A Guy From Mars

A Guy From Mars 1

Author: Ahnmr || Cast: Ha Yeonsoo (Actrees), Yoo Youngjae (B.A.P), Lee Jongsuk (Actor), Kim Yura (Girls day) || Genre: Sci-fi, Friendship, Romance || Rating: 15 + || Disclaimer: Cerita di bawah ini adalah fiksi dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia nyata atau orang-orang yang saya hinakan di RPF ini. Atas pengertiannya terimakasih.

Reference:

Star Trek (2009)|| Men In Black (1997) || Paranormal Witness (TV Show)|| National Geographic || Gravity (2013)

Karena cast-nya (maaf)kurang dikenal secara luas saya akan memberi sejumlah foto yang akan membantu readers:

a guy from mars cast

Semoga membantu (^_^)

Youngjae pernah bilang padaku bahwa kehidupan tidak hanya berada di Bumi. Aku percaya padanya, maksudku dulu. Sebagai anak kecil yang masih polos dan suka menelan segala doktrin dijejalkan padanya, tentu saja aku percaya. Namun seiring kami tumbuh dan aku semakin dewasa, hanya Youngjae yang masih berpegang teguh bahwa makhluk luar angkasa itu ada. Berbeda denganku yang mulai menganggapnya bodoh.

“Yeonsoo-ssi, kau tidak ingin melihat video soal UFO yang kutangkap kemarin?”

Aku memutar bola mataku dan mendengus. “Paling itu hanya rekaan, atau mungkin pesawat latihan yang kau anggap UFO. Maksudku, ayolah Youngjae, kita sudah dewasa, kau masih percaya pada dongeng?” Tanyaku culas.

Ia membenarkan kacamatanya dan memeluk bukunya lebih erat. Kemudian ia bergerak menjauh dariku, merasa takut. Terkadang aku tidak mengerti kenapa ia takut padaku. Kupikir tidak ada yang salah dengan sikapku yang terbilang agak kasar ini. Mungkin dia saja yang terlalu culun.

Kasihan dia, aku adalah satu-satunya teman untuknya. Sial bagiku, aku tidak punya teman selain dia. “Maaf.. mm.., mungkin nanti malam, ada banyak tugas yang harus kukerjakan” Kataku, berusaha menghilangkan citra jahatku. Agar ia tidak takut padaku dan menjauh dariku.

Terlihat seulas senyum di wajah Youngjae. Ia melihat ke arahku dan mengangguk. “Ada sekitar dua penampakan UFO kemarin, mungkin orang-orang tidak sadar, sebagian besar bahkan tidak akan peduli, tapi aku yakin sekali bahwa itu UFO, aku berjanji padamu itu bukan lagi kotoran pada lensa kamera, atau burung, atau lalat, aku bisa jamin. Dan kau tahu tidak, ini membenarkan kecurigaanku bahwa ada aktivitas antara manusia…”

“Yoo Youngjae,” Aku memotong cerocosannya, “karena aku ingin melihat video-mu bukan berarti aku tertarik pada observasimu tentang apa itu entahlah. Kita cukupkan disini, oke? Ayo pulang! Berhenti membicarakan soal UFO, berbicaralah seperti orang normal”

Youngjae menggaruk kepalanya “Seperti apa?” Tanyanya mirip orang bego. Lagi-lagi aku harus menghela napas panjang. “Film, buku, pelajaran, apapun, jangan UFO” Jawabku.

Youngjae berjalan menyusulku, mengekor seperti bebek dan menepuk bahuku. “Oh ya, beberapa bulan lalu aku menonton film, Men In Black, aku berpikir jika kelompok semacam itu..”

“Youngjae-ah, itu bahkan masih termasuk pembicaraan soal UFO dan alien”

“Maaf, tapi aku benar-benar tidak tahu apalagi yang harus kubicarakan denganmu” Ujarnya.

“Ya sudah, kita diam saja sampai rumah”

 

Malam itu aku benar-benar tidak ada kerjaan. Kurang lebih aku hanya bolak-balik membuka blog dan menonton video di youtube, lalu menyusun naskah drama berjudul ‘Kenapa Aku Tidak Bisa Ke Rumah Youngjae dan Menonton Video Rekaman Tentang Benda Aneh Yang Beterbangan Tanpa Tujuan Di Langit’. Sampai sebuah gebrakan memekakkan telinga berhasil menyita perhatianku.

Noona!!!” Bocah sialan itu – sebenarnya ia sudah tidak pantas lagi di bilang bocah, ia sudah 14 tahun – kenapa dia harus menggangguku ketika aku sedang ingin fokus? Tak bisakah ia paling tidak mengetuk pintu? Dasar tidak tahu sopan santun. “Apa??!!!!” Sahutku meledak-meledak.

“Kak Youngjae, dia mencarimu” Katanya sambil menyodorkan gagang telepon padaku.

Kedua alisku sontak terangkat, sedikit bersyukur karena telah menyiapkan skenario kebohongan tentang ‘kenapa aku tidak bisa ke rumah Youngjae malam ini’.

Kulangkahkan kakiku ke arah Chulsoo, lalu menyambar gagang telepon dari tangan Chulsoo. Lewat ekor mataku, aku dapat melihatnya menjulurkan lidah seperti orang idiot dan menatapku sengit. Tapi apa peduliku. Toh, dia cuma suka cari perhatian. “Yeoboseyo?” Jawabku pada telepon.

“Yeonsoo-ssi, kau jadi ke rumahku kan?” Tanya Youngjae dengan 50% nada memohon, dan 50% nada memelas.

“Ah.. mmm.. maaf, tugasku belum selesai,…”

“Hah, memangnya kau mengerjakan tugas dari tadi? Bukannya kau malah main internet, ya?” Celetuk Chulsoo kurang ajar.

Aku mendelik ke arahnya sambil berusaha menginjak kakinya. Tapi bocah sialan itu malah lari tanpa merasa bertanggung jawab telah membuatku terjebak bersama Youngjae begini. “Apa itu benar, Yeonsoo-ssi?

“Apa? Hahaha, tidak, aku baru saja akan mengambil sepedaku di garasi” Ujarku sambil pura-pura tertawa.

“Hahaha, baiklah, aku akan menunggumu. Oh ya, Ibuku tadi membuatkan pangsit (mandoo) untuk keluargamu karena tahu kau akan datang, jadi kau harus datang oke, Janji?”

“Mm.. janji”

Klik, aku menutup teleponnya. Usai itu mataku langsung memicing bak elang yang siap menyergap mangsanya. “Bocah sialan!!! Sini kau!!” Aku mengejar Chulsoo dengan emosi yang meluap-luap. Menodong-nodongkan antena telepon yang lebih mirip alat mengupil itu ke segala arah. Bersikap impulsif jika suatu waktu Chulsoo menyergapku dari sudut-sudut gelap.

Ini semua salah Chulsoo! Berkat dia aku terpaksa berjanji pada Youngjae, koreksi keluarga Youngjae

“Ha Chulsoo!! Kesini!! Cepat!!”

“Apa salahku?” Ia keluar dari balik pintu kamar mandi dan terkekeh geli. Padahal aku yakin ia tengah berbahagia atas kesialanku.

“Yeonsoo!! Chulsoo!! Jika kalian tidak diam, aku akan menyuruh kalian tidur di rumah Roki” Teriak Ayah dari ruang keluarga –ngomong-ngomong, Roki itu anjing keluarga kami. Dia sama sekali tidak bisa diandalkan. Dia bukan tipikal anjing-anjing manis yang bakal kau pamerkan ke teman-temanmu seperti cihuahua, pudel, atau golden retriever. Selain jelek, ia hanya bisa makan dan tidur, dan lagi ia takut pada tikus. Aku tahu aku harus bersyukur karena dia pemberian salah satu pasien Ayah yang telah tiada, tapi entah bagaimanapun juga aku masih menganggapnya kurang berguna –Aku dan Chulsoo terpaku di tempat kami berdiri. Tubuhku bergetar hebat akibat gertakan Ayah yang menggelegar bak petir Zeus tadi. Beliau memang menakutkan ketika marah, apalagi jika kemarahan tersebut diakibatkan oleh kegaduhan kami.

Perlu diketahui bahwa penyebabnya adalah Chulsoo. Aku cukup sadar diri jika teriakanku tadi memang bikin tetangga terganggu. Namun perlu kuulangi bahwa pemicu bomnya adalah Chulsoo. Chulsoolah yang pantas disalahkan, bukan aku!!.

“Tapi Chulsoo..”

“YEONSOO!!” Sebelum kemarahan Ayahku memuncak, aku memilih untuk diam dan mendengarkan. “Lebih baik kau ke rumah Youngjae sana! Kau tidak kasihan dengan Nyonya Yoo, sudah repot-repot membuat pangsit?” Tuntut Ayah, tapi…

Tunggu,tunggu darimana Ayah tahu jika Nyonya Yoo membuat pangsit untuk kami? Jangan-jangan Ayah menguping pembicaraanku dengan Youngjae tadi.

“Tapi, aku anak perempuan, Yah!  Ayah tidak takut jika ada yang menculik anak perempuan Ayah yang kelewat imut ini?” tanyaku sambil berjalan ke depan Ayah dan berkacak pinggang.

Ayah mengamatiku dari ujung rambut hingga ujung jari kaki. “Tidak akan ada yang menculikmu, sana cepat! Kasihan pangsi.. maksudku Youngjae” Kata Ayahku sambil mendorongku ke samping.

Mulutku ternganga lebar, mataku membulat seperti bola. Aku tidak percaya Ayah lebih mencintai pangsit dibanding anak gadisnya.

 

Menyebalkan. Hanya kata-kata itu yang terus berputar-putar diotakku. Seperti seorang voice over perempuan mengatakannya berulang-ulang di dalam kepalaku agar aku ingat bahwa semuanya sangat menyebalkan. Bahkan Ayahku sendiri menyuruhku pergi, demi pangsit.

Seandainya Ibu tidak pergi ke Taebaek, pasti Ibu akan membelaku. Memang jika para pria berkuasa di rumah. Mereka suka seenaknya.

 

Kukayuh sepedaku semakin cepat di tanjakan kedua. Dimana peluh mulai mengalir dikening dan leherku.

Ini semua gara-gara Chulsoo. Jika saja dia tidak menyebalkan seperti itu mungkin Ayah tidak akan tahu soal pangsit. Dan jika Ayah tidak tahu, beliau tidak mungkin menyuruhku bersepeda malam-malam begini. Memangnya aku apa? Orang yang sedang diet? Badan kecil, kurus kering begini disuruh bersepeda melewati dua turunan dan dua tanjakan. Bukannya kurus, mungkin tulangku akan remuk redam sesampainya di rumah Youngjae.

Akhirnya aku sampai pada puncak tanjakan kedua. Kuhentikan sepedanya sebentar untuk mengambil minum dari tempat minum sepeda. Setelah kutegak beberapa kali, kuedarkan pandanganku ke penjuru lingkungan perumahan itu. Aku baru sadar bahwa setelah turunan ini, di sebelah kananku hanya ada tanah kosong yang sepi dan gelap.

Sial, kenapa suasananya jadi tambah mencekam begini. Aku cepat-cepat menutup botolku dan mengayuh sepedaku menuruni turunan itu. Sebelum aku sampai pada dasar turunan. Terdengar suara bising dari langit.

Kupikir awalnya itu suara dari mesin pembangkit listrik yang terletak tidak jauh dari daerah ini. Tapi aku salah, ketika aku mendongak kulihat bintang bergerak dari arah utara menuju kearahku.

Kejadian itu sangat cepat. Aku hanya dapat mendengar suara nyaring sebuah benda beradu dengantanah. Lalu tubuhku terlempar ke udara. Sedetik kupikir riwayatku akan berakhir saat itu juga. Namun anehnya aku dapat bertahan. Meski tubuhku terhempas ke tanah dengan cukup keras.

Butuh setengah menit bagiku untuk sembuh dari pening hebat itu. Dan ketika aku sadar, aku mulai merasakan sakit di telapak tanganku dan kakiku, aku juga dapat merasakan keningku tidak baik-baik saja. Namun aku memutuskan bahwa yang terjadi padaku tidak mungkin separah itu karena aku masih sadar. Awalnya penglihatanku masih kabur, aku tidak mengerti akan situasi yang terjadi. Tepat setelah pengelihatanku kembali, saat itu juga aku dikejutkan oleh pemandangan mengerikan. Separuh jalan di depanku telah hancur. Terdapat sebuah bekas sarukan memanjang yang luar biasa besar ke kanan. Penciumanku yang barusan pulih langsung disambut dengan bau-bauan aneh seperti saat aku praktik di lab kimia.

Nampaknya aku bodoh, tapi aku benar-benar takut jika bau bahan kimia ini berbahaya dan dapat membunuhku, aku ingin cepat-cepat pergi. Dan seharusnya penampakan benda putih aneh seukuran dua kali mobil listrik di ujung tanah kosong itu membuatku tambah takut. Tapi aku justru urung untuk pergi. Ada rasa penasaran yang mendadak muncul di dalam hatiku, membuatku tiba-tiba ingin mendekati benda itu.

Benda itu mengeluarkan asap berwarna putih seakan-akan siap meledak. Aku yakin bau tidak sedap khas bahan kimia itu berasal darinya. Anehnya, tidak tampak seorangpun yang ingin melihat apa yang kulihat. Maksudku, apa mereka tuli? Atau tidak peka? Kupikir suara tabrakan tadi luar biasa nyaring.

Kuhiraukan rasa sakit di kening dan sikuku, lalu melompat ke dalam bekas mirip sarukan itu seraya berjalan terseok-seok ke arah dimana benda putih raksasa itu berada. Ada perasaan khawatir, sebagian lagi skeptis. Aku tidak percaya dengan apa yang kualami, rasanya semua ini seperti mimpi. Namun tentu saja ini bukan mimpi, karena darah yang mengalir disiku dan pelipisku benar-benar terasa nyata.

Aku berhenti sebentar untuk mengamati benda naas itu.

Desainnya terasa familier. Aku bersumpah aku pernah melihatnya dalam bentuk yang lebih indah, namun jauh lebih kecil. Oh, tentu saja. Benda ini mirip dengan mobil-mobilan Youngjae. Mobil-mobilan Youngjae tidak seperti mobil-mobilan kebanyakan anak laki-laki. Mobil-mobilan Youngjae adalah mobil-mobilan luar angkasa –roket, pesawat ulang alik, piring terbang, dan masih banyak lagi yang tidak kuketahui namanya.

Aku tidak percaya bahwa benda putih raksasa ini adalah apa yang selama ini ditunjukan dan dijejalkan Youngjae dalam pikiranku. Benda ini, pesawat ruang angkasa. Desainnya, detil-detil yang ada di pesawat itu. Benar-benar mirip dengan replika yang dimiliki Youngjae.

Hanya satu yang terasa ganjil dari bentuk pesawat ini. Tulisan di badan pesawatnya.

 

“Ergh..eh..” Terdengar erang kesakitan dari suatu tempat. Aku berlari ke depan pesawat itu untuk melihat apa yang terjadi. Ya Tuhan, aku baru sadar jika pesawatnya dalam kondisi terbalik. Kaca depannya pecah, serta bagian ujung pesawat sedikit melesap ke dalam tanah. Pemandangan yang aneh sekaligus miris dalam waktu yang bersamaan.

Pelan-pelan, aku berjalan mendekati pesawat itu. Degup jantungku semakin cepat seiring langkahku mendekati pesawat ruang angkasa itu. Aku mengintip ke dalam, terlihat sebuah cahaya merah redup dari salah satu bagian kokpit. “——–“ Betapa terkejutnya aku ketika menemukan sewujud manusia berpakaian astronot tertahan di kursi kemudi  dengan posisi terbalik. Sepintas kupikir ia manusia, aku tidak bisa melihat apapun kecuali wajah dan giginya. Namun cairan hijau yang menganak sungai di pelipisnya nampak sangat tidak manusiawi.

Ya, apa kau bisa keluar, nampaknya sangat berbahaya didalam sana” Kataku, masih menimbang-nimbang apakah aku harus membantunya.

“——” Ia berujar dengan bahasa asing. Apakah itu bahasa inggris? “Kau tidak bisa Bahasa Korea?” Tanyaku.

Cairan hijau kental itu mengalir perlahan dari dalam tudung ketat yang dipakainya. Seperti tak ingin berhenti. Hal itu mendukung kecurigaanku terhadapnya, aku yakin cairan hijau  itu bukan sekedar cairan hijau. Itu terlihat seperti darah. “Ya, kau alien?” tanyaku, dengan nada mengejek yang seharusnya tidak kugunakan disaat seperti ini.

Ia bernapas dengan berat, tangannya mencoba mencapai sesuatu, namun ia tampak kepayahan. Karena tak tega melihatnya tak berdaya seperti itu, aku memecahkan lagi beberapa kaca depan pesawat itu –yang anehnya terasa panas – agar dapat benar-benar masuk. Aku memasukkan badan kecilku dan melihat kearahnya. “Baiklah, aku akan membantumu namun aku tidak bisa menjamin kau bakal keluar dengan kondisi utuh”

Ia tampak tidak peduli dengan perkataanku dan terus mengerang menunjuk sesuatu. Aku mengikuti arah jarinya, lalu mendapati tombol berwarna merah, biru, dan hijau yang bercahaya seperti bintang-bintang glow in the dark di langit-langit kamarku. “Kau mau aku menekan itu?” Kataku sambil menunjuk ketiga tombol itu. Ia mengangguk.

“Merah?” Tanyaku sambil menunjuk tombol berwarna merah. Ia menggeleng dengan setengah menangis. Sumpah, ia terlihat seperti orang yang tak punya harapan hidup.

“Biru?” Aku menunjuk tombol biru.

Ia mengangguk berkali-kali seraya menangis lega. Aku tidak bisa melihatnya tersenyum karena ia terlihat sangat kesulitan dengan posisi terjepitnya. Tapi kelihatannya itu sangat menyakitkan. Ia tidak bisa keluar dari kursinya karena sabuk yang dikenakannya.

Usai menekan tombolnya, terdengar suara mesin yang menakutkan. Kupikir pesawat ruang angkasa itu akan berubah seperti robot-robot di transformers. Tapi ternyata efek dari menekan tombol itu hanyalah. Menyalakan lampu.

Help me” Ia akhirnya dapat berbicara.

“Apa?” Tanyaku. Otakku terasa familier dengan kata-kata itu. Apa itu artinya tolong? Jika iya, apa yang harus kulakukan?  Oke, aku tahu aku pasti terlihat sangat bego. Maksudku, tentu saja aku harus melepas sabuk itu agar ia dapat bebas.

Dia terus mendesis dan mengerang menahan sakit. Itu membuatku khawatir. Dengan kikuk, aku mencoba setengah berdiri dan melepas sabuk itu agar tidak melintang menahannya dari tempat duduk.

Lalu gedebukk!! Bodoh, aku tidak sempat memikirkan kemungkinan bahwa ia akan jatuh dan menimbulkan bunyi sekeras itu. Aku memandanginya takjub. Ia mirip model iklan OK Cashbag yang luar biasa tampan itu. Terlepas dari tudung ketat yang menutupi seluruh kepalanya. Ia memang sangat tampan, mengurangi kecurigaanku bahwa ia alien. Maksudku, alien itu kan biasanya mempunyai penampilan aneh. Seperti Mister Spock misalnya, wajahnya berkeriput dan telinganya runcing, atau seperti Piccolo, ia berwarna hijau tak masuk akal.

“——————————-” Ia berujar dengan bahasa entahlah lagi.

“Apa?”

“——–, Sorry—-

Aku mengangguk saja mengiyakan apa yang barusan ia bicarakan, kayaknya tadi ia bicara bahasa Inggris dan aku dapat mengartikan Sorry saja, yang lainnya aku tidak tahu.

Sekarang aku benar-benar panik. Apa yang harus kulakukan setelah ia seperti ini. Dari yang terlihat aku tidak mungkin kuat mengangkatnya sendirian. Aku hanya gadis 16 tahun dengan bobot 38 kilogram. Dan orang ini –aku masih ragu apakah ia benar-benar orang – bisa berbobot  lebih dari 20 kilogram di atasku. Aku segera melenyapkan pikiran-pikiran dikepalaku –juga bahwa ia mirip model iklan OK Cashbag– dan fokus pada situasi genting ini. Kondisinya tidak tampak lebih baik. “Bertahanlah, aku akan mencari bantuan” Kataku.

Aku merangkak keluar dari pesawat itu dan melihat cahaya yang berasal dari senter-senter di ujung jalan, sepertinya sekarang sudah ramai. Pikiranku mengatakan bahwa aku harus cepat-cepat meminta bantuan mereka.Namun instingku memberontak dan memilih untuk tidak percaya pada orang-orang dengan senter disana dan kabur saja. Padahal aku tidak mungkin meninggalkan pria alien ini disini, sedangkan orang-orang bersenter di ujung jalan itu tidak bisa kupercaya. Posisiku sekarang benar-benar terjepit. Aku tidak membawa ponsel bersamaku, dan cepat atau lambat orang-orang di ujung jalan itu akan pergi ke tempat ini. Jadi, satu-satunya pilihan yang tersedia adalah, aku harus menyelamatkan alien ini seorang diri dan berlari ke hutan.

 

Hal yang menguatkan kecurigaanku terhadap orang ini –bahkan jika bukan – bahwa ia bukan manusia adalah jika berat badannya luar biasa ringan. Berbeda dari ketika aku menggendong anak-anak kecil. Menggendong alien ini lebih seperti menggendong tas sekolah, bahkan baju astronotnya tidak memberatkanku walau sedikit merepotkan, harus kuakui.

 

Setelah memecahkan kaca depan pesawat agar kami berdua dapat lewat tadi. Selama beberapa saat aku hanya bisa membeku dan berputar-putar dalam pikiranku. Jika dipikir secara logika, dengan berat badan kurang dari 40 kilogram begini aku tidak mungkin kuat untuk menarik pria itu. Jika ditaksir berat badan rata-rata pria itu antara 50 sampai 60 Kilogram. Lihat betapa jauh bedanya. Aku tidak cukup kuat untuk membawanya pergi dari tempat itu. Bahkan menariknya  dari pesawat ini pun aku ragu.

Dengan perasaan pasrah, akhirnya aku berusaha sekuat mungkin untuk menariknya. Namun hasilnya sangat-sangat mengejutkan. Aku berhasil menariknya.

Lalu tiba-tiba ada dua hal yang langsung muncul dikepalaku. Apa yang sebenarnya dimakan pria ini? Dan apakah dia benar-benar alien? Karena berat badannya yang kelewat ringan itu sangat tidak masuk akal.

Tanpa bertele-tele lagi. Aku segera menggendongnya dan berlari ke dalam hutan. Hutan itu untungnya tidak lebat dan aku cukup pintar untuk mencari jalan pulang. Yah, pendidikan pramuka yang Ayah paksakan padaku ternyata cukup berguna. Setelah mencapai jalan aspal di dekat mini market, aku cepat-cepat berlari menuju gang ke rumah kami. Tidak ada seorangpun yang keluar dari rumah anehnya, tidak Chulsoo, atau Ayah. Kupikir bunyi tabrakan pesawat ruang angkasa yang menghempas tanah tadi cukup keras.

 

Sesampainya di rumah, dengan sedikit berkeringat. Aku disambut oleh gonggongan Roki yang agak serak sehubung ia sudah tua. Karenanya aku tak perlu lagi menekan bel pintu. Roki sudah jadi bel pintu yang cukup efektif.

Aku melirik sekilas ke arah orang ini, dan ia sudah jatuh tertidur di pundakku. Darah hijaunya menetes pada kaosku, tapi tidak berbau amis malah baunya seperti daun atau semacamnya. Aku tidak bisa melepaskan mataku darinya. Rasanya seperti dipeluk oleh model iklan Ok Cashbag itu. Dan aku selalu bermimpi dipeluk olehnya. Rasanya seperti mimpi jadi kenyataan, padahal makhluk yang kugendong ini sama sekali bukan dia.

Tiba-tiba pintu terbuka. Muncul wajah Chulsoo dari pintu, diikuti Ayah. Sekilas kulihat wajah bahagia mereka, sedetik kemudian ekspresi mereka berubah. Aku mengerti, mereka pasti kecewa karena aku telah menghancurkan ekspektasi mereka soal pangsit Nyonya Yoo dan malah membawa orang asing berlumur cairan hijau, yang sepertinya itu darah.

Noona,.. kau tidak apa-apa? Siapa ini?” Kata Chulsoo dengan tampang bego.

“Lebih tepatnya, apa ini?” Kata Ayah sambil mencolek darah hijau yang menetes di kaosku.

Aku tidak bisa menanggapi pertanyaan Ayah atau Chulsoo sekarang. Yang kupikirkan sekarang adalah, bagaimana bisa orang-orang yang ada di depanku ini tidak mendengar suara tabrakan ketika pesawat ruang angkasa pria ini beradu dengan tanah? Ini aneh.

“Ayah dan kau tidak mendengar apapun?” Kataku pada Chulsoo.

To Be Continued…

Catatan Author

Jujur gue ragu ketika ngetik ‘To Be Continued’. Gue takut proyek gue kali ini mandeg di tengah jalan kayak ff gue yang lain. Hanya itu yang gue takutin. Soal readers dan cast kurang populer gue rasa gue nggak begitu peduli.

Gue cukup sadar jika cast yang gue angkat dalam cerita ini emang ‘kurang’ dikenal. Tapi sebenernya gue mau coba aja gitu, gue pengen ngetes seberapa kuat gue dalam membuat plot cerita. Apakah karakter yang gue buat cukup kuat untuk cerita ini? Apakah tulisan gue ini cukup mengena?

Mungkin gue terdengar terlalu narsis dan sebagainya. Tapi gue mengakui diksi gue itu biasa banget. Nggak sebagus author-author ff jaman sekarang.

Gue ketar-ketir waktu ngepost ini. Jari-jari gue berasa tremor sampe-sampe sering typo. Entahlah, rasanya kayak menghadapi trauma gitu.

Buat readers.. yang baca. Thanks banget udah baca ff absurd gue ini. Sori banget gue belum bisa nge-update cerita gue yang lain karena gue (jujur) masih buntu.

Gue juga nggak bisa jamin ff ini bakal selesai. Tapi kali ini gue bikin plot yang lebih jelas. Gue udah ngerancang kerangkanya, dan gue tahu gue kudu gimana.

Sekali lagi Thanks. Gue sayang sama kalian, pake banget!! <3333

Himrasaki :3

ahnmr

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s