[Fic] Paint It Gold 1-2

Paint It Gold

Author: Ahnmr || Cast: Do Kyungsoo/D.O (EXO), Lee Jieun/IU (Singer/Actrees) || Genre: Romance-Drama, Action (Sithik), Politics || Rating: 15+

Ganjil: Kyungsoo P.O.V

Genap: Jieun P.O.V

PAINT IT GOLD

I

 

Di masaku, manusia terbagi menjadi empat kelompok. Elite, Believer, Unbeliever, dan Exile. Kelompok pertama adalah lingkaran yang terdiri dari orang-orang yang dianggap unggul, yang memiliki hak dalam kursi pemerintahan, menggerakkan roda perekonomian, dan menciptakan keteraturan bagi umat manusia.Kelompok kedua atau Believer adalah orang-orang religius yang lebih suka menyendiri di dalam gunung bertolak belakang dengan Elite, jarang sekali ada yang melihat seseorang dari lingkaran itu, bahkan keberadaan mereka masih dipertanyakan. Konon kelompok itu menyusup ke dalam Elite secara diam-diam. Ketiga, Unbeliever, adalah orang-orang biasa di lingkaran Elite, secara umum mereka disebut dengan publik, atau masyarakat madani, atau begitulah yang kudengar dari radio. Sedangkan kami, Exile adalah kelompok terakhir dari keempat kelompok itu. Kami adalah orang-orang terbuang dari dunia, hidup seperti tikus di kota tertinggal jauh dari pemukiman yang layak. Berusaha keras bertahan hidup dari limbah bahan kimia dan sinar UV yang menyengat.

 

Aku tidak pernah mengerti kenapa dunia membuang kami. Namun dari manuskrip kuno yang kubaca. Setelah perang dunia ketiga, hanya kelompok Exile yang tidak ingin bersatu dalam pemerintahan yang dipimpin Elite. Sehingga mereka membuang kami ke jalanan dan memperlakukan kami seperti kecoa.

 

Kecuali satu hari dari setiap tahun.

 

8 Years Old

 

Hari itu adalah hari pertama pada musim semi.Sudah rahasia umum jika hari itu diadakan karena belas kasih para Elite pada kami. Sujujurnya itu membuatku sedikit terhina.

 

Hari itu biasanya aku bersama Ayahku dan kedua puluh orang lainnya pergi ke kota menaiki bus tua karatan yang jadi satu-satunya alat transportasi kami ke kota pimpinan para Elite. Hari itu juga, aku bertemu dengannya.

 

 

Sebenarnya Ayahku tidak pernah suka pada para Elite seperti kebanyakan Exile. Namun aku tahu ia selalu berusaha keras menahan gengsinya ketika itu berhubungan dengan kesejahteraan keluarga dan kerabatnya.

 

Sebelum kami naik ke dalam bus. Kami diperiksa oleh beberapa penjaga keadilan. Mereka memeriksa kondisi kejiwaan kami dan tingkat pencemaran bahan radioaktif pada tubuh kami. Untungnya Ayahku selalu lolos, dan untuk pertama kalinya, aku juga lolos dalam satu kali pemeriksaan.

 

Perjalanan menuju kota terdekat adalah 156 KM, membutuhkan waktu sekitar  3 setengah jam untuk sampai disana. Dan ketika bus pertama kali mencapai kota, aku tak kuasa menahan rahangku untuk tidak jatuh. Itu pertama kalinya aku melihat kota seindah, sehijau, dan seelok itu. Bunga merah muda menghias di pepohonan yang berada dikanan-kiri jalan. Kendaraan mewah berlalu-lalang tanpa peduli, bangunan-bangunan tiga lantai yang masih baru, dan jalanan aspal yang mengkilap seperti pisau metalik. Tempat tinggalku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kota ini. Kota 1323-12.

 

Kami turun disebuah halte yang terlihat tak terawat, ada tulisan Reserved for Exile yang membuatku makin merasa terhina. Tulisan itu seolah-olah mengingatkan kami jika kami masih seorang Exile. Bahwa kami sesungguhnya tidak diterima dilingkungan itu, dan kami tidak seharusnya berada ditempat ini.

 

“Kyungsoo, jangan melamun saja” Tegur seorang tetanggaku. Seorang wanita paruh baya yang kutahu bernama Yun Xia Yi.

 

Aku tersenyum tipis padanya. Terkadang aku berpikir, beruntung sekali menjadi wanita itu. Rata-rata harapan hidup didaerah kami hanya sampai umur 40-45 tahun. Dan aku takut, karena umur Ayah telah mendekati batas itu.

 

“Dilarang melakukan kontak apapun dengan orang didaerah ini, setelah mendapatkan apa yang kalian perlukan dari gudang persediaan, segera kembali ke dalam bus” Ujar seseorang dalam balutan seragam biru muda dan topi bundar mengkilat berwarna perak. Ia kemudian melangkah melewati sebuah jalan paving yang terawat rapi.

 

Ayah bergegas mengikutinya seperti yang lain. Awalnya aku tidak begitu memperhatikan. Tapi orang-orang disekitar kami melihat kearah kami dengan tatapan sinis, beberapa miris. Aku bisa memberitahu lewat pakaian mereka, jika mereka ada dalam lingkaran Unbeliever.

 

 

II

 

Biasanya ayah atau ibu melarangku untuk keluar di hari pertama pada musim semi setiap tahunnya. Dari apa yang kupelajari di sekolah. Hari itu, para Exile yang kejam diizinkan masuk ke dalam kota karena kemurahan hati pemimpin kami. Namun dari yang kuintip dari jendela kamarku, Exile tak pernah benar-benar muncul di kota kami.

 

Ada empat kelompok di dunia ini, hanya dua yang benar-benar kupercayai keberadaannya, Elite dan Masyarakat Madani. Menurut ayahku, begitulah idealnya kehidupan di dunia. Exile dan Believer tak memiliki eksistensi di dunia.

 

Aku tak pernah benar-benar setuju dengan perkataan ayah atau ibuku, guru-guruku disekolah atau mentor privatku. Mungkin aku dapat dianggap mengalami dekadensi pemikiran. Tapi, jika benar beginilah idealnya kehidupan di dunia? Lalu kenapa ada konspirasi mengenai Exile yang hidup menderita di daerah-daerah kontaminasi radioaktif? Bukankah mereka masih manusia? Dan manusia tidak boleh membiarkan manusia lain menderita? Bukankah itu yang dikatakan dalam undang-undang?

 

Entah darimana desas-desus itu beredar. Yang jelas, aku hanya percaya pada diriku sendiri.

 

Hari itu, pertama kalinya aku keluar pada hari pertama di musim semi. Aku menaiki monobike ke pusat kota bersama anjingku, Snowy. Seperti biasa kota 1323-12 selalu kedatangan Exile karena kota kami adalah wilayah terdekat dari kota tertinggal.

 

Aku memandangi halte dengan tiang karatan didepanku. Ada tulisan Reserved for Exile yang miring saking tak pernahnya dirawat. Tak jauh dari tempat itu, terparkir sebuah bus yang tak kalah mengenaskan keadaannya.

 

“Jadi, ini bus para Exile, lalu mana yang mereka bilang soal bazooka atau suntikan virus ebola?” Ujarku pada Snowy.

Snowy menggeleng tidak tahu dengan suara-suara sok imut yang artinya’tidak.’

 

Kukayuh monobikeku ke arah toko permen. Belum sampai ke toko permen tiba-tiba Snowy lari mengejar sesuatu. “Sial” Umpatku. Setelah memarkir sepedaku didepan toko permen. Aku berlari kearah perginya Snowy dan tak menemukannya dimanapun.

 

“SNOWY!SNOWY!!” Teriakku. Aku takut terjadi sesuatu pada Snowy, seperti ia tertabrak mobil atau seseorang menculiknya. Ia satu-satunya sahabatku.

Kekhawatiran itu memuncak ketika aku tak menemukannya digang-gang kecil disektiar daerah itu, aku terus meneriakkan namanya, namun aku tak mendengar gonggongan Snowy.

 

Aku hampir menangis saat tiba-tiba kudengar gonggongan yang sangat kukenal. Aku berbalik dan menemukan seorang anak laki-laki, ia berjongkok dengan Snowy dalam pelukannya.

 

Anak itu berbaju lusuh, ia mengenakan kemeja flanel yang sudah ditambal dibagian dadanya, celana panjangnya robek sedikit dibagain lutut kiri. Rambutnya kering dan sedikit merah. Aneh, ada anak seperti itu ditempat ini. “Guk! Guk!” Snowy melompat dari pelukan anak laki-laki itu dan berlari memutari kakiku kegirangan.

 

“Ia hampir tertabrak mobil, kau harusnya menjaganya dengan lebih baik” Ia mengguruiku.

 

Aku mengernyitkan keningku dan menelan ludah. “Mm, ya makasih.” Ujarku agak ketus.

 

“Eh,oke” sahutnya.

 

Ia buru-buru kembali kearah ia datang, namun tiba-tiba Snowy mengejar dan menggigit celana lusuhnya. “Snowy!” Teriakku. Snowy menghiraukanku dan terus menarik-narik celana anak itu. Anak itu berusaha keras untuk lepas dari Snowy, ia hampir saja menendang kepala Snowy jika aku tidak berteriak, “Jangan menyakitinya!”

Aku berlari kearah mereka, dan berjongkok untuk melepaskan Snowy dari menggigit celana anak itu. “Aku akan merobek celanaku, kau pegangi dia ya” Ujar anak itu.

 

Bodohnya, aku mendengarkannya. Aku memeluk Snowy sedangkan anak itu berusaha keras merobek celananya dengan cengkraman tangannya yang kuat. Setelah akhirnya robek, kami sama-sama terjengkang ke belakang. Pantatku sakit ketika beradu dengan tanah, dan aku tidak bisa menahan pekikanku karena sakitnya.

 

Dada anak itu naik turun, keringat membasahi keningnya, ia tersenyum kearahku dan menggeleng. “Hewan peliharaanmu itu lucu juga” Ujarnya.

 

Aku hanya tersenyum. “Siapa namamu?” Kataku.

 

“Kyungsoo, Do Kyungsoo”

 

Seperti dikejar sesuatu. Anak itu buru-buru berdiri dan untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi, ia tersenyum padaku. “Sampai jumpa” Katanya, lalu ia berlari dan menghilang dikelokan jalan.

 

Setelah ia menghilang, sebersit rasa panik menggangguku. Aku masih terpaku memandang kearah ia pergi saat mendadak pikiranku melayang pada penjelasan guru sosiologi di kelas…

 

“Exile berbeda dari kita, mereka berpenampilan sangat berantakan…”

 

Anak itu, Do Kyungsoo, ia seorang Exile?

Lanjut…

NB: Gue harap cerita ini nggak mengecewakan 😦

Ahnmr

4/8/14

HIMRASAKI

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

7 thoughts on “[Fic] Paint It Gold 1-2”

    1. aku baca hunger games sih, tapi aku nggak baca divergent. Aku sebenernya lebih keinspirasi sama teori” konspirasi dan skenario dunia yang aku baca di indocropcircles, but, thanks for read 😀

  1. Hallow~~~ setelah menyusuri sepanjang jalan kenangan akhirnyaaaaa… Bisa ngasih komentar juga^^ satu, makasih uda ngasih cast Jieun sama Kyungsoooonya, aku nggak sadar kalo ini yang buaaat itu kaaaakaaak loooooo. Haaaaaa… Makasih banget~~ aaaaaaaa lalu, seputar ffnya yaaaa ampuun, bener-benwr kaya masuk ke dunia mereka. Btw, maafkan lah reader nakalmu ini karena baru komen sekarang kk, miaaaaaaan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s