[Drabble] Train

tumblr_mwo0vdjGqE1rmuq0ko1_500

Author: Ahnmr || Cast: Girl – Kang Seulgi (Red Velvet), Guy – Song Yunhyeong (iKon), and another person i randomly imagine || Disclaimer: Originally written by me || Summary: Me, train, and this random stranger i would never forget.

Aku mengangguk, “Terimakasih, Paman” Kataku pada Paman Byun seturunnya aku dari sepeda tua keluaran tahun 80, satu-satunya kendaraan mewah yang ia miliki. Paman Byun membalasku dengan senyum sederhananya dan mengangkat salah satu tangannya. Caranya mengatakan, ‘Selamat tinggal, sampai jumpa lagi’ dan sekarang aku sudah menghafalnya dengan baik.

Ia segera pergi sebelum aku sempat berbalik kearah gerbang stasiun kereta. Paman Byun terburu-buru, ia selalu seperti itu, dan aku sudah maklum. Sambil melihat punggungnya yang semakin menjauh aku berjalan mundur, tersenyum sambil berharap Paman Byun dan keluarganya akan baik-baik saja sampai aku kembali tahun depan.

Drrtt, drrrtt, ddrrtt.

Aku mengambil ponselku dan melihat nama ayah terpampang di layar ponsel, “Ya, halo?” sahutku. Lalu ayah menanyakan apakah aku sudah naik ke kereta dan kujawab belum karena aku baru sampai di stasiun. Setelah itu telepon ditutup. Aku tahu seharusnya aku cukup bersyukur karena ayah menyempatkan diri untuk menelponku di jam-jam sibuknya seperti sekarang. Tapi tetap saja, rasanya menyebalkan karena ia tidak memberiku waktu untuk bercerita tentang hari-hariku di Busan bersama keluarga Paman Byun.

Kutatap ponsel itu selama beberapa saat dan kukembalikan lagi ke dalam saku celana, lalu bergegas masuk ke stasiun.

“Apa? Well, sekarang anda bisa memberitahu saya kemana saya harus pergi” Kata laki-laki itu dengan amarah yang tertahan saat aku baru saja sampai dibelakangnya untuk mengantri.

Ekspresi wajahnya menyiratkan kebingungan dan kekesalan. Dalam hati aku ikut penasaran dengan apa yang tengah ia bicarakan dengan sang petugas stasiun. Jadi aku mencuri dengar pembicaraannya dengan seorang petugas stasiun. “Maaf, tapi sepertinya anda harus pergi memutar ke gerbang selatan, loket di gerbang ini hanya melayani tiket kereta lokal.”

Aku mengerjapkan mataku, “Mm, maaf,” aku menceburkan diri kedalam pembicaraan itu. Seketika wajah kedua orang pria itu langsung mengarah padaku dan aku menggigit bibirku. Pria berambut coklat gelap berjaket varsity KAIST itu melihat kearahku, “Kau juga mau pergi ke Seoul?” Ujarnya lebih seperti memohon daripada bertanya. Dan aku mengangguk. “Mm, jadi,” Kataku mengalihkan pandanganku pada petugas stasiun yang wajahnya mirip musang –aku serius. “Jadi memang harus berjalan memutar?”

“Benar, Nona. Kami sedang dalam perbaikan, maaf atas ketidaknyamanannya”

Laki-laki dengan varsity KAIST itu memutar bola matanya. “Huh, baiklah”

Aku tersenyum tipis, setengah kecewa dan mengangguk kearah si petugas stasiun, lalu segera pergi keluar dari loket stasiun, mencari jalan ke pintu  gerbang selatan. Kemudian kudengar langkah setengah berlari dari belakang, dan seseorang berkata, “Hei, tunggu aku”

“Aku sudah mengantri lebih dari setengah jam disana, jadi aku agak kesal saat petugas itu bilang aku justru harus memutar” Katanya sambil menggaruk tengkuknya dan tersenyum canggung. Lalu ia melihat kearahku. “Jadi, kenapa kau mau pergi ke Seoul?”

“Pulang, aku baru saja berlibur”

“Oh, kupikir kau pergi kuliah di Seoul atau semacamnya”

“Aku kuliah di Seoul.” Kataku, cepat-cepat menambahkan. Lalu matanya membesar. “SNU?”

Aku menggeleng kecut, aku mencoba tes masuk SNU dua tahun yang lalu tapi kemudian namaku tidak tercantum dipapan pengumuman. Dan meski sekarang aku sudah nyaman dan bangga berada di Hong-Dae. Rasanya masih pahit ditolak mentah-mentah oleh SNU. “Hong-Dae” Ujarku sambil tersenyum kearahnya. “KAIST?”

Ia mengangguk sambil tersenyum. “Jadi, kau semester…” Ia menyipitkan matanya menungguku melanjutkan kalimatnya, jadi kulanjutkan, “…lima.”

“Sama” Dan ia tersenyum kearahku.

“Jadi kau dari Busan?”

Ia menggeleng. “Aku baru saja menjenguk saudaraku yang sakit di Rumah Sakit Universitas. Aku sendiri dari Seoul”

“Seoul? Dimana?”

Ia meringis, “Itu rahasia” Lalu ia menelitiku dari atas sampai bawah. “Kau terlihat lelah, kau mau aku membantumu membawakan barang-barangmu?” Ia tersenyum ramah kearahku.

Akhirnya kami sampai di loket selatan dan aku baru ingat jika Stasiun ini sedang dipugar habis-habisan. Mulai dari loket, jalur antrian loket, jalur masuk ke stasiun, hingga rel-rel stasiun yang kabarnya sudah terlalu lama dan perlu diganti. “Ya Tuhan, tadi aku lewat tempat ini” Sesal laki-laki itu, kemudian ia berjalan masuk lewat celah kecil gerbang yang ditutup dan aku mengikutinya.

“Kemana kita harus pergi?”

“Kurasa…” Aku celingukan mencari papan tulisan ‘loket perjalanan luar kota’ namun aku tidak yakin dimana tempat itu. Jadi aku menunjuk asal ke tempat antrian yang ramai. Dan ia percaya padaku, jadi kami bersama-sama berjalan ketempat itu, dan ternyata, lagi-lagi kami salah. “Maaf, aku tidak tahu jika ini tempat pencetakkan tiket online” Kataku, meringis. Dan ia tersenyum sabar kearahku.

Aku celingukan mencari-cari tempat pembelian tiket, lalu diarah barat kulihat sebuah bangunan dengan tulisan besar-besar ‘LOKET’  dan aku secara mental menyumpah-nyumpah pada diriku sendiri. “Kita harus pergi kesana” kataku sambil menunjuk bangunan itu.

“Jam berapa ini?”

“Hampir jam sebelas, aku ingat jadwalnya” Lalu aku melihat kearah jam tangan.  “Kereta akan datang dalam lima belas menit”

Well, ayo!”

Ia setengah berlari dan menarik lenganku.

Aku harap ia tidak memperhatikanku saat aku mencuri pandangan kearahnya. Karena aku tidak bisa berhenti. Ia selalu membuatku terkejut. Seperti saat membeli tiket tadi, ia membayarkan tiket yang mahal itu untukku, dan juga, ia membantuku membawakan barang-barangku, belum lagi tentang bagasi itu.

Disanalah bagian yang membuatku paling terkejut. Saat aku meletakan barang-barangku keatas bagasi, kereta berjalan tanpa kusadari dan aku tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhku. Laki-laki itu menahanku agar tidak terjatuh, dan membantuku meletakkan barang-barangku keatas bagasi.

“Hati-hati” Katanya, diikuti senyuman hangat. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Kupikir aku bisa meleleh, karena tidak pernah ada seorangpun yang wajahnya sedekat itu dengan wajahku. Sekarang ketika aku memikirkannya lagi, aku hanya ingin menyembunyikan wajahku darinya. Karena aku berani sumpah, ia pasti melihat wajahku yang bersemu merah seperti tomat, dan menurutku itu sangat memalukan.

Aku memata-matainya dengan ekor mataku, ia tengah sibuku dengan ponselnya. Lalu aku pikir aku harus terlihat sibuk juga, jadi kuusahakan diriku untuk sibuk dengan ponselku. Semakin aku mencoba aku menyadari bahwa tidak ada hal yang istimewa dengan ponselku. Tidak dengan akun instagramku, tidak dengan sms-ku, tidak dengan kakao talk-ku. Kecuali mungkin candy crush-ku, tapi aku sudah mulai bosan memainkannya.

Jauh didalam hati aku berharap ia mengajakku bicara. Bahkan aku sempat ingin menanyakan beberapa hal untuk memulai percakapan ringan seperti, “Apa prodimu di KAIST?” tapi aku urung karena ia terlihat sangat serius dengan ponselnya.

Perjalanan ke Seoul masih sangat lama, dan aku tidak mau mati kebosanan. Jadi aku berniat untuk tidur saat ia tiba-tiba mengubah posisi duduknya dan melihat kearahku. Aku membuang pandangan canggung, namun senyumnya membuatku kembali untuk melihat kedua matanya. Ia menanyakan padaku, “Kau prodi apa di Hong-Dae?” Persis, seperti apa yang kupikirkan ingin kutanyakan padanya sebelumnya. “Hukum” Jawabku pendek. Karena aku merasa sangat canggung sekarang, dan satu-satunya pertahananku dari kecanggunganku itu adalah mencoba bersikap cool.

“Jadi kau suka menghukum orang?”

Aku tertawa kecil, “Well, mungkin semacam itu” kataku dan ia terkekeh. Itu tidak lucu, tapi cukup untuk memecah suasana.

“Aku prodi Teknik Aeronautika, aku selalu bermimpi bisa jadi astronot suatu hari nanti” ia memberitahuku tanpa bertanya. Dan ya, aku memang sedikit penasaran sebenarnya. Tidak setiap hari aku bertemu seorang mahasiswa dari KAIST di kereta menuju Seoul. Jadi tidak masalah jika ia memberitahuku hal itu, meski kesannya agak sok. “Kenapa?”

Ia mendekatkan wajahnya kearahku dengan mata terbuka lebar. Aku melihat wajahnya yang… cukup menarik. Kemudian ia melihat keluar jendela, membuatku ikut melihat kearah ia melihat. “Ada jutaan anak kecil diluar sana yang bermimpi untuk terbang ke bulan,” lalu ia melihat kearahku. “Aku salah satunya” Dan ia tersenyum menampakkan gigi-giginya. “Aku selalu ingin terbang, dan menurutku pergi naik roket itu sangat keren. Wuushh” Ia mengangkat kedua tangannya keudara, dan aku terkejut ia melakukan hal itu. Aku tidak menyangka ia akan melakukannya di depanku. “Klise, iya kan?” Ia menelengkan kepalanya.

Aku tersenyum dan mengedikkan kedua bahuku. “Kupikir itu tadi akan jadi cerita yang panjang”

“Aku bisa membuatnya jadi cerita yang lebih panjang. Tapi aku tidak mau menghabiskan waktu dengan ceritaku sendiri, aku ingin dengar ceritamu” Ia tersenyum, kedua sudut bibirnya terangkat hingga menyentuh matanya. “Kenapa?” Ujarku.

“Aku tidak tahu, mungkin agar adil. Aku sudah membagi ceritaku padamu”

“Yang tadi itu terlalu pendek” Aku terkekeh untuk menyembunyikan kecanggunganku saat kedua matanya mulai fokus kearah wajahku. Ia mengangkat kedua alis tipisnya dan salah satu sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang mengatakan, ‘Aku mendengarkan,’ Mungkin karena Paman Byun, sekarang aku jadi lebih mengerti bahasa tubuh seseorang.

“Mm, oke” Dan senyumannya sekarang sempurna. “ Ini sangat klise, Aku ingin jadi hakim karena ayahku, itu saja”

“Itu bahkan lebih pendek dari ceritaku” ia memutar bola matanya. Dan aku mulai menyukai saat ia melakukan hal itu, karena ia terlihat lucu dan aneh. “Apa?” Ia bertanya padaku.

“Tidak apa-apa” kataku menahan senyuman geli diwajahku.

Kami terdiam untuk sesaat. Matanya masih terus melihatku, meneliti wajahku. Dahiku, alisku, kedua mataku, bulu mataku, hidungku, bibirku. Dan aku menemukan diriku melakukan hal yang sama. Bagaimana kedua alisnya dapat terlihat begitu tenang disuatu saat, lalu disaat yang lain keduanya bisa bergerak bebas mengikuti ekspresi wajahnya yang sering berubah-ubah, matanya terlihat berkaca-kaca seperti memantulkan cerminan lautan yang bebas, bibirnya begitu merah, aku tidak mengerti bagaimana, tapi aku suka melihat bibirnya. Aku tidak menemukan banyak pria dengan bibir seindah itu sebelumnya.

“Erggh, errmm” Ia berdehem, dan aku segera membuang pandanganku. Tiba-tiba suasananya jadi canggung seperti sehabis ia membantuku menaikkan barang-barangku ke bagasi. “Maaf” Katanya.

Aku melirik kearahnya, “Untuk apa?” kataku lirih karena canggung.

Ia mengangkat kedua alisnya dan menggeleng. “Hei, “ Tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah seperti sebelumnya. “Kau tahu tahun depan akan diadakan Bazar Seni Musim Semi di KAIST kan?”

Aku mengangguk. Maksudku, ayolah, siapa yang tidak tahu?!

“Apa kau akan datang?”

“Ya, tentu saja”

Ia mengangguk.

“Kenapa?”

Dan ia tersenyum. “Aku tidak tahu.” Lalu hening, diisi oleh suara kereta dan riuh rendah obrolan orang lain di gerbong. “Aku baru saja berpikir tentang,” ia berujar sambil melihat kearah dengan satu alis terangkat dan sorot mata yang teduh. “kapan mungkin kita bisa bertemu lagi.”

–5 Juli 15–

I personally love riding a train. I love it when i got home from out of town, and took a train home. Well, you could call me a train-holic. For the story itself. It’s just popped out in my head, and then i just wrote it. It feels like home when i write a story. It’s been a long time since i post one. About the cast, i never think it was a problem to write this person with this person together, because, i personally think they might be cute in someway most people don’t understand, because, they don’t need to. I’ll explain in a simple way, Kang Seulgi is fine, Song Yunhyeong is fine. I love them both, and let’s just say… i crackshipped them, duh.

Mm, what can i say? Enjoy?

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

One thought on “[Drabble] Train”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s