Rush (Ficlet)

RUSH

Author: Ahnmr|| Genre: Alternate Universal, Romance-Comedy || Lenght: Ficlet ||Disclaimer: Janji Joni (2005)

Cast:

Byun Baekhyun || Bae Suji || Yoo Jae Seok

Summary: Ini pertama kalinya Baekhyun pergi kencan…

Seorang gadis dengan terusan putih gading memasuki sebuah restoran mewah disebuah jalan kecil di Dosan. Ia membawa tas jinjing kecil berwarna coklat krim. Rambut hitamnya digerai, jatuh dengan indah diatas bahunya. Tampak sedikit polesan bedak diwajahnya serta goresan tipis gincu merah jambu dibibirnya. Menurut pengalaman yang ia pelajari, pria tidak suka dengan wanita yang berdandan berlebihan. Jadi ia mencoba berdandan senatural mungkin kali ini.

“Meja nomor 3…” Gumamnya lirih.

Saat menemukannya kosong ia hanya bisa tersenyum tipis. Pria memang selalu terlambat, pikirnya. Ia melangkahkan kakinya ke meja itu dan duduk dalam diam sambil mengeluarkan ponselnya dari tas. “Ternyata, aku datang terlalu awal”

Ia tersenyum dan meletakkan ponselnya diatas meja.

Baekhyun P.O.V

Kuperhatikan pantulan diriku di kaca. Senyum yang tercipta di wajah pria bodoh itu buruk sekali. Apa ia benar-benar tersenyum, atau mencoba tersenyum? Lalu kemeja itu, apakah ia tidak punya kemeja yang lebih baik?

Aku menghela napas panjang dan berusaha keras untuk menepis segala pikiran-pikiran buruk yang beterbangan kesana kemari dikepalaku. Ini kencan pertamaku, aku tidak boleh menghancurkannya. Apalagi jika gadis itu adalah Bae Suji.

Oke, mungkin aku tak berhak menilainya tapi aku harus memberitahu kalian seperti apa dia.

Dia hanya gadis biasa yang agak lebih cantik dibanding gadis-gadis di kelasku. Ia juga kebetulan murid teladan. Entah bagaimana caranya suatu hari temanku dari klub catur tahu bahwa aku ‘lumayan’ tertarik padanya. Lalu dia memaksaku untuk mengajaknya kencan.

Kau pasti sudah bisa menebakkan apa yang terjadi selanjutnya?

Jadi, aku –dengan terpaksa, gugup, khawatir. Pokoknya perasaanku campur aduk. Dan kau tahu? Teman sialanku itu mengumumkan bahwa aku akan mengajak Suji kencan, ke semua orang yang ada di lorong waktu itu, jadi perhatian langsung tertuju padaku. Aku tidak bisa bersikap seperti pengecut dan lari kan? Maka dari itu mau tidak mau aku harus mengatakannya juga– mengajaknya kencan. Jantungku berdegup sangat kencang. Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk aku sudah merancang berbagai ungkapan-ungkapan cool dikepalaku. Berbeda dari yang kuperkirakan, ternyata ia menerima tawaran kencanku.

Lalu mendadak badanku panas dingin. Aku tidak pernah kencan, teman! Aku bahkan tak memikirkan peluang itu karena terlalu fokus pada penolakannya. Entah kenapa aku jadi menyesal telah salah menilai Suji.

Akhirnya aku menentukan tempat itu “Di Dosan Sideway, kau tahu kan? Aku akan memberitahumu meja nomor berapa dan jam berapa” Ujarku sembari memberikan isyarat telepon dengan kelingking dan ibu jariku. Meski aku berbicara dengan lagak sok cool begitu. Aslinya aku tidak siap, Dosan Sideway? Tempat itu jelas akan menguras habis uang sakuku selama lima bulan.

Sebelum aku keluar dari kamar, aku membenarkan lagi dasiku dan tersenyum pada diriku. “Semuanya akan baik-baik saja”

Sekarang kalimat ‘Semuanya akan baik-baik saja’ terdengar seperti omong kosong bagiku.

Aku tidak pernah berharap malam ini akan jadi serumit ini, Oke? Empat puluh lima menit tiga puluh empat detik yang lalu aku barusan keluar dari kamar, pamit pada keluargaku untuk kencan istimewa bersama Bae Suji. Tapi sekarang aku justru berada di RUANG BERSALIN??!!

Empat Puluh Lima Menit Tiga Puluh Detik yang lalu…

Aku keluar dari kamar, mengatur napasku dan memasukkan permen mint ke dalam mulutku. Kulihat Ayah dan Ibu tengah sibuk degan kompetisi mengerjakan soal matematika mereka –Ayah dan Ibuku mempunyai cara bermesraan yang unik berkat pekerjaan mereka sebagai guru matematika– kedua adik kembar perempuanku masih betah saja membaca buku cerita berbahasa rusia –kalian boleh menyimpulkan bahwa aku yang paling normal di keluarga ini.

“Wah, wah, wah… Kakak tampan sekali” Celetuk Hyeri, salah satu adikku.

Aku membenarkan jasku dengan pongah dan mengedikkan dagu. “ Aku mau pergi kencan, kencan pertama lhoh” Kataku sambil menyembul poni rambutku yang jatuh, “Tentu saja harus terlihat ganteng” Imbuhku.

Dari ekor mataku dapat terlihat jika mereka tengah memutar-mutar bibir mereka jengkel. “Kau mau pergi kencan?!” Tanya Ibuku panik.

Pandanganku mengarah pada Ibu. Aku mengangguk dan tersenyum kalem. “Iya, Bu” Jawabku.

Kupikir Ibu akan meledak seperti Ibu-Ibu lain yang tahu jika anak laki-laki mereka satu-satunya akan pergi kencan. Masalahnya Ibuku tidak seperti Ibu-Ibu lain. Dia tidak khawatir dengan perempuan seperti apa yang akan kutemui ia hanya khawatir jika aku bikin masalah, jadi ia mengatakan, “Jangan buat masalah, Oke?”

“Memangnya aku terlihat seperti akan buat masalah?”

Ibu tidak menjawabku, ia malah kembali lagi pada ‘kemesraannya’ bersama Ayah. “Baiklah, doakan kencan pertamaku baik-baik saja”

Setelah itu aku keluar dari apartemen. Berjalan menuju lift, berpikir bahwa semuanya akan menyenangkan. Lalu rasa gugupku mulai sirna, dipupuk oleh antusias luar biasa. Sambil menggosok-gosok tanganku agar tidak kedinginan, aku mulai berpikir bahwa kencan pertamaku tidak akan semengerikan yang kupikirkan.

Sampai aku masuk ke dalam taksi itu.

Beberapa Waktu Setelah Baekhyun Pergi

Author P.O.V

Hyeri menatap Ibunya dengan sorot mata menyelidik. Genggaman tangan Ibunya terhadap pensil tampak makin mengendur. Suasananya juga tidak seseru sebelum kakaknya keluar dari kamar. Ada yang salah dengan ini.

“Bu, sebenarnya kenapa jika Kak Baekhyun kencan?”

Kembarannya Hyera melirik ke arah Ibunya dan menutup buku bahasa rusianya. “Iya, Bu. Kenapa memang?”  Tambah Hyera.

Ibunya tampak gelisah. Setelah menguatkan diri untuk bercerita, akhirnya cerita itu keluar juga dari bibirnya. “Sebenarnya…”

“Sayang, kau akan ceritakan itu? Tidakkah itu memalukan?” Ayah mereka menghentikan sang Ibu.

Ibu Baekhyun menyeringai ke arah si Ayah dan mendengus. “Lagian aku tidak akan memberitahu mereka soal yang itu” Tampiknya. Lalu Ayah Baekhyun mengangguk, mengalah sebelum istrinya murka karena tak suka dipotong kalimatnya.

“Jadi, sebenarnya…” Hyera memancing Ibunya agar bicara.

“Sebenarnya, setiap anak laki-laki di keluarga Ayah selalu memiliki kencan pertama yang buruk, itu sudah terjadi semenjak beratus-ratus tahun yang lalu, seperti kutukan. Ibu takut gadis yang menunggu kakak kalian akan kecewa…”

“Tapi,” Ibu mereka tersenyum menjijikkan –bagi Hyera dan Hyeri, tidak bagi Ibu dan Ayah mereka– ke arah Ayah mereka. Kemudian melanjutkan ceritanya, “Meski harus seperti itu…”

Baekhyun P.O.V

Aku tidak tahu apa makanan sopir taksi ini, tapi dia sangat cerewet. Bahkan lebih cerewet dari trio penggosip di kelasku.

Kupikir aku beruntung ketika masuk ke dalam taksi itu karena ia sangat ramah. Seperti kebanyakan sopir taksi, ia menanyakan pertanyaan standar yang diberikan sopir taksi lain padaku. “Mau kemana, Tuan?” Ucapnya seraya tersenyum padaku lewat kaca tengah.

“Dosan Sideway Restaurant” Ujarku, membalas senyumnya.

“Wah, Tuan pasti akan kencan ya?” Goda sopir taksi itu.

“Iya, Pak” Aku tersenyum malu-malu dan mengangguk.

Lalu taksi itu berangkat dan melenggang masuk ke jalanan. Pembicaraan berakhir disitu, tapi aku salah. “Wah, seharusnya tuan membeli bunga agar terkesan romantis, wanita biasanya suka bunga, tuan. Seperti mawar merah misalnya, itu artinya tuan mencintai gadis tuan atau artinya juga bisa gairah cinta, kalau…blah blah blah…Jika tuan ingin membeli satu, saya tahu toko bunga yang masih buka di jam seperti ini lho tuan.

Aku tidak tertarik jadi tukang kebun. Dan lagi, aku curiga ia hanya mencari-cari cara agar aku membayar tarif taksi dengan mahal. Meski bunga-bungaan itu rasanya akan menarik juga. Wanita mana yang tidak suka diberi bunga oleh pria yang menyukainya. Paling tidak hatinya akan berdesir.

“Jadi tuan mau beli bunga tidak?”

Aku berkedip-kedip dan menelan ludah. Aku tidak yakin ini keputusan yag tepat. “Baiklah, antar aku kesana”

Sopir taksi itu walau cerewet ternyata pintar juga. Ia memberitahuku untuk megambil mawar putih karena mawar putih berarti ketulusan cinta. Yah, meski aku agak ogah-ogahan pergi kencan. Bukan berarti aku tidak mencintainya dengan tulus.  Aku hanya merasa ini bukan waktu yang tepat untuk berkencan. Karena pertama, aku tidak persiapan. Kedua, aku tidak merasa malam ini akan jadi malam yang baik. Jadi dengan mawar putih ini aku akan menunjukkan ketulusanku.

Setelah keluar dari toko dengan setangkai mawar putih yang harum. Aku segera melangkah masuk ke dalam taksi Tuan Yoo –ia orang yang sangat ekstrovert, ia bahkan sempat memberitahuku bagaimana ia pernah dikejar-kejar penagih hutang– dan tersenyum lebar padaku lewat kaca tengah seperti yang tadi-tadi.

“Terimakasih, bunganya wangi juga” Aku berkomentar.

Baru saja tanganku akan meraih pintu untuk menutupnya tiba-tiba ada seorang pria membuka lebar pintunya dengan panik. Ia memakai jas perlente, hanya ekspresi diwajahnya dan wanita hamil yang berteriak-teriak penuh derita disampinya mengenyahkan ‘keperlenteannya’.

“Argh!! Urrghh”

Entah apa yang harus kukatakan, aku hanya terlalu kaget dan terkejut untuk dihadapkan pada semua ini.

“Sayang, masuklah! Kau akan baik-baik saja, masuklah”

Tiba-tiba aku sudah tergencet ke pintu taksi. Dan wanita hamil itu berteriak-teriak sambil menjambak-jambak rambutku. Belum puas, ia masih mencakar-cakar tanganku dan menggigit lenganku.

Sumpah, siapapun yang menghamili wanita ini harus bertanggung atas rasa sakit yang kuderita.

Pintu ditutup, suami wanita itu duduk dijok sebelah sopir dan berkata “Rumah Sakit Ahnsei, Pak” Katanya, memegangi tangan wanita itu sambil mewanti-wantinya agar tenang –lebih seperti menyuruhnya untuk berhenti teriak-teriak. Aku heran, ia bahkan tidak melihat aku yang sekarang juga penuh derita dan perlu buaian.

Aku seharusnya kencan malam ini bukannya ke rumah sakit bersama orang hamil dan dijambak-jambak seperti ini. “Ya! Tolong bantu istriku!!” Teriak suami wanita itu padaku. Aku tersentak kaget. Maksudku, apa dia tidak melihatku yang seperti ini? Apa ia buta? Aku juga sakit, Pak!!!

Namun aku berakhir mengatakan, “Iya, iya, Nyonya (Ahjumma) sekarang ikuti saya,…”

AHJUMMA!!!!????????” Teriak wanita itu sambil melirik horor padaku. Ups, apa aku salah bicara?

Ia menjambak rambutku dan aku tidak bisa untuk tidak ikut teriak bersama wanita hamil itu. “AKU MASIH DUA PULUH DELAPAN TAHUN!!!!” Ia berteriak lagi, kali ini aku hampir merasakan rambutku tercabut dari akarnya.

“Baiklah, Noona, ikuti saya, tarik…keluarkan…” Kataku membimbing wanita hamil itu agar mengikuti tempo napasku. Ia mengikutiku dan berhasil menahan rasa sakitnya sampai kami berada di depan UGD.

Entah ada bisikan apa yang membuat aku keluar mengikuti wanita hamil itu, bahkan tidak hanya aku, si sopir taksi Tuan Yoo juga mengikuti kami masuk ke UGD.

“Tuan, silahkan masuk bersama istri anda” Seorang suster mendorongku masuk ke ruang bersalin. Aku hanya bisa melotot tidak mengerti pada situasi yang terjadi. Kenapa jadi aku yang harus tersiksa lagi, lagipula bukan aku yang menghamilinya disini, jadi kenapa harus aku yang tersiksa karena dicakar-cakar dan dijambak-jambak.

“ARGGH!!!” Aku ikut berteriak bersama wanita itu.

Akhirnya setelah 25 menit tersiksa bersama wanita melahirkan aku dapat bebas. Aku cukup senang melihat seorang bayi laki-laki lucu yang dilahirkan wanita itu. “Terimakasih” Kata wanita itu padaku dengan lemah.

Aku hanya mengangguk, lalu suami wanita itu menghampiri kami dan menangis bahagia disamping istrinya. Tuan Yoo juga ikut menangis disampingku yang membuatku benar-benar tidak mengerti.

“Nak! Siapa namamu?” Tanya suami wanita itu

“Byun Baekhyun?” Jawabku malu-malu.

Ia tersenyum pada istrinya dan mencium keningnya. “Kita akan menamainya Baekhyun”

Jika saja aku bisa menikmati momen bahagia itu lebih lama mungkin aku akan sangat bahagia –apalagi jasaku diabadikan dengan nama bayi itu. Masalahnya di tempat lain, berpuluh-puluh blok dari sini ada hati gadis yang harus kubahagiakan, dan dia sudah mengirim lebih dari 43 pesan untukku, dan 32 panggilan tidak terjawab.

“Maaf, tapi saya harus pergi” Kataku pada keluarga baru itu.

Dengan segala upaya aku berlari sekencang mungkin keluar dari rumah sakit. Setelah itu aku berlari menyebrangi perempatan ke arah timur. Tidak peduli lagi apakah aku harus menabrak orang atau aku harus sakit karena tubuhku beraduh dengan lautan manusia.

Mungkin aku sangat bodoh karena tidak berpikir apakah ada cara yang lebih efektif untuk mencapai Dosan Sideway dalam waktu singkat. Sebenarnya aku tak sempat berpikir. Aku hanya berpikir bahwa Suji kecewa, ia akan membenciku jika aku terlambat lebih lama lagi. Dan aku tidak ingin kehilang dia. Aku mencintainya, setulus seorang suami yang rela dijambak-jambak oleh istrinya yang sedang melahirkan.

Rasanya tak mungkin aku dapat menempuh jarak dari Perempatan Ahnsei sampai Perempatan Dosan dalam waktu kurang dari dua puluh menit. Padahal itu jauh sekali –dalam bayanganku– dan aku tidak percaya aku dapat melakukannya. Ketika aku sedang menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala, tiba-tiba aku merasa pinggangku diraba-raba –secara harfiah. Dan ketika aku menoleh kulihat seorang bocah lusuh mentapku kaget dan berlari meninggalkanku.

“HEI!!! COPET!!!” Teriakku, mengejarnya.

Larinya sangat cepat, ditambah aku terlalu lelah karena sudah berlari entah berapa blok dari Rumah Sakit Ahnsei.  “Copet!” Seruku lemah. Akhirnya aku ambruk dengan lututku. Pada detik selanjutnya aku hanya bisa berharap agar pencopet itu terkena kutukan atau semacamnya karena dia telah meraba-raba pinggang perawanku. Sialan.

“Hei, Nak!”

Sebuah mobil berwarna kuning –taksi– berhenti disampingku. Terlihat penampakan Tuan Yoo yang berkacamata dari jok kemudi. “Aku mencarimu, Nak!” Serunya dari dalam mobil.

Napasku tersengal-sengal, namun aku masih sempat tersenyum getir padanya. “Malam ini aku sial banget, Pak” Ujarku.

Ia menilaiku dari atas sampai bawah. Mungkin aku terlihat seburuk itu sampai-sampai seorang sopir taksi mengasihani aku. “Bagaimana jika tumpangan gratis ke manapun kau pergi?” Ia bertanya padaku.

Tawaran yang menarik, pikirku. Aku berdiri dari posisi dramatisku dan membuka pintu depan taksi itu. Aku dan Tuan Yoo saling tersenyum. “Dosan Sideway” Aku memberitahunya. Lalu mobil itu melesat dengan kecepatan cahaya –nggak juga, aku hanya melebih-lebihkan.

Semenit kemudian kami sampai di depan Dosan Sideway Restaurant. Tepat ketika Suji melangkah menuruni tangga. “SUJI!!” Seruku dari dalam taksi, buru-buru keluar menghampirinya.

“SUJI!!!” Teriakku.

Ia menghentikan langkahnya dan melirik kearahku. Sorot matanya menilai dengan horor, sedetik kemudian ia tersenyum geli. “Kau sehabis syuting film aksi atau bagaimana?”

Aku menggigit bibir, memaksakan senyum, dan mengedikkan bahuku malu-malu. “Ceritanya panjang”

Ia menuruni tangga restoran dan berdiri di depanku. “Kau buruk sekali” Katanya, mengaduk-aduk tasnya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan. Kemudian ia menghapus keringat diwajahku dengan sapu tangan itu.

“Maafkan aku” Kataku, menyodorkan tangan kananku yang masih menggenggam erat pada mawar putih yang kubeli tadi –aneh, aku tidak menyangka aku masih memegangnya setelah dijambak-jambak oleh wanita melahirkan dan mengejar copet.

Suji terkekeh dan mengambil bunga itu dari tanganku, kemudian memperlihatkannya padaku. “Terimakasih” Katanya. Dan sayangnya bunga itu patah. Pasti patahnya karena aku memegangnya terlalu erat.

“Maaf, seharusnya tidak seperti ini… aku.. aku… maaf”

“Aku senang melihat sisi konyol Byun Baekhyun. Tidak biasanya ia terlihat seperti ini, kupikir ia laki-laki yang dingin dan sok, tidak sensitif, ternyata ia tidak seperti itu”

Apakah aku terlihat seperti itu? Tanyaku dalam hati. Namun aku berakhir tidak memikirkannya karena setelah itu kudengar suara klakson dan teriakan, “Nak, bersenang-senanglah” Lalu taksi itu melenggang pergi.

“Jadi, bagaimana ceritanya kau bisa sampai begini?” Tanya Suji.

Aku tersenyum padanya dan menggenggam tangannya. “Akan kuceritakan sambil jalan-jalan”

Suji tersenyum padaku dan menyandarkan kepalanya di bahuku.

Author P.O.V

“ –Biasanya mereka adalah orang yang paling menerima kita apa adanya” Lanjut Ibu Baekhyun.

fin

-o-

Maafkan lagi ke-alay-an saya. Lagi-lagi saya harus membawa shippingan gaje ini lagi. Saya juga nggak habis pikir waktu bikin fic ini. Kenapa bisa jadi sehancur dan serancu ini.

Tapi siapapun yang baca fic ini, kalian memang luar biasa. Apalagi kalo mata kalian masih baik-baik saja setelah membacanya.

Ini mungkin bukan fic terbaik saya, sayajuga masih banyak kurangnya, sori banget.

Yang terakhir, Maafkan segala typo dan kalimat yang barangkali belum selesai. Kalo kalian bingung, tanya aja nggak apa-apa. Toh, fic ini dibikin dengan terburu-buru (rush)

Ahnmr

0o.00

15/12/2013

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

18 thoughts on “Rush (Ficlet)”

  1. Tinggalin jejak dl~~~nemu jg ff suji yg mcam gini hahahaha overall lucuuu bgt..endingnya happy :”) tdnya aku kira bkal sad gituu hahahaha. Cuma nih tips dari aku, gimana kl kata2 panggilan ke seseorang; semacam ayah/ibu better pake kata2 koreanya; appa/eomma; (biar lebih enak aja dibaca,krna berhubung ini ff cerita negeri ginseng sana) kk. salam kenal deh author-nim :3 aku baru sekali ini mampir kkk~tetap di pertahankan kadar gilanya yaa *kabor*

    1. Aku bahagia banget ada yang komentar panjang!!! Aduh makasih ya atas tips-nya. Tapi editorku bilang karena ceritanya pake bahasa indonesia, lebih baik pake bahasa indonesia yang baik dan benar. Tapi, oke deh, kadang-kadang emang nggak selalu pas sih, but thanks banget udah komentar panjang (^o^)

  2. Ini kesannya aku telat bgt ya baru nemu ini FF..
    Tp ngga papa lah, aku yakin author ngga bakal gigit(?)

    Review dikit..
    Ini FF kesannya simpel, asik, GOKIL, dan aku suka sama karyamu ini thor 😀
    Aku mau minta izin ngubek-ubek sekalian yaa..

  3. Kesannya aku telat bgt baru nemu ini FF..
    Tp ngga papa lah, aku yakin author ngga bakal gigit(?)

    Review dikit..
    Ini FF kesannya simpel, asik, GOKIL, dan aku suka sama karyamu ini thor 😀
    Aku mau minta izin ngubek-ubek sekalian yaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s