[Fic] Paint It Gold 9-10

Paint It Gold

Author: Ahnmr || Cast: Do Kyungsoo/D.O (EXO), Lee Jieun/IU (Singer/Actrees) || Genre: Romance-Drama, Action (Sithik), Politics || Rating: 15+

Ganjil: Kyungsoo P.O.V

Genap: Jieun P.O.V

IX

 

Kuharap ini adalah keputusan yang tepat.

 

Membawa Jieun ke dalam petualanganku tak pernah terbesit dalam pikiranku. Seorang gadis Unbeliever yang seumur hidupnya tak pernah menjalani kehidupan seperti Exile. Tiba-tiba ikut dalam pencurian senjata dan vandalisme. Cukup mengejutkan melihatnya dapat mengikuti alur kami dengan baik.

 

“Sudah kubilang, aku genius” Ujarnya sambil memasukkan belati yang kuberikan padanya ke dalam sabuk.

 

Kami masuk ke dalam gudang dan berjalan pelan-pelan dibalik kain-kain penutup kotak kayu yang berisi senjata milik angkatan darat Tentara Keadilan.

 

Ini bahaya, aku jelas tahu itu. Dalam kurun waktu hampir dua tahun ini. Aku sudah memasuki tempat ini lebih dari tiga kali. Dan Tentara Keadilan belum mencurigai Exile akan aksi ini. Mereka masih berpikir bahwa pihak dalamlah yang melakukannya. Yang artinya, itu keberuntungan bagi kami.

 

Aku memberi sinyal pada Zedd, untuk mengamankan pintu belakang dibagian Utara, dan Laclercq untuk mengamankan pintu bagian depan, bersama Ann yang sibuk membajak kamera-kamera pengintai. Aku menahan Jieun disampingku, beserta Toney dan Han sebagai kuli angkut.

 

Ini kali kelima aku masuk ke dalam gudang ini, dan suasananya jauh lebih menegangkan dari sebelumnya. Aku dan Jieun menjaga di kanan-kiri Toney dan Han yang tengah berusaha memindahkan satu kotak berisi 20 buah riffle. Aku berjaga-jaga dengan Magnum kesayanganku, Jieun membawa belatinya.

 

“Yah” Kudengar Han mendesah lega. Ia dan Toney memindahkan kotak itu keatas troli kami. Dan mengangguk padaku. Aku menelan ludah, tak banyak yang kami curi malam ini, kami bisa mendapatkan lebih. Namun dengan keberadaan Jieun. Aku tidak  yakin.

 

“Kita kembali.” Tegasku.

 

Saat itu kudengar langkah kaki berlari pelan kearah kami. Zedd membawa sebuah senapan laras panjang dengan wajah panik. “Lari” Ujarnya. Laclercq dan Ann memberi aba-aba pada kami, Toney dan Han bersiap-siap mendorong troli, aku menggenggam tangan Jieun. Ketika Laclercq menjatuhkan tangannya, kami berlari dengan senjata ditangan kami. Dibelakang kami, terdengar suara pintu terbuka dan teriakan lantang seorang pria.

 

Jieun tertawa kearahku ketika kami berlari. Tepat ketika terdengar suara berkelontangan dibelakang kami. Aku tersenyum kecil kearahnya dan menggenggam tangannya erat.

 

Untuk kali kelima kami berhasil lagi mengelabui Tentara Keadilan, meski hampir saja tertangkap.

 

Malam itu, setelah kami bertujuh menyimpan persediaan kami di pangkalan. Kami segera terjun ke dunia kami, seni mural dan grafiti. Jalanan disekitar kami telah senyap. Keramaian beralih pada kami, suara tawa Zedd yang berat, dan suara tawa nyaring Ann. Beberapa lelucon yang dilontarkan Laclercq, serta kata-kata sarkastis dari mulut Han. Semuanya serasi.

 

Malam itu juga pertama kalinya kulihat Jieun terpukau akan sesuatu. Benar-benar terpukau dan tak bisa berkata-kata. Ia mengamati kami dengan tatapan yang tak dapat kumengerti, antara ingin tersenyum namun tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya berdiri didekatku sambil lalu. Kemudian kutemukan ia mengamati sebuah lukisan tak jauh dari tempatku menggambar.

 

“Aku berusaha tidak menggambarmu, dan justru berakhir menggambar matamu” Kataku sambil melirik kearahnya.

 

“Tapi kelihatannya ini belum selesai” Ia meraba lukisanku.

 

Aku terkekeh dan menggeleng, “Aku tidak bisa menemukan warna yang tepat untuk matamu”

 

Jieun tersenyum heran, “Mataku coklat, apa susahnya?”

 

“Tidak, matamu jauh lebih indah dari sekedar coklat”

 

Jieun terkikik geli dan berjalan kearahku untuk menonjok bahuku. “Lalu dengan warna apa? Terlihat agak mengerikan kau tahu tanpa warna seperti itu”

 

“Mm, jika aku menemukan warna yang tepat, aku akan mengecatnya ulang”

 

Kami bertatapan cukup lama, cukup lama untuk membuat bibir kami hampir bersentuhan, jika saja bukan karena Laclercq dan Zedd yang tak berhenti menyoraki kami, aku dan Jieun mungkin sudah larut dalam dunia kami sendiri.

 

 

 

X

 

Dua minggu setelah aku menginap dirumah Kyungsoo, sebuah berita muncul di media. Suatu berita mengenai seni jalanan yang dinilai merusak pemandangan dan pencurian senjata di gudang angkatan darat. Untuk mencegahnya, pemerintah getol melakukan patroli malam hari untuk menangkap pemberontak kecil macam itu. Sedangkan pencurian senjata di gudang angkatan darat tengah menemui jalan buntu.

 

Jantungku berdesir tiap kali mengingat Kyungsoo. Aku tahu fakta ia akan tertangkap cepat atau lambat. Namun hatiku terus menolaknya, mencoba membohongi diriku jika Kyungsoo baik-baik saja, dan akan selalu baik-baik saja.

 

Namun hari itu tiba-tiba hal yang paling kutakutkan terjadi.

 

Aku tak melihatnya disekolah hari itu, dan hari-hari setelahnya. Ia tak pernah muncul lagi. Rumahnya telah kosong, teman-teman Kyungsoo ikut menghilang. Segala hal tentang Kyungsoo lenyap seperti ilusi dan aku mulai mempertanyakan kewarasanku.

 

Satu-satunya hal yang membuatku percaya pada keberadaannya adalah belati yang pernah ia berikan padaku.

 

 

24 Years Old

 

Sudah lebih dari satu tahun, namun sakitnya tak pernah berkurang.

 

Dengan keputusan gegabah yang kuambil, aku memutuskan untuk bergabung dengan Elite. Semenjak lima belas bulan yang lalu aku resmi meninggalkan rumah dan pergi ke Penta City. Kota para Elite. Menjadi seorang Elite.

 

Sakit tiap kali aku memikirkan tentang Elite, aku memikirkan tentang Kyungsoo, ada bisikan yang mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Namun aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Aku tidak pernah tahu kemana ia pergi. Apakah ia tertangkap, apakah ia hanya pergi untuk sementara. Atau,…aku tak pernah ingin memikirkan kemungkinan terburuknya.

 

Aku mendapat posisi penting didalam Elite. Sebagai sekretaris kementrian. Orang-orang dalam badan itu banyak yang tak menyukaiku. Aku tak suka berbaur dengan orang-orang itu. Menurutku mereka tidak penting dibandingkan dengan segala hal yang sudah kuketahui. Di kantor aku hanya mengerjakan pekerjaan yang penting bagiku. Aku meninggalkan pesta, obrolan tidak penting, dan gossip-gossip bodoh di kantor. Sepulang kerja aku langsung pulang ke apartemen untuk istirahat, mungkin sekedar membaca buku, atau menonton berita di TV.

 

Di hari libur aku akan pergi ke Central Park dan melihat orang-orang berlalu-lalang dalam gembira. Aku merasa, mungkin hanya aku satu-satunya manusia di tempat itu yang benar-benar hancur dan sendirian. Setiap saat aku berusaha tak peduli, namun tetap saja, rasa itu menyakitkan. Sendiri, tidak dipedulikan, dan berharap pada sesuatu yang mungkin mustahil untuk kembali.

 

Hingga suatu hari seorang pria duduk disebelahku, aneh bagiku ada seseorang duduk disampingku. Apalagi dengan sukarela. Ia mengenakan setelan perlente seperti kebanyakan Elite. “Hello” Sapanya. Aku melirik kearahnya dengan tatapan skeptis. Ia berkepala botak, memakai kacamata hitam hologram, garis wajahnya tegas, bibirnya dihiasi senyum keji. Sedikit mencurigakan melihat caranya tersenyum.

 

“Nona Jieun Lee, Lee Jieun” Ujarnya dengan suara berat yang mengerikan. Dari suaranya aku bisa mengatakan jika ia penghisap cerutu. “Aku yakin kau pasti teman dari Kyungsoo kami”

 

Aku mengernyitkan keningku. “Kyungsoo, Do Kyungsoo?”

 

Pria itu melihat kearahku dengan senyuman licik. “Ya, kau pasti mengingatnya dengan baik,” Seolah tahu apa yang kupikirkan, ia berujar, “Ia bersama kami, namun sekarang ia tak bisa berada disini”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Perang telah dimulai, Nona. Dan sayangnya kau harus memilih di pihak mana kau berdiri”

 

Aku terdiam sesaat. Memikirkan maksud ucapan pria aneh itu. Pria itu mengusap dagunya dan menelengkan kepalanya. “Jika kau tidak berarti bagi Do Kyungsoo kami, kami tidak akan memberimu pilihan. Ini semata-mata hanya karena kau berarti baginya, Nona”

 

Kubayangkan matanya berkilat-kilat dibalik kacamata hitam hologram itu. Ia terlihat ingin membunuhku, membunuh tiap inci tubuhku dan menjadikannya abu. Di detik berikutnya aku sadar jika aku takut, aku takut aku tak bisa memilih. Aku memikirkan keluargaku, teman-teman dikampung halamanku, juga Kyungsoo.

 

Kenangan berputar disekitarku, dan aku merasa seperti tata surya yang dikelilingi planet-planet. Aku tak tahu kemana aku harus pergi, siapa yang harus kupilih. Aku tahu yang kuinginkan selama ini adalah Kyungsoo, dan Kyungsoo. Namun ia menghilang ketika aku membutuhkannya, dan hal itu membuatku sakit, sangat-sangat sakit.

 

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku menghiraukan pria itu dan mengangkat telepon itu. “Halo”

 

“Jieun, ini Ibu!” Ujar Ibuku dengan nada bicara yang bersemangat.

“Iya?” Aku mencoba tak terdengar khawatir.

 

“……”

 

Aku menutup teleponku dan melirik kearah pria itu. “Bisakah kau beri aku waktu untuk berpikir, kutemui kau lagi besok. Disini, waktu yang sama” Ujarku.

 

Pria itu mengangguk. “Semoga kau memilih dengan bijak, Nona”

 

Ketika pria itu memutuskan untuk pergi. Aku masih terpaku ditempatku duduk. Pikiranku terpaku pada ironi,

 

Dan aku takut aku tidak bisa memilih dengan bijak.

Lanjut….

NB: I know,  it’s kinda too fast, and lack of feel. I know, i was kinda  in hurry makin’ this fic, and i was like… “oh dude, all i need to write is the line, you don’t need to clear the details”… yeah. I was thinking a lot of thing reading this over and over. And i got a little tired editing here and there, so there it was…. another confusing chapter with no feels. I kinda dissapoint to myself.  But… yeah, i’ve been writing till chap 16, and the progress doing okay…

Except the fact that this guy:

img-thing

has captured my heart, i’ve been distracted a lot because of him. Yeah, he is Nash Grier, the guy with the controversial video that has been bashed a lot in the internet. But whatsoever,,, he’s blue eyes melt my heart, and you can’t deny that he’s sooooo…cute ❤

Ahnmr

4/18/2014

himrasaki

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

7 thoughts on “[Fic] Paint It Gold 9-10”

  1. kyaaaa :’) keren thor ^^ mian karna baru komen di chap ini sumpah ini keren feel nya dapet 😀
    cocok deh kyaknya dibikin drama :’D
    ditunggu next nya thor ^^ Fighting ^.^9

    1. thx banget udah repot-repot komentar. Dan sori banget, sbnrnya gue udh ngelanjutin ceritanya, tapi entah kenapa nggak berani ngepost. kelas 12 nggak bisa ke distract banget soalnya, sori yah.

      1. yahh 😦 tapi nanti bakal di post kan thor soalnya ini fanfic keren banget bikin penasaran ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s