Yesterdayland

Yesterdayland

 (Original Fiction by ahnmr)

Hal ini selalu menggangguku, menatap kertas kosong pada lembar kerja Word. Dan aku harus selalu mulai dengan setiap ingatan yang aku miliki tentangnya. Selama lima tahun terakhir aku mencari tahu tempat itu, mencoba mencari jejaknya, tapi tak ada hal yang bisa membawanya kembali.

Aku ingat pertama kali menatapnya di lorong ketika aku kelas dua. Ia bukan jenis anak laki-laki yang pernah kulihat seumur hidupku –saat itu aku baru 7 tahun– berangkat ke sekolah seperti baru saja selamat dari kebakaran.

Ia mengenakan kaos berwarna abu-abu, berkancing di bagian kerah. Wajahnya penuh dengan debu, celana panjang berwarna coklat yang sobek di bagian kiri lututnya membuatku yakin, ia baru saja mengalami pagi yang berat.

Pandangannya menyapu tiap inci lorong. Sorot matanya penuh dengan kekaguman dan rasa ingin tahu. Lalu  di tempatku berdiri aku menatapnya sambil bertanya-tanya, kenapa tak seorangpun menghampirinya dan bertanya, ‘Apakah kau baik-baik saja?’. Sebaliknya, orang-orang berlalu lalang bersikap seolah tak ada siapapun disana. Mata anak itu terkunci padaku selama beberapa saat, ia menemukanku diantara lautan manusia itu dan mengangkat sudut bibirnya. Kurasa ia tersenyum, dan kalaupun tidak. Aku tahu ia mencoba.

Jajaran manusia yang menghambur di lorong saat itu membuatku sulit mendapatkan jejaknya. Dan saat aku berharap menemukannya lagi, ia telah pergi.

Setelahnya, aku dibuat penasaran tentang anak itu dan apa yang dilakukannya di sekolah dalam keadaan seburuk itu. Aku bertanya pada teman-temanku jika ada kebakaran atau kecelakaan dimanapun disekitar kota, tak ada yang mengiyakan pertanyaanku.

Apapun ia,  ia selalu membuatku penasaran. Dan selama dua tahun berikutnya, aku masih sering bertanya-tanya pada diriku tentang apa yang kulihat.

Sinar matahari mengintip dari balik celah dedaunan. Udara musim semi terasa hangat menerpa wajahku, meski aku tahu, ini bukan waktunya aku menikmati udara musim semi yang menyenangkan.

Aku. Harus. Bergegas.

Sepedaku melaju dengan kecepatan mengagumkan di jalur pedestrian. “Selamat pagi, Mrs Hudges” Aku menyapa Mrs. Hudges yang tengah sibuk dengan pagar tanaman halaman rumahnya, “Semoga harimu menyenangkan, Chloe” ia tersenyum geli padaku. Tahu bahwa aku sedang terburu-buru.

Jika bukan karena taruhan dengan Christia dan Milo hari ini, aku tidak akan berangkat seterburu-buru ini.

Hebat, aku melewati perumahan ke kota hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Kuakui kekuatan uang memang menakjubkan, uang membuatku bangun di pagi hari dan mengayuh pedal seperti orang kesetanan.

Lampu merah di perempatan jalan memaksaku berhenti, untuk beberapa detik aku mulai pesimis soal 6 dolar itu. Berpikir, mungkin saja Christia atau Milo berhasil mendahuluiku. Tapi setelahnya kulihat Christia bersama sepedanya dari jalur kanan perempatan, dan Milo yang baru saja muncul dari jalur kiri perempatan. Ternyata, bukan hanya aku yang terlambat disini. Kami bertiga berpandangan, saling melempar tatapan ‘Enam Dolar itu milikku.’

Saat lampuku hijau, aku tersenyum licik dan cepat-cepat melaju kencang di jalur sepeda. Untuk sesaat aku dapat mencium bau kemenangan, aku akan menjadi pemenang utama enam dolar itu. Adil dan mutlak.

Kring, Kring, suara bel sepeda, kulihat Milo tersenyum padaku sambil mengunyah permen karet. “Sampai ketemu di sekolah, Payah!!” ia tertawa, lalu mangayuh pedal sepedanya dengan lebih kencang. Tidak akan kubiarkan, batinku. Lalu aku mempercepat laju sepedaku, aku tak peduli jika kakiku kelelahan, tidak peduli jika kakiku lecet akibat telapakku meleset meraih pedal.

Aku ingin enam dolarku.

Tiba-tiba seseorang muncul di depan sepedaku, membuatku menghentikan laju sepeda.

Aku mengerem sepedaku dan tak dapat menjaga keseimbangan, kubanting sepedaku ke kanan dan terjatuh, kepalaku membentur aspal, helm-ku terlempar beberapa meter dariku. Aku tak dapat mendengar apapun, tapi aku dapat merasakan sesuatu merembes dibawah rambutku.

Dunia terasa berputar, pandanganku mengabur. Hal terakhir yang kuingat sebelum segalanya menjadi gelap adalah sepasang mata hijau.

Dan saat aku bangun, aku berada di rumah sakit. Menemukan wajah ibuku, ia tersenyum, memelukku dengan berlinang air mata. Untuk sesaat aku bahagia aku masih bertahan hidup dan dapat merasakan lagi kehangatan pelukan ibuku, aku bahagia aku kembali melihat dunia.

Tapi pikiran ini mengangguku, ingatan terakhirku sebelum koma, sepasang mata hijau itu.

Aku yakin aku pernah melihatnya,

di suatu hari membingungkan, saat aku kelas dua.

Hujan menyisakan rintik kecil dari atas langit serta tetesan air yang membentuk kristal dari atap rumahku. Aku menempelkan keningku di jendela, memikirkan segala hal yang kulihat belakangan. Dan mempertimbangkan apakah aku mengidap semacam penyakit psikologis.

Semenjak kecelakaan kecilku pada umur 13 tahun, aku terus melihat bayangan laki-laki ini, intensitas kemunculannya semakin bertambah setiap hari, dari yang sekali menjadi dua kali, dari dua menjadi tiga kali. Dari satu detik menjadi dua detik, dan dua detik menjadi tiga detik, dan seterusnya. Ia terasa nyata, tapi kenapa hanya aku yang dapat melihatnya?

Seperti sore ini. Aku melihatnya berdiri dibawah hujan, mengenakan mantel panjang coklat. Ia membiarkan air hujan membasahinya dan ia tersenyum padaku, melambai kearahku. Sedangkan aku hanya diam, mendengarkan detak jantungku yang berdetak semakin cepat. Bukan karena aku terpikat oleh senyuman jahilnya. Lebih karena aku takut, kalau-kalau dia hantu.

Selama lima belas menit, ia masih berdiri disana, melihatku seperti sebuah piala, dan saat aku baru saja memutuskan untuk turun dan menemuinya, berteriak padanya untuk berhenti mengikutiku, ia hilang dalam sekejap mata.

“Skizofernia” Kata Christia.

“Benarkah?”

“Ya, kau pernah nonton A Beautiful Mind kan? Profesor itu mengidap skizofernia, ia merasa dikejar-kejar agen rahasia rusia, padahal itu hanya karangannya saja. Ya begitu itu kalau misalnya kau terlalu jenius”

Aku menelan ludah mendengar diagnosis Christia. Di sisi lain aku merasa tersanjung karena ia mengatakan aku jenius, tapi di sisi lain aku tahu aku mungkin seorang pengidap penyakit jiwa. “Eh, tapi masa sih sepupumu ada yang skizofernia?”

Well, aku tidak tahu, Chris, aku hanya mendengar ceritanya saat aku pulang ke rumah nenek musim panas lalu”

“Aku turut menyesal soal itu, Chloe”

Waktuku pada pelajaran fisika terbuang untuk memikirkan perkataan Christia tadi pagi. Aku gila, pikirku, aku seorang pengidap skizofernia. Dan hal itu membuatku takut. Oke, mungkin keren menjadi jenius. Tapi menjadi gila secara harfiah bukan jenis keren yang aku inginkan. Di tengah-tengah kekhawatiranku itu, pria itu muncul lagi. Ia duduk di kursi kosong disampingku, mengenakan kemeja putih gading dan celana coklat. Dagunya bertumpu pada kedua telapak tangannya, ia melihat kearahku, mengangkat kedua alisnya, mengatakan, “Kau terlihat tidak sehat hari ini?”

Mulutku terkunci, lidahku terikat. Tapi batinku berteriak, ia disini, ia berbicara padaku.

“Aku ingin memberitahumu banyak hal, Chloe”

Aku meyakinkan diriku, ia hanya sesuatu dari dalam imajinasiku. Lalu aku menutup mataku, berteriak pergi dari sini, pergi dari sini. Namun ketika aku membuka mata, ia masih berada disana, duduk diatas kursi dengan tenang, seolah ia benar-benar berada disana, dan sama seperti semua orang dalam ruangan itu. Ia mengambil buku catatanku dan mencatat catatan penting sepanjang sisa pelajaran fisika lanjutan. Sedang aku, mencoba mengatur napas, berusaha menyembunyikan debar jantungku yang berdebum keras di balik tulang rusukku.

Sejujurnya, aku takut.

Ia tersenyum padaku. “Maafkan tulisanku” ujarnya. Lalu saat bel berbunyi, ia menghilang, seperti terakhir kali ia menghilang dari halaman belakang rumahku.

Pikiranku mengatakan ini tak mungkin nyata. Kuambil buku catatanku, membuka catatan penting dari kelas fisika lanjutan hari ini, membolak-balik halaman bukuku, mencoba menerima bahwa apa yang terjadi barusan adalah nyata. Karena catatan itu benar-benar ada disana, dan tulisannya sama sekali tak seperti milikku. Tulisan sambungnya mirip seperti tulisan dokter yang kulihat pada resep-resep obat, lalu milikku, sama seperti tulisan remaja 15 tahun pada umumnya.

Apa aku sudah gila jika memercayai hantu itu ada?

Ia berada disana, diantara kerumunan pesta.

Milo tengah berbicara dengan seorang gadis dari kelas bahasa spanyol ketika aku pergi untuk mengambil punch. Jika kau bertanya tentang Christia, aku tak akan menjawab. Tapi aku bisa memberi petunjuk. Ia berada di lantai dua, dan tidak sendirian, atau lebih tepatnya, tengah membutuhkan privasi.

Suara musik yang keras dan keramaian diruang tengah membuatku memilih untuk mengasingkan diri. Aku duduk diatas pantri di dapur, menganggukkan kepalaku mengikuti irama musik house yang dimainkan Troy. Aku bisa melihat apa yang terjadi di ruang tengah lewat pintu dapur rumah Jenny yang lebar. Aku bisa melihat Milo berdansa dengan gadis yang baru saja dikenalnya, gerakannya sangat canggung, bahkan menurutku bebek bisa menari lebih bagus daripada Milo.

Ditengah keramaian itu, aku hanya berharap segalanya cepat berakhir, dan aku ingin pergi dari sini.

Pesta dan keramaian sangat bukan gayaku. Tapi karena kedua sahabatku terlihat sangat bersemangat untuk pergi ke pesta. Akhirnya aku setuju untuk ikut. Lagipula mereka sahabatku. Mereka tak ingin meninggalkanku, dan aku tidak ingin membuat mereka khawatir.

Well, andai saja mereka mengerti kesepianku. Duduk sendirian, meminum sirup yang rasanya seperti Gatorade. Menunggu sesuatu yang tak pernah datang saat kau berharap ia datang.

Benar, menunggu dan kesepian, Kombinasi kemalangan yang tepat untuk seorang gadis aneh bernama Chloe Bennet.

Edmund,

Nama itu bergema lagi dalam pikiranku. Nama yang kuketahui tiga bulan yang lalu. Nama yang membuatku penasaran selama 9 tahun.

Kini nama itu tak lagi jadi pertanyaan untukku, namun menjadi sesuatu yang layak dinanti.

Segala hal tentang Ed selalu menjadi pertanyaan besar dipikiranku. Seperti kapan dia akan muncul, darimana ia muncul, apa yang ia lakukan disini, bagaimana ia mengetahui banyak hal tentangku dan kenapa ia menghilang begitu saja. Satu-satunya hal yang pernah Ed lakukan dan merugikan untukku adalah saat ia muncul didepan sepedaku saat aku berumur 13 tahun, lalu membuatku gegar otak. Tapi setelahnya, Ed selalu datang di momen-momen sepiku. Ia datang menghancurkan tiap inci kesedihan yang muncul dari dalam sel-selku, lalu merangkai kebahagiaan dengan senyum jahilnya yang menyebalkan. Seperti detik ini.

Ia berada disana, diantara kerumunan pesta. Melewati remaja-remaja setengah mabuk yang tengah terlena oleh ritme badum badum dari speaker besar di sudut-sudut ruangan. Ia membawa segelas punch ditangan kirinya. Mengacungkannya kearahku dengan senyum simpul yang seketika membuatku tersenyum juga.

“Butuh waktu setengah jam untuk menemukan rumah ini” Kata Ed, berdiri didepanku.

Kedua tanganku bertumpu pada ujung pantri, aku mencondongkan wajahku kearahnya dan mengangkat alisku. “Benarkah? Kupikir kau tak akan datang”

“Aku orang yang berpegang teguh pada janjiku, Chloe!!”

“Apa?!” Suara musik yang terlalu keras sedikit menganggu pendengaranku. Namun sebenarnya aku bisa mendengar tiap perkataan Ed dengan jelas, aku hanya mencari alasan untuk pergi dari sana. “Aku tidak bisa mendengarmu!! Ayo kita pergi dari sini!” Aku melompat dari atas pantri dan meraih tangannya. Membawanya berlari bersamaku, keluar dari suasana gila itu.

“Kau tinggal lebih lama hari ini”

Ed terdiam, lalu menoleh kearahku. “Yeah, aku tahu. Keren hah?”

“Tapi kau akan tetap pergi tiba-tiba”

Ia menarik napas panjang dan tersenyum, “Aku akan menemukan cara untuk mengendalikannya, kau percaya padaku?”

Mata hijaunya menatapku penuh percaya diri, aku bisa melihat bayanganku terpantul dari sana. Dan aku merasa, aku ingin selamanya menemukan diriku menatap kedua mata hijaunya. Matanya seperti samudra yang membuatmu ingin tenggelam didalam sana. Tatapan hangatnya seperti perapian yang membuatmu ingin selalu meringkuk didekatnya. Dan sorot matanya mencerminkan pintu ke dalam pikirannya yang lebih luas dari jagad raya, aku ingin masuk ke dalam sana, memahaminya, berkelana mencarinya.

Aku tersenyum kearahnya dan mengangguk.

“Ceritakan padaku tentang Yesterdayland” Kataku, dan mata Ed langsung berbinar seperti tiap saat ia memaparkan dengan rinci bagaimana dunia terjadi. “Langit selalu kelabu disana” Ia memulai ceritanya.

Aku tidak ingin tahu berapa lama waktu yang kami habiskan bersama dibawah langit gelap bertabur bintang. Aku bisa tertawa, ikut sedih bersamanya, merasakan empati yang tersambung dalam diriku pada dirinya ketika Ed bercerita tentang Yesterdayland. “Duniaku adalah Dunia alternatif duniamu, dan sebaliknya. Aku dan Profesor Higgins, mempelajari tentang konsep ruang waktu yang terjadi dalam dunia kita, dan terbukti bahwa dunia kita merupakan susunan dari rumus fisika rumit, lebih rumit dari fisika lanjutan yang kau pelajari.” Ia tahu aku mulai tidak mengerti arah pembicaraannya, dan mengangguk, “tapi intinya, dunia kita sama-sama bergerak lurus, hanya saja dalam linier yang berbeda”

“Tapi itu tidak menjawab bagaimana caranya hanya aku yang dapat melihatmu, Ed”

“Itu variabel yang tak pernah bisa kupecahkan Chloe” Ed melihat kearahku, aku bisa merasakan suaranya yang bergetar. Kesal, karena tak tahu tentang sesuatu.

“Jika aku bisa melihatmu, pasti ada sesuatu yang menghubungkanku dengan Yesterdayland,” Ujarku. “Pasti ada sesuatu tentangku disana, Ed”

Lalu hening untuk beberapa saat, Ed menggigit bibirnya, lalu tiba-tiba memetik jarinya dan bangun dari posisi berbaring. “Kau jenius, Chloe”

Well, makasih”

“Ya Tuhan, Ya Tuhan, aku harus menulis ini di dalam jurnalku, aku harus pulang, aku harus memberitahunya pada Profesor Higgins…” ia meremas-remas tangannya gemas. “Kita harus pulang sekarang kan?” Kata Ed dengan mata terbuka lebar dan kedua alis yang mengangkat. Aku tahu ia selalu bersemangat ketika menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. “Baiklah” Kataku, tersenyum.

Ia mengantarku pulang dan berjanji akan menemuiku lagi besok.

Christia membaca majalah sambil memakan kripik diatas kasurku. Ia terus berkomentar soal gosip-gosip yang baru saja ia baca dan memberitahuku, mirip seperti saat anak cheers bergosip. “Lihatlah, Chloe, Jena Wright setahun lebih muda darimu tapi lihat, ia punya pacar, dan pacarnya adalah Miles Ross-ku, dasar jalang” Ia kemudian membalik majalahku dengan kasar.

“Mungkin hidupnya sebegitu tak bergunanya sampai ia harus gonta-ganti pacar terus”

“Kau menyindirku?”

“Kurang lebih” kataku.

“Oke, terserah, tapi begini, Chloe, jika kau tetap ingin single hanya karena menunggu pria bernama Edmund itu kembali dari New York, bisa kubilang itu sikap yang cukup pragmatis, well, kau pikir gadis-gadis New York tidak menarik?”

Aku memutar bola mataku dan menyumbat telingaku dengan earphone. Sering perkataan Christia membuatku berpikir. Apakah Ed mungkin, di dimensinya dekat dengan seorang gadis seperti ia dekat denganku?

Pertanyaan itu muncul dalam benakku ketika aku melihat Ed berdiri didepan halaman rumahku tepat lima menit sebelum hari berganti ke tanggal 9 Juli, ulang tahunku yang ke tujuh belas. Aku cepat-cepat mengambil jaket, lari menuruni tangga dan pergi keluar halaman untuk menemuinya.

Tanpa berpikir panjang, aku memeluknya. Lalu semua pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya seolah lenyap tertelan dalam lubang gelap berputar. Dan disana hanya tersisa aku dan Ed yang mendekapku erat. Ia mengusap punggungku, berbisik, “Kau harus lihat sesuatu”

Ia mengajakku pergi ke rerumputan luas tempat kami biasa bercerita tentang segala hal. Udara musim panas yang hangat menerpa jaketku dan mantel coklat favoritnya. Ed menggenggam tanganku dan mengajakku berlari ke tengah rerumputan yang terang, diterangi empat buah lampu petromaks. Ditengahnya ada sebuah selimut piknik dan keranjang coklat. “Aku tahu ini bukan jam dimana kau seharusnya makan banyak, tapi, yah, ini yang bisa kulakukan untukmu. Selamat ulang tahun ngomong-ngomong.” Ed melirik kearahku, “Mm, panekuk dan sirup mapelnya buatanku”

“Wow, terimakasih, Ed. Benarkah kau membuatnya untukku?”

Ed menengadahkan wajahnya dan menatapku dengan ekspresi bersalah, “Well, ibuku yang membuatkannya”

“Ibumu tahu tentangku?” Aku bertanya, setengah tidak percaya. Lalu Ed mengangguk, “aku selalu menceritakan pada ibuku dan profesor Higgins tentangmu, mereka menyukaimu” Kurang lebih itu membuat pipiku bersemu merah. Tapi untung saja disana gelap dan Ed tak dapat melihatku tersipu malu diantara kegelapan itu.

“Ini enak” Kataku. Lalu Ed menuangkan secangkir teh.

Ia mengenakan kemeja panjang dengan suspender dan celana panjang coklat. Gayanya berpakaian selalu mengingatkanku pada aktor pada tahun 50-an, yang menurutku sangat unik. Wajahnya menengadah kearah langit musim panas saat aku memakan panekuk buatan ibunya yang kulumuri dengan sirup mapel. Sambil menatap langit ia berujar, “Langit disini sama dengan langit yang kulihat dirumah, hanya bedanya langitku selalu lebih kelabu”

“Apa itu hal buruk, atau hal baik?”

Ed melihat kearahku dan menggeleng, “Aku tidak tahu, hanya saja itu artinya, dinding diantara dunia kita teramat sangat tipis”

Kuteguk secangkir teh hangat yang dituangkan Ed untukku. Dan kulihat ia sudah berbaring diatas selimut piknik. Masih mengamati langit. Dan hal itu membuatku merasa terabaikan. Pikiranku berteriak, lihat aku, lihat aku, aku berada disini. Tapi tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Dan aku hanya bisa mengamatinya dari tempatku duduk.

Aku mencoba mendekatinya dan duduk disampingnya. Selama beberapa waktu aku membiarkannya sibuk dalam pikirannya. Tapi aku semakin tidak sabar dengan sikap acuhnya. Aku mulai berpikir bahwa satu-satunya hal yang membuatku spesial untuknya adalah fakta bahwa aku mau mendengarkan segala ocehannya tentang penilitian perjalanan dimensi yang ia lakukan. Dan semakin ia diam, semakin aku takut bahwa ini tidak nyata.

Kualihkan pandanganku kearahnya, namun pandangannya masih terpaku pada langit. Benakku mulai bertanya, bagian mana dariku yang tak lebih menarik dari langit musim panas? Aku benar-benar ingin menanyakan itu pada Ed. Perasaanku campur aduk antara marah, terabaikan, namun takut untuk mengatakannya. Lalu aku memutuskan untuk bertanya, “Jika aku menjadi langit, apakah kau juga akan terus memandangku seperti itu?”

Lalu pandangannya beralih kearahku, dan ia mengatakan, “Maafkan aku” Ia bangkit dari posisi tidurnya dan melihat kearahku, “Kau marah padaku?”

“Yeah, sedikit”

“Maaf,” Ia menatap wajahku erat-erat dengan mata hijaunya yang menakjubkan “aku terlalu tenggelam dalam duniaku” Ia melanjutkan.

“Dan kau meninggalkanku, disini sendirian, dalam gelap, dengan secangkir teh yang mulai dingin.”

Aku bisa merasakan tubuhnya menegang, dan hal yang lebih buruk, aku merasa pecah saat melihat kekhawatiran diwajahnya, “Jika kau tenggelam, aku juga ingin tenggelam. Jika kau terbang kesana, jangan tinggalkan aku sendirian, kau pernah berjanji kau tak akan membiarkanku merasa kesepian” Kataku dengan suara yang bergetar.

Ed menatapku dengan sorot mata penuh pertanyaan, dan sorot mata itu mengembalikanku pada kejadian 10 tahun lalu. Pertama kali aku melihatnya, ia kebingungan dikoridor sekolah dasar, bertanya-tanya tentang hal-hal yang ia lihat disekitarnya. Namun aku tahu, yang sekarang menjadi pertanyaan dalam benaknya bukanlah langit, atau apapun yang ada disekitar kami, melainkan aku.

“Apakah kita nyata?” Ia mengucapkan pertanyaan yang selalu muncul dalam benakku. Aku ingin lenyap bersama angin detik itu. Aku ingin lari darinya. Pertanyaan itu nyaris membuatku gila. Tanganku bergetar, jari-jariku terasa dingin. ‘Apa kami nyata?’ kata-kata itu terus berputar dipikiranku.

Aku tidak tahu, aku tidak tahu, Ed.

Saat kupikir ia akan menghilang dan lenyap bersama udara dingin, Ia menyentuh wajahku dan mengusap bibirku dengan ibu jarinya, “ada sisa sirup mapel disana” Kata Ed, lalu ia mengecup bagian dimana ia mengusap sirup mapel itu. Aku menarik tubuhku pelan dan terkesiap menatap Ed. Aku merasakan ledakan-ledakan perasaan dalam diriku, jantungku berdegup kencang, dan aku takut aku bisa mati karenanya. Selama beberapa saat aku melihat penyesalan di manik mata Ed. Dan aku tak ingin membuatnya menyesali apapun yang terjadi malam ini. Jadi aku mencondongkan tubuhku kearahnya, dan mencium bibirnya.

Matanya terpejam, mataku terpejam, segalanya seperti mimpi. Namun rasa mapel dibibir kami terasa nyata, sehingga bodoh jika kami menafikan kenyataan ini lagi. Ed nyata, kami nyata, keberadaan kami nyata.

Langit musim panas itu tahu aku tidak gila,

langit musim panas itu tahu aku tidak sendirian,

langit musim panas itu tahu seorang anak laki-laki dari dimensi lain merenggut ciuman pertamaku,

dan langit musim panas itu tahu aku sangat mencintainya.

Milo dan Christia menatapku seolah aku baru saja kembali dari pesta teh bersama kelinci dari bulan.

“Kau gila, Chloe” Kata Christia, setelah jeda yang cukup panjang. Milo membuang pandangannya ke jalan dan mengalihkan pandangannya kearahku, membuka mulutnya, berusaha mengatakan sesuatu, tapi ia tak kunjung mengatakannya. “Maksudku, apa kau mencoba merayakan pesta ulang tahunmu sendirian? Kau tahu kami tak akan lupa kan? Chloe, kau aneh belakangan ini” Christia melanjutkan.

Ketika mendengarnya aku langsung tahu bagian aneh mana saja yang dibicarakan Christia. Saat ia mengira aku bicara sendiri, saat aku sering main ke hutan, saat aku lebih memilih memerhatikan waktu daripada menghabiskan waktu bersamanya dan Milo.

“Kau tidak asyik lagi, Chloe”

“Kau tahu aku memiliki semua alasan untuk itu, Chris” Ujarku. “Ya, aku tau, tapi kali ini kelewat aneh Chloe”

“Apa ini tentang cowok bernama Edmund itu?” Milo masuk ke dalam pembicaraan kami.

Aku terdiam, dan kulihat kemarahan diwajah Christia. “Siapapun cowok itu, ia membuatmu nampak seperti orang gila, Chloe, kau terus melihat jam seolah ia akan kembali dalam beberapa jam padahal kau tahu ia ada di New York, dan yang lebih parah, kau mulai bicara pada dirimu sendiri”

“STOP!!!” Aku berteriak, tidak peduli jika orang-orang di ladang melihat kearah kami. “Aku tidak gila, dan seharusnya kalian percaya padaku”

Kenapa aku? Diantara semua orang kenapa hanya aku yang harus menerima ketidak-masuk-akalan ini. Kenapa hanya aku yang dapat melihat semua keajaiban itu. Dan kenapa aku dikatakan gila karena mengetahui hal-hal menakjubkan tentang Yesterdayland.

Disini, ketika aku terpenjara dalam kamar yang hampir sepenuhnya bernuansa abu-abu. Aku berharap ia menemukanku, aku tak bisa mengingat segala hal tentangnya, dan aku tak bisa membuktikan keberadaannya.

Disini, dari jendela kamarku yang berukir, langitpun berwarna kelabu. Dan aku ingat ia selalu mengatakan, “Langit selalu kelabu disana” –di Yesterdayland. Lagi-lagi aku berharap ia menepati janjinya.

Terakhir kali aku melihat langit biru dan menghirup udara tanpa merasa khawatir dan takut adalah ketika aku memberitahu Christia dan Milo tentang Ed, hanya beberapa minggu setelah semester pertama kami di Gettysburg dimulai. Ed berada disana siang itu. Ia berada disana dan ia menatapku penuh rasa khawatir.

Ia telah mengingatkanku, ia telah mengatakannya padaku, “Semuanya akan sia-sia, mereka tidak akan mempercayaimu”

Ed benar, ia selalu benar.

Saat aku berusaha menjelaskan pada mereka tentang Ed dan Yesterdayland, mereka melihatku seolah aku baru saja meracau dalam tidurku. Awalnya mereka menganggapku bercanda. Tapi ketika aku mulai menjelaskan detil-detil tentang segala hal yang telah kulewati bersama Ed, dan apapun yang kuketahui tentang Yesterdayland, mereka menganggapku gila.

“Kau harus bicara pada seseorang” Kata Milo, aku tahu ia bermaksud mengembalikan kenormalanku, aku tahu Milo hanya melaksanakan tugasnya sebagai sahabatku. Ia membawaku pada ayahnya yang seorang psikiater. Namun aku tak bisa menganggapnya sebagai bantuan. Aku tidak gila, aku tahu aku tidak gila.

Aku tidak pernah lupa saat dokter Connor mendiagnosis keadaan mentalku, dan mengatakan pada ayah dan ibuku –singkatnya– aku skizo parah. Aku tidak pernah lupa bagaimana rasanya saat tak seorangpun mempercayaiku dan justru menjebloskanku dalam ruangan isolasi khusus orang tidak waras a.k.a sinting. Aku tidak pernah lupa bagaimana rasanya satu per satu orang yang penting dalam hidupku menghilang. Lalu hari demi hari terpenjara dalam ruang isolasi itu, membuatku merasakan diriku ikut hilang bersama waktu.

Satu-satunya orang yang tak pernah absen mengunjungiku selama satu tahun terakhir adalah dokter Connor, ia datang menanyakan kabarku tiap pagi dan memberiku kertas, ia menyuruhku menulis apapun dalam kertas itu. Dan seharian aku menulis apapun yang ada dalam pikiranku di atas kertas itu, sebagian besar tentang Ed dan Yesterdayland, lalu sisanya pertanyaan yang terus muncul dihatiku dan perasaan ditinggalkan oleh orang-orang yang kusayangi.

Ketika pagi datang lagi, dokter Connor akan mengambilnya dan menggantinya dengan kertas-kertas baru. Aku pernah bertanya, “Kenapa kau tidak memberiku buku saja? Bukankah itu lebih praktis, maksudku, kau jadi tidak perlu menemuiku tiap hari”

Dokter Connor tersenyum, “Entahlah,” ia berkata. “Mungkin aku hanya membuat alasan untuk bisa melihatmu dan mungkin, bicara seperti ini denganmu”

Mungkin ia benar, kadang aku tak bicara sama sekali selama berhari-hari.

Diriku masih tak bisa menerima diagnosis dokter Connor. Aku tidak gila. Aku tidak gila. Aku berteriak dalam hati.

Itu tahun keduaku di Sunset Asylum. Saat aku, seperti biasa, masih memeluk lututku diatas tempat tidur dan memandang langit kelabu diluar jendela. Ed datang, ia berjalan dibelakang suster yang biasa mengantar makanan yang jarang sekali kusentuh kecuali saat perutku sudah benar-benar sakit.

Wajahnya penuh debu abu, rambutnya jauh lebih berantakan dari terakhir aku melihatnya, dan ia mulai memiliki jambang. Mata hijaunya kelihatan lelah, kulitnya lebih pucat, badannya yang kurus jauh lebih kurus lagi. Untuk sesaat ia terlihat sama gilanya denganku. Lalu didetik berikutnya, aku mulai sadar, ia hanya bayangan, ia tidak nyata.

“Akhirnya aku menemukanmu” Napasnya terengah-engah, aku bisa merasakan kelegaan pada suaranya.

Aku menghiraukan suara itu, menyuruhnya pergi dari pikiranku. Tapi ia tak kunjung pergi. Justru ia semakin bicara banyak. “Aku telah melakukan segala hal untuk menyatukan dimensi kita, tapi, itu mustahil”

“Kau tidak gila, Chloe, aku bisa jamin itu. Aku tahu penyebabnya, tentang kenapa hanya kau yang dapat melihatku, karena kau bagian dari Yesterdayland,” Aku memejamkan mataku berusaha menyingkirkannya dari pikiranku. Pikiranku menderu, pergi –pergi –pergi, tapi ia tak kunjung pergi. “Setelah kutelusuri sejarahmu, aku bisa memberikan konsklusi bahwa, ada seseorang dari Yesterdayland yang pernah melakukan perjalanan dimensi sebelum aku, dan kemungkinan besar ia adalah satu dari orangtuamu. Kau bukan seorang Bennet, Chloe. Kau diadopsi”

Tidak mungkin. Aku berteriak dalam pikiranku. Wajahku mirip dengan ibuku. Itu mustahil, ini hanya karangan pikiranku. Ini tidak mungkin nyata, aku tidak gila, “BERHENTI!!!” aku berteriak. Menyeringai tajam kearah Ed. “Kau hanya hantu dalam pikiranku, Ed, pergi dari sini! Aku tidak gila! Aku tidak ingin orang-orang menganggapku gila, berhentilah bermain dipikiranku, pergi!!!” Ujarku dengan suara bergetar marah.

Ed menarik napas panjang, ia menelan ludah dan mengangguk. “Aku membawa sesuatu,” Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda berupa cincin dengan kristal hitam diatasnya. “Aku membuatnya” Ia maju selangkah mendekatiku, mengulurkan benda mungil itu.

“Pergi” ujarku.

Ed menggeleng, “Sentuh saja”

Awalnya aku ragu, menolak, kenapa juga aku harus menuruti tokoh karanganku sendiri, tapi ia bisa jadi nyata. Jadi aku mengulurkan jari telunjukku, menyentuh benda itu. Lalu seketika ruang kelabu disekitarku lenyap. Tergantikan oleh pada rumput luas dengan latar langit kelabu. Aku terkejut setengah mati dan menarik tanganku dari cincin itu, menyembunyikannya dibelakang punggungku. Kemudian penjara kelabuku kembali mewujud disekitarku.

“Aku menciptakan pintu dua arah” Ia tersenyum, “Aku akan menyempurnakannya, aku berjanji, aku akan membebaskanmu”

Ed mencium keningku, “Aku tidak akan membiarkanmu kesepian” ujarnya, sesaat sebelum ia menghilang.

Keesokan paginya ketika dokter Connor datang membawa kertas seperti biasanya. Ia menanyakan kabarku, alih-alih aku menjawab pertanyaannya. Aku malah melemparkan pertanyaan, “dokter, apakah aku diadopsi?”

Dokter Connor, mengernyitkan keningnya, “Aku, tidak, tahu, Chloe” lalu ia bertanya kenapa aku menanyakan hal semacam itu. Aku hanya ingin tahu, bahwa Ed yang kulihat kemarin bukan hanya tokoh karangan yang dibuat dikepalaku seperti kata orang-orang.

Sebelum dokter Connor melangkah keluar dan melanjutkan harinya yang –kuharap– menyenangkan. Aku meminta satu hal, “dokter, bisakah kau mencari tahu hal itu untukku?”

Ia hanya memberiku satu anggukan.

Ibu memeluk dan meminta maaf padaku, tak pernah memberitahuku yang sebenarnya.

Ditempatku berdiri aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong, kecewa karena memercayainya selama ini. Aku tahu, meski ia bukan ibu biologisku, ia menyayangiku. Disisi lain aku tahu Ed nyata, Yesterdayland bukan hanya suatu tempat didalam pikiranku. Tempat itu, seperti kata Ed, ada dibalik dinding dimensi kami. Dan ditempat itu, ayah atau ibu kandungku mungkin merindukanku.

“Apakah, ibu mungkin tahu tentang orangtuaku?” Aku bertanya dengan suara lirih.

Ibu masih menangis, aku tahu tangisannya mengisyaratkan ketulusan dalam hatinya. Ibuku adalah orang yang baik, ia pantas mendapatkan seorang putri yang normal, bukan sepertiku yang separuh dirinya seharusnya berada di dimensi lain. “Ibu tidak pernah tahu, sayang, maafkan ibu, tapi tak seorangpun tahu bagaimana kau datang ke panti asuhan saat itu”

Kali ini akulah yang memeluk ibuku, aku tidak ingin ia menangis lagi. Dan aku ingin menghargai semua kasih sayang yang telah ia berikan padaku, meski itu tak pernah cukup. “Aku menyayangimu, bu” Ujarku, sebelum bel berbunyi dan aku harus berpisah dengan ibu.

Sudah lepas lima tahun aku menunggu Ed, namun ia belum kembali.

Dan selama itu aku masih terus mencoba membuktikan kewarasanku. Aku mencoba meninggalkan bukti dalam tulisan-tulisanku. Berharap saat akhirnya aku menghilang dari tempat ini, mereka akan mencari serpihan tentangku, mereka akan terus mengingatku.

Di tiap pagi saat dokter Connor datang dan bicara padaku ia masih terus menanyakan tentang Yesterdayland. Aku tahu ia berpikir pikiranku jauh lebih rusak dari sebelumnya. Tapi kubilang, “tidak, dokter, anda akan tahu”

Dokter Connor telah menjelma menjadi sahabat terbaikku, setelah lima tahun berlalu. Dulu, aku tidak pernah menyangka aku akan menjadi sahabat dari orang tua sahabatku. Dan aku ingin ia tahu segala hal yang kuketahui tentang Yesterdayland, aku juga ingin ia memberitahu Milo atau Christia tentang Yesterdayland.

Aku ingin mereka tahu segala hal tentangku sebelum aku pergi dan tak akan kembali.

Sore itu, ketika aku menyelesaikan tulisanku diatas kertas yang diberikan dokter Connor. Suster datang membawakanku makan malam. Ia menyapaku menanyakan kabarku, dan aku tersenyum padanya, mengatakan bahwa aku merasa jauh lebih baik.

Setelah ia pergi, aku merasakan seseorang berdiri dibelakang kursiku. Aku berbalik dan melihat Ed, berusaha mengagetiku. Ia terkekeh, “Apa kau menunggu terlalu lama?”

Dan aku tahu, itu saatnya aku kembali ke tempat dimana seharusnya aku berada. Di dimensi lain, bersama orang yang paling penting untukku di dunia ini. Ia mengeluarkan cincin kristal berwarna hijau dari sakunya dan menyematkannya di jari manisku. Lalu tiba-tiba aku berada di tempat asing itu, rerumputan luas dengan pemandangan menakjubkan.

Diujung pandang, aku bisa melihat kota berlatar belakang langit abu-abu, dan gedung-gedung kaca. “Jika aku melepaskan cincin ini, apakah aku akan kembali?”

Ed tersenyum, mengangguk. “Kau bisa mengendalikannya sesuka hati, aku juga pakai satu” Ia menunjukkan jari-jarinya padaku. “Sama seperti milikmu”

“Mempunyai cincin yang sama, bukannya membuat kita seperti semacam tunangan”

“Kupikir kita memang tunangan”

“Apa?” Perasaanku campur aduk antara terkejut, terkagum-kagum, dan geli. Ia mengatakannya seperti tunangan adalah hal yang tidak lebih penting dari membaca majalah. “Kau tidak pernah…”

Ia menciumku dan tersenyum. “kau tidak menyukaiku?”

“Tidak, aku menyukaimu, tapi…”

Ed menarik tanganku dan tertawa, “Kau harus bertemu dengan ibuku dan Profesor Higgins” ia tertawa. Dan aku tersenyum simpul, senyum yang tak berat hati kuciptakan diwajahku. “Ayo! Ayo! Ayo!”

“Ed, aku memakai seragam rumah sakit jiwa” Tapi Ed masih terus berlari.

Kurasa ia tak mendengarkan.

Chloe Thylonne Bennet menghilang pada 14 Agustus 2013, ayahku menemukan catatan terakhirnya yang mengatakan ia akan menghilang cepat atau lambat. Tak ada yang tahu bagaimana caranya ia kabur. Tapi setelah lima tahun ia menghilang, tak seorangpun pernah melihatnya.

Catatan Chloe Bennet hanyalah satu-satunya petunjuk tentang dimana ia berada. Yesterdayland. Tempat yang pernah ia beritahukan padaku dan Christia. Tempat dimana Edmund, pria yang terus ia bicarakan, berada. Dan dari catatan itu aku tahu, ia juga ingin menemukan siapa dirinya yang sebenarnya.

Segala hal tentang Chloe terlalu absurd, tapi ia sahabatku, dan aku berjanji pada Christia aku akan menemukannya. Itulah mengapa aku begitu terobsesi mencarinya.

Kemudian setelah bertahun-tahun pencarian itu kulakukan, segalanya selalu berakhir buntu. Apapun itu perjalanan dimensi yang Chloe maksud, formula fisikanya terlalu rumit.

 

Hingga suatu hari aku menemukan sesuatu di atas meja kerjaku. Sebuah cincin dengan kristal hitam. Aku tidak tahu siapa yang meletakkannya disana. Untuk sesaat aku berpikir, mungkinkah Christia lagi-lagi mencoba memberiku kejutan, kupikir ini bukan ulang tahun pernikahan kami.

Jadi aku mengambil cincin itu, lalu kutemukan diriku berdiri di tempat lain

 

–Fin–


Advertisements

Published by

am

Currently studying in college, never stop imagining though.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s