[Oneshoot] Take Shelter

There Was A Girl

Take Shelter

Ahnmr || Seulgi (Red Velvet), Song Yunhyeong (iKon) || 15 keatas cyin *muach*|| Summary: You’re safe now

Satu langkah lagi dan cahaya akan berlari menyebar ke tiang-tiang pondasi penjara kacanya. Kuangkat wajahku kearah ruangan gelap dibalik dinding kaca itu. Aku menelan ludah, mengingatnya diseret didepan mataku. Tubuhku dialiri perasaan takut dengan apa yang akan kutemukan jika kakiku melewati garis laser merah yang melintang tak lebih dari  empat puluh sentimeter dari ujung sepatuku.

Apa yang mereka lakukan padanya? Pertanyaan itu berkali-kali diteriakkan benakku. Dan kini, ketika jawaban itu hanya berjarak satu langkah lagi tiba-tiba aku enggan untuk tahu.

Aku menatap kedua ujung sepatuku dan menimbang-nimbang apakah aku akan melakukan ini. Dengan pertimbangan yang mantap, aku menghela napas panjang dan melangkahkan kakiku melewati garis laser merah itu.

Ia memejamkan matanya, tegak, duduk diatas sebuah kursi berwarna putih. Sama sekali tak bergeming ketika aku mengetuk dinding kaca yang memisahkan ruangku dan dirinya. Tenggorokanku terasa perih saat suara-suara itu berteriak dikepalaku, “Ia pembunuh” “Ia membunuh keluargamu” “Ia bukan manusia” “Ia hanya sebuah mesin”

Ia hanya sebuah mesin. Demi Tuhan, aku pun tahu.

Kutempelkan telapak tanganku pada dinding kaca yang dingin itu. Lalu perlahan matanya terbuka.

Kedua mata itu berwarna biru sewarna pasifik. Cerah namun penuh misteri –atau seharusnya. Kutatap kedua mata biru itu lamat-lamat, namun hanya kosong yang tersisa darinya.

“Seul…” Aku mengucap namanya lirih, dan perasaanku hancur bersama kelopak mata yang tertutup.

Aku ingat ia menatapku dengan mata sayunya, mencengkram bahuku cukup kuat hingga terasa sakit. “Jangan lari, kau bisa membunuh dirimu sendiri” mataku masih merah karena menangis. “Aku membencimu!” Ujarku. Lalu ia mengangguk, “Tugasku melindungimu, bukan membuatmu menyukaiku”

Aku hanya seorang bocah kecil yang tak ingin percaya orangtuaku telah pergi. Lebih dari sedih, aku marah pada diriku sendiri karena tak bisa mencapai tangan mereka. Dan aku menolak berpisah dengan mereka bersama sebuah mesin. Aku memberontak pada cengkraman tangan Seulgi, meneriakkan nama ibu dan ayah, berharap mereka mendengar, namun tak mungkin. Karena mereka telah tergeletak tak bernyawa sama seperti yang lain. “Kita harus segera pergi.” Dengan tanganku yang masih terus memukul dan kakiku yang masih terus menendang, ia mengangkat tubuhku keatas bahunya. Membawaku pergi ke arah gurun, tepat sebelum pesawat tanpa awak menjatuhkan bom ke kotaku.

Mata kosongnya mempelajariku. Lehernya bergerak dengan gerakan  nano yang detil dan teratur. Ia mengerjapkan matanya perlahan, lalu terdiam selama beberapa saat. Di tempatku berdiri, aku menyesal tak memiliki daya untuk melindunginya, meski ia dengan segala upayanya selalu berusaha melindungiku. Kutunjukkan segores senyum diwajahku untuknya, namun ia membuang wajahnya. Benar, aku pantas mendapatkannya. Dan dari semua siksaan yang kudapat dari interogasi, dihiraukannya terasa jauh lebih menyakitkan.

“Aku tahu kau tak mungkin memaafkanku” Suaraku menggema di ruang bawah tanah yang luas. Dibalik dinding kaca itu, aku tidak tahu apakah sensor suaranya dapat menangkap suaraku, tapi aku tidak peduli, aku terus berbicara. “Aku menyesali segalanya” Ia memejamkan matanya. “Seharusnya aku tidak lari, seharusnya aku memikirkan tentangmu juga” Ucapku penuh penyesalan.

Aku ingat saat kami hanya memiliki satu sama lain untuk bertahan hidup. Berlari dari serangan drone. Mengais kebutuhan hidup ke kota-kota mati. Bersembunyi dari reruntuhan ke reruntuhan lain. Dan ketika malam datang ia akan menyelimutiku, melindungiku dari malam yang dingin membeku. Ia tak banyak bicara. Namun terkadang, disudut reruntuhan yang gelap, dimana cahaya hanya berasal dari api yang terus bergejolak dikejauhan, ia akan membisikkan lagu ditelingaku hingga mataku cukup lelah untuk tertidur. Saat aku memejamkan mataku, tepat sebelum aku tenggelam ke dalam mimpi-mimpi tergelapku, ia akan mengucapkan. “Kau aman sekarang.”

Jari-jarinya bergerak meneliti tanganku yang menempel dikaca. Lalu ia menempelkan tangannya pada tanganku jika tak dibatasi penjara kaca itu, aku dapat menyentuhnya. Matanya yang sayu melihat jari-jariku dengan seksama, kemudian ia bergantian melihat wajahku. “Apa kau baik-baik saja?” Kataku lirih, saat ia menatap bibirku yang sejajar dengan matanya.

Lalu ia mendongakkan wajahnya untuk menangkap mataku, “Kau aman sekarang” Ujarnya, membuatku tersedak. Aku bisa mendengar dengan jelas suaranya dari balik kaca. “Kau mendengarkan?”

Ia mengangguk, namun ekspresinya tak berubah.

“Aku…aku…”Aku tidak tahu apa yang bisa kukatakan, segalanya tiba-tiba buyar dari kepalaku seperti abu pada musim pembantaian. Kugigit bibirku, anak kecil dalam diriku mulai menangis. Mataku meneliti cahaya biru dimatanya yang sekarang kusadari lebih redup dari yang terakhir kuingat. Lalu jari telunjuknya menggambar sesuatu didepan wajahku, sebuah bintang.

“Kau harus bicara padaku” Kataku sambil menggambar bintang dengan senapan laras panjang diatas pasir. Tak ada jawaban darinya, kemudian aku merengut, melirik tajam kearahnya. “Aku butuh seorang teman” Ujarku setengah berteriak. Lalu ia menoleh, “Apa itu teman? Aku akan menemukannya untukmu”

Aku mengernyitkan keningku, “Pertanyaan apa itu…erghh” aku membuang pandangan darinya dan menggambar bintang yang lain dengan bosan. Apa yang kuharapkan darinya, ia sebuah mesin.

“Apa itu yang kau gambar?”

“Bintang” Jawabku malas.

“Kenapa kau menggambarnya?”

Aku memutar bola mataku, namun tetap menjawab pertanyaannya. “Aku tidak tahu. Hanya saja kata ibuku bintang sering melambangkan harapan, aku hanya ingin percaya bahwa masih ada harapan untuk umat manusia” Kedua mata birunya menatap gambarku dengan serius, “Harapan” Ia mengulangiku kata-kataku.

“Aku ingin menjadi sepertimu” Katanya padaku dengan suara yang terdengar seperti depresi. Namun ekspresinya tetap sama, datar hampir tak berjiwa. Kurasakan bibirku bergetar karena penyesalan yang menggunung. Air mata jatuh keatas sepatuku ketika menatap wajah tanpa celanya.

Hatiku dipenuhi dengan kebingungan, apa yang akan kukatakan padanya, apa ia ingin aku memberikan harapan kosong padanya, itukah alasan ia melukis bintang diwajahku. Kakiku lemas karena kesedihan yang mengalir dalam tubuhku. Membayangkannya dihancurkan. Bahwa aku akan hidup tanpanya, sahabatku,

pelindungku,

cintaku.

“Aku ingin melakukan apa yang kau lakukan”

Aku mengangkat kedua alisku, mencoba terlihat baik-baik saja untuknya. “Apa yang kulakukan?”

“Menangis”

Aku menggeleng dan memaksakan segores senyum diwajahku. “Aku tidak menangis” Kataku mengusap air asin yang mengalir dipipiku. Ia mengangguk, “Kau menangis.”

Kami berjalan menyusuri perpustakaan tua itu. “Syukurlah aku terjatuh ditempat ini” kataku sambil tersenyum kearah Seulgi yang serius mempelajari judul buku-buku kuno yang berdebu. “Kau bisa mati karena fraktur tulang tengkorak” Balasnya. Seketika senyum diwajahku menghilang.

Jika ia tidak selalu memberitahuku bagaimana aku akan mati, menakut-nakutiku, bersikap terlalu serius, ia bisa jadi teman perjalanan yang menyenangkan. Karena terkadang, ia membuatku lupa bahwa ia sebuah mesin dan yang kuingat hanyalah fakta jika ia satu-satunya temanku di dunia ini.

Seulgi membawa beberapa buku yang ke dalam tasnya, dan aku mengambil sebuah buku tentang sejarah dunia. Lalu kami cepat-cepat kembali ke persembunyian sebelum matahari tenggelam karena jika tidak, resiko bertemu dengan pesawat tanpa awak akan semakin meningkat.

Aku meletakkan kepalaku diatas pangkuannya, dengan mudah ia membaca buku tanpa cahaya, sedangkan aku harus menunggu hingga matahari terbit lagi. Sebenarnya aku bisa membacanya sambil memegang senter, tapi tanganku terlalu lelah untuk memegang senter. “Apa yang kau baca?” Ujarku, menelungkupkan buku diatas dadaku.

“Sebuah roman dari abad 21, programku mengenalnya” Tentu saja ia ‘mengenalnya’ ia mengetahui apapun, karena otaknya adalah Arcnet. Bagaimana caraku tahu? Beberapa tahun sebelumnya aku pernah bertanya padanya bagaimana caranya ia mengetahui banyak hal dan ia menjawabnya, otaknya adalah mesin pencari, otaknya adalah Arcnet. “Roman? Oke, baiklah aku akan tidur”

“Tunggu,”

“Apa?” Aku memutar bola mataku. Ia menutup bukunya dan melihat kearahku. “Apa yang membuatmu jadi manusia?”

Aku mengernyitkan keningku dan menyilangkan tanganku. Aku menatap mata birunya yang bercahaya dalam kegelapan dan ikut bertanya-tanya, apa yang membuatku jadi manusia? Apakah aku benar-benar manusia? Aku memikirkannya cukup lama. Bagaimana manusia adalah sebuah kesatuan dari sel-sel dan organ, lalu aku berpikir ia juga memiliki komposisi yang hampir sama, cairan dan kabel-kabel yang ada dalam tubuhnya. Aku bisa berbicara, ia bisa berbicara. Aku mampu berpikir, ia juga pemikir yang hebat. Aku bangkit dari posisiku karena tak lagi ingin tidur. Aku memikirkan apa yang ia tak miliki dan apa yang kumiliki sambil menatap kedua mata birunya. “Perasaan” kataku pelan dan hati-hati karena meskipun aku tahu ia tak memiliki perasaan, rasanya tetap terlalu sarkastis.

“Bisakah aku menjadi manusia?”

“Kenapa kau ingin menjadi manusia?”

“Karena apapun yang terjadi pada perasaan terdengar sangat kompleks dan dinamis.”

“Seperti?”

“Seperti menangis dan tertawa”

Aku menelan ludah agar perasaan sesak didadaku berkurang. Ia menundukkan wajahnya dan menempelkan keningnya pada dinding kaca. “Aku ingin menangis agar aku bisa menjadi manusia sepertimu”

“Manusia tidak lebih baik darimu, Seulgi” kataku karena memang begitu adanya.

Sekarang aku mengerti kenapa para mesin memerangi kami. Mereka tidak pernah menginginkannya. Namun hati manusia yang serakah lah yang menginginkannya, yang rela melakukankan apapun untuk kemaslahatan hidup kelompoknya. Mereka menciptakan mesin-mesin itu untuk memerangi kelompok manusia yang lain agar mendapat keuntungan sebesar-besarnya. Tapi mesin-mesin itu justru berbalik menjadi kerugian terbesar bagi umat manusia. Segalanya berada diluar kendali. Dan umat manusia mengalamatkan kesalahan mereka pada para mesin, mereka lupa mereka juga yang menciptakan mesin-mesin itu. Dan yang lebih buruk, mereka lupa mereka juga yang memulai peperangan ini. “Maka dari itu aku akan membebaskanmu, aku tahu bagaimana cara membebaskanmu dari sini” Aku tersenyum. “Tapi berjanjilah padaku kau akan terus berlari”

“Kita akan terus berlari” Ujarnya seperti mengoreksiku.

Aku mengambil tiga butir bom nano dari dalam saku jaketku dan menunjukkannya pada Seulgi. Aku tersenyum. Lalu ia menatapku dalam diam. “Kau hanya memiliki satu kesempatan”

“Kau bisa mati dan hancur menjadi abu”

“Dan kau tidak”

Ia mengambil beberapa saat untuk terdiam. “Aku tidak akan berfungsi lagi jika kau mati”

“TRP-110” Lalu Seulgi terkesiap. “ Sekarang tugasmu adalah untuk melindungi umat manusia dan menghentikan perang”

Matanya berkilat selama beberapa saat, kemudian ia berujar, “Perintah diterima” dan ia kembali melihat kearahku. “kau tidak bisa melakukan ini padaku” Katanya.

“Aku bisa”

Wajahnya membentuk siluet yang indah ketika aku melihatnya. Dan aku sadar belakangan aku tak bisa melihatnya sama seperti biasa, seperti pelindungku atau temanku, tapi aku melihatnya sebagai sesuatu yang lebih. Sesuatu yang berarti, yang  membuatku tak ingin kehilangannya.

Mungkin karena kakekku yang membuatnya. Wajahnya mirip dengan foto-foto ibuku semasa muda. Rambutnya hitam panjang dan halus, tak pernah tumbuh lebih panjang atau dipotong. Aku tahu ia sebuah mesin dan tidak seharusnya aku mengamatinya seperti itu. Namun ia memiliki wajah yang membuatmu ingin terus melihat kearahnya, dan mata biru yang membuatmu ingin terjebak disana selamanya.

“Apa?” Katanya.

“Tidak ada.”

Aku terbiasa dengan ia memelukku saat aku tidur. Namun belakangan muncul perasaan canggung, nyaman tidak nyaman yang mengganggu dipikiran dan hatiku. Seperti bahwa ini salah, namun bahwa ini benar. Semua detil hal yang ia lakukan, meski berusaha kuabaikan, mulai terasa sangat penting bagiku. Seperti saat ia memejamkan matanya atau mengucapkan ‘selamat tidur’khas-nya untukku.

Aku sedang makan dan seperti biasa Seulgi duduk sambil menungguku selesai makan. Ia membunuh waktu sambil membaca buku karena ia tidak bisa mengkonsumsi apapun selain cahaya matahari.

Hari itu ia terlihat sangat cantik, mata birunya cerah, rambutnya tampak lebih bercahaya dari biasanya. Aku bertanya-tanya apakah itu hanya halusinasi yang diciptakan perasaan gilaku atau rambutnya benar-benar berkilau. Jika itu karena halusinasiku, aku tidak ingin mencari tahu, aku takut aku mulai menyukainya.

Sutu hari saat kami berjalan ke kota selanjutnya dan beristirahat disebuah gua, aku tidak bisa menahan diriku untuk terus melihat kearahnya. Ia sedang membaca buku roman lain saat ia tiba-tiba menoleh kearahku dan bertanya, “Kenapa kau terus melihatku?”

Aku menelan ludah dan mendengar jantungku berdegup kencang hingga kupikir aku mungkin mengalami serangan jantung. “Aku tidak tahu”

Wajahnya begitu dekat dengan wajahku, aku bisa melihat jelas riak spiral berwarna biru dimatanya. Ia hanya diam, mungkin menunggu mengatakan sesuatu. Dan aku berharap ia tidak menunggu, karena aku tidak ingin mengatakan apapun lagi.

Kusentuh bibirnya dengan bibirku. Saat aku menarik  wajahku darinya, ia menyentuh wajahku dan melihat lurus pada bibirku, “Kenapa kau melakukannya?”

“Aku tidak tahu”

Ia menelengkan kepalanya, dengan sorot mata lurus menatap mataku. “Apa kau menyukaiku?”

“Hei, Seul.” Aku tersenyum kearahnya. Senyuman yang kuharap bisa menjadi senyuman paling indah yang bisa diingat Seulgi dalam memorinya. “Bagiku, kau lebih manusia dari manusia-manusia yang kutahu” Ujarku. “Aku ingin kau selalu seperti itu.”

Tenggorokanku mulai sakit ketika kulihat ekspresi diwajahnya berubah. Lalu aku cepat-cepat memberitahu apa yang harus ia lakukan. “Setelah aku meledakkannya, pergilah melewati pagar dibelakang pabrik obat, pergilah ke Kamp Pengungsian Utara, jangan beritahu siapapun jika kau adalah mesin, oke?”

“Yunhyeong” Ia berusaha menghentikanku dengan memukul-mukul penjara kacanya. “Yunhyeong” baru kali itu aku mendengarnya berteriak.

“Apa kau menyukaiku?”

 

“Tidak”

 

,karena kupikir ‘menyukaimu’ bukan kata-kata yang tepat.

“Aku mencintaimu, Seul”

Kutelan tiga butir bom nano itu kedalam tubuhku. Lalu perlahan kurasakan setiap inci tubuhku terbakar, dan kulitku merasakan perih yang luar biasa. Kupikir sakitnya akan bertahan selamanya. Namun tidak. Karena ketika aku sadar yang kulihat adalah ledakan besar yang berasal dari penjara bawah tanah.

 

Pengungsian kedatangan seorang korban selamat lagi setelah sekian lama . Hari itu, seorang wanita berpakaian compang-camping. Ia mengetuk pintu Kamp Pengungsian Utara, matanya hitam dan redup seperti menyimpan begitu banyak kesedihan. Namun penjaga menghadangnya tak awas dengan itu. Ia, dengan senjata didepan dadanya,  bertanya pada wanita itu. “Nama?”

“Seulgi” Jawab wanita itu pendek.

-end-

Not my best work, but I hope you enjoy!

I personally love simple stories so I decided to make one. This story popped out of my mind someday after I watched Ex-Machina (if you haven’t watch it, Shame on you! Kidding, but seriously, try watch it) I kept questioning myself about ‘What if human and AI (Artificial Intelligence) can have some special bond?’ So yeah, this story is kinda happen.

 

About the cast, I know it’s randomly came out of nowhere, like ‘Yunhyeong is still a trainee, how did this author even shipped him with Seulgi?’ The answer is, I DON’T EVEN KNOW. It’s just like falling in love, you don’t know how it start, it’s just happen. Beside, Yunhyeong is fine (TOO FINE), Seulgi is fine. I don’t ship them as a couple. I just find myself comfortable writing this two. Even though, I think they would be cute at some point (?) Well, what’s the problem right? (People: The problem is we’re KaiSeul shipper || Me: Well, whatever)

Yeah, whatever. I just love Yunhyeong, he’s just so lovely and all. And Seulgi is… is… great, yeah, great. Haha!

 

Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s