[Fic] Paint It Gold 7-8

Paint It Gold

Author: Ahnmr || Cast: Do Kyungsoo/D.O (EXO), Lee Jieun/IU (Singer/Actrees) || Genre: Romance-Drama, Action (Sithik), Politics || Rating: 15+

Ganjil: Kyungsoo P.O.V

Genap: Jieun P.O.V

VII

 

19 Years Old

 

Aku percaya padanya, yang aku tidak tahu apakah ia bisa mempercayaiku.

Aku mengantarnya pulang sore itu. Di ujung barat, matahari mengintip lewat garis horizon, menyinari wajah Jieun yang pucat. Ia menggenggam tanganku, menggenggamnya erat. Membuatku merasa semakin tenang.
Energinya mengalir padaku, memberitahuku bahwa aku tak perlu khawatir karena ia selalu ada untukku. Setiap langkah yang ia tapaki, membuatku ingat jika kami bersama. Dan itu memantik rasa hangat dalam perutku. Aneh.

“Masuklah, Snowy!” Katanya sambil membuka pagar rumahnya dan membiarkan Snowy masuk.

Ia lalu menatapku dengan sepasang mata coklat-keemasannya, aku hanya diam dan memperhatikan rambutnya yang menggantung disisi-sisi wajahnya. Membingkai wajahnya dengan cantik. “Sampai bertemu besok”

Aku mengangguk, tak bisa berkata-kata. Ia dan kedua sudut bibirnya yang terangkat dan sorot matanya membuatku membeku. Ia jauh lebih indah dari mentari pagi.

Sebelum Jieun melepaskan tanganku, ia berjinjit dan mengecup bibirku. Membuatku terkesiap. Pikiranku mengembara ketika bibirnya menyusup diantara kedua bibirku. Aku menutup mataku dan menciumnya dengan perlahan. Ia melingkarkan tangannya pada leherku dan melepaskan ciumannya ketika mendengar anjingnya menggonggong.

Ia tersenyum padaku, “Itu yang mereka lakukan di buku-buku kuno, kupikir kecupanku akan memberimu keajaiban” Katanya.

Aku tersenyum tipis dan mengusap pipinya. Lalu ia membalas senyumku dan memberikanku sebuah kecupan selamat tinggal sebelum masuk ke dalam rumah.

Cukup untuk membuatku tidak bisa tidur malam harinya.

Hikaru datang bersama seorang pria aneh bernama Zedd.

“Ia seorang artis mural” kata Hikaru.
Zedd mengulurkan tangannya padaku sambil tersenyum. “Zedd Cohen.” Aku menyambut uluran tangannya dan melakukan hal yang sama dengannya, “Do Kyungsoo” Ujarku.

Setelahnya, kami berempat, aku, Tuan Kim, Hikaru, dan Zedd. Berbincang mengenai rencana pemberontakan kami selanjutnya..

“Banyak kelompok, dan aliran-aliran baru yang terbentuk karena kita. Sebagian besar dari mereka menentang Elite,” Kata Hikaru. “Kita hanya perlu menyatukan ideologi dan berkoalisi” Tambahnya.

Ketika Hikaru dan Tuan Kim sibuk berdiskusi sendiri, Zedd mengedikkan dagunya padaku. “Jadi, apa yang kau lakukan?”

“Sekolah, mencuri persediaan senjata, menjaga kelinciku untuk tidak kabur” Aku tahu perkataan itu kejam. Namun aku tak mungkin mengatakan aku benar-benar menyukai seorang gadis Unbeliever disekitar sini.

“Kau sebut itu memberontak, huh?”
“Setidaknya aku membawa pemasukan penting” Ujarku sambil mengedikkan bahu.
“Melukis dinding-dinding kota dengan teriakan keadilan, itu juga disebut dengan pemberontakan bukan?” Kata Zedd.
Aku mengangkat alis kananku dan tersenyum kecil. “Mungkin,”

“Kau harus ikut suatu saat, brother. Kurasa ini jauh lebih menyenangkan dari sekedar menjaga binatang piaraan,” Aku hampir menampar mulutnya jika tidak ingat aku seorang pemberontak sekarang, “Bagaimana jika besok Rabu, pukul 11 aku akan tunggu kau dibelakang Rodeo” Ajak Zedd.

“Rodeo? Distro didekat perpustakaan itu?”

Zedd mengangguk dan mengulurkan tangannya padaku. Aku menjabatnya dan melakukan tos dengan buku-buku jari kami.

Setelah Zedd dan Hikaru pergi, aku melihat seseorang dengan pakaian serba hitam diujung jalan. Ia langsung pergi ketika aku mengarahkan pandangan padanya. Membuatku curiga jika ia mungkin seorang penjaga keadilan atau mata-mata Elite.

“Elite?” ujarku, melirik kearah Tuan Kim. “Apakah kita tertangkap”
“Bukan, itu salah satu dari kita, ia menjaga agar pertemuan kita berjalan dengan baik”

 

VIII

 

Aku tahu keputusanku menjadi pemberontak adalah sebuah keputusan yang berani. Namun itulah jalan hidup yang kupilih. Jalan hidup yang kuinginkan agar selalu bersamanya.

Do Kyungsoo. Jauh sebelum ia muncul lagi dalam hidupku. Nama itu tak lebih dari sekumpulan huruf. Namun sekarang, nama itu berarti lebih dari diriku sendiri.

Kami sering menghabiskan waktu bersama. Pergi ke tempat-tempat favoritku, dan ia mengajakku pergi ke tempat yang ingin ia kunjungi. Selain Snowy, aku menceritakan segala hal padanya. Dan ia berarti lebih dari seorang teman bagiku.
Tapi belakangan mata hitamnya yang berkaca-kaca nampak lelah. Ia sering tiba-tiba tertidur dikelas. Ia menghiraukan semua ceritaku dan tertidur. Ia jauh lebih kurus. Tak seperti Kyungsoo yang biasanya.

Hari itu, kami pergi ke perpustakaan. Ketika aku mulai membaca buku, Kyungsoo masih terlihat sibuk dengan bukunya. Namun ketika aku mencapai halaman lima puluh, kepalanya tergeletak dibahuku.

Aku menutup bukuku dan melirik kearahnya. Ia pasti lelah. Menjadi murid sekolah disiang hari, dan pemberontak di malam hari bukanlah aktivitas yang mudah untuk seseorang seusia dia. Dan ia menjalaninya.

Dulu aku tak pernah menyangka akan mempunyai seorang kekasih seorang pemberontak. Dulu yang kuinginkan hanyalah pangeran-pangeran sederhana seperti di buku cerita kuno, yang menyelamatkan putri dengan ciuman. Tapi Kyungsoo lebih dari pangeran-pangeran itu, ia jauh lebih sempurna dimataku.

Aku membiarkan ia tertidur dipahaku dan membaca buku diatas wajahnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya ketika menyadari bahwa ia tak lagi tertidur diatas bahuku. Kyungsoo tersenyum padaku dan kembali lelap dalam tidurnya.

Sedikit menyebalkan ketika ia tak menghiraukanku dan sibuk dengan tidurnya. Lalu suatu hari aku nekat mengikutinya pulang untuk tahu apa yang tengah ia lakukan. Meski ia sudah melarangku berkali-kali karena terlalu berbahaya.

“Aku sudah bilang pada ayah dan ibuku jika aku akan menginap dirumah teman, jadi kau tidak bisa memaksaku pulang.”

Kyungsoo menatapku dengan sorot mata menyala-nyala. Aku tahu ia berusaha keras menahan amarahnya meledak. Dan hal itu menggangguku, ia tak pernah marah padaku meski terkadang aku mengharapkan ledakan itu.

Ia menarikku ke dalam pelukannya dan mendekapku. Aku dapat mendengar detak jantungnya yang tidak teratur, napasnya yang memburu, dan merasakan sentuhan lembutnya ketika ia membelai rambutku.

“Kau boleh ikut malam ini, tapi kau tidak boleh jauh dariku, ini berbahaya. Dan aku tidak ingin kehilanganmu”

Guru Anthony Kim, adalah seorang pentolan pemberontak dari Exile. Dan sekarang ia berada dihadapanku. Tersenyum padaku seperti telah menantiku begitu lama.

Kyungsoo merangkulku dan mengatakan, “Ia menginap malam ini, dia tidak berbahaya seperti yang paman ketahui”

“Lee Jieun, ya? Selamat datang” Katanya.

Aku tersenyum padanya, namun Kyungsoo tak terlihat begitu senang. Ia kemudian membawaku ke kamarnya dan menyuruhku meletakkan barang-barangku diatas tempat tidurnya.

Ia melepaskan seragamnya dan berganti didepanku. Aku baru tahu dibalik tubuh kecilnya itu tersimpan otot-otot yang membuatku hampir meleleh saat melihatnya. Setelah memakai kaos putihnya, ia melirik datar kearahku. “Aku tidak menyuruhmu melihat” Ujarnya.

Aku buru-buru berbalik. Berusaha tak memikirkan Kyungsoo tanpa sehelai kain pun. Aku menggeleng dan menenggelamkan wajahku pada tas kecil yang sedari tadi masih kubawa.

“Aku sudah selesai, jika kau mau ganti, aku akan keluar”

Kyungsoo mengecup keningku seraya berjalan keluar. Pintu kamar kukunci, namun jantungku masih terus berdegup kencang. Aku melupakan alasan utamaku untuk pergi bersama Kyungsoo malam ini. Justru aku berpikir tentang… tidak, aku tidak boleh memikirkannya.

Selesai berganti, Kyungsoo membuatkanku makan siang. Ia terlihat sangat tampan ketika mengocok telur dengan terampil. Ia terlihat jauh lebih keren dibandingkan dengan chef-chef di televisi yang disukai oleh teman-temanku. Rambutnya yang biasa tersisir rapi dibiarkannya berantakan, hal itu membuatnya terlihat seksi.

Setelah makanannya selesai, aku membantu menyiapkannya. Kyungsoo menarik kursi untukku dan terus menatapku saat aku makan. Ia tersenyum dengan mata lelahnya, menumpukan dagu pada punggung tangan kanannya.

“Kemana Guru Kim?”
“Entah,”

Aku cemberut dan memakan makananku dalam kekesalan. Kyungsoo selalu menjawabku dengan menyebalkan ketika ia tidak mau aku tahu. Ia mencodongkan wajahnya padaku dan mencubit pipiku, “Auw!” Pekikku.

“Makanlah dengan baik” Ujarnya, lalu aku mendesis padanya. Dan ia terkekeh.

Usai makan siang, ia mengajariku cara melukis di dinding, alias seni mural diatas kertas. Lalu ia mengajariku cara menggunakan airbrush untuk menggambar grafiti. Kyungsoo begitu sabar menanggapi pertanyaanku yang dirasa tidak begitu penting. Lalu ia menunjukkanku gambar-gambar yang telah dibuatnya, juga beberapa gambar milik teman dekatnya, Zedd.

Ia kemudian menceramahiku untuk hati-hati. Menceritakan padaku tentang bagaimana ia mencuri persenjataan dari gudang. Lalu ia mengingatkanku lagi bahwa ini bukan permainan dan aku harus mengikuti tiap perintah darinya.

Kami tertidur di ruang tengah, namun aku justru sibuk mengamati wajahnya ketika tertidur.

 

Lanjut…

ahnmr

NB: Sedikit ada adegan eksplisit tersirat, I know. Maafkan.

Try listen to Akdong Musician-200%

4/13/2014

Himrasaki

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s