[Fic] Paint It Gold 3-4

Paint It Gold

Author: Ahnmr || Cast: Do Kyungsoo/D.O (EXO), Lee Jieun/IU (Singer/Actrees) || Genre: Romance-Drama, Action (Sithik), Politics || Rating: 15+

Ganjil: Kyungsoo P.O.V

Genap: Jieun P.O.V

 

III

 

Gadis itu, seorang Unbeliever.

 

Aku tidak bisa melupakan wajahnya saat ia mengkhawatirkan anjingnya. Aku tidak bisa melupakan bagaimana mata coklat-keemasannya menganalisis tiap inci tubuhku. Rambut hitamnya tergerai dengan indah tidak seperti gadis-gadis di tempat tinggalku.

 

Selama perjalanan pulang, aku menemukan diriku larut dalam pikiranku tentangnya. Merindukan hiruk pikuk kota itu, dan senyuman gadis itu yang jauh lebih indah dari bintang musim panas.

 

Sambil menatap matahari kejam yang akhirnya menghilang di cakrawala. Aku memejamkan mataku. Ayah mengusap puncak kepalaku dan tersenyum padaku. “Kau lelah?” Tanyanya.

 

“Kurasa” Aku tersenyum pada ayahku dan terjatuh dalam mimpi yang menyakitkan.

 

17 Years Old

 

Malam itu aku tengah menggarap model pesawat yang kutemukan dari reruntuhan kuno di perbatasan utara. Udara sangat dingin, satu-satunya kehangatan hanya berasal dari perapian model kuno diruang tengah.

 

Sebuah ketukan keras menyadarkanku dari model pesawat yang kugarap. Aku bangkit dari kursiku dan mengambil jaket kulit yang tersampir sembarangan dikursiku. Setelah memakainya, aku berjalan kearah pintu.

 

Kutemukan seseorang dalam balutan jaket coklat bertudung. Aku tidak bisa melihat wajahnya, hanya sebuah rokok kuno  yang menyembulkan asap.

 

“Do Hyunseung?” Ia bertanya dengan aksen aneh.

“Mm, ya” Jawabku.

“Undangan dari B, pukul sebelas di balai kota”

 

Aku mengernyitkan keningku dan mengangguk. “Aku akan datang”

 

Pria bertudung itu menepuk bahuku dan tersenyum miring. Lalu ia berlalu pergi sambil celingukan ke kanan dan ke kiri sebelum menyebrang. Setelah melihat pria itu menghilang diperempatan jalan, aku masuk ke dalam rumah.

 

Pertemuan rahasia lain untuk ayah. Hal itu sudah biasa bagiku, bahkan ibu dan adik-adikku pun tahu. Yang tidak kami ketahui adalah apa yang sebenarnya dibicarakan dalam pertemuan rutin itu. Sebagian orang berpikir, pertemuan itu diadakan untuk menentukan nasib kami, para Exile kedepannya. Tapi menurutku sendiri, pertemuan itu lebih dari sekedar menentukan kebijakan bagi para Exile.

 

Ada rumor yang beredar, bahwa sesungguhnya perang dunia ketiga tak pernah usai semenjak tujuh puluh tahun yang lalu. Segala hal yang dikatakan Elite tentang perdamaian dunia dan pentingnya menjadi masyarakat madani hanyalah dalih dari peperangan yang sesungguhnya.

 

Rumor itu membuatku curiga, bahwa kami tengah merencanakan pemberontakan.

 

“Siapa yang datang?” Ibu bertanya padaku seraya berjalan kearah dapur.

“Hanya teman” Jawabku sambil tersenyum.

“Oh, cepatlah tidur. Kau harus pergi ke sekolah besok”

 

Aku mengangguk dan masuk ke dalam kamar. Pintu kamar tertutup rapat, kusandarkan punggungku pada daun pintu sambil melihat model pesawatku yang belum selesai. Tiba-tiba saja benda itu jadi tak berarti lagi. Pikiranku melayang pada teori-teori konspirasi yang pernah kubaca dan kudengar di radio. Jika benar dunia masih ada dalam perang, sesungguhnya siapa yang kami perangi? Para Elite dan Unbeliever? Ataukah kelompok seperti kami yang tidak mau berdamai dengan mereka?

 

 

Semua lampu dirumah telah dimatikan dan aku menyelinap keluar. Lampu-lampu jalan sudah dimatikan seperti biasa. Jalanan gelap gulita, dinginnya malam menusuk pori-pori tubuhku, bintang tak banyak malam itu, namun cukup mengobati rasa rinduku akan indahnya cahaya bintang.

Aku masuk ke dalam balai kota, sebuah bangunan yang dulunya sebuah kasino terkenal, kini dialih fungsikan sebagai balai kota karena masih kokoh diantara bangunan bagus lainnya.

 

Ketika aku datang yang kutemukan hanya empat orang, dua orang dengan jaket bertudung berwarna coklat, serupa dengan jaket yang dikenakan pengantar pesan kerumahku. Dua orang lainnya adalah teman ayah. Aku hanya mengenal satu diantaranya, Tuan Kim Jongmin. Sedangkan pria bermata satu disebelahnya, aku tidak tahu siapa dia. Tapi dia terlihat mengerikan.

 

“Kau bukan Hyunseung” Ujar orang itu.

“Ayah sakit” Kataku, Well, itu memang benar. Ayah sudah sakit-sakitan selama seminggu ini.

“Kau dikirimkan ayahmu kesini, Kyungsoo?” Tanya Tuan Kim.

 

Aku mengangguk padanya. Meski kelihatannya Tuan Kim tahu aku berbohong. Tuan Kim tetap mengangguk dan merangkul bahuku, menuntunku masuk ke dalam ruangan itu.

 

“Jadi, karena kita semua telah berkumpul. Kita akan memulai diskusi mengenai rancangan perjanjian”

 

Semua orang di dalam ruangan itu duduk mengelilingi sebuah meja, termasuk aku. Kami berdiskusi masalah kerjasama dengan para Believer.

 

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat para Believer. Mereka ternyata jauh lebih manusiawi dari yang kupikir. Mereka terlihat seperti para Unbeliever, hanya saja jauh lebih sederhana.

 

Dalam diskusi itu kami membahas  mengenai kerjasama ekonomi dengan para Believer. Dan penyelundupan bahan-bahan pokok ke gudang Exile. Yang kedua, seperti yang kuperkirakan sebelumnya. Kami merencanakan pemberontakan.

 

“Kita harus menarik akarnya, akar para Elite adalah para Unbeliever. Dan seperti kataku, mereka mudah dipengaruhi” Ujar Hikaru, seorang Believer.

 

Aku hanya diam dan memperhatikan arah diskusi itu. Ketika mereka menyebut Unbeliever, gadis itu muncul lagi dalam kepalaku. Dengan senyumannya yang jauh lebih cerah dari bintang di langit musim panas. Dan itu mulai mengganggu akal sehatku.

 

“Jika kau tak keberatan, Kyungsoo. Kami memiliki sebuah tugas khusus untukmu”

 

 

IV

 

18 Years Old

 

Aku tidak pernah percaya pada apapun di dunia ini. Termasuk berita-berita yang beterbangan tiap pagi di layar kaca.

 

Kuakui bahwa pikiranku telah terdekadensi sejak lama. Aku hanya tidak pernah mengakuinya pada siapapun selain diriku sendiri. Kurasa aku memang memiliki bakat jadi pemberontak sejak kecil. Hanya saja aku begitu pintar menahan egoku dan memilih menjadi seorang gadis munafik kesayangan semua orang.

Orang-orang bilang aku gadis superior dengan otak superior. Ayah dan ibuku seseorang berpengaruh dikota. Mereka senang sekali ketika aku mendapat tawaran untuk menjadi Elite. Namun sayangnya, aku menolaknya.

 

Ketika dunia ini terlalu sempurna bagiku, aku justru merasa tidak nyaman. Ada yang janggal dari fakta-fakta yang disebarkan oleh media. Bagaimana semua hal-hal buruk seakan memojokkan satu pihak saja, para Exile. Dan bagaimana media mencoba menutupi adanya para Believer.

 

Aku pernah membaca sebuah file spam yang kutemukan di emailku. Bahwa kami, masyarakat madani menutup mata kami dari kebenaran. Aku tak pernah berpikir itu benar, namun aku juga tak ingin menyalahkannya.

 

“Jieun, kau mendapat telepon lagi dari para Elite”

“Aku tidak mau, ibu” Ujarku sambil melengos.

Ibuku cemberut dan menggeleng padaku. “Tapi ini…”

“Aku tidak mau!” Tegasku.

 

Aku masuk ke dalam kamar untuk mengambil jaket dan beanie. Sambil berjalan keluar rumah, aku memakainya. Aku benci berada dirumah. Setiap hari ayah dan ibu menghasutku untuk menerima tawaran untuk berada dalam lingkaran Elite. Yang dibutuhkan Elite bukanlah aku, hanya otakku yang kebetulan lebih hebat dari kebanyakan orang.

 

“Snowy!” Aku memanggil anjingku yang tengah malas-malasan didalam rumah anjing. Begitu mendengar panggilanku ia segera berlari dan mengejarku.

 

Aku tidak tahu kemana aku berjalan, sepanjang perjalanan aku bercerita pada Snowy jika dunia belakangan ini terlihat lebih menjijikkan ketimbang seharusnya, panggil saja aku gila. Tapi hanya Snowy yang bisa kupercaya saat ini. Aku berhenti bercerita ketika tiba-tiba Snowy menggonggong pada sebuah mobil SUV hitam kuno yang nampak mewah karena cat hitamnya masih mulus.

 

“Ada apa, Snowy?” Kataku.

Gonggongan Snowy semakin lemah, seolah ia kehilangan sesuatu namun ia tak kuasa untuk memilikinya kembali.

 

Aku berjongkok dan mengelus-elus bulu putihnya yang halus. “Tenang, kawan, kau masih punya aku”

 

 

Sekolah lagi, rutinitas yang sama.

 

Ini adalah tahun keduaku di sekolah menengah atas. Dan aku masih tidak tahu apa sebenarnya motivasiku datang ke sekolah. Semuanya sama, gosip yang masih sama semenjak seminggu yang lalu, juga pelajara-pelajaran yang makin lama makin membosankan.

 

Hanya ada satu hal yang baru pagi itu, koreksi, dua.

 

Ada guru baru untuk pelajaran fisika hari itu. Seorang pria empat-puluhan dengan kacamata bulat penuh. Memiliki senyum yang berwibawa, sebuah wajah baru yang tidak banyak kulihat belakangan ini.

 

Kedua, yang baru hari itu adalah seorang murid pindahan dari Kota 1542-12. Seorang anak laki-laki bertubuh kurus dengan rambut hitam kemerahan, matanya bulat berkaca-kaca, senyumnya tanpa dosa, dan ya, tiba-tiba membuatku merasa familier.

 

Ia terlihat percaya diri, namun caranya berjalan terlihat agak buru-buru. Aku tidak mengerti kenapa. Sampai, “Hai, namaku Do Kyungsoo”

 

Pensil yang sedari tadi berputar disela-sela jariku berkelontangan di atas meja. Sontak pandangan seluruh kelas tertuju padaku, termasuk Do Kyungsoo. Do Kyungsoo tampak menerka-nerka siapa aku ketika menemukanku. Namun ia hanya tersenyum.

 

Sebuah senyum yang membuatku terus bertanya-tanya.

Lanjut…

NP: Just another post… i write it while listening to Madeon – Icarus

Ahnmr

4/9/10

Himrasaki

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

3 thoughts on “[Fic] Paint It Gold 3-4”

    1. hello, sorry baru bales ya.makasih udah baca fanfic super duper gaje ini.aku nggak pede banget sebenernya mau nge-post ini hahaha.but thanks for read

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s