjadi. Ya Tuhan! Ya Tuhan! Tidak bisakah Kau mengulang waktu dan tidak membiarkanku menghampiri Jonghyun tadi malam.
Aku baru saja selesai sikat gigi ketika terdengar bel dari pintu utama. Hari ini aku tidak ada jadwal kuliah, jadi aku memutuskan untuk merecoki Yuri di kantor dan melupakan Jonghyun dengan menebar pesona pada bos Yuri, Kim Woobin.
Tapi semuanya batal ketika aku membuka pintu apartemen pagi itu, dan…
Dorr!
Rasanya seperti tertembak senapan laras panjang ketika menemukan Lee Jonghyun dengan kaos polo berwarna merah didepan apartemenku. Ia mengerutkan keningnya saat melihatku. Matanya yang lebam sebelah memindaiku dari atas sampai bawah hingga aku sadar, aku hanya memakai short dan jersey buluk.
Aku beringsut ke belakang pintu dan mendelik kearahnya. “Ada perlu apa kesini?”
Jonghyun mengangkat kedua alisnya sekilas dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Aku tidak tahu harus kemana jika ingin memblokir kartu ATM, Hae Hyung tak sempat menemaniku, jadi aku terpaksa minta bantuanmu” Katanya malas.
Membunuh waktu dengan Lee Jonghyun, lagi? Merelakan Vitamin A itu? Tidak, tidak, aku harus menolak. Aku tidak ingin merelakan harga diriku jika Jonghyun berani-berani menyentuhku lagi. Tidak bisa, aku tidak bisa membiarkan perasaan ini jadi liar. Aku akan menahan diri, aku tidak ingin jatuh pada pria berkepribadian ganda sepertinya. Tidak!
Mendadak aku jadi pusing sendiri. Kuarahkan pandanganku ke kiri atas dan melirik tajam padanya. “Aku ada acara hari ini”
“Bohong, kau tidak ada acara hari ini, kau hanya ingin menghindar dariku”
Eo..tteoke” Aku tergagap. Jadi dia bisa membaca pikiran juga? Sial, aku tidak bisa membohonginya. Lalu sekarang apa? Jika aku terlalu kentara menghindar darinya. Dia bisa berpikir jika aku mulai menyukainya.
Pertanyaan! Jonghyun phobia pada pertanyaan seputar kehidupan pribadinya. Baiklah, aku akan menanyakan pertanyaan pribadi padanya. Hahaha, jenius sekali kau Im Yoona! “Bagaimana kau bisa tahu? Apa kau dapat membaca pikiran atau semacamnya?” Kataku sambil tersenyum licik.
Jonghyun mengangkat salah satu sudut bibirnya dan menatapku datar. “Ayah tiriku polisi, sudah jangan banyak tanya, lebih baik kau bersiap-siap, sebelum aku berubah pikiran”
“Hah, apa maksudmu berubah pikiran?”
Dia hanya mengangkat alisnya dan mengedikkan kepalanya ke samping. “Hurry” Tukasnya.
Aku bergidik, Apa Jonghyun benar-benar bisa membaca pikiran?

Jonghyun P.O.V
“Yoona memang lama jika berdandan” Kata gadis bernama Jessica itu sambil menyuguhkan secangkir teh hijau padaku.
Aku hanya diam. Lagipula aku tidak tahu harus membahas apa, aku bukan tipe orang yang pintar membangun topik pembicaraan. Dan berada di apartemen para wanita. Sebenarnya membuatku merasa kurang nyaman.
Tempat ini terlihat jauh lebih berantakan dari apartemen Hae Hyung. Baju tergeletak disana-sini, ada gitar tertelungkup asal diatas sofa, cat-cat kuku berserak diatas karpet, sandal tidak pada tempatnya, becek dari kamar mandi, dan yang seharusnya tidak kulihat adalah bra dan celana dalam yang dijemur di balkon dekat dapur, haruskah itu jadi pemandangan dipagi hari? Hebat sekali. “Terimakasih” Kataku, setelah Jessica duduk.
“Tidak biasanya apartemen kami seberantakan ini. Jika kau datang sekitar pukul sepuluh keatas, kau akan menemukan apartemen terbersih di dunia” Cih, Lagipula aku tidak pernah berniat pergi ke tempat ini hari ini. Hae Hyung yang menyuruhku untuk meminta maaf pada Yoona dengan lebih baik. Aku tidak tahu cara yang lebih baik, jadi kurasa pergi mengajaknya makan siang atau apa, akan terasa lebih pantas. “Oh ya, berapa umurmu, bukankah kau mau kuliah?” tanya Jessica.
She is so straight-forward, remind me of  Miyoung. Biasanya aku tidak menjawab pertanyaan pribadi, tapi dia berbeda dari Yoona. Dia bukan seseorang yang bisa kuhiraukan atau tour guide, ada aura bossy dari Jessica yang tidak bisa ditolak.
“Dua puluh tiga,eh..empat, aku berencana mengambil S2” Jawabku.
Jessica mengangguk dan tersenyum. Aku mulai merasa ini seperti sesi tanya jawab yang tidak perlu. “Wah, kau berbeda sekali dari Yoona, dia sudah bertahun-tahun kuliah tapi belum selesai, kau malah akan memulai S2, Daebak
“Aku mulai dua tahun lebih awal sebenarnya” Jelasku sambil menyentuh gagang cangkir. Namun tanganku terhenti saat merasakan sorot mata menyelidik dari Jessica, ia membenarkan bandonya dan tersenyum sarkastis. “Semalam, kau pulang bersama Yoona bukan? Dia bilang padaku jika kau meme..”
“Jonghyun-ssi! Kkaja!”
Seketika aku berbalik dan menemukan Yoona…entahlah, kerasukan? Penampilannya terlihat berbeda dari biasanya. Biasanya ia memakai skinny jeans dengan kaos dan jaket, atau sweater. Namun sekarang ia memakai rok bermotif bunga. Ia juga memakai kemeja panjang putih dengan kerah bermotif bunga. Apa dia mencoba tampil manis? Lalu, kacamata kotak yang biasanya, ia melepasnya?
Sebagai pria normal, aku akan mengatakan dia sangat cantik. Tapi sebagai Lee Jonghyun, aku akan mengatakan Yoona bersikap aneh hari ini. Namun aku cukup bersyukur dia memutuskan untuk tampil feminim, setidaknya hal itu dapat menyamarkan sikap liarnya. Aku berdiri dan membungkuk pada Jessica. “Senang bertemu denganmu, aku harap kita bisa bertemu lagi” Tidak, sebenarnya aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Aku hanya mengucapkan kalimat itu sebagai formalitas.
“Bagaimana dengan tehmu?”
Yoona menggapit tanganku, kemudian buru-buru menarikku ke arah pintu tanpa memberikanku kesempatan untuk membalas pertanyaan Jessica. “Eonni, kami pergi dulu” Tukasnya.

“Apa lagi yang ia tanyakan padamu?”
Yoona menginterogasiku di bus. Aku mendesah kesal dan menatap kedua matanya dengan tajam, hanya hal itu yang bisa membuatnya diam. Semenjak dari halte di depan apartemen tadi, Yoona terus-terusan bertanya padaku dan aku sudah menjelaskannya seringkas mungkin. Namun dia masih curiga jika Jessica menanyakan hal lain. “Jangan memandangku seperti itu, kurasa kau tahu jika tatapan matamu menakutkan” Ia memeluk dirinya sendiri dan merapat ke jendela bus.
“Aku senang jika kau diam” Ujarku sambil menyilangkan kedua tanganku di depan dada.
Kemudian aku membuang pandanganku dari Yoona. Sedikit menggelikan ada orang yang takut padaku. Sejak kecil, akulah yang selalu takut pada orang-orang. Karena ukuran tubuhku yang jauh lebih kecil dibanding teman-temanku di Inggris, aku kerap kali jadi objek ejekan dan siksaan. Aku bahkan hampir tidak mempunyai teman.
“Jonghyun-ssi, apakah lukamu sudah membaik?’ Pertanyaannya membuatku jadi ingat tentang kemarin, ketika preman-preman itu mengepungku dan membuatku terpaksa melukai mereka. Mereka berhasil merebut barang-barang berhargaku, tapi setidaknya aku bisa mendapatkan passport, kartu identitas, dan visa. Sial benar penipu itu, jika aku bertemu dengannya lagi, aku akan membunuhnya.
“Jonghyun-ssi,”
Aku tersenyum dan mengangguk. “Hae Hyung merawatku semalam, He’s pretty good at nursing” Bohong, Hae Hyung sama sekali tidak bisa merawat orang sakit. Semalam ia malah menceramahiku tentang ‘Bagaimana Bersikap Baik Pada Wanita’ sedangkan aku hanya mengompres lukaku dengan es batu.
Yoona mengangguk dan tersenyum simpul. Sometimes, her attention make me hesitate. Ia nyaris bersikap terlalu baik pada lelaki brengsek sepertiku, puncaknya adalah dua malam yang lalu. Ketika aku tidak bisa lagi membendung perasaan marahku pada Miyoung dan malah melampiaskannya pada Yoona, padahal sebenarnya aku sedikit geli ia mengatakan Miyoung mirip beruang Himalaya. Mungkin saat itu ia tidak menangis, tapi aku yakin dia sangat sakit hati. Fakta bahwa dia tidak marah padaku malah membuatku merasa sangat bersalah padanya. Manusia macam apa yang masih bisa memaafkanku setelah kusumpah serapahi seperti itu, dan orang itu adalah Yoona.

Semalam, aku berpikir keras mengenai tawaran Yoona. Akan menyenangkan mempunyai teman seperti Yoona. Kelihatannya ia mudah bergaul. Tiap kali kami pergi ke setiap universitas di Seoul, ia terlihat mengenal banyak orang. Apa yang membuatnya bisa bersikap begitu terbuka? Seolah-olah percaya bahwa semua orang menyukainya. Hal itu yang membuatku merasa tidak yakin, apakah aku pantas berteman dengannya, sedangkan sikapku bertolak belakang dengannya.
“Jonghyun-ssi, Sepertinya tidak menyenangkan jika hanya pergi ke bank. Setelah dari bank kita bisa pergi Hong-Dae ya, kau belum pernah ke Mapo bukan?”
Hong-dae? Sebenarnya aku hanya ingin mengajaknya makan siang setelah dari Bank, tapi sepertinya akan menyenangkan bisa berjalan-berjalan ke tempat itu, kudengar banyak komunitas underground di sana, walaupun aku belum tahu persisnya. “Baiklah”

Aku tidak akan menerima tawaran Yoona lagi.
Ia bukan orang yang cukup konsisten dengan kata-katanya. Ini sudah hampir makan siang dan kami masih terjebak di Myeongdong. Aku menyesal harus menjadi nasabah Woori Bank, kantornya terletak ditengah-tengah Myeongdong. -atau seharusnya aku tidak mengajak Yoona. Hah, intinya aku menyesal harus pergi ke Myeongdong bersama Yoona. Karena gadis bodoh itu aku harus berpegal-pegal ria berjalan kesana kemari menemani Yoona memilih baju.
Sudah terhitung lima kali kami keluar masuk toko busana dan tempatku berdiri sudah yang keenam. Dari tadi Yoona sibuk memilih-milih baju tanpa membelinya, sambil bergumam “Oh, yang ini bagus untukku,” “Ah, Kurasa ini bisa dijadikan hadiah” “Wah, Aku bisa membelikan baju untuk Yuri Eonni” Namun setelah melihat harganya ia langsung mencibir dan pergi melihat baju lain.
“Kau bilang akan mengajakku ke Hong-dae?” Aku mengingatkan -untuk yang ke 47 kalinya.
Yoona menghiraukanku dan memilih-milih baju lain. Kurasa wanita selalu seperti itu jika sedang berbelanja. Tidak Ibu, tidak kakak, tidak Yoona. Semuanya sama, dunianya telah disulap sedemikian rupa sampai yang mereka pedulikan hanya barang yang mereka pegang dan harga. “Jonghyun-ssi, apa menurutmu ini bagus?” Tanya Yoona sambil menyodorkanku kemeja berwarna biru pucat berkancing dengan pinggir kerah berenda.

“Untukmu tidak akan bagus” Kataku.
“Aku juga berpikir begitu, bagaimana dengan Jessica Eonni?”
Aku menggeleng dan tersenyum miris. Kuedarkan pandanganku ke rak mantel. Gadis seperti Jessica akan cocok dengan mantel berwarna gelap, akan terkesan kuat pada Jessica. Tunggu,,, kenapa aku berubah menjadi komentator gaya? Sejak kapan aku tertarik pada fashion? Tidak. Aku akan berhenti sampai disini. “Mantel itu?” Tanya Yoona padaku.
Aku menggeleng dan menjauhkan tanganku dari mantel tadi. Ia tersenyum padaku dan mengambil mantel itu. “Apakah menurutmu ini bagus? Bagaimana jika aku yang memakainya?” Tanya Yoona.
Sebenarnya Yoona cantik mengenakan apapun. Tapi, aku rasa akan lebih baik jika Jessica Eonni yang memakainya. “Tidak” Jawabku.
“Im Yoona?”
Seorang pria berambut merah berdiri di belakang Yoona dan tersenyum canggung kearahnya. Kulemparkan pandanganku pada Yoona. Dan dia terlihat seperti pencuri yang tertangkap basah sedang melakukan aksinya. Tiba-tiba ia memberikanku mantel itu dan berbalik untuk menyambut pria itu. “Oh,.. Sunbae?”
“Kau mengingatku? Senang sekali, sudah lama semenjak terakhir kali kita bertemu, berapa? Tiga minggu”
Yoona mengangguk-angguk. Aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya sekarang, yang bisa kulihat hanya ekspresi tenang dari pria bernama sunbae itu. Pria itu terlihat menyenangkan, ia tidak sekalipun melenyapkan senyumnya semenjak menghampiri Yoona tadi. “Apa yang dilakukan sunbae disini?” Yoona ini, ya ampun. Apakah dia tidak bisa bertanya dengan lebih sopan? Walaupun nada bicaranya sudah dihaluskan sehalus mungkin, ia tetap harus mengubah gaya bahasanya.

Sunbae berkacak pinggang dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru toko. Ia kemudian menghela nafas dan tersenyum tenang pada Yoona. “Aku sedang mengantar tunanganku berbelanja, kau?”
Aku tidak bisa melihat wajah Yoona, namun dia langsung terkesiap ketika mendengar kata tunangan. Oke, ini cukup menarik untuk disimak. “Ne, aku sedang berbelanja bersama pacarku, perkenalkan namanya Lee Jonghyun”
Mwo..
Yoona melotot kearahku, ia mengedikan kepalanya ke arah pria itu sekilas dan mendorongku untuk maju mendekati pria itu. Dalam waktu kurang dari satu detik, aku harus siap berlakon sebagai kekasih Yoona. Kurang ajar juga gadis ini. Ketika mataku bertemu dengan sunbae. Aku langsung tersenyum dan menjabat tangannya. “Lee Jonghyun, senang bertemu dengan anda”
“Park Junwon” Tunggu, bukankah namanya sunbae? Jadi pria ini mempunyai dua nama? Park Sunbae dan Park Junwon. Apakah aku harus memanggilnya Sunbae? Atau Junwon? Hyung saja sepertinya cukup. Aku melepaskan jabatan tangan itu dan tersenyum. Ketika aku menangkap tatapannya. Aku bisa mengimplikasikan bahwa dia tidak begitu menyukaiku.
“Hyunnie bukankah kita baru saja akan membayar mantel itu?”
Hyunnie, sekarang ia memanggilku Hyunnie? Seumur hidup aku tidak pernah menyukai panggilan itu. Entah jika kakakku, Ibuku, atau Hae Hyung. Aku tidak pernah suka jika dipanggil Hyunnie, itu nama panggilan paling menjijikkan yang pernah kudengar. “Baiklah” Kataku akhirnya.
Sunbae, kami pergi dulu”
Eoh, sampai jumpa”
Ketika kami sampai di kasir, Yoona ngos-ngosan seperti orang yang baru saja lari marathon satu mil. Aku tidak suka mengada-ada, tapi dari yang kulihat, sunbae adalah seseorang yang tidak ingin ditemui Yoona. “Kau tidak apa-apa?” Tanyaku refleks.
“Tidak, aku tidak tidak apa-apa, berapa harga mantel itu?”
“Entahlah, lima ratus ribu won, atau sekitarnya”
Mworaguyo?”
Aku tidak bisa berkata apa-apa, aku sudah terlanjur memberikan mantel itu pada kasir. Kupikir Yoona benar-benar akan membelinya. “Semuanya 499,900 Won” kata kasir pria itu.
Wajah Yoona pucat pasi, ia terdiam membeku, tatapannya kosong, hidungnya kembang kempis, aku bahkan tidak yakin apakah Yoona tersenyum atau menangis. “Agasshi,
Yoona tidak membiarkan kasir itu menyelesaikan kalimatnya. Spontan, ia tersenyum genit ke arah kasir itu dan mengerling. “Kupikir ada diskon 70% untuk musim panas” Ujarnya tidak tahu malu. Ya ampun, ini baru 17 April, musim panas masih jauh di depan. Dasar gila.
Aku mengambil kartu kredit baruku dari dalam saku celana dan memberikannya pada kasir itu. “Tolong dicoba” Setelah itu aku melirik Yoona. Ia memandangku dan kartu kredit itu bergantian. Apakah dia perlu me-loading apa yang baru saja dilihatnya? Sejurus itu, Yoona meraih tanganku dan pura-pura terharu. “Gomawo, aku tahu kau pria yang baik Jonghyun-ssi, Gomawo
Aku menarik tanganku dan memaksakan senyum. “Tidak perlu seperti itu, aku bersungguh-sungguh”

Walaupun sudah melewati jam makan siang, tidak ada salahnya jika kami mengisi perut untuk mengganti makan siang. Yoona bilang dia tidak boleh telat makan, jadi dia membeli Hotdog sebelum masuk stasiun bawah tanah tadi, yang menurutku lebih mirip Corndog. Karena mantel itu, ia tak henti-hentinya mengucap terimakasih padaku di kereta, ia jadi benar-benar baik padaku. Jika bajuku kotor sedikit, ia langsung membersihkannya. Sikapnya memunculkan pemikiran picik dikepalaku, aku bisa saja membuatnya jadi pembantuku jika dia seperti ini terus.
Tapi aku tidak melakukannya, aku tidak tertarik menjadikan Yoona pembantuku. Hidupku bisa saja hancur karena Yoona. Instead of memakan makanan berat setelah sampai di Hongdae. Ia mengajakku ke sebuah bar -yang lebih mirip stan air limun. Tempat itu kecil, berkonsep robot. Cukup menyenangkan untuk dilihat. Kemudian Yoona membelikanku minuman, aku lupa namanya, tapi minuman itu terasa unik di lidah.
“Kau suka?” Tanya Yoona beberapa meter setelah meninggalkan tempat itu.
“Mm” Sahutku sambil berjalan dan menikmati minumanku.
“Aku janji akan mengganti uangmu, aku tadi benar-benar terkejut dengan sikapmu, aku tidak percaya jika kau begitu baik”
“Aku juga”
Aku memang tidak percaya aku bisa berbuat sebodoh itu. Meminjamkan 500.000 Won pada Yoona, kemana akal sehatku? Aku masih tidak bisa percaya jika ia akan mengganti uangku. Mahasiswi super irit yang tidak konsisten. Aku belum mengenal Yoona lebih dari dua minggu, namun aku sudah cukup mengerti mengenai kehidupannya. “Huh, Aku tidak percaya Junwon Sunbae sudah bertunangan, padahal kami baru berpisah tiga minggu yang lalu” See, hal ini yang kubicarakan. Ia orang yang terlalu terbuka.
“Tadi itu mantan kekasihmu?” Aku mencoba menguak lebih dalam.
“Mm, dia sangat baik, sangat, sangat baik. Tidak sepertimu, ia perhatian, ia juga…” blah, blah, blah.
Selama perjalanan kami menuju kampus Hongik, ia tak henti-hentinya bercerita soal kebaikan Junwon -aku baru tahu jika Sunbae berarti senior. Setelah menceritakan semua kebaikan Junwon Sunbae dari A sampai Z, Yoona mulai menceritakan bahwa Junwon suka mempermainkan wanita. Yoona akhirnya tahu dan memutuskan untuk berpisah darinya. “Kupikir, aku sudah menemukan belahan jiwaku saat itu” Kata Yoona, lalu ia terdiam untuk sesaat.
“Kau mau dia kembali padamu?” Tanyaku.
“Tidak, pada akhirnya aku hanya akan disia-siakan lagi” Katanya sambil terkekeh. Heh, aku tahu betul betapa sakitnya perasaan itu.”Oh ya, maaf soal tadi, aku tidak benar-benar berniat menjadikanmu kekasihku, aku hanya mencoba membalasnya”
“Tidak apa-apa, aku bisa mengerti” Ujarku.
Lagi-lagi hening, hanya suara angin, kendaraan yang berlalu lalang, dan keramaian lain yang menengahi pembicaraan kami. Aku masih menunggunya mengatakan hal lain sambil melihat-lihat ke sekitar. Tempat ini terlihat lebih menyenangkan ketimbang di Apgeujong, jika di Apgeujong adalah surga para shopaholic. Tempat ini adalah surga bagi manusia sepertiku.
“Jonghyun-ssi,” Mendengar namaku, aku langsung menoleh ke arahnya “Maaf jika aku lancang lagi, aku hanya bertanya-tanya, apakah kau pernah mempunyai pacar? Tidak perlu menjawabnya jika memang tidak mau, aku tidak akan memaksa, maafkan aku”
Aku mendesah pelan dan tersenyum. Dia terdengar takut saat menanyakan hal itu, sedikit menggelikan. Namun yang penting sekarang, apakah sudah saatnya aku mengungkapkan ini pada seseorang? Sudah lebih dari sepuluh tahun aku menyimpan perasaan itu seorang diri.
Sejujurnya aku tidak pernah mempunyai kekasih, demi Miyoung. Aku menyukainya semenjak pertama kali bertemu dengannya di sekolah menengah, kala itu aku bisa dekat dengannya karena pada dasarnya Miyoung memang orang yang terbuka dan ceria, seperti Yoona. Namun ia dijauhi karena ia orang yang direct, ia mengatakan apa yang ia suka dan tidak suka dengan terus terang, seperti Jessica. Hal itu yang membuatnya diajuhi, tapi aku malah menyukai Miyoung. Ia benar-benar teman yang jujur. Ia pernah mengatakan bahwa ia membenci laki-laki yang menyatakan cinta padanya. Hal itu bodoh katanya. Aku jadi takut untuk mengungkapkan perasaan itu dan memendamnya sampai ia akhirnya terbang ke Korea untuk mengikuti pelatihan di sebuah agensi hiburan.
Ketika aku pergi ke Korea tahun ini, yang artinya sudah sepuluh tahun lebih aku memendam perasaan itu. Kuharap aku bisa mengungkapkan perasaanku padanya dan seperti di film, ternyata ia mempunyai perasaan yang sama denganku dan kami hidup bahagia. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Ternyata ia telah memiliki kekasih dan perasaan itu, yang telah kusimpan lebih dari sepuluh tahun tak pernah sampai. “Tidak, aku tidak tertarik” Jawabku akhirnya. Setelah kupikir-pikir lagi, aku tidak pernah siap membagi beban itu dengan orang lain.
Yoona mengangguk, seolah-olah sudah tahu jawabannya. Lalu ia tersenyum padaku dan menepuk-nepuk pundakku. “Sebenarnya kau itu tampan, kau bahkan cerdas, jika saja kau bisa mengurangi sikap dingin dan kurang ajarmu itu sedikit, aku yakin sudah banyak gadis yang rela hidup single untukmu”
Aku tersenyum tipis. Yoona memang benar, aku terlalu dingin, aku juga kelewat jahat terhadap wanita. Tapi tidak pada gadis itu. Seandainya Yoona tahu bahwa gadis itu Miyoung, apa yang akan ia katakan? Apakah dia akan terkencing-kencing karena menertawakan ceritaku? Atau dia justru menganggapku delusional?
Kuperhatikan Yoona untuk sesaat dan kutemukan ia sudah tidak tertarik pada percakapan ini. Pandangannya tertuju pada satu arah, matanya menyipit, ia tengah menganalisis sesuatu. “Omo,”Pekiknya.
Aku mengikuti arah pandangnya dan mendengar teriakan. “Fansigning!!! HUWAA!! Aku harus ikut!!!”
Aku mengusap-usap telingaku karena teriakan Yoona yang memekakkan telinga. Fansigning? Apa maksudnya? Kupikir, kami benar-benar akan survei kampus Honggik.

Memutuskan untuk pergi bersama Yoona hari ini terasa sangat salah.
Terjebak diantara kerumunan manusia seperti ini apalagi. Sebagian besar manusia yang menghadiri acara tidak mutu ini adalah pria. Namun aku juga melihat beberapa wanita, Yoona adalah salah satunya dan dia sudah berlari ke baris depan. Dia memang gila, aku tidak tahu bagaimana caranya membelah lautan pria kekar ini. Aku juga masih bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ia pikirkan ketika menarikku ke dalam event ini?
“Jonghyun-ah! Jonghyun-ah!”
Kulihat kepala Yoona menyembul-nyembul dari kerumunan, ia melambaikan buku dan pulpennya sambil melompat-lompat. “Kesini! Cepat!” Teriaknya. Aku tidak yakin pergi kesana adalah tindakan yang tepat. Di depanku terlihat begitu banyak pria tangguh. Tidak mungkin aku bisa menerjang kerumunan itu dan mencapai Yoona. “Jonghyun-ah, Jonghyun-ah” Kudengar teriakan itu lagi.
Tiba-tiba kepalaku pusing, pasti ini karena anemia yang kuderita. Sial, Lee Jonghyun. Kau lebih kuat dari ini. Kugelengkan kepalaku dan mengeerjapkan mataku beberapa kali. Setelah itu aku berjalan bak superhero di tengah-tengah kerumunan itu. Ada beberapa orang yang membentakku, ada yang memukul pundakku. Semua itu salah Yoona, dan aku akan meminta pertanggung jawabannya setelah aku menemuinya.
“Jonghyun-ah, Kau yang minta tanda tangan ya?” Itulah kata-kata yang diucapkan Im Yoona setibanya aku disebelahnya.
What? Seriously?
Jebal, aku tidak mungkin sampai disana. Lagipula aku tidak begitu menyukai Taetiseo, aku hanya ingin pamer pada Yuri Eonni dan Jessica Eonni jika aku mendapatkan tanda tangan Taetiseo
Taetiseo? Kapan mereka…”Jonghyun-ah, ppalli!! Aku tidak mungkin menjadi fangirl Taetiseo, aku forever Cassie
Mengesampingkan pronounce Yoona aku bertanya, “Kapan mereka Comeback?”
“Kau tidak tahu? Mereka sudah Comeback minggu lalu, saat kita pergi ke Universitas Sungkyunkwan”
“Benarkah?”
Aku ingat Miyoung pernah mengatakan “Lima hari lagi dan sampai beberapa bulan ke depan aku akan sangat sibuk, jadi aku tidak mungkin punya cukup waktu untuk bertemu denganmu lagi, John”
“Kau terlihat sangat menyesal tidak mengetahui hal itu, apa kau…” Aku menghiraukan perkataan Yoona dan mengarahkan pandanganku ke atas panggung. Tepat setelah itu, Taeyeon naik dari sisi kiri panggung, diikuti Miyoung dan Seohyun. Sorak sorai membahana disekitarku. Bahkan Yoona -yang mengaku forever Cassie– terlihat lebih heboh dibandingkan yang lain. Kurasa itu memang sudah menjadi ciri khas-nya. Tidak tahu malu dan suka heboh.
“Jonghyun-ah, cepat, aku akan berjalan disebelahmu, kau yang meminta tanda tangan, Okay?”
“Eh?”
Yoona memberikan sebuah buku kecil dan pulpen berwarna biru dengan tutup kepala pororo padaku. Sejujurnya, daripada aku bertemu dengan Miyoung lagi, aku lebih baik dipukuli oleh semua fans pria yang ada disini. Dan daripada menatap mata Miyoung lagi, aku lebih memilih pingsan karena minum minuman yang dibelikan Yoona untukku. Tapi semua hal yang kuharapkan tidak pernah terjadi, sampai akhirnya aku berdiri di depan Miyoung. Aku dan dia bertemu lagi, hanya berbataskan meja.
“Terimakasih sudah berusaha keras untuk datang hari ini” Katanya. Kalimat itu, aku yakin ia sudah merapalkannya ribuan kali. Ia pernah mengatakan padaku jika ia lelah harus berhadapan dengan fans setiap hari.
Eonni, Yeppeuda” Jika bukan karena ungkapan Yoona itu. Mungkin aku akan terpaku disana seharian. Mengamati bagaimana ia menorehkan tanda tangannya dibuku Yoona tanpa sedikitpun mendongak untuk melihatku. “Ah, Gamsahamnida, Kau juga cantik” Balas Miyoung.
Eonni, temanku ini adalah fans beratmu, bisakah kau mengucapkan sepatah dua patah kata agar hidupnya lebih bersemangat”
Aku menoleh menatap Yoona. Tak sekalipun terbesit dipikiranku gadis itu akan mengatakan hal itu pada Miyoung. “Ah, Dangshineun…” Saat aku mengalihkan pandanganku dan bertemu mata dengannya, ia menelan kata-katanya. Bibirnya terkatup, ia tidak tersenyum. Hanya dia yang yakin akan perasaannya saat melihatku waktu itu. Matanya berbicara bahwa aku tidak seharusnya disini, aku bukan apa-apa selain masa lalunya. Seharusnya aku tidak muncul dalam kehidupannya lagi. “Gamsahamnida
Sambil menarik tangan Yoona, aku berjalan keluar dari acara tidak mutu itu dan mendengarkan Yoona merutukiku karena membuatnya hampir terjatuh. Ia juga kesal karena membuat pulpen kesayangannya tertinggal. Ia juga sempat mengeluh karena tasnya robek. Padahal tas itu sudah robek sedikit ketika kami pergi ke N Seoul Tower seminggu yang lalu.

Yoona masih cerewet saja ketika kami pulang cukup malam dengan menggunakan kereta. Ia mengoceh cukup keras mengenai berapa harga tas yang dibelinya itu. Ia juga mengeluh mengenai mantel biru yang -dengan terpaksa kubelikan untuknya- kotor. “Apa yang terjadi padamu, kenapa kau tiba-tiba kabur seperti itu, kau malu?”
Jika ada kata-kata yang lebih bisa menggambarkan perasaanku, aku akan menyebutnya dengan ‘Marah’ walaupun rasanya aku tidak berhak merasa seperti itu pada Miyoung. Akulah yang salah karena tak pernah memberitahunya jika aku menyukainya, aku juga salah karena terlalu naif. Kupikir Miyoung juga merasakan hal yang sama padaku.
“Ya, aku malu” Jawabku akhirnya.
“Ck, ya sudahlah, it’s okay,” Yoona menepuk-nepukkan bukunya pada telapak tangan dan tersenyum jahil padaku. “Aku tetap mempunyai tanda tangan asli Tiffany untuk dipamerkan pada Yuri Eonni dan Jessica Eonni, Gomawo, Jongmal Jongmal Gomawo, Jonghyun-ah
Happy?
Jongmal, Jongmal Happy
Untuk beberapa saat aku menatap matanya. Ekspresinya seperti waktu itu lagi, diam tanpa suara, ia tak tersenyum dan hanya menatapku. Walaupun sekarang di depanku adalah Yoona, pikiranku masih jatuh pada Miyoung. Seharusnya pria normal sepertiku akan tertarik pada seorang Im Yoona. Ia manis, berhati lapang, dan menyenangkan -walaupun sikapnya terkadang memalukan. Jika saja tempat Miyoung bisa terisi oleh Yoona, aku tidak masalah. Sayangnya tempat itu tidak akan pernah kosong, tidak akan bisa.

Back To Yoong’s
Pelukan itu dan tatapan itu.
Baiklah! Katakan padaku bahwa aku gila! Aku tidak mungkin menyukai Lee Jonghyun. Ini hanya perasaan sesaat, seperti pada laki-laki lain. Tidak mungkin lebih jauh dari itu, aku yakin.
Aku menggeleng dan membuang pandanganku dari Jonghyun. Aku tidak boleh berpikir bahwa ia akan menyukaiku. Itu pemikiran naif, pemikiran naif haram hukumnya bagi Im Yoona. Jika perasaan ini datang lagi, aku akan mengingat-ingat bahwa Lee Jonghyun pernah mengatakan aku idiot. Dengan begitu, aku akan merasa lebih baik. Semoga saja.
“Oh ya, Jonghyun…” Aku jadi ragu akan memanggilnya Jonghyun-ah lagi”-ssi, besok adalah ulang tahun Jessica Eonni, bagaimana jika kau datang? Kurasa aka menyenangkan”
Jonghyun mengerutkan keningnya. “Apa Jessica tidak keberatan?”
“Tentu saja, kenapa tidak? Jessica Eonni pasti akan senang jika banyak orang datang ke pesta ulang tahunnya”

(^_^)

–part depan ada krytal lhoh–

Berapa bulan semenjak postingan girls terakhir? Lama banget yak?

Ya maap ya,, habisnya waktu itu saya masih sibuk ngurus sekolah, dan sampe hari postingan ini di post aja belum kelar sebenernya. Masa saya belum di kasih seragam batik,, hiks, hiks,, kalo beda dari anak lain kan gimana gitu yak.

Sampe part ini, mungkin jalan ceritanya belum keliatan jelas, insyaallah, di part 7, gue akan kasih konplik sebenernya. sama ‘suatu masalah pelik’ yang diomongi sohee di fortune teller bakal gue munculkan ke permukaan.

Sebenernya ini part gue bikin karena dendam juga, udah berkali-kali ganti plot, edit sana-sini, terus barusan juga ngedit di lembar wordpress-nya, ngeselin emang wordpress akhir-akhir ini, berkali-kali gue edit, tapi hasilnya nggak pernah bener, jadi ya tampilannya jelek gitu, maap yak. Ya udah, here, JongYoon part. Sekali lagi menjadi part terpanjang, dan end up jalan-jalan lagi.

Kalo misalnya masih ada typo dan ada kalimat yang nggak enak dibaca ya maap ya,, maklum, ngantuk nih, dan masih dikejar pr bahasa indonesia.

HIMRASAKI

AHNMR

fighting(^o^)9

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

17 thoughts on “Girls: Dizzy, Dizzy, Dizzy [Part 6]”

  1. Gak sabar nunggu partnya Sica eonnie.
    Sebenarnya ada konflik apa??
    Orang yang dulu bikin Sica patah hati itu bukannya donghae yah?
    Apa yang akan terjadi di pesta-nya Sica?
    Update soon yah thor.
    Yang panjangggggg.
    Hehehe.

    1. di masa itu #ea 2013 Jessica sebenernya pacarnya taecyeon,,, mereka cuma putus sepihak (jessica) dan ya dulu banget (pas sica masih alay, pas SMA) dia pernah nguntit si Donghae (ceritanya dia mahasiswa Busan University) dan dia nggak pernah tau namanya, tapi si sica nekat nembak donghae, dan hasilnya dia berkali-kali di tolak #malahcerita

      Ntar, liat dulu deh ya,,, aku masih sibuk beradaptasi sama sekolah baru soalnya, jadi masalah blog jadi di nomor limakan

      Thanks udah baca ya, hehehe

  2. Thor kalo cuma baca yoonanya doang ceritanya kepotong gak? Atau harus baca semuanya biar ngerti
    Aku belom baca soalnya hhehe

  3. wkwkwk..
    ntah kenapa tiap baca yg part Yoona selalu bikin aku senyum2 parahh..
    kocak banget karakternya disini. Suka banget deh pokoknya. bener2 berbanding terbalik ama sikap dingin si Jonghyun. kikikik~~
    Aku jg suka karakter Jonghyunnya. over all ff-nya daebaakk!!~~
    Update soon yhaa authornim^ Fighting~~

  4. Waahh.. bgus thor..
    Kcian, semoga baju batik nya cepet dikasih ama pihak sekolah, kekeke 😀
    Mian kalo baru bisa comment sekarang ^^V
    ditunggu kelanjutannya, tpi jangan lama-lama ya..
    Fighting thor.

  5. keren ..bca part1-6 ni, maaf br comment hehe
    prshabtan ny berawal dr sbuah ksamaan . hehe
    jong dngin amt si , bda am yoong .
    si sica ptah hati ni am donghae .
    aq suka moment kyuri . jual mahal gtu hehehe

  6. diluar ekspetasi ini ternyata miyoung artis dan taetiseo huaaaaaa. br sadar aku pas dibilang miyoung lebih memilih ke korea itu.

    aaaaa jonghyun lupakanlah miyoung mending sama yoongie yg lebih kece badai. hidup ga akan ngebosenin kalo ama dia hahaha.

    eh sohee coba ketemu yoona jg biar bs dramal hehe. part 7 ini apa kisah donghae jessica kyaaaaaa ga sabar

    keep writing chingu. fightingggg

    1. makasih banget ya,, aku udah baca semua review kamu dan yah… aku udah mulai nulis lagi walaupun tadi ngehabisin tiga episode monstar dulu #malahcurhat.

      pertama, makasih banget yah udah komentar panjang, seneng deh bacanya. Kedua, sori banget aku cuma bales disini. Ketiga, aku tahu betapa menyebalkannya baca FF yang nggak selesai. Keempat, aku rekomendasi kamu nonton drama Monstar #oke, ini nggak nyambung. Kelima, THANKS BANGET!!! Aku jadi semangat lagi!!!!

      (^o^) Salam kecup dari (Bias)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s