[Fic] Paint It Gold 5-6

Paint It Gold

Author: Ahnmr || Cast: Do Kyungsoo/D.O (EXO), Lee Jieun/IU (Singer/Actrees) || Genre: Romance-Drama, Action (Sithik), Politics || Rating: 15+

Ganjil: Kyungsoo P.O.V

Genap: Jieun P.O.V

V

Aku tidak pernah berharap akhirnya akan bertemu dengan gadis itu lagi.

Namun dari sinilah segala hal dimulai, ia, aku, dan dunia. Berperang untuk bersatu.

Aku duduk dibangku tepat dibelakangnya. Bangku paling pojok di dalam kelas. Sebelum aku melihatnya, aku tidak bisa berhenti mengagumi isi kelas yang luar biasa rapi dan canggih. Kursi yang melipat sendiri ketika tidak diduduki dan mewujud lagi ketika akan diduduki. Papan tulis dengan pulpen digital, dan buku tulis berupa sebuah tab transparan. Namun ia membuat fantasiku runtuh, mata coklat-keemasan itu. Ia melihatku lagi.

Tuan Kim dan Hikaru telah melatihku untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan para Unbeliever. Memahami cara pikir mereka, dan mempelajari teknologi mereka, semuanya untuk menunjang rencana kami. Tapi ternyata semua ini lebih merepotkan dari yang kupikir.

Terutama gadis ini, dan seragam sekolah.

Selama pelajaran berlangsung, aku berusaha keras mengikuti kemana guru membawaku dengan materinya. Sulit menyamai pemahaman orang-orang ini karena mereka telah belajar 11 tahun untuk ini sedangkan aku hanya setahun. Belum lagi mereka dapat berkonsentrasi sepenuhnya karena tidak ada seseorang yang menatap mereka dengan skeptis.

Usai pelajaran, gadis itu tiba-tiba berbalik dan mencondongkan wajahnya padaku. Matanya membulat sempurna, bibirnya membentuk O. “Bukankah kau Ex…” Aku membungkam mulutnya. “Diam” Ujarku lirih.
Gadis itu menampik tanganku dan mengangkat alis kirinya. “Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku tidak bisa memberitahumu hal itu” Tentu saja aku tidak bisa. Ia seorang Unbeliever.

Gadis itu mengangkat mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi segera menghentikan kalimatnya saat orang-orang mulai menghampiriku.

Hari-hari selanjutnya hampir tidak ada gangguan. Pencurian senjata, penggalian informasi, penanaman ideologi. Segalanya berjalan tanpa gangguan, jika gadis itu tak terhitung.

Sejak hari pertama aku masuk, gadis itu terus mengikutiku. Semakin hari ia semakin membuatku merasa terganggu dan terancam. Bukan hanya karena ia tahu aku seorang Exile, tapi karena ia juga mengekorku dengan berjuta pertanyaan tentang alasanku berada ditempat ini. Aku tidak bisa memberitahunya tentu saja. Jadi kubiarkan dia mengikutiku tanpa mendapat jawaban.

“Exile tidak mungkin tak melakukan apapun untuk menjatuhkan Elite, kan? Maksudku, mereka kejam terhadap kelompokmu, menyingkirkan kalian ke daerah antah berantah, membuat kalian hidup terlunta-lunta antara kelaparan atau mati. Membuat kalian sengsara. Tidak mungkin jika kalian atau bahkan kau tidak menyimpan dendam pada Elite”

Ceramahnya padaku sepulang sekolah. Aku tidak tahu takdir kejam macam apa yang membuat rumahnya searah denganku. Membuatku terpaksa mendengarkan segala analisisnya yang memojokkanku. Aku juga tidak habis pikir dari mana ia tahu sebanyak itu tentang kami.

Kalau kupikir-pikir lagi. Aku jadi menyesal menyelamatkan anjing putihnya itu. Jika saja aku tidak mengikuti kemana anjing itu pergi, aku tak akan pernah bertemu gadis ini. Dan gadis ini tidak akan tahu bahwa aku seorang Exile.

Aku melirik kearahnya sekilas dan kembali berjalan. “Memangnya dalam kelompokmu tidak ada yang ingin membelot? Pasti seseorang ingin mengubah nasibnya, lalu ia memprovokasi semua orang untuk ikut memberontak” Tuduh gadis itu

Jieun menghentikan langkahnya dan tersenyum padaku. “Aku benar kan?” Well, kuakui semua tebakannya benar. Ia menang dan aku kalah dalam diam. Daripada mengakui kekalahanku, aku terus berjalan meninggalkannya dibelakangku. Tapi nampaknya ia tidak menyerah begitu saja. “Jika kau memperbolehkan, aku ingin ikut dengan pemberontakan itu” Ia berlari dan berjalan mundur untuk menghadangku.

Sontak, langkahku terhenti.

Si otak superior, Sweetheart in town yang mendapat tawaran dari Elite untuk bergabung, ingin memberontak? Dia pasti bercanda.

“Kau bohong” Kataku seraya berjalan melewatinya.

Sebelum aku melewatinya, gadis itu menarik bahuku dan memaksaku untuk menatapnya. “Jika aku bohong, jika aku memang seperti apa yang kau pikirkan, aku sudah melaporkanmu sejak lama, bodoh”

Darahku seolah mendidih. Seharusnya aku senang ia meminta bergabung dalam pemberontakan. Seharusnya aku menyambutnya dengan suka cita. Alih-alih tersenyum padanya dan memberinya ucapan ‘selamat bergabung’ aku berujar, “Ini bukan permainan, bocah” Ujarku.

Gadis itu maju selangkah mendekatiku, membusungkan dadanya dengan tegas dan menatap wajahku dengan raut menantang. “Aku tidak main-main”

Tatapan matanya yang tajam memerangkapku. Aku dapat melihat bagaimana ia mengukuhkan keangkuhannya, memberitahuku lewat kedua mata coklat-keemasannya bahwa aku tidak bisa menolaknya.

Dan aku memang tidak bisa.

“Bagus” Pekik Tuan Kim.

Aku melihatnya lewat ekor mataku. Wajahku tertunduk kearah lantai. Membayangkan masa depan dalam peperangan lagi. Aku membayangkan keluargaku dalam kesulitan, berlindung dari bom, menyelamatkan diri dari kebakaran. Orang-orang berteriak mencari pertolongan, menyelamatkan diri dari peluru tentara keadilan. Tapi bukan hal itu yang paling menggangguku sekarang. Melainkan bayangan tentang gadis itu, Lee Jieun.

“Ini bagus karena aku tak pernah menyangka ini datang. Sejauh ini rencana kita berjalan lancar. Kami sudah mengirim sekelompok orang di continent-continent lain. Setelah kita merambah kota-kota kecil, kita akan mulai menyusup ke dalam pemerintahan. Mendapatkan gadis itu adalah pencapaian besar, Kyungsoo. Bukankah gadis itu adalah gadis yang diinginkan Elite?”

“Ya” Jawabku muram.
“Hebat sekali”

Aku melirik ke arah Tuan Kim yang tengah tersenyum seperti orang gila. Jika saja aku tahu ia akan seperti ini ketika terobsesi pada sesuatu, aku tak akan memilihnya sebagai konselorku. Setelahnya, kuutinggalkan ia dengan pemikirannya yang visioner, dan berjalan masuk ke kamar untuk mengambil jaket, lalu keluar dari rumah.
Udara dingin langsung menusukku begitu aku berada di luar. Suara gonggongan anjing entah darimana membuatku berhenti melanjutkan perjalanan. “Guk!Guk!” Seekor anjing putih besar yang sudah tua menghampiriku. Di belakangnya tampak Jieun dengan napas berat. Ia terlihat kelelahan mengejar anjing ini, yang kutebak sebagai Snowy.

“Tampaknya ia selalu mengingatmu” Katanya.
“Kurasa”

Jieun mengernyitkan keningnya seperti biasa, ketika ia menyadari perubahan emosiku. “Kau kenapa?” Tanyanya, seperti seorang teman.
“Entahlah, mmm, apakah kau mau menemaniku?”
“Kemana?”
“Aku juga tidak tahu, aku tidak mengenal tempat ini” Ujarku sambil memasukkan tanganku kedalam saku jaket.
“Kau mau menemaniku?”
“Kemana?”

“Perpustakaan kota”

 

VI

 

Aku selalu suka perpustakaan kota, bukan hanya karena ada tempat penitipan anjingnya. Tapi karena perpustakaan ini termasuk dari lima perpustakaan dalam lima belas Continent yang masih menyimpan manuskrip kuno.

Di belakangku Kyungsoo mengikuti dengan linglung seperti biasanya. Mata bulatnya menganalisis sudut-sudut ruangan. Tak berkedip sama sekali ketika memandangi ribuan judul buku yang tertata rapi di rak raksasa. Aku tersenyum tipis memandanginya, namun segera membuang pandanganku ketika ia melihat kearahku.

“Apa yang sebenarnya kau cari?” Tanyanya padaku.
“Aku tidak yakin, tapi aku bisa menghabiskan waktu hingga berjam-jam ditempat ini”
“Semacam pelarian dari rumah?”

Aku mengangguk. Kupikir tanpa perlu kuceritakan ia sudah tahu betapa muaknya aku dengan orangtuaku yang berusaha sekeras mungkin untuk menghasutku masuk ke dalam lingkaran Elite.

“Hei, kau pernah membaca sastra kuno?”
“Tidak banyak”
“Kau pernah dengar soal Cinderella dan sepatu kaca? Atau Putri Tidur?”
“Harry Potter” Jawabnya.

Aku mendengus dan menariknya ke rak bagian sastra kuno. Aku mengambil beberapa buku dan memberikannya pada Kyungsoo. Lalu aku sendiri mengambil setumpuk buku dan membawanya. “Ikuti aku” Kataku.

Dan aku menunjukkannya tempat favoritku. Sebuah tempat disudut perpustakaan dengan jendela raksasa yang mengijinkanku melihat keluar, melihat jalan raya yang selalu lengang, dan orang-orang yang berlalu lalang menikmati salju diatas kepala mereka. Kemudian aku duduk bersandar pada rak buku dan meletakkan setumpuk buku disampingku.

Kyungsoo melakukan hal yang sama denganku, namun ia sibuk mengamati buku-buku yang kuambilkan untuknya. Ia mengambil buku bersampul merah yang sudah lusuh dan memperlihatkan judulnya padaku, “The Five People You Meet In Heaven”

“Itu buku yang bagus, aku sudah membacanya tiga kali” kataku. Memuji buku yang telah terbit lebih dari seabad yang lalu itu.

Setelahnya, kami larut dalam dunia kami masing-masing. Aku dengan bukuku, ia dengan buku yang ia baca.

Di hari-hari selanjutnya. Ia selalu mengajakku ke perpustakaan tiap ada kesempatan. Terkadang kami membaca buku, terkadang kami hanya ngobrol. Perlahan aku mengerti tentangnya. Tentang bagaimana para Exile bertahan hidup, apa yang mereka pikir tentang kami, apa yang mereka pikir tentang Elite, alasan kenapa mereka ingin memberontak, dan teori-teori konspirasi yang tak pernah kuketahui. Sejak itu aku memahami penderitaannya, juga betapa sulit hidup di dalam kelompoknya.

Simpati tumbuh dalam diriku, ada rasa kuat dalam diriku yang pada akhirnya membuatku benar-benar ingin membelot pada Elite. Terkadang aku bertanya-tanya pada diriku apakah ia mencuci pikiranku dengan semacam ilmu hipnotis. Namun jika kupikir lagi, pikiranku memang sudah terdekadensi sejak lama. Ia hanya datang untuk meyakinkanku.

“Apakah kau tidak merindukan orangtuamu? maksudku, ini hampir setahun semenjak kau datang”

Ia tersenyum, “Aku rela melakukan apapun untuk membuat kehidupan mereka lebih baik, keluargaku, saudara-saudaraku, meski aku harus berpisah jauh dari mereka. Paling tidak, beginilah caraku mengusahakan kehidupan yang lebih baik untuk mereka”

Aku menggenggam tangannya dan tersenyum tipis. Aku bisa merasakan tubuhnya terkesiap. Ia melirik hati-hati kearahku dan menelan ludah. Mata hitamnnya berkaca-kaca seperti akan menangis, namun aku tahu jika matanya memang selalu berkaca-kaca.

“Aku akan membantumu, percayalah padaku”

 

Lanjut…

NB:  I don’t know, the progress doin’ great. I almost done writing chapter 11. i think it’ll probably end in chapter 15 or 17. We’ll catch it later. Cause i don’t know how the war will end actually. I want to make it fair for everybody, for both of them, for both side, Elite and the enemy. But now, i don’t see the probability….

Well, a recommended song, Flight Facilities – Stand Still ft. Micky Green

ahnmr

4/13/2014

Himrasaki

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

3 thoughts on “[Fic] Paint It Gold 5-6”

    1. you know what? your my favorite reader and person right now. Aku lagi banyak masalah, lagi butuh banget dukungan *malah curhat* baca komentar kamu bikin aku semangat 😀 Makasih banget ya udah jadi readers yang setia ❤ maaf juga jarang bales komentar kamu, soalnya aku kadang nggak tau harus bales gimana XD

      1. Hehehe, iya kah? Padahal komentarku pendek banget loh. Sebenernya mau komen lebih, tapi nggak tau mau komen kayak apa lagi.
        Sama samaaa ^^ habis ff nya bagus banget.
        Nggak papa, aku juga kadang begitu kok 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s